Anda di halaman 1dari 8

GEOTHERMAL NON-VULKANIK

A. Pendahuluan
Indonesia memiliki banyak area-area vulkanik yang sangat
mempengaruhi terhadap potensi keberadaan Geothermal. Geothermal
tersebut, dapat diproduksi oleh proses vulkanik dan non-vulkanik.
Sekarang ini, kebanyakan sistem geothermal yang ada merupakan hasil
dari proses vulkanik, sedangkan proses non-vulkanik sangat jarang untuk
ditemui (bukan tidak mungkin).

B. Geothermal Non-Vulkanik
Sistem Geothermal non-vulkanik adalah suatu sistem dari
Geothermal yang berasosiasi dengan fracture, geopressure (berkaitan
dengan pembentukan cekungan sedimen), panas yang berasal dari sisa
panas yang tersimpan dalam batuan Plutonik (Granitik), Kaldera tua, dan
hasil peluruhan unsur Radioaktif. Sistem panas bumi non-vulkanik juga
dikenali sebagai sistem panas bumi yang tidak berkaitan secara langsung
dengan vulkanisme dan umumnya berada di luar jalur vulkanik Kuarter.
Pada sistem ini, panas yang dihasilkan lebih rendah daripada sistem
Geothermal Vulkanik. Sistem ini memiliki panas sekitar low moderate
temperature. Fluida panas bumi tipe ini biasanya disebut sistem low
entalphy.
Area Geothermal non-vulkanik secara geografis dapat
dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Geothermal yang muncul di Pegunungan dan Perbukitan yang
jauh dari daerah Vulkanik Kuarter
b. Deep-seated sumber air panas pada akhir Neogen hingga
Cekungan Sedimentasi Kuarter

Area Geothermal yang tidak berhubungan dengan Vulkanik


Kuarter umumnya terjadi di pegunungan dan perbukitan yang terdiri dari
Formasi Pra-Kuarter. Sumber panas diasumsikan sebagai ruang magma
terkonsolidasi dan aliran panas konduktif, bukan lelehan magma dari
Gunungapi Kuarter. Setengah dari area tersebut tidak diketahui parameter
yang mengontrolnya, tetapi setengahnya lagi secara struktural dikontrol
oleh Sesar Aktif (Aktif pada akhir Kuarter), batas topografi cekungan,
Kaldera lama yang terkubur, Batuan Intrusif, dan lain-lainnya.
Area Deep-seated sumber air panas secara umum muncul pada Akhir
Neogene hingga Kuarter, dan digambarkan oleh anomali grafity yang
rendah. Banyak dari air panas telah diperkirakan pada area ini karena
formasi yang lebih muda umumnya lebih porous.

Gambar 1. Estimasi Temperature Reservoar (C)

Tabel 1. Manifestasi Geothermal Vulkanik dan Non-Vulkanik

C. Metode
Untuk mengetahui sumber panas dari geothermal non-vulkanik
menggunakan metode FFD (Fault and Fracture Density). Dengan
menganalisa kelurusan-kelurusan dari SRTM dan data topografi serta
mengkorelasikannya dengan manifestasi yang ada dipermukaan, dapat
diketahui sumber panas dari geothermal non-vulkanik. Dengan
menggunakan metode ini, keberadaan fracture dapat digunakan untuk
memprediksi zona discharge dan recharge dari Geothermal. Nilai kontur
FFD yang tinggi biasanya berasosiasi dengan fracture yang diakibatkan
oleh deformasi tektonik dan merupakan area recharge.

Gambar 3. Penarikan Kelurusan

Gambar 4. Peta FFD


D. Model Konsep Asal Sumber Panas
Model konsep asal sumber panas dari geothermal non-vulkanik
terdapat pada Gambar 4. Pada gambar tersebut, Neogen merupakan
lapisan permeable yang memiliki rejim konveksi dan Basement Pra-
Tersier merupakan lapisan impermeable yang memiliki rejim konduktif
kecuali di pengaruhi oleh zona sesar. Oleh karena itu, kedalaman dari
basement Pra-tersier dan sistem sesar sangat penting untuk
menginterpretasikkan sirkulasi fluida.

Gambar 5. Model Konsep Sumber Panas Non-Vulkanik


Panah biru menunjukkan gerakan air tanah, panah merah
menunjukan pergerakan melalui zona permeabilitas pada zona sesar, dan
panah merah putus-putus menunjukan perpindahan panas pada formasi
Tersier dan Kuarter dengan penunjang aliran panas tinggi di ruang bawah
tanah pra-Tersier.
Air panas tampaknya berasal dari magma padat atau suatu tubuh
intrusi yang konduktif. Oleh karena itu, interaksi antara airtanah dan deep-
seated air panas harus diselidiki secara rinci dari sudut pandang pengkajian
sumber daya dan penilaian lingkungan.
E. Sistem Geothermal Non-Vulkanik Di Indonesia Khususnya P. Jawa
Di Indonesia khususnya Pulau Jawa, yang merupakan area
geothermal berasosiasi dengan sistem non-vulkanik terdapat pada daerah
Krakal, Kuwuk, Tirtosari.
1. Krakal
Prospek Geothermal Krakal berlokasi di Kebumen, Jawa
Tengah. Fenomena Geothermal di area ini diindikasikan oleh
kebedaraan mata air hangat (warm spring) yang berlokasi di Alian,
Pojok Selatan dari Taman Nasional Geologi Karangsambung.
Prospek Geothermal Krakal diekspektasikan merupakan
fracture zone system (heat sweep system) dan bukan berasosiasi
dengan aktifitas vulkanik. Sistem Geothermal ini terlihat dikontrol
oleh keberadaan Sesar Kedungkramat dan sumber panas berasal
dari radiasi Granit dan/atau aktifitas tektonik yang intens di area
Karangsambung.

2. Kuwuk
Prospek Geothermal Kuwuk berlokasi di Grobogan, Jawa
Tengah. Prospek ini berhubungan dengan keberadaan Mud
Vulcano complex disekitar Grobogan, yang bernama Bledug
Kesongo, Bleduk Koprak, dan Bledug Kuwu.
Mud Vulcano/Mud Diapir adalah sebuah intrusi dari massa
mobile (shale atau mud) yang secara relatif dulunya telah
mengintrusi suatu lapisan yang belum seutuhnya menjadi suatu
lapisan dan disebabkan oleh bouyancy dan tekanan diferensial.
Diapir ini berhubungan dengan overpressure pada lapisan yang
dalam.
3. Tirtosari
Prospek Geothermal Tirtosari berlokasi di Pragaan,
Madura. Keberadaan prospek geothermal ini diindikasi oleh
keberadaan mata air panas pada desa Aengpanas.
Prospek Geothermal Tirtosari diekspektasikan merupakan
geopressured system yang berasosiasi dengan zona depresi
(cekungan sedimenter) yang melebar dari Jawa barat hingga Jawa
Timur; Bogor Serayu Utara Kendeng Zona Depresi Selat
Madura.

Gambar 6. Persebaran Geothermal di Pulau Jawa

F. Potensi Geothermal Non-Vulkanik


Pemanfaatan Geothermal untuk pembangkit listrik di Indonesia
saat ini seluruhnya berasal sistem panas bumi vulkanik. Hal ini karena
potensi sistem vulkanik mempunyai cadangan lebih besar dan entalpi
tinggi, sehingga lebih menarik dari sisi pengusahaan. Namun, beberapa
lokasi mungkin akan memiliki panas bumi non-vulkanik dengan cadangan
besar dan entalpi yang tinggi.
Semakin menipisnya sumber energi fosil dan kebutuhan energi
yang terus meningkat diharapkan bisa memacu gairah eksplorasi dan
pengembangan panas bumi yang dikenal sebagai energi ramah lingkungan,
terbarukan, dan tidak dapat diekspor. Kehadiran panas bumi di daerah
non-vulkanik yang umumnya berada di daerah terpencil (remote area)
dengan keterdapatan sumber energi lain yang minim, bisa menjadi
alternatif solusi untuk sumber pemenuhan kebutuhan energi setempat.
DAFTAR PUSTAKA

Putera Utama, Andika; Ariya Dwinanti, Johnnedy Situmorang, Mulkanul


Hikmi, dan Robi Irsamukhti. 2012. Green Field Geothermal
System in Java, Indonesia. ITB: Bandung
Tamanyu, S; K. Sakaguchi. Conceptual Model for Non-Vulkanik
Geothermal Resources. Geological Survey of Japan: Tohoku
Suryantini, Hendro H. Wibowo. 2009. Application of FFD Method for
Geothermal Exploration in Non-Volcanic Geothermal System; a
Case Study ind Sulawesi-Indonesia. ITB: Bandung