Anda di halaman 1dari 24

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN

PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN ENZIM

OLEH :

NAMA : AYUFIYAH

STAMBUK : 15020160159

KELAS : C8

KELOMPOK : III (TIGA)

ASISTEN : IRMAYANI SAAD

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2017
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalis
dalam reaksi-reaksi biologis. Enzim dapat juga dikatakan sebagai
biokatalisator yang dihasilkan oleh jaringan yang berfungsi
meningkatkan laju reaksi dalam jaringan itu sendiri.
Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang
dihasilkan oleh sel. Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena
semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim,
atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan
terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu.
Enzim merupakan kataliasator atau suatu senyawa yang ikut
bereaksi tetapi tidak ikut bereaksi. Enzim memiliki tenaga katalitik
yang luar biasa dan biasanya lebih besar dari katalisator sintetik.
Spesifitas enzim sangat tinggi terhadap substratnya. Tanpa
pembentukan produk samping enzim merupakan unit fungsional untuk
metabolisme dalam sel, bekerja menurut urutan yang teratur. Sistem
enzim terkoordinasi dengan baik menghasilkan suatu hubungan yang
harmonis diantara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda. Enzim
dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan sangat
penting dalam aktivitas biologis.
Aktivitas katalis yang dimiliki enzim merupakan alat ukur yang
selektif dan sensitif terhadap aktivitas enzim. Aktivitas enzim dapat
diamati dari sisa substrat, pH, suhu, dan indikator. Faktor yang
mempengaruhi pengukuran aktivitas enzim antara lain konsentrasi
enzim dan substrat, suhu, pH, dan indikator.
Kerja enzim dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti temperatur,
pH, inhibitor dan lain sebagainya. Dan enzim pun dapat kehilangan
aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat, pelarut organik dan
pengaruh lain yang dapat menyebabkan denaturasi protein.
Dari uraian diatas merupakan hal-hal yang melatar belakangi

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

dibuatnya laporan pengaruh temperatur dan pH terhadap keaktifan


enzim ini.
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dilakukannya praktikum ini adalah untuk
mengetahui dan mempelajari mengenai pengaruh pH dan temperatur
terhadap aktivitas enzim menggunakan sample saliva.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini antara lain :
1. Untuk menentukan pH optimum untuk aktivitas enzim amilase.
2. Untuk menentukan temperatur optimum untuk aktivitas enzim
amilase

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum


Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat
dalam sel hidup dan mempunyai fungsi penting sebagai katalisator
reaksi biokimia yang secara kolektif membentuk metabolisme
perantara (intermediary metabolism). Ekstrak enzim pertama kali
dilakukan oleh Buehner pada tahun 1987, terhadap enzim sel ragi
yang berfungsi dalam fermentasi alkohol. Penelitian tentang enzim
sejak beberapa tahun yang lalu telah memberikan pengertian yang
lebih jelas terhadap peranan enzim dalam biologi sel yaitu kontrol
sintesis dan protein lainnya secara genetika, sifat pengatur sendiri
sistem, pertumbuhan dan diferensiasi atau pembelahan sel
(Wirahadikusuma, 2008).
Pada enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga
terbentuk maltosa. Ada tiga macam enzim amilase, yaitu amilase,
amilase dan amilase. Enzim yang terdapat dalam saliva (ludah) dan
pankreas adalah amilase. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang
terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini
bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum (Poedjiadi, 2004).
Saliva dapat disebut juga kelenjar ludah atau kelenjar air liur.
Semua kelenjar ludah mempunyai fungsi untuk membantu mencerna
makanan dengan mengeluarkan suatu sekret yang disebut saliva
(ludah atau air liur). Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal
kehidupan fetus (4 - 12 minggu) sebagai invaginasi epitel mulut yang
akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan jaringan asinar (Aldi, 2010).
Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan
sangat penting dalam aktivitas biologis. Dalam jumlah yang sangat
kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan
normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir
reaksinya. Enzim ini akan kehilangan aktivitasnya akibat (Campbell,
2000) :

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

1. Panas
2. Asam atau basa kuat
3. Pelarut organik
4. Pengaruh lain yang bisa menyebabkan denaturasi protein
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzim,
perubahan suhu dan pH mempunyai pengaruh besar terhadap kerja
enzim. Kecepatan reaksi enzim juga dipengaruhi oleh konsentrasi
enzim dan konsentrasi substrat. Pengaruh aktivator, inhibitor, koenzim
dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan juga merupakan
faktor-faktor yang penting (Sadikin, 2002).
a. Pengaruh suhu
Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim,
namun enzim tidak dapat bekerja. Dengan kenaikan suhu
lingkungan, enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu
maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus, jumlah
enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi.
Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu
optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum
sekitar 37 C. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada
pemanasan sampai 60 C, karena terjadi denaturasi (Soewoto,
2000).
Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi
enzimatik. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu,
kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu, yang
menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Dengan demikian,
dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu
optimum (Soewoto, 2000).
Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum,
makin rendah pula laju reaksinya. Akan tetapi, keadaan yang
menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda
antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. Pada

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

suhu yang lebih rendah penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik


yaitu kurangnya gerak termodinamik, yang menyebabkan
kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. Jika
kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi, kompleks ES
tidak terbentuk. Padahal kompleks ini sangat penting untuk
mengolah S menjadi P. Oleh karena itu, makin rendah suhu, gerak
termodinamik tersebut akan makin berkurang (Soewoto, 2000).
Pada daerah suhu yang lebih tinggi gerak termodinamik akan
lebih meningkat, sehingga tumbukan antara molekul akan lebih
sering. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat, melainkan
malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan
selisih nilai dan suhu optimum. Dalam peningkatan suhu ini, selain
gerak termodinamik meningkat, molekul protein enzim juga
mengalami denaturasi, sehingga bangun tiga dimensinya berubah
secara bertahap. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum,
maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan
makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian
aktif molekul enzim. Akibatnya, kompleks E-S akan sukar terbentuk,
sehingga produk juga makin sedikit (Soewoto, 2000).
b. Pengaruh pH
Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Jika dilakukan
pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang
berlainan, sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan
aktivitas maksimum antara pH 5,0 sampai 9,0. Kecepatan reaksi
enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. Ada enzim yang
mempunyai pH optimum yang sangat rendah, seperti pepsin, yang
mempunyai pH optimum 2. pada pH yang jauh di luar pH optimum,
enzim akan terdenaturasi. Selain itu pada keaadan ini baik enzim
maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang
mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat
(Soewoto, 2000).

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang


sempit umumnya 5-9. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh
dari pH atas kombinasi faktor (1) ikatan dari substrat ke enzim (2)
aktivitas katalik dari enzim (3) ionisasi substrat dan (4) variasi
struktur protein (biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup
tinggi) (Soewoto, 2000).
c. Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim
Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat
keasaman dengan laju reaksi maksimum ini, rentangan pH yang
diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan
bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. Karena tidak ada
sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang
maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa
komponen asam tiap dapar), bukan tidak mengkin ada interaksi
yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan
karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri (Soewoto, 2000).
d. Pengaruh konsentrasi enzim
Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan
reaksi enzimatik. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi
enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. Makin
besar konsentrasi enzim, reaksi makin cepat (Soewoto, 2000).
Semakin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula
produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. Dari
pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim
berbanding lurus dengan kecepatan enzim. Dengan bertambahnya
waktu, pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk
akan menunjukkan defleksi, tidak lagi berbanding lurus sejalan
dengan berlalunya waktu tersebut. Fenomena itu tentu mudah
dimaklumi, karena setelah selang beberapa waktu, jumlah substrat
yang tersedia sudah mulai berkurang, sehingga dengan sendirinya
produk olahan enzim juga akan berkurang (Soewoto, 2000).

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

2.2 Uraian Bahan


1. Amilum (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : AMYLUM
Nama lain : Amilum
Rumus molekul : C6H20O10.H2O
Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk halus; kadang-kadang berupa gumpalan


kecil; tidak berbau; tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam
etanol (95%) P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Di temapat sejuk dan
kering
Kegunaan : Sebagai sampel
2. Aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air Suling
Rumus molekul : H2O
Rumus struktur :

Berat molekul : 18,02


Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau dan tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pelarut
3. Asam asetat (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM
Nama lain : Asam Asetat
Berat Molekul : 60

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

Rumus Molekul : CH3COOH


Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa
asam, tajam.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan etanol
(95%) P dan dengan gliserol P
Kegunaan : Sebagai pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
4. Iodium (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : IODUM
Nama lain : Iodium
Rumus molekul : I2
Berat molekul : 126,91
Pemerian : Keping atau butir, berat, mengkilap seperti
logam, bau khas.
Kelarutan : Larut dalam kurang lebih 3500 bagian air, dalam
13 bagian etanol (95%), dalam kurang lebih 80
bagian gliserol P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai Indikator
5. NaCl (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : NATRII CHLORIDUM
Nama lain : Natrium Klorida
Rumus molekul : NaCl
Berat molekul : 58,44
Pemerian : Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk
halus putih, tidak berbau dan rasa asin
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air
mendidih dan lebih kurang dalam 10 bagian
gliserol, sukar larut dalam etanol 95% P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

2.3 Prosedur Kerja


a. Pengaruh temperature terhadap keaktifan suatu enzim
1) 4 buah tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan 5 mL
larutan kanji (amilum) 1%
2) Celupkan tabung pertama dalam air es, tabung kedua pada
temperature kamar, tabung ketiga pada air panas 38C
3) Masing-masing tabung tambahkan 2 tetes saliva encer, khusus
tabung keempat, saliva encer yang ditambahkan telah
dipanaskan di air mendidih
4) Pada interval 5 menit, diambil contoh dari masing-masing tabung
dan dites pada pelat tetes. Tentukan kecepatan penguraian
masing-masing contoh.
b. Pengaruh temperature terhadap keaktifan suatu enzim
1) 10 mL larutan buffer masing-masing pH yang tersedia
dimasukkan kesetiap tabung
2) Ke dalam larutan buffer ini masukkan 5 mL larutan kanji 1%, 2
mL NaCl 0,1 M dan 2 mL saliva encer
3) Tempatkan semua tabung dalam penangas air dan tentukan
tabung mana yang lebih dahulu mencapai chromic point
4) Setelah ini tercapai, tambah iodine ke tiap-tiap tabung
5) Tabung dengan larutan buffer pH 8 dan pH 7,4, diasamkan
dengan asam asetat sebelum penambahan iodine

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

BAB 3 METODE KERJA

3.1 Alat Praktikum


Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu gelas
piala berisi air es, pipet tetes, rak tabung, tabung reaksi dan
termometer.
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu
asam asetat, air panas, es batu, iodine 0,01 M, larutan amilum 1%,
larutan buffer pH 5,4; 6,2; 6,8; 7,4; dan 8, larutan kanji 1%, NaCl 0,1
M, serta saliva encer (1:10).
3.3 Cara Kerja
a. Pengaruh Temperatur Terhadap Keaktifan Suatu Enzim
Disiapkan alat dan bahan. 4 buah tabung reaksi yang masing-
masing di isi dengan 5 mL larutan kanji (amilum) 1%. Lalu
dicelupkan tabung pertama dalam air es, tabung kedua pada
temperatur kamar, tabung ketiga pada air panas 38C. Kemudian
masing-masing tabung ditambahkan 2 tetes saliva encer, khusus
tabung keempat, saliva encer yang ditambahkan telah dipastikan di
air mendidih. Setelah itu pada interval 5 menit, diambil contoh dari
masing-masing tabung dan dites pada plat tetes dengan
menambahkan sampel dengan. Setelah itu dihomogenkan dan
dilihat perubahan warna yang terjadi. Kemudian ditentukan
kecepatan penguraian masing-masing contoh.
b. Pengaruh pH Terhadap Keaktifan Suatu Enzim
Disiapkan alat ddan bahan. Kemudian 10 mL larutan buffer
masing-masing pH yang tersedia dimasukkan ke setiap tabung.
Setelah itu, ke dalam larutan buffer ini masukkan 5 mL larutan kanji
1%, 2 mL NaCl 0,1 M dan 2 mL salive encer. Kemudian
ditempatkan semua tabung dalam penangas air dan ditentukan
tabung mana yang lebih dahulu mencapai chromic point. Setelah ini
tercapai, tambah iodine ketiap-tiap tabung. Lalu tabung dengan

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

larutan buffer pH 8 dan pH 7,4 diasamkan dengan asetat sebelum


penambahan iodine.
.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


a. Pengaruh Temperatur Terhadap Keaktifan Enzim
Warna
Waktu Tabung II
Tabung I Tabung III Tabung IV
(menit) (Suhu
(didinginkan) (38oC) ()
Kamar)
Biru tua Ungu
5 Biru tua Biru tua
gelap gelap
Biru
Ungu
10 Ungu gelap Biru tua keunguan
gelap
tua
Ungu tua Ungu
15 Ungu gelap Biru tua
gelap muda
Kuning Ungu tua Ungu
20 Ungu gelap
muda (terong) muda
Merah Ungu
25 Ungu gelap Ungu tua
maroon gelap
Ungu
30 Ungu Ungu tua Merah bata
gelap
Coklat Ungu
35 Ungu muda Coklat
kemerahan gelap
Ungu
40 Coklat tua Coklat tua Coklat
muda
Ungu
45 Coklat Kuning tua -
gelap

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

b. Pengaruh pH Terhadap Keaktifan Enzim


Waktu Warna
(menit) Ph 5,4 pH 6,2 pH 6,8 pH 7,4 pH 8
Kuning
5 Bening Ungu Bening Kuning
tua
Kuning Kuning Kuning
10 Coklat Kuning
tua pucat pucat
Kuning Kuning
15 Kuning Orange Kuning
tua pucat
Kuning Kuning Kuning
20 Kuning Kuning
tua tua pucat
Kuning Kuning Kuning Kuning
25 Kuning
tua pekat pucat pucat
Kuning Kuning Kuning
30 Kuning Kuning
tua pucat pucat
Kuning Kuning Kuning
35 Kuning Kuning
tua pucat pucat
Kuning Kuning Kuning
40 - Kuning
tua tua pucat
Kuning Kuning Kuning
45 - Kuning
tua tua pucat

4.2 Pembahasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzim,
perubahan suhu dan pH mempunyai pengaruh besar terhadap kerja
enzim. Kecepatan reaksi enzim juga dipengaruhi oleh konsentrasi
enzim dan konsentrasi substrat. Pengaruh aktivator, inhibitor, koenzim
dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan juga merupakan
faktor-faktor yang penting.
Adapun pada percobaan ini, sampel yang digunakan adalah
berupa saliva encer (1:10). Disini, kita ingin mengetahui pengaruh

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

suhu dan pH serta mengamati suhu dan pH optimum kerja enzim.


Pada percobaan untuk melihat pengaruh suhu atau temperatur
terhadap keaktifan enzim, disiapkan 4 tabung reaksi yang masing-
masing diisi dengan 5 mL larutan kanji. Pada tabung pertama dilihat
interval waktu (menit) 5 menit selama 45 menit, larutan dicelup dalam
air es selama 5 menit, setelah itu diteteskan saliva encer sebanyak 2
tetes dan iod setetes, terjadi perubahan warna biru tua. Setelah 10,
15, 20, 25 menit kemudian, dimasukkan lagi saliva encer dan iod
setetes ke plat yang berbeda menunjukkan warna ungu gelap. Setelah
30 menit, setiap waktu-waktu tesebut dimasukkan saliva encer dan iod
ke plat tetes menunjukan warna ungu. Setelah 35, 40 dan 45 menit,
dimasukkan saliva encer dan iod ke plat tetes menunjukan warna
secara berurutan yaitu coklat kemerahan, coklat tua dan coklat. Dari
data tersebut dapat dilihat bahwa enzim amilase tidak bekerja karena
tidak mengurai amilum menjadi senyawa yang lebih sederhana. Hal ini
disebabkan karena pendinginan pada saliva yang menyebabkan
inaktivasi pada enzim.
Pada tabung kedua larutan ditempatkan pada suhu atau
temperatur kamar, dengan interval waku yang sama dengan tabung
pertama, pada menit ke-5, 10 dan 15, plat tetes di tetesi sampel
(amilum+saliva) sebanyak 2 tetes dan iod setetes terjadi perubahan
warna yang sama yaitu biru tua. Pada menit ke-20, dimasukkan lagi
sampel ke plat yang berbeda menunjukkan kuning muda. Pada menit
ke-20 dan 25, dimasukkan lagi setetes sampel ke plat yang berbeda,
menunjukkan ungu tua. Pada menit ke-35, berwarna ungu muda,
menit ke-40 berwarna coklat tua dan menit ke-45 berwarna kuning tua.
Yang menandakan jika enzim sudah bekerja maksimal. Dari data
tersebut dapat dilihat bahwa enzim amilase tidak bekerja secara
optimum karena tidak mengurai amilum menjadi senyawa yang lebih
sederhana. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena seharusnya enzim
bekerja optimum pada suhu ruangan dan suhu 38oC.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

Pada tabung ketiga dengan kondisi pada suhu 38 oC, dengan


interval waktu yang tidak berubah, pada waktu 5 menit pertama plat
tetesi sampel (amilum+saliva encer) sebanyak 2 tetes dan iod setetes
menunjukkan warna biru tua gelap, pada menit ke-10 berwarna biru
keunguan tua. Pada enit ke-15 berwarna ungu tua gelap, pada menit
ke-20 berwarna ungu tua terong, pada menit ke-25 berwarna merah
maroon, pada menit ke-30 berwarna merah bata, pada menit ke-35
dan 40 berwarna sama yaitu coklat. Dari data tersebut dapat dilihat
bahwa enzim amilase tidak bekerja secara optimum karena tidak
mengurai amilum menjadi senyawa yang lebih sederhana. Hal ini tidak
sesuai dengan teori karena seharusnya enzim bekerja optimum pada
suhu ruangan dan suhu 38oC.
Pada tabung empat yaitu menggunakan tabung ketiga dengan
kondisi tabung yang dipanaskan, pada waktu 5,10,15,20,25,30,35,40
dan 45 menit, plat tetesi sampel (amilum+saliva encer) sebanyak 2
tetes dan iod setetes menunjukkan warna yang sama yaitu ungu
gelap. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa enzim amilase tidak
bekerja karena tidak mengurai amilum menjadi senyawa yang lebih
sederhana. Hal ini disebabkan oleh pemanasan saliva terlebih dahulu
yang menyebabkan denaturasi terhadap enzim.
Enzim membutuhkan suhu yang cocok agar dapat bekerja
dengan baik. Laju reaksi biokimia meningkat seiring kenaikan suhu.
Pada suhu yang lebih rendah penyebab kurangnya laju reaksi
enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik, yang menyebabkan
kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat.
Sedangkan pada suhu yang tinggi menyebabkan meningkat laju
reaksi enzimatik karena tumbukan antara molekul enzim dan substrat
meningkat.
Selain percobaan untuk melihat pengaruh temperature atau suhu
terhadap keaktifan suatu enzim, dilakukan juga percobaan untuk
melihat pengaruh pH terhadap keaktifan suatu enzim pada pH 5,4;

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

6,2; 6,8; 7,4; dan 8. Pada pengujian ini di masukkan larutan buffer
pada masing-masing pH diamati setelah penambahan larutan buffer,
larutan kanji, NaCl dan saliva encer kemudian dipanaskan .
Pada tabung pertama dengan pH 5,4 diamati setelah 5 menit, 2
tetes larutan dimasukan ke plat tetes lalu ditambahkan 1-2 tetes iod
menunjukkan warna kuning tua. Begitupun pada menit ke-10,15, 20,
25, 30, 35, 40 dan 45 semuanya menghasilkan warna yang sama.
Dari data tersebut dapat dilihat semuanya menghasilkan warna yang
sama yaitu kuning tua yang kemungkinan merupakan warna dari
iodine itu sendiri, yang menandakan bahwa amilase telah bekerja
secara optimum untuk merombak amilum pada pH ini.
Pada tabung kedua dengan pH 6,2 diamati setelah 5 menit, 2
tetes larutan dimasukan ke plat tetes lalu ditambahkan 1-2 tetes iod
menunjukkan warna bening. Setelah menit ke-10, 15, 20, 25, 30 dan
35 menunjukkan warna kuning yang berbeda-beda. Dari data tersebut
dapat dilihat semuanya menghasilkan warna yang sama yaitu kuning
yang bervariasi yang kemungkinan merupakan warna dari iodine itu
sendiri, yang menandakan bahwa amilase telah bekerja secara
optimum untuk merombak amilum pada pH ini.
Pada tabung ketiga dengan pH 6,8 diamati setelah 5 menit, 2
tetes larutan dimasukan ke plat tetes lalu ditambahkan 1-2 tetes iod
menunjukkan warna ungu. Setelah 10 menit, menunjukan warna
coklat. Setelah 15 menit, menunjukkan warna orange. Setelah 20, 25,
30, 35, 40 dan 45 menit menunjukkan warna kuning. Dari data
tersebut dapat dilihat menghasilkan warna yang berbeda pada menit
pertama yang menandakan amilase belum bekerja untuk merombak
amilum. Sedangkan pada mulai dari menit 20-45 berubah warna
menjadi kuning yang kemungkinan merupakan warna dari iodine itu
sendiri, yang menandakan bahwa amilase telah bekerja secara
optimum untuk merombak amilum pada pH ini.
Pada tabung keempat dengan pH 7,4 diamati setelah 5 menit, 2

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

tetes larutan dimasukan ke plat tetes lalu ditambahkan 1-2 tetes iod
menunjukkan warna bening. Setelah menit Setelah menit ke-10, 15,
20, 25, 30, 35, 40 dan 45 menunjukkan warna kuning pucat. Dari data
tersebut dapat dilihat semuanya menghasilkan warna yang sama yaitu
kuning pucat yang kemungkinan merupakan warna dari iodine itu
sendiri, yang menandakan bahwa amilase telah bekerja secara
optimum untuk merombak amilum pada pH ini.
Pada tabung 5 dengan pH 8, penetesan larutan dan
penambahan 1-2 tetes iod pada plat tetes setelah 5, 10, 15, 20, 25,
30, 35, 40 dan 45 menit menunjukkan warna yang sama yaitu kuning.
Dari data tersebut dapat dilihat semuanya menghasilkan warna yang
sama yaitu kuning pucat yang kemungkinan merupakan warna dari
iodine itu sendiri, yang menandakan bahwa amilase telah bekerja
secara optimum untuk merombak amilum pada pH ini.
Berdasarkan teori yang ada, tinggi-rendahnya pH dapat
mempengaruhi struktur ion pada enzim, serta menyebabkan terjadinya
proses denaturasi sehingga mengakibatkan menurunnya aktivitas
enzim. Ada suatu pH tertentu yang menyebabkan kecepatan reaksi
paling tinggi, dan pH tersebut dinamakan pH optimum.Setiap enzim
memiliki pH optimum yang berbeda-beda (sekitar 6-8).Pada saliva pH-
nya umum dibawah 7. Larutan iodium di sini berfungsi menentukan
jumlah miligram gula yang terbentuk dari beberapa reaksi yang
menggunakan enzim amilase pada berbagai harga pH dan amilum
sebagai substratnya. Dari situ, dapat diketahui berapa pH optimumnya
ditandai dengan perubahan warna larutan amilum menjadi biru
(bereaksi positif).
Alasan penambahan NaCl dilakukan berdasarkan prinsip
homeostatis cairan tubuh, karena di sesuaikan dengan cairan tubuh
kita. Cairan tubuh kita bersifat garam, oleh karena itu dipakailah NaCl
yang merupakan garam disebut juga larutan fisiologis tubuh. Jika tidak
sesuai, harus ditambah NaCl lagi agar sama dengan cairan tubuh kita.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

Penambahan asam asetat pada larutan substrat ini sebagai


pemberi elektrolit Cl- agar aktivitas dari ptyalin meningkat.
Adapun perbedaan hasil yang didapatkan dengan teori yang
ada, khusunya pada percobaan pengaruh suhu yang banyak terdapat
ketidak sesuaian data disebabkan oleh beberapa faktor kesalahan
antara lain besarnya konsentrasi substrat yang tidak sebanding
dengan konsentrasi enzim atau konsentrasi enzim yang terlalu encer.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu enzim
bekerja secara optimum pada suhu kamar dan suhu 38 oC tetapi tidak
didapatkan data yang sesuaI dikarenakan faktor kesalahan
Pada percobaan pengaruh pH terhadap kektifan enzim, enzim
amilase dapat bekerja optimum pada pH 5,4-8.
5.2 Saran
Sebaiknya untuk pemanasan sampel benar-benar menggunakan
penangas air agar suhunya dapat lebih mudah dikontrol.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017., Penuntun dan Laporan Praktikum Biokimia Umum.


Universitas Muslim Indonesia : Makassar.

Ditjen POM., 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Aldi, 2010, Enzim II Pengaruh Suhu Pada Amilase Air Liur, Pengaruh pH
Pada Aktivitas Amilase Air Liur, Hidrolisis Pati Oleh Amilase Air
Liur, Dan Hidrolisis Pati Mentah Oleh Amilase Air Liur.
Campbel. 2000. Biologi. Erlangga : Jakarta.

Hart. 2003. Biokimia Enzim. Widya Medika : Jakarta.

Poedjiadi. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press : Jakarta.


Sadikin. 2002. Biokimia Enzim. Widya Medika : Jakarta.

Soewoto, Hafiz. dkk., 2000. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Widya


Medika : Jakarta.
Wirahadikusuma, M., 2008. Biokimia Protein Enzim dan Asam Nukleat.
ITB Press : Jakarta.

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

LAMPIRAN

Lampiran I. Gambar Hasil Praktikum

Suhu 0oC Suhu ruangan Suhu 38oC

Dgn saliva yg dipanaskan pH 5,4 pH 6,8

pH 7,8 pH 8

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

Lampiran II. Skema Kerja


a. Pengaruh Temperatur

1 2 3 4

+ 5 mL larutan kanji

+ 2 tetes Saliva encer (1 : 10)

Didinginkan Dipanaskan
air es suhu dengan air
0C panas suhu
38C

Dibiarkan Dipanaskan
di suhu sampai
ruang mendidih
suhu 100C

Dibiarkan selama 5 menit

Diambil beberapa tetes sampel


+ iodium 0,01 M

Diamati warnanya

5 menit 40 menit (interval 5 menit)


diamati perubahan warna

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159
PENGARUH TEMPERATUR & pH TERHADAP KEAKTIFAN
ENZIM

b. Pengaruh pH

pH 8 7,4 6,8 6,2 5,4

+ 0,5 mL
CH3COO + 2,5 mL larutan dapar (masing-masing tabung)
H 0,1 M + 2,5 mL larutan kanji 1%
+ 1 ml NaCL 0,1 M
+ 1 mL saliva encer (1 : 10)

Dimasukkan kedalam penangas air

Tabung yang mencapai chromic point

+ iodium 0,01 M 5 tetes

Amati perubahan warna dari 5 menit 40 menit (tiap interval 5 menit)

AYUFIYAH IRMAYANI SAAD


15020160159