Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Sejarah koperasi di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kehadiran pedagang
pedagang bangsa Eropa di negeri ini. Kehidupan ekonomi masyarakat indonesia ketika
itu masih cenderung bersifat tradisional. Tapi setelah terjadi gelombang pelayaran
samudera oleh pedagang pedagang bangsa Eropa, dan keterlibatan mereka dalam
hubungan dagang dengan masyarakat Indonesia dengan beberapa negara Eropa
cenderung meningkat.
Namun didorong oleh keserakahan pedagang pedagang bangsa Eropa itu meraih
keuntungan sebesar besarnya, hubungan perdagangan itu kemudian berubah menjadi
keinginan untuk menguasai. Hampir semua pedagang pedagang bangsa Eropa
bermaksud menguasai mata-rantai perdagangan antara daerah daerah di Asia dengan
daratan Eropa, yaitu dengan menerapkan cara cara perdagangan monopoli. Dari sini,
hubungan yang semula hanya bersifat murni perdagangan, menjelma menjadi praktik
penjajahan.
Akibatnya, terjadinya penindasan oleh pedagang pedagang bangsa Eropa
terhadap masyarakat Indonesia tidak dapat dihindari. Sebagai bangsa terjajah,
masyarakat Indonesia dieksploitasi secara semena mena oleh kaum penjajah. Hal itu
berlangsung selama ratusan tahun. Penderitaan inilah kemudian yang telah mengugah
semangat pemuka pemuka bangsa Indonesia untuk berjuang memperbaiki kehidupan
masyarakat. Sebagaimana diketahui, perjuangan pemuka pemuka bangsa Indonesia
memiliki berbagai bentuk. Salah satu di antaranya adalah dengan mendirikan Koperasi.
Paper ini bermaksud membahas sejarah perkembangan Koperasi di Indonesia.
Sejalan dengan perkembangan bangsa Indonesia, serta sejarah perkembangan
perekonomiannya, maka pembahasan dalam paper ini akan dibagi atas lima bagian.
Bagian pertama timbulnya cita cita ke arah pembentukan koperasi. Bagian
keduamembahas perjuangan pembentukan Koperasi pada zaman pemjajahan. Bagian
ketiga membahas pertumbuhan dan perkembangan Koperasi pada kurun waktu
mempertahankan kemerdekaan (1945 1965). Bagian keempat membahas
pertumbuhan dan perkembangan Koperasi pada kurun waktu (1950 1965). Bagian
kelima perkembangan koperasi pada masa pemerintahan orde baru dan reformasi.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana timbulnya cita-cita ke arah pembentukan koperasi?
1.2.2 Bagaimana perjuangan pembentukan koperasi pada zaman penjajahan?
1.2.3 Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu
mempertahankan kemerdekaan (1945-1949)?
1.2.4 Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu (1950-
1965)?
1.2.5 Bagaimana perkembangan koperasi pada masa pemerintahan orde baru dan
reformasi?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui timbulnya cita-cita ke arah pembentukan koperasi.
1.3.2 Untuk mengetahui perjuangan pembentukan koperasi pada zaman penjajahan.
1.3.3 Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu
mempertahankan kemerdekaan (1945-1949).
1.3.4 Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu
(1950-1965).
1.3.5 Untuk mengetahui perkembangan koperasi pada masa pemerintahan orde baru
dan reformasi.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Mengetahui timbulnya cita-cita ke arah pembentukan koperasi.
1.4.2 Mengetahui perjuangan pembentukan koperasi pada zaman penjajahan.
1.4.3 Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu
mempertahankan kemerdekaan (1945-1949).
1.4.4 Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan koperasi pada kurun waktu (1950-
1965).
1.4.5 Mengetahui perkembangan koperasi pada masa pemerintahan orde baru dan
reformasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Timbulnya Cita-cita ke Arah Pembentukan Koperasi


Sistem ekonomi liberal mulai dilaksanakan di Hindia Belanda (nama Indonesia
ketika masih dijajah Belanda) setelah pemerintah kolonial Belanda menghentikan
pelaksanaan Cultuur Stelseel (sistem tanam paksa). Sejak saat ini para penanam
modal/usahawan Belanda berlomba menginvestasikan dananya ke Hindia Belanda.
Bidang-bidang yang menarik bagi mereka untuk dikembangkan seperti perkebunan,
perdagangan dan transportasi dan lain-lain. Dari sinilah praktik penindasan, pemerasan
dan pemerkosaan hak tanpa perikemanusiaan makin berlangsung ganas, sehingga
kemudian kehidupan sebagian besar rakyat di bawah batas kelayakan hidup.
Beberapa tahun kemudian investasi besar-besaran yang dilakukan investor
Belanda itu membawa keuntungan yang melimpah bagi mereka. Antara tahun 1867
hingga tahun 1877 mereka berhasil membawa pulang ke negeri Kincir Angin itu
sebanyak kurang lebih 15 juta Gulden. Akan tetapi apa yang diperoleh bangsa Hindia
Belanda, adalah tidak lain kemelaratan yang meraja lela atas kehidupan rakyat dimana-
mana. Dalam keadaan hidup demikian, pihak kolonial terus-menerus mengintimidasi
penduduk pribumi sehingga kondisi sebagian besar rakyat sangat memprihatinkan.
Disamping itu para rentenir, pengijon dan lintah darat turut pula memperkeruh suasana.
Mereka berlomba mencari keuntungan yang besar dari para petani yang sedang
menghadapi kesulitan hidup, sehingga tidak jarang terpaksa melepaskan tanah miliknya
sehubungan dengan ketidakmampuan mereka mengembalikan hutang-hutangnya yang
membengkak akibat sistem bunga berbunga yang diterapkan pengijon. E. Sieburgh
(pejabat tertinggi/kepala daerah di Purwokerto) dan De Wolf van Westerrede
(pengganti Sieburgh) merupakan orang Belanda yang banyak kaitannya dengan
perintisan koperasi yang pertama-tama di tanah air kita, yaitu di Purwokerto.
Masalahnya di dahului oleh Raden Aria Wirjaatmadja (patih purwokerto) sebagai
seorang yang rasa sosialnya tebal. Dengan mendapat bantuan moril atau dorongan-
dorongan dari E. Sieburgh pada tahun 1891 didirikan Bank penolong dan Penyimpanan
di Purwokerto, yang maksud utamanya membebaskan para pegawai dari segala tekanan
utang. Pada tahun 1898 E. Sieburgh digantikan oleh De Wolf van Westerrede yang
mengharapkan terbentuknya koperasi simpan pinjam untuk para petani.

3
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memperluas bidang kerja Bank Penolong
dan penyimpanan sehingga meliputi pula pertolongan bagi para petani di daerahnya.
Untuk menyerasikan nama dan tugasnya, bank tersebut mendapatkan perubahan nama
menjadi Purwokerto Hulp Spaar En Landbouwcrediet atau bank penolong,
penyimpanan dan kredit pertanian, yang dapat dikatakan sebagai pelopor berdirinya
bank rakyat di kemudian hari.
Menurut De Wolf van Westerrede kebiasaaan-kebiasaan yang telah mendarah
daging pada para petani Indonesia (gotong royong, kerja sama) merupakan dasar yang
paling baik untuk berdirinya dengan subur koperasi kredit yang menjadi cita-citanya.
Cita-cita De Wolf sebagai lanjutan dari perintisan pembentukan koperasi kredit oleh R.
Aria Atmadja, untuk mendirikan koperasi kredit model Raiffeisen memang belum dapat
terwujud, akan tetapi sedikit banyak usahanya telah tampak pada bank-bank desa,
lumbung-lumbung desa dan rumah-rumah gadai yang sempat didirikannya di tanah air
kita, yang kesemuanya memang mengembangkan usaha pemberian kredit kepada para
petani dan kaum ekonomi lemah bangsa kita.
Selain dari kegiatan lumbung, bank desa dan bank rakyat yang menyalurkan
pinjaman-pinjaman bentuk padi dan uang kepada petani dan mereka yang ekonomi
lemah, aktivitas penerangan tentang perlunya pembentukan koperasi kepada para petani
dilakukan oleh Departemen Pertanian atau Departemen Pertanian-Kerajinan dan
Perdagangan, mulai tahun 1935 dilakukan oleh Departemen Perekonomian.
Belum terbentuknya koperasi pada waktu itu, sebab yang utama karena
pemerintahan kolonial Belanda tidak sungguh-sungguh memperhatikan, politik
pemerintahan kolonial masih memikirkan akibat persatuan rakyat Indonesia yang
terbentuk melalui koperasi.

2.2 Perjuangan Pembentukan Koperasi pada Zaman Penjajahan


2.2.1 Zaman Belanda
Perkenalan bangsa Indonesia dengan Koperasi dimulai pada penghujung abad ke-
19, tepatnya pad atahun 1895. Ditengah-tengah penderitaan masyarakat Indonesia, R.
Aria Wiraatmaja, seorang patih di Purwokerto, mempelopori berdirinya sebuah bank
yang bertujuan menolong para pegawai agar tidak terjerat oleh lintah darat. Usaha ini
mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Residen Purwokerto E. Sieburg. Badan

4
usahanya berbentuk Koperasi, dan diberi nama Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en
Spaarbank).
Pelayangn bank itu semula masih terbatas untuk kalangan pegawai pamong praja
rendahan yang dipandang memikul beban utang terlalu berat. Pada tahun 1898, atas
bantuan E. Sieburg dan De Wolff Van Westerrode jangkauan pelayanan bank itu
diperluas ke sektor pertanian (Hul-Spaar en Lanbouwcrediet), yaitu dengan meniru
pola Koperasi pertanian yang dikembangkan di Jerman (Raiffeisen).
Tapi karena kondisi masyarakat yang hidup di akan penjajahan tidak
diperbolehkan berkembang lebih jauh, upaya yang terakhir ini tidak mendapatkan
dukungan dari pemerintah kolonial. Akibatnya, setiap gerak-gerik Koperasi pertama
Indonesia itu diawasi secara ketat dan mendapat banyak rintangan pemerintah kolonial
Belanda.
Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah kolonial Belanda untuk merintangi
perkembangan bank yang dirintis oleh R. Aria Wiraatmaja tersebut adalah dengan
mendirikan Algemene Volkacrediet Bank. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda juga
mendirikan rumah gadai, bank desa, serta lumbung desa.
Dengan tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia, maka
para pelopor pergerakan nasional semakin menggiatkan usahanya untuk menggunakan
Koperasi sebagai sarana perjuangannya. Melalui Budi Utomo (1908), Raden Sutomo
berusaha mengembangkan Koperasi rumah tangga. Tapi karena kesadaran masyarakat
akan manfaat Koperasi masih sangat rendah, usahanya ini kurang berhasil. Koperasi-
koperasi rumah tangga ini pada umumnya tidak mendapat dukungan yang diharapkan
dari warga masyarakatnya.
Kemudian sekitar tahun 1913. Serikat Dagang Islam yang kemudian berubah
menjadi Serikat Islam, mempelopori pula pendirian beberapa jenis Koperasi industri
kecil dan kerajinan. Karena rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya penyuluhan
kepada masyarakat, dan miskinnya pemimpin Koperasi waktu itu, menyebabkan
Koperasi-koperasi ini pun tidak bisa bertahan lama.
Hambatan formal pemerintah kolonial Belanda tampak jelas dengan
diterapkannya peraturan Kopersai No. 431 tahun 1915. Menurut Undang-undang ini,
syarat administratif yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mendirikan
Koperasi dibuat dangan berat, baik yang menyangkut masalah perijinan, pembiayaan
maupun masalah-masalah teknir saat pendirian dan selama koperasi menjalankan
usahanya.

5
Tetapi peraturan tersebut tidak bisa bertahan lama. Setelah dibentuknya Koperasi
yang diketuai oleh Dr. J. H. Boeke pada tahun 1920, peraturan itu segera ditinjau
kembali. Hasil peninjauan itu adalah disusunnya peraturan Koperasi No. 91 tahun 1927.
Peraturan terakhir ini menetapkan persyaratan yang lebih longgar dari peraturan
sebelumnya, sehingga lebih mendorong masyarakat untuk mendirikan Koperasi.
Setelah itu, perkembangan Kopersai di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda
yang menggembirakan. Adalah The Studi Club 1928, sebagai kelompok kaum
intelektual Indonesia, yang kemudian sangat menyadari peranan Koperasi sebagai salah
satu alat perjuangan bangsa. Organisasi ini menganjurkan kepada para anggotanya
untuk ikut mempelopori pendirian perkumpulan Koperasi di lingkungan tempat
tinggalnya masing-masing. Jumlah Koperasi di Indonesia pada tahun 1939 mencapai
1712 buah, dengan jumlah yang terdaftar sebanyak 172 buah, dengan jumlah anggota
sekitar 14.134 orang.

2.2.2 Zaman Jepang


Pada bulan Maret 1942 Jepang merebut kendali kekuasaan di Indonesia dari
tangan Belanda. Selama masa pendudukan Jepang, antara tahun 1942-1945, dan sesuai
dengan sifat kemiliteran pemerintah pendudukan Jepang, usaha-usaha koperasi di
Indonesia disesuaikan dengan asas-asas kemiliteran. Usaha koperasi di Indonesia
dibatasi hanya untuk kepentingsn perang Asia Timur Raya yang dikobarkan oleh
Jepang.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Militer Jepang No. 23 pasal 2, yang
menyatakan bahwa pendirian perkumpulan (termasuk Koperasi), dan persidangan harus
mendapat persetujuan dari pemerintah setempat. Dengan berlakunya peraturan tersebut
maka peraturan Koperasi yang lama dinyatakan tidak berlaku lagi. Akibatnya,
perkumpulan koperasi yang berdiri berdasarkan peraturan pemerintah Belanda harus
mendapatkan persetujuan ulang dari Suchokan.
Satu hal yang perlu dicatat, pada jaman Jepang ini dikembangkan suatu model
Koperasi yang terkenal dengan sebutan Kumiai. Sesuai dengan peraturan yang berlaku,
ia bertugas menyalurkan barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Propaganda yang
dilakukan oleh pemerintah pendudukan Jepang berhasil meyakinkan masyarakat bahwa
Kumiai didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, sehingga mendapat
simpati yang cukup luas dari masyarakat.

6
Tetapi pada saat kepercayaan masyarakat tumbuh terhadap Kumiai, Jepang mulai
melakukan siasat yang sebenarnya. Siasat pemerintah pendudukan Jepang melalui
pembentukan Kumiai sebenarnya adalah untuk menyelewengkan asas-asas koperasi
yang sebenarnya untuk memenuhi kepentingan perang. Sehingga akhirnya masyarakat
menyadari bahwa keberadaan Kumiai hanyalah untuk dijadikan sebagai tempat
mengumpulkan bahan-bahan kebutuhan pokok guna kepentingan perang Jepang
melawan Sekutu.
Dengan tujuan seperti itu, keberadaan Kumiai jelas sangat bertentangan dengan
kepentingan ekonomi masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap koperasi model
pemerintah pendudukan Jepang ini pun surut kembali. Dalam perkembangan
selanjutnya, pemerintah pendudukan Jepang menetapkan suatu kebijakan pemisahan
urusan pengkoperasian dengan urusan ekonomi. Akibatnya, pembinaan koperasi
sebagai alat perjuangan ekonomi masyarakat terabaikan sama sekali. Fungsi koperasi
dalam periode ini benar-benar hanya sebagai alat untuk mendistribusikan bahan-bahan
kebutuhan pokok untuk kepentingan perang Jepang, bukan untuk kepentingan rakyat
Indonesia. Kenyataan itu telah menyebabkan sangat melemahnya semangat berkoperasi
didalam masyarakat Indonesia.

2.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Koperasi pada Kurun Waktu


Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949)
Dalam suasana perang, sambil bertempur mempertahankn kemerdekaan,
pemerintah RI dapat membenahi diri sehingga seluruh tugas-tugas pemerintahan dapat
berjalan sebagaimana mestinya termasuk juga tugas-tugas yang diemban jawatan
koperasi. Keinginan dan semangat untuk berkoperasi yang semula hancur akibat
politik Devide et Impera (pecah belah) pada masa kolonial Belanda dan dilanjutkan
oleh sistem kumiai pada zaman penjajahan Jepang, mulai timbul kembali sejalan dan
sesemarak dengan bergeloranya semangat dan nilai-nilai perjuangan 45, rakyat bahu-
membahu dengan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi sehubungan
dengan tindakan-tindakan pengacauan pihak Belanda, yang dalam hal ini peranan
koperasilah yang menentukan. Mengenai peranan koperasi ini dituangkan secara jelas
di dalam pasal 33 UUD 1945 yang pada dasarnya menetapkan koperasi sebagai soko
guru perekonomian Indonesia.
Oleh karena itu agar pengembangan koperasi sejalan dengan dan memenuhi jiwa
pasal 33 UUD 45 tersebut, pada bulan desember 1946 oleh pemerintah RI telah

7
diadakan reorganisasi Jawatan Koperasi dan Perdagangan Dalam Negeri, yang sejak
saat tersebut instansi koperasi dan perdagangan di pisah menjadi instansi yang berdiri
sendiri-sendiri, yaitu jawatan koperasi dengan tugas-tugas mengurus dan menangani
pembinaan gerakan koperasi, dan jawatan perdagangan dengan tugas-tugas mengurus
dan menangani bimbingan perdagangan.
Perang sengit melawan kolonial yang berlangsung hingga tahun 1949
menyulitkan perkembangan gerakan koperasi. Tetapi ketika Belanda melakukan
blokade, yang menyebabkan banyak barang kebutuhan rakyat di daerah kekuasaan
pemerintah Republik Indonesia sangat sulit dicari dan terbatas, antusiasme berkoperasi
muncul kembali. Koperasi-koperasi kemudian mengambil peran sebagai distributor
barang-barang kebutuhan rakyat.
Dengan perkembangan terakhir ini banyak para pemimpin partai ingin secepatnya
mewujudkan kehendak pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga makin banyak
organisasi-organisasi, termasuk BTI dan PNI yang turut mendukung dan membentuk
koperasi.
Akhir tahun 1946 jumlah koperasi yang didirikan melonjak cepat. Di Pulau Jawa
saja tercatat ada 2500 perkumpulan koperasi yang diawasi pemerintah. Menjamurnya
koperasi ketika itu memancing kaum partai untuk memanfaatkan keberadaan mereka
demi tujuan partai. Dan banyak koperasi yang kemudiaan diperalat oleh para pimpinan
partai itu. Ini berarti secara sadar telah melanggar prinsip-prinsip berkoperasi.
Berbagai upaya dilakukan oleh para pemimpin gerakan koperasi untuk
meluruskan keadaan yang menyesatkan itu. Pada akhir tahun 1946 itu gerakan koperasi
Jawa Barat sepakat mengadakan konperensi. Pelaksanaan konperensi yang berlangsung
di Ciparay itu berhasil membentuk Pusat Koperasi Primer. Organisasi ini ditugaskan
untuk:
1. Mengkoordinir gerakan koperasi yang ada di seluruh Jawa Barat.
2. Mendorong terbentuknya koperasi-koperasi di seluruh Jawa Barat.
3. Secepat-cepatnya mendorong terselenggaranya Kongres Koperasi Seluruh
Indonesia.
Pergerakan koperasi di RI telah berhasil mewujudkan tiga kegiatan yang penting
yang selalu akan tercatat dalam sejarah peergerakan koperasi di Negara kita yaitu:
a. Koperasi desa
Di dalam koperasi ini para petani hendaknya bergabung agar tercapai peningkatan
pendapatan, dengan ini maka petani dapat memenuhi kebutuhannya, baik itu

8
untuk memproduksi maupun keperluan hidup sehingga tercapailah peningkatan
kesejahteraan hidupnya. Tugas koperasi desa tidak hanya pada satu bidang tetapi
juga meliputi meningkatkan produksi, membimbing pengelolaan hasil produksi,
pemasaran hasil produksi secara terpadu, mengusahakan kredit untuk
memperlancar usaha tani dan lain sebagainya.Pemula gagasan ini adalah Sir
Horace Plunkett (Inggris) yang berhasil dikembangkan di India. Beliau
berpendapat Dengan koperasi desa akan tercapai pertanian yang lebih baik,
usaha perdagangan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik (better
farming, better business and better living).
b. Koperasi adalah alat pembangunan ekonomiatas dasar keputusan Konperensi
Ciparay, Pusat Koperasi Priangan mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan
Kongres Koperasi Seluruh Indonesia.Pada tanggal 11 Juli sampai 14 juli 1947,
gerakan koperasi Indonesia dalam alam kemerdekaan telah menyelenggarakan
kongresnya yang pertama di Tasikmalaya. Gerakan koperasi Indonesia
merupakan alat perjuangan di bidang ekonomi dan pembangunan untuk mencapai
cita-cita kemerdekaan yaitu terbangunnya masyarakat yang adil dan makmur
yang menyeluruh. Keputusan-keputusan yang lainnya adalah:
Terwujudnya kesepakatan untuk mendirikan SOKRI (Sentral Organisasi
Koperasi Rakyat Indonesia)
Ditetapkannnya asas koperasi Indonesia berdasar atas kekeluargaan dan
gotong royong.
Ditetapkannnya tanggal 12 Juli sebagai hari koperasi Indonesia.
Diperluasnya pengertian dan pendidikan tentaang perkoperasian, agar para
anggotanya dapat lebih loyal terhadap koperasinya.
Akan tetapi, karena pada masa itu bangsa Indonesia masih disibukkan oleh
perjuangan mempertahankan kemerdekaannya, maka peranan SOKRI untuk
mempersatukan seluruh koperasi di tanah air belum dapat berjalan mulus.
c. Peraturan koperasi tahun 1949 nomor 179Pemerintah Republik Indonesia
meninjau kembali peraturan perkoperasian peninggalan kaum colonial yang tidak
cocok lagi dengan bangsa Indonesia. Termasuk diantaranya Undang-
undang/Peraturan Koperasi tahun 1927 No.91 dan menggantinya dengan
Peraturan Koperasi tahun 1949 No.179. Dalam peraturan koperasi ini jelas
dinyatakan bahwa koperasi merupakan perkumpulan orang-orang atau badan-

9
badan hukum Indonesia yang memberi kebebasan kepada setiap orang atas dasar
persamaan untuk menjadi anggota dan atau menyatakan berhenti, maksud utama
mereka dalam wadah koperasi ini yaitu memajukan tingkat kesejahteraan lahiriah
para anggotanya dengan melakukan usaha-usaha bersama di bidang perdagangan,
usaha kerajinan, pembelian/pengadaan barang-barang keperluaan anggota,
tanggung menanggung kerugian yang dideritanya, pemberian pinjaman,
pembenukan koperasi harus diperkuat dengan akta dan harus didaftarkan serta
diumumkan menurut cara-cara yang telah ditentukan pemerintah.

2.4 Pertumbuhan dan Perkembangan Koperasi pada Kurun Waktu (1950-1965)


Pada tanggal 17 Agustus 1950 Negara Republik Indonesia Serikat resmi
dibubarkan dan diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seiring dengan
disatukannya kembali Negara-negara bagian ke dalam wadah kesatuan RI, jawatan-
jawatan koperasi di Negara-negara bagian tersebut dibubarkan pula dan selanjutnya
digabungkan dalam satu bentuk organisasi jawatan koperasi yang bernaung dalam
Negara RI, segala sesuatunya diseragamkan dan disesuaikan dengan semangat dan
nilai-nilai perjuangan 1945, semangat Pancasila dan semangat UUD 1945.
Pada kurun waktu tesebut, sementara koperasi tengah mengadakan
penyempurnaan di dalam, situasi dalam negeri berubah di mana persatuan dan
kekeluargaan antara sesama rakyat Indonesia secara lambat tengah dibawa kearah
keretakan yang dikarenakan sistem liberalisme. Sistem ini sangat mengabaikan cara-
cara musyawarah dan mufakat, merusak terjalinnya persatuan antara sesama warga
Negara, liberalisme menimbulkan pengkotak-kotakan dalam masyarakat yang masing-
masing menggunakan cara mutlak-mutlakan dalam mewujudkan segala sesuatu yang
menjadi cita-citanya. Jadi liberalisme sangat bertentangan dengan gotong royong dan
kekeluargaan yang menjadi kepribadian bangsa kita.
Liberalisme, tekanan dan pengaruhnya terasa sekali terhadap perkeporasian,
antara lain:
Sering terjadi pergantian kabinet, dengan sendirinya garis kebijakan dan program-
program kementrian yang menangani urusan koperai pun selalu berubah-ubah.
Keanggotaan koperasi yang tidak mengenal perbedaan golongan, aliran, suku,
agama menjadi terpengaruh oleh tindakan para pemimpin gerakan-gerakan
politik.

10
Kemajuan-kemajuan yang dicapai koperasi dalam kurun waktu 1950-1958 yaitu:
kemajuan dalam bidang pendidikan koperasi (peningkatan refreshing courses bagi
para karyawan jawatan koperasi dan pergerakan koperasi, petugas-petugas
melakukan pendidikan di luar negeri) serta perkembangan fisik koperasi (baik
secara kuantitas dan kualitas).
Akibat liberalisme yang akarnya makin hari makin kuat, sehingga Presiden
Soekarno mengeluarkan dekrit (5 Juli 1959) untuk kembali ke Undang-Undang Dasar
1945. Ini mendapatkan sambutan yang hangat dari rakyat Indonesia karena sejalan
dengan kepribadian bangsa, yang mana Pancasila merupakan dasar dari segala
ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945. Musyawarah dan mufakat akan diutamakan
kembali sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terjamin degan baik. Tetapi sangat
disayangkan demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin yang seharusnya terpimpin
oleh Pancasila, pengertiannya berubahmenjadi terpimpin oleh garis-garis pemikiran
pribadi Bung Karno, yang mengakibatkan diktatorisme ataupun otokrasi.
Khusus bagi gerakan koperasi hal ini berarti penyelewengan yang jauh dari jiwa
koperasi, urusan intern perkumpulan koperasi semakin banyak dicampuri pemerintah,
kebebasan koperasi untuk mengambil keputusan menjadi sangat terbatas.
Kongres Koperasi II terdapat beberapa sebab yang mendorong diadakannya
Kongres Koperasi II, antara lain:
1. SOKRI yang merupakan hasil Kongres Koperasi I tidak mampu melaksanakan
fungsinya dengan baik. Sehingga tidak terwujud kesatuan pandangan tentang
bentuk organisasi, dasar atau tujuan koperasi.
2. Adanya anggapan oleh sementara kalangan gerakan koperasi bahwa peraturan
perkoperasian yang ada sudah tidak relevan lagi. Peraturan perkoperasian
dimaksud adalah Undang-undang No. 179/1949 yang dianggap tidak sesuai lagi
dengan alam kemerdekaan.
Oleh karena itu gerakan koperasi sepakat mengadakan Kongres Koperasi.
Pada tanggal 15 17 Juli 1953 terwujudlah pelaksanaan Kongres Besar Koperasi
Seluruh Indonesia II di Bandung. Kongres dihadiri sekitar 2000-an orang utusan
yang datang mewakili 83 pusat-pusat koperasi dari seluruh Indonesia. Akan tetapi
di antara utusan-utusan itu ada pula yang hanya mewakili organisasi koperasi
yang masih berbentuk panitia.

11
Di dalam kongres itu beberapa orang Pejabat Pemerintah dan para tokoh gerakan
koperasi turut aktif memberikan prasaran mereka, antara lain:
1. Prof. Dr. Sumitro Djojohardikusumo (Menteri Perekonomian) tentang Fungsi
Koperasi dalam proses pengembangan ekonomi
2. Iskandar Tejasukmana (Menteri Perburuhan) tentang Perumahan Rakyat
3. R. Moh. Abiyah Hadiwinoto (GKBI) tentang Undang-undang Koperasi.
4. Roesli Rahim (Kepala Koperasi Pusat) tentang Pendidikan dan Penerangan
Koperasi
5. R.S. Soeria Atmadja (Kepala Direktorat Perekonomian Rakyat) tentang
Perluasan Tugas

Gerakan Koperasi di Indonesia.Berdasarkan prasaran-prasaran tersebut di atas


serta pendapat para peserta Kongres, maka Kongres Besar Koperasi Seluruh Indonesia
ke II mengambil keputusan sebagai berikut:
1. Kedalam
a. Menyetujui pokok-pokok prasaran Prof. Dr. Sumitro, Iskandar
Tejasukmana, R. Moh. Abiyah Hadiwinoto, Roesli Rahim dan R.S. Soeria
Atmaja.
b. Mendirikan sebuah badan pemusatan pimpinan koperasi untuk seluruh
Indonesia yang dinamakan Dewan Koperasi Indonesia.
c. Mewajibkan Dewan Koperasi Indonesia membentuk sebuah lembaga
pendidikan koperasi untuk mendidik para anggota, pemimpin, pegawai
koperasi serta mendirikan sekolah menengah koperasi di tiap-tiap propinsi.
d. Mengeluarkan harian, majalah, brosur, buku pelajaran koperasi.
e. Membentuk sebuah panitia yang akan memberi saran-saran kepada
pemerintah mengenai Undang-undang Koperasi.
f. Mengusahakan kemudahan pemberian badan hukum.
g. Mengangkat Bung Hatta (Drs. H. Moh. Hatta) sebagai Bapak Koperasi
Indonesia.
h. Memilih Dewan Pimpinan Koperasi Republik Indonesia.
2. Keluar
1. Mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya:

12
- Melaksanakan perubahan dasar ekonomi dengan menggunakan koperasi
sebagai sistem dan alat utama untuk mencapai kemakmuran rakyat
bersama, sesuai dengan maksud pasal 38 UUD Sementara RI.
- Koperasi dijadikan mata pelajaran pada sekolah lanjutan, dan menanam
benih perkoperasian pada Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).
- Segera mengadakan undang-undang koperasi yang berdasarkan pasal 38
Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia.
- Menambah anggaran belanja negara bagi kemakmuran rakyat terutama di
luar Pulau Jawa/Madura.
- Menyempurnakan susunan Jawatan Koperasi.
- Rencana pembangunan rumah rakyat diundangkan serta menunjuk Gerakan
Koperasi sebagai penyelenggaraan pembangunan rumah-rumah rakyat.
- Penyelenggaraan pembelian padi hanya diserahkan kepada organisasi
koperasi.
2. Menganjurkan kepada guru-guru supaya di sekolahnya masing-masing
mendidik murid-murid menabung secara teratur.

Berikut adalahhal-hal yang berkaitan dengan perkembangan koperasi yaitu :


a. Peraturan Pemerintah (PP) no. 60 tahun1959.
Merupakan peraturan peralihan sebelum dicabutnya UU koperasi tahun 1958 no
79. untuk merumuskan pola perkoperasian sehubungan dengan PP no. 60 tahun
1959, yang menetapkan antara lain:
- Koperasi berfungsi sebagai alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin.
- Menjadikan Manipol sebagai landasan Idiil koperasi.
Maka pada tanggal 25-28 mei 1960 di Jakarta telah diadakan musyawarah kerja
koperasi yang telah diputuskan beberapa diktum yang berciri pada pola pikir
Bung Karno yaitu:
Menjadikan manipol USDEK sebagai landasan idiil koperasi,sehingga
segala tindakan koperasi mengikuti garis yang dikehendaki Bung Karno.
Pelaksanaan ekonomi terpimpin merupakan fungsi koperasi yang berarti
perkoperasian dikuasai secara ketat oleh pemerintahan.
b. Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1960
Sehubungan dengan instruksi Presiden ini, untuk mempercepat
perkembangan koperasi, telah dibentuk BAPENGKOP (Badan

13
Penggerak Koperasi) beranggotakan petugas pemerintahan.
Pemerintah menjadikannnya sebagai penyalur bahan-bahan pokok
dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar, akan tetapi hal
ini dapat mematikan inisiatif koperasi, juga tidak membawa perbaikan
terhadap mentalitas koperasi, dan dapat menimbulkan penyelewengan
penyelewengan dalam tubuh koperasi.
c. Instruksi presiden Nomor 3 tahun 1960
Satu-satunya yang benar-benarnya bermanfaat bagi perkembangan
koperasi pada masa itu ialah tentang peningkatan pendidikan
koperasi. Kegiatan ini dapat menciptakan insan-insan koperasi yang
bermental tinggi, jujur, terampil, giat dan bergairah kerja untuk
meningkatkan usaha koperasi.
d. Musyawarah nasional koperasi ke-1 (MUNASKOP I)
Dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 21 april 1961 dengan tujuan
untuk lebih menyempurnakan dan atau mensejalankan perkoperasian
nasional dengan garis-garis ekonomi terpimpinnya Bung Karno.
Adapun Munaskop dalam sidangnya kemudian menghasilkan
beberapa keputusan, antara lain meliputi:
Peranan Koperasi Indonesia
Organisasi gerakan serta program koperasi Indonesia
Dewan Koperasi Indonesia yang berdiri sejak tahun 1953
dibubarkan dan diganti dengan kesatuan Organisasi Koperasi
(KOKSI). Intervensi intensif pemerintah atas perkoperasian
nasional dapat dilihat melalui susunan organisasi KOKSI yang
diatur Keputusan Presiden No.226 Tahun 1961, yaitu:
a. Gubernur ditunjuk sebagai Ketua KOKSI Daerah Tingkat
I. Bupati/Walikota sebagai Ketua KOKSI Daerah Tingkat
II. Mereka ini bertanggung jawab terintegrasinya gerakan
koperasi nasional terhadap kebijakan pemerintah.
b. Pada tingkat pusat dibentuk Dewan Nasional dan
keanggotaan Dewan Pimpinan diatur sebagai gabungan
antara unsur-unsur pemerintah, tenaga-tenaga ahli,
gerakan koperasi dan wakil Daerah Tingkat I yang
diangkat pemerintah.

14
e. Musyawarah Nasional Koperasi ke-2 (MUNASKOP II)
Bertempat di Jakarta pada bulan Agustus 1965, ternyata
MUNASKOP II lebih menghancurkan ideologi koperasi Indonesia
yang murni. Bung Karno juga mensahkan UU koperasi nomor 14
tahun 1965 dengan pengertian koperasi merupakan organisasi
ekonomi dan alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat pesemaian
insan masyarakat serta wahana menuju sosialisasi Indonesia
berdasarkan Pancasila. Hal ini sangat membatasi gerak serta
pelaksanaan strategi dasar perekonomian.
Munaskop II ini dalam sidangnya mengesahkan sebuah kiputusan
yang cukup kontroversial, seperti adanya sebuah pernyataan tentang
Bung Karno yang ditetapkan sebagai Bapak Koperasi, Pimpinan
Tertinggi Gerakan Koperasi Indonesi, dan di samping itu beberapa
keputusan lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Haluan Gerakan Koperasi Indonesia, antara lain:
- Landasan idiil Pancasila
- Lima Azimat Revolusi Indonesia (Nasakom, Pancasila,
Manipol, Trisakti Tavip, Berdikari), Dekon dan
ketetapan-ketetapan MPRS
- Amanat dan tulisan PJM Presiden/BPR Bung Karno
2. Bidang produksi, antara lain:
- Peningkatan produksi dan mutu (menurut Manipol dan
Dekon): seluruh mata rantai produksi sudah
dikuasai/diatur oleh Koperasi Produksi sebagai organisasi
produsen di bawah pengawasan/bimbingan Pemerintah.
- Pembiayaan pada prinsipnya secara swadaya dan
swasembada, tapi jika perlu juga diperoleh dari
pemerintah dan swasta progresif revolusioner atas
petunjuk pejabat.
3. Bidang distribusi, antara lain:
- Soko guru revolusi (buruh, tani, nelayan, produsen)
- Angkatan Bersenjata/fungsional, pegawai negeri dan
pensiun

15
- Pegawai badan/lembaga kenegaraan dan perusahaan
negara
- Golongan ekonomi lemah lainnya
4. Organisasi, antara lain memuat:
- Penjenisan Koperasi Produksi, Koperasi Konsumsi dan
Koperasi Jasa.
- Daerah Kerja Jasa.
- Tingkat-tingkat Organisasi.
- Alat Perlengkapan Organisasi.
- Pembinaan Organisasi.
- Pendidikan
- Hubungan dengan Orpol/Ormas.
- Gerakan Koperasi Indonesia perlu segera dibentuk dengan
struktur, aktivitas dan pimpinan yang mencerminkan
kegotong-royongan nasional progresif revolusioner
berporoskan Nasakom.
- Pimpinan Gerakan Koperasi Indonesia.
- Lambang dan lagu akan segera disayembarakan.
5. Rencana kerja 4 tahun: dalam rencana kerja 4 tahun ini
mencakup realisasi Undang-undang Nomor.14/1965, pasal 24
ayat 1 mengenai Gerakan Koperasi Indonesia dan Pembubaran
KOKSI, inventarisasi peningkatan pembinaan perkumpulan
koperasi sesuai Undang-undang Nomor.14/1965, meningkatkan
jumlah kader koperasi, penyebaran idiologi koperasi melalui
mass media, mengadakan sensus koperasi dan
menyelenggarakan Konperensi Asia Afrika.

2.5 Perkembangan Koperasi pada Masa Pemerintahan Orde Baru dan Reformasi
2.5.1 Perkembangan Koperasi pada Masa Orde Baru
Untuk mengatasi situasi yang tidak menggembirakan tersebut, serta menyusul
jatuhnya pemerintahan Soekarno pada tahun 1966, Pemerintahan Orde Baru kemudian
memberlakukan UU No. 12/1967 sebagai pengganti UU No. 14/1965. Pemberlakuan
UU No.12/1967 ini disusul dengan dilakukannya rehabilitasi Koperasi. Akibatnya,
jumlah Koperasi yang pada tahun 1966 berjumlah sebanyak 73.406 buah, dengan

16
anggota sebanyak 11.775.930 orang, pada tahun 1967 merosot secara drastis. Koperasi-
koperasi yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan UU No. 12/1967, terpaksa
dibubarkan atau membubarkan diri. Jumlah Koperasi pada akhir tahun 1969 hanya
tinggal sekitar 13.949 buah, dengan jumlah anggota sebanyak 2.723.056 orang.
Tapi kemudian, menyusul diberlakukannya UU No. 12/1967, Koperasi mulai
berkembang kembali. Salah satu program pengembangan Koperasi yang cukup
menonjol pada masa kini adalah pembentukan Koperasi Unit Desa (KUD).
Pembentukan KUD ini merupakan penyatuan (amalgamasi) dari beberapa Koperasi
pertanian yang kecil dan banyak jumlahnya di pedesaan. Di samping itu, dalam periode
ini, pengembangan Koperasi juga diintegrasikan dengan pembangunan di bidang-
bidang lain. Menurut pasal. 3 UU No. 12/1967, koperasi Indonesia adalah organisasi
ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum
koperasi yang merupakan tata azas kekeluargaan. Penjelasan pasal tersebut menyatakan
bahwa koperasi Indonesia adalah kumpulan orang-orang yang sebagai manusia secara
bersamaan, bekerja untuk memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dan
kepentingan masyarakat.
Hasil yang dicapai dari kebijakan pengembangan Koperasi itu antara lain tampak
pada peningkatan jumlah Koperasi. Sebagai mana tampak pada tabel di bawah, bila
pada akhir Pelita I jumlah Koperasi tinggal sekitar 13.523 buah, maka pada akhir Pelita
III jumlah Koperasi telah meningkat kembali menjadi sekitar 24.791 buah. Sedangkan
pada akhir Pelita V yang lalu, jumlah Koperasi secara keseluruhan telah mencapai
sekitar 37.560 buah, atau meningkat sekitar 3 kali lipat dari keadaan akhir Pelita I.
Sejalan dengan peningkatan jumlah Koperasi tersebut, jumlah anggota, modal,
volume usaha, dan sisa hasil usaha Koperasi juga turut meningkat. Jumlah anggota
Koperasi misalnya, meningkat dari sekitar 2,5 juta orang pada akhir Pelita I, menjadi
sekitar 19 juta orang pada akhir Pelita V. Sedangkan volume usaha Koperasi, untuk
periode yang sama, meningkat dari sekitar Rp 88,5 miliar menjadi sekitar Rp 4,9 triliun.

17
No Uraian Satuan PELITA

I II III IV V
1 Kop & KUD Unit 13.523 17.625 24.791 35.512 37.560

2 Anggota Orang 2.478.960 7.615.000 8.507.321 15.823.450 19.167.776

3 Modal Rp jt. 38.817 102.197 480.147 583.511 727.943

4 Volume Usaha Rp jt. 88.401 421.981 1.490.112 4.260.190 4.918.474

5 SHU Rp jt. 2.656 9.859 22.000 86.443 120.376

Sumber : Departemen Koperasi, 1992

Terlepas dari perkembangan yang sepintas lalu tampak cukup menggembirakan


tersebut, betapa pun harus diakui bahwa perkembangan Koperasi selama Orde Baru
lebih menonjol segi kuantitatifnya. Sedangkan dari segi kualitatifnya masih terdapat
banyak kelemahan. Salah satu kelemahan yang sangat menonjol adalah mencoloknya
tingkat ketergantungan Koperasi terhadap fasilitas dan campur tangan pemerintah.
Bahkan, Koperasi kadang-kadang terkesan sekadar sebagai kepanjangan tangan
pemerintah dalam menjalankan program-programnya.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru untuk
meningkatkan kemandirian Koperasi adalah dengan mengganti UU Koperasi No.
12/1967 dengan UU Koperasi No. 25/1992.

2.5.2 Perkembangan Koperasi pada Masa Reformasi


Setelah pemerintahan Orde Baru tumbang dan digantikan oleh reformasi,
perkembangan koperasi mengalami peningkatan. Dalam era reformasi pemberdayaan
ekonomi rakyat kembali diupayakan melalui pemberian kesempatan yang lebih besar
bagi usaha kecil dan koperasi. Untuk tujuan tersebut seperti sudah ditetapkan melalui
GBHN Tahun 1999. Pesan yang tersirat di dalam GBHN Tahun 1999 tersebut bahwa
tugas dan misi koperasi dalam era reformasi sekarang ini, yakni koperasi harus mampu
berfungsi sebagai sarana pendukung pengembangan usaha kecil, sarana pengembangan
partisipasi masyarakat dalam pembangunan, serta sebagai sarana untuk pemecahan
ketidakselarasan di dalam masyarakat sebagai akibat dari ketidakmerataannya
pembagian pendapatan yang mungkin terjadi. Untuk mengetahui peran yang dapat

18
diharapkan dari koperasi dalam rangka penyembuhan perekonomian nasional kiranya
perlu diperhatikan bahwa disatu sisi koperasi telah diakui sebagai lembaga solusi dalam
rangka menangkal kesenjangan serta mewujudkan pemerataan, tetapi di sisi lain
kebijaksanaan makro ekonomi belum sepenuhnya disesuaikan dengan perubahan-
perubahan perekonomian dunia yang mengarah pada pasar bebas.
Pembangunan koperasi mengalami kemajuan yang cukup mengembirakan pada
periode 2000 2003, jika diukur dengan jumlah koperasi, jumlah anggota, aktiva dan
volume usaha. Pertumbuhan jumlah koperasi meningkat dari 103.077 unit pada tahun
2000 menjadi 123.162 unit pada tahun 2003, atau meningkat 19,49%. Jumlah koperasi
yang telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) mengalami peningkatan
seiring dengan pertumbuhan jumlah koperasi. Jumlah koperasi yang melaksanakan
RAT pada tahun 2000 sebanyak 36.283 unit meningkat menjadi 44.647 unit.
Jumlah anggota koperasi pada tahun 2003 sebanyak 27,28 juta orang, meningkat
4,42 juta atau 19,35% dari tahun 2000 sebanyak 22,85 juta orang. Periode pertambahan
jumlah anggota koperasi relatif besar terjadi pada periode 2002 2003 yang meningkat
lebih dari 3,279 juta orang. Hal ini diduga akibat meningkatnya kemampuan koperasi
memberikan layanan, terutama kegiatan simpan pinjam dengan efektifnya dana bergulir
untuk koperasi. Koperasi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 226.954 orang yang
terdiri dari 25.493 orang manajer dan 201.461 orang karyawan pada tahun 2003 atau
tumbuh 3,37% dari 219.559 orang pada tahun 2000.
Volume usaha koperasi pada tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 37,02%
menjadi Rp 31.682,95 miliar dari volume usaha koperasi pada tahun 2000 sebesar Rp
23.122,15 miliar. Volume usaha koperasi ini setara dengan 7% dari volume usaha
menengah di Indonesia. Modal sendiri koperasi mengalami peningkatan yang sangat
signifikan (38,12%) selama periode 2000 2003. Modal luar juga mengalami
peningkatan yang pesat sebesar 20,71% selama periode yang sama. Peningkatan modal
luar ini diduga sebagian berasal dari dana bergulir yang difasilitasi oleh pemerintah
(MAP, subsidi BBM dan lain-lain). Stimulan dana bergulir ini terbukti mampu
meningkatkan partisipasi anggota untuk bertransaksi dengan koperasi dan
meningkatkan partisipasi anggota dalam permodalan koperasi.
Pertumbuhan sisa hasil usaha koperasi sebesar 168,59% pada periode 2000
2003 menunjukkan angka yang mengembirakan, hal ini mengakibatkan profitabilitas
koperasi yang diukur dengan rasio profitabilitas modal sendiri meningkat dari 10,18%
menjadi 19,79% pada tahun 2003. Hal ini menunjukkan fasilitasi dan dukungan

19
pemerintah dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitasnya serta meningkatkan
layanan koperasi kepada anggotanya.
Selama periode 2000 2003, secara umum koperasi mengalami perkembangan
usaha dan kelembagaan yang mengairahkan. Namun demikian, koperasi masih
memiliki berbagai kendala untuk pengembangannya sebagai badan usaha, yaitu:
1. rendahnya partisipasi anggota yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai
perputaran koperasi per anggota yang kurang dari Rp.100.000,00 per bulan dan
rendahnya simpanan anggota yang kurang dari Rp.345.225,00,
2. efisiensi usaha yang relatif rendah yang ditunjukkan dengan tingkat perputaran
aktiva yang kurang dari 1,3 kali per tahun
3. rendahnya tingkat profitabilitas koperasi
4. citra masyarakat terhadap koperasi yang menganggap sebagai badan usaha kecil
dan terbatas, serta bergantung pada program pemerintah
5. kompetensi SDM koperasi yang relatif rendah
6. kurang optimalnya koperasi mewujudkan skala usaha yang ekonomis akibat
belum optimalnya kerjasama antar koperasi dan kerjasama koperasi dengan badan
usaha lainnya. Hal-hal di atas perlu memperoleh perhatian dalam pembangunan
usaha koperasi pada masa mendatang.
Pada tahun-tahun berikutnya jumlah koperasi di Indonesia terus mengalami
peningkatan. Data dari Kementrian Koperasi dan UMKM menyebutkan bahwa di tahun
2007 ada 149.943 unit koperasi dan koperasi aktifnya berjumlah 104.999 (70,02%).
Pada tahun ini, jumlah anggota yang tercatat masuk koperasi adalah 28.888.067 orang.
Namun di tahun 2008, jumlah anggota koperasi mengalami penurunan menjadi
27.318.619 orang. Adapun jumlah koperasi mengalami peningkatan sebanyak 3,45%
dari tahun sebelumnya menjadi 154.964 koperasi yang terdiri dari 108.930 koperasi
aktif dan 46.304 koperasi pasif.
Tahun 2009-2013 jumlah koperasi di Indonesia mengalami peningkatan yang
cukup pesat. Data sampai Juni 2013 menyebutkan jika jumlah koperasi saat ini
mencapai 200.808 buah dan memiliki anggota sebanyak 34.685.145 orang.

20
Tahun Jumlah koperasi Aktif Tidak aktif Jumlah anggota
2009 170.411 120.473 49.938 29.240.271
2010 177.482 124.855 52.627 30.461.121
2011 188.181 133.666 54.515 30.849.913
2012 194.295 139.321 54.974 33.869.439
2013 (s.d Juni) 200.808 142.387 58.421 34.685.145
Sumber: Kementrian Koperasi dan UMKM

Tabel diatas menunjukkan bahwa koperasi mengalami perkembangan. Akan


tetapi, peningkatan jumlah koperasi juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas
koperasi. Selain itu, peningkatan jumlah koperasi yang tidak aktif harus disikapi secara
bijaksana oleh Pemerintah. Upaya-upaya untuk mendorong perkembangan koperasi
harus terus dilakukan pemerintah agar koperasi dapat bersaing di era ini.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Kebiasaaan-kebiasaan yang telah mendarah daging pada para petani Indonesia
(gotong royong, kerja sama) merupakan dasar yang paling baik untuk berdirinya
dengan subur koperasi kredit yang menjadi cita-citanya.
3.1.2 Perjuangan pembentukan koperasi pada zaman penjajahan terdiri dari zaman
Belanda dan Jepang. R. Aria Wiraatmaja mempelopori berdirinya sebuah bank
yang bertujuan menolong para pegawai. Badan usahanya berbentuk Koperasi, dan
diberi nama Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Melalui Budi
Utomo (1908), Raden Sutomo berusaha mengembangkan Koperasi rumah tangga.
Tapi karena kesadaran masyarakat akan manfaat Koperasi masih sangat rendah,
usahanya ini kurang berhasil. Koperasi-koperasi rumah tangga ini pada umumnya
tidak mendapat dukungan yang diharapkan dari warga masyarakatnya. Serikat
Dagang Islam mempelopori pula pendirian beberapa jenis Koperasi industri kecil
dan kerajinan. Karena rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya penyuluhan
kepada masyarakat, dan miskinnya pemimpin Koperasi waktu itu, menyebabkan
Koperasi-koperasi ini pun tidak bisa bertahan lama.
Selama masa pendudukan Jepang, antara tahun 1942-1945, dan sesuai dengan sifat
kemiliteran pemerintah pendudukan Jepang, usaha-usaha koperasi di Indonesia
disesuaikan dengan asas-asas kemiliteran. Usaha koperasi di Indonesia dibatasi
hanya untuk kepentingsn perang Asia Timur Raya yang dikobarkan oleh Jepang.
Satu hal yang perlu dicatat, pada jaman Jepang ini dikembangkan suatu model
Koperasi yang terkenal dengan sebutan Kumiai. Pembentukan Kumiai
sebenarnya adalah untuk menyelewengkan asas-asas koperasi yang sebenarnya
untuk memenuhi kepentingan perang.
3.1.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Koperasi pada Kurun Waktu Mempertahankan
Kemerdekaan. Mengenai peranan koperasi ini dituangkan secara jelas di dalam
pasal 33 UUD 1945 yang pada dasarnya menetapkan koperasi sebagai soko guru
perekonomian Indonesia.
3.1.4 Pertumbuhan dan Perkembangan Koperasi pada Kurun Waktu (1950-1965).
Pengaruh liberalisme menyebabkan adanya tekanan dan pengaruh terhadap
perkeporasian, misalnya Keanggotaan koperasi yang tidak mengenal perbedaan

22
golongan, aliran, suku, agama menjadi terpengaruh oleh tindakan para pemimpin
gerakan-gerakan politik.
3.1.5 Perkembangan Koperasi pada Masa Orde Baru dan Reformasi. Pemerintahan
Orde Baru memberlakukan UU No. 12/1967 sebagai pengganti UU No. 14/1965.
Pemberlakuan UU No.12/1967 ini disusul dengan dilakukannya rehabilitasi
Koperasi. Salah satu program pengembangan Koperasi adalah pembentukan
Koperasi Unit Desa (KUD). Pembentukan KUD ini merupakan penyatuan
(amalgamasi) dari beberapa Koperasi pertanian yang kecil dan banyak jumlahnya
di pedesaan. Dalam era reformasi pemberdayaan ekonomi rakyat kembali
diupayakan melalui pemberian kesempatan yang lebih besar bagi usaha kecil dan
koperasi. Pesan yang tersirat di dalam GBHN Tahun 1999 tersebut bahwa tugas
dan misi koperasi dalam era reformasi sekarang ini, yakni koperasi harus mampu
berfungsi sebagai sarana pendukung pengembangan usaha kecil, sarana
pengembangan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, serta sebagai sarana
untuk pemecahan ketidakselarasan di dalam masyarakat sebagai akibat dari
ketidakmerataannya pembagian pendapatan yang mungkin terjadi.
3.2 Saran
3.2.1 Kepada masyarakat Indonesia agar ikut berpartisipasi dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satu caranya dengan menjadi anggota
koperasi.
3.2.2 Untuk pengusaha mikro, kecil, dan menengah agar ikut mengoptimalkan
koperasi di Indonesia agar nantinya tidak mengalami failed di periode-periode
berikutnya.
3.2.3 Mahasiswa agar mampu menerapan teori koperasi dengan mulai aktif mengikuti
unit kegiatan mahasiswa salah satunya koperasi mahasiswa.

23
DAFTAR PUSTAKA

Kusnadi, Hendar. 2005. Ekonomi Koperasi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
UI.
Baswir, Revrisond. 2000. Koperasi Indonesia. Yogyakarta. BPFE-Yogyakarta.
http://zetzu.blogspot.com/2010/10/sejarah-pertumbuhan-perkembangan.html (diakses tanggal
22 September 2014)
Baswir,Revrisond.2000.Koperasi Indonesia.Yogyakarta: BPFE (diakses tanggal 22
September 2014)
http://study-succes.blogspot.com/2013/11/contoh-makalah-perkembangan-koperasi-di.html
(diakses tanggal 22 September 2014)

24