Anda di halaman 1dari 11

Teori Lawrence Green dan Aplikasinya Dalam Penelitian Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam visi Indonesia sehat 2015 yang tertuang dalam MDGs, terkait dengan kesehatan
reproduksi, yaitu mengendalikan penularan penyakit menular, khususnya TBC dan HIV,
sehingga pada tahun 2015 nanti jumlahnya tidak meningkat lagi tetapi justru menurun. Hal
tersebut erat kaitannya dengan kesehatan dan faktor penyebabnya.
Undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 memberikan batasan kesehatan adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Hal tersebut berarti kesehatan tidak hanya diukur dari
aspek fisik, mental, spiritual, dan sosial saja, tetapi diukur produktivitasnya dalam arti
mempunyai pekerjaan atau menghasilkan secara ekonomi. Hal ini sangat berkaitan erat dengan
promosi kesehatan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan.
Promosi kesehatan dalam arti pendidikan, secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mereka
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dari batasan
tersebut tersirat unsur-unsur input (sasaran pendidikan baik individu, kelompok, masyarakat dan
pendidik pelaku pendidikan); unsur proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain); unsur output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Hasil output yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku
kesehatan atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif.
Perubahan perilaku yang belum atau tidak kondusif ke perilaku yang kondusif ini mengandung
berbagai dimensi, meliputi perubahan perilaku, pembinaan perilaku, pengembangan perilaku.
Dalam hal pengembangan perilaku (Green, 1980), terdapat tiga faktor penyebab terbentuknya
perilaku, yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling factors),
faktor penguat (reinforcing factors).
Teori Lawrence W Green merupakan salah satu teori modifikasi perubahan perilaku yang dapat
digunakan dalam mendiagnosis masalah kesehatan ataupun sebagai alat untuk merencanakan
suatu kegiatan perencanaan kesehatan atau mengembangkan suatu model pendekatan yang dapat
digunakan untuk membuat perencanaan kesehatan yang dikenal dengan kerangka kerja Precede
dan Proceed. Oleh karena itu, penulis ingin membahas topik tentang teori perilaku Lawrence W.
Green.
BAB 2 TEORI PRECEDE
AND PROCEED

Lawrence Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyrakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior
causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri
ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor :
Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
Faktor-faktor pendukung (Enabling factors), yang terwujud dalam fasilitas-fasilitas atau sarana-
sarana, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.
Faktor-faktor pendorong (Renforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan Perilaku petugas
kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:
B=f (PF, EF, RF )Keterangan :
B = Behavior
PF = Predisposing Factors
EF = Enabling Factors
RF = Reinforcing Factors
F = Fungsi
Teori Lawrence W Green merupakan salah satu teori modifikasi perubahan perilaku yang dapat
digunakan dalam mendiagnosis masalah kesehatan ataupun sebagai alat untuk merencanakan
suatu kegiatan perencanaan kesehatan atau mengembangkan suatu model pendekatan yang dapat
digunakan untuk membuat perencanaan kesehatan yang dikenal dengan kerangka kerja Precede
dan Proceed. Kerangka kerja precede mempertimbangkan beberapa faktor yang membentuk
status kesehatan dan membantu perencana terfokus pada faktor tersebut sebagai target untuk
intervensi.
Precede juga menghasilkan tujuan spesifik dan kriteria untuk evaluasi. Kerangka Procede
menyediakan langkah-langkah tambahan untuk mengembangkan kebijakan dan memulai
pelaksanaan dan proses evaluasi.
The PRECEDE-PROCEED models for health promotion planning and evaluation
Menurut Green (1980) penggunaan kerangka kerja PRECEDE and PROCEED adalah sebagai
berikut:
PRECEDE terdiri dari:
Predisposing;
Reinforcing;
Enabling cause in educational diagnosis and evaluation
Akan memberikan wawasan spesifik menyangkut evaluasi. Kerangka kerja ini menunjukkan
sasaran yang sangat terarah untuk intervensi. PRECEDE digunakan pada fase diagnosis masalah,
penetapan prioritas dan tujuan program.

PROCEED terdiri dari:


Policy
Regulation
Organizational and environmental development
Menampilkan kriteria tahapan kebijakan dan implementasi serta evaluasi.
Precede mengarahkan perhatian awal pendidik kesehatan terhadap keluaran dan bukan terhadap
masukan dan memaksanya memulai proses perencanaan pendidikan kesehatan dari ujung
Keluaran. Ini mendorong munculnya pertanyaan mengapa sebelum pertanyaan bagaimana.
Dari sudut perencanaan, apa yang terlihat sebagai ujung yang salah sebagai tempat untuk
memulai, kenyataannya adalah sesuatu yang benar. Orang mulai dengan keluaran akhir,
kemudian bertanya tentang apa yang harus mendahului keluaran itu, yakni dengan cara
menentukan sebab-sebab keluaran itu. Dinyatakan dalam cara lain, semua faktor yang penting
untuk suatu keluaran harus didiagnosis sebelum intervensi dirancang; jika tidak, intervensi akan
didasarkan atas dasar tebakan (kira-kira) dan mempunyai resiko salah arah.
Bekerja menggunakan precede dan proceed, mengajak orang berpikir deduktif, untuk memulai
dengan akibat akhir dan bekerja ke belakang ke arah sebab-sebab yang asli.
Adapun penjelasan dari tiap fase dalam kerangka Precede Proceed Theory adalah sebagai
berikut:
Fase 1 (diagnosa sosial)
Adalah proses penentuan persepsi seseorang terhadap kebutuhan dan kualitas hidupnya dan
aspirasi untuk lebih baik lagi, dengan penerapan berbagai informasi yang didesain sebelumnya.
Partisipasi masyarakat adalah sebuah konsep pondasi dalam diagnosis sosial dan telah lama
menjadi prinsip dasar bagi kesehatan dan pengembangan komunitas. Hubungan sehat dengan
kualitas hidup merupakan hubungan sebab akibat. Input pendidikan kesehatan, kebijakan,
regulasi dan organisasi menyebabkan perubahan out come, yaitu kualitas hidup. Fase ini
membantu masyarakat (community) menilai kualitas hidupnya tidak hanya pada kesehatan.
Adapun untuk melakukan diagnosa sosial dilaksanakan dengan mengidentifikasi masalah
kesehatan melalui review literature (hasil-hasil penelitian), data (misalnya BPS, Media massa),
group method.

Hubungan Antara Kesehatan dan Masalah Sosial

Hubungan sebab akibat dapat terjadi secara langsung melalui kebijakan sosial, intervensi
pelayanan sosial, kebijakan kesehatan dan program kesehatan.
Bagian atas yaitu kebijakan sosial atau keadaan sosial, mengindikasikan masalah kesehatan
mempengaruhi kualitas hidup, sehingga kualitas hidup dapat memotivasi dan mampu mengatasi
berbagai masalah kesehatan.
Kualitas hidup sulit diukur dan sulit didefinisikan; ukuran obyektif (indikator sosial), yaitu angka
pengangguran, kepadatan hunian, kualitas air. Ukuran subyektif (informasi dari anggota
masyarakat tentang kepuasan hidup, kejadian hidup yang membuat stress, individu dan sumber
daya sosial.
Bagian bawah yaitu intervensi kesehatan, mengindikasikan kondisi sosial dan kualitas hidup
dipengaruhi oleh masalah kesehatan.
Fase 2 (diagnosa epidemiologi)
Masalah kesehatan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang,
baik langsung maupun tidak langsung. Yaitu penelusuran masalah-masalah kesehatan yang dapat
menjadi penyebab dari diagnosa sosial yang telah diprioritaskan. Ini perlu dilihat data kesehatan
yang ada dimasyarakat berdasarkan indikator kesehatan yang bersifat negatif yaitu morbiditas
dan mortalitas, serta yang bersifat positif yaitu angka harapan hidup, cakupan air bersih, cakupan
rumah sehat.
Untuk menentukan prioritas masalah kesehatan, dilakukan dengan beberapa tahapan,
diantaranya:
Masalah yang mempunyai dampak terbesar pada kematian, kesakitan, lama hari kehilangan
kerja, biaya rehabilitasi, dan lain-lain.
Apakah kelompok ibu dan anak-anak yang mempunyai resiko.
Masalah kesehatan yang paling rentan untuk intervensi.
Masalah yang merupakan daya ungkit tinggi dalam meningkatkan status kesehatan, economic
savings.
Masalah yang belum pernah disentuh atau di intervensi.
Apakah merupakan prioritas daerah/ nasional.
Fase 3 (diagnosa perilaku dan lingkungan)
Pada fase ini terdiri dari 5 tahapan, antara lain:
Memisahkan penyebab perilaku dan non perilaku dari masalah kesehatan.
Mengembangkan penyebab perilaku
Preventive behaviour (primary, secondary, tertiary)
Treatment behaviour
Melihat important perilaku
Frekuensi terjadinya perilaku
Terlihat hubungan yang nyata dengan masalah kesehatan
Melihat changebility perilaku
Memilih target perilaku
Untuk mengidentifikasi masalah perilaku yang mempengaruhi status kesehatan, digunakan
indikator perilaku seperti: pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilisasi), upaya pencegahan
(prevention action), pola konsumsi makanan (consumtion pattern), kepatuhan (compliance),
upaya pemeliharaan sendiri (self care).
Untuk mendiagnosa lingkungan diperlukan lima tahap, yaitu: membedakan penyebab perilaku
dan non perilaku; menghilangkan penyebab non perilaku yang tidak bisa diubah; melihat
important faktor lingkungan, melihat changeability faktor lingkungan, memilih target
lingkungan.
Fase 4 (diagnosa pendidikan dan organisasi )
Mengidentifikasi kondisi-kondisi perilaku dan lingkungan yang status kesehatan atau kualitas
hidup dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
harus diubah untuk kelangsungan perubahan perilaku dan lingkungan. Merupakan target antara
atau tujuan dari program.
Ada 3 kelompok masalah yang berpengaruh terhadap perilaku, yaitu:
Faktor predisposisi (predisposing factor): pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai, dan
lain-lain.
Faktor penguat (reinforcing factor): perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, dan lain-lain.
Faktor pemungkin (enabling factor): lingkungan fisik tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-
fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, dan lain-lain.

Tahap proses menyeleksi faktor dan mengatur program:


Identifikasi dan menetapkan faktor-faktor menjadi 3 kategori
Mengidentifikasi penyebab-penyebab perilaku dan dipilah-pilah sesuai dengan 3 kategori yang
ada: predisposing, enabling, reinforcing factors.
Metode:
Formal
Literatur
Checklist dan kuesioner
Informal
Brainstorming
Normal group process (NGP)
Menetapkan prioritas antara kategori
Menetapkan faktor mana yang menjadi obyek intervensi, dan seberapa penting dari ke-3 faktor
yang ada.
Menetapkan prioritas dalam kategori
Berdasarkan pertimbangan:
Important: prevalensi, penting dan segera di atasi menurut logis, pengalaman, data dan teori
Immediacy: seberapa penting
Necessity: mungkin prevalensi rendah, tapi masih harus dimunculkan perubahan lingkungan dan
perilaku yang terjadi
Changeability: mudah untuk diubah
Fase 5 (diagnosa administrasi dan kebijakan)
Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya dan kejadian-kejadian dalam organisasi
yang mendukung atau menghambat perkembangan promosi kesehatan.
Administrative diagnosis
Memperkirakan atau menilai resorces/ sumber daya yang dibutuhkan program
Menilai resorces yang ada didalam organisasi atau masyarakat
Mengidentifikasi faktor penghambat dalam mengimplementasi program

Tahap diagnosa administrasi, antara lain:


Menilai kebutuhan sumber daya
Time
Personnel
Budget
Menilai ketersediaan sumber daya
Personnel
Budgetary contraints (keterbatasan budget)
Menilai penghambat implementasi
Staff commitment and attitude
Goal conflict
Rate of change
Familiarity
Complexity
Space
Community barriers
Policy diagnosis
Menilai dukungan politik
Dukungan regulasi atau peraturan
Dukungan sistem didalam organisasi
Hambatan yang ada dalam pelaksanaan program
Dukungan yang memudahkan pelaksanaan program

Tahapan diagnosa kebijakan, antara lain:


Menilai kebijakan, regulasi dan organisasi
Issue of loyality
Consistency
Flexibility
Administrative of professional direction
Menilai kekuatan politik
Level of analysis
The zero-sum game
System approach
Exchange theory
Power equalization approach
Power educative approach
Conflict approach
Advocacy and education and community development

Implementasi:
Kunci keberhasilan implementasi:
Pengalaman
Sensitif terhadap kebutuhan
Fleksibel dalm situasi kondisi
Fokus pada tujuan
Sense of humor

Evaluasi dan accountability:


Evaluasi: membandingkan tujuan dengan standar object of interest:
Mengukur quality of life
Indikator status kesehatan
Faktor perilaku dan lingkungan
Faktor predisposing, enabling, reinforcing
Aktivitas intervensi
Metode
Perubahan kebijakan, regulasi atau organisasi
Tingkat keahlian staf
Kualitas penampilan dan pendidikan

Object of interest:
Input
Intermediate effects
Outcome
Tingkatan Objective:
Ultimate objectives : sosial dan kesehatan
Intermediate objectives: perilaku dan lingkungan
Immediate objective: educational, regulatory, policy
Tingkat Evaluasi:
Evaluasi proses
Evaluasi dari program promosi kesehatan yang dilaksanakan
Evaluasi impact
Menilai efek langsung dari program pada target perilaku (predisposing, enabling, reinforcing
factors) dan lingkungan
Evaluasi outcome
Evaluasi terhadap masalah pokok yang apada proses awal perencanaan akan diperbaiki: satus
kesehatan dan quality of life.
BAB III
APLIKASI MODEL PRECEDE DAN PROCEED

Dalam bidang kesehatan masyarakat, banyak sekali aplikasinya dan berragam aplikasinya.
Model ini digunakan untuk merencanakan, merancang, melaksanakan, dan atau mengevaluasi
program untuk kesehatan dan berragam permasalahan kesehatan, seperti masalah kualitas seperti
kanker payudara, pemeriksaan payudara sendiri, pendidikan kanker, kesehatan jantung,
kesehatan ibu dan anak, pencegahan cidera, pengendalian penyalahgunaan obat. Narkoba,
kesehatan gizi berbasis sekolah, kebijakan pendidikan dan pengembangan kurikulum dan
pelatihan kurikulum dan pelatihan bagi para professional perawatan kesehatan.
Contoh aplikasi dalam kesehatan reproduksi dan HIV AIDS, sebagai berikut:
Tren penyebaran HIV AIDS pada wanita pekerja seksual sangat tinggi. Kasus HIV/AIDS di
Indonesia sejak tahun 2008 terus mengalami peningkatan (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011).
Pada Tahun 2010, Jawa Timur berada pada posisi kedua sedangkan tahun 2011 pada posisi
keempat untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia. Meskipun menunjukkan penurunan peringkat
namun jumlah kasusnya tetap mengalami peningkatan yaitu 235 kasus (6,6%) dari tahun 2010
(Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011).
Kasus HIV/AIDS di kota Surabaya mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari tahun 2008 ke
tahun 2009 yaitu sekitar 214%. Namun pada tahun 2010 jumlah penderita HIV/AIDS menurun
sekitar 71 kasus (9%) dari kasus sebelumnya. Hal ini menunjukkan penurunan kasus tidak terlalu
besar jika dibandingkan lonjakan kasus yang terjadi. Salah satu kelompok risiko tinggi adalah
Wanita Pekerja Seks (WPS).
Estimasi WPS di Indonesia pada tahun 2006 diperikirakan mencapai 0,30% dari populasi
perempuan dewasa (15-49 tahun). Kelompok WPS sangat rentan tertular HIV akibat hubungan
seks dan perilaku seks yang tidak aman (KPA, 2009). Berdasarkan hasil Surveilans Terpadu
Biologis dan Perilaku (STBP) 2011 dalam BKKBN 2011 diketahui bahwa pengetahuan
masyarakat tentang HIV/AIDS dan kesadaran menggunakan kondom pada hubungan seks
berisiko tinggi cenderung menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurut hasil Surveilans
Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2011 beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan
kondom antara lain adalah pengetahuan, aksesibilitas, penjangkauan, dan aturan penggunaan
kondom.
Aplikasi Precede-Procede model, dicontohkan sebagai berikut:
DAFTAR PUSTAKA

Ariani. 2011. Analisis Hubungan Pengetahuan, Sikap dengan Tindakan Berdasarkan Indikator
Surveylands Perilaku HIV AIDS pada Wanita Pekerja Seksual. Surabaya. Departemen
Epidemiologi FKM Unair
Green. 1991. Health Promotion Planning An Aducational and Environmental Approach Second
Edition. London.Mayfield publishing company.
Notoatmodjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
Teori WHO (1984)

1.Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu


dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek
(objek kesehatan).

2.Pengetahuan ,diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

3.Kepercayaan,sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima
kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

4.Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek.

Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap
membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif
terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan
tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada
pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada
banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.

5.Tokoh penting sebagai panutan.,Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia
katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

6.Sumber-sumber daya (resources),mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.

7.Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-

sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang
pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan
selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia
(Notoatmodjo, 2003).

Anda mungkin juga menyukai