Anda di halaman 1dari 16

BAHAN AJAR

EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Mengolah Hasil Tes

1. Skala Bebas

Penilaian skala bebas adalah penilaian yang menggunakan skala yang tidak tetap.
Adakalanya skor tertingginya 20, terkadang 25, dan di waktu lain 50. Ini semua tergantung pada
banyak dan bentuk soalnya. Jadi angka tertinggi dan skala yang digunakan tidak selalu sama.
Misal kan pada suatu ontoh Ani, seorang pelajar di suatu SMU, pada suatu hari berlari lari
kegirangan setelah menerima kembali kertas ulangan dari Guru Matematika. Pada sudut kertas
itu tertulis angka 10, yaitu angkayang diperoleh Ani dengan ulangan itu. Setekah tiba diluar
kelas, Ani berdiskusi dengan kawan kawannya. Ternyata cara mengerjakan dan pendapatnya
tidak sama dengan yang lain. Tetapi mereka juga tidak yakin mana yang betul. Oleh karena itu,
ketika kertas ulangan dikembalikan dan ia mendapat 10, ia kegirangan. Baru sampai bertemu
dengan 4 kawannya, wajahnya sudah menjadi malu tersipu sipu. Rupanya ia menyadari
kebodohannya karena setelah melihat angka yang diperoleh keempat orang kawannya, ternyata
kepunyaan Anil ah yang paling sedikit. Ada kawannya yang mendapat 15, 20 bahkan ada yang
25.Dan kata Guru, pekerjaan Tika yang mendapat angka 25 itulah yang betul. Dari gambaran ini
tampak bahwa dalam pikiran Ani, terpancang satu pengertian bahwa angka 10 adalah angka
tertinggi yang mungkin dicapai, ini memang lazim. Cara pemberian angka seperti ini tidak salah.
Hanya sayangnya, guru tersebut barangkali perlu menerangkan kepada para siswanya, cara mana
yang digunakan untuk memberikan angka atau skor. Ia baru pindah dari sekolah lain. Ia sudah
terbiasa menggunakan skala bebas, yaitu skala yang tidak tetap. Adakalanya skor tertinggi 20,
lain kali lagi 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi dan
skala yang digunakan tidak selalu sama.

2.A. Mengolah Skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan Mean dan Deviasi
Standar

Mencari M dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor menjadi nilai huruf dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyak nya skor yang diolah kurang dari 30, digunakan
data table distribusi frekuensi tunggal : dan jika banyaknya skor yang di olah lebih dari 30,
misalnya 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya digunakan table distribusi frekuensi bergolong.
Berikut ini sebuah contoh yang menggunakan table distribusi tunggal . Seorang guru
memperoleh skor mentah dari hasil tes yang telah diberikan kepada 20 orang siswa sebagai
berikut:
73 70 68 68 67 67 65 65 63 62
60 59 59 58 58 56 52 50 41 40
Skor mentah itu akan di olah menjadi nilai huruf A, B , C, D, TL/E dengan menggunakan mean
dan DS . Untuk itu kita memuat table sebagai berikut. Langkah- langkah menyusun tabel :

a. Masukkan nama siswa (kedalam kolom 1) dan skor masing-masing siswa (ke dalam
kolom 2), kemudian jumlahkan. Kita akan memperoleh x .
b. Hitunglah mean (M) dengan membagi jimlah skor itu x dengan N(banyaknya

mahasiswa yang di tes ) jadi rumus untuk mencari M adalah =

c. Isilah kolom 3 dengan selisih (deviasi) tiap tiap skor dari mean ( X M)
d. Isilah kolom 4 dengan mengkuadratkan angka angka dari kolom 3. Kemudian
jumlahkan sehingga kita peroleh ( )2
e. Langkah terakhir ialah menghitung mean dan DS dengan rumus-rumus sebagai berikut
()2 2
= = atau =

TABEL UNTUK MENGHITUNG MEAN DAN DS


NAMA SISWA Skor Mentah (X M) atau d ( ) atau d2
1 2 3 4
Amrin 73 13 169
Dahron 70 10 100
Mardi 68 8 64
Popon 68 8 64
Jamilah 67 7 49
Sarman 67 7 49
Marnah 65 5 25
Kamerun 65 5 25
Djufri 63 3 9
Rajiman 62 2 4
Jugil 60 0 0
Bonteng 59 -1 1
Pairah 59 -1 1
Gurita 58 -2 4
Marlopo 58 -2 4
Karmin 56 -4 16
Nirmala 52 -8 64
Brutal 50 -10 100
Nursam 41 -19 361
Ronald 40 -20 400
Jumlah - 1509

1201 ( )2

Dari tabel itu kemudian dicari mean dan DS dengan rumus sebagai berikut :
1201
= = = 60,05 dibulatkan 60
20
()2 1509
= = = 75,45 = 8,69
20
Penjabaran Menjadi Nilai Huruf

Dari perhitungan dalam tabel di atas kita telah memperoleh mean (M) = 60 dan DS = 8,69.
Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh itu ke dalam nilai huruf
melalui langkah- langkah sebagai berikut :

a. Pertama-tama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya dalam
penjabaran ini kita akan menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal , yaitu
antara -3 DS s.d. + 3 DS = 6DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah A B
C D TL yang berarti = 4 unit , dalam hal ini kita tentukan besarnya SUD = 6 DS : 4
= 1,5 DS. Jadi, SUD = 1,5 x 8,69 = 13,035, dibulatkan = 13
b. Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada
skala penilaian A - B - C - D - TL
Untuk jelasnya perhatikan Gambar berikut:

Jadi yang telah kita peroleh adalah : SUD = 13 dan titik tengah C = M = 60
b. Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah ( Lower Limit) dan batas atas (Upper
limit) dari masing masing nilai huruf.
- Karena titik tengah C = M = 60 maka
- Batas bawah C = M + 0,5 SUD = 60 0,5 x 13 = 53,5
- Batas atas C = M + 0,5 SUD = 60 + 0,5 x 13 = 66,5
- Batas bawah D = M 1,5 SUD = 60 1,5 x 13 = 34
- Skor di bawa 34 = TL
- Btas bawah B = M + 1,5 x SUD = 60 + 1,5 x 13 = 79, 5
- Skor di atas 79,5 = A
c. Berdasarkan perhitungan pada langkah c di atas , kita mentransfer skor skor mentah
dari 20 orang ke dalam nilai huruf sebagai berikut:
1) Skor 80 ke atas = A = tidak ada
2) Skor67 s.d. 79,5 = B = 6 orang
3) Skor 54 s.d. 66,5 = C = 10 orang
4) Skor 34 s.d. 53,5 = D = 4 orang
5) Skor di bawah 34 = TL = tidak ada

2.B. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean

Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean dan DS
yang diperoleh dengan membuat taber frekuensi . Untuk lebih jelasnya berikat akan di
kemukakan 1 contoh. Misalkan seorang dosen memperoleh skor dari hasil ujian semester dari
50 orang siswa sebagai berikut:

97 93 92 90 87 86 86 83 81 80
80 78 76 76 75 74 73 72 72 71
69 67 67 67 64 63 63 62 62 60
58 57 57 56 56 54 52 50 47 45
43 39 36 36 32 29 27 26 20 16

Skor mentah ini akan olah menjadi huruf A, B, C, D dan E / TL. Untuk mencari mean dan DS
kita susun skor mentah tersebut ke dalam table frekuensi. (Lihat kembali cara menyusun table
seperti yang telah di uraikan.) Kita cari du range untu menentukan besarnya interval.

Range = 97 16 = 81
R 81
Kelas interval = + 1= + 1 = 9 Jadi , dengan menentukan besarnya interval = 10, kita
10
peroleh kelas interval = 9

Kelas Interval f D d2 fd fd2


1 96 105 1 4 16 4 16
2 86 95 6 3 9 18 54
3 76 85 7 2 4 14 28
4 66 75 10 1 1 10 10
5 56 65 11 0 0 0 0
6 46 -55 4 -1 1 -4 4
7 36 -45 5 -2 4 -10 20
8 26 35 3 -3 9 -9 27
9 16 25 3 -4 16 -12 48
50 +11 207
(N) fd fd2

Dari table di atas kita cari mean dengan rumus

fd
M = M + i ( n
)

Keterangan :

M = mean sebenarnya yang akan di cari

M = mean dugaan dalam table itu


56+65 121
= = = 60,5
2 2

I = interval =10

fd = jumlah dari kolom fd = + 11

Dengan rumus tersebut di atas maka :


+10 110
Mean ( M ) = 60,5 + 10( 11 ) = 60,5 + 50

= 60,5 + 2,2 = 62,7 dibulatkan = 63

Cara mencari deviasi standar DS ialah dengan rumus :

2
fd2 fd2
DS = i ( )
N N

Dari tabel tersebut dapat di perhitungkan DS itu sebagai berikut


207 +11 2
DS = 10 ( )
50 50

= 104, ,14 0,48

= 103,66

= 10 x 1,9 = 19

Selanjutnya, jika kita akan mengubah skor mentah yang diperoleh dosen itu menjadi nilai
huruf A , B , C , D , E dengan batas lulus = mean. Caranya adalah sebagai berikut :

Telah ditentukan bahwa batas lulus = mean = 63. Jadi skor mentah dari 63 ke atas kita
bagi menjadi nilai huruf A , B , C , D, dan skor di bawah 63 dinyatakan E. perhatikan
gambar berikut:

1 2 3 0 +1 +2 +3

0,75 1,5 2,25

D C B A

Dengan melihat gambar ini agaknya dapat dipahami bahwa SUD = 0,75

DS = 0,75 x 19 = 14,25. Dengan demikian, untuk selanjutnya kita dapat nilai huruf itu
sebagai berikut :

- Batas bawah D atau batas lulus = mean = 63


- Skor di bawah 63 = TL
- Batas atas D = M + 1 SUD = M + 0,75 DS = 63 14,25 = 77 (dibulatkan )
- Batas atas C = M + 2 SUD = M + 1,5 DS = 63 + 28,5 = 92 (dibulatkan )
- Batas atas B = M + 3 SUD = M + 2,25 DS = 63 + 42,75 = 106 (dibulatkan)
- Skor di atas 106 = A
Dengan perhitungan tersebut maka hasil kelulusan dari 50 orang mahasiswa itu adalah sebagai
berikut :

Yang tidak lulus (TL), skor di bawah 63 = 23 orang

Yang mendapat nilai D = skor 63 77 = 15 orang

Yang mendapat nilai C = skor 78 92 = 15 orang

Yang mendapat nilai B = skor 93 106 = 15 orang

Yang mendapat nilai A = skor diatas 106 + tidak ada

JIka di bandingkan dengan cara penjabaran terdahulu , maka cara yang terakhir ini ternyata
lebih mahal. Dari 50 orang mahasiswa yang ujian ternyata sebanyak 23 orang tidak lulus (
hampir (50%). Akan tetapi jika cara yang terakhir ini kita bandingkan dengan pengubahan skor
mentah menjadi 1 -10 seperti yang akan di uraikan pada pasal berikut, ternyata cara ini masih
lebih mudah.

Jika skor mentah yang diperoleh 50 orang mahasiswa itu kita jabarkan menjadi nilai 1 10
dengan menggunakan mean dan DS aktual dengan batas lulus M + 0,25 DS = 63 + 4,75 = 68 (di
bulatkan ) , maka yang dapat di nyatakan lulus = 21 orang, dan yang tidak lulus = 29 orang.

2.C. Mengolah Skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean ideal dan
DS ideal

Berikut ini akan di uraikan bagaimana mengolah skor mentah menjadi nilai huruf A, B, C,
D, dan TL dengan menggunakan mean ideal dan DS ideal . Dibandingkan dengan cara seperti
telah di uraikan pada pasal B dimuka cara berikut lebih mudah karena tidak perlu menyusun
tabel distribusi frekuensi.

Jika skor maksimum ideal dari tes yang diberikan kepada 50 orang mahasiswa tersebut
120 maka mean ideal x 120 skor maksimum ideal = x 120 = 60 , dan DS idal dari tes
tersebut = 1/3 x 60 = 20

Dengan cara menjabarkan yang telah di uraikan pada pasal B , yakni dengan ketentuan
batas lulus = mean ,dengan demikian 1 SUD = 0,75 DS, kita peroleh perhitungan sebagai
berikut:

- Batas bawah D atau batas lulus =mean = 60


- Skor di bawah 60 = TL
- Batas atas D = M + 1 SUD = M + 0,75 DS = 60 + 0,75 x20 = 60 +15 =75
- Batas atas C = M + 2 SUD = M + 1, 5 DS = 60 + 1, 5 x20 = 60 +30 =90
- Batas atas B = M + 3 SUD = M + 2,25 DS = 60 + 2,25 x20 = 60 +45 =105
- Skor di atas 105 = A
Dengan perhitungan tersebut maka hasil kelulusan dari 50 orang mahasiswa itu adalah sebagai
berikut:

Yang tidak lulus (TL) , skor di bawah 60 = 20 orang

Yang mendapat nilai D , skor 60-75 = 16 orang

Yang mendapat nilai C , skor 76-90 = 11 orang

Yang mendapat nilai B , skor 91-105 = 3 orang

Yang mendapat nilai A , skor di atas 105 = tidak ada

3. MENGOLAH SKOR MENTAH MENJADI NILAI 1 10

Umpamakan seorang guru memperoleh skor mentah dari hasil ulangan matematika di
kelas III SMP yang berjumlah 50 orang siswa sebagai berikut :

16 64 87 36 65 42 43 54 47 51
77 55 68 42 40 47 42 46 45 50
20 57 28 7 44 51 40 39 39 57
28 39 21 48 46 37 41 43 49 71
29 44 34 50 45 35 44 52 56 45

Untuk mengolah skor mentah di atas menjadi nilai 1 10, kita perlu mencari mean ( angka
rata- rata ) dan DS. Untuk itu skor mentah tersebut kita susun kedalam table distribusi
frekuensi. Langkah langkah menyusun table frekuensi adalah sebagai berikut :

1. Kita tentukan dulu banyaknya kelas interval dengan jalan


a) Mencari range ( R ), dengan mengurangi skor maksimum dengan skor minimum (
range = selisih antara skor maksimum dan skor minimum )
b) Bagilah range kedalam interval interval yang sama sedemikian rupa sehingga
jumlah kelas interval antara 6 -15 atau 11 -19.

Rumus untuk mencari kelas interval


+ 1

c) Cara lain untuk mencari besarnya kelas interval dapat juga menggunakan rumus
sturges sebagai berikut

K = 1 + 3,3 Log n
K = banyak kelas yang ingin di capai atau dicari.
1 = merupakan bilangan tetap
n : banyaknya skor ( jumlah siswa yang di tes )

2. Mengisi kolom 2 ( kolom interval) di dalam table yang telah tersedia , mulailah dari skor
minimum brturut turut dengan interval yang telah di temukan dan sejumlah kelas
yang telah di tentukan pada langkah pertama .
3. Memuat tally pada kolom 3 (menabulasi tiap tiap skor kedalam kelasnya
4. Mengisi angka jumlah tally kedalam kolom 4 ( lajur frekuensi = f)
5. Menentukan deviasi pada jalur d dengan meletakkan mean dugaan( M ) dengan
angka nol pada kelas tertentu. Untuk menduga letak nol tersebut dapat kita pilih kelas
yang mengandung frekuensi yang paling tinggi. Selanjutnya kita letakkan angka angka
deviasi itu dari nol ke atas dank e bawah. Angka angka di atas nol kita beri tanda (
plus )+ dan angka angka di bawah nol diberi tanda ( minus )
6. Mengisi lajur fd dengan mengalikan angka angka pada lajur f dan d. kemudian
hasilnya dijumlahkan pada bagian bawah dari table ( = fd ) . sampai dengan kolom 6 ini
(lajur fd) kia telah dapat menghitung besarnya mean yang sebenarnya dari table
tersebut . Akan tetapi , karena kita masih memerlukan mencari DS ( deviasi standar ), kita
perlu menambah satu kolom lagi untuk mencari fd2 .
7. Mengisi lajur fd2 , kemudian di jumlahkan pula pada bagian bawah dari table sehingga
kita peroleh fd2 yang di perlukan dalam rumus untuk mencari DS.

Demikianlah seterusnya , kita dapat menambah kolom atau lajur yang di perlukan sesuai
dengan perhitungan statistics manakah yang hendak kita cari . Dari skor mentah hasil ulangan
matematika itu kita dapat menyusun table distribusi frekuensi sebagai berikut :

Skor maksimum = 87

Skor Minimum =7

Range = 87 -7 = 80

Banyaknya kelas interval


R 80
+1= + 1 = 11
8

Jadi interval I =8 kelas interval = 11

Tabel Distribusi Frekuensi


Kelas Interval F D d2 fd fd2
1 87 - 94 1 6 36 6 36
2 79 - 86 0 5 25 0 0
3 71 - 78 2 4 16 8 32
4 63 - 70 3 3 9 9 27
5 55 - 62 4 2 4 8 16
6 47 - 54 11 1 1 11 11
7 39 - 46 18 0 0 0 0
8 31 - 38 4 -1 1 -4 4
9 23 -30 3 -2 4 -6 12
10 15 - 22 3 -3 9 -9 27
11 7- 14 1 -4 16 -4 16

N= fd fd2
50 + 19 181

Sekarang kita cari angka rata-rata mean dari table di atas


fd
Rumus mean M = M + i ( ) Dengan melihat table distribusi frekuensi maka :
N

+19
M = 42,5 + 8 ( ) = 42,5 + 3,04 = 45,54
50

Mean dugaan (M ) sebesar 42,5 adalah nilai titik tengah dari kelas interval 39 46 , yaitu
kelas interval yang kita duga tempat letaknya mean. Cara menghitung :

39 + 46 85
M = = = 42,5
2 2
Dari table itu juga kita sekarang mencari DS rumusnya :

2
fd2 fd
DS = i ( )
N N

Dengan menggunakan rumus tersebut maka :

181 19 2
DS = 8 ( )
50 50

= 83,62 0,1444

= 3,5756
= 8 x 1,89 = 15,12 dibulatkan = 15

Setelah kita temukan besarnya mean dan DS, ( mean = 45,54 dan DS = 15 ), langkah selanjutnya
ialah menjabarkan skor mentah yang kita peroleh dari ulangan matematika ke dalam nilai 1
10 dengan menggunakan rumus penjabaran sebagai berikut :

Rumus Penjabaran
M + 2,25 DS = 10
M + 1,75 DS = 9
M + 1,25 DS = 8
M + 0,75 DS = 7
M + 0,25 DS = 6
M - 0,25 DS = 5
M - 0,75 DS = 4
M - 1,25 DS = 3
M - 1,75 DS = 2
M - 2,25 DS = 1

Hasil perhitungan

45,54 + (2,25 x 15 ) = 79,29 di bulatkan 79 skor 79 ke atas = 10

45,54 + (1,75 x 15 ) = 71,79 di bulatkan 72 skor 72 s.d 78 = 9

45,54 + (1,25 x 15 ) = 64,29 di bulatkan 64 skor 64 s.d 71= 8

45,54 + (0,75 x 15 ) = 56,79 di bulatkan 57 skor 57 s.d 63= 7

45,54 + (0,25 x 15 ) = 49,29 di bulatkan 49 skor 49 s.d 56= 6

45,54 - (0,25 x 15 ) = 41,79 di bulatkan 42 skor 42 s.d 48 = 5

45,54 - (0,75 x 15 ) = 34,29 di bulatkan 34 skor 34 s.d 41= 4

45,54 - (1,25 x 15 ) = 26,79 di bulatkan 27 skor 27 s.d 33= 3

45,54 - (1,75 x 15 ) = 19,29 di bulatkan 19 skor 19 s.d 26= 2

45,54 - (2,25 x 15 ) = 11,79 di bulatkan 12 skor 12 s.d 18= 1

Dengan pedoman penjabaran tersebut di atas, sekarang guru tinggal mentransfer atau mengubah
skor mentah yang di peroleh setiap siswa kedalam nilai 1 10 . Dengan penjabaran secara
statistik, dengan membuat table distribusi frekuensi menggunakan mean dan DS aktual, yaitu
mean dan DS yang di peroleh dari perhitungan skor mentah yang benar benar dicapai oleh
kelompok siswa yang di te seperti tersebut di atas , bagaimana pun hasil tes kita peroleh akan
menghasilkan nilai diantara 1 10 atau 0 10. Degan kata lain, akan selalu terdapat anak
yang memperoleh nilai tinggi dan nilai yang terendah karena dalam penyusunan table yang
menjadi dasar perhitungan menggunakan skor maksimum dan skor minimum yang benar-benar
dicapai oleh kelompok siswa yang di tes. Dengan demikian , nilai-nilai yang diperoleh siswa
masing-masing menunjukkan status kepandaian siswa tersebut dibandingkan dengan teman-
teman yang lain di dalam kelompok itu.

Kebaikan system penskoran seperti ini ialah bahwa nilai-nilai yang diperoleh system
tersebut belum mencerminkan sampai dimana pencapaian scope bahan pelajaran yang
diteskan. Oleh karena itu untuk mengurangi kelemahan ini kita juga melakukan system
penskoran tersebut dengan mean ideal dan DS ideal.

Caranya adalah sebagai berikut :

Misalkan tes yang digunakan untuk ulangan matematika yang telah kita bicarakan di muka,
memiliki skor maksimum ideal = 100

skor maksimum ideal 100


ideal = =
2 2
ideal 50
DS ideal = = = 16,6
3 3
Dengan menggunakan rumus penjabaran seperti yang dibicarakan , maka:

50 + (2,25 x 16,6 ) = 87,35 di bulatkan = 87 - 10

50 + (1,75 x 16,6 ) = 79,05 di bulatkan = 79 - 9

50 + (1,25 x 16,6 ) = 70,75 di bulatkan = 71 - 8

50 + (0,75 x 16,6 ) = 62,45 di bulatkan = 62 - 7

50 + (0,25 x 16,6 ) = 54,15 di bulatkan = 54 - 6

50 - (0,25 x 16,6 ) = 45,85 di bulatkan = 46 - 5

50 - (0,75 x 16,6 ) = 37,55 di bulatkan = 38- 4

50 - (1,25 x 16,6 ) = 29,25 di bulatkan = 29 - 3

50 - (1,75 x 16,6 ) = 20,95 di bulatkan = 21 - 2

50 - (2,25 x 16,6 ) = 12,65 di bulatkan = 13 - 1


Dengan menggunakan mean ideal dan DS ideal seperti di atas , ternyata hasilnya berlainan.
Siswa yang mendapat nilai 10 adalah siswa yang memperoleh skor mentah 87 ke atas , dan
bukan 79 ke atas seperti hasil perhitungan menggunakan mean dan DS aktual. Juga mendapat
nilai 6 adalah siswa yang memperoleh skor mentah 54 s.d. 61, dan bukan 49 s.d. 56 seperti
perhitungan yang lalu.

Perobahan skor mentah menjadi nilai 1 10 dengan menggunakan mean ideal dan DS
ideal lebih mudah dan praktis karena kita tidak perlu menyusun table distribusi frekuensi.
Untuk menghitung mean ideal dan DS ideal, kita hanya memerlukan skor maksimum ideal
dari tes yang kita laksanakan. Yang dimaksud dengan skor maksimum ideal ialah skor tertinggi
yang seharusnya dicapai jika tes tersebut dikerjakan dengan betul semua. Dengan demikian
besarnya skor maksimum pada jumlah item dab pembobotan ( weighting) dalam tes yang di
pergunakan.

4. Distribusi Nilai

Distribusi nilai yang dimiliki oleh siswa dalam suatu kelas didasarkan pada dua macam
standart, yaitu:

- Standar Mutlak
- Standar Relatif

4.A. Standar Nilai Berdasarkan Standar Mutlak

dengan dasar bahwa hasil belajar siswa dibandingkan dengan standar mutlak atau skor tertinggi
yang diharapkan, maka tingkat penguasaan siswa akan terlihat dalam berbagai bentuk kurva.
Apabila soal-soal yang dibuat oleh guru sangat mudah, maka sebagian besar siswa akan dapat
berhasil mengerjakan soal-soal tersebut dengan hasil pencapaian yang tinggi. Sebagian besar
siswa akan akan memiliki nilai sekitar 8, 9 dan 10 apabila telah diubah ke skala 10. Sebaliknya
apabila soal-soal yang diberikan terbilang sukar, maka pencapaian siswa akan sebaliknya.
Sebagian besar siswa akan memiliki nilai 3, 4, dan bahkan mungkin 2 atau 1. Hanya beberapa
orang siswa yang istimewa saja yang akan memiliki nilai 6, dan mungkin tidak akan ada yang
dapat mencapai nilai 7 ke atas. Namun demikian, dengan standar mutlak ini mungkin pula
diperoleh kurva normal jika soal-soal yang disusun oleh guru dapat dengan tepat sesuai dengan
kemampuan siswa-siswanya di kelas.

Di bawah ini adalah gambaran kurva tentang kemungkinan prestasi siswa berdasarkan standart
mutlak.

1 10 1 10

Gambaran prestasi siswa jika soal-soal yang Gambaran prestasi siswa jika soal-soal
disusun oleh guru sangat mudah. Di sebut yang disusun oleh guru sukar. Di sebut
kurva juling negatif karena ekornya di kiri kurva juling positif karena ekornya di
kanan

Apabila guru dapat menysun soal-soal dengan tepat, dan keadaan siswanya bukan dengan
kemampuan terpilih, maka akan ada sebagian kecil siswanya yang memperoleh nilai rendah dan
sebagian kecil lagi memperoleh nilai tinggi sedangkan sisanya berada pada posisi nilai sedang.
Jika hasil ulangan tersebut digambarkan pada kurva, maka akan terlihat sebagai kurva normal
sebagai berikut.

34% 34%
14%
14%
2% 2%

Untuk melihat penyebaran atau distribusi nilai-nilai siswa dalam satu kelas, terlebih dahulu nilai-
nilai yang diperoleh dari ulangan disusun urut dari yang paling tinggi ke yang paling rendah
kemudian skor tersebut dihitung jumlahnya untuk masing-masing skor baru kemudian dibuat
grafik batangan berdasasrkan data tersebut. (lihat hal. 247)

4.B. Distribusi Nilai Berdasarkan Standar Relatif

dalam hal ini tanpa menghiraukan apakah distribusi nilai-nilai terletak pada kurva juling positif
atau kurva juling negatif, dalam standar relatif selalu tergambar kurva normal. Hal ini didasarkan
pada asumsi bahwa apabila distribusi nilai-nilai tergambar dalam kurva juling positif maka yang
kurang sempurna adalah soal-soalnya, yaitu terlalu sukar. Dengan demikian nilai-nilai siswa
direntangkan sedemikian rupa sehingga tersebar dari nilai tinggi ke nilai rendah., dengan
sebagian besarnya terletak pada nilai sedang. Demikian pula apabila nilai-nilai terdistribusi pada
kurva juling negatif, dalam ubahan menjadi nilai, disebar sedemikian rupa sehingga menhadi
kurva normal, dengan nilai sedang adalah nilai yang paling banyak. (kurva dapat dilihat pada hal.
248)

5. Standar Nilai

Dari distribusi nilai, kita dapat membicarakan standar nilai.

5.A. Stanines

Dalam pendistribusian nilai Gronlund pberpendapat bahwa skor-skor siswa direntangkan


menjadi 9 nilai (disebut juga standar nines atau stanines) seperti berikut.

Stanines Interpretasi
9 4% Tinggi 4%
8 7% Di atas rata-rata 19%
7 12%
6 17% Rata-rata 54%
5 20%
4 17%
3 12% Di bawah rata-rata 19%
2 7%
1 4% Rendah 4%

Dengan adanya presentse inilah maka semua skor siswa akan direntangkan dari 1-9.

5.B. Standar eleven (Stanel)

Ada lagi standar nilai yang lain, yaitu yang selanjutnya dikembangkan oleh fakultas ilmu
pendidikan UGM disesuaikan dengan sistem penilaian di Indonesia.

Dengan stanel ini, sistem penilaian membagi skala menjadi 11 golongan, yaitu angka 0, 1, 2, 3,
4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, yang satu sama lain berjarak sama. Tiap-tiap angka menempati interval
sebesar 0,55 SD, bertitik tolak dari mean=5 yang menempati jarak antara -0,275 SD sampai
+0,275 SD. Selurh jarak yang digunakan adalah dari -3,025 SD sampai +3,025 SD.

Bilangan-bilangan persentil untuk menentukan titik dalam stanel ini adalah P1, P3, P8, P21, P39,
P61, P79, P92, P97, dan P99. Untuk menentukan P1 dan sterusnya dapat dilihat dalam buku
statistik.

Dasar pikiran untuk stanel ini adalah bahwa jarak praktis dalam kurva normal adalah 6 SD yang
terbagi atas 11 skala.

11 skala = 6 SD

1 skala = 6/11 SD= 0,55 SD

5.C. Standar Sepuluh

Di dalam buku pedoman penilaian (buku III B seri kurikulum SMA tahun 1975) ditentukan
bahwa untuk mengolah hasil tes, digunakan standar relatif, dengan nilai berskala 1-10. Untuk
mengubah skor menjadi nilai, diperlukan dahulu :

a) mean (rata-rata skor)

b) deviasi standar (simpangan baku)


c) tabel konvensi angka ke dalam nilai berskala 1-10

tahap-tahap yang dilalui dalam mengubah skor mentah menjadi nilai berskala 1-10 adalah
sebagai berikut :

- Menyusun distibusi frekunsi dari angka-angka atau skor-skor mentah.


- Menghitung rata-rata skor (mean)
- Menghitung deviasi standar atau standar deviasi
- Mentraformasi (mengubah) angka-angka mentah ke dalam nilai berskala 1-10

5.D. Standar lima

Kembali kepada Grondlund selain ia mengemukakan penyebaran nilai dengan angka, ia juga
mengemukakan penyebaran nilai dengan huruf yang digambarkan dengan kurva normal yang
dapat dilihat pada halaman 256.

Catatan:

1. gronlund tidak menggunakan huruf E tapi menggunakan huruf F yang berarti gagal (Fail)

2. selanjutnya dikatakan oleh Gronlund, rentangan presentase ini hanya berlaku bagi populasi
yang sangat heterogen. Apabila populasi yang telah terseleksi akibat kenaikan kelas atau ke
tingkat sekolah yang lebih tinggi, maka golongan F yang ada diekor kiri akan berkurang
sehingga distribusi tersebut menjadi :

A : 10-20%

B : 20-30%

C : 40-50%

D : 10-20%

F : 0-10%.

Daftar Pustaka

https://sumberbagi.wordpress.com/2013/02/26/cara-mengolah-skor-atau-nilai-dan-mencari-
nilai-akhir/

Ngalim Purwanto. 2009. Prinsip-prinsip dan Teknik Pengajaran , Bandung: Rosda Karya.