Anda di halaman 1dari 21

PENGENALAN GEJALA DAN TANDA PENYAKIT TANAMAN

HORTIKULTURA
(Laporan Praktikum Bioekologi Penyakit Tumbuhan)

Oleh

Adha Maulana
1614121021
Kelompok II

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gejala dan penyebab penyakit pada tanaman adalah salah satu komponen penting
yang harus diketahui petani, karena penyakit pada tumbuhan berpengaruh penting
terhadap pertumbuhan tanaman serta hasil akhir dari tumbuhan tersebut, saat ini
pada tanaman khususnya tanaman hortikultura sudah mulai terserang penyakit-
penyakit yang membahayakan baik pertumbuhan, perkembangan maupun hasil
akhir tanaman itu sendiri.

Contohnya salah satu penyakit pada tanaman hortikultura adalah antraknosa pada
cabai yang menimbulkan gejala bintik bintik pada buah cabai, hitam dibagian
tengahnya, awalnya bintik berwarna kuning lalu kemudian membesar dan
memanjang dibagian tengahnya. Kemudian ada contoh lain yaitu layu bakteri
pada pisang, penyakit ini disebabkan oleh bakteri pseudomonas solanacearum
bakteri ini dapat bertahan lama didalam tanah, dan sampai saat ini belum ada
faietas yang mampu bertahan hidup dengan penyakit ini. Gejalan pada tanamanya
daun menjadi menguning jika batang pisang di belah maka akan mengeluarkan
lendir berwarna putih kecoklatan.

2.1. Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini adalah untuk:

1. Mengetahui jenis penyakit penting tanaman hortikukltura.


2. Mengetahui gejala dan tanda penyakit pada tanaman hortikultura.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa penelitian dalam pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman


pisang sudah dirintis dengan beberapa cara antara lain : Program pengendalian
terpadu berupa kultur teknis dan pengendalian kimiawi, mencegah penularan
penyakit dengan cara pembungkusan buah sehingga terlindungi dari serangga
pengunjung bunga dan sterilisasi alat-alat pertanian yang akan digunakan dengan
larutan desinfekta, Penggunaan bibit pisang yang sehat dan bebas penyakit seperti
bibit hasil kultur jaringan. Penggunaan agen hayati (Rivai dan Habazar 2002).
Imunisasi tanaman pisang dengan Pseudomonas fluorescens dapat menimbulkan
ketahanan terhadap serangan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum.
(Kasfar F, 2006).

Gejala serangan cendawan Fusarium oxysporum pada tanaman pisang terlihat


pada tepi daun-daun bawah berwarna kuning tua, yang lalu menjadi coklat dan
mengering. Tangkai daun patah disekeliling batang palsu.
Gejala dalam yang dimiliki jamur ini adalah jika pangkal batang dibelah
membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju ke semua arah, dari
batang ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai.
Perubahan warna pada berkas pembuluh paling jelas tampak dalam batang.
Usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit ini
ialah Tidak menanam jenis pisang yang rentan terinfeksi patogen, menanam
bibit yang sehat dari tanaman yang bebas penyakit,pemeliharaan dengan hati-
hati untuk menghindari pelukaan pada tanaman, mengendalikan hama nematoda
yang mampu menyebabkan luka pada tanaman, Penggunaan agen antagonis,
jenis agens antagonis yaitu; Gliocladium sp, Fusarium oxysporium avirulen,
Trichoderma harzianum (Semangun,2004).
Tomat adalah tanaman yang paling mudah dijumpai. Warnanya yang cerah
sungguh menarik. Selain kaya vitamin C dan A, tomat konon dapat mengobati
bermacam penyakit. Kalau dirunut sejarahnya, tomat atau Lyopercisum
esculentum pada mulanya ditemukan di sekitar Peru, Ekuador dan Bolivia. Tomat
juga banyak digunakan untuk masakan, seperti sup, jus, pasta, dllnya. Rasanya
yang sedikit asam bahkan membuat selera makan meningkat. Lebih jauh menurut
penelitian DR. John Cook Bennet dari Wiloughby University, Ohio, sebagai orang
pertama yang meneliti manfaat tomat, pada November 1834, menunjukkan bahwa
tomat dapat mengobati diare, serangan empedu,gangguan pencernaan dan
memulihkan fungsi lever. Peneliti lain dari Rowett Research Institute di
Aberdeen, Skotlandia, juga berhasil menemukan manfaat tomat lainnya.
Menurutnya, gel berwarna kuning yang menyelubungi biji tomat dapat mencegah
penggumpalan dan pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung
dan stroke (Anonim, 2010).

Pengendalian dalam penyakit kerdil pisang ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara yaitu Jangan membawa tanaman pisang atau Heliconia keluar dari daerah
yang terjangkit kerdil pisang, penanaman diamati dan diperhatikan gejala-gejala
awal pada daun. Tanaman yang sakit dibongkar bersih dan dicincang menjadi
potongan-potongan kecil agar tidak ada tunas atau bagian yang dapt hidup terus,
hanya mengambil bibit dari tanaman yang sehat., dianjurkan juga dengan
menyemprot insektisida untuk membasmi kutu daun (Choirul, R. 2014).

Pengendalian yang dapat di lakukan apabila tanama tomat terserang layu fusarium
adalah Penanaman varietas yang tahan. Dikebanyakan negara penghasil tomat
satu satunya cara pengendalian penyakit layu fusarium adalah dengan penanaman
varietas varietas tomat yang tahan, Pemakaian fungisida . Beberapa usaha untuk
mengendalikan penyakit dengan fungisida tidak memberikan hasil yang
memuakan. Tetapi dengan pencelupan akar kedalam benomil 1.000 ppm, atau
senyawa benziminazol dan sebangsanya, memberikan hasil yang baik, asal
fungisida diberikan sebelum terjadinya infeksi, .mencegah infestasi tanah. Karena
tanah yang erinfestasi sukar dibebaskan dari fusarium , usaha higieni sangat
penting. Alat pertanian yang habis dipakai dilahan yang terinfestasi dapat di-
desinfestasi dengan formalin 5%. harus diusahakan agar tidak menanam bibit
(beserta tanah) dari persemaian yan teronfestasi. Tidak menanam benih (biji) yang
di ambil dari buah tanaman sakit, perlakuan tanah . Untuk membebaskan tanah
dari fusarium dapat di perlakukan perlakuan tanah (soil treatment), misalnya
dengan uap panas atau fumigasi dengan metilbromida,kloropikrin, atau
metanatrium (metham-sodium), atau desinfestan tanah lain yang tidak selktip.
Dengan sendirinya ini hanya dapat dilakukan untuk tanah rumah kaca atau
persemaian. Usaha untuk mengendalikan penyakit dengan meningkatkan suhu
tanah dngan lembaran plastik (solarisasi) memberikan banyak hrapan. Namun
cara ini masih memerlukan banyak penelitian agar dapat dianjurkan dalam
peraktek (Anonim,2015).

Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bercak daun


pisang ini dilakukan dengan berbagai cara yaitu tidak menanam pisang secar
komersil pada lahan yang miskin hara, melakukan pemupukan berimbang, sesuai
anjuran setempat, cara sanitasi/eradikasi yaitu Sanitasi sumber infeksi berupa
daun-daun mati/sakit, dipotong-potong lalu dibakar. melakukan penyemprotan
menggunakan fungisida Mankozeb (Dithane M-45) atau Propineb(Antracol)
(Anonim, 2013).
. III. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis, mikroskop
majemuk, kaca preparat, dan jarum pentul.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah air dan bagian tanaman yang
menunjukkan gejala baik preparat ataupun foto.

3.2. Prosedur Kerja

Pada praktikum kali ini terdapat dua pengamatan berbeda yaitu dengan prosedur
kerja sebagai berikut:

1. Pengamatan makroskopis, langkah pertama pada pengamatan ini adalah diamati


dan digambar gejala penyakit tanaman yang ada, kemudian ditulis nama penyakit
dan pathogen penyebabnya.

2. Pengamatan mikroskopis, pada pengamatan ini langkah pertama adalah diamati


gejala penyakit dibawah mikroskop, lalu diteteskan air diatas bagian tanaman
yang bergejala dan dikorek dengan menggunakan jarum, kemudian air/suspense
tersebut diambil menggunakan pipet tetes. Setelah itu suspense tersebut diletakkan
diatas kaca preparat lalu ditutup dengan cover glass lalu diamati dibawah
mikroskop. Kemudian diamati bentuk spora atau hifa dan digambar/difoto.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil pengamatan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

No Nama Penyakit Gambar


. Patogen
Makroskopis Mikroskopis

1. Busuk pada kubis


(Erwina caratovora)

2. Antraknosa cabai
(Collectricum sp)

3. Virus keriting Cabai


(Gemini virus)
4. Kudis buah jeruk
(Sphaceloma fawcetti
jektis)

5. Layu Fusarium
(Fusarium oxyporum)

6. Bercak cercospora
(Mycosphaerella
musicola mulder)

7. Bercak daun cordana


(Cordana muscae)

8. Penyakit Kerjdil pada


Pisang (Banana Bunchy
top virus)

4.2 Pembahasan

1. Bercak Cercospora (Mycosphaerella musicola mulder)

Penyakit bercak daun cercospora yang dikenal juga dengan naman penyakit
Sigatoka ditemukan pertama kali di Jawa. Gejala yang terlihat saat pengamatan di
praktikum adalah ada bercak cokelat di permukaan daun, daun tidak berwarna
hijau segar melainkan berwarna hijau kekuning-kuningan. Secara jelas gejala
yang ditimbulkan adalah pertama tampak jelas pada daun ke-3 dan daun ke-4 dari
puncak sebagai bintik-bintik memanjang, berwarna kuning pucat atau hijau
kecokelatan, arahnya sejajar dengan tulang daun. Sebagian dari bercak tersebut
menjadi bercak, berwarna cokelat tua sampai hitam, jorong atau bulat panjang.
Pada daun yang lebih tua pusat bercak daun mengering, berwarna kelabu muda
dengan tepi berwarna cokelat gelap, yang dikelilingi oleh halo berwarna kuning
cerah. Pada pusat bercak yang berwarna kelabu sering terdapat titik-titik hitam
yang terdiri atas sporodokium jamur yang menghasilkan banyak konidium.
Pada umunya penyakit tidak mematikan tanaman, tetapi penyakit menyebabkan
daun pisang lebih cepat mongering, sehingga jumlah daun berkurang dari jumlah
yang diinginkan. Tanaman pisang memerlukan banyak daun untuk pengisian buah
dan pembentukan anakan. Jika jumlah daun berkurang maka pembentukan buah
akan terhambat dan buah-buah mempunyai kualitas yang kurang baik. Penyakit
daoat menyebabkan buah masak sebelum waktunya.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Mycosphaerella musicola yang biasa dikenal
juga dengan sebutan Cercospora musae. Jamur lebih sering membentuk konidium
di atas permukaan daun. Konidiofor membentuk berkas yang rapat, cokelat pucat,
lurus atau agak bengkok, jarang bercabang, tidak bersekat, tidak mempunyai
bengkokan seperti lutut, menyipit ke ujung, tidak memiliki berkas konidium.
Konidium cokelat pucat, berbentuk tabung bengkok, ujungnya tumpul atau
membulat, hilum pangkalnya tidak menebal.

Siklus Hidup

Pada daur penyakit bercak daun cercospora dipencarkan oleh konidium dan
askospora. Infeksi oleh konidium menyebabkan bercak-bercak yang lebih terdapat
pada pangkal daun, dan sering teratur pada garis lurus. Askospora yang
menyebabkan bercak tersebar atau berbentuk coreng dan lebih terdapat pada
ujung dan tepi daun. Askospora dan konidium keduanya disebarkan oleh percikan
dan lelehan air, angin kurang berperan. Infeksi oleh pembuluh kecambah terjadi
melalui mulut kulit sisi bawah daun. Infeksi biasanya terjadi pada daun pupus
yang masih menggulung atau daun pertama yang telah membuka.
Factor yang mempengaruhi penyakit adalah faktor cuaca, penyakit kurang
terdapat pada tanaman pisang yang tumbuh di tempat yang teduh, tetapi keadaan
teduh ini mengurangi hasil buah. Pembentukan, pelepasan, dan perkecambahan
kedua spora tergantung pada adanya air bebas dan suhu. Penyakit lebih sering di
tanah masam yang kurang subur. Hampir semua varietas pisang rentan terhadap
bercak daun cercospora tetapi yang sangat rentan adalh jenis pisang ambon dan
nangka.
Pengelolaan untuk penyakit bercak daun cercospora ini adalah:
1. Tidak mengusahakan pisang secara komersial dilahan yang kesuburan tanahnya
kurang. Kesuburan tanah harus dipertahankan dengan pemupukan yang tepat.
2. Daun-daun yang mati disekelil;ing pohon harus dipotong dan dibakar untuk
mengurangi sumber infeksi.
3. Tanaman juga dapat disemprot dengan mankozep atau propineb jika perlu.

2. Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici)

Penyakit ini disebabkan oleh patogen jamur Collectotricum capsici. Gejala


serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna
kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang
terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan
kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan
rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi
lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk
kering warna cokelat kehitam-hitaman (Purba, 1993)

Penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai
karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim
hujan, cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan
sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 % dengan
suhu 32 derajat celcius. Penyakit antraknosa juga menyerang tanaman cabe yang
ditanam pada lahan dengan drainase yang tidak dikelola dengan baik, sehingga
banyak genangan air di sekitar tanaman.

Biasanya cendawan C. capsici menyerang tanaman dengan menginfeksi jaringan


buah dan membentuk bercak cokelat kehitaman yang kemudian meluas menjadi
busuk lunak. Serangan yang berat menyebabkan buah mengering dan keriput
seperti jerami. Pada bagian tengah bercak yang mengering terlihat kumpulan
titik-titik hitam dari koloni cendawan.

Siklus Hidup

Pertumbuhan awal cendawan Colletotrichum capsici membentuk koloni miselium


yang berwarna putih dengan miselium yang timbul di permukaan. Miselium
terdiri dari beberapa septa, inter dan intraseluler hifa. Kemudian secara perlahan-
lahan miselium berubah menjadi hitam dan akhirnya berbentuk aservulus.
Aservulus dan stroma pada batang berbentuk hemispirakel dan ukuran 70-120
m. Seta menyebar, berwarna coklat gelap sampai coklat muda, serta terdiri dari
beberapa septa dan ukuran +150 m. Aservulus ditutupi oleh warna merah muda
sampai coklat muda yang sebetulnya adalah massa konidia. Konidia berada pada
ujung konidiofor. Konidia berbentuk hialin, uniseluler, ukuran 17-18 x 3-4 m.
Konidia dapat berkecambah pada permukaan buah yang hijau atau merah tua.
Tabung kecambah akan segera membentuk apresorium. (Purba, 1993)

3. Penyakit Kuning (Gemini virus)

Penyakit Kuning pada cabai ini disebabkan oleh Gemini virus yang disebarkan
oleh vektor Kutu Kebul (Bemisia tabaci). Gejalanya berupa helai daun yang
mengalami perubahan warna dengan bagian tulang daun memutih (vein clearing),
lalu gejala akan berkembang menjadi warna kuning, bagian tulang daun menebal,
dan daun mengeriting ke arah atas.Infeksi lebih lanjut menyebabkan daun-daun
mengecil dan berwarna kuning terang. Jika tanaman terserang pada umur muda,
biasanya tanaman menjadi kerdil dan tidak berbuah.

Penyakit yang disebabkan oleh virus memang relatif sulit dikendalikan dan hingga
saat ini belum ada pestisida yang dapat mematikan virus, sehingga tindakan yang
paling tepat adalah upaya pencegahan.

Penyakit yang disebabkan oleh virus gemini tidak ditularkan karena tanaman
bersinggungan atau terbawa benih. Di lapangan virus ditularkan oleh kutu kebul
Bemisia tabaci atau Bemisia argentifolia. Kutu kebul dewasa yang mengandung
virus dapat menularkan virus selama hidupnya pada waktu dia makan pada
tanaman sehat. Satu kutu kebul cukup untuk menularkan virus. Efisiensi
penularan meningkat dengan bertambahnya jumlah serangga per tanaman. Sifat
kutu kebul yang mampu makan pada banyak jenis tanaman (polifagus)
menyebabkan virus ini menyebar dan menular lebih luas berbagai jenis tanaman.
Selain itu, virus gemini memiliki tanaman inang yang luas dari berbagai tanaman
seperti: ageratum, buncis, kedelai, tomat, tembakau, dll (Aqilah, A.R., 2011).

Siklus Hidup
Umumnya tahapan perkembangan kutu kebul dimulai dari stadia telur menjadi
crawler atau nimfa 1 lalu menjadi nimfa instar 2, 3 dan 4 yang disebut juga pupa.
Akhirnya menjadi serangga dewasa atau imago. Siklus hidup Bemisia tabaci, dari
telur menjadi imago berlangsung selama 25 hari.

Lama stadium telur rata-rata 5,8 hari. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari. Periode
makan kutu kebul selama 30 menit dan masa inkubasi dalam serangan antara 10-
11 hari tergantung kondisi lingkungan/ekosistem hama tersebut. Sedangkan masa
inkubasi dalam tanaman 10-20 hari. Nimfa menjadi imago selama 2-3 minggu,
sedangkan imago dapat hidup selama 6 hari dan menghasilkan 30 telur.

Telur biasanya diletakkan di permukaan bawah daun, pada daun teratas (pucuk).
Serangga betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi virus mosaik kuning
sebagai tempat meletakkan telur dari pada daun sehat.

4. Penyakit Kerdil (Banana bunchy top virus)

Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh Banana Bunchy Top Virus (BBTV).
Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan
tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang
daun terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman semakin tua,
pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke
atas, tanaman menjadi kerdil.

Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui vektor Pentalonia


negronervosa. Gejalanya adalah daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih
sempit dan tangkainya lebih pendek dari yang normal, daun menguning sepanjang
tepi lalu mengering, daun menjadi rapuh dan mudah patah, Tanaman terlambat
pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsunya.
Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan sanitasi kebun
dengan membersihkan tanaman inang seperti abaca (Musa textiles),Heliconia spp
danCanna spp, pembongkaran rumpun sakit, lalu dipotong kecil-kecil agar tidak
ada tunas yang hidup. Cara lain adalah dengan menggunakan insektisida sistemik
untuk mengendalikan vektor terutama di pesemaian. (Semangun, 1996).

Siklus Hidup

Kerdil pisang dipencarkan oleh bagian tanaman dan kutu daun. Sering anakan
tidak menampakan gejala pada saat di tanama, namun tunas-tunas akan terinfeksi
setelah muncul kutu daun yang sangat menyukai daun muda. Kutu daun terbawa
oleh para pekerja atau karena tertiup angin. Setelah di nokulasi oleh kutu daun,
virus mengalir bersama cairan tanaman turun ke batang (bonggol) kemudian ke
anakan. Tanaman inang lainnya; keladi, bunga tasbih, lengkuas, pacing, temu-
temuan, helikonia, dan pisang liar (Sukamto 1998).

5. Layu Fusarium Pisang (Fusarium oxysporum)

Penyakit layu bakteri ini dikenal karena membuat produksi hasil tanaman pisang
menurun sehingga pendapatan petani penanam singkong menurun. Gejala yang
terlihat pada buah yang terkena penyakit jika hanya dilihat dari kulit luarnya tidak
terlihat seperti buah yang terkena penyakit. Jika buah pisang yang berpenyakit ini
dipotong, maka akan keluar lendir dari dalam buah seperti warna darah (penyakit
ini juga disebut sebagai penyakit darah), tempat keluarnya lender tersebut seperti
beintik-bintik atau bercak dalam buahnya. Biasanya pohon yang terkena penyakit
ini akan tumbang sebelum buahnya matang di pohon.
Secara jelas, biasanya gejala pada tajuk (mahkota) baru tampak setelah timbulnya
tanda buah. Awalnya satu daun muda biasanya yang nomor 3 atau 4 dari yang
termuda) berubah warna tanoa menunjukan perubahan-perubahan lain. Dari ibu
tulang daun keluarlah garis-garis cokelat kekuningan ke tepi daun. Keadaan
seperti ini dapat berlangsung lama sampai buah tampak hamper menyelesaikan
proses pemasakannya. Tetapi dengan cepat keadaan berubah menjadi kritis.
Dalam waktu satu minggu semua daun dapat menguning dan dalam jangka
beberapa hari daun-daun tadi menjadi cokelat. Pada buah gejala juga tampak
lambat, umumnya pada saat buah akan menyelesaikan proses pemasakannya.
Buah seperti dipanggang berwarna kuning cakelat, melorot, dan busuk. Jika akar
tinggal atau batang tanaman sakit dipotong, keluarlah cairan kental yang berwarna
kemerahan dari berkas pengangkutan.
Pada buah juga mengalami perubahan yang khas, mula-mula berkas pembuluh
berwarna kuning atau cokelat. Perubahan ini akan meluas ke parenkim dan
plasenta buah, bahkan ke berkas pembuluh kulit buah. Sel-sel yang sakit banyak
mengandung bakteri. Setelah itu seluruh buah akan terserang, menguning dan
isinya terlarut sedikit demi sedikit. Didalam buah (yang biasanya terisi daging),
sekarang terisi lender berwarna merah kecokelatan, ymengandung banyak banyak
bakteri. Pada varietas yang rentan terhadap penyakit atau keadaan sangat tidak
menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, gejala luar akan terlihat daun pupus
pertumbuhanya akan sangat lambat atau berhenti. Upih daun atau batang palsu
yang sebelah luar terbelah-belah membujur. Daun lebih capat rusak, layu, dan
mongering.
Banyak bakteri yang disebutkan sebagai penyebab penyakit layu bakteri. Sebagai
contoh adalah bakteri Bacilus musae dan Pseudomonas solanacearum. Tetapi
telah dibuktikan bahwa kedua bakteri tersebut sangat mirip sehingga sekarang
bakteri Bacilus musae dimasukan kedalam bakteri Pseudomonas solanacearum.
Pseudomonas solanacearum dibagi menjadi tiga ras utama berdasarkan tanaman
inangnay, yang pertama bakteri yang dapat menyerang terung-terungan dan
tanaman-tanaman lain. Kedua, ras yang dapat menyerang pisang dan Heliconia.
Ketiga, ras yang dapat menyerang kentang.

Siklus Hidup
Dalam daur penyakit layu bakteri ini, bakteri dapat bertahan dalam tanah dengan
mempertahankan virulensinyaselama peling sedikit satu tahun. Diperkirakan di
dalam akar-akar busuk bakteri dapat bertahan lama lagi. Bakteri dapat terbawa
tanah yang hanyut oleh air. Dari dalam tanah, bakteri dapat menginfeksi akar-
akar, akar tinggal pisang, dan batang pisang melalui luka-luka. Penyakit juga
dapat menular melalui parang yang digunakan untuk menebang pohon pisang
yang berpenyakit. Dari batang yang telah ditebang bakteri menular ke tanaman-
tanaman dan tunas-tunas lain dalam rumpun itu. Infeksi melalui parang juga dapat
terjadi pada saat membersihkan batang, memotong bunga jantan, dan memotong
anakan pisang. Penyakit dapat menyebar karena pemakaian tunas dari rumpun
yang sakit sebagai tunas. Penyakit dapat menular dari udara dan menginfeksi
buah. Penularan tersebut dapat dilakukan oleh serangga. Bakteri yang terbawa ke
kepala putik pada saat pembuahan dapat mencapai buah melalui saluran tangkai
putik.
Perkembangan gejala dipengaruhi oleh umur tanaman pada saat terjadinya infeksi
dan keadaan lingkungan sekitar. Penyakit akan lebih berkembang pada tanaman
yang masih muda dan dibantu oleh suhu yang tinggi. Jika kelembaban tanah
tinggi, bakteri akan tahan lebib lama dalam tanah. Sedangkan kelebihan air akan
membantu penyebaran bakteri secara bersama-sama dengan tanah yang hanyut.

6. Bercak Daun Cordana (Cordana muscae)

Gejala pertama tampak jelas pada daun ke-3 dan ke-4 dari pucuk sebagai bintik-
bintik memanjang, berwarna kuning pucat dengan ukuran panjang 1-2 mm atau
lebih, arahnya sejajar dengan tulang daun. Sebagian dari bintik-bintik tersebut
berkembang menjadi bercak berwarna coklat tua sampai hitam, jorong atau bulat
panjang, yang panjangnya 1 cm atau lebih, lebarnya kurang dari sepertiga
panjangnya. Pada daun yang lebih tua pusat becaknya mengering, berwarna
kelabu mudah dengan tepinya berwarna coklat tua dan dikelilingi oleh halo
berwarna kuning cerah. Penyakit ini tidak mematikan tanaman. Tetapi
menyebabkan daun lebih cepat kering dan mengganggu proses pengisian buah dan
pembentukan anakan. Penyakit ini juga menyebabkan buah masak sebelum
waktunya.

7. Kudis Buah Jeruk (Sphaceloma fawcetti jektis)


Gejala kudis bisa terjadi pada daun, ranting & buah. Pada tanaman rentan gejala
kudis menyerupai bintil - bintil kecil agak menonjol berwarna kuning atau orange.
Kemudian bintil - bintil ni berubah menjadi coklat kelabu, bersatu, keras &
bergabus membentuk kerak. Pada daun, gejala kudis terbisa pada bagian bawah
permukaan daun & kadang-kadang bisa dijumpai pada bagian atasnya. Daun
terserang berkerut & gugur. Buah - buah terserang terhambat pertumbuhannya &
sering mengalami malformasi.

Siklus Hidup
Aservulus cendawan ni bisa terpisah - pisah atau bersatu, & agak bulat.
Konidiofor berbentuk tabung, dgnujung meruncing, warna hialin, kemudian
menjadi agak keruh & bersekat 1 berwarna gelap.
Patogen bisa bertahan pada daun, & ranting tanaman terinfeksi. Spora cendawan
bisa disebarkan olh percikan air hujan, tetesan embun, angin, & serangga. Daun &
buah masih muda sangat mudah terinfeksi patogen ini.

8. Busuk pada Kubis (Erwina caratovora)

Bakteri Erwinia carotovora pv.carotovora adalah menyebabkan pembusukan buah


dan sayur. Hal ini dapat dikendalikan dengan cara menjaga kebersihan kebun dari
sisa-sisa tanaman sakit, menanam dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat
supaya kelembapan tidak tinggi.
Ciri dari gejala yang ditimbulkan adalah batang yang terserang busuk, basah, dan
mengeluarkan bau tak enak. Penyakit yang berbahaya ini belum ditemukan cara
pengendaliannya yang tuntas. Pergiliran tanaman diharapkan dapat memutus daur
hidup penyakit. Begitu pula pemeliharaan lahan sayuran agar tidak kotor atau
terlalu lembap.

Siklus Hidup
Pada umumnya iinfeksi terjadi melalui luka atau lentisel. Infeksi dapat terjadi
melalui luka-luka karena gigitan serangga atau karena alat-alat pertanian. Larva
dan Imago lalat buah dapat menularkan bakteri, karena serangga ini membuat luka
dan mengandung bakteri dalam tubuhnya. Di dalam simpanan dan pengangkutan
infeksi terjadi melalui luka karena gesekan, dan sentuhan antara bagian tanaman
yang sehat dengan yang sakit.
V. KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :


1. Gejala dan tanda penyakit dari tanaman hortikultura berbeda-beda tergantung
pada patogen yang menyerangnya.
2. Spesimen penyakit yang kami gunakan dalam praktikum ini adalah layu
fusarium pisang, antraknosa cabai, virus keriting cabai, kudis buah jeruk, busuk
pada buah kubis, bercak cercospora, bercak daun cordana, dan bunchy top
virus.
3. Setiap tanaman yang berpenyakit memiliki berbagai cara untuk menanganinya,
tetapi menjaga kesterilan alat-alat dan pekerja yang melakukan kontak
langsung dengan tanaman dilakukan terhadap semua jenis tanaman.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. www.magma.ca/pavel/science/Erwinia.htm. Diakses pada sabtu,


12/10/2017 pukul 20.26.

Anonim. 2015. Tips mengatasi layu pada tomat.


https://lmgaagro.wordpress.com/2015/11/01/tips-mengatasi-layu-pada-
tanaman-tomat.html.Diakses pada.12/10/2017.

Anonim.2013.penyakit antraknosa.
http://www.tanijogonegoro.com/2013/09/patek-antraknosa.html. Diakses
pada 12/10/2017 Pukul 20.10.

Choirul, R. 2014. Makalah ekologi tumbuhan pisang. Balai pustaka. Jakarta.

Kasfar, F., A. I. Putra Dan Z. Yuningsih. 2006. Uji Ketahanan Tanaman Pisang
Yang Diimunisasi Dengan Pseudomonas Berflouresensi Terhadap
Ralstonia Solanacearum. Jurnal Pimnas Xix. 1(12).

Semangun, H. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.


Gadjah Mada.

Sinaga, Meity Suradji. 2006. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.
L A M P I R A N