Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA TEORITIS GANGGUAN ALAM PERASAAN

OLEH:

Desy Dwipartami Kadek (13C10954)

Diah Apsari Dewi Made (13C10956)

Giri Utama I Nengah (13C10967)

Hendry Eka Pratama Yasa(13C10969)

Istri Sukma Dewi Anak Agung (13C10971)

Mery Suparyantini Ni Made (13C10976)

TINGKAT: IIA

ILMU KEPERAWATAN NERS

STIKES BALI

2014/201
BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Skizofrenia
a. Pengertian
Skizofrenia (schizophrenial) merupakan suatu gangguan yang terjadi pada
fungsi otak dan melibatkan banyak sekali faktor. Faktor faktor itu meliputi
perubahan struktur fisik otak, perubahan struktur kimia otak dan faktor genetik
(Yosep, 2011. Hal. 211).
Skizofrenia merupakan sebagai penyakit neurologis yang mempengaruhi
persepsi klien, cara berpikir, bahasa, emosi, dan prilaku sosialnya (Yosep, 2011. Hal.
211).
Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama
pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir,
afek/emosi kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena
waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi(Direja,
2011. Hal. 95).

b. Penyebab
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab yang pasti mengapa seseorang
menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian
yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut
penelitian mutakhir(Yosep, 2011. Hal. 59). antara lain:
1) Faktor genetik
2) Virus
3) Auto antibody
4) Malnutrisi

c. Tanda dan Gejala


Secara general gejala serangan skizofrenia dibagi menjadi 2 yaitu gejala
positif dan gejala negatif(Yosep, 2011, hal. 212) yaitu:
1) Gejala positif :
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu
menginterprestasikan dan merespon pesan atau rangsangan yang datang. Penderita
skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya
2
tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Gejala yang
biasanya timbul yaitu klien merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu
dirasakan menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang suara itu menyuruhnya
melakukan sesuatu yang sangat berbahaya seperti bunuh diri.
2) Gejala negatif
Penderita skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi
dan minat dalam hidup yang membuat kalian menjadi orang yang malas. Karena
penderita skizofrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa
melakukan hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat
emosi penderita skizofrenia menjadi datar. Penderita skizofrenia tidak memiliki
ekspresi baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak
memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa penderita skizofrenia tidak bisa
merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan
perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.

d. Jenis-jenis skizofrenia
1) Skizofrenia simplek dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran
kemauan.
2) Skizofrenia hebefrenik gejala utama gangguan proses pikir, gangguan kemauan,
dan depersonalisasi. Banyak terdapat waham dan halusinasi.
3) Skizofrenia katatonik, dengan gejala utama pada psikomotor seperti stupor
maupun gaduh gelisah katatonik.
4) Skizofrenia paranoid, dengan gejala utama kecurigaan, yang ekstrim disertai
waham kejar atau kebesaran.
5) Episode skizoprenia akut adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan
perubahan kesadaran, kesadaran mungkin berkabut.
6) Skizofrenia psiko-aktif, yaitu adanya gejala utama skizofrenia yang menonjol
dengan disertai gejala depresi atau mania.
7) Skizofrenia residual adalah skizoprenia dengan gejala-gejala primernya dan
muncul setelah beberapa kali serangan skizofrenia.

3
B. Konsep Dasar Gangguan Alam Perasaan
a. Pengertian
Mood adalah keadaan emosional yang memanjang yang mempengaruhi
seluruh kepribadian individu dan fungsi kehidupannya. Hal ini berhubungan
dengan emosi dan memiliki pengertian yang sama dengan keadaan perasaan atau
emosi. Seperti aspek-aspek lain dalam kepribadian, emosi atau mood berperan
dalam proses adaptasi. Ada 4 fungsi adaptasi dari emosi, yaitu sebagai bentuk
komunikasi soal, merangsang fungsi fisiologis, kesadaran secara subjektif, dan
mekanisme pertahanan psikodinamis. (Stuart Laraia, dalam Psychiatric Nursing
1998:348).
Menurut Clinton Nelson dalam Mental Health Nursing Practice (1996)
gangguan alam perasaan (mood) adalah gangguan mental yang memperlihatkan
perubahan suasana perasaan menonjol dan menetap dan bersifat patologis.
Sebagian besar gangguan alam perasaan berupa depresi dan mania. Alam perasaan
(mood) merujuk pada perasaan emosional internal dari individu, seperti saya
merasa bahagia,saya merasa sedih. Affect merujuk pada tampilan luar dari
ekpresi emosi seperti mimic wajah, atau postur tubuh yang menunjukan perasaan
sedih atau marah.
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadiandan fungsi kehidupan seseorang. (Wahyu P.
2010).
Gangguan alam perasan adalah kelompok gangguan dimana terjadi gangguan
emosi di sertai gejala mania atau depresi ( Rachmawati N. 2002).
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang ( Stuart
2006).
Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang di tandai dengan adanya
alam perasaan yang meluas, meningkat,bersemangat atau mudah
tersinggung.respon ini dapat di tunjukkan dengan prilaku hiperaktif, banyak
bicara, tertawa berlebihan dan penyimpangan herpes.( Rachmawati N. 2002).
Depresi dapat disebut melankolia adalah suatu keadaan dan berduka yang
berkepanjangan atau abnormal.( Rachmawati N. 2002).
Jadi alam perasaan adalah perpanjangan keadaan emosional yang
mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang dan ditandai
oleh syndroma depresif sebagian atau total dan ditandai dengan kehilangan minat
terhadap aktifitas sehari-hari.

4
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya
kegairahan hidup. (Hawari, 2001)
Depresi adalah suatu mood sedih (disforia) yang berlangsung lebih dari
empat minggu, yang disertai prilaku seperti perubahan tidur, gangguan
konsentrasi, iritabilitas, sangat cemas, kurang bersemangat, sering menangis,
waspada berlebihan, pesimis, merasa tidak berharga, dan mengantisipasi
kegagalan. (DSM-IV-TR,2000 dalam Videbeck, 2008, hal.388)
Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. (Purwaningsih,
2009, hal. 130)
Depresi adalah keadaan emosional yang ditunjukkan dengan kesedihan,
berkecil hati, perasaan bersalah, penurunan harga diri, ketidakberdayaan dan
keputusasaan. (Isaacs, 2004, hal. 121)
Dari keempat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah
gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik dan komponen
somatic yang terjadi akibat kesedihan yang panjang.

b. Rentang Respon Emosional

Respon adaptif Respon maladaptif

Responsif Reaksi Supresi Reaksi Mania/Depresi


kehilangan kehilangan yang
memanjang
Menurut Purwaningsih (2009) Reaksi Emosi dibagi menjadi dua yaitu:
1) Reaksi Emosi Adaptif
yang wajar
Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap rangsangan yang
diterima dan berlangsung singkat. Ada 2 macam reaksi adaptif :
a) Respon emosi yang responsive
Keadaan individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya. Pada rentang
ini individu dapat berpartisipasi dengan dunia eksternal dan internal.
b) Reaksi kehilangan yang wajar
Merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang
mengalami kehilangan. Pada rentang ini individu menghadapi realita dari
kehilangan dan mengalami proses kehilangan, misalnya Bersedih, berhenti
kegiatan sehari hari, takut pada diri sendiri, berlangsung tidak lama.
2) Reaksi Emosi Maladaptif

5
Merupakan reaksi emosi yang sudah merupakan gangguan, respon ini dapat
dibagi 3 tingkatan yaitu :
a) Supresi
Tahap awal respon emosional maladaptive, individu menyangkal, menekan
atau menginternalisasi semua aspek perasaannya terhadap lingkungan.
b) Reaksi kehilangan yang memanjang
Supresi memanjang mengganggu fungsi kehidupan individu
Gejala : bermusuhan, sedih berlebih, rendah diri.
c) Mania/ Depesi
Merupakan respon emosional yang berat dan dapat dikenal melalui
intensitas dan pengaruhnya terhadap fisik individu dan fungsi social.

c. Gejala Gangguan Alam Perasaan


Gangguan depresi ditandai perasaan sedih yang berlebihan,murung,tidak
bersemangat,merasa tidak di hargai,merasa kosong dan tidak ada harapan,
berpusat pada kegagalan dan menuduh diri,dan di sertai ide dan pikiran bunuh
diri.klien tidak berminat pada pemeliharaan diri dan pada aktivitas sehari-hari.
Gangguan mania ditandai oleh perasaan hati yang meningkat,meluas dan
mudah tersinggumg klien tidak mengenal lelah,hyperaktif dan pada keadaan yang
berat disertai panik yaitu perilaku yang tidak terkontrol.
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan
(afektif,mood) yang di tandai kemurungan,kesedihan,kelesuan,kehilangan gairah
hidup,tidak ada semangat dan merasa tidak berdaya,perasaan bersalah atau
berdosa dan tidak berguna dan putus asa.gejala lain yang sering menyertai
gangguan mood adalah

a) Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun


b) Nafsu makan dan berat badan menurun
c) Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan)di sertai mimpi-mimpi yang
tidak menyenangkan,misal: mimpi orang yang sudah meninggal.
d) Agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik).
e) Hilang perasaan senang,semangat,minat dan meninggalkan hobby.
f) Kreatifetas dan produktifitas menurun.
g) Ganggua seksual (libido menurun)
h) Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
Bila seseorang lebih rentan untuk menderita depresi di bandingkan orang
lain,biasanya yang bersangkutan mempunyai corak kepribadian sendiri. (diri
kepribadian depresif,)dengan ciri-ciri:
a) Mereka sukar untuk merasa bahagia, mudah cemas, gelisah dan kawatir,
irritable, tegang dan agitatif.

6
b) Mereka yang kurang percaya diri, rendah diri mudah mengalah dan lebih
senang untuk berdamai, menghindari konflik atau konfrontasi merasa gagal
dalam usaha atau sekolah lamban, lemah, lesu, atau sering mengeluh sakit ini
dan itu.
c) Pengendalian dorongan dan impuls terlalu kuat menarik diri lebih suka
menyisih sulit ambil keputusan, enggan bicara, pendiam dan pemalu.
d) Suka mencela, mengeritik, menyalahkan orang lain atau menggunakan
mekanisme pertahanan penyangkalan.

d. Tipe
Tipe gangguan alam perasaan
Secara garis besar tipe gangguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :Moode
episode, depressive disorder, dan bipolars disorders.
1) Mood episode
a) Mayor depressive episode
Untuk diagnosis kelompok ini,terdapat lima atau lebih gejala-gejala yang
ditampilkan selama periode dua minggu dan menampilkan perubahan
fungsi dari fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah
salah satu dari dua hal berikut :
(1) perasaan depresif ; (2) kehilangan keterkaitan terhadap kesenangan (leasure).
Tanda-tanda secara lengkap adalah sebagai berikut :
- Perasaan depresif lebih banyak dalam sehari, hampir setiap hari yang
diindikasikan berdasarkan data subyektif atau hasil observasi.
- Menurunnya secara nyata minat terhadap kesenangan, hampir semua aktivitas
dalam sehari atau hampir setiap hari.
- Kehilangan berat badan yang berarti meskipun tidak diet.
- Kesulitan tidur (insomnia) atau tidur yang berlebihan (hypersomnia).
- Terjadi peningkatan aktivitas psikomotor atau perlambatan motorik hampir
setiap hari.
- Kelelahan atau kehilangan energy hampir setiap hari.
- Perasaan-perasaan tidak berharga atau berlebihan atau perasaan berdosa yang
berlebihan hampir setiap hari.
- Berkurangnya kemampuan untuk berfikir atau konsentrasi, atau perasaan ragu-
ragu hampir setiap hari.
- Terus-menerus berfikir tentang kematian, berulangnya ide-ide untuk bunuh
diri tanpa perencanaan yang jelas, atau percobaan bunuh diri dengan
perencanaan untuk pelaksanaan bunuh dirinya.
b) Manic episode

7
Episode manic ditandai dengan periode gangguan yang nyata dan peningkatan
secara menetap, meluap-luap atau mood yang mudah terangsang (irritable) selama
satu minggu (atau beberapa periode saat di Rumah Sakit juga penting).
Selama periode gangguan, 3 atau lebih gejala-gejala berikut telah menetap dan
telah Nampak dalam tingkat yang berarti :
- Melambungnya harga diri atau grandiosity
- Menurunnya kebutuhan untuk tidur
- Lebih banyak berbicara di banding biasanya atau adanya dorongan yang kuat
untuk berbicara
- Ide yang meloncat (fligh of ideas) atau pengalaman subjektif bahwa ia berfikir
meloncat.
- Perhatian yang mudah teralih (distractibility)
- Peningkatan dalam prilaku yang bertujuan atau agitasi psikomotor.
- Keterlibatan yang berlebihan dalam aktifitas yang menyenangkan yang
berpotensi untuk mengakibatkan cedera.
Pada saat episode manik dimulai, penampilan klien menjadi meningkat, tidak rapi,
lebih cepat secara fisik, dalam intelektual, dan emosional. Klien menjadi
meningkat dalam aktivitas (lestless) dan agresif. Aspek ID terlihat berlebihan, dan
aspek super ego cenderung dilanggar. Klien berfikir cepat dengan demikian ia
menjadi mudah teralih perhatiannya (distractibility). Hal ini menyebabkan adanya
ide yang meloncat-locat (figh of ideas). Mood klien menjadi gembira yang
berlebihan (euphoria) dan berganti menjadi exaltation (gembira berlebihan yang
disertai hiperaktivitas motorik) dan akhirnya mencapai puncaknya menjadi gelisah
dan sangat gaduh. Klien dalam keadaannya ini tidur dan makan sangat sedikit,
kehilangan berat badan yang sangat cepat ia dapat memukul apa saja apabila
dicegah menjadi marah.
c) Tipe lainnya
Tipe lain dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic episode.
Pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic episode dan
mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode secara jelas
menunjukkan meningkatnya mood yang berbeda dari mood non depresif yang biasa
tetapi tidak dikelompokkan sebagai episode manic.
2) Depresive disorders
a. Mayor depressive disorders
Mayor depressive disorder dapat berupa episode berulang atau episode
tunggal. Hal ini dapat juga memiliki gambaran khusus seperti adanya penampilan
diam melamun (katatonik) atau melankolik atau menyertai kejadian post partum

8
Klien yang mengalami mayor depressive berbicara menjadi lambat, berhenti
bicara (halting), cemas dan klien menjadi menyalahkan diri sendiri. Pada type
episode depressive gerakan klien menjadi lambat, lambat untuk duduk di kursi, kaku
(roctking back), suara pengerang yang sedih (moaning deject edly), dan lebih
banyak duduk dilantai atau di tempat tidur. Klien secara langsung bersikap agresi
kedalam dirinya sendiri dan kadang-kadang menyalahkan diri sendiri, perasaan
berdosa dan bersalah di dunia. Kesengsaraan sangat mendalam, selanjutnya setelah
periode ini klien dapat mencoba bunuh diri.

b. Dysthymic disorder
Dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders, kondisi
kelompok ini dikenal dengan depresi neurosis (neurotic depression) kondisi ini
ditandai dengan mood yang terdepresi dalam sebagian besar hari. Dua atau lebih
gejala depresi berikut dapat ditampilkan :menurunkan nafsu makan (poor appetite),
kelelahan yang sangat (low energy level of fatigue), susah tidur atau tidur berlebihan
(insomnia orexersive sleeping), harga diri rendah ( low self esteem), kesulitan
konsentrasi atau kesulitan membuat keputusan ( poor contentration or difficulty
making decision) perasaan putus harapan (feeling hopelessness).
3) Bipolar disorders
a. Bipolar disorders
Klien dengan tipe bipolar mendemonstrasikan kekuatan (strong), meluap-
luap (exagregated) dan menggambarkan siklus irama mood (cyclid mood
swings).Pada semua orang normal subjek mengalami tingkat perubahan irama
mood secara dinamis dan moderate. Bentuk yang ditemukan dalam tipe gangguan
mental ini adalah kapanpun mengalami keadaan meluap-luap (exagregated) selama
waktu satu minggu atau satu bulan. Kejadian tersebut bersifat lambat tetapi secara
bertahap meningkat dalam emosi dan aktivitas sampai klimaks menjadi gaduh
gelisah (frendzy). Selanjutnya terjadi penurunan secara lambat dalam aktivitasnya
menuju kearah prilaku normal lagi. Selanjutnya klien akan memulai lagi siklus
hypoaktivitas, disertai depresi.
b. Cyclothymic disorders
Individu dengan kelainan cyclothymic cenderung untuk mengalami irama mood
antara exhilaration and depression (keriangan dan depresi). Bagaimanapun ia akan
mengalami manic depressive psychosis pada situasi kehidupan yang penuh stress
(stress full) dan pada beberapa kasus terjadi penyebab yang tidak jelas. (change in
brain chemistry have been postulated).
9
e. Psikopatologi
Alam perasaan adalah kekuatan/ perasaan hati yang mempengaruhi seseorang
dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya berada dalam afek yang tidak
stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak pernah sedih, kecewa, takut, cemas, marah
dan saying emosi ini terjadi sebagai kasih sayang sesorang terhadap rangsangan yang
diterimanya dan lingkungannya baik internal maupun eksternal. Reaksi ini bervariasi
dalam rentang dari reaksi adaptif sampai maladaptive.
1) Penyebab Terjadinya Depresi
Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan kehilangan.
Tak ada orang yang mengalami depresi bila kenyataan hidupnya sesuai dengan
keinginan dan harapannya.
a) Kekecewaan
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi
jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat saat khusus jika cinta untuk
diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita
akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah pertama depresi jika
luka itu direnungkan terus menerus akan menyebabkan kekesalan dan
keputusasaan.
b) Kurang Rasa Harga Diri
Ciri - ciri universal yang lain dari orang depresi adalah kurangnya rasa harga
diri, sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih lebihkan menjadi
estrim, karena harapan harapan yang realistis membuat dia tak mampu merestor
dirinya sendiri, hal ini memang benar khususnya pada individu yang ingin
segalanya sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya.
c) Perbandingan yang tidak adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai
lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka
depresi mungkin terjadi.
d) Penyakit
Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organic contoh
individu yang mempunyai penyakit kronis kanker payudara dapat menyebabkan
depresi.
e) Aktivitas mental yang berlebihan

10
Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.
f) Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak
terpenuhi maka terjadilah depresi. (Anonymous, 2004)
Menurut Nanda (2005-2006) adapun Faktor faktor yang berhubungan dengan sedih
kronis adalah:
a) Kematian orang yang dicintai
b) Pengalaman sakit mental/ fisik kronis, cacat (retardasi mental, sklerosis multiple,
prematuritas, spina bifida, kelainan persalinan, sakit mental kronis, infertilitas,
kanker, sakit Parkinson)
c) Pengalaman satu atau lebih kejadian yang memicu (krisis dalam manajemen
penyakit, krisis berhubungan dengan stase perkembangan, kehilangan kesempatan
yang dapat meningkatkan perkembangan, norma social atau personal)
d) Ketergantungan tak henti pada pelayanan kesehatan dengan mengingat
kehilangan.

f. Gejala Klinis Depresi


Menurut Hawari (2001) secara lengkap gejala klinis depresi adalah sebagai berikut :
a) Afek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak
semangat, merasa tidak berdaya;
b) Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan;
c) Nafsu makan menurun;
d) Berat badan menurun;
e) Konsentrasi dan daya ingat menurun
f) Gangguan tidur: insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya hipersomnia
(terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali disertai dengan mimpi mimpi
yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi orang yang telah meninggal;
g) Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya);
h) Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi,
kreativitas menurun, produktivitas juga menurun;
i) Gangguan seksual (libido menurun);
j) Pikiran pikiran tentang kematian, bunuh diri.

g. Tingkat Depresi
a) Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir komunikasi social dan
rasa tidak nyaman.
b) Depresi Sedang
1) Afek : murung, cemas, kesal, marah, menangis
2) Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi verbal,
komunikasi non verbal meningkat.

11
3) Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non
verbal meningkat.
4) Partisipasi social : menarik diri tak mau bekerja/ sekolah, mudah tersinggung.
c) Depresi Berat
1) Gangguan Afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang
2) Gangguan proses pikir
3) Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba tiba
hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak
peduli dengan lingkungan.

h. Penatalaksanaan Depresi
Menurut (Tomb, 2003, hal.61)
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan beberapa memerlukan
tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung pada diagnosis, berat
penyakit, umur pasien, respon terhadap terapi sebelumnya.
1) Terapi Psikologik
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,
pengertian dan optimistic. Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan hal
hal yang membuatnya prihatin dan melontarkannya. Identifikasi factor pencetus dan
bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah memecahkan problem eksternal (misal,
pekerjaan, menyewa rumah), arahkan pasien terutama selama periode akut dan bila
pasien tidak aktif bergerak. Latih pasien untuk mengenal tanda tanda dekompensasi
yang akan dating. Temui pasien sesering mungkin (mula mula 1 3 kali per
minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau untuk
selamanya. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi
kemarahan anda (melalui kemarahan, hostilitas, dan tuntutan yang tak masuk akal,
dll.). psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang, dapat berguna pada pasien
depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien dengan depresi mayor yang
mengalami remisi tetapi mempunyai konflik.
Terapi Kognitif Perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi
sedang dan ringan. Diyakini oleh sebagian orang sebagai ketidakberdayaan yang
dipelajari, depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan dan
memberikan pengalaman pengalaman sukses. Dari perspektif kognitif, pasien
dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran pikiran negative dan harapan
harapan negative. Terapi ini mencegah kekambuhan.
Deprivasi tidur parsial (bangun mulai di pertengahan malam dan tetap terjaga
sampai malam berikutnya), dapat membantu mengurangi gejala gejala depresi

12
mayor buat sementara. Latihan fisik (berlari, berenang) dapat memperbaiki depresi,
dengan mekanisme biologis yang belum dimengerti dengan baik.
2) Terapi Fisik
Semua depresi mayor dan depresi kronis atau depresi minor yang tidak
membaik membutuhkan antidepresan (70 80 % pasien berespon terhadap
antidepresan), meskipun yang mencetuskan jelas terlihat atau dapat diidentifikasi.
Mulailah dengan SSRI atau salah satu antidepresan terbaru. Apabila tidak berhasil,
pertimbangkan antidepresan trisiklik, atau MAOI (terutama pada depresi atipikal)
atau kombinasi beberapa obat yang efektif bila obat pertama tidak berhasil.
Waspadalah terhadap efek samping dan bahwa antidepresan dapat mencetuskan
episode manik pada beberapa pasien bipolar (10 % dengan TCA, dengan SSRI lebih
rendah, tetapi semua koonsep tentang presipitasi manic masih diperdebatkan).
Setelah semuh dari episode depresi pertama, obat dipertahankan untuk beberapa
bulan, kemudian diturunkan, meskipun demikian pada beberapa pasien setelah satu
atau lebih kekambuhan, membutuhkan obat rumatan untuk periode panjang.
Antidepresan saja (tunggal) tidak dapat mengobati depresi psikosis unipolar.
Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania dan mungkin
bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa depresi unipolar.
Obat ini cukup efektif pada bipolar serta untuk mempertahankan remisi dan begitu
pula pada pasien unipolar. Antikonvulsan tampaknya juga sama baik dengan litium
untuk mengobati kondisi akut, meskipun kurang efektif untuk rumatan. Antidepresan
dan litium dapat dimulai secara bersama sama dan litium diteruskan setelah remisi.
Psikotik, paranoid atau pasien sangat agitasi membutuhkan antipsikotik, tunggal atau
bersama sama dengan antidepresan, litium atau ECT antidepresan antipikal yang
baru saja terlihat efektif.
ECT mungkin merupakan terapi terpilih :
a) Bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu
pengobatan,
b) Bila kondisi pasien menuntut remisi segera (misal, bunuh diri yang
akut),
c) Pada beberapa depresi psikotik,
d) Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (misal pasien tua yang
berpenyakit jantung). Lebih dari 90 % pasien memberikan respons.

13
C. Konsep Dasar Askep Dengan Gangguan Alam Perasaan
a. Pengkajian
1) Faktor Predisposisi
a) Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis
keturunan. Frekwensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar
monozigote dari dizigote.
b) Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang
dialihkan pada diri sendiri.
Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang
hilang tidak mampu mengekspresikan kemarahan marah pada diri
sendiri.
c) Teori Kehilangan
Berhubungan dengan factor perkembangan : misalnya kehilangan orang tua
pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat
dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.
d) Teori kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang
mengalami depresi atau mania.
e) Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi
oleh penilaian negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
f) Teori Belajar Ketidakberdayaan

14
Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri, lalu
menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu
timbul keyakinan akan ketidakmampuan mengendalikan kehidupan sehingga ia
tidak berupaya mengembangkan respon yang adaptif.
g) Model perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian (reinforcement)
positif selama berinteraksi dengan lingkungan.

h) Model Biologis
Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi, yaitu
defisiensi katekolamin, tidak berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol.
2) Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi factor
biologis, psikologis dan social budaya. Factor biologis meliputi perubahan fisiologis
yang disebabkan oleh obat obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,
neoplasma dan ketidakseimbangan metabolism. Factor psikologis meliputi kehilangan
kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang, dan kehilangan harga diri. Factor
social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan pekerjaan.
3) Perilaku dan Mekanisme koping
Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi
kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi. Mekanisme
koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan
supresi, hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat. Depresi, yaitu perasaan
berduka yang belum digunakan adalah represi, supresi, denial dan disosiasi.
4) Adapun perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Purwaningsih (2009)
adalah :
a) Afektif : sedih, cemas, apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan
ditolak, perasaan bersalah, merasa tak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa
rendah diri, merasa tak berharga.
b) Kognitif : ambivalen, bingung, ragu ragu, tidak mampu berkonsentrasi, hilang
perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri,pikiran merusak diri,rasa tidak
menentu, pesimis.
c) Fisik : sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi,
lemas, lesu, nyeri, kepala pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubaha berat
badan, gangguan selera makan, gangguan menstruasi, impotensi, tidak berespon
terhadap seksual.
d) Tingkah laku : agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktifitas,
kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable (mudah marah,
15
menangis, tersinggung), berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan
kebersihan.

b. Analisa Data
1) Data subjektif
Klien mengatakan sedih, klien mengatakan tidak bergairah untuk bekerja, klien
mengatakan menyesal, klien mengatakan merasa bersalah, klien merasa ditolak,
klien merasa tidak berdaya, merasa tidak berharga.
2) Data obyektif
Klien tampak sedih, murung, lambat, lemah, lesu, tidak bergairah, cemas, marah.

c. Rumusan Masalah
1) Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri
2) Sedih kronis
3) Harga diri rendah kronis
4) Koping individu tak efektif
5) Koping keluarga tak efektif
d. Pohon Masalah
AkibatResiko tinggi terjadi kekerasan
Yang diarahkan pada diri sendiri

Core ProblemSedih Kronis

Harga diri rendah kronis

Koping individu tak efektif

PenyebabKoping keluarga tak efektif

e. Diagnosa Keperawatan

16
Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan gangguan alam
perasaan : depresi yaitu :
1) Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri.
2) Sedih kronis.
3) Harga diri rendah kronis
4) Koping individu tak efektif

f. Rencana tindakan keperawatan


Sedih kronis.
Tujuan jangka panjang : klien tidak mengalami sedih kronis
Tujuan jangka pendek :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan cara- cara mengatasi depresi
4. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
5. Klien mau minum obat sesuai aturan
Rencana tindakan :
(a) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik.
Rasional : Kejujuran, kesediaan, dan penerimaan meningkatkan kepercayaan
hubungan antara klien dan perawat.
(b) Dorong dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
Rasional : Mengurangi beban pikiran yang dirasakan oleh klien.
(c) Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
Rasional : Mengurangi beban pikiran yang dirasakan oleh klien.
(d) Bantu klien untuk mengidentifikasi cara yang tepat untuk mengatasi sedih kronis
Rasional : Mengidentifikasi cara atau koping yang tepat untuk mengatasi sedih
kronis
(e) Beri pujian atas kemampuan klien mengatasi sedih kronis
Rasional : Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri klien
(f) Beri pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang cara merawat klien dengan
depresi
Rasional : Diharapkan klien akan merasa diperhatikan
(g) Anjurkan, jelaskan dan awasi minum obat sesuai aturan.
Rasional : Diharapkan dapat mengefektifkan obat yang diminum oleh klien.
(h) Delegatif dalam pemberian terapi obat
Rasional : Pemberian obat psikosis dapat mengontrol manifestasi dari kelainan
psikosis.

g. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan rencana
tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan
perawat perlu menvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih dibutuhkan

17
klien sesuai dengan kondisinya saat ini. Pelaksanaan terdiri dari lima aspek, yaitu
diagnosa, pelaksanaan, evaluasi, modifikasi dan paraf.

h. Evaluasi
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai respon dan efek dari
tindakan keperawatan klien. Evaluasi dilaksanakan secara terus menerus,
membandingkan respon klien dengan kriteria hasil yang telah ditemukan. Evaluasi
dapat ditentukan dengan menggunakan pendekatan SOAP (S : respon subyektif
klien, O : respon obyektif klien yang dapat diobservasi oleh perawat, A : analisa
ulang atas data subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah tetap
atau muncul masalah baru. P : bila ada masalah baru rencanakan kembali untuk
intervensi selanjutnya).

DAFTAR PUSTAKA

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.


Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama
Keliat, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Nanda. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima Medika.
Purwaningsih, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta : Nuha Medika.
Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.

18