Anda di halaman 1dari 7

Peranan Bakteri yang Menguntungkan dalam Bidang Industri

Bakteri digunakan dalam skala industri untuk menghasilkan berbagai macam untuk
zat kimia, enzim, asam amino, vitamin, dan substansi lain (Tiniew, 2012).
Peranan bakteri yang menguntungkan dalam bidang industri dapat dilihat pada tabel
berikut (Intan, 2012):

No Bakteri Produk Kegunaan


1. Clostridium asetobutylicum Aseton-Butanol Pelarut : Pembuatan bahan
kimia
2. Bacillus polymyxa Buthanedhiol Pelembab intermediat
Enterobacter aerogenes kimia

3. Gluconobacter suboxydans Dihidroksiaseton Bahan Kimia halus


4. Pseudomonas sp Asam-2 Intermediet untuk asam D-
Ketoglekunat araboaskorbat
5. Gluconobacter suboxydans Asam 5- Intermediet asam tartat
ketoglukonat
6. Lactobacillus delbrueckii Asam Laktat Produk pangan, tekstil, dan
pe\mbuatan bahan kimia,
menghilangkan kapur dari
kulit binatang
7. Bacillus subtillis Amilase bakteri Memodifikasi pati,
merekatkan kertas,
melepaskan perekat pada
tekstil
8. Bacillus subtilis Protase bakteri Memperhalus struktur dan
urat kulit binatang,
melepaskan serat,
penghilang noda,
pengempuk daging
9. Leuconostoc mesenteroides Dekstran Stabilisator dalam produk
pangan, pengganti plasma
darah
10. Gluconobacter suboxydans Sarbose Pembuatan asam askorbat
11. Streptomycesalivaceus Kobalamin Pengobatan anemia
Propionibacterium pernisiosa, pelengkap
freudenreichii makanan, dan makanan
ternak

Di dalam bidang industri juga terdapat bakteri yang menguntungkan dalam bidang ini.
Terutama dalam bidang industri pangan. Terdapat beberapa kelompok bakteri yang mampu
melakukan proses fermentasi dan hal ini telah banyak diterapkan pada pengolahan berbagi
jenis makanan. Bahan pangan yang telah difermentasi pada umumnya akan memiliki masa
simpan yang lebih lama, juga dapat meningkatkan atau bahkan memberikan cita rasa baru
dan unik pada makanan tersebut (Pratiwi, 2012).
Dalam bidang industri kimia peranan mikroorganisme sangat dibutuhkan karena pada
dasarnya mikroorganisme tidak hanya bersifat sebagai parasit akan tetapi ada yang
menguntungkan, sebagai contoh bakteriEscherichia coli yang berperan dalam proses
produksi terutama fermentasi. Selain itu peran lain dari mikroorganisme khususnya bakteri
adalah dalam penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut dan penguraian zat-zat yang
bersifat toksik di sungai atau laut. Selain bakteri juga ada jamur dan khamir yang akan
diuraikan peranannya dalam bidang industri khususnya industri kimia. Cabang ilmu
bioteknologi yang mempelajari industri khususnya mengenai pengembangan dan produksi
senyawa baru ataupun sumber energi yang terbarukan dengan menggunakan mikroorganisme
seperti jamur, khamir, bakteri serta dibantu oleh enzim tertentu untuk memudahkan
pengolahan limbah dan proses produksi industri disebut bioteknologi putih atau abu-abu
(Fadma, 2013)
1. Peragian Alkohol oleh Ragi (Khamir) dan Bakteri
Penggunaan khamir dalam industri seperti pada fermentasi alkohol, industri biomassa
dan bahan baku karbohidrat Fadma, 2013).
Pada kondisi anaerob pada tumbuhan dan beberapa fungi terjadi penimbunan alkohol
khususnya etanol. Penghasil alkohol (etanol) adalah ragi terutama dari Saccharomyces
cerevisiae. Seperti halnya fungi, ragi bernafas aerob dalam lingkungan terisolasi dari
udara, ragi akan meragikan karbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida. Pada beberapa
bakteri anaerob termasuk anaerob fakultatif pada peragian heksosa dan pentosa
menghasilkan alkohol sebagai produk utama. Gay-lussac merumuskan proses pengubahan
glukosa menjadi etanol dalam reaksi sebagai berikut Fadma, 2013):
C6H12O6 2 CO2 + 2 C2H5OH
Peragian dari glukosa menjadi etanol dan karbondioksida oleh ragi Saccharomyces
cerevisiae berlangsung melalui alur fruktosa difosfat. Piruvat didekarboksilasi menjadi
asetaldehid oleh piruvat dekarboksilase dengan bantuan tiamin pirofosfat. Asetaldehid
oleh alkohol dehidrogenase direduksi dengan NADH2 menjadi etanol (Fadma, 2013).
2. Pembentukan Etanol Oleh Bakteri
Bakteri Zymomonas mobilis menguraikan glukosa melalui alur 2-keto-3-deoksi-6-
fosfoglukonat dan memecah piruvat dengan bantuan enzim piruvat dekarboksilase menjadi
asetaldehid dan karbondioksida. Asetaldehid kemudian direduksi menjadi etanol. Etanol
dan karbon dioksida dan asam laktat dalam jumlah kecil adalah produk peragian yang
khas. Etanol dalam minuman keras agave berasal dari atom C 2 dan 3 dan juga dari C 5
dan 6 dari glukosa sedangkan etanol ragi berasal dari atom-C 1, 2, 5 dan 6. Pada peragian
daari beberapaEnterobacteriace dan Clostridium, etanol sebagai produk samping peragian.
Prastadium etanol yaitu asetaldehid tidak langsung dibebaskan oleh piruvat dekarboksilase
dari piruvat tetapi direduksi oleh asetil-koA. Alkohol dibentuk melalui alur lain oleh
bakteri asam laktat yang heterofermentatif seperti Leuconostoc mesenteroides. Glukosa
diuraikan melalui tahap pertama dari alur pentosa fosfat menjadi pentosa fosfat
fosfoketolase bekerja terhadap xilulosa-5-fosfat dengan reaksi sebagai berikut (Fadma,
2013):
xilulosa-5-fosfat + Pi asetilfosfat + gliserinaldehid-3-fosfat
Asetilfosfat yang terbentuk kemudian direduksi menjadi etanol oleh asetaldehid
dehidrogenase dan alkohl dehidrogenase. Produk lain yaitu gliserin-aldehid-3-fosfat
direduksi menjadi laktat melalui piruvat (Fadma, 2013).
3. Pelapisan Bijih Logam
Beberapa bakteri asidofil pengoksidasian besi dan belerang memiliki kemampuan
untuk mengubah bijih logam sulfida dan unsur belerang menjadi sulfat logam berat yang
dapat larut dalam air dapat dimanfaatkan untuk melepaskan bijih logam bernilai rendah
dan untuk mendapatkan tembaga, seng, molibden, uranium dan nikel (Fadma, 2013).
Pelepasan bijih logam atau disebut juga leaching processes telah dikerjakan secara
besar-besaran untuk memperoleh bijih logam dari timbunan tanah di atas mineral dan
kemungkinan dapat digunakan pada penambangan dalam tanah. Air dibiarkan merembes
melalui tumpukan tinggi lapisan-lapisan bebatuan yang mengandung bijih logam yang
telah ditumbuk halus sebagai contoh yang mengandung pirit FeS2 dan sulfida-sulfida
logam yang m enyertainya seperti kalkozit (Cu2S), CuS, ZnS, NiS, MoS2, Pb2S3, Sb2S3,
CoS, dan larutan yang mengandung garam sulfat ditampung. Dari larutan ini, logam dapat
diperoleh dengan menguapkan atau dengan cara mengendapkan larutan. Peleburan sulfida
logam berat dapat terjadi melalui beberapa proses oksidasi oleh bakteri dari senyawa-
senyawa belerang tereduksi dengan reaksi kimia (Fadma, 2013):
FeS2 + 3 O2 + H2O FeSO4 + H2SO4
atau belerang unsur menjadi asam sulfat dengan reaksi kimia (Fadma, 2013):
S + 1 O2 + H2O H2SO4
serta dari Fe menjadi Fe3+ dengan reaksi kimia (Fadma, 2013):
2+

2 FeSO4 + O2 + H2SO4 Fe2(SO4)3 + H2O


maupun oleh oksidasi secara kimia dari garam-garam logam berat yang tidak larut menjadi
sulfat logam yang dapat larut dan belerang dengan reaksi (Fadma, 2013):
MeS + 2 Fe3+ Me2+ + 2 Fe2+ + S
Penyediaan asam belerang dan regenerasi dilakukan oleh bakteri dari Fe3+. Komponen ini
dipakai pada pelepasan bijih logam. Pengubahan ini dilakukan oleh bakteri Thiobacillus
thiooxidans dan T. ferrooxidans. Dalam proses ini juga dibantu oleh
stam Sulfolobus pengoksidasi belerang dan besi. Semua komponen yang terlibat
mempengaruhi kadar Cu2+, Co2+, Zn2+, ZNi2+ dan ion-ion logam berat lainnya yang
tersedia (Fadma, 2013).
Beberapa bakteri seperti Gallionella ferruginea dan Leptothrix ochracea dapat
ditemukan di dalam pipa-pipa air buangan dan sungai pegunungan diantara gumpalan-
gumpalan atau lapisan tebal besi oksida. BakteriLeptothrix discophorus berperan untuk
mengoksidasi mangan yaitu merubah Mn2+ menjadi Mn4+ (Fadma, 2013).
4. Pemisahan Logam Berat oleh Bakteri
Bakteri yang berperan dalam proses pemisahan logam berat adalah Thiobacillus
ferroxidans dan Thiobacillus oxidans. Kedua bakteri ini termasuk khemolitotrof artinya
bakteri pemakan batuan yang tumbuh subur di tempat pertambangan ataupun dalam
lingkungan tanpa ada zat organik dan berperan untuk mengekstraksi berbagai jenis logam.
Energi dapat diperoleh bakteri dari oksidasi zat anorganik(besi dan belerang). Bakteri ini
dapat mengekstrak karbondioksida secara langsung menjadi karbon (Fadma, 2013).
5. Produksi Asam-asam Organik
Banyak asam organik dalam skala besar di bidang industri kimia dihasilkan dengan
cara oksidasi tidak sempurna dengan bantuan dari mikroorganisme. Asam-asam organik
tersebut salah satunya asam-asam amino. Contoh asam organik lain seperti asam sitrat,
asam glukonat, asam apel dan asam itakonat dalam proses pembuatannya dibantu dengan
fungi (jamur). Pada pembuatan asam cuka dan asam glukonat dapat dihasilkan dengan
bantuan bakteri. Saat ini, dalam bidang industri kimia digunakan bakteri sebagai
pembentuk asam-asam amino (Fadma, 2013).

a.Pembentukan Asam Oleh Fungi (Jamur)


Metabolisme fungi adalah oksidatif ketat, hal ini berarti bahwa fungi tidak
menguraikan karbohidrat secara anaerob dan meragikannya akan tetapi pada kondisi
anaerob tidak terjadi pertumbuhan yang terus berlangsung. Produk peragian yang
dihasilkan adalah etanol dan asam laktat, sedangkan asam-asam organik lain dihasilkan
pada kondisi anaerob (Fadma, 2013).
Pada pembentukan berbagai jenis asam yang diekskresi oleh fungi pada
pengubahan glukosa dengan reaksi dari siklus asam sitrat dapat dihasilkan asam malat,
asam suksinat, asam fumarat dan asam sitrat. Asam oksalat terjadi oleh hidrolisis
oksaloasetat dengan perantaraan oksaloasetat hidrolase. Pembentukan asam itakonat dari
asam cis-akonitat dengan dekarboksilasi yang mengakibatkan pergeseran elektron dalam
kerangka karbon dan menggeser ikatan rangkap dari kedudukan 2,3 ke 3,4 (Fadma,
2013).
a.Asam Laktat
Asam laktat diekskresikan oleh mocorales (Rhizopus nodosus, Rhizopus oryzae,
Rhizopus arrhizus, Rhizopus nigricans) dan fikomiset lain seperti Allomyces,
Saprolegnia, Blastocladiella. Pada bakteri-bakteri homofermentatif asam laktat
dihasilkan pula produk samping asam tartrat, asam fumarat, asam format, asam asetat,
asam apel dan etanol dalam jumlah yang sedikit. Asam laktat dapat dihasilkan dalam
jumlah maksimum apabila tersedia oksigen. Jamur tidak membutuhkan larutan biak
yang kompleks sebagai sumber nitrogen karena sudah dicukupi dengan adanya ureum
sehingga pemisahan asam laktat dapat diperoleh dalam bentuk yang murni tanpa
menimbuklan kesulitan seperti pada proses peragian asam laktat oleh Lactobacillus
(Fadma, 2013).
b.Asam Glukonat
Produksi asam glukonat berdasarkan enzimatik dari glukosa dengan bantuan Glukosa
oksidase. Glukosa oksidase diekskresi oleh fungi ke dalam medium. Asam glukonat
dibentuk oleh Aspergilli dan Penicillia. Proses tersebut dapat berlangsung dalam larutan
glukosa 30 35 % dengan hasil yang lebih banyak apabila asam dinetralkan dengan
CaCO3 (kalsium karbonat) dengan dibantu Aspergillus niger. Glukosa oksidase
merupakan suatu enzim yang mengandung FAD sebagai gugus prostetik. Pada oksidasi
glukosa dihasilkan -D-glukono--lakton sebagai produk oksidasi primer. Produk
tersebut oleh enzim glukonolaktonase dirubah menjadi glukonat dengan mengabil air.
Glukosa oksidase yang tereduksi memindahkan hidrogennya pada oksigen udara
dengan membentuk hidrogen peroksida kemudian oleh katalase dipecah menjadi air
dan oksigen (Fadma, 2013).
c.Asam Oksalat
Asam oksalat diekskresi oleh banyak fungi. Dalam produksi asam oksalat dibantu oleh
reaksi alkali dari larutan biak (Fadma, 2013).
d.Asam Sitrat
C Wehmer menemukan asam sitrat dalam biak Penicillia ( Citromyces pfefferianus).
Kemudian Currie dengan menggunakan dasar penemuan C.Wehmer dapat
menghasilkan asam sitrat dalam industri. Ia menyimpulkan bahwa Aspergillus niger
dalam larutan biak dengan pH aawal 2,5 3,5 dapat tumbuh dengan subur sambil
mengekskresi asam sitrat dalam jumlah yang banyak. pH awal yang rendah
dimaksudkan agar tidak terjadi pencemaran oleh bakteri. Dengan adanya peningkatan
pH maka akan dihasilkan pula asam glukonat dan akhinya asam oksalat (Fadma, 2013).
b. Produksi Asam-Asam Amino oleh Bakteri
Asam amino dapat dibentuk oleh Corynebacterium
glutamicum dan Brevibacterium divaricatum. Kedua bakteri tersebut mampu
mengekskresi asam L-glutamin dengan adanya biotin. Kadar biotin ini agar terjadi
penimbunan asam dalam jumlah 2,5 g biotin/L sehingga optimum. Apabila kadar
lebih rendah pertumbuhan akan berkurang dan asam glutamin yang dihasilkan
menurun. Untuk memproduksi asam-asam amino lain dapat disertakan mutan auksatrof
dari Corynebacterium glutamicum. Mutan-mutan yang memerlukan homoserin pada
kondisi tertentu akan mengekskresi 20 gram lisin/L larutan biak. Mutan-mutan lain
dariCorynebacterium glutamicum,
Enterobacteriaceae dan Pseudomonadaceae memproduksi L-homoserin, L-valin, L-
isoleusin, L-triptopan dan asam amino lainnya (Fadma, 2013).
6. Pengolahan Air Limbah
Untuk menguraikan zat organik menjadi anorganik yang stabil diperlukan mikroba
aerob. Bakteri anaerob dapat memecah gula menjadi air, karbondioksida dan juga energi.
Agar dapat bekerja secara maksimal, bakteri anaerob memerlukan suhu yang tinggi dan
pada pH 6,5 8,5 (Fadma, 2013).

Cara pengolahan air limbah ini mencakup 3 cara yaitu (Fadma, 2013):
1.Cara Aerobik
Pengolahan air limbah secara aerobik, bakteri aerob memerlukan udara dalam
proses pengolahan air limbah sehingga diperlukan aerator atau kolam aerob. Adanya
aerator ini agar bakteri tetap hidup pada waktu proses penguraian karena oksigen dapat
disuplai dari lingkungan melalui aerator. Contoh penggunaan cara aerobik ini seperti
pada bending air sungai yang tercemar (Fadma, 2013).
2.Cara Anaerobik
Pada pengolahan air limbah secara aerobik, pada saat proses penguraian bakteri
dapat hidup dengan sedikit oksigen atau tanpa oksigen akan tetapi dalam proses
pengolahannya memakan waktu yang lebih lama dan menimbulkan bau. Contoh
penggunaan cara anaerobik seperti pada septic tank (Fadma, 2013).
3.Cara Fakultatif
Pengolahan air limbah dengan cara fakultatif ini melibatkan dua cara sebelumnya,
yakni sebagian proses dengan cara aerob kemudian dilanjutkan dengan cara anaerob.
Contoh penerapan cara fakultatif misalnya pada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
(Fadma, 2013).
Ada 2 macam metode yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah yaitu (Fadma,
2013).:
1. Metode Lumpur Aktif
Bakteri yang berperan dalam proses pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif
berasal dari genusPseudomonas, Flavobacterium, Alcaligenes, Bacillus, Achromobacter,
Corynebacterium, Comomonas, Brevibacterium, Acinetobacter, Sphaerotilus,
Beggiatoa dan Vitreoscilla. Dalam lumpur aktif terdapat 108CFU/mg lumpur. Bakteri
yang diisolasi sebagian besar berasal dari spesies Comamonas-
Psudomonas danCaulobacter. Dalam flok lumpur aktif juga terdapat bakteri autotrofik
misalnya bakteri nitrit sepertiNitrosomonas dan Nitrobacter yang berperan mengubah
amonia menjadi nitrat serta bakteri fototrofik seperti Rhodospilrillaceae yang berperan
penting dalam penurunan nilai BOD dalam lumpur aktif (Fadma, 2013).

2.Metode Saringan Tetes


Pengolahan limbah cair dengan metode saringan tetes menggunakan biofilum.
Biofilum merupakan lapisan mikroorganisme yang menutupi hamparan saringan pada
dasar bak limbah. Hamparan saringan ini berupa tumpukan arang, plastik, dan kerikil.
Penguraian secara anaerob dapat dilihat pada proses biologis gas metana (CH4)
(Fadma, 2013).
7. Produksi Senyawa Hidrokarbon
a.Naftalena, Antrasena dan senyawa Poliaromatik lain
Beberapa bakteri mampu menguraikan senyawa hidrokarbon polisiklik seperti
naftalena, antrasena dan fenantrena. Bakteri akan dirumbuhkan dalam salah satu larutan
biak tersebut kemudian akakn diekskresi salisilat. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa
hidrokarbon alamiah apat diubah oleh mikroorganisme maupun dioksidasi sebagian atau
seluruhnya. Aspal dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan dapat diuraikan
meskipun prosesnya berlangsung lambat. Grafit dapat dioksidasi dalam tanah yang
didalamnya terdapat mikroorganisme(Fadma, 2013).
Pada pencemaran tanah dengan minyak bumi, hidrokarbon dalam tanah yang
didalamnya terdapat mikroorganisme dan diudarai dapat diuraikan secara cepat dan
sempurna. Minyak bumi yang tumpah pada air laut merupakan bahaya besar bagi flora dan
fauna. Tumpahan minyak bumi ini dapat diuraikan pula oleh bakteri akan tetapi meskipun
telah diuraikan akan tetap tertinggal dalam waktu yang lama karena pengaruh biologik.
Zat alkana berantai panjang, senyawa hidrokarbin aromatik dan campuran menyerupai
aspal (Fadma, 2013).
b. Metana
Metana dapat diolah dan dioksidasi oleh bakteri yang tidak mampu memecah
hidrokarbon berantai panjang. Hanya bakteri tertentu pengolah metana yang memakan
hidrokarbon yaitu kelompok bakteri yang ekstrim dalam pengolahan senyawa C1. Oleh
karena itu bakteri pengolah metana dikelompokkan bersama dengan semua bakteri dan
ragi yang mengolah metanol, amina termetilasi, formiat, dimetileter, dan formaldehid
sebagai kelompokm organisme metilotrof. Bakteri yang mengandung metana sebagai
sumber karbon dan energi berasal dari genus:Methylomonas,
Methylococcus dan Methylosinus. Gas metana berguna sebagai sumber energi alternatif
sebagai contoh gas elpiji untuk keperluan rumah tangga dan pembakaran untuk
menghasilkan listrik (Fadma, 2013).
Pengolahan metanol oleh bakteri dimulai oleh metanol dehidrogenase. Ditemukan
gugus prostetik yang disebut metoksatin atau pirolkhinolinkhinon (PQQ) di dalam enzim
tersebut. Metosaktin sebagai komponen alkohol dehidrogenase yang terikat membran dan
terdapat dalam bakteri. Pada pengolahan metana dengan metode saringan tetes, proses
pengolahan dilakukan dengan memasukkan bakteri ke dalam bak berisi limbah yang telah
diberi lubang untuk masuknya udara (aerator). Limbah akan terurai dan dapat dibuang ke
lingkungan yang airnya sudah dipisahkan dari endapannya. Misalnya limbah logam berat
yaitu chromium, limbah tersebut dapat direduksi oleh bakteri Enterobacter
cloaceae (Fadma, 2013).
Di Berlin telah diisolasi dari biak pengkayaan dengan fraksi hidrokarbon sebagai
sumber energi dua ragi:Candida lipolytica dan Candida tropicalis. Candida
lipolytica mengolah mulai dari panjang rantai 15 atom-C semua homolog yang lebih
panjang. Kebanyakan jenis candida mengoksidasi hidrokarbon. Hasilnya dengan
karbohidrat sebagai substrat harga Y hanya 0,5 akan tetapi hidrokarabon yang dihasilkan
0,7 1 (Fadma, 2013).
Banyak Pseudomonas yang mengoksidasi hidrokarbon secara sempurna,
hanya Acinetobacter calcoaceticussaja mengekskresi produk oksidasi
dan Nocardia menimbunnya di dalam sel (Fadma, 2013).
Beberapa contoh bakteri metanogen yang diklasifikasikan secara taksonomi (Fadma,
2013):
1. Methanobacterium thermoaautotrophicum
2. Methanobacterium aboriphilicum
3. Methanobacterium formicicum
4. Methanobacterium ruminantium
5. Methanobacterium mobile
6. Methanococcus vannielii
7. Methanosarcina barkeri
8. Methanosarcina marzei
9. Methanospirillum hungatii
10. Methanothrix soehngenii
Bakteri-bakteri metana dapat mengaktivasi hidrogen dan menghubungkan oksidasi
hidrogen dengan reduksi CO2. CO2 diolah sebagai akseptor hidrogen dan metana
diproduksi untuk memperoleh energi (Fadma, 2013).
Selain bakteri-bakteri metanogen di atas, bakteri Escherichia coli juga berperan
penting dalam pembentukan bahan bakar karena Escherichia coli mampu menyintesa dan
memproduksi enzim hemiselulosa yang berguna untuk menguraikan selulosa menjadi gula
kemudian gula akan diubah menjadi asam lemak untuk membentuk membran sel. Gen
bakteri ini direkayasa dengan memberikan arus pendek. Hal ini bertujuan untuk dapat
memproduksi molekul asam lemak secara maksimum. Asam lemak ini nantinya akan
diubah menjadi bahan bakar dan senyawa kimia lainnya (Fadma, 2013).
Peranan Bakteri yang Merugikan dalam Bidang Industri
Peranan bakteri yang merugikan dalam bidang industri dapat dilihat dalam tabel
berikut : (Tiniew,2012).

Bahan Aksi mikroorganisme Mikroorganisme


penyebab
Kertas Lendir, noda, pemucatan Bakteri berkapsul,
warna, melunakan, dan
menghancurkan serat

BAB III
PENUTUP
Simpulan
1.Beberaapa mikroba dalam bidang industri antara lain Clostridium asetobutylicum, Bacillus
polymyxa, Enterobacter aerogenes, Gluconobacter suboxydans, Pseudomonas
sp, Gluconobacter suboxydans, Lactobacillus delbrueckii, Bacillus subtillis, Bacillus
subtilis, Leuconostoc mesenteroides, Gluconobacter
suboxydans,Streptomycesalivaceus, dan Propionibacterium, freudenreichii. Mikroba-
mikroba tersebut adalah kedalam mikroba yang berperan positif.
2. Mikroba-mikroba tersebut di gunakan dalam memodifikasi pati, merekatkan kertas,
melepaskan perekat pada tekstil, memperhalus struktur dan urat kulit binatang,
melepaskan serat, penghilang noda, pengempuk daging, stabilisator dalam produk pangan,
pengganti plasma darah, pembuatan asam askorbat, dan pengobatan anemia pernisiosa,
pelengkap makanan, dan makanan ternak.