Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

MANAJEMEN PERPAJAKAN

Nama : Kadek Indah Kusuma Dewi


NIM : 166020310111015
Joint Program Reguler 1/28

Soal 1.

B. Tidak menambah penghasilan karyawan dan dapat dibebankan pemberi kerja.

Alasan : mengacu pada KEP.51/PJ/2009 tentang Fasilitas Pajak, maka pemberian makanan dan
minuman kepada seluruh karyawan di tempat kerja merupakan deductable expense (dapat
dibebankan) bagi pemberi kerja dan non taxable expanse (bukan objek pajak) bagi pegawai.

Soal 2.

D. Sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus atau ke samping satu derajat.

Alasan : mengacu pada UU no. 42 tahun 2009 dijelaskan bahwa hubungan istimewa dianggap
ada apabila (1) Pengusaha memiliki penyertaan langsung sebesar 25% atau lebih; (2)
Pengusaha menguasai pengusaha lainnya atau dua atau lebih pengusaha berada di bawah
penguasaan baik langsung ataupun tidak langsung; (3) Terdapat hubungan keluarga baik
sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus atau ke samping satu derajat.

Soal 3.

D. Kepatuhan WP dalam melaporkan SPT Masa

Alasan : berdasarkan peraturan pada Pasal 17C ayat (1) UU KUP tentang Wajib Pajak dengan
kriteria tertentu, adapun syarat untuk menjadi WP dengan kreteria tertentu meliputi :
1. Tepat waktu menyampaikan SPT, baik SPT tahunan selama 3 tahun terakhir; SPT masa
setahun terakhir sebelum penetapan; Seluruh SPT masa yan terlambat dalam setahun
terakhir.
2. Tidak memiliki tunggakan pajak untuk semua jenis pajak.
3. Laporan keuangan yang telah diaudit dan memperoleh opini WTP selama 3 tahun
berturut-turut.
4. Tidak pernah dipidana dalam kasus perpajakan.

Soal 4.
A. Terlambat menyampaikan SPT.

Alasan : Berdasarkan UU KUP maka yang tergolong tindakan yang dapat dikenai sanksi pidana
meliputi : Tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; Menyampaikan SPT yang isinya tidak
lengkap; Menyampaikan SPT yang isinya tidak benar. Sedangkan terlambat menyampaikan
SPT merupakan tindakan yang dapat dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp
100.000 sampai Rp 500.000 untuk SPT masa per SPT dan sebesar Rp 100.000 sampai Rp
1000.000 untuk SPT tahunan per SPT.

Soal 5.
B. Kegiatan sosial
Alasan : Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 6 ayat 1 tentang Pajak
Penghasilan, disebutkan biaya sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto meliputi :
Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional
Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan
Biaya pembangunan infrastruktur sosial
Sumbangan fasilitas pendidikan
Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga

Soal 6.
A. Dapat dibebankan oleh perusahaan.

Alasan : mengacu pada KEP.51/PJ/2009 tentang Fasilitas Pajak, maka natura berupa pakaian
keselamatan kerja yang diharuskan akibat sifat pekerjaan merupakan deductable expense
(dapat dibebankan) bagi pemberi kerja dan non taxable expanse (bukan objek pajak) bagi
pegawai.

Soal 7.

D. Biaya sewa BUT kepada kantor pusat

Alasan : Biaya berikut dapat dikurangkan dari penghasilan Bentuk Usaha Tetap (BUT),
diantaranya : Biaya terkait penjualan kantor pusat yang serupa penjualan BUT; Biaya terkait
penghasilan kantor pusat sepanjang ada hubungan efektif antara BUT dengan penghasilan.;
Biaya administrasi kantor pusat berkaitan dengan usaha atau kegiatan BUT. Sedangkan biaya
sewa BUT kepada kantor pusat tergolong non deductable expense atau biaya yang tidak dapat
dibebankan.

Soal 8.

B. Nilai wajar

Alasan : Aset diperoleh akibat pemecahan usaha diukur berdasarkan nilai wajar bagi penerima.

Soal 9.

B. Saat diperolehnya dividen oleh WPDN atas semua penyertaan modal pada badan usaha di
luar negeri yang tidak diperdagangkan di bursa efek.

Alasan : Menteri Keuangan melalui DJP memiliki kewenangan dalam menetapkan saat
diperolehnya dividen oleh WP dalam negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di luar
negeri yang tidak diperdagangkan di bursa efek apabila memiliki kepemilikan minimal 50%.

Soal 10.

C. Salah satu syarat (a) atau (b) dipenuhi.

Alasan : Syarat agar WP Badan memperoleh penurunan tarif 5% adalah WP Badan


memperoleh penurunan tarif 5% apabila minimal 40% dari modal disetor, diperdagangkan di
bursa efek di Indonesia, atau dimiliki minimal 300 pemegang saham dengan kepemilikan
maksimal 5%, selama periode 6 bulan.

Soal 11.

Berdasarkan soal tersebut, terlihat bahwa perusahaan melakukan merger karena PT. ABC
mengambil alih seluruh harta PT. XYZ. Diperlihatkan pula nilai buku atas aktiva lancar, aktiva
tetap, dan aktiva lain serta kewajiban, sehingga metode yang digunakan adalah pooling of
interest. Sebenarnya dalam dunia perpajakan diwajibkan mengunakan metode purchase yang
berdasarkan nilai pasar, namun pada akhirnya diperbolehkan pula menggunakan metode
pooling of interest melalui persetujuan Menkeu. Asumsi PT. ABC sudah memperoleh izin
menggunakan metode pooling of interest.

Lebih lanjut terkait metode pooling of interest yang digunakan atas penggabungan usaha PT.
ABC atas PT. XYZ maka metode ini menggunakan nilai buku dalam pengalihan aktiva dan
kewajiban yang dialihkan. Dengan kata lain aktiva dan kewajiban perusahaan yang melakukan
penggabungan usaha ditambahkan dalam perusahaan yang menjadi survival company. Oleh
karena tidak ada selisih antara nilai pengalihan dan nilai buku, maka tidak terdapat objek pajak
penghasilan.

Berdasarkan hal tersebut maka jika PT. ABC melakukan transaksi pengambilan harta tersebut
dengan pembayaran tunai (cash for assets) maka tidak ada pengenaan pajak penghasilan
terkait. Namun jika PT. ABC melakukan transaksi pengambil alihan harta tersebut dengan
pembayaran saham (stock for assets) maka akan mempengaruhi dividen yang akan diperoleh.
Lebih lanjut atas dividen yang diterima oleh PT. ABC maka dikenakan PPh pasal 23 sebesar
tarif 15%.

Sebenarnya jika ada 2 (dua) perusahaan laba melakukan penggabungan usaha, maka laba dari
masing-masing pihak digabungkan sehingga akan terkena tarif pajak yang lebih besar. Efisiensi
perpajakan tidak terjadi, bahkan jumlah pajak yang dibayar menjadi lebih besar. Dengan
demikian tidak mungkin penggabungan usaha seperti ini memiliki tujuan efisiensi perpajakan.
Sebaliknya jika suatu perusahaan laba melakukan penggabungan usaha dengan perusahaan rugi
dan seluruh syarat penggabungan dengan nilai buku dapat dipenuhi, maka perusahaan laba
tersebut akan memperoleh tax saving dari adanya kompensasi kerugian perusahaan yang
mengalihkan aktiva dan kewajibannya tersebut.