Anda di halaman 1dari 12

Pendarahan pada Hidung Akibat Fraktur Tulang Hidung

Abstrak
Hidung merupakan organ penting pada tubuh yaitu sebagai alat pernapasan terluar, sebagai
indera penciuman dan sebagai tempat bermuara sinus paranasalis. Hidung berisi saraf-saraf
perifer penghidu, vena dan arteri. Arteri-arteri beranastomosis membentuk plexus Kiesselbach,
area ini tidak terlindung sehingga mudah cedera karena trauma, sehingga menjadi sumber
epistaksis. Epistaksis ini dapat terjadi spontan atau terjadi akibat fraktur pada bagian hidung.
Hidung juga menjadi tempat bermuara sinus paranasalis, beberapa tulang disekitar hidung
berlubang-lubang inilah yang disebut sinus paranaslis. Sinus paranasalis terdiri atas sinus
frontalis, sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis, dan sinus maxillaris. Seluruh sinus ini dilapisi
oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami modifikasi dan mampu menghasilkan mucus dan
bersilia, secret disalurkan ke dalam rogga hidung. Selain itu, fungsi utama hidung adalah sebagai
organ penghidu yang dilakukan oleh saraf olfaktorius dan hidung juga berfungsi sebagai jalan
nafas.
Kata Kunci: hidung, sinus paranasal, epistaksis
Abstract
The nose is an important organ of the body that is as the outermost breathing device, as the
sense of smell and as a place of paranasalis sinuses. The nose contains peripheral nerves of
smell, veins and arteries. The anastomosed arteries form the Kiesselbach plexus, this area is not
shielded so easily injured by trauma, thus becoming the source of epistaxis. This epistaxis can
occur spontaneously or occurs due to a fracture of the nose. The nose is also the site of the
paranasalis sinus, some bones around the nostrils are called sinus paranasis. The paranasal
sinus consists of the frontal sinus, the ethmoidal sinus, the sphenoid sinus, and the maxillary
sinus. The entire sinus is coated by respiratory epithelium that undergoes modification and is
capable of producing mucus and ciliated, secret channeled into the nasal rogga. In addition, the
main function of the nose is as a membrane organ performed by olfactory nerves and the nose
also serves as the airway.
Keywords: nose, sinus paranasal, epistaksis

Pendahuluan

Indera penghidu diperankan oleh organ hidung. Hidung adalah salag stau saluran pernapasan atas
luar yang terdiri dari rangka tulang dan tulang rawan yang dibungkus oleh jaringan ikat dan kulit.

1|Page
Hidung dilihat dari luar berbentuk piramid, didalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan
menjadi dua rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung hingga ke tenggorokan
bagian belakang.1

Concha nasalir yang terdapat dalam hidung membentuk lipatan yang menyebabkan luasnya
daerah permukaan yang dilalui oleh udara. Selain itu, rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir
dan pembuluh darah. Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-
tonjolan kecil seperti rambut yang disebut sillia. Biasanya kotoran yang masuk ke hidung
ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lubang hidung atau tenggorokan, cara ini
untuk membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru.1

Hidung memiliki saraf-saraf serta pembuluh darah, apabila terjadi pendarahan pada hidung dapat
disebabkan karena adanya fraktur pada tulang hidung akibat benturan atau momentum hal ini
diakibatkan oleh struktur tulang hidung yang tipis. Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah
untuk membahas lebih lanjut dan meningkatkan pengetahuan tentang struktur hidung serta
kegunaaannya.

Struktur Anatomi Hidung

Hidung berfungsi sebagai alat penghidu, alat pernapasan, untuk memfiltrasi debu yang masuk,
mengatur kelembapan udara yang masuk ke dalam tubuh, dan respsi serta eliminasi sekresi dari
sinus paranasalis dan duktus nasolakrimalus. Secara makro, hidung terdiri dari bagain luar dan
bagian dalam. Bagian luar hidung dibagian inferiornya terdapat nares (lubang hidung) yang
dipisahkan oleh septum dan bagian inferolateral hidung terdapat ala nasi (cuping hidung) yang
dapat mengemban dan mengempis. Sedangkan rangka hidung terdiri dari berbagai tulang,
diantaranya os nasale, proc. Frontalis maxillaris, nasal ossis frontalis yang terdapat diatas os
nasal dan os vomer.2,3

Penyangga hidung terdiri atas tulang dan tulang-tulang rawan hialin. Rangka bagian tulang
terdiri atas os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis. Rangka tulang
rawan terdiri atas cartilage septi nasi, cartilage nasi lateralir dan certilago ala nasi major dan
minor yang bersama-sama saling berhubungan dengan tulang yang ada didekatnya. Keterbukaan
bagian atas hidung dipertahankan ole hos nasale dan processus frontalis maxillae dan dibagian

2|Page
bawah oleh tulang-tulang rawannya. Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot
wajah. Otot hidung tersusun dari m. nasalir dan m. depressor septi nasi (Gambar 1).4

Gambar 1. Rangka hidung5

Rongga Hidung

Secara sagittal rongga hidung dibagi oleh sekat hidung. Kedua belah rongga ini terbuka kearah
wajah melalui nares danke arah posterior yang berkesinambungan dengan nasopharing melalui
apetura nasi posterior (choana). Masing-masing berlahan rongga hidung mempunyai dasar, atap,
dinding lateral dan dinding medial (sekat hidung).4

Rongga hidung terdiri atas tiga regio, yaitu vestibulum, penghidu, dan pernapasan. Vertibulum
hidung merpuakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat disebelah dalam nares. Vestibulum ini
mehanan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihidap. Ke arah atas dan dorsal
vestibulum nasi dibatasi oleh limen nasi, yang sesuai dengan tepi atas cartilage ala nasi major.
Dimulai sepanjang limen nasi ini kulit yang melapisi vestibulum dilanjutkan dengan mukosa
hidung. Regio penghidu berada di sebelah cranial mulai dari atap rongga hidung daerah ini
meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan
concha tersebut. Regio pernapasan adalah bagian rongga hidung selebihnya.4

Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yaitu concha nasalis superior, concha nasalis
medius, dan concha nasalis inferior. Inferolateral terhadpa masing-masing concha nasalis ini
terdapat meatus nasi yang sesuai. Disebelah cranial dan dorsal terhadap concha nasalis superior
terdapat recessus spheno-ethmoidalis yang mengandung muara sinus sphenoidalis. Meatus nasi
superior yang letaknya inferior terhadap concha nasalis superior, memperlihatkan sebuah lubang

3|Page
sebagia muara sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi medius berada infolateral terhadap
concha nasalis medius dan kearah anterioe berkesinambungan dengan fossa dangkal disebelah
cranial vestibulum dan limen nasi, yaitu atrium meatus nasi medius. Setinggi meatus mediua ini
dinding lateral rpngga hidung memperlihatkan sebuah elevasi bulat, yaitu bulla ethmoidalis.
Disebelah bawah bulla ethmoidalis ini terdapat celag berbentuk lengkung yang meluas ke atas
sampai disebelah depan bulla, yaitu hiatus semiulnaris. Ke arah depan dan atas, hiatus ini
menjasi sebuah saluran lengkung yang disebut infundibulum ethmoidale ini bermuara sinus
ethmoidalis anterior dan umumnya infundibulum ethmoidale tersebut berkesinambungan dengan
duktus nasofrontalis. Meatus inferior, di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior,
berisi muara duktus nasolakrimalis (Gambar 2).4

Gambar 2. Dinding lateral hidung6

Sinus Paranasalis

Beberapa tulang disekitar rongga nasal berlubang. Lubang didalam tulang disebut sinus
paranasalis, yang memperlunak tulang dan berfungsi sebagai ruang bunyi suara, menjadikan
suara beresonansi. Sinus paranasalis ini terdidi dari sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus
sphenoidalis dan sinus maxilla (Gambar 3).

Sinus frontalis terletak diatas orbita kea rah garis tengah tulang frontalis. Sinus ini bermuara di
duktus frontonasalir ke infunfibulm ethmoidale hingga ke hiatus semiulnasir meatus nasi
superior. Sinus frontalis ini diperdarahi oleh a. supraorbitalis dan a. ethomoidalis anterior serta di

4|Page
persaragi oleh n. supraorbitalis cabang dari n. abducens. Selain itu, getah beningnya kaan menuju
ke Nnll. Submandibularis.7

Sinus ethmoidalis terdiri dari tga sellulae diantaranya yaitu sellulae ethmoidalis anterior atau
sinus infundibular dan sellulae ethmoidalis medianus atau sinus bullar. Kedua sellular ini akan
bermuara di meatus nasi medianus. Kemudian, sellulae ethmoidalis posterior yang bermuara di
meatus nasi inferior. Sinus ethmoidalis ini diperdarahi oleh Aa. Ethmoidalis anterior, Aa.
Ethmoidalis posterior, dan a. sphenopalatina. Sinus ini juga dipersarafi oleh Nn. Ethmoidalis
anterior, Nn. Ethmoidalis posterior dan cabang orbital ganglion pterygopatainum.7

Sinus sphenoidalis terletak dalam corpus ossis spgenoidalis dan bermuara ke dalam recessus
sphenoetmoidalis. Sinus ini diperdarahi oleh a. ethmoidalis posterior dan cabang pharyngeal a.
maxillaris interna, selain itu sinus ini juga dipersarafi oleh n. ethmoidalis posterior dan cabang
orbital ganglion pterygopatainum.7

Sinus maxillaris merupakan sinus paranasalis terbesar. Batas-batas dari sinus ini terdiri atas batas
atas yaitu dasar orrbita dan pembuluh darah serta saraf dari infraorbitalis, batas bawah yaitu proc.
Alveolaris os maxilla dan gigi molar, batas basis yaitu dinding lateral hidung, serta batas apex
yaitu os zygomaticus. Sinus maxilla bermuara dibagian terendah dari hiatus semiulnaris. Sinus
ini diperdarahi oleh a. facialis, a. infraorbitalis, a. palatine major, dan a. alveolaris superior,
anterior, dan posterior. Sinus maxillaris juga dipersafai oleh n. infraorbitalis dan Nn. Maxilaris
melalui n. alveiolaris superior sehingga sakit pada sinus ini juga akan menyebabkan sakit pada
daerah gigi, begitu pula sebaliknya.7

5|Page
Gambar 3. Sinus paranaslis8

Pendarahan Hidung

Pendarahan untuk hidung bagian dalam berasal dari tiga sumber utama yaitu a. ethomoidalis
anterior yang mendarahi septum bagian superior anterior dan dinsing lateral hidung, selanjutnya
a. ethmoidalis posterior yang merpuakan cabang dai a. ophthalmica yang mendarahi septum
bagian superior posterior, dan a. sfenopalatina yang terbagi menjadi a. nasalis posterolateal yang
menuju ke dinding lateral hidung dan a. septi posterior yang menyebar pada septum nasi.9

Bagain bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang maxillaris interna, diantaranya
iaah ujung arteri palatine major dan arteri sfenopalatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar
dari doramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang
ujung posterior concha media.9

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. facialis. Pada bagian depan
septum terdapat anastomosis dari a. sfenopalatina, palatina mayor, ethmoidalis anterior dan
labialis superior (cabang dari arteri fasialis), membentuk plexus Kiesselbach atau Littles area
yang leataknya superficial dan tidak terlindungi sehingga mudah cedera karena trauma, sehingga
menjadi sumber epistaksis (Gambar 4).10

Vena-vena pada rongga hidung membentuk plexus venosus submukosa. Plexus ini akan
bermuara di vena sphenopalitina, vena facialis dan vena ethmoidalis anterior yang kemudian
berakhir di vena ophtalmica menuju ke sinus cavernousus untuk membentuk plexus cavernosus.9

Gambar 4. Pendarahan hidung11

6|Page
Persarafan Hidung

Saraf motorik oleh cabang n. facialis yang mensarafi otot-otot hidung bagian luar.7

Saraf sensoris, bagian depan dan atas rongga hidung dipersarafi oleh n.ethmoidalis anterior yang
merupakan cabang dari n. asosiliaris yang berasal dari n, ophtalmica. Rongga hidung lainnya
sebagian besar mendapatkan persarafan sensoris dari n. maxilla melalui ganglion sfenopalatina.7

Saraf otonom, ganglion sfenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan
persarafan vasomotor atau otonom mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut parasimpatis
dari nervus petrosus profundus. Ganglion ini terletak dibelakang dan sedikit diatas ujung
posterior concha media.7

Nervus olfaktorius turun melalui lamina cribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan
kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius didaerah sepertiga
atas hidung.7

Struktur Histologi Hidung

Jika dilihat pada mikroskop rongga hidung terdiri dari tulang, tulang rawan halin, otot bercorak
dan jaringan ikat. Bagian rongga hidung sisi lateral dibatasi oleh nares (lubang hidung). Rongga
hidung bagian depan berhubungan keluar melalui nares anterior dan bagian belakang
berhubungan keluar melalui nares posterior, sementara bagian yang berhubungan dengan
nasofaring melalui koana.12

Pada rongga hidung terdapat tonjolan tulang tipis yang disebut dengan concha nasalis. Concha
nasalis ini terbagi menjadi tiga yaitu concha nasalis superior tersusun atas epitel khusus yaitu
epitel olfatorius yang berfungsi untuk penciuman. Concha nasalis medius dan concha nasalis
inferior yang dilapisi epitel bertongkat torak bersilia bersel goblet. Epitel yang melapisi concha
nasalis inferior banyak terdapat plexus venosus yang berdinding tipis, sehingga mudah terjadi
pendarahan. Plexus venosus ini juga disebut swell bodies yang tidak normal pada kedua concha
nasalis sehingga aliran udara yang masuk akan terganggu. 12,13

Rongga hidung dibagi menjadi dua yiatu vestibulum nasi dan regio respirasi. Vestibulum nasi
merupakan daerah lebar dibelakang nares anterior dan merupakan bagian dalam hidung yang
dilapisi oleh kulit. Vesitubulum nasi memiliki epitel berlapis gepeng serta terdapat vibrissae

7|Page
yaitu rambut-rambut kasar yang berfungsi menyaring udara pernapasan dan terdapat juga
kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.13

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang terbagi atas mukosa pernapasan (regio respiratorius)
dan mukosa penghidu (regio olfaktorius).13

Regio respiratorius adalah daerah belakang vestibulum nasi. Regio ini tersususn atas epitel
bertingkat torak bersilia bersel goblet. Memiliki silia yang berperan untuk mendorong lendir
kearah belakang yaitu nasofaring sehingga kemudian lendir tertelan atau dibatukan. Pada lamina
propria terdapat gandila nasalir yang merupakan kelenjar campur dimana secret kelenjar
berfungsi untuk menjaga kelembaban cavum nasi dan menangkap partikel-partikel debu yang
halus dalam udara inspirasi. Lamina propria ini menjadi satu dengan periosteum dan periondrium
(dinding concha nasalis) oleh karena itu membrane mukosa di hidung sering disebut mukosa di
hidung sering disebut mukoperiosteum, mukoperikondrium atau membrane Schneider. Pada
region ini terdapat noduli limfatici, serta kolagen, serat elastin, limfosit, sel plasma dan sel
makrofag. Jadi, mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan
permukaannya dilapisi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet dan dalam keadaan
normal mukosa ini berwarna merah merah muda serta sellau basah karena diliputi oleh selaput
lendir pada permukaannya.12,13

Regio olfaktorius adalah bagian dinding lateral atas dan atap posterior cavum nasi yang
mengandung organ olfaktorius. Pada concha nasalir superior terdapat epitel olfaktorius yang
terdapat pada pertengahan cavum nasi. Daerah epitel olfaktoius ini mencakum 8-10mm ke
bawah pada tiap sisi septum nasi dan pada permukaan concha nasalis superior dengan batas tidak
teratur dan luas 500mm2 dengan mukosa berwarna coklat kekuningan.13

Regio olfaktorius tersusun oleh epitel olfaktorius (sel olfaktorius, sel sutentakuler atau sel
penyokong, sel basal, dan sel sikat) yang mempunyai epitel bertingkat torak bersilia tanpa sel
goblet (Gambar 5).13

Sel sutentakuler atau sel penyokong berbentuk silindris tinggi dengan bagian apex lebar dan
bagian basal menyempit, memiliki inti yang lonjong, pada permukaannya terdapat microvilli dan
sitoplasma yang mempunyai granula kuning kecoklatan. Sel ini juga memberi dukung fisik,
nutrisi serta menjadi penyekat (isolator) listrik bagi sel olfaktori.13

8|Page
Selain itu, regio olfaktorius juga tersusun oleh lamina propria yang mempunyai banyak vena dan
mengandung kelenjar terutama jenis serosa atau kelenjar bowman yang berperan untuk
membasahi epitel dan sillia dan juga sebagai pelarut zat-zat kimia yang dalam bentuk bau atau
dapat melarutkan bau-bauan.13

Gambar 5. Regio olfaktorius14

Fungsi Hidung dan Sinus Paranasalis

Secara fisiologi fungsi utama hidung adalah sebagai organ penghidu yang dilakukan oleh saraf
olfaktorius. Selain itu, hidung juga berfungsi sebagai jalan nafas, udara mauk melalui nares
anterior lalu naik ke atas setinggi concha media dan kemduian turun ke bawah kea rah
nasofaring, dan seterusnya. Pada eksprirasi terjadi hal sebaliknya. Mucus pada hidung berfungsi
untuk mengatur kondisi udara. Sebagai penyaring dan pelindung udara inspirasi dari debu dan
bakteri bersama rambut hidung dan silia. Selain itu, fungsi sinus paranasal antara lain sebagai
pengatur kondisi udara, sebagai penahan suhu, membantu keseimbangan kepala, membantu
resonansi suara, sebagai peredam perubahan tekanan udara, membantu produksi mucus dan
sebagainya serta turut membantu proses berbicara.1

Fraktur pada Hidung

Fraktur pada hidung umum terjadi karena kerangka hidung yang berupa tulang adalah tipis.
Bilamana cedera terjadi akibat benturan langsung, lamina cribosa ossis ethmoidalis dapat
mengalami fraktur dan septum nasi tergeser menyimpang dari bidang median. Kadang-kadang
penyimpangan ini demikian hebat sehingga septum nasi menyentuh dinding lateral avitas nasi.
Karena keadaan ini mempersukar pernapasan, mungkin perlu dilakukan perbaikan secara bedah.

9|Page
Meskipun lelehan dari hidung umumnya berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas,
terjadinya lelehan setelah menderita cedera pada kepala mungkin adalah CSS. Rinorea CSS
terjadi akibat fraktur lamina cribosa, robeknya meninges, dan bocornya CSS. Membran mukosa
hidung membengkak dan meradang (rinitis) pada infeksi saluran pernapasan atas dan pada
beberapa keadaan alergik (demam serbuk sari). Pembengkakan membran mukosa demikian
segera terjadi karena banyaknya pembuluh darah dalam membran mukosa hidung. Infeksi cavitas
nasi dapat meluas ke Fossa cranii anterior melalui lamina cribosa, Nasopharynx dan jaringan-
jaringan lunak retrofaringel, Auris media melalui tuba auditoria (auditiva), Sinus paranasales,
Apparatus lacrimalis dan conjunctiva.15

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. facialis. Pada bagian depan
septum terdapat anastomosis dari a. sfenopalatina, palatina mayor, ethmoidalis anterior dan
labialis superior (cabang dari arteri fasialis), membentuk plexus Kiesselbach atau Littles area
yang leataknya superficial dan tidak terlindungi sehingga mudah cedera karena trauma, sehingga
menjadi sumber epistaksis.10

Epistaksis (mimisan) relatif umum teriadi karena luasnya vaskularisasi membran mukosa hidung.
Epistaksis dibagian menjadi dua tipe yaitu epistaksis anterior dan epistaksi posterior. Epistaksis
anterior merupakan jenis epistaksis yang paling sering diujumpai, terutama pada anak-anak dan
epistaksis ini biasanya dapat berhenti dengan sendirinya. Selain berasal dari plexus Kieesselbach,
epistaksis ini juga berasal dari arteri ethmoidalis anterior. Daerah ini rentan terhadap kelembapan
udara yang diinspirasi dan trauma. Akibatnya dapat terjadi ulkus, rupture atau kondisi patologik
lainnya yang selanjutnya akan menyebabkan pendarahan.10

Sementara itu epistaksis posterior berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri ethmoidalis
posterior. Pendarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya sehingga
memerlukan perawatan dirumah sakit. Pendarahan ini sering ditermukan pada pasien yang lebih
tua dengan hipertensi, arteriosclerosis atau penyakit kardiovaskuler. Batas yang membagi antara
epitaksis anterior dan epistaksis posterior adalah ostium sinus maksilaris.10

Epistaksis biasanya timbul spontan tanpa diketahui penyebabnya, tetapi terkadang epistaksis
dapat disebabkan oleh trauma ringan misalnya mengorek hidung, benturan ringan, bersin atau
mengeluarkan ingus terlalu keras atau sebagai akibat dari trauma yang lebih hebat seperti
pukulan, jatuh atau kecelakaan lalu lintas, dapat juga disebabkan oleh kelainan pembuluh darah

10 | P a g e
yang lebih, tipis, lebar, jaringan ikat dan sel-selnya lebih sedikit serta disebabkan juga oleh
infeksi lokal yaitu infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rhinitis atau sinusitis.10

Kesimpulan

Hidung merupakan salah satu bagian pernapasan eksternal dan penting dalam proses respirasi
atau pernapasan. Hidung memiliki pembuluh darah, sehingga hidung bisa mengalami perdarahan
yang bisa disebabkan karena adanya fraktur pada bagian tulang hidung dan mengenai arteri yang
berada dihidug. Pada umumnya, apabila terjadi pendarahan pada hidung yang arteri yang terlibat
adalah arteri yang anastomosis membentuk plexus Kiesselbach. Plexus Kiesselbach ini letaknya
superficial dan tidak terlindungi sehingga mudah cedera karena trauma, sehingga menjadi
sumber epistaksis.

Daftar Pustaka

1. Pitara T. Cara mudah belajr fisiologi kedokteraan. Yogyakarta: Nuha Medika; 2014/
2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.
3. Daniel w. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2006.
4. Gunardi S. Anatomi system pernapasan. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit Fakultask
Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
5. Gambar 1. Diunduh dari: http://medicina-islamica-lg.blogspot.com/2013/08/anatomi-
fisiologi-hidung-nasus.html
6. Gambar 2. Diunduh dari: http://medicine.academic.ru/113235/concha_nasi_inferior
11 | P a g e
7. Waston R. Anatomi dan fisiologi. Edisi ke-10. Jakarta: EGC; 2002.
8. Gambar 3. Diunduh dari: http://blog-hidup-sehat.blogspot.co.id/2010/05/gejala-sinusitis-
tanda2-infeksi-sinus.html
9. Faiz O, Moffat D. at a glance series anatomi. Jakarta: Erlangga; 2004.
10. Nwaorgu OGB. Epistaxis; an overview. Annalas of Ibadan Postraduate Medicine 2004;
1(2); 32-7.
11. Gambar 4. Diunduh dari: http://www.myhealth.gov.my/en/epistaksis-pendarahan-hidung/
12. Gartner LP, Hiatt JL. Buku ajar berwarna histologi. Edisi ke-3. Jakarta: Sa.unders; 2013.
13. Geneser F. Buku teks histologi. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 2004.
14. Gambar 5. Diunduh dari: http://farhan-gibran.blogspot.co.id/2011/06/histologi-sistem
pernapasan-sistem.html
15. Eroschenko VP. Di Fiores atlas of histology with functional correlation 10th ed. Jakarta:
Lipponcott Williams & Wilkins; 2005.

12 | P a g e