Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG

LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Ventilasi Tambang

Pada dasarnya sistem pada tambang bawah tanah adalah suatu sistem yang
unik, karena mengkombinasikan berbagai metode penambangan, ventilasi hingga
kegiatan yang kompleks. Tambang bawah tanah bagi sebagian orang merupakan
seni dalam mengekstrak mineral dari perut bumi. Dan salah satu hal yang sangat
esensial dalam tambang bawah tanah adalah sistem ventilasi. Pembuatan ventilasi
ini bertujuan agar para pekerja di dalam tambang tidak kehabisan udara segar.
Ventilasi tambang merupakan salah satu aspek penunjang bagi peningkatan
produktivitas para pekerja tambang bawah tanah. Meskipun tidak memberikan
kontribusi langsung ke tahap operasi produksi, ventilasi yang kurang tepat seringkali
akan menyebabkan efisiensi yang lebih rendah dan produktivitas pekerja menurun,
tingkat kecelakaan meningkat dan tingginya tingkat resiko kematian terhadap
pekerja tidak bisa terhindarkan.
Pada tambang bawah tanah sistem ventilasi sangat berperan penting guna
memenuhi kebutuhan pernapasan manusia (pekerja) dan juga untuk menetralkan
gas-gas beracun, mengurangi konsentrasi debu yang berada di dalam udara
tambang dan untuk mengatur temperatur udara tambang sehingga kondisi kerja
yang aman dan nyaman (Anonim, 2016).

1.1.1. Fungsi Ventilasi Tambang


Pada dasarnya, sistem ventilasi tambang bawah tanah ini memiliki tiga fungsi
umum, yaitu :
a. Sebagai kontrol kualitas dan kuantitas udara, yaitu menyediakan dan
mengalirkan udara segar ke dalam tambang untuk kebutuhan pernafasan
pekerja dan proses lain yang ada di dalamnya, termasuk debit dan tekanan.
b. Melarutkan dan membuang gas-gas pengotor hingga mencapai kondisi balance
(equilibrium) terutama setelah aktivitas peledakan dan memenuhi syarat bagi
aktivitas penambangan.
c. Menyingkirkan debu dan partikuler hingga berada di bawah nilai ambang batas
(NAB) dan aman untuk melaksanakan aktivitas tambang. Mengatur
(adjustment) temperatur, kelembaban di dalam tambang sehingga memberikan
kondisi yang nyaman untuk bekerja.

Fitria Handayani Amar 1-1


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
(Anonim, 2016)
Ventilasi tambang sangat penting dalam kegiatan tambang bawah tanah,
karena secara tidak langsung akan mempengaruhi efektivitas dan efisiensi kegiatan
penambangan, karena ventilasi tambang berhubungan langsung dengan keadaan
dan kondisi tempat menambang dimana para pekerja menambang. Berikut adalah
fungsi dari ventilasi tambang itu sendiri, yaitu :
a. Menyediakan dan mengalirkan udara segar kedalam tambang untuk keperluan
menyediakan udara segar (oksigen) bagi pernapasan para pekerja dalam
tambang dan juga bagi segala proses yang terjadi dalam tambang yang
memerlukan oksigen.
b. Melarutkan dan membawa keluar dari tambang segala pengotoran dari gas-gas
yang ada di dalam tambang hingga tercapai keadaan kandungan gas dalam
udara tambang yang memenuhi syarat bagi pernapasan.
c. Menyingkirkan debu yang berada dalam aliran ventilasi tambang bawah tanah
hingga ambang batas yang diperkenankan.
d. Mengatur panas dan kelembaban udara tambang bawah tanah sehingga dapat
diperoleh suasana dan lingkungan kerja yang nyaman.
e. Mengencerkan konsentrasi gas-gas beracun dan berbahaya dan debu di dalam
tambang sampai dibawah Nilai Ambang Batas dan mengeluarkannya dari dalam
tambang.
Pada suatu tambang batubara bawah tanah (underground mine),
diasumsikan terjadi berbagai jenis kecelakaan yang sama sekali tidak terbayangkan
pada industri lain dan ternyata pada masa lalu di Jepang juga pernah banyak terjadi
kecelakaan. Di antaranya yang paling mengerikan adalah ledakan gas dan debu
batubara. Sudah tentu penyebabnya adalah keberadaan gas metan yang mencapai
batas ledakan. Pada tambang bawah tanah yang paling penting dari segi
keselamatan adalah mengencerkan dan menyingkirkan gas metan yang timbul dari
lapisan batubara dengan ventilasi, oleh karena itu perencanaan ventilasi merupakan
masalah khas tambang batubara bawah tanah yang perlu ditentukan paling hati-hati
agar tidak terjadi kesalahan yang dapat menyebabkan kecelakaan adapun
pedoman kualitas udara tambang sesuai Kepmen 555 K/26/MPE/1995, yaitu:
a. Temperatur udara tambang 18o-24o C
b. Kelembaban relatif maksimal 85%
c. CO maksimal 00,005 %

Fitria Handayani Amar 1-2


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
d. Methane maksimal 0,25%
e. H2S maksimal 0,001 %
f. NO2 maksimal 0,0003 %
g. Kecepatan Udara ventilasi minimal 7 m/dtk
h. KTT harus menunjuk petugas mengawasi dan mengukur kondisi ventilasi/udara
i. Lokasi pengujian udara tambang pada jalan masuk atau keluar dekat
persimpangan dekat persimpangan 50 m dari tempat kerja.
Di antara tujuan di atas, sudah pasti menyediakan udara yang diperlukan
untuk pernapasan pekerja adalah hal yang penting, namun pengaturan temperatur
di dalam tambang bawah tanah juga hal yang penting dilihat dari segi pelaksanaan
pekerjaan akan tetapi dengan melakukan ventilasi yang cukup untuk menyingkirkan
gas, tujuan tersebut biasanya dapat tercapai dengan sendirinya. Oleh karena itu,
perancangan ventilasi dan struktur tambang bawah tanah serta manajemen pada
waktu pengoperasian sebenarnya harus dilakukan dengan meletakkan titik berat
pada jaminan keselamatan sambil mempertimbangkan rencana ekstraksi dan
rencana pengangkutan di masa depan.

1.1.2. Prinsip Ventilasi Tambang


Prinsip ventilasi tambang berarti dalam suatu jaringan ventilasi yang dibuat
pada suatu tambang bawah tanah harus memenuhi prinsip-prinsip ventilasi tambang
agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Prinsip ventilasi tambang berkaitan
dengan aliran udara pada sutau jaringan ventilasi. Adapun berlaku prinsip aliran
udara tambang, yaitu :
a. Aliran udara bergerak dari tekanan yang lebih tinggi ketekanan yang lebih
rendah untuk menyalurkan udara agar dapat berada pada ruang yang
bertekanan rendah agar para pekerja bisa dapat terus menghirup udara yang
segar agar dapat terus bernafas.
b. Udara akan mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih rendah ke tempat
yang bertemperatur lebih tinggi.
c. Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang memberikan
tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur yang bertahanan lebih
besar.
d. Tekanan ventilasi tetap memperhatikan tekanan atmosfer, bila positif (blowing)
atau negatif (exhausting).

Fitria Handayani Amar 1-3


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
e. Aliran udara mengikuti hukum kuadrat yaitu hubungan antara jumlah dan
tekanan, bila jumlah udara diperbesar dua kali lipat maka dibutuhkan empat kali
lipat dari jumlah udara yang dialirkan.
Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu menjadi acuan dalam perhitungan
ventilasi tambang. Sistem ventilasi merupakan metode aplikasi dari prinsip fluida
dinamik (dalam hal ini udara) terhadap laju udara pada bukaan tambang bawah
tanah. Sistem ventilasi ini diperlukan tidak hanya untuk memberikan asupan udara
bersih bagi pekerja tambang tapi juga bagi alat-alat mekanis di lokasi tersebut.

1.1.3. Lingkup Bahasan Ventilasi Tambang


Ventilasi yang mencapai keseluruhan tambang bawah tanah disebut ventilasi
utama, sedangkan ventilasi secara lokal di dalam tambang bawah tanah disebut
ventilasi lokal. Dalam membahas ventilasi tambang akan tercakup tiga hal yang
saling berhubungan, yaitu:
a. Pengaturan atau pengendalian kualitas udara tambang. Dalam hal ini akan
dibahas permasalahan persyaratan udara segar yang diperlukan oleh para
pekerja bagi pernafasan yang sehat dilihat dari segi kualitas udara (quality
control).
b. Pengaturan/pengendalian kuantitas udara tambang segar yang diperlukan oleh
pekerja tambang bawah tanah. Dalam hal ini akan dibahas perhitungan untuk
jumlah aliran udara yang diperlukan dalam ventilasi dan pengaturan jaringan
ventilasi tambang sampai perhitungan kapasitas dari kipas angina.
c. Pengaturan suhu dan kelembaban udara tambang agar dapat diperoleh
lingkungan kerja yang nyaman. Dalam hal ini akan dibahas mengenai
penggunaan ilmu yang mempelajari sifat-sifat udara atau psikometri
(psychrometry).
Dalam membahas pengaturan ventilasi tambang yang bersifat mekanis perlu
juga dipahami masalah yang berhubungan dengan kemungkinan adanya aliran
udara akibat ventilasi alami, yaitu antara aliran udara sebagai akibat perbedaan
temperatur yang timbul secara alami.
1.1.4. Persyaratan Ventilasi Tambang
Dalam rangka penentuan rencana ventilasi, sebaiknya mempertimbangkan
persyaratan di bawah ini :
a. Konstruksinya dibuat sedemikian rupa, agar ventilasi yang diperlukan untuk
pengembangan tambang bawah tanah dapat dilakukan dengan biaya paling

Fitria Handayani Amar 1-4


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
ekonomis dan konstruksinya dibuat memiliki kelonggaran (kelebihan) udara
ventilasi secukupnya untuk menghadapi perkembangan tambang bawah tanah
di kemudian hari, serta peningkatan gas yang mungkin timbul.
b. Struktur yang diinginkan untuk metode ventilasi adalah sistem diagonal pada
ventilasi utama, sedangkan menyediakan sumuran tegak khusus untuk ventilasi
tehadap penambangan bagian dalam, adalah tindakan yang rasional. Di tempat
yang sulit dilakukan penggalian sumuran tegak (misalnya di tambang batubara
dasar laut), diharapkan memiliki sumuran miring khusus dengan penampang
berbentuk lingkaran. Selain itu, konstruksinya dibuat sedemikian rupa agar
tahanan ventilasi jalan udara (lorong ventilasi) utama menjadi sekecil mungkin,
dan memungkinkan mengambil ventilasi cabang sebanyak mungkin dari lorong
ini.
c. Dalam melaksanakan pengembangan tambang bawah tanah dan
penambangan, maka dilihat dari segi konstruksi tambang bawah tanah sangat
penting untuk membuat ventilasi permukaan kerja pada ekstraksi batubara dan
penggalian lubang bukaan menjadi independen secara sempurna dan ventilasi
untuk zona yang luas diharapkan mempunyai sistem ventilasi, baik udara
masuk maupun udara buang yang terpisah dari daerah lain pada pengaturan
aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah.

1.1.5 Sistem Ventilasi Tambang


Ventilasi tambang adalah segala bentuk pekerjaan pengaturan peredaran
udara pada jaringan jalan di tambang bawah tanah yang berhubungan dengan
persoalan kuantitas maupun kualitas udaranya. Ventilasi tambang ada 2 yaitu :
a. Ventilasi alami
1) Prinsip ventilasi alam ini adalah udara dari atmosfer dapat mengalir dengan
sendirinya ke dalam tambang.
2) Pengaliran udara tersebut disebabkan tekanan udara di luar lebih besar dari
pada udara di dalam tambang.

b. Ventilasi buatan
1) Prinsip ventilasi buatan ini, udara dari luar dapat mengalir ke dalam tambang
dengan bantuan fan atau mesin ventilasi.

Fitria Handayani Amar 1-5


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2) Ventilasi buatan ini dilakukan dengan cara sistem tekan, yaitu dipasang fan
pada down cast shaft dan sistem hisap, yaitu dengan memasang fan pada
up cast shaft.
(Anonim, 2016)
Adapun sistem ventilasi dibagi menjadi 3 berdasarkan penggunaan fannya,
yaitu:
a. Sistem forcing, sistem forcing akan memberikan hembusan udara bertekanan
positif ke front kerja. Tekanan positif berarti aliran udara ini mempunyai tekanan
lebih besar dibanding udara di atmosfer. Udara dialirkan melalui pipa/flexible
saluran ventilasi ini menghubungkan fan dengan front kerja sebagaimana
terlihat pada gambar. Dalam sistem ini, dihembuskan udar bersih ke front.

* Sumber : http://goodminingpractice.blogspot.com
Gambar 1.1
Ventilasi Sistem Forcing
b. Sistem exhausting, sistem exhausting akan memberikan hembusan udara yang
berkebalikan dengan sistem forcing, yaitu bertekanan negatif ke front kerja.
Tekanan negatif yang dimaksud disini adalah tekanan yang dihasilkan oleh
proses penghisapan udara. Pada sistem exhausting, fan diletakkan dekat
dengan front kerja, sehingga dapat memudahkan kerjanya dalam menghisap
udara dari front kerja tersebut. Udara yang dihisap adalah udara kotor atau gas
yang tak diinginkan.

Fitria Handayani Amar 1-6


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

* Sumber : http://goodminingpractice.blogspot.com
Gambar 1.2
Ventilasi Sistem Exhausting
c. Sistem overlap, sistem ini merupakan gabungan dari sistem exhausting dan
forcing. Berbeda dengan kedua sistem di atas, sistem ini menggunakan 2 fan
yang memiliki tugas berbeda satu sama lain. Ada fan yang bertugas menyuplai
udara ke front (intake fan), ada fan yang bertugas untuk menghisap udara dari
front (exhausting fan). Tetapi exhaust fan dipasang lebih mundur (lebih jauh)
dari front penambangan. Sedangkan duct akhir dari intake fan dipasang lebih
dekat dengan front penambangan. Hal ini untuk mencegah agara udara yang
disuplai langsung dihisap oleh exhaust fan sehingga udara akan memiliki waktu
untuk bersirkulasi pada front penambangan.
(Anonim, 2016)

*Sumber : http://goodminingpractice.blogspot.com
Gambar 1.3
Ventilasi Sistem Overlap

Fitria Handayani Amar 1-7


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
1.2. Udara Tambang Bawah Tanah

Pada zaman awal mulanya ribuan tahun yang lalu manusia sudah mengenal
yang namanya tambang terutama tambang bawah tanah. Mereka mengenal
melakukan kegiatan tersebut guna meningkatkan serta mencari bahan galian yang
menurut mereka bisa digunakan untuk melakukan jual beli (barter). Pada 4000
hingga 1000 tahun sebelum masehi penambang di eropa menggali terowongan
untuk mencari flint (batu api). Kemudian pada 600 SM, tambang perak laurium di
Yunani telah memiliki layout tambang yang menunjukkan mereka telah sadar akan
pentingnya menghubungkn jalur-jalur terowongan dengan menggunakan ventilasi.
Setelah kesadaran itu lah kebanyakan tambang memiliki ventilasi meski dahulu
mereka hanya menggunakan lubang tambahan sebagai ventilasi.
Ada beberapa macam gas pengotor dalam tambang bawah tanahh. Gas ini
berasal dari proses-proses yang terjadi dalam tambang maupun berasal dari batuan
ataupun galian. Peledakan yang diterapkan dalam tambang untuk memberai,
demikian juga mesin-mesin yangd igunakan dalam tambang batubara merupakan
gas pengotor. Gas metana adalah pengotor yang selalu ada di lapisan batubara
dibawah permukaan. Gas-gas pengotor tersebut ada yang bersifat beracun atau
gas berbahaya. Gas tersebut dapat bereaksi dengan darah dan terjadilah kematian
sedangkan gas berbahaya adalah gas yang dapat menyebabkan bahaya baik
terhadap kehidupan manusia maupun terhadap hal-ha llain misalnya peledakan.

1.2.1. Gas Beracun dan Berbahaya


Terdapat beberapa macam gas pengotor dalam udara tambang bawah tanah.
Gas-gas ini berasal baik dari proses-proses yang terjadi dalam tambang maupun
dari batuan. Beberapa jenis gas-gas pengotor yang terdapat dalam tambang bawah
tanah tersebut, ada yang bersifat gas racun, yakni; gas yang bereaksi dengan darah
dan dapat menyebabkan kematian. Gas gas pengotor tersebut adalah :
a. Karbondioksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan
bukan merupakan gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu
terdapat pada bagian bawah dari suatu jalan udara. Dalam udara normal
kandungan CO2 adalah 0,03 %. Dalam tambang bawah tanah sering terkumpul
pada bagian bekas-bekas penambangan terutama yang tidak terkena aliran
ventilasi, juga pada dasar sumur-sumur tua.

Fitria Handayani Amar 1-8


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Sumber dari CO2 berasal dari hasil pembakaran, hasil peledakan atau dari
lapisan batuan dan dari hasil pernafasan manusia. Pada kandungan CO2 = 0,5 %
laju pernafasan manusia mulai meningkat, pada kandungan CO2 = 3 % laju
pernafasan menjadi dua kali lipat dari keadaan normal, dan pada kandungan CO 2 =
5 % laju pernafasan meningkat tiga kali lipat dan pada CO 2 = 10 % manusia hanya
dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi CO2 dan udara biasa disebut dengan
blackdamp.
b. Metana (CH4)
Gas metana ini merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara
dan sering merupakan sumber dari suatu peledakan tambang. Campuran gas
metana dengan udara disebut tiredamp. Apabila kandungan metana dalam udara
tambang bawah tanah mencapai 1% maka seluruh hubungan mesin listrik harus
dimatikan. Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil dari pada udara dan
karenanya selalu berada pada bagian atas dari jalan udara. Metana merupakan
gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.
Pada saat proses pembatubaraan terjadi maka gas metana terbentuk bersama-
sama dengan gas karbondioksida. Gas metana ini akan tetap berada dalam lapisan
batubara selama tidak ada perubahan tekanan padanya. Terhadap kandungan gas
metana yang masih terperangkap dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan
penyedotan dari gas metana tersebut dengan pompa untuk dimanfaatkan. Proyek
ini dikenal dengan nama seam methane drainage.
c. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada
saat terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat
kematian yang tinggi. Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin
darah, sehingga sedikit saja kandungan gas CO dalam udara akan segera
bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin (COHb) yang akan meracuni tubuh
lewat darah.
Aktifitas CO terhadap haemoglobin menurut penelitian (Forbes and Grove,
1954) mempunyai kekuatan 300 kali lebih besar dari pada oksigen dengan
haemoglobin. Gas CO dihasilkan dari hasil pembakaran, operasi motor bakar,
proses peledakan dan oksidasi lapisan batubara. Karbon monoksida merupakan
gas beracun yang sangat mematikan karena sifatnya yang kumulatif. Gas CO pada

Fitria Handayani Amar 1-9


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
kandungan 0,04 % apabila terhirup selama satu jam baru memberikan sedikit
perasaan tidak enak, dua jam dapat menyebabkan rasa pusing dan tiga jam
menyebabkan pingsan, lima jam dapat menyebabkan kematian. Kandungan gas CO
sering juga dinyatakan dalam ppm (part per milion). Sumber CO yang sering
menyebabkan kematian adalah gas buangan dari mobil dan kadang-kadang juga
gas pemanas air. Gas CO mempunyai berat jenis lebih ringan dari berat jenis udara
sehingga selalu terapung dalam udara.
d. Hidrogen Sulfida (H2S).
Gas ini sering disebut juga gas busuk (stinkdamp) karena baunya seperti bau
telur busuk. Gas ini tidak berwarna, beracun dan dapat meledak, merupakan hasil
dekomposisi dari senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis yang sedikit
lebih berat dari udara. Nilai ambang batas (TLV-TWA/ Threshold Limit Value-Time
Weighted Average) yang diperkenankan umtuk pemaparan sebesar 10 ppm pada
waktu selama 8 jam sehari.
Untuk waktu singkat (TLV-STEL/ Treshold Limit Value Short Term Exposure
Limit) tidak diperkenankan terpapar lebih dari 20 ppm Walaupun gas H2S
mempunyai bau yang sangat jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan dapat
rusak akibat reaksi gas H2S terhadap syaraf penciuman.
e. Sulfur ioksida (SO2)
Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa terbakar.
Lebih berat dari pada udara, dan akan sangat pada mata, hidung dan tenggorokan.
Nilai ambang batas ditetapkan pada keadaan gas = 2 ppm (TLV-TWA) atau pada
waktu terdedah yang singkat (TLV-STEL) = 5 ppm.
f. Nitrogen Oksida (NOX)
Gas nitrogen oksida sebenarnya merupakan gas yang inert, namun pada
keadaan tekanan tertentu dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas yang
sangat beracun. Terbentuknya dalam tambang bawah tanah sebagai hasil
peledakan dan gas buang dari motor bakar. Nilai ambang batas adalah 5 ppm.
Oksida nitrogen yang merupakan gas racun ini akan bersenyawa dengan
kandungan air dalam udara membentuk asam nitrat, yang dapat merusak paru-paru
apabila terhirup oleh manusia.

Fitria Handayani Amar 1-10


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
g. Gas Pengotor Lain
Gas yang dapat dikelompokkan dalam gas pengotor lain adalah gas Hidrogen
yang dapat berasal dari proses pengisian aki (battery) dan gas-gas yang biasa
terdapat pada tambang bahan galian radioaktif seperti gas radon. Debu merupakan
pengotor udara tambang yang juga berbahaya bila konsentrasinya cukup tinggi,
karena dapat mengganggu lingkungan kerja dan merusak kesehatan.
Secara garis besar, sumber debu pada tambang bawah tanah berasal dari
aktivitas penambangan yang meliputi operasi pemboran, peledakan, pemuatan, dan
pengangkutan bijih atau batubara. Partikel debu dapat digolongkan berdasarkan
kandungan material solid dan ukuran diameter rata-rata partikelnya.

1.2.2. Kualitas Udara Tambang Bawah Tanah


Udara tambang meliputi campuran antara udara atmosfir dengan emisi gas-
gas dalam tambang serta bahan-bahan pengotornya. Parameter kualitas udara
meliputi gas, debu, temperatur serta kelembaban udara. Standar udara yang
bersih adalah udara yang mempunyai komposisi sama atau mendekati dengan
komposisi udara atmosfir pada keadaan normal. Udara segar normal yang dialirkan
pada ventilasi tambang terdiri dari Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argon dan
Gas-gas lain. Komposisi udara segar dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 3.1
Komposisi Udara Segar
Unsur Persen Volume (%) Persen Berat (%)
Nitrogen (N2) 78,09 75,53
Oksigen (O2) 20,95 23,14
Karbondioksida CO2) 0.03 0,046
Argon (Ar), dll 0,93 1,284
(sumber : Hartman, 1982)

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar


normal terdiri dari : Nitrogen = 79%, dan Oksigen = 21%. Disamping itu dianggap
bahwa udara segar akan selalu mengandung karbondioksida (CO 2) sebesar
0,03%. Udara dalam ventilasi tambang selalu mengandung uap air, tidak pernah
ada udara yang benar-benar kering. Karena itu akan selalu ada istilah kelembaban
udara.

Fitria Handayani Amar 1-11


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Aturan penghitungan penyediaan kebutuhan udara bersih minimum
didasarkan kepada Surat Keputusan Mentamben RI No.555.K/26/MPE/1995 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum. Teori Jurani (1992)
dan Mark (1991) serta patokan kebiasaan (Rules of Thumb) juga sering digunakan
dalam perhitungan ventilasi tambang.
a. Menurut Surat Keputusan Mentamben RI No.555.K/26/MPE/1995 Pasal 369
Mengenai Ketentuan Umum pada tambang bawah tanah yaitu :
Bahwa Kepala Teknik Tambang harus menjamin tersedianya aliran udara bersih
yang cukup untuk semua tempat kerja dengan ketentuan volume oksigennya
tidak kurang dari 19.5 persen dan volume karbon dioksidanya tidak lebih dari 0,5
persen.
b. Dibutuhkan minimal 2 m3/menit (70,63 cfm) per orang, sedangkan menurut
tempat kerja yang ada asap dan debu nya sesuai standar OSHA (Occupational
Safety and Health Administration) manusia memerlukan udara segar 0,1 m3/s per
orang atau 211 cfm, PT. Antam, Tbk UBPE Pongkor menggunakan standart 200
cfm/orang.
c. Menurut SK Mentamben, dibutuhkan minimal 3 m3/menit (106 cfm) untuk setiap
HP diesel yang dioperasikan, sedangkan menurut patokan kebiasaan dibutuhkan
antara 100 s.d 200 cfm untuk setiap BHP mesin diesel yang dioperasikan.
d. Temperatur udara di dalam tambang bawah tanah harus dipertahankan antara 18
derajat celcius sampai dengan 24 derajat Celcius dengan kelembaban relatif
maksimum 85 persen.
e. Kondisi ventilasi ditempat kerja ntuk rata-rata 8 jam
1) Karbon moniksida (CO) volumenya tidak lebih dari 0,005 persen;
2) Hidrogen sulfida (H2S) volumenya tidak lebih dari 0,001 persen dan
3) Dalam tenggang waktu 15 menit CO tidak boleh lebih dari 0,04 persen
f. Kecepatan udara ventilasi yang dialirkan ke tempat kerja harus sekurang-
kurangnya 7 meter per menit dan dapat dinaikkan sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan dan setelah peledakan kecepatan
g. Menurut MSHA (Mine Safety and Health Administration), kehilangan udara dari
sistem ventilasi yang diijinkan adalah maksimal 10%. Kebutuhan minimum udara
segar yang diperlukan seseorang untuk pernafasan, dapat dihitung dengan
memperhatikan pembatasan pada jumlah O2 minimum yang diperkenankan dan
berdasarkan jumlah CO2 maksimum yang diijinkan dalam udara.

Fitria Handayani Amar 1-12


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
1.2.3. Debu Tambang Bawah Tanah
Debu merupakan pengotor udara tambang yang juga berbahaya bila
konsentrasinya cukup tinggi, karena dapat mengganggu lingkungan kerja dan
merusak kesehatan. Secara garis besar, sumber debu pada tambang bawah tanah
berasal dari aktivitas penambangan yang meliputi operasi pemboran, peledakan,
pemuatan, dan pengangkutan bijih atau batubara. Partikel debu dapat digolongkan
berdasarkan kandungan material solid dan ukuran diameter rata-rata partikelnya.
Debu pulmonary adalah debu-debu tambang yang dapat menyebabkan
timbulnya penyakit gangguan pernafasan dan penyakit paru-paru berdebu. Debu
pulmonary yang berukuran 0,25 5 mikron adalah yang paling berbahaya, karena
debu-debu dengan butiran sedemikian kecil itu mengambang di udara dan mudah
terhisap ketika bernafas, dan selanjutnya debu-debu itu akan mengendap di paru-
paru. Debu pulmonary itu ada beberapa jenis, antara lain:
a. Debu asbes, penyebab penyakit asbestosis
b. Debu timah, penyebab penyakit stanosis
c. Debu batubara, penyebab penyakit anthracosis
d. Debu silica, penyebab penyakit silicosis.
Debu beracun (Toxic dust) Debu beracun dapat menyebabkan keracunan akut
dan kerusakan kulit. Jenis debu ini antara lain:
a. Debu arsenic, penyebab keracunan arsen
b. Debu mangan, penyebab keracunan mangan
c. Debu timah hitam, penyebab keracunan timah hitam (timbale)
d. Debu uranium, penyebab keracunan atau radiasi uranium.
Debu yang dapat meledak (Explosive dust) Debu tambang ini dapat
menimbulkan ledakan pada tambang bawah tanah. Jenis debu ini adalah:
a. Debu bijih sulfid
b. Debu pyrite (FeS) batubara
Debu radioaktif ini dapat menyebabkan radiasi, yang menimbulkan kanker
kulit, dan keracunan akut. Jenis debu ini antara lain:
a. Debu uranium
b. Debu thorium
c. Debu titanium

Fitria Handayani Amar 1-13


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Debu bahan radioaktif lainnya. Sebenarnya kebakaran tambang dan ledakan
gas atau debu batubara dapat dicegah dan tidak akan terjadi jika sistem ventilasi
tambang batubara bawah tanah itu cukup baik.
Debu batubara adalah material batubara yang terbentuk bubuk (powder),yang
berasal dari hancuran batubara ketika terjadi pemrosesannya (breaking, blending,
transporting, and weathering). Debu batubara yang dapat meledak adalah apabila
debu itu terambangkan di udara sekitarnya. Debu batubara dihasilkan dari kegiatan
penambangan itu sendiri. Pemisahan (breaking) secara kering dengan cara
peledakan penggaruan dapat menimbulkan debu yang banyak. Debu batubara juga
dapat terbentuk pada proses penggilingan dan ketika pencampurannya serta
pengangkutan. Disamping itu proses pelapukan alami batubara juga dapat menjadi
sumber terbentuknya debu batubara tersebut.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa debu batubara akan terbentuk dalam
jumlah yang cukup banyak kalau operasi penambangan dilakukan dalam proses
yang kering. Sebaliknya jika dilakukan penambangan dengan sistem penyiraman air
yang cukup, debu yang terbentuk akan terendapkan pada lantai kerja.
Peristiwa ledakan debu batubara pada tambang batubara bawah tanah
dapat terjadi jika ada tiga syarat berikut terpenuhi, yakni:
1. Ada debu batubara yang beterbangan (awan debu batubara).
2. Ada sambaran bunga api.
3. Ada oksigen.
Konsentrasi debu batubara yang dapat meledak tergantung:
1. Kandungan zat terbang (volatile matter).
2. Ukuran partikel (particle size).
3. Kandungan air (water content).
Debu batubara ukuran partikelnya antara 20 40 mesh, tidak dapat meledak
dengan sendirinya, debu batubara dengan partikel sampai 200 mesh akan sangat
mudah meledak. Bahaya ledakan debu batubara akan semakin kecil jika padanya
terdapat kandungan abu yang cukup banyak, (abu melekat ditambah dengan abu
dari debu batu) dalam jumlah lebih kurang 50% pencegah kebakaran atau ledakan.
Biasanya untuk mencegah terjadinya ledakan debu batubara dapat
ditambahkan debu batuan sampai mencapai kadar abunya lebih dari 75%. Debu
batubara yang mengandung air yang banyak tidak akan dapat meledak atau
terbakar. Air, disamping penyerap sulutan api (ignition), juga berfungsi sebagai

Fitria Handayani Amar 1-14


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
penyerap panas. Kadar air sampai 30% dapat mencegah terjadinya ledakan debu
batubara itu. Debu batubara segar lebih berbahaya dibandingkan dengan debu
batubara yang sudah lama ada dalam udara terbuka. Debu batubara segar akan
lebih mudah meledak karena adanya gas methan yang masih terperangkap pada
butiran debu batubara tersebut (Jornan Malindo, 2012).

2.4. Alat Pelindung Diri Pada Tambang Bawah Tanah

1. Alat Pelindung Kepala (helmit)


Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi
kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung, terkena benturan,
terpapar oleh radiasi panas api, kejatuhan benda keras atau benda tajam yang
melayang di udara, terkena percikan bahan kimia. Jenis alat pelindung kepala terdiri
dari helm pengaman (safety helmet)
2. Alat Pelindung Telinga (ear plug )
a. Sumbat telinga (ear plug)
Sumbat telinga dapat terbuat dari kapas, plastik karet alami dan sintetik,
menurut cara penggunaannya, dibedakan menjadi earplug sekali pakai (disposable
earplug) yaitu sumbat telinga yang digunakan untuk sekali pakai saja kemudian
dibuang, misalnya sumbat telinga dari kapas, kemudian cara penggunaan yang lain
yaitu earplug yang dapat digunakan kembali (non disposable earplug) yang
digunakan waktu lama terbuat dari karet atau plastik cetak. Ukuran, bentuk, dan
posisi saluran telinga untuk tiap individu berbeda-beda dan bahkan antar kedua
telinga dari individu yang sama berlainan.
b. Tutup telinga (ear muff)
Tutup telinga terdiri dari dua buah tudung untuk tutup telinga, berupa cairan
atau busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi tinggi. Pada pemakaian
yang lama, sering ditemukan efektifitas telinga menurun yang disebabkan oleh
bantalan mengeras dan mengerut akibat reaksi bahan bantalan dengan minyak kulit
dan keringat. Tutup telinga digunakan untuk mengurangi bising sampai dengan 40-
50 dB dengan frekuensi 100-800Hz.
2. Alat pelindung pernafasan (masker)
Berfungsi untuk mencegah masuknya kotoran-kotoran yang dapat
mengganggu pernafasan pekerja. Untuk melindungi organ pernafasan dengan cara
menyalurkan udara bersih dan sehat atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro

Fitria Handayani Amar 1-15


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas, dan
sebagainya dapat menggunakan masker.
3. Alat Pelindung Mata dan Muka (safety glass)
Fungsi dari pelindung mata dan muka ialah melindungi mata dan muka dari
paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang diudara
dan dibadan air, percikan benda-benda kecil, uap panas, radiasi gelombang
elektromagnetik yang mangion atau yang tidak mangion, benturan atau pukulan
benda tajam, dan pancaran cahaya.
4. Alat Pelindung Tangan (sarung tangan)
Pelindung tangan (sarung tangan) ialah alat pelindung yang berfungsi untuk
melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, arus listrik, suhu panas,
radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, bahan kimia, suhu dingin, tergores,
terinfeksi zat patogen (bakteri, virus) dan jasad renik. Kontak dengan bahan kimia
beracun, sumber listrik, bahan-bahan biologis, atau benda dengan suhu sangat
panas atau suhu yang sangat dingin yang dapat menyebabkan iritasi atau
membakar tangan, Bahan beracun dapat terabsorbsi melalui pori-pori kulit dan
masuk kebadan.
5. Alat Pelindung Kaki (safety shoes)
Jenis pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada pekerjaan peleburan,
kontruksi bangunan, industri, bahaya listrik, pengecoran logam, pekerjaan yang
berpotensi bahaya peledakan, bahan kimia atau jasad renik, bahaya binatang,
tempat kerja yang basah / licin, dan lain-lain. Alat Pelindung Kaki (safety shoes)
adalah untuk menghindarkan kerusakan kaki dari tusukan benda tajam atau
terbakar oleh zat kimia, maka sebagai pelindung digunakan Sepatu Safety.

Fitria Handayani Amar 1-16


H1C113071
PRAKTIKUM VENTILASI TAMBANG
LABORATORIUM TEKNOLOGI
PERTAMBANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

http://jordanmalindo-penambangan.blogspot.co.id/2012/12/tambang-batubara-
bawah-tanah.html

Fitria Handayani Amar 1-17


H1C113071