Anda di halaman 1dari 2

Pada hari Minggu, 1 September 2013, kelompok kami melakukan kunjungan agama

yang kedua, yaitu mengunjungi Pak Asmuni, seorang nelayan di Pantai Kenjeran. Kami
berangkat ke Pantai Kenjeran sekitar jam 2 siang. Sesampainya disana, keadaan sangat ramai.
Kami pun turun dari mobil mencari Pak Asmuni.

Setelah mencari dan bertanya dengan warga sekitar, akhirnya kami menemukan Pak
Asmuni di rumahnya. Setelah bertemu, kami diajak beliau untuk duduk dan mulai bercerita.

Pertama-tama beliau mulai bercerita tentang keluarga beliau. Pak Asmuni memiliki
seorang istri, seorang anak laki-laki, dan tiga orang anak perempuan. Dua orang anak
perempuan Pak Asmuni sudah menikah, satu orang tinggal bersama suaminya di Kediri dan
satu lagi tinggal bersama Pak Asmuni. Anak laki-lakinya belum menikah, dia tinggal bersama
Pak Asmuni juga. Dan kesehariannya anak laki-laki Pak Asmuni ikut membantu pekerjaan
nelayan. Dan anak terakhir Pak Asmuni baru duduk di bangku sekolah dasar. Pak Asmuni
juga memiliki dua orang cucu.

Setelah itu beliau mulai bercerita tentang pekerjaan sebagai nelayan. Pak Asmuni
bercerita tentang modal yang dibutuhkan untuk memulai pekerjaan sebagai nelayan. Untuk
menjadi nelayan dibutuhkan modal yang cukup besar, misalnya jika ingin membeli perahu
yang baru nelayan harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 14.000.000,00. Lalu, untuk mesin
diperlukan uang Rp 6.000.000,00. Pengeluaran itu belum termasuk biaya alat-alat lain yang
dibutukan untuk melaut.

Namun, keadaan ekonomi Pak Asmuni tidak memungkinkan beliau untuk membeli
perlengkapan melaut yang baru, beliau hanya mampu membeli peralatan bekas yang masih
bisa dipakai dan harganya jauh lebih murah dari yang baru. Setiap pergi melaut, Pak Asmuni
juga membutuhkan bensin sekitar 4 5 liter.

Pak Asmuni pergi melaut pada pagi hari, biasanya para nelayan mulai melaut bersama-
sama. Pak Asmuni berkata bahwa para nelayan memiliki rasa kekeluargaan yang erat, mereka
saling menolong satu sama lain. Pernah suatu hari ketika Pak Asmuni sedang mencari kerang
perahu beliau di tabrak oleh kapal besar karena tidak terlihat. Kapal Pak Asmuni pun rusak,
sehingga Pak Asmuni tidak dapat pulang. Untunglah, ada nelayan lain yang melihat Pak
Asmuni, lalu menghampiri dan menolong beliau. Akhirnya Pak Asmuni dapat kembali
dengan selamat walaupun kapal beliau rusak.

Di samping itu, terkadang para nelayan juga sering berbagi. Biasanya mereka akan
memberi tahu satu sama lain bila mereka menemukan lokasi baru yang memiliki banyak
kerang atau hasil laut lainnya.

Pak Asmuni juga bercerita tentang bahaya yang dihadapi oleh para nelayan setiap
harinya. Selain risiko ditabrak oleh kapal besar, keadaan cuaca juga mempengaruhi. Jika
cuaca sedang buruk, misalnya angin kencang, nelayan tidak bisa pergi melaut. Lalu, jika
sedang hujan deras dan petir menyambar, bisa-bisa seorang nelayan terkena sambaran petir
seperti yang dialami oleh salah satu keluarga dari Pak Asmuni yang meninggal karena
tersambar petir saat melaut.
Masalah lain yang dialami para nelayan adalah saat mereka harus menyelam untuk
mencari hasil tangkapan, terkadang compressor yang mereka gunakan juga bermasalah.
Banyak nelayan yang meninggal karena compressor yang mereka gunakan tersumbat. Pak
Asmuni juga pernah mengalaminya. Saat hendak naik ke atas kapal setelah mencari kerang
ke dasar tiba-tiba selang oksigen yang digunakan Pak Asmuni tersumbat. Pak Asmuni tidak
berani berenang ke atas tanpa bantuan selang oksigen karena jaraknya cukup jauh, dan beliau
yakin bahwa nafas beliau tidak akan cukup untuk sampai ke atas. Selain itu Pak Asmuni tidak
bisa berenang dengan cepat karena beliau memasang pemberat supaya bisa dengan mudah
menyelam. Akhirnya, beliau mencoba untuk mencari di bagian selang manakah yang
tersumbat. Setelah mencari, selang yang bermasalahpun ditemukan, Pak Asmuni segera
memperbaikinya. Untunglah Pak Asmuni bisa memperbaikinya, dan beliau bisa selamat dan
berenang ke atas menuju perahunya.

Hasil tangkapan yang diperoleh Pak Asmuni biasanya adalah kerang. Seperti saat kami
mengunjungi Pak Asmuni saat itu, banyak tetangga Pak Asmuni yang sedang membersihkan
kerang kukur hasil tangkapan mereka. Ada seorang ibu yang bercerita tentang harga yang
diperoleh dari hasil tangkapannya. Ibu tersebut berkata bahwa biasanya 1 kg kerang kukur
yang sudah matang hanya di hargai Rp 13.000,00 dan harga tersebut bisa turun drastis. Pak
Asmuni berkata bahwa di daerah mereka tidak ada tengkulak, mereka menjualnya sendiri-
sendiri. Biasanya Pak Asmuni menjual hasil tangkapan beliau ke pasar. Setiap bulan
November, terkadang beliau bisa menangkap ikan kakap dan ikan dorang walaupun sedikit.

Pak Asmuni bercerita bahwa sekarang kerang kukur sulit ditemui, sehingga butuh usaha
keras untuk mencarinya. Karena jika tidak memperoleh kerang sedikitpun, Pak Asmuni tidak
bisa memperoleh nafkah. Beliau berkata bahwa hasil tangkapan yang di dapat oleh nelayan
itu tergantung diri mereka sendiri. Jika mereka pekerja keras maka mereka bisa memperoleh
hasil yang maksimal.

Siang itu, Pak Asmuni juga bercerita bahwa beliau ingin memiliki usaha lain selain
menjadi nelayan. Beliau ingin membuka warung kecil-kecilan. Pak Asmuni juga bercerita
bahwa beliau mulai melaut sejak kecil karena diajak oleh Ayah beliau. Begitu juga dengan
anak laki-laki Pak Asmuni yang sejak SMP telah diajak untuk membantu pekerjaan beliau.

Pak Asmuni bercerita bahwa selain bekerja sebagai nelayan beliau juga memiliki sebuah
warung. Warung tersebut dijaga oleh istri Pak Asmuni. Hasil pendapatan dari warung
tersebut membantu ekonomi keluarga Pak Asmuni.