Anda di halaman 1dari 7

Penentuan Jumlah Persediaan : STOCHASTIC Model

STOCHASTIC MODELS

Model pengendalian probabilistik digunakan apabila salah satu dari


permintaan, lead time atau keduanya tidak dapat diketahui dengan pasti. Model
pengendalian ini memiliki struktur matematika yang cukup kompleks. Suatu hal yang
harus diperhatikan dalam model ini adalah adanya kemungkinan stock out yang timbul
karena pemakaian persediaan bahan baku yang tidak diharapkan atau karena waktu
penerimaan yang lebih lama dari lead time yang diharapkan.

Untuk menghindaristock out perlu diadakan suatu fungsi persediaan pengaman


yaitu suatu persediaan tambahan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan
terjadinya stock out.

Model-model yang dibahas sebelumnya semuanya merupakan model-model


deterministik (yaitu , semua parameter dinggap telah diketahui dengan pasti).dalam
kenyatannya, adalah sering terjadi parameter-parameter tersebut merupakan nilai-nilai
yang tidak pasti, satu atau lebih parameter-parameter berikut ini dapat merupakan
variabel-variabel acak:
1) Permintaan tahunan (D)
2) Permintaan Harian (d)
3) Lead time (L)
4) Biaya penyimpanan (H)
5) Biaya pemesanan (S)
6) Biaya kehabisan persediaan atau chortage (Stock Out) Cost (B)
7) Harga (C)

1. The Newsboy Problem

Permasalahan Newsboy ( The Newsboy Problem) adalah Salah metode klasik Metode
yang digunakan untuk pengendalian persedian probalistik.

Permasalahan item tunggal Newsboy adalah menetukan kuantitas item yang dapat
diperoleh dalam satu periode.

Biaya pembelian C/unit, pendapatan penjualan R/unit, periode demand D merupakan


variable random kontinu (r,v) dengan fungsi density g (.) dan distribusi kumulatif G(.) di
akhir periode, unit yang tersisa menimbulkan biaya kelebihan H/unit.
Jika persediaan tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan selam periode tersebut,
S/unit sebagai biaya kekurangan.
Kebanyakan penelitian dalam kasus newsboy mempertimbangkan optimalisasi hanya
dengan performance pengukuran tunggal.

Bagaimanapun optimalisasi dengan pengukuran tunggal belum tentu merupakan solusi


tepat untuk beberapa kasus yang alin. Oleh karena itu digunakan lebih dari satu
performance pengukuran.

Pertimbangan penggunaan dual performance measures untuk menentukan kuantitas


pemesanan optimal yang dapat memaksimalkan keuntungan berdasarkan batasan
dengan probabilitas untuk mencapi tingkat keuntungan yang ditargetkan tidak kurang
dari tingkat resiko awal.

Selanjutnya juga dipertimbangkan dua kasus diskon, yaitu all-unit diskon dan incremental
diskon.

Model All Unit Diskon dengan Biaya Kekurangan (S>0)


Untuk kuantitas pemesanan Q, jika A adalah penjualan actual, maka A = min {Q,D}.

Selama demand D merupakan variable random, A juga variable random. Keuntungan


stokastik untuk kasus S>0 adalah
Z(Q,D)= (R+H+S)A-S D- (C+H)Q

Umumnya permasalahan utama newsboy adalah menetukan kuantitas pemesanan


optimal yang dapat memaksimalkan ekspektasi keuntungan. Dalam kasus ini kuantitas
pemesanan optimal Q*adalah
Q*= G-1{(r-C+s)/(r+h+s)}

untuk demand berditribusi discrete uniform, kuantitas pemesanan optimal menjadi :

Q*= G-1(U)
Q*= L+[(U-L+1)u]
Q*= L+[(U-L+1){(R-C+S)/(R+H+S)}]

L = min xk
U = max xk

Dimana:
L= kuantitas penjualan minimum
U=kuatitas penjualan maksimum
2. Single-period stochastic demand

Model kebijakan ini hampir sama dengan kebijakancontinous review , perbedaannya


dalam kebijakan ini, pengambilan persediaan dilakukan hanya sekali (pengurangan
persediaan terjadi hanya sekali), dan ketika tingkat persediaan mencapai reorder level,
maka dilakukan pemesanan sebesar Q.

Dalam kebijakan ini, variabel Q dan r yang harus ditentukan untuk mencapai total biaya
persediaan minimal.

Model kebijakan ini khususnya diterapkan pada dua jenis permintaan berikut:
Permintaan item pada interval jarang
Jenis permintaan ini untuk item yang mengikuti model yang cepat
berubah, kebutuhan komponen yang jarang rusak serta suku cadang item
tertentu untuk perawatan dan perbaikan.

Permintaan tidak pasti untuk item yang berumur pendek pada


interval yang sering

Permintaan seperti ini terutama untuk item-item yang cepat kadaluarsa


(Koran, mjalah mingguan, kartu natal)

Item dengan pemesanan tunggal memeiliki pola permintaan dengan


periode penjualan (pemakaian) terbatas. Item tersebut dipesan (baik dari
supplier luar atau produksi sendiri) pada awal periode, dan tidak ada
kesempatan untuk pemesanan kedua selama periode tersebut. Jika
permintaan periode tersebut lebih besar dari jumlah yang telah
dipesankan, maka akan kehilangan keuntungan.

3. ROP atau Reorder Point

Sebelum menetukan reorder point nya akan dibahas terlebih dahulu tentang
ketidakpastian bahan baku yang kemungkinan akan dihadapi perusahaan. Ketidakpastian
ini timbul karena segala sesuatu yang telah direncanakan perusahaan tidak berjalan
sesuai dengan kenyataan. Secara umum ketidakpastian ini akan dipisahkan menjadi dua
macam : (Marwan Asri, 1981)

a. Ketidakpastian yang berasal dari dalam perusahaan


Ketidakpastian timbul akibat dari penyerapan bahan baku yang tidak sama
dengan perencanaan pemakaian bahan baku yang telah disusun sebelumnya.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab keadaan tersebut antara lain karena
adanya gangguan teknis dalam pelaksanaan proses produksi, adanya pesanan
kilat, kerja lembur, tidak dipenuhinya standar kualitas bahan baku dan
sebagainya.

b. Ketidakpastian yang berasal dari luar perusahaan

Ketidakpastian ini timbul akibat faktor-faktor dari luar perusahaan.

Dalam melakukan pembelian (pemesanan) bahan baku, ada kalanya bahan


yang dipesan tersebut akan datang lebih cepat atau lambat dari waktu yang
telah disepakati bersama. Keduanya akan mendatangkan akibat yang tidak
menguntungkan bagi perusahaan.

Untuk mengatasi ketidakpastian bahan baku dari luar perusahaan harus dicari
titik pemesanan kembali yang paling optimal (reorder point = ROP). Namun
sebelumnya harus dicari terlebih dahulu waktu tunggu (lead time)yang tepat
untuk bahan baku tersebut.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan reorder point adalah:


a. Penggunaan meterial selama tenggang waktu mendapatkan barang yaitu waktu
dimana meliputi dimulainya usaha-usaha untuk memesan barang atau meterial
tersebut diterima dan ditempatkan dalam gudang.
b. Besarnya safety stock yaitu jumlah persediaan pengaman yang harus ada untuk
menjamin kelangsungan proses produksi.

Cara menentukan reorder point antara lain dengan :


a. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan
persentase tertentu.
b. Dengan menetapkan penggunaan selama lead time dan ditambah dengan safety
stock.

4. Kebijakan Periodic Review (Sistem P)

Kebijakan ini bisa di sebut juga Sistem pengendalian dengan sistem P .

Dalam kebijakan ini, tingkat persediaan dipantau secara berkala atau berdasarkan
interval waktu tertentu (T) dan jarak antar dua pesanan adalah tetap. Apabila dalam akhir
periode T, tingkat persediaan masih sangat tinggi, melebihi ekspektasi tingkat
pemesanan, maka tidak ada tindakan yang diambil. Sebaliknya, apabila tingkat
persediaan pada akhir periode T sama dengan atau kurang dari ekspektasi tingkat
pemesanan, maka akan dilakukan pemesanan sampai maksimum tingkat persediaan yang
diijinkan.

Dengan kata lain, setiap kali pesan jumlah yang dipesan sangat bergantung pada sisa
persediaan pada saat periode pemesanan tercapai; sehingga setiap kali pemesanan
dilakukan, ukuran lot pesanan tidak sama.

Permasalahan dalam kebijakan ini adalah terdapat kemungkinan persediaan sudah habis
sebelum periode pemesanan kembali belum tercapai. Akibatnya,safety stock yang
diperlukan relatif lebih besar. Safety stock dalam system atau kebijakan ini tidak hanya
dibutuhkan untuk meredam fluktuasi permintaan selamalead time, tetapi juga untuk
seluruh konsumsi persediaan.

Kebijakan ini relatif tidak memerlukan proses administrasi yang banyak, karena periode
pemesanan sudah dilakukan secara periodik. Untuk memudahkan implementasinya,
digunakan visual review systemdengan metode yang disebut One Bin System:
Dibuat Bin yang berisikan jumlah inventorymaksimum.
Setiap kali periode pemesanan sampai tinggal dilihat berapa stock tersisa
dan pemesanan dilakukan untuk mengisi Bin penuh.

5. Kebijakan Continues Review (Sistem Q)

Dalam kebijakan ini, tingkat persediaan dipantau secara terus-menerus dan pemesanan
dilakukan pada sembarang waktu asalkan jumlah persediaan telah mencapai titik
pemesanan (reorder point).

Perbedaan kebijakan ini dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya adalah pada akhir


periode T, order mungkin dilakukan, tetapi mungkin juga tidak dilakukan, tergantung dari
tingkat persediaannya.

Dapat disimpulkan, bahwa kabijakan ini tidak tergantung pada panjang periode yang
digunakan, tetapi tergantung pada tingkat persediaan yang terjadi.

Kebijakan ini memecahkan persoalan persediaan probabilistik dengan memandang


bahwa posisi barang yang tersedia di gudang sama dengan posisi persediaan barang pada
sistem determistik dengan menambahkan cadangan pengaman (Safety Stock).

Pada prinsipnya sistem ini adalah hampir sama dengan model inventory probabilistik
sederhana kecuali pada tingkat pelayanannya.

Kalau pada model inventoryprobabilistik sederhana tingkat pelayanan ditetapkan


sedangkan dalam Sistem Q tingkat pelayanan akan dicari optimalisasinya.
Pada kebijakan ini setiap kali pemesanan dilakukan dalam jumlah lot pesanan yang sama
(karena itu disebut metode Q). Untuk memudahkan implementasinya, sering
digunakan visual review system dengan metode yang disebut Two Bin System:

Dibuat dua bin (tempat) penyimpanan; Bin I berisi persediaan sebesar


tingkat reorder point; Bin II berisi sisanya.
Penggunaan stock dilakukan dengan mengambil isi Bin II; jika sudah habis artinya
pemesanan harus dilakukan kembali; sementara menunggu pesanan datang,
stock pada Bin I digunakan

Asumsi yang perlu dperhatikan pada saat menggunakan metode pengendalian Sistem Q
ini adalah:
Biaya simpan per unit tetap
Biaya setiap kali dilakukan pemesanan ulang adalah tetap
Waktu tunggu tetap (dalam keadaan normal), sehingga keterlambatan bahan
baku tidak ada
Permintaan bahan baku bervariasi
Setiap jenis item diperoleh dari penjualan yang berlainan
Pembelian tidak mendapat potongan harga
Kedatangan bahan yang tidak sekaligus akan menimbulkan biaya tambahan

6. Kebijakan Order Up to R

Kebijakan ini hampir sama dengan kebijakan periodic review, perbedaannya dalam
kebijakan ini, reoder levelditentukan sebesar R, sehingga order sebesar Qi = R Ii selalu
dilakukan pada saat akhir periode T. Dalam kebijakan ini, variabel R dan T yang harus
ditentukan untuk mencapai total biaya persediaan minimal.

7. Kebijakan Base-Stock

Dalam kebijakan ini, reorder level (r) diset = R, (r = R), dan order dilakukan ketika ada
pengurangan persediaan, sehingga junlah inventory on hand pada sebuah periode (Ii)
ditambah dengan jumlah pengorderan (Q) akan sama dengan R pada semua periode.
Maksimum tingkat persediaan, R adalah base stock level-nya.

Model Persediaan Stochastic merupakan model persediaan yang parameter-


parameternya merupakan nilai-nilai yang tidak pasti.
Ada beberapa parameter/variabel yang tidak pasti seperti : permintaan, waktu tenggang,
order, harga, dll.

Tujuan model ini untuk menentukan besarnya safety stocks untuk meminimumkan
expected shortage cost (biaya kehabisan bahan) dan holding safety stocks, dimana

E(MHC) = E(MSC).
E(MHC) = Expected Marginal Holding Cost (Biaya penyimpanan tambahan yang
diperkirakan)
E(MSC) = Expected Marginal Shortage Cost (Biaya tambahan karena kehabisan
bahan yang diperkirakan)

Karena safety stock disimpan sepanjang tahun, maka probabilitas penyimpanan unit
terakhir dianggap = 1. Jadi E(MHC) = 1.E(MHC) = hc.

Kehabisan persediaan akan terjadi bila permintaan selama waktu tenggang (lead time)
lebih besar dari reorder point R, sehingga E(MSC) penyimpanan R unit pada waktu
pemesanan kembali adalah

Pr(al > R) (MSC) hc = Pr (al>R) (MSC)


Hc = [1-Pr(al<R)](MSC)

Sedang shortage cost = B

L = lead time & a = permintaan harian

hc
Pr (al R) = 1 - ----------
BD
---
Q
Biaya total yang diperkirakan (expected total cost) dari persediaan adalah :

E(Tc) = Holding cost + setup cost + E (shortage cost)

E(Tc) = hc (Q/2 + n) + (K x D/Q) + (BxD/Q)[~


=+1 (al=Ri)Vi]