Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

Pengembangan usaha peternakan memerlukan banyak perhatian


untuk meningkatkan produktivitas ternak. Produktivitas ternak dicerminkan
oleh penampilanya, dimana hal ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
genetika dan faktor lingkungan. Faktor genetika merupakan hal yang
mempengaruhi penampilan ternak secara alamiah menurun dari induknya
dan ini tetap selama hidupnya. Genetika dapat ditingkatkan melalui
program pemuliaan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Faktor
kedua adalah lingkungan, dimana genetika akan tercermin dengan
adanya dukungan faktor ini. Faktor lingkungan sangat penting, sebab
walau genetika ternak sudah baik dan faktor lingkungan tidak sesuai maka
penampilan tidak akan maksimal. Beberapa hal yang termasuk dalam
faktor lingkungan, yaitu kondisi sekitar ternak, iklim, pakan dan
manajemen.
Indonesia seperti yang diketahui merupakan daerah tropis dimana
sinar matahari terus ada selama setahun penuh. Ini merupakan suatu
kesempatan untuk mengembangan suatu kondisi yang sesuai dengan
ternak agar produktivitas optimal. Ternak memerlukan suatu comfort zone
yang sesuai untuk mengeluarkan potensi optimalnya. Setiap jenis ternak
memiliki kondisi fisiologis yang berbeda-beda. Kondisi fisiologis ini dapat
diakaitkan dengan penampilannya. Respon terhadap lingkungan akan
menunjukan perbedaan aktivitas fisiologis dan penampilan yang
ditunjukan dalam jangka waktu tertentu. Ilmu Lingkungan Ternak
memperlajari bagaimana pengaruh lingkungan terhadap ternak dan hal-
hal apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Faktor Lingkungan terhadap Produktivitas Ternak


Suatu penampilan ternak didukung oleh dua faktor, yaitu faktor
genetika dan faktor lingkungan, beserta interaksinya. Faktor genetika
merupakan hal yang mempengaruhi penampilan ternak secara alamiah
menurun dari induknya dan ini tetap selama hidupnya. Genetika dapat
ditingkatkan melalui program pemuliaan yang berlangsung selama
bertahun-tahun. Faktor kedua adalah lingkungan, dimana genetika akan
tercermin dengan adanya dukungan faktor ini. Faktor lingkungan sangat
penting, sebab walau genetika ternak sudah baik dan faktor lingkungan
tidak sesuai maka penampilan tidak akan maksimal. Sihombing dkk.
(2000) menjelaskan bahwa pengaruh lingkungan yang tidak baik pada
ternak akan mengakibatkan perubahan status fisiologis, yang disebut
stres atau cekaman. Stres banyak sekali penyebabnya, salah satunya
adalah lingkungan, yang timbul dari beberapa faktor yalitu teknik
peternakan, iklim atau cuaca, kandang makanan, antimetabolit, tingkah
laku ternak, serta berbagai interaksi seperti : antara makanan dengan
lingkungan, antara cuaca dengan lingkungan, dan antara genetik dengan
lingkungan.
Iklim Mikro
Iklim merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh
langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui
pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain, selain itu berbeda
dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim
tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia, untuk
memperoleh produktivitas ternak yang efisien, manusia harus
menyesuaikan dengan iklim setempat. Winarso (2003) menjelaskan cuaca
dan iklim merupakan dua kondisi yang hampir sama tetapi berbeda
pengertian khususnya terhadap kurun waktu. Cuaca merupakan bentuk

2
awal yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan kondisi
fisik udara sesaat pada suatu lokasi dan suatu waktu, sedangkan iklim
merupakan kondisi lanjutan dan merupakan kumpulan dari kondisi cuaca
yang kemudian disusun dan dihitung dalam bentuk rata-rata kondisi cuaca
dalam kurun waktu tertentu.
Iklim dapat digolongkan menjadi dua, yaitu iklim makro dan iklim
mikro. Penggolongan ini berdasarkan luasan dari perubahan iklim ini. Iklim
makro mencakup wilayah yang luas, seperti iklim laut, iklim negara, iklim
benua. Sedangakan, iklim mikro memiliki tipikal ciri-ciri pada lapisan
bawah atmosfer (<2meter di atas permukaan tanah) seperti iklim hutan
dan iklim kota (Utomo, 2009). Iklim mikro yang terdiri dari suhu,
kelembapan udara dan radiasi matahari ditentukan oleh banyak faktor,
baik faktor skala lokal maupun dalam skala global, seperti peningkatan
suhu bumi oleh emisi gas CO2 (Haryono, 2011).

Status Faali
Ternak yang dalam kondisi baik akan memilki kondisi aktivitas
fisiologis yang normal atau sehat. Produktivitas akan optimal apabila
ternak dalam kondisi yang sesuai. Yani (2005) menjelaskan bahwa ternak
akan melakukan penyesuaian secara fisiologis dan secara tingkah laku,
apabila suhu lingkungan dan kelembaban melebihi normal. Selama
penyesuaian ini, produktivitas akan terpengaruh.
Respirasi
Setiap mahluk hidup memerlukan respirasi untuk memecah energi
dan menunjang aktivitas tubuh lainnya. Frandson (1998) menjelaskan
bahwa respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana
organisme melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi
menyangkut dua proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal.
Terjadinya pergerakan karbon dioksida ke dalam udara alveolar ini disebut
respirasi eksternal. Respirasi internal dapat terjadi apabila oksigen

3
berdifusi ke dalam darah. Respirasi eksternal tergantung pada pergerakan
udara kedalam paru-paru.
Respirasi berfungsi sebagai parameter yang dapat digunakan
sebagai pedoman untuk mengetahui fungsi organ-organ tubuh bekerja
secara normal. Pengukuran terhadap parameter terhadap fisiologis yang
biasa dilakukan di lapangan tanpa alat-alat laboratorium adalah
pengukuran respirasi, detak jantung dan temperature tubuh (Ganong,
2003).
Pulsus
Darah yang dipompa oleh jantung melalui pembuluh darah ke
seluruh bagian tubuh memiliki tekanan. Frandson (2002) menjelaskan
bahwa jantung dalam kenyataannya merupakan dua pompa yang
menerima darah ke dalam bolak-balik atrial (atria) dan kemudian
memompakan darah tersebut dari ventrikel menuju ke jaringan dan
kemudian kembali lagi. Katup-katup jantung terbuka dan tertutup
mengikuti yang tepat agar supaya darah mengalir ke salah satu jurusan
saja. Bagian terbesar dari tenaga yang digunakan untuk mendorong darah
berasal dari kerja otot jantung itu sendiri. Dorongan ini yang dinamakan
pulsus atau denyut.
Frekuensi pulsus yang tidak sesuai dengan kisaran normal dapat
dipengaruhi oleh perangsangan atau stimulus, temperatur lingkungan dan
latihan. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang paling mencolok
pengaruhnya dibanding dengan faktor lainnya (Swenson. 1999).
Temperatur rektal
Temperatur tubuh merupakan salah satu mekanisme homeostatis
dalam mengatur tubuh. Fradson (2002) menjelaskan bahwa cara
mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan terperatur rektal karena
paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata-rata temperatur tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa
ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak.
Indeks temperature dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan cara

4
memasukkan thermometer rectal ke dalam rectum, meskipun temperature
rectal tidak selalu menggambarkan rata-rata temperature dalam tubuh.
Karena temperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium lebih lambat.
Suhu yang tinggi meningkatkan aktivitas ternak khususnya pada
kelinci dan ayam sehingga respirasi mengalami peningkatan. Selain itu,
faktor yang mempengaruhi respirasi ternak adalah suhu tubuh, temperatur
lingkungan, ukuran tubuh ternak, dan kondisi kesehatan ternak (Smith,
1998).

5
BAB III
MATERI DAN METODE

MATERI
Alat yang digunakan dalam praktikum Ilmu Lingkungan Ternak
meliputi termometer, stetoskop, counter, higrometer dan barometer.
Ternak yang digunakan meliputi kambing jantan dan betina, kelinci jantan
dan betiana (rambut bewarna gelap dan terang), ayam jantan dan betian
(bulu bewarna gelap dan terang).

METODE
Acara I
Metode yang digunakan dalam praktikum acara I meliputi
pengukuran respirasi, pulsus dan temperatur rektal, dan pengukuran iklim
mikro sebagai berikut:
Respirasi. Pengukuran respirasi pada ternak ayam dilakukan
dengan melihat kembang-kempisnya bagian abdomen selama satu menit
dan diulangi sebanyak tiga kali. Pada ternak kambing respirasi dihitung
dengan merasakan udara dengan punggung tangan melalui hidung.
Pengukuran pada ternak kelinci dilakukan dengan cara sama seperti
pada ternak kambing.
Pulsus. Pengukuran pulsus pada ternak ayam dilakukan dengan
stetoskop melalui dada sebelah kiri selama satu menit dan diulangi
sebanyak tiga kali. Pada ternak kambing pulsus diukur dengan meraba
arteri femuralis pada pangkal paha. Pengukuran pada ternak kelinci
dilakukan dengan cara sama seperti pada ternak kambing.
Temperatur rektal. Pengukuran temperatur rektal pada ayam
dilakukan dengan termometer melalui anus selama waktu satu menit dan
diulangi sebanyak tiga kali. Hal yang sama dilakukan pada ternak kambing
dan kelinci.

6
Iklim mikro. Pengukuran iklim mikro pada acara I dilakukan
dengan menggunakan thermohigrometer dengan membaca skala suhu
dan kelembapan sekitar. Pengecekan dilakukan setiap 10 selama satu
jam.

Acara II
Metode yang digunakan dalam praktikum acara II meliputi
pengukuran respirasi, pulsus dan temperatur rektal, dan pengukuran iklim
mikro sebagai berikut:
Respirasi. Pengukuran respirasi pada ternak ayam dilakukan
dengan melihat kembang-kempisnya bagian abdomen selama satu menit
dan diulangi sebanyak tiga kali. Pada ternak kambing respirasi dihitung
dengan merasakan udara dengan punggung tangan melalui hidung.
Pengukuran pada ternak kelinci dilakukan dengan cara sama seperti
pada ternak kambing.
Pulsus. Pengukuran pulsus pada ternak ayam dilakukan dengan
stetoskop melalui dada sebelah kiri selama satu menit dan diulangi
sebanyak tiga kali. Pada ternak kambing pulsus diukur dengan meraba
arteri femuralis pada pangkal paha. Pengukuran pada ternak kelinci
dilakukan dengan cara sama seperti pada ternak kambing.
Temperatur rektal. Pengukuran temperatur rektal pada ayam
dilakukan dengan termometer melalui anus selama waktu satu menit dan
diulangi sebanyak tiga kali. Hal yang sama dilakukan pada ternak kambing
dan kelinci.
Iklim mikro. Pengukuran iklim mikro pada acara II dilakukan
dengan menggunakan thermohigrometer dengan membaca skala suhu
dan kelembapan sekitar. Barometer untuk mengetahui tekanan udara
sekitar, dibaca skala yang ditunjukan. Pengecekan dilakukan setiap 10
selama satu jam.

7
HASIL DAN PEMBAHASAN

Acara I
Iklim Mikro
Iklim mikro yang diamati pada saat praktikum adalah suhu dan
kelembapan udara di dalam ruangan dan di luar ruangan.
Suhu
Berdasarkan hasil pengukuran pada suhu udara didapatkan hasil
seperti yang disajikan dalam tabel 1 serta grafik dari hasil tersebut
disajikan dalam grafik 1 sebagai berikut
Tabel 1. Hasil pengamatan suhu udara
Titik waktu pengamatan Dalam ruangan Luar ruangan
13.34 40 40,8
13.44 31,5 39,5
13.54 31,5 34,5
14.04 31,9 32,7
14.14 34,6 37,3
14.24 31,8 34,8
14.34 31,2 33,6
14.44 30,5 32,5
14.54 31,7 31,6
15.04 29,6 31,1

Suhu
45
40
Derajat celcius

35
30
25 Dalam ruang
20
15 Luar ruang
10
5
0
13.34 13.44 13.54 14.04 14.14 14.24 14.34 14.44 14.54 15.04
Waktu

Grafik 1. Grafik suhu udara

8
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, suhu udara
berkisar dari 29,6oC sampai 40,8oC. Suhu udara diluar ruangan
cenderung lebih tinggi dibandingkan suhu udara di dalam ruangan.
Fadhilah (2004) menjelaskan bahwa suhu udara ideal untuk ayam sekitar
23oC-26oC. Sukendar et.al.(2005) berpendapat suhu udara yang baik
untuk kambing sekitar 22oC sampai 30oC. Sedangkan untuk kelinci
menurut Hustamin (2006) adalah sekitar 15oC-20oC. Apabila suhu terlalu
tinggi maka konsumsi minum akan naik dan menurunkan feed intake serta
kebuntingan sering gagal. Suhu yang diamati tergolong tinggi karena
pengamatan dilakukan disaat siang hari.
Kelembapan Udara
Berdasarkan hasil pengukuran pada suhu udara didapatkan hasil
seperti yang disajikan dalam tabel 2 serta grafik dari hasil tersebut
disajikan dalam grafik 2 sebagai berikut
Tabel 2. Hasil pengamatan kelembapan udara
Titik waktu pengamatan Dalam ruangan Luar ruangan
13.34 45 46
13.44 46 46
13.54 59 59
14.04 62 62
14.14 52 52
14.24 53 53
14.34 56 56
14.44 59 59
14.54 62 62
15.04 62 63

9
Kelembapan udara
70

60

50

40
Persen

30 Dalam ruang

20 Luar ruang

10

0
13.34 13.44 13.54 14.04 14.14 14.24 14.34 14.44 14.54 15.04
Waktu

Grafik 2. Grafik kelembapan udara


Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, kelembapan
udara berkisar dari 45% sampai 63%. Kelembapan udara diluar ruangan
dan kelembapan udara di dalam ruangan cenderung sama. Hustamin
(2006) menjelaskan bahwa pembuatan kandang ternak diutamakandekat
sumber air, kelembapan udara berkisar 60%-90% dan bebas dari
berbagai gangguan serta predator. Berdasarkan literatur, kelembapan
udara kandang di Fakultas Peternakan sudah sesuai.

Status Faali
Pengukuran status faali ini bertujuan untuk mengetahui data
fisiologis ternak sehingga dapat diketahui kemampuan organ-organ dari
tubuh ternak tersebut. Status faali yang diukur meliputi respirasi, pulsus
dan temperatur rektal.
Respirasi
Respirasi adalah pertukaran udara dari dalam tubuh ke luar tubuh
dan juga sebaliknya. Frandson (1998) menjelaskan bahwa respirasi
adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme melakukan
pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua
proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal.

10
Berdasarkan pengukuran terhadap respirasi didapatkan data hasil
seperti berikut disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata per 3 kali pengulangan respirasi ayam, kelinci dan
kambing
Di dalam ruangan Diluar ruangan
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 26 24 33 28
Ayam betina 47 42 51 74
Kelinci jantan 21 29 41 44
Kelinci betina 35 28 43 60
Kambing jantan 39 39
Kambing betina 39 39
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata respirasi ternak ayam
dan kelinci di luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam ruangan. Pada
ternak kambing rata-rata respirasi di dalam ruangan dan diluar ruangan
sama. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu pada ayam dan kelinci juga menunjukan perbedaan,
dimana warna hitam cenderung lebih tinggi respirasinya. Hal ini
dikarenakan warna hitam memiliki emisi panas lebih besar. Jenis kelamin
tidak menunjukan perbedaan pada rata-rata respirasi.
Pulsus
Pulsus adalah tekanan yang timbul dari darah yang dipompa oleh
jantung melalui pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Frandson
(2002) menjelaskan bahwa jantung dalam kenyataannya merupakan dua
pompa yang menerima darah ke dalam bolak-balik atrial (atria) dan
kemudian memompakan darah tersebut dari ventrikel menuju ke jaringan
dan kemudian kembali lagi. Katup-katup jantung terbuka dan tertutup
mengikuti yang tepat agar supaya darah mengalir ke salah satu jurusan
saja. Bagian terbesar dari tenaga yang digunakan untuk mendorong darah

11
berasal dari kerja otot jantung itu sendiri. Dorongan ini yang dinamakan
pulsus atau denyut.
Berdasarkan pengukuran terhadap pulsus didapatkan data
hasil seperti berikut disajikan dalam tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata per 3 kali pengulangan pulsus ayam, kelinci dan
kambing
Di dalam ruangan Diluar ruangan
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 175 122 181 116
Ayam betina 149 160 143 183
Kelinci jantan 141 177 200 185
Kelinci betina 199 175 216 133
Kambing jantan 73 83
Kambing betina 75 88
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata pulsus ternak ayam,
kelinci dan kambing di luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam
ruangan. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu tidak menunjukan perbedaan terhadap rata-rata pulsus
ternak ayam dan kelinci. Jenis kelamin juga tidak menunjukan perbedaan
pada rata-rata pulsus.
Temperatur Rektal
Temperatur tubuh merupakan salah satu mekanisme homeostatis
dalam mengatur tubuh. Fradson (2002) menjelaskan bahwa cara
mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan terperatur rektal karena
paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata-rata temperatur tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa
ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak.
Indeks temperature dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan cara
memasukkan thermometer rectal ke dalam rectum, meskipun temperature

12
rectal tidak selalu menggambarkan rata-rata temperature dalam tubuh.
Karena temperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium lebih lambat.
Berdasarkan pengukuran terhadap temperatur rektal didapatkan
data hasil seperti berikut disajikan dalam tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata per 3 kali pengulangan temperatur rektal ayam, kelinci
dan kambing
Di dalam ruangan Diluar ruangan
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 38,3 41 40,3 41
Ayam betina 41 39 41 40,3
Kelinci jantan 40,2 39,5 40,8 40,7
Kelinci betina 39 39,5 38,5 41
Kambing jantan 39,2 39,2
Kambing betina 39,2 39,6
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata temperatur rektal ternak
ayam dan kelinci di luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam ruangan.
Pada ternak kambing rata-rata temperatur rektal di dalam ruangan dan
diluar ruangan sama. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya
frekuensi denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu pada ayam dan kelinci juga menunjukan perbedaan,
dimana warna hitam cenderung lebih tinggi temperatur rektal. Hal ini
dikarenakan warna hitam memiliki emisi panas lebih besar. Jenis kelamin
tidak menunjukan perbedaan pada rata-rata temperatur rektal.

13
Acara II
Iklim Mikro
Iklim mikro yang diamati pada saat praktikum adalah suhu dan
kelembapan udara di dalam ruangan dan di luar ruangan.
Suhu
Berdasarkan hasil pengukuran pada suhu udara didapatkan hasil
seperti yang disajikan dalam tabel 6 serta grafik dari hasil tersebut
disajikan dalam grafik 6 sebagai berikut
Tabel 6. Hasil pengamatan suhu udara
Titik waktu Dataran Titik waktu Dataran
pengamatan tinggi pengamatan rendah
9.20 26,1 9.45 31,4
9.30 26,7 9.55 31,4
9.40 27,2 10.05 32
9.50 26,8 10.15 31
10.00 26,8 10.25 30,8
10.10 26,8 10.35 29,6
10.20 26,4 10.45 30,2
10.30 26,7 10.55 30,7
10.40 27,3 11.05 30,8
10.50 27,3 11.15 30,5

Suhu
35
30
Derajat celcius

25
20
15 Daratan tinggi
10
5
0
9.20 9.30 9.40 9.50 10.00 10.10 10.20 10.30 10.40 10.50
Waktu

Grafik 3. Grafik suhu udara


Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, suhu udara di
daratan tinggi 26,1oC sampai 27,3oC dan di daratan rendah berkisar 28,6

14
oC sampai 31,4oC. Suhu udara di daratan tinggi cenderung lebih rendah
dari pada daratan rendah. Fadhilah (2004) menjelaskan bahwa suhu
udara ideal untuk ayam sekitar 23oC-26oC. Sukendar et.al.(2005)
berpendapat suhu udara yang baik untuk kambing sekitar 22oC sampai
30oC. Sedangkan untuk kelinci menurut Hustamin (2006) adalah sekitar
15oC-20oC. Apabila suhu terlalu tinggi maka konsumsi minum akan naik
dan menurunkan feed intake serta kebuntingan sering gagal. Suhu yang
diamati tergolong tinggi karena pengamatan dilakukan disaat siang hari.
Tekanan udara
Berdasarkan hasil pengukuran pada tekanan udara didapatkan
hasil seperti yang disajikan dalam tabel 7 serta grafik dari hasil tersebut
disajikan dalam grafik 7 sebagai berikut
Tabel 7. Hasil pengamatan tekanan udara
Titik waktu Dataran Titik waktu Dataran
pengamatan tinggi pengamatan rendah
9.20 930,6 9.45 1010,6
9.30 930,6 9.55 1010,4
9.40 930,7 10.05 1010,2
9.50 930,5 10.15 1010,3
10.00 930,3 10.25 1009,9
10.10 930,4 10.35 1009,9
10.20 930,1 10.45 1009,9
10.30 929,9 10.55 1009,6
10.40 929,7 11.05 1009,5
10.50 929,3 11.15 1009,4

15
Tekanan udara
1020

1000

980

960
Persen

940 Daratan tinggi

920 Daratan rendah

900

880
9.20 9.30 9.40 9.50 10.0010.1010.2010.3010.4010.50
Waktu

Grafik 4. Grafik tekanan udara


Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, tekanan udara di
daratan tinggi berkisar dari 929,3 milibar sampai 930,6 milibar, sedangkan
tekanan udara di daratan rendah berkisar 1009,4 sampai 1010,6 milibar.
Semakin tinggi daerah, maka tekanan udara semakin rendah, jumlah
oksigen juga semakin sedikit. Hal ini berpengaruh pada kerja respirasi
ternak.

Status Faali
Pengukuran status faali ini bertujuan untuk mengetahui data
fisiologis ternak sehingga dapat diketahui kemampuan organ-organ dari
tubuh ternak tersebut. Status faali yang diukur meliputi respirasi, pulsus
dan temperatur rektal.
Respirasi
Respirasi adalah pertukaran udara dari dalam tubuh ke luar tubuh
dan juga sebaliknya. Frandson (1998) menjelaskan bahwa respirasi
adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme melakukan
pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua
proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal.

16
Berdasarkan pengukuran terhadap respirasi didapatkan data hasil
seperti berikut disajikan dalam tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata per 3 kali pengulangan respirasi ayam, kelinci dan
kambing
Daratan tinggi Daratan rendah
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 31 36 79 80
Ayam betina 31 46 81 80
Kelinci jantan 21 29 27 140
Kelinci betina 28 113 113 145
Kambing jantan 24 16
Kambing betina 29 55
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata respirasi ternak ayam,
kelinci dan kambing di daerah rendah lebih tinggi daripada di daerah
tinggi. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu pada ayam dan kelinci tidak menunjukan perbedaan.
Jenis kelamin tidak menunjukan perbedaan pada rata-rata respirasi pada
ayam, kelinci maupun kambing.
Pulsus
Pulsus adalah tekanan yang timbul dari darah yang dipompa oleh
jantung melalui pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Frandson
(2002) menjelaskan bahwa jantung dalam kenyataannya merupakan dua
pompa yang menerima darah ke dalam bolak-balik atrial (atria) dan
kemudian memompakan darah tersebut dari ventrikel menuju ke jaringan
dan kemudian kembali lagi. Katup-katup jantung terbuka dan tertutup
mengikuti yang tepat agar supaya darah mengalir ke salah satu jurusan
saja. Bagian terbesar dari tenaga yang digunakan untuk mendorong darah
berasal dari kerja otot jantung itu sendiri. Dorongan ini yang dinamakan
pulsus atau denyut.

17
Berdasarkan pengukuran terhadap pulsus didapatkan data
hasil seperti berikut disajikan dalam tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata per 3 kali pengulangan pulsus ayam, kelinci dan
kambing
Daratan tinggi Daratan rendah
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 210 187 249 152
Ayam betina 240 237 165 172
Kelinci jantan 236 181 257 244
Kelinci betina 213 172 270 159
Kambing jantan 48 47
Kambing betina 56 51
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata pulsus ternak ayam,
kelinci dan kambing di luar ruangan lebih tinggi daripada di dalam
ruangan. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu tidak menunjukan perbedaan terhadap rata-rata pulsus
ternak ayam dan kelinci. Jenis kelamin juga tidak menunjukan perbedaan
pada rata-rata pulsus.
Temperatur Rektal
Temperatur tubuh merupakan salah satu mekanisme homeostatis
dalam mengatur tubuh. Fradson (2002) menjelaskan bahwa cara
mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan terperatur rektal karena
paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata-rata temperatur tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa
ternak, aktivitas, kondisi kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak.
Indeks temperature dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan cara
memasukkan thermometer rectal ke dalam rectum, meskipun temperature
rectal tidak selalu menggambarkan rata-rata temperature dalam tubuh.
Karena temperatur dalam tubuh mempunyai equilibrium lebih lambat.

18
Berdasarkan pengukuran terhadap temperatur rektal didapatkan
data hasil seperti berikut disajikan dalam tabel 10.
Tabel 10. Rata-rata per 3 kali pengulangan temperatur rektal ayam, kelinci
dan kambing
Daratan tinggi Daratan rendah
Jenis ternak
Hitam Putih Hitam Putih
Ayam jantan 41,5 41,6 41,6 42
Ayam betina 43 41 41 39
Kelinci jantan 36,8 39,3 38,8 39,4
Kelinci betina 36,8 38,7 39,1 38,8
Kambing jantan 38,8 38,8
Kambing betina 38,5 38,3
Dari tabel di atas dapat diketahui, rata-rata temperatur rektal ternak
ayam, kelinci dan kambing di daratan tinggi maupun daratan rendah
hampir sama. Ayam berkisar dari 39oC sampai 43oC, kelinci berkisar dari
36,8oC sampai 39,4oC, dan kambing berkisar dari 38,3oC sampai 38,8oC.
Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi denyut
jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh beberapa faktor
eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh, spesies, dan
kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan. Perbandingan antara
literatur dan hasil sudah sesuai.
Warna bulu pada ayam, kelinci dan kambing tidak menunjukan
perbedaan. Jenis kelamin juga tidak menunjukan perbedaan pada rata-
rata temperatur rektal.

19
Analisis data

Acara I
Analisis data terhadap status faali ayam yang meliputi temperatur
rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis kelamin,
warna bulu (hitam dan putih), perlakuan ruang (di dalam dan di luar ruang)
memperoleh hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam sebagai
berikut:
Tabel 11. Status faali ayam berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan
Temperatur rektal Respirasi Pulsus
Jantan/hitam/dalam 38,3 26 175
Jantan/hitam/luar 40,3 33 181
Jantan/putih/dalam 41 24 122
Jantan/putih/luar 41 28 116
Betina/hitam/dalam 41 47 149
Betina/hitam/luar 41 51 143
Betina/putih/dalam 39 42 160
Betina/putih/luar 40,3 74 183

Tabel 12. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam


Status Values
faali JK WB R JK*WB JK*R WB*R JK*WB*R
Temp.
0,042S 0,870NS 0,052S 0,269NS 0,541NS 0,535NS 0,051S
Rektal
Respirasi 0,000S 0,423NS 0,000S 0,065NS 0,092NS 0,007S 0,006S
Pulsus 0,042S 0,870NS 0,052NS 0,269NS 0,541NS 0,535NS 0,051NS
Keterangan : * = interaksi
NS = non signifikan
S = signifikan
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui bahwa pada ayam, temperatur
rektal dipengaruhi oleh jenis kelamin, perlakuan ruangan dan interaksi
jenis kelamin, warna bulu serta perlakuan ruangan. Respirasi dipengaruhi
oleh jenis kelamin, perlakuan ruang, interaksi jenis kelamin dan perlakuan

20
ruang serta interaksi jenis kelamin, warna bulu dan perlakuan ruang.
Sedangkan, pulsus dipengaruhi oleh jenis kelamin saja.
Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Analisis data terhadap status faali kelinci yang meliputi temperatur
rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis kelamin,
warna bulu (hitam dan putih), perlakuan ruang (di dalam dan di luar ruang)
memperoleh hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci sebagai
berikut:
Tabel 13. Status faali kelinci berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan
Temperatur rektal Respirasi Pulsus
Jantan/hitam/dalam 40,2 21 141
Jantan/hitam/luar 40,8 41 200
Jantan/putih/dalam 39,5 29 177
Jantan/putih/luar 40,7 44 185
Betina/hitam/dalam 39 35 199
Betina/hitam/luar 38,5 43 216
Betina/putih/dalam 39,5 28 175
Betina/putih/luar 41 60 133

Tabel 14. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci


Status Values
faali JK WB R JK*WB JK*R WB*R JK*WB*R
Temp.
0,001S 0,003S 0,001S 0,000S 0,089NS 0,001S 0,023S
Rektal
Respirasi 0,000S 0,003S 0,000S 0,663NS 0,302S 0,012S 0,008S
Pulsus 0,712NS 0,310NS 0,513NS 0,220NS 0,280NS 0,314NS 0,869NS
Keterangan : * = interaksi
NS = non signifikan
S = signifikan
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui pada ternak kelinci, temperatur

21
rektal dipengaruhi oleh jenis kelamin, warna bulu, perlakuan ruang,
interaksi jenis kelamin dan warna bulu, interaksi jenis kelamin dan
perlakuan ruang, interaksi warna bulu dan perlakuan ruang, serta interaksi
ketiganya. Respirasi dipengaruhi oleh semua faktor dan interaksi msing-
masingnya, kecuali interaksi jenis kelamin dan warna bulu. Sedangkan,
pulsus tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, warna bulu, perlakuan ruang
maupun interaksi-interaksi ketiganya.
Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Analisis data terhadap status faali kambing yang meliputi
temperatur rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis
kelamin dan perlakuan ruang (di dalam dan di luar ruang) memperoleh
hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing sebagai berikut:
Tabel 15. Status faali kambing berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan
Temperatur rektal Respirasi Pulsus
Jantan/dalam 39,2 39 73
Jantan/luar 39,2 39 83
Betina/dalam 39,2 39 75
Betina/luar 39,6 39 88

Tabel 16. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing


Values
Status faali
JK R JK*R
Temp. Rektal 0,067NS 0,022S 0,067NS
Respirasi 0,004S 0,073NS 0,686NS
Pulsus 0,050S 0,529NS 0,703NS
Keterangan : * = interaksi
NS = non signifikan
S = signifikan

22
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui pada kambing, temperatur rektal
dipengaruhi oleh perlakuan ruang. Respirasi dan pulsus dipengaruhi oleh
jenis kelamin. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya
frekuensi denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.

Acara II
Analisis data terhadap status faali ayam yang meliputi temperatur
rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis kelamin,
warna bulu (hitam dan putih), perlakuan ketinggian (daratan rendah dan
dan daratan tinggi) memperoleh hasil uji perlakuan terhadap status faali
ayam sebagai berikut:
Tabel 17. Status faali ayam berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan Temperatur
Respirasi Pulsus
rektal
Jantan/hitam/tinggi 41,5 31 210
Jantan/hitam/rendah 41,6 79 249
Jantan/putih/tinggi 41,6 36 187
Jantan/putih/rendah 42 80 152
Betina/hitam/tinggi 43 31 240
Betina/hitam/rendah 41 81 165
Betina/putih/tinggi 41 46 237
Betina/putih/rendah 39 80 172

Tabel 18. Hasil uji perlakuan terhadap status faali ayam


Status Values
faali JK WB KT JK*WB JK*KT WB*KT JK*WB*KT
Temp.
0,011S 0,337NS 0,004S 0,001S 0,229NS 0,124NS 0,434NS
Rektal
Respirasi 0,336NS 0,099NS 0,000S 0,426NS 0,494NS 0,110NS 0,336NS
Pulsus 0,698NS 0,859NS 0,000S 0,987NS 0,628NS 0,130NS 0,053NS
Keterangan : * = interaksi

23
NS = non signifikan
S = signifikan
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui bahwa pada ayam, temperatur
rektal dipengaruhi oleh jenis kelamin, perlakuan ketinggian dan interaksi
antara jenis kelamin dan warna bulu. Respirasi dan pulsus hanya
dipengaruhi oleh perlakuan ketinggian tempat.
Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Analisis data terhadap status faali kelinci yang meliputi temperatur
rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis kelamin,
warna bulu (hitam dan putih), perlakuan ketinggian (daratan rendah dan
dan daratan tinggi) memperoleh hasil uji perlakuan terhadap status faali
kelinci sebagai berikut:
Tabel 19. Status faali kelinci berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan Temperatur
Respirasi Pulsus
rektal
Jantan/hitam/tinggi 36,8 21 236
Jantan/hitam/rendah 38,8 27 257
Jantan/putih/tinggi 39,3 29 181
Jantan/putih/rendah 39,4 140 244
Betina/hitam/tinggi 36,8 28 213
Betina/hitam/rendah 39,1 113 270
Betina/putih/tinggi 38,7 113 172
Betina/putih/rendah 38,8 145 159

Tabel 20. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kelinci


Status Values
faali JK WB KT JK*WB JK*KT WB*KT JK*WB*KT
Temp.
0,116NS 0,000S 0,000S 0,000S 0,400NS 0,000S 0,475NS
Rektal

24
Respirasi 0,135NS 0,000S 0,000S 0,003S 0,060NS 0,000S 0,003S
Pulsus 0,012S 0,000S 0,003S 0,037S 0,308NS 0,436NS 0,008S
Keterangan : * = interaksi
NS = non signifikan
S = signifikan
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui pada ternak kelinci, temperatur
rektal dipengaruhi oleh warna bulu, ketinggian tempat, interaksi warna
bulu dan jenis kelamin, serta interaksi warna bulu dan ketinggian.
Respirasi dipengaruhi oleh warna bulu, ketinggian tempat, interaksi jenis
kelamin dan warna bulu, interaksi warna bulu dan ketinggian tempat, serta
interaksi ketiganya.
Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya frekuensi
denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.
Analisis data terhadap status faali kambing yang meliputi
temperatur rektal, respirasi dan pulsus dengan perlakuan perbedaan jenis
kelamin dan perlakuan ketinggian (daratan rendah dan dan daratan tinggi)
memperoleh hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing sebagai
berikut:
Tabel 21. Status faali kambing berbagai perlakuan
Parameter status faali
Perlakuan
Temperatur rektal Respirasi Pulsus
Jantan/tinggi 38,8 24 48
Jantan/rendah 38,8 16 47
Betina/tinggi 38,5 29 56
Betina/rendah 38,3 55 51

25
Tabel 22. Hasil uji perlakuan terhadap status faali kambing
Values
Status faali
JK KT JK*KT
Temp. Rektal 0,028S 0,668NS 0,886NS
Respirasi 0,000S 0,002S 0,000S
Pulsus 0,001S 0,830NS 0,830NS
Keterangan : * = interaksi
NS = non signifikan
S = signifikan
Data di atas adalah hasil pengolahan dari SPSS dengan batas
ketelitian sebesar 5% atau 0,05. Berdasarkan hasil analisis data yang
telah disajikan di atas dapat diketahui pada kambing, temperatur rektal
dipengaruhi oleh jenis kelamin. Respirasi dipengaruhi oleh jenis kelamin,
ketinggian tempat dan interaksi keduanya. Pulsus dipengaruhi oleh jenis
kelamin saja. Frandson (1996) menjelaskan bahwa besar kecilnya
frekuensi denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal dipengaruhi oleh
beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas tubuh, ukuran tubuh,
spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi lingkungan.
Perbandingan antara literatur dan hasil sudah sesuai.

26
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan


bahwa pada ayam, temperatur rektal dipengaruhi oleh jenis kelamin,
perlakuan ruangan dan interaksi jenis kelamin, warna bulu serta perlakuan
ruangan serta perlakuan ketinggian. Respirasi dipengaruhi oleh jenis
kelamin, perlakuan ruang, interaksi jenis kelamin, perlakuan ruang dan
interaksi jenis kelamin, warna bulu dan perlakuan ruang, perlakuan
ketinggian tempat. Sedangkan, pulsus dipengaruhi oleh jenis kelamin dan
perlakuan ketinggian tempat.
Pada ternak kelinci, temperatur rektal dipengaruhi oleh jenis
kelamin, warna bulu, perlakuan ruang, interaksi jenis kelamin dan warna
bulu, interaksi jenis kelamin dan perlakuan ruang, interaksi warna bulu
dan perlakuan ruang, interaksi warna bulu, jenis kelamin dan perlakuan
ruang, ketinggian tempat serta interaksi warna bulu dan ketinggian.
Respirasi dipengaruhi oleh semua faktor dan interaksi masing-masingnya,
kecuali interaksi jenis kelamin dan warna bulu. Sedangkan, pulsus tidak
dipengaruhi oleh jenis kelamin, warna bulu, perlakuan ruang maupun
interaksi-interaksi ketiganya, tetapi oleh ketinggian tempat, interaksi
ketinggian tempat dan warna bulu serta interaksi jenis kelamin, warna bulu
dan ketinggian tempat.
Pada kambing, temperatur rektal dipengaruhi oleh perlakuan ruang.
Respirasi dipengaruhi oleh jenis kelamin, ketinggian tempat dan interaksi
keduanya. Pulsus dipengaruhi oleh jenis kelamin.
Frekuensi denyut jantung, respirasi, dan temperatur rektal
dipengaruhi oleh beberapa faktor eksteral, diantaranya ialah aktivitas
tubuh, ukuran tubuh, spesies, dan kondisi kesehatan ternak dan kondisi
lingkungan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Frandson, R. D., 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi ke-7,


diterjemahkan oleh Srigandono, B. dan Praseno, K. UGM Press,
Yogyakarta.
Haryono. 2011. Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor
Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Hustamin, R. 2006. Panduan Memelihara Kelinci Hias. PT. AgroMedia
Pustaka. Jakarta.
Sukendar, A., Duldjaman, M. Dan Sukmawati, A. 2005. Potensi reproduksi
da distribusi dalam pengembangan kambing PE di desa
Hegarmanah kecamatan Cicantayan kabupaten Sukabumi Jawa
Barat. IPB. Bogor.
Utomo. 2009. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Bumi Aksara.
Jakarta
Winarso. 2003. Pengelolaan Bencana Cuaca dan Iklim untuk masa
mendatang. KLH. Jakarta.

28
LAMPIRAN

ACARA I

Analisis data temperatur rektal ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 36.667a 7 5.238 .833 .576

Intercept 38080.667 1 38080.667 6.053E3 .000

RT 2.667 1 2.667 .424 .524

JK .000 1 .000 .000 1.000

WB 6.000 1 6.000 .954 .343

RT * JK 6.000 1 6.000 .954 .343

RT * WB 2.667 1 2.667 .424 .524

JK * WB 2.667 1 2.667 .424 .524

RT * JK * WB 16.667 1 16.667 2.649 .123

Error 100.667 16 6.292

Total 38218.000 24

Corrected Total 137.333 23

a. R Squared = ,267 (Adjusted R Squared = -,054)

29
Analisis data respirasi ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 7436.625a 7 1062.375 23.608 .000

Intercept 44634.375 1 44634.375 991.875 .000

RT 3825.375 1 3825.375 85.008 .000

JK 2542.042 1 2542.042 56.490 .000

WB 30.375 1 30.375 .675 .423

RT * JK 145.042 1 145.042 3.223 .092

RT * WB 425.042 1 425.042 9.445 .007

JK * WB 9.375 1 9.375 .208 .654

RT * JK * WB 459.375 1 459.375 10.208 .006

Error 720.000 16 45.000

Total 52791.000 24

Corrected Total 8156.625 23

a. R Squared = ,912 (Adjusted R Squared = ,873)

30
Analisis data pulsus ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 24509.833a 7 3501.405 2.274 .082

Intercept 485641.500 1 485641.500 315.343 .000

RT 6800.667 1 6800.667 4.416 .052

JK 7561.500 1 7561.500 4.910 .042

WB 42.667 1 42.667 .028 .870

RT * JK 600.000 1 600.000 .390 .541

RT * WB 620.167 1 620.167 .403 .535

JK * WB 2016.667 1 2016.667 1.309 .269

RT * JK * WB 6868.167 1 6868.167 4.460 .051

Error 24640.667 16 1540.042

Total 534792.000 24

Corrected Total 49150.500 23

a. R Squared = ,499 (Adjusted R Squared = ,279)

31
Analisis data temperatur rektal kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 15.740a 7 2.249 13.662 .000

Intercept 38176.327 1 38176.327 2.320E5 .000

RT 2.535 1 2.535 15.403 .001

JK 2.802 1 2.802 17.023 .001

WB 2.042 1 2.042 12.405 .003

RT * JK .540 1 .540 3.281 .089

RT * WB 2.940 1 2.940 17.863 .001

JK * WB 3.840 1 3.840 23.332 .000

RT * JK * WB 1.042 1 1.042 6.329 .023

Error 2.633 16 .165

Total 38194.700 24

Corrected Total 18.373 23

a. R Squared = ,857 (Adjusted R Squared = ,794)

32
Analisis data respirasi kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 2920.500a 7 417.214 19.789 .000

Intercept 33600.167 1 33600.167 1.594E3 .000

RT 1734.000 1 1734.000 82.245 .000

JK 541.500 1 541.500 25.684 .000

WB 253.500 1 253.500 12.024 .003

RT * JK 24.000 1 24.000 1.138 .302

RT * WB 170.667 1 170.667 8.095 .012

JK * WB 4.167 1 4.167 .198 .663

RT * JK * WB 192.667 1 192.667 9.138 .008

Error 337.333 16 21.083

Total 36858.000 24

Corrected Total 3257.833 23

a. R Squared = ,896 (Adjusted R Squared = ,851)

33
Analisis data pulsus kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 12

2 luar ruang 12

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 18506.292a 7 2643.756 .811 .591

Intercept 743776.042 1 743776.042 228.132 .000

RT 1457.042 1 1457.042 .447 .513

JK 459.375 1 459.375 .141 .712

WB 3577.042 1 3577.042 1.097 .310

RT * JK 4082.042 1 4082.042 1.252 .280

RT * WB 3528.375 1 3528.375 1.082 .314

JK * WB 5310.375 1 5310.375 1.629 .220

RT * JK * WB 92.042 1 92.042 .028 .869

Error 52164.667 16 3260.292

Total 814447.000 24

Corrected Total 70670.958 23

a. R Squared = ,262 (Adjusted R Squared = -,061)

34
Analisis data temperatur rektal kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 6

2 luar ruang 6

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model .113a 3 .038 5.667 .022

Intercept 18471.053 1 18471.053 2.771E6 .000

RT .053 1 .053 8.000 .022

JK .030 1 .030 4.500 .067

RT * JK .030 1 .030 4.500 .067

Error .053 8 .007

Total 18471.220 12

Corrected Total .167 11

a. R Squared = ,680 (Adjusted R Squared = ,560)

35
Analisis data respirasi kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 6

2 luar ruang 6

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 6383.000a 3 2127.667 6.644 .015

Intercept 64827.000 1 64827.000 202.426 .000

RT 1365.333 1 1365.333 4.263 .073

JK 4961.333 1 4961.333 15.492 .004

RT * JK 56.333 1 56.333 .176 .686

Error 2562.000 8 320.250

Total 73772.000 12

Corrected Total 8945.000 11

a. R Squared = ,714 (Adjusted R Squared = ,606)

36
Analisis data pulsus kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ruang Ternak 1 dalam ruang 6

2 luar ruang 6

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 453.667a 3 151.222 1.964 .198

Intercept 76480.333 1 76480.333 993.251 .000

RT 33.333 1 33.333 .433 .529

JK 408.333 1 408.333 5.303 .050

RT * JK 12.000 1 12.000 .156 .703

Error 616.000 8 77.000

Total 77550.000 12

Corrected Total 1069.667 11

a. R Squared = ,424 (Adjusted R Squared = ,208)

37
Acara II

Analisis data temperatur rektal ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 50.493a 7 7.213 6.034 .001

Intercept 41641.670 1 41641.670 3.483E4 .000

KT 13.054 1 13.054 10.920 .004

JK 9.754 1 9.754 8.159 .011

WB 1.170 1 1.170 .979 .337

KT * JK 1.870 1 1.870 1.565 .229

KT * WB 3.154 1 3.154 2.638 .124

JK * WB 20.720 1 20.720 17.333 .001

KT * JK * WB .770 1 .770 .644 .434

Error 19.127 16 1.195

Total 41711.290 24

Corrected Total 69.620 23

a. R Squared = ,725 (Adjusted R Squared = ,605)

38
Analisis data respirasi ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 12235.833a 7 1747.976 35.764 .000

Intercept 80504.167 1 80504.167 1.647E3 .000

KT 11792.667 1 11792.667 241.282 .000

JK 48.167 1 48.167 .986 .336

WB 150.000 1 150.000 3.069 .099

KT * JK 24.000 1 24.000 .491 .494

KT * WB 140.167 1 140.167 2.868 .110

JK * WB 32.667 1 32.667 .668 .426

KT * JK * WB 48.167 1 48.167 .986 .336

Error 782.000 16 48.875

Total 93522.000 24

Corrected Total 13017.833 23

a. R Squared = ,940 (Adjusted R Squared = ,914)

39
Analisis data pulsus ayam

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 29872.667a 7 4267.524 6.932 .001

Intercept 974454.000 1 974454.000 1.583E3 .000

KT 25350.000 1 25350.000 41.180 .000

JK 96.000 1 96.000 .156 .698

WB 20.167 1 20.167 .033 .859

KT * JK 150.000 1 150.000 .244 .628

KT * WB 1568.167 1 1568.167 2.547 .130

JK * WB .167 1 .167 .000 .987

KT * JK * WB 2688.167 1 2688.167 4.367 .053

Error 9849.333 16 615.583

Total 1014176.000 24

Corrected Total 39722.000 23

a. R Squared = ,752 (Adjusted R Squared = ,644)

40
Analisis data temperatur rektal kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 23.613a 7 3.373 35.822 .000

Intercept 35489.350 1 35489.350 3.769E5 .000

KT 7.594 1 7.594 80.642 .000

JK .260 1 .260 2.765 .116

WB 8.284 1 8.284 87.969 .000

KT * JK .070 1 .070 .748 .400

KT * WB 6.510 1 6.510 69.137 .000

JK * WB .844 1 .844 8.960 .009

KT * JK * WB .050 1 .050 .535 .475

Error 1.507 16 .094

Total 35514.470 24

Corrected Total 25.120 23

a. R Squared = ,940 (Adjusted R Squared = ,914)

41
Analisis data respirasi kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 67337.167a 7 9619.595 728.297 .000

Intercept 152641.500 1 152641.500 1.156E4 .000

KT 65521.500 1 65521.500 4.961E3 .000

JK 32.667 1 32.667 2.473 .135

WB 726.000 1 726.000 54.965 .000

KT * JK 54.000 1 54.000 4.088 .060

KT * WB 682.667 1 682.667 51.685 .000

JK * WB 160.167 1 160.167 12.126 .003

KT * JK * WB 160.167 1 160.167 12.126 .003

Error 211.333 16 13.208

Total 220190.000 24

Corrected Total 67548.500 23

a. R Squared = ,997 (Adjusted R Squared = ,996)

42
Analisis data pulsus kelinci

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 12

2 dataran
12
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 12

2 betina 12

Warna Bulu 1 hitam 12

2 putih 12

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 36703.833a 7 5243.405 10.375 .000

Intercept 1125800.167 1 1125800.167 2.228E3 .000

KT 6144.000 1 6144.000 12.157 .003

JK 4108.167 1 4108.167 8.129 .012

WB 18260.167 1 18260.167 36.132 .000

KT * JK 560.667 1 560.667 1.109 .308

KT * WB 322.667 1 322.667 .638 .436

JK * WB 2604.167 1 2604.167 5.153 .037

KT * JK * WB 4704.000 1 4704.000 9.308 .008

Error 8086.000 16 505.375

Total 1170590.000 24

Corrected Total 44789.833 23

a. R Squared = ,819 (Adjusted R Squared = ,740)

43
Analisis data tempetatur rektal kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 6

2 dataran
6
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Temperatur Rektal

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 1.113a 3 .371 2.447 .139

Intercept 17817.813 1 17817.813 1.175E5 .000

KT .030 1 .030 .198 .668

JK 1.080 1 1.080 7.121 .028

KT * JK .003 1 .003 .022 .886

Error 1.213 8 .152

Total 17820.140 12

Corrected Total 2.327 11

a. R Squared = ,479 (Adjusted R Squared = ,283)

44
Analisis data respirasi kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 6

2 dataran
6
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Respirasi

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 2470.917a 3 823.639 71.621 .000

Intercept 11594.083 1 11594.083 1.008E3 .000

KT 234.083 1 234.083 20.355 .002

JK 1386.750 1 1386.750 120.587 .000

KT * JK 850.083 1 850.083 73.920 .000

Error 92.000 8 11.500

Total 14157.000 12

Corrected Total 2562.917 11

a. R Squared = ,964 (Adjusted R Squared = ,951)

45
Analisis data pulsus kambing

Between-Subjects Factors

Value Label N

Ketinggian Tempat 1 dataran tinggi 6

2 dataran
6
rendah

Jenis Kelamin 1 jantan 6

2 betina 6

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Pulsus

Type III Sum of


Source Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 192.667a 3 64.222 9.514 .005

Intercept 32033.333 1 32033.333 4.746E3 .000

KT .333 1 .333 .049 .830

JK 192.000 1 192.000 28.444 .001

KT * JK .333 1 .333 .049 .830

Error 54.000 8 6.750

Total 32280.000 12

Corrected Total 246.667 11

a. R Squared = ,781 (Adjusted R Squared = ,699)

46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56