Anda di halaman 1dari 15

Buying On Margin dan Short Selling

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Manajemen Investasi
Drs. Topowijono, MSi

Oleh :

Andre Rhonaldo 145030200111004


Avit Ichsan Pratama 145030201111079
Mohamad Faathir Al Hakim 145030200111084
Stevan Evirrio 145030201111085
Deasy Kharissa 145030201111092

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS


JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
April 2017
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Buying On Margin dan Short Selling dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Investasi yang dibimbing oleh Bapak Drs.
Topowijono, MSi,
Penulis menyadari bahwa makalah ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan,
serta motivasi dari berbagai pihak. Atas bantuan dan motivasi yang telah diberikan penulis
menyampaikan rasa terima kasih.
Bila ada kekurangan dalam penulisan makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca demi kesempurnaan penyusunan makalah kedepannya. Terakhir, semoga
makalah ini dapat memberi manfaat kepada para pembaca.

Malang, 04 April 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya globalisasi dunia pasar modal yang diikuti dengan
makin bertambahnya produk-produk baru yang ditawarkan oleh lembaga perbankan dan
keuangan lainnya muncul bisnis baru yang disebut margin trading dan short selling.
Bisnis ini kemudian menjadi salah satu lahan usaha bank bank investasi dan lembaga
keuangan lainnya yang mempunyai izin untuk itu. Bahkan belakangan menjadi pilihan
investasi yang menguntungkan oleh kalangan pengusaha khususnya yang menggeluti
bidang keuangan. Margin trading merupakan suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan
efek kepada nasabahnya berupa fasilitas pinjaman dana, sehingga nasabah hanya perlu
membayar sejumlah persentase tertentu dari harga efek yang dibeli. Nasabah diwajibkan
membayar bunga kepada perusahaan efek atas dana pinjaman tersebut. Semakin
longgarnya perusahaan efek dalam memberikan fasilitas margin trading kepada nasabah
merupakan salah satu pemicu semakin bersemangatnya transaksi saham di bursa.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian Buying on margin dan Short Selling?
2. Adakah contoh perhitungan Buying on margin dan Short Selling?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan mengenai Buying on margin dan Short
Selling.
2. Untuk memberikan penjelasan dan contoh mengenai perhitungan pada Buying on
margin dan Short Selling.
BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Buying on Margin and Short Selling

Buying on margin adalah contoh penggunaan leverage untuk memaksimalkan


keuntungan anda saat harga naik. Leverage hanya menggunakan uang yang dipinjam untuk
meningkatkan laba. Jenis leverage yang besar di suatu pasar akan menguntungkan, tetapi
sebaliknya, akan berdampak negatif di pasar dengan kondisi pasar yang kurang baik.

Margin on Trading

Menurut Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. Kep-258/BL/2008, margin trading


diartikan sebagai:
1. Transaksi pembelian efek untuk kepentingan nasabah yang dibiayai oleh perusahaan.
Transaksi marjin merupakan fasilitas yang diberikan perusahaan efek kepada investor
dengan memberikan pinjaman berupa uang. Namun pinjaman uang ini tidak harus
dikembalikan secara terjadwal, sebagaimana pinjaman dari bank.
2. Investor baru mengembalikan bila berhasil menjual saham yang dibelinya dengan
harga yang lebih tinggi dari harga beli sehingga investor memperoleh keuntungan dari
selisih jual beli tersebut.
3. Sebagai imbalan fasilitas yang disediakan perusahaan efek, investor harus membayar
bunga pinjaman dan fee. Bunga pinjaman dan fee tersebut telah disepakati oleh
investor dan sekuritas melalui perjanjian pembiayaan dan penyelesaian transaksi efek.

Dalam margin trading dikenal beberapa pihak yang dapat memberikan pinjaman atau
jaminan atas transaksi yang dilakukan oleh investor:
1. Pinjaman yang dilakukan oleh pihak ketiga, dalam hal ini bank.
2. Pinjaman yang diberikan oleh perusahaan efek atau perusahaan dimana investor
melakukan pinjaman saham.
Kedua nya tidak terdapat perbedaan mekanisme transaksi hanya jenis pinjaman nya yang
berbeda.
Dan menurut pengertian lain margin trading adalah strategi membeli sekuritas dengan
sebagian memakai dana pinjaman. Dengan demikian investor mengurangi penggunaan equity
dalam suatu investasi dan karena itu dapat memperbesar hasil.
Istilah margin menyangkut jumlah equity atau pinjaman dalam suatu investasi. Jika
investor menggunakan 75% margin, berarti 75% dari investasi dibelanjai dengan equity
sedang sisanya 25% dengan dana pinjaman. M.T (margin trading) biasanya memberikan
peningkatan hasil, walau juga mengandung risiko tinggi. Salah satu risiko adalah apabila
saham yang bersangkutan tidak menguntungkan seperti yang diharapkan (harga turun). Jika
ini terjadi, MT berapapun tidak bisa menyelamatkan, karena MT hanya bisa memperbesar
(margin) hasil dan bukan membuat (produce) hasil.

Contoh :
Dana Rp 5 juta akan di investasikan dengan membeli 100 saham @ Rp 500/lbr. Karena
diprediksi harga saham tersebut akan naik. Jika dilakukan MT 50% akan diperoleh saham
100 saham hanya dengan Rp 2,5 juta dari dana sendiri, sisanya Rp 2,5 juta dapat digunakan
untuk membeli lagi 100 saham perusahaan yang sama atau investasi lain.
Keduanya akan memberi laba yang lebih besar dari kenaikan harga saham.

Dampak Margin Trading pada hasil Saham :


Tanpa MT Dengan Margin Trading
100 equity 80% 65% 50%
Jumlah saham 100 100 100 100
Rp 50 dibeli
Pengeluaran 5.000 5.000 5.000 5.000
investasi (Rp)
- Dana Pinjaman 0 1.000 1.750 2.500
Equity dalam 5.000 4.000 3.250 2.500
investasi
A. Posisi Investor jika :

harga naik Rp 80/saham


- Nilai saham 8.000 8.000 8.000 8.000

- Pengeluaran 5.000 5.000 5.000 5.000


investasi

Capital gain 3.000 3.000 3.000 3.000

Hasil equity 60% 75% 92,3% 120%


investor (capital
gain/equity)

B. Posisi Investor jika :


harga turun Rp 20/saham
- Nilai saham 2.000 2.000 2.000 2.000
- Pengeluaran 5.000 5.000 5.000 5.000
investasi
Capital loss 3.000 3.000 3.000 3.000
Hasil equity (60%) (75%) (92,3%) (120%)
investor(capital
loss/equity)

Dari tabel diatas, ternyata MT mengandung 3 fase, yaitu :


1. Harga saham akan berubah naik atau turun, apapun posisi pembiayaannya
2. Makin rendah jumlah equity investor, makin besar tingkat hasil yang diperoleh
investor jika harga saham naik
3. Risiko kerugian juga makin besar (dengan tingkat yang sama) jika harga saham turun

Dalam MT, besarnya pengembangan hasil tergantung dari perilaku harga saham yang
diperdagangkan dan besarnya margin yang digunakan. Makin kecil margin dan makin besar
perubahan harga saham, makin besar hasil investor.
Untuk melakukan MT diperlukan pinjaman yang disebut Margin Loan yang dikenakan
suku bunga tertentu tergantung pasar. Dalam transaksi margin dibentuk margin account pada
kantor broker atau di bank. Account dibuka dengan dana minimum berupa equity dalam
bentuk uang tunai atau saham. Apabila transaksi margin dilakukan maka terjadi hal-hal sbb. :
a. Investor mengambil margin loan yg dibebani bunga
b. Broker menahan saham yang dibeli sebagai jaminan
c. Margin loan dapat diperoleh dari broker atau bank (melalui broker)
d. Investor dikenai komisi dan pajak transfer
Persyaratan Margin
1. Bank Sentral biasanya menetapkan Persyaratan Margin (Margin Requirement=M/R)
berupa jumlah equity minimum untuk transaksi margin.
2. Investor dapat melakukan transaksi melebihi equity minimum; misal minimum M/R
untuk saham 50%, tetapi investor dapat membeli saham dengan mempergunakan
margin 75%.
3. Brokerhouse dan bursa dapat menetapkan M/R yang lebih ketat dari pada B.I, untuk
membatasi ekses trading dan perlindungan kredit bagi broker.
4. M/R terdiri dari 2 jenis utama, yaitu :
1. Margin Awal (initial margin)
2. Margin Pemeliharaan (maintenance margin)

Perhitungan Margin Trading


Perhitungan hasil dari margin dilakukan dengan menggunakan 2 rumus, yaitu:

1. Rumus Margin Dasar

Besarnya margin dalam suatu transaksi selalu diukur relatif terhadap jumlah equity.
Diperlukan 2 informasi untuk menyelesaikan rumus ini, yaitu :
a. Nilai pasar dari sekuritas yang di margin
b. Jumlah uang yang dipinjam atau margin loan, yang disebut Saldo Debet (debt
balance).
Persamaan rumus margin :

Margin (%) = Nilai Sekuritas - Saldo Debet


Nilai Sekuritas = (S-D):S

Contoh :
Investor hendak membeli 100 saham @ Rp 4.000 per saham dengan menggunakan 70%
margin yang berarti dana bersumber dari : 70% equity dan 30% margin loan.
Investor akan pinjam 30% x Rp 400.000 = Rp 120.000 yang merupakan saldo debet dan
sisanya Rp 400.000 - 120.000 = Rp 280.000 merupakan equity dari investor
a. Tingkat margin :
Margin (%) = ( S - D ) : S
= (Rp 400.000 - 120.000) : 400.000
= 70%
b. Jika harga saham naik menjadi Rp 6.500 :
Margin (%) = ( S - D ) : S
= (Rp 650.000 - 120.000) : 650.000
= 81,5%
c. Jika harga saham turun menjadi Rp 3.000 :
Margin (%) = ( S - D ) : S
= (Rp 300.000 - 120.000) : 300.000
= 60%
Dalam hal ini terjadi restricted/pengketatan account, karena tingkat margin turun dibawah
initial margin yang berlaku.

2. Rumus Hasil Modal yang Ditanam

Margin Trading biasanya menyangkut periode investasi pendek (kurang dari setahun).
Investor menggunakan sebagian dana sendiri, sisanya memakai dana pinjaman. Oleh karena
itu, dalam menilai hasilnya, perhitungan tingkat laba hanya menyangkut bagian dana milik
investor sendiri (equity). Dengan menggunakan dana dari hasil berjalan (dividen) atau bunga,
maupun bunga atas margin loan, diperoleh hasil modal yang ditanam (return on invested
capital = ROIC) sbb. :

Return on Invested Capital /ROIC = (a -b)+(p-q):r


dimana :
a = Penghasilan berjalan yang diterima
b = Pembayaran bunga atas margin loan
p = Nilai pasar sekuritas pada penjualan
q = Nilai pasar sekuritas pada pembelian
r = Jumlah modal sendiri yang diinvestasikan
Contoh :
Investor akan membeli 100 saham @ Rp 5.000 persaham, karena diprediksi 6 bulan
mendatang harga saham akan naik menjadi Rp 7.500 persaham
Saham ini memberi dividen Rp 200 per saham (dengan holding period 6 bulan, investor
hanya menerima dividen Rp 100 /saham)
Investor membeli saham dengan 50% margin dan membayar bunga 10% untuk margin
loan. Jadi investor akan menaruh equity Rp 500.000 dengan harapan nilainya naik
menjadi Rp 750.000 dalam 6 bulan.
Karena investor menggunakan margin loan 50% = Rp 250.000 dengan bunga 10%
selama 6 bulan , maka beban bunga investor adalah Rp 250.000 x 10% x 6/12 = Rp
12.500

ROIC yang diharapkan = (Rp 10.000 - 12.500) + Rp 750.000 - 500.000)


250.000
= Rp 247.500 / 250.000 x 100%
= 99 %
ROIC sebesar 99% tersebut diperoleh selama holding period 6 bulan. Jika ingin
dibandingkan dengan alternatif investasi, maka harus dihitung tahunan, sehingga menjadi
99% x 2 = 198 %

Penggunaan Margin Trading


Margin Trading dapat digunakan dalam berbagai cara, terutama :
1. Memperbesar Hasil Transaksi
2. Laba Piramidasi
3. Memperbesar Penghasilan Berjalan

1. Memperbesar Hasil Transaksi


Investor yang akan meningkatkan capital gain dari suatu transaksi mendapatkan
sekuritas yang memberikan harapan kenaikan harga, lalu melakukan margin pada atau diatas
tingkat initial margin untuk memaksimalkan sumber investasinya sejauh mungkin.
Contoh :
Investor yang memiliki modal Rp 4.000 dan Initial M/R saham 50%, menemukan saham
dengan harga Rp 20 persaham, tetapi diyakini akan naik menjadi Rp 30 dalam 6 bulan.
Investor memutuskan untuk melakukan Margin Trading sampai batas initial margin. Investor
dapat meminjam Rp 4.000 lagi untuk menambah jumlah investasinya menjadi Rp 8.000.

2. Laba Piramidasi
Bila Investor tetap menahan sekuritas yang harganya naik, akan diperoleh apa yang
disebut laba diatas kertas (paper profit) artinya investor telah mendapatkan laba dari
transaksinya, tetapi belum menjual sekuritas yang bersangkutan. Piramidasi (pyramiding)
menggunakan paper profit dalam margin account untuk sebagain atau sepenuhnya
membelanjai pembelian tambahan sekuritas. Paper profit tersebut telah menimbulkan
kelebihan margin, yang berarti terdapat lebih banyak equity dalam margin account.
Contoh :
Suatu margin account memuat sekuritas seharga Rp 60.000 dan saldo kredit Rp 20.000
sehingga berada pada tingkat margin 66 2/3%. Jika M/R hanya 50% maka account tsb.
mengandung kelebihan margin. Dengan piramidasi, kelebihan margin ini digunakan untuk
membeli tambahan sekuritas sedemikian rupa asalkan margin account tetap sama atau diatas
M/R.

3. Memperbesar Penghasilan Berjalan


Teknik ini paling jarang digunakan dalam margin trading dan bisa dilakukan bila
biaya bunga margin loan relatif rendah dan bila penghasilan berjalan berupa dividen atau
bunga cukup tinggi.
Contoh :
Investor yang memiliki equity Rp 2.000 bisa menggunakan margin 50%, sehingga dapat
meminjam Rp 2.000 agar dapat membeli 100 saham @ Rp 40 persaham. Bunga margin loan
6% dan dividen tahunan sebesar Rp 3,20 persaham.

SHORT SELLING

Pengertian
Short Selling merupakan teknik menjual sekuritas atau property yang dipinjam. Short
Selling dimulai bila sekuritas yang telah dipinjam dari suatu broker dijual di pasar kemudian
bila harganya turun, penjual membeli kembali sekutitas tersebut yang lalu dikembalikan
kepada pemberi pinjaman (lender). Dalam hal ini pemberi pinjaman sekuritas harus
mendapatkan perlindungan sepenuhnya.

Mekanisme Short Selling


100 saham dijual @ Rp 5.000 persaham
Hasil penjualan bagi investor.... Rp 500.000
Kemudian, 100 saham dibeli @ Rp 3.000 per saham
Biaya bagi investor .. Rp 300.000 -
Laba Bersih ........................................................................Rp 200.000
Jika seorang investor menemukan saham yang diprediksi akan turun harganya maka
hal itu merupakan alasan untuk melakakukan short Selling.

Manfaat dari Short Selling adalah :


Peluang untuk mengubah penurunan harga sekuritas menjadi suatu keuntungan

Kerugian Short Selling :


Merupakan transaksi dengan risiko yang cukup tinggi, karena penurunan harga suatu
sekuritas hanya dapat terjadi sejauh tertentu (paling tidak sama atau hampir sama nol)
Dilain pihak kenaikan harganya tidak terbatas (jika harga sekuritas naik, short selling
rugi)
Short Selling tidak pernah memperoleh dividen (karena jangka waktunya cukup
pendek) Namun jika dividen dibayarkan dalam periode transaksi short Sell, maka short
Seller harus menyerahkannya kepada pemberi pinjaman saham (lender)

Peminjaman Sekuritas:
Sekuritas untuk short selling bisa dipinjam dari broker atau investor individual
lainnya. Broker meminjamkan sekuritas yang dipegang dalam portofolionya atau dikenal
dengan sebagai Street Name Account (akun nama jalan). Street Name Account adalah
sekuritas yang dipegang oleh broker untuk pelanggannya. Saham dikeluarkan atas nama
kantor broker tetapi dipegang untuk kepentingan (in trust) account dari kliennya. Broker
meminjamkan sekuritas untuk transaksi short sale sebagai pelayanan kepada kliennya;
sedangkan individu meminjamkan sekuritas karena mendapatkan pinjaman tanpa bunga.
Tetapi individu yang meminjamkan hanya mereka yang memegang sekuritas atas namanya
sendiri. Bila transaksi short sale dilakukan, pemberi pinjaman (lender) berhak menerima
pinjaman tanpa bunga sebesar nilai kolateral/ jaminan dari sekuritas yang digunakan dalam
short sale. Nilai kolateral ini merupakan jumlah uang yang dapat dipinjam dalam margin
trading.
Contoh :
Bila Margin Requirement /MR 60% nilai koletral akan berjumlah 40% yang merupakan
pinjaman maksimum dalam transaksi margin. Jadi bila seseorang meminjamkan sekuritas
bernilai Rp 10 juta dan M/R yang berlaku 60%, maka ia dapat menerima pinjaman tanpa
bunga 40% x Rp 10 juta = Rp 6 juta. Pinjaman tanpa bunga tersebut merupakan windfall,
karena dapat diinvestasikan untuk memperoleh keuntungan dan biasanya dalam bentuk
tabungan, karena tidak ada kepastian kapan short seller akan membeli kembali sekuritas dan
menarik pinjamannya
Misal:
Jika short Sale tersebut diatas berlaku selama 9 bulan dan bunga tabungan 8%/tahun maka
investor dapt memperoleh tambahan penghasilan Rp 10 juta x 8% x 9/12 = Rp 240.000

Perlindungan bagi Lender :


Lender, yaitu pihak yang memberi pinjaman sekuritas dalam transaksi short sell
praktis tetap memiliki seluruh manfaat dan hak kepemilikan sekuritas (kecuali hak
suara/voting right) selama short sell, yaitu :
Pembayaran dividen
Hak atas saham pre emptive, jika dikeluarkan
Saham split atau saham dividen , jika dikeluarkan

Hak-hak tersebut tidak diterima langsung dari perusahaan yang menerbitkan sekuritas,
tetapi melalui short seller. Broker yang akan menjamin dipenuhinya kewajiban oleh short
seller. Oleh karena itu dalam transaksi short sell diperlukan margin deposit yang dipegang
oleh broker untuk kepentingan dan perlindungan lender. Dalam short sell, hasil penjualan
sekuritas, bersama dengan margin deposit milik short seller dipegang oleh broker. Broker
membentuk dua account, yaitu satu untuk short seller, lainnya untuk lender. Proses
bekerjanya account ini disebut mark-to-the-mark sbb. :
Jika harga saham naik, account short seller turun dan dananya ditransfer ke account
lender. Sedang jika harga saham turun, terjadi sebaliknya.
Pinjaman tanpa bunga dan dividen juga langsung didebitir pada account short .seller
dan dikreditir pada account lender.
Bila transaksi short sale berakhir, dana dalam account lender dipakai untuk membeli
saham (saat itu lender diberitahu untuk segera mengembalikan pinjaman tanpa bunga
yang belum kembali pada account).
Posisi short sell ditutup bila saham dikembalikan kepada lender.
Dana dalam account short seller setelah dikurangi komisi serta biaya transaksi, tinggal
margin deposit dan laba dari transaksi untuk dikembalikan kepada short seller.

Penggunaan Short Selling.


Investor melakukan short sell untuk salah satu dari dua alasan :
a. Mencari laba spekulatif bila harga suatu sekuritas diharapkan turun, atau
b. Melindungi laba dan menangguhkan pajak dengan memagari (hedgimg) posisinya.
Semua short sell dilakukan atas margin, yaitu besarnya penggunaan modal sendiri (equity
deposit) yang harus dilakukan investor untuk dapat memulai transaksi, karena adanya M/R .
Dalam short sale tidak diperlukan dana pinjaman , sehingga tidak ada pembayaran bunga

1. Margin dalam Short Sale :


Margin dalam short sale dihitung dengan rumus :

Margin (%) = (Hasil Penjualan + Equity deposit) Nilai Sekuritas


Nilai Sekuritas

Contoh :
Investor ingin melakukan short sale atas 100 saham @ Rp 60 dengan menggunakan margin
yang berlaku 70%.
Dalam hal ini :
- Nilai Saham (NS) dan Hasil Penjualan (HP) : 100 x Rp 60 = Rp 6.000
- Equity Deposit (ED) : 70% x Rp 6.000 = Rp 4.200
Jika harga saham naik menjadi Rp 70, maka :
Margin (%) = (Rp 6.000 + 4.200 -7.000 ) : 7.000 = 46%

Nilai HP dan ED tetap yaitu Rp 6.000 dan Rp 4.200 tetapi nilai kolateral berubah naik
menjadi Rp 7.000. Oleh karena harga saham naik, besarnya margin turun, sebab investor
menderita kerugian yang mengakibatkan nilai equity turun. Karena besarnya margin (46%)
turun dibawah M/R (70%) investor menghadapi restricted account.
Jika harga saham turun menjadi Rp 50, maka :
Margin (%) = (Rp 6.000 + 4.200 -5.000 ) : 5.000 = 104%
Investor memperoleh kelebihan equity yang dapat digunakan untuk piramidasi.

2. Hasil atas Modal yang Ditanam :


Dalam short Sale tidak ada dana yang dipinjam dan tidak ada bunga yang harus dibayar,
sehingga hasil yang diperoleh berasal dari equity deposit. Hanya saja short seller harus
membayar dividen kepada lender yang akibatnya mengurangi laba .
Rumus hasil atas modal yang ditanam (return on invested capital) sebagai berikut :
ROIC = ( HP BP D) : ED
Dimana :
- HP = Hasil Penjualan
- BP = Biaya Pembelian Sekuritas
- D = Dividen yang dibayar short seller
Contoh :
Seorang investor ingin menggunakan 70% margin untuk short sale saham seharga Rp 60
yang diprediksi akan turun menjadi Rp 40 dalam waktu 6 bulan. Perusahaan membayar
dividen Rp 2 per-saham seta - hun atau Rp 1 per-saham untuk 6 bulan
Perhitungan hasil persaham menghasilkan :
ROIC = Rp 60 Rp 40 (6/12 x Rp 2) : (70% x Rp 60)
= Rp 19 /42 x 100% = 45%
Hasil perhitungan ini tidak akan berubah, berapun jumlah saham dalam transkasi ini

3. Spekulasi :
Karena short seller bertaruh terhadap perilaku pasar , maka short selling merupakan teknik
spekulasi yang tinggi dan menghadapi risiko yang cukup besar.
Contoh :
Seorang investor telah menemukan suatu saham yang diprediksi akan merosot harganya dari
Rp 50 menjadi Rp 30 dalam waktu 8 bulan mendatang. Ia memutuskan untuk melakukan
short selling 300 saham dengan menggunakan margin 50% Spekulasi dengan short Sale :
Short sale awal : 300 saham dijual @ Rp 50 Rp 15.000
Short sale tutup : 300 saham diobeli @ Rp 30 Rp 9.000
Laba bersih .. Rp 6.000
Equity deposit 50% x Rp 15.000 Rp 7.500
ROIC : Rp 15.000 9.000 : 7.500 = 80%
Apabila harga saham memang turun menjadi Rp 30 investor akan memperoleh ROIC sebesar
80% . Tetapi jika ternyata harga saham naik, maka seluruh atau sebagian besar investasinya
Rp 7.500 akan habis.
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/43267/Chapter%20II.pdf;jsessionid=7
1A881A71E395D63D924DD33544950B2?sequence=3 (diakses pada tanggal 4 April 2017
pukul 10:20)
http://hidupquhariini.blogspot.co.id/2011/04/buying-on-margin.html (diaksws pada tanggal 4
April 2017 pukul 17:12)

Beri Nilai