Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu
unsur kesejahteraan sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Tenaga Kefarmasian sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi
pelayanan kesehatan kepada masyarakat mempunyai peranan penting karena
terkait langsung dengan pemberian pelayanan, khususnya Pelayanan
Kefarmasian. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi Pelayanan Kefarmasian
dari pengelolaan obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif
dalam pengertian tidak saja sebagai pengelola obat namun dalam pengertian
yang lebih luas mencakup pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung
penggunaan obat yang benar dan rasional, monitoring penggunaan obat untuk
mengetahui tujuan akhir serta kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan
(Medication error).
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) merupakan salah satu sub
sistem pelayanan yang berorientasi pada pasien. Pelayanan kefarmasian ini
mengarahkan pasien tentang kebiasaan/pola hidup yang mendukung tercapainya
keberhasilan pengobatan, memberi informasi tentang program pengobatan yang
harus dijalani pasien, memonitor hasil pengobatan dan bekerja sama dengan
profesi lainnya untuk mencapai kualitas hidup yang optimal bagi pasien. Dalam
uraian di atas semua peranan yang telah dipaparkan merupakan tugas Tenaga
Kefarmasian dalam memberikan pelayanan kefarmasian disarana pelayanan
farmasi, salah satu contohnya Apotek dan Instalasi Farmasi Rumah Sakit.

B. PERUMUSAN MASALAH
1. Apa saja pekerjaan kefarmasian itu ?
2. Apa saja dasar hukum peran tenaga kefarmasian ?

1
3. Dari mana dasar perizinan apotek dan sumber daya manusia yang bekerja di
apotek ?
4. Bagaimana peranan pelayanan kefarmasian di apotek ?
5. Apa yang dimaksud dengan rumah sakit ?
6. Bagaimana peranan farmasi di rumah sakit ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui apa saja pekerjaan kefarmasian.
2. Agar kita dapat mengetahui apa saja dasar hukum peran tenaga
kefarmasian.
3. Untuk mengetahui bagaimana dasar perizinan apotek dan sumber daya
manusia yang bekerja di apotek.
4. Untuk mengetahui apa saja peranan pelayanan kefarmasian di apotek.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan rumah sakit.
6. Untuk mengetahui bagaimana peranan farmasi di rumah sakit.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pekerjaan Kefarmasian
Sistem praktek kefarmasian dapat diartikan sebagai bagan integral dari
sistem pelayanan kesehatan yang utuh dan terpadu, terdiri dari struktur dan
fungsi jaringan pelayanan kefarmasian. Praktek kefarmasian adalah upaya
penyelenggaraan pekerjaan kefarmasian dalam rangka pemeliharaan kesehatan
dan pencegahan penyakit bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yaitu
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ruang lingkup pelayanan kefarmasian meliputi kegiatan, tanggung jawab,
kewenangan dan hak. Seluruh ruang lingkup pelayanan kefarmasian harus
dilaksanakan dalam kerangka sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi
pada masyarakat. Jika ditinjau dari fungsi, maka sistem pelayanan kesehatan
terdiri dari sub-sub sistem pelayanan profesi tenaga kesehatan, Yang terdiri dari
(a) tenaga medis, (b) tenaga keperawatan, (c) tenaga kefarmasian, (d) tenaga
kesehatan masyarakat, (e) tenaga gizi, (f) tenaga keterapian fisik, (g) tenaga
keteknisan medis. (PP No.32, tahun 1996, tentang Tenaga Kesehatan ).
Sesuai dengan PP RI No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
pasal 19 tentang Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian. Fasilitas pelayanan kefarmasian meliputi apotek, instalasi farmasi
rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat atau apotek bersama.
Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan perlu
mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban menyediakan,
menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan
keabsahannya terjamin. Apotek dapat diusahakan oleh lembaga atau instansi
pemerintah dengan tugas pelayanan kesehatan di pusat dan daerah, perusahaan
milik negara yang ditunjuk oleh pemerintah dan apoteker yang telah

3
mengucapkan sumpah serta memperoleh izin dari Kepala Dinas Kesehatan
setempat.
Menurut WHO, rumah sakit adalah suatu organisasi sosial dan medis
terpadu yang berfungsi menyediakan pelayanan kesehatan baik penyembuhan
maupun pencegahan kepada masyarakat serta merupakan pusat pendidikan bagi
petugas-petugas dibidang kesehatan dan penelitian dibidang medis.
Menurut Peraturan Menkes Nomor 983 / Menkes / PER / IX / 1992, rumah
sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan dan penelitian.
Rumah sakit adalah fasilitas atau sarana kesehatan bagi salah satu sumber daya
kesehatan yang mempunyai tugas untuk memelihara dan memulihkan kesehatan.
Rumah sakit dapat juga berfungsi sebagai tempat ideal untuk mengembangkan
ilmu medis dan penyakit serta mengembangkan pelayanan obat bagi pasien.

B. Dasar Hukum Peran Tenaga Kefarmasian


1. Peraturan perundang-undangan kefarmasian yang ditetapkan pemerintah.
2. Aturan yang ditetapkan organisasi (kode etik).
3. Aturan yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Sedunia (WHO).

C. Izin Apotek
Semua penyelenggaraan sarana kesehatan, termasuk apotek harus
memiliki izin. UU No.23, tahun 1992, pasal 59, point (3) menyatakan
Ketentuan mengenai syarat dan tata cara memperoleh izin penyelenggaraan
sarana kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang perapotekan (PP No.25,
tahun 1980 ) pada Pasal 6, menyatakan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini
dan hal-hal teknis lainnya yang belum diatur dalam Peraturan Pemerintah ini
diatur lebih lanjut oleh Menteri Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam hal ini menerbitkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002, tentang
perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993,
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Berarti bahwa

4
KepMenKes No. 1332, tahun 2002, merupakan amanat dan atau merupakan
bagian yang tidak bisa dipisahkan dari UU No.23 tahun 1992.

D. Sumber Daya Manusia


Sesuai dengan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh
seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker harus
mampu memerankan Seven Star Pharmacistsesuai dengan peran farmasis
yang digariskan oleh WHO.
KepMenKes No.1332 tahun 2002, Pasal19 :
1. Point (1) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugas
nya pada jam buka apotek, Apoteker Pengelola Apotek harus menunjuk
Apoteker Pendamping.
2. Point (2) Apabila Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping
karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker
Pengelola Apotek menunjuk Apoteker Pengganti.
3. Point (5) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan
tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, Surat Izin Apotek
atas nama Apoteker bersangkutan dicabut.

E. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek


Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat
ke pasien yang mengacu kepada pharmaceutical care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai
komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup dari pasien.
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan prilaku agar dapat melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah
melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat untuk
mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik.
Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan
pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan. Oleh sebab itu apoteker
dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan standar. Apoteker harus mampu

5
berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk
mendukung penggunaan obat yang rasional.
Tugas, peran, dan tanggung jawab Apoteker menurut PP 51 tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian adalah sebagai berikut :
1. Tugas
a. Melakukan pekerjaan kefarmasian (pembuatan termasuk pengendalian
mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat
atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional).
b. Membuat dan memperbaharui SOP (Standard Operational Procedure)
baik di industri farmasi.
c. Harus memenuhi ketentuan cara distribusi yang baik yang ditetapkan
oleh menteri saat melakukan pekerjaan kefarmasian dalam distribusi atau
penyaluran sediaan farmasi, termasuk pencatatan segala sesuatu yang
berkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran sediaan farmasi.
d. Apoteker wajib menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika
kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan.

2. Peran
a. Sebagai penanggung jawab di industri farmasi pada bagan pemastian
mutu (Quality Assurance), produksi, dan pengawasan mutu (Quality
Control).
b. Sebagai penanggungjawab Fasilitas Pelayanan Kefarmasian yaitu di
apotek, diInstalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), puskesmas, klinik, toko
obat, atau praktek bersama.
c. Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang
sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan
dokter dan/atau pasien.
d. Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan
kefarmasian, apoteker dapat mengangkat seorang Apoteker pendamping
yang memiliki SIPA.

6
3. Tanggung Jawab
a. Melakukan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) di apotek untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sediaan farmasi dalam rangka
pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, juga untuk
melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan
sediaan farmasi yang tidak tepat dan tidak memenuhi persyaratan mutu,
keamanan dan kemanfaatan. Pelayanan kefarmasian juga ditujukan pada
perluasan dan pemerataan pelayanan kesehatan terkait dengan
penggunaan farmasi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
b. Menjaga rahasia kefarmasian di industri farmasi dan di apotek yang
menyangkut proses produksi, distribusi dan pelayanan dari sediaan
farmasi termasuk rahasia pasien.
c. Harus memenuhi ketentuan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
yang ditetapkan oleh Menteri dalam melakukan pekerjaan kefarmasian
dalam produksi sediaan farmasi, termasuk di dalamnya melakukan
pencatatan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses produksi dan
pengawasan mutu sediaan farmasi pada fasilitas produksi sediaan
farmasi.
d. Tenaga kefarmasian dalam melakukan pekerjaan kefarmasian pada
fasilitas produksi sediaan farmasi harus mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang produksi dan pengawasan mutu.
e. Menerapkan standar pelayanan kefarmasian dalam menjalankan praktek
kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian.
f. Wajib menyelenggarakan program kendali mutu dan kendali biaya, yang
dilakukan melalui audit kefarmasian.
g. Menegakkan disiplin dalam menyelenggarakan pekerjaan kefarmasian
yang dilakukan sesuai dengan ketentuan aturan perundang-undangan.
Standar pelayanan kefarmasian di apotek (KepMenKes RI No. 1027/ MENKES/
SK/IX/ 2004) :
1. Pelayanan resep (asuhan kefarmasian di apotek)
Memberikan pelayanan obat kepada pasien atas permintan dari dokter,
dokter gigi, atau dokter hewan baik verbal maupun non verbal. Kegiatan

7
yang harus dilakukan oleh seorang apoteker dalam melaksanakan asuhan
kefarmasian :
a. Skrining resep
1) Persyaratan administratif
a) Nama, SIP, alamat dokter
b) Tanggal penulisan resep
c) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
d) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
e) Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta
f) Cara pemakaian
g) Informasi lainnya
2) Kesesuaian farmasetik
a) bentuk sediaan
b) dosis
c) potensi
d) stabilitas
e) inkompatibilitas
f) cara dan lama pemakaian
3) Pertimbangan klinik
a) adanya alergi
b) efek samping
c) interaksi
d) kesesuaian (dosis, durasi, jumlahobat, dll)
b. Penyiapan obat
1) Peracikan
2) Etiket
3) Kemasan obat yang diserahkan
4) Penyerahan obat
5) Informasi obat
6) Konseling
7) Monitoring penggunaan obat

8
2. Promosi dan edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan
edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi)
untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker
harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut
membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran
leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dll.
3. Pelayanan residensial ( home care )
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan
pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk
kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.
Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan
pengobatan (medication record).

F. Secara Umum Peran Apoteker di Apotek


Secara umum peran apoteker dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Profesional
Peran profesi seorang apoteker di apotek tidak lain adalah
melaksanakan kegiatan Pharmaceutical Care atau asuhan kefarmasian.
Salah satu tujuan utama asuhan kefarmasian adalah meningkatkan kualitas
hidup pasien. Maksudnya pasien yang sakit bisa menjadi sehat, dan pasien
yang sehat bisa menjaga kesehatannya tersebut. Penerapan asuhan
kefarmasian yang baik atau GPP (Good Pharmaceutical Practice) di apotek
telah diatur dalam Permenkes 1027 tahun 2004.
Dalam PP no. 51 Pasal 21 ayat 2 dipaparkan, bahwa yang boleh
melayani pemberian obat berdasarkan resep adalah apoteker. Secara tidak
langsung tersirat bahwa apoteker harus selalu ada di apotek untuk
melakukan asuhan kefarmasian. Bila seorang apoteker ingin melaksanakan
asuhan kefarmasian, ia harus memiliki competency, commitment, dan care.
Apoteker sejatinya harus memiliki kompetensi, maksudnya memiliki ilmu
(knowledge) dan keterampilan (skill) dalam melakukan asuhan kefarmasian.
Ilmu tersebut misalnya untuk obat-obatan diabetes, jantung, kolesterol harus
diminum secara teratur, jangan berhenti kecuali konsultasi dengan dokter.

9
Contoh lain untuk salep kortikosteroid penggunaannya tidak boleh ditekan
di tempat yang luka dan jangan terlalu tebal mengoleskannya. Informasi-
informasi seperti itu yang harus diberikan kepada pelanggan.

2. Manager
Apoteker harus dapat menjadi manajer yang baik, dalam hal ini
apoteker harus mampu mengatur barang, uang dan pasien. Namun secara
umum seorang manager itu harus mengelola resources yang ia miliki. Tidak
hanya barang, uang dan orang, tapi juga waktu, tempat, dan lain-lain.
Salah satu kunci sukses pengelolaan persediaan barang di sebuah
apotek adalah service level 100%, artinya apotek mampu memenuhi semua
permintaan akan obat (baik resep maupun non resep), sehingga rasio
penolakannya 0%. Untuk dapat menjamin service level tersebut diperlukan
perencanaan (planning) yang sangat matang, jangan sampai ada
penumpukan barang (over stock) atau persediaan habis (out of stock). Itulah
tugas seorang apoteker sebagai manager. Tujuannya adalah supaya
perputaran persediaan atau Inventory Turn Over maksimal, risiko over stock
dan out of stock diminimalisir. Bila sudah demikian akan menambah
kepuasan pelanggan karena permintaan akan obat selalu terpenuhi.
Kepuasan pelanggan akan berimbas kepada loyalitas pelanggan dan juga
menambah pelanggan-pelanggan baru. Tidak hanya barang, uang juga harus
dikelola karena uang merupakan hal yang krusial dalam bisnis. Sebaiknya
uang hasil penjualan satu hari tidak digabung dengan uang untuk keperluan
operasional apotek dan uang hasil penjualan satu hari harus sama dengan
jumlah barang yang keluar. Jadi jangan sampai ada barang yang tak
menghasilkan uang. Apoteker di sebuah apotek harus menjadi pemimpin
yang baik bagi pegawai yang lain. Memelihara rasa kekeluargaan antar
pegawai, memberikan contoh yang baik dan mampu membina pegawai-
pegawainya supaya lebih baik. Apoteker juga harus bersikap profesional
dalam hal ini, lebih bagus lagi menerapkan reward and punishment
sehingga apotek dapat maju dengan pegawai-pegawainya yang berkualitas
(bukan hanya kuantitas).

10
3. Retailer
Merupakan tahapan akhir dari kanal distribusi, yaitu usaha penjualan
barang atau jasa kepada konsumen untuk keperluannya masing-masing.
Kunci sukses seorang apoteker sebagai retailer adalah identifying,
stimulating, dan satisfying demands.
a. Identifiying
Identifying adalah menganalisis dan mengumpulkan informasi-
informasi mengenai konsumen. Informasi tersebut tidak lain adalah
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut: Siapa yang membeli ? Apa
yang mereka beli ? Mengapa mereka membeli ? Bagaimana mereka
memutuskan untuk membeli ? Kapan mereka membeli? Dimana mereka
membeli ? Seberapa sering mereka membeli ? Seyogyanya apoteker
harus mengetahui perilaku-perilaku membeli dari konsumen dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Misalnya saat musim haji, yang
banyak dicari adalah multivitamin dan penambah stamina. Perilaku
membeli tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah
profil demografis. Faktor-faktor profil demografis tersebut antara lain
usia, gender, pekerjaan, pendidikan, etnis, lokasi dan lain-lain. Bila profil
demografis diketahui, maka kita akan segera mengetahui peluang-
peluang yang menjanjikan. Misalnya bila apotek terletak didaerah
lokalisasi, yang banyak dicari pasti kondom, lubrikan, obat kuat dan lain-
lain.
b. Stimulating - satisfying demands
Setelah menganalis perilaku membeli konsumen, maka selanjutnya
harus dilakukan stimulating, yaitu memberi isyarat atau dorongan sosial,
komersial dan lain-lain dengan diikuti pemberian informasi-informasi
yang dibutuhkan konsumen mengenai produk yang akan dibeli. Hal ini
perlu dilakukan karena sepandai-pandainya kita menganalisis perilaku
membeli, tetap keputusan akhir terletak pada konsumen.
c. Satisfying demands
Tugas selanjutnya setelah konsumen ingin membeli yaitu
memenuhi permintaan tersebut. Berikan pelayan yang terbaik, jujur dan
penuh kesabaran. Dan yang terpenting adalah produk yang dijual harus

11
tepat kualitas, tepat jumlah, tepat waktu. Inilah yang dimaksud satisfying
demands.
Saat ini jumlah apoteker yang ada di Indonesia adalah tiga puluh
ribu orang, demikian yang telah disebutkan oleh ketua Ikatan Apoteker
Indonesia dalam situs resminya. Perbandingan jumlah tersebut terhadap
jumlah masyarakat Indonesia adalah 1 : 8000. Jumlah ini tentu dirasakan
masih kurang, dari jumlah tersebut kira-kira sepertiganya bekerja sebagai
penanggung jawab apotek yang menurut data dari departemen kesehatan
berjumlah 10.737 apotek, sedangkan data dari situs organisasi profesi
apoteker per April 2008 sejumlah 10.365 apotek, bisa dikatakan bahwa
apotek merupakan tempat yang paling banyak menampung profesi
apoteker. Apoteker juga banyak yang bekerja di instalasi farmasi rumah
sakit, pedagang besar farmasi, puskesmas, Badan Pengawasan Obat dan
Makanan, Departemen kesehatan baik pusat maupun daerah, sebagai
tenaga pendidik (Dosen) di perguruan tinggi, sebagai guru di sekolah
menengah farmasi, industri obat, industri obat tradisional, industri
kosmetik, lembaga penelitian, tenaga pemasaran dan di beberapa
tempat lainnya.

G. Rumah Sakit
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berorientasi
kepada pelayanan pasien, penyediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik. Pelayanan Kefarmasian
merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah,dan
menyelesaikan masalah terkait Obat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan
peningkatan mutu.
Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma
lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru
yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan
Kefarmasian (pharmaceutical care). Apoteker khususnya yang bekerja di Rumah
Sakit dituntut untuk merealisasikan perluasan paradigma Pelayanan

12
Kefarmasian dari orientasi produk menjadi orientasi pasien. Untuk itu
kompetensi Apoteker perlu ditingkatkan secara terus menerus agar perubahan
paradigma tersebut dapat diimplementasikan. Apoteker harus dapat memenuhi
hak pasien agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan termasuk tuntutan
hukum. Dengan demikian, para Apoteker Indonesia dapat berkompetisi dan
menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Perkembangan di atas dapat menjadi peluang sekaligus merupakan
tantangan bagi Apoteker untuk maju meningkatkan kompetensinya sehingga
dapat memberikan Pelayanan Kefarmasian secara komprehensif dan simultan
baik yang bersifat manajerial maupun farmasi klinik. Strategi optimalisasi harus
ditegakkan dengan cara memanfaatkan Sistem Informasi Rumah Sakit secara
maksimal pada fungsi manajemen kefarmasian, sehingga diharapkan dengan
model ini akan terjadi efisiensi tenaga dan waktu. Efisiensi yang diperoleh
kemudian dimanfaatkan untuk melaksanakan fungsi pelayanan farmasi klinik
secara intensif.
Peraturan perundang-undangan tersebut dan perkembangan konsep
Pelayanan Kefarmasian, perlu ditetapkan suatu Standar Pelayanan Kefarmasian
dengan Peraturan Menteri Kesehatan, sekaligus meninjau kembali Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit.
Tujuan pelayanan farmasi :
1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa
maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun
fasilitas yang tersedia.
2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur
kefarmasian dan etik profesi.
3. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat.
4. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
5. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan.
6. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan.
7. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.

13
H. Ruang Lingkup Rumah Sakit
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu
kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan farmasi
klinik.
1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakaisesuai dengan ketentuan yang
berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya. Kegiatan
pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
meliputi pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi alkes dan bahan
medis habis pakai, pengendalian administrasi.

2. Pelayanan Farmasi Klinik


Farmasi Klinik Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan
langsung yang diberikan Apoteker kepada pasien dalam rangka
meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek
samping karena Obat, untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety)
sehingga kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin.
Pelayanan farmasi klinik yang dilakukan meliputi :
a. Pengkaijian dan pelayanan resep
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan,
pengkajian Resep, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan Obat, pemeriksaan,
penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap alur
pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan
pemberian Obat (medication error).
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh obat/sediaan farmasi lain yang

14
pernah dan sedang digunakan. Riwayat pengobatan dapat diperoleh dari
wawancara atau data rekam medik/ pencatatn penggunaan obat pasien.
c. Pelayanan Informasi Obat (PIO), merupakan kegiatan pemberian dan
penyediaan informasi, rekomendasi obat yang independet, akurat tidak
bias, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh apoteker kepada
dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya, serta pasien dan
pihak lain di luar rumah sakit.
d. Konseling
Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasehat atau saran
terkait terapi obat dari apoteker (konselor) kepada pasien dan/ atau
keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap
disemua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisiatif apoteker,
rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya pemberian konseling
yang efektif dan garis miring atau keluarga terhadap apoteker.
e. Pemantauan terapi obat (PTO)
Pemantauan terapi obat (PTO merupakan suatu proses yang mencakup
kegiatan untuk memastikan terapi yang aman, efektif dan rasional bagi
pasien.
f. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantaun
setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki yang terjadi pada
dosis lazim yang digunkan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosa, dan terapi.
Tujuan :
1) Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan pelayanan farmasi di
rumah sakit.
2) Memberikan pelayanan farmasi yang dapat menjamin kemanjuran,
keamanan dan efisiensi penggunaan obat.
3) Meningkatkan kerjasama dengan dokter, perawat dan tenaga
kesehatan lainnya yang terkait dalam pelayanan farmasi.
4) Membantu penyelenggaraan kebijaksanaan obat di rumah sakit dalam
rangka meningkatkan penggunaan obat yang rasional.

15
I. Peran Farmasis di Rumah Sakit
1. Panitia Farmasi dan Terapi
Adalah organisasi yang mewakli komunikasi antara para staf medis
dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili
spesialis yang ada di rumah sakit dan apoteker yang mewakili Instalasi
Farmasi RS, serta tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan :
a. Menerbitkan kebijakan mengenai pemilihan obat penggunaan obat
serta evaluasinya.
b. Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan
pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan
obat sesuai dengan kebutuhan

2. Panitia Pengendali Infeksi Rumah Sakit


Adalah organisasi yang terdiri dari staf medis, apoteker dan tenaga
kesehatan lainnya.
Tujuan :
a. Menunjang pembuatan pedoman pencegahan infeksi
b. Memberikan informasi untuk menetapkan disinfektan yang akan
digunakan di rumah sakit.
c. Melaksanakan pendidikan tentang pencegahan infeksi nasokomial
di rumah sakit
d. Melaksanakan penelitian surveilans infeksi nasokomial di rumah
sakit.

3. Panitia lain yang terkait dengan tugas Farmasi Rumah Sakit


Apoteker juga berperan dalam tim/panitia yang menyangkut dengan
pengobatan antara lain :
a. Panitia Mutu Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit
b. Tim perawatanpaliatif dan bebas nyeri
c. Tim penanggulangan HIV/AIDS
d. Tim transplantasi
e. Tim PKMRS, dll.

16
17
BAB III

PEMBASAHAN

A. Studi Kasus di Apotek


Ada beberapa studi kasus yang didipatkan dari hasil penelitian penerapan
standar pelayanan kefarmasian di apotek di kota X. Menurut Dinas Kesehatan
Kota X, jumlah apotek di kota X pada tahun 2008 adalah 487 apotek. Data
tersebut berdasarkan alamat apotek yang tersebar di dua puluh satu kecamatan.
Karateristik apotek pada tabel 4.1, dapat dilihat bahwa dalam penelitian ini
presentase apotek dengan status milik PSA non apoteker adalah presentase
terbesar yaitu 67,65 % atau sebanyak 46 apotek, sedangkan presentase
kepemilikan APA sebesar 20,59 % dan 4 apotek milik kelompok (5,88%), diikuti
kepemilikan gabungan PSA-APA sekitar 4,41% dan kepemilikan lain-lain
(apotek franchise) diperoleh presentase paling rendah 1,47%.
Berdasarkan karateristik jumlah apoteker pendamping, secara umum
apotek tidak memiliki apoteker pendamping dengan presentase terbesar yaitu
92,63% dan hanya 5 apotek yang memiliki apoteker pendamping yaitu 4 apotek
memiliki 1 orang apoteker pendamping (5,88%) dan satu apotek memiliki lebih
dari dua apoteker pendamping (1,47%). Dari data yang diperoleh, jumlah asisten
apoteker (AA) di apotek sebanyak 50% adalah 2 orang kemudian diikuti
presentase sebanyak 36,77% di atas 2 orang. Apotek yang memiliki AA dengan
jumlah 1 orang sebanyak 11,76% dan presentase terkecil yaitu sebesar 1,47%
apotek yang tidak memiliki AA. Dari jumlah resep yang masuk di apotek kota
X, kebanyakan resep yang masuk per hari adalah 20 lembar dengan presentase
57,35%, diikuti sebanyak 38,24% melayani 21-69 lembar resep, 1,47% melayani
70-99 lembar resep dan 2,94% melayani di atas 100 lembar resep.
Penjabaran karateristik apotek di atas menunjukkan penerapan pelayanan
kefarmasian di apotek belum dilaksanakan dengan maksimal dimana kehadiran
seorang APA berada di apotek cukup rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh
beberapa faktor. Pertama,secara umum apotek yang mereka kelola adalah apotek
milik PSA dimana pemilik apotek cendrung mengutamakan untung atau sisi
bisnis mereka. Secara tidak langsung akan mendorong APA mencari pekerjaan
lain untuk memenuhi kehidupannya. Kedua, kebanyakan resep yang masuk

18
setiap hari adalah kurang dari 20 lembar dan biasannya resep yang masuk pada
jam tertentu sehingga pelayanan di apotek lebih dilakukan oleh asisten apoteker.
Salah satu penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek adalah
mewujudkan adanya apoteker pendamping sehingga apotek tidak akan
ditinggalkan oleh APA dan pelayanan dapat tercapai, tetapi dari data di atas
menunjukkan apoteker pendamping secara umum di apotek belum ada.

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa kebanyakan apoteker tidak

hadir di apotek dengan presentase sebesar 52,94% sedangkan kehadiran


apoteker selama jam buka apotek hanya sebesar 20,59% dan presentase sebesar
19
26,47% untuk apoteker yang hadir pada jam tertentu. Keharusan apoteker berada
pada sepanjang jam buka apotek telah diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26
tahun 1965 tentang apotek pasal 4 ayat 1 dinyatakan bahwa pengelolaan apotek
menjadi tugas dan tanggung jawab seorang apoteker (umar, 2005) tetapi
kenyataan menunjukkan banyaknya APA hanya berperan sebagai prasyarat
berdirinya suatu apotek dan bekerja di apotek hanya sebagai pekerjaan sambilan
bukan sebagai pekerjaan pokok yang dapat dilihat dari hasil penelitian pada
uraian di atas dimana kehadiran mereka tidak pada sepanjang jam buka apotek.
Menurut Menkes RI No 1027 tahun 2004 bahwa dalam mendukung
operasional pelayanan kefarmasian di apotek, diperlukan sarana dan prasarana
yang memadai untuk meningkatkan kualits pelayanan terhadap pasien. Sarana
dan prasarana dirancang dan diatur untuk menjamin keselamata dan efisiensi
kerja serta menghindari terjadinya kerusakan sediaan farmasi. Sarana dan
prasarana yang harus dimiliki ole h apotek untuk meningkatkan kualitas
pelayanan adalah papan nama apotek, ruang tunggu, tersediannya tempat
mendisplai obat bebas dan obat bebas terbatas, ruang untuk memberikan
konseling bagi pasien sehingga memudahkan apoteker untuk memberikan
informasi dan menjaga kerahasian pasien, ada ruang peracikan, ruang/tempat
penyimpanan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan, ruang/ temapt
penyerahan obat sehingga memudahkan untuk melakukan pelayanan informasi
obat, tempat pencucian alat.
Secara umum, pelayanan informasi obat yang dilakukan di apotek oleh
APA mencapai presentase sebesar 69,12%. Pelayanan informasi obat ini dibagi
menjadi dua kegiatan yaitu pelayanan informasi obat yang diberikan langsung
kepada pasien dan yang kedua adalah pelayanan secara tidak langsung melalui
pemberian brosur, bulletin.
Dari data karateristik responden diperoleh gambaran bahwa sebagian besar
(67,65%) apotek milik PSA non apoteker. Sebesar 92,63% atau sebanyak 63
apotek belum mempunyai apoteker pendamping. Dari data pelayanan diperoleh
83,82% yang melayani langsung pasien adalah asisten apoteker. Hasil penelitian
menunjukkan penerapan standar pelayanan kefarmasian di apotek masih dalam
kategori kurang dengan presentase sebesar 42,74%.

20
B. Studi Kasus di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden yang
seluruhnya berjumlah 100 orang sebanyak 76 responden (76%) menyatakan
puas dan sebanyak 24 responden (24%) menyatakan kurang puas dengan
pelayanan IFRS. Sedangkan terhadap keputusan beli ulang obat
memperlihatkan bahwa hampir seluruh responden yaitu sebanyak 95
responden (95,0%) memutuskan akan melakukan pembelian ulang,
sedangkan hanya 5 responden (5,0%) memutuskan tidak akan melakukan
pembelian ulang.
Alur dalam penelitian ini adalah pengukuran hubungan kualitas
pelayanan terhadap kepuasan, kemudian dilanjutkan dengan pengukuran
hubungan kepuasan terhadap keputusan beli ulang. Pentingnya dilakukan
pengukuran kepuasan terlebih dahulu karena pengukuran kepuasan
konsumen merupakan indikator subjektif untuk menilai kinerja unit bisnis.
Selain itu penggabungan kepuasan konsumen dengan pengetahuan terhadap
sikap konsumen dalam memutuskan pembelian ulang akan mempermudah
kita menganalisis tentang konsumen, apakah termasuk yang puas tapi akan
membeli lagi, puas tapi tidak akan membeli lagi, tidak puas tapi lakan
membeli lagi, dan tidak puas dan tidak tidak akan membeli lagi.
Kualitas pelayanan meliputi kenyamanan, ketersediaan obat, harga
obat, kecepatan pelayanan, informasi pemberian obat dan kemudahan
pelayanan. Pada hubungan kenyamanan dengan kepuasan pasien hasil uji
statistik dengan korelasi spearman diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05) yang berarti
Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara kenyamanan dengan
kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan dengan nilai r = 0,367
yang berarti kuat hubungan antara kenyamanan dengan kepuasan pasien
adalah lemah.
Kenyamanan dalam menunggu merupakan salah satu faktor yang
dapat memberikan kepuasan sehingga mempengaruhi minat pasien dalam
membeli obat di rumah sakit, dan hal yang memberi kenyamanan pada
pelanggan adalah lingkungan fisik yang baik dan tersedianya sarana
penunjang. (Engel, 1994). Lingkungan fisik adalah semua keadaan yang

21
terdapat disekitar, seperti suhu udara, kelembaban udara, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna akan
berpengaruh secara signifikan tehadap hasil kerja manusia tersebut
(Wingjosoebroto, 2000).
Pada hubungan ketersediaan obat dengan kepuasan pasien hasil uji
statistik dengan Korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,021 (p<0,05) yang
berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara ketersediaan
obat dengan kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan dengan nilai r =
0,231 yang berarti kuat hubungan antara ketersediaan obat dengan kepuasan
pasien adalah lemah.
Seperti yang dikatakan Pudjaningsih (2007) bahwa dalam
menjalankan aktivitasnya, rumah sakit memerlukan bermacam-macam
sumber daya. Salah satu sumber daya yang penting adalah persediaan obat-
obatan. Persediaan obat-obatan harus disesuaikan dengan besarnya
kebutuhan pengobatan. Karena persediaan obat-obatan yang tidak lancar
akan menghambat pelayanan kesehatan, hal ini disebabkan karena obat
tidak tersedia pada saat dibutuhkan.
Pada hubungan harga obat dengan kepuasan pasien hasil uji statistik
dengan Korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,000 (p>0,05) yang berarti
Ho diterima. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara harga obat dengan
kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan dengan nilai r = 0,362
yang berarti kuat hubungan antara harga obat dengan kepuasan pasienadalah
lemah.
Berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi harga obat menurut
Putra (2008) terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya sehingga
sering kali pasien kesulitan untuk melakukan efisiensi dalam investasi
kesehatannya. Pasien sulit memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk
melakukan pengobatan yang pada akhirnya dapat membuat pasien enggan untuk
mengakses layanan kesehatan karena kekhawatiran harus menanggung
biaya yang besar.
Pada hubungan kecepatan pelayanan dengan kepuasan pasien hasil uji
statistik dengan korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05) yang
berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara kecepatan

22
pelayanan dengan kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan dengan
nilai r = 0,572 yang berarti kuat hubungan antara kecepatan pelayanan
dengan kepuasan pasien adalah sedang.
Kecepatan pelayanan sangat penting karena pada masyarakat modern,
waktu adalah komoditi yang tidak bisa diulang kembali. Seperti yang
dikatakan Kashmir (2005) bahwa proses yang terlalu lama dan berbelit-belit
akan membuat konsumen menjadi tidak betah dan tidak puas.
Pada hubungan informasi pemberian obat dengan kepuasan pasien
hasil uji statistik dengan korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05)
yang berarti Ho ditolak. Hal inimenunjukkan ada hubungan antara informasi
pemberian obat dengan kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan
dengan nilai r = 0,367 yang berarti kuat hubungan antara informasi
pemberian obat dengan kepuasan pasien adalah sedang.
Dalam hubungannya dengan kepuasan seperti yang dikatakan Supranto
(1997), pasien akan merasa puas apabila ada persamaan antara harapan dan
kenyataan pelayanan kesehatan yang diperoleh. Hal ini yang juga dikatakan
Quick M. (1997) bahwa pemberian informasi yang jelas akan menambah
upaya kesembuhan pasien, dan pada akhirnya meningkatkan kepercayaaan
dan kepuasan.
Berdasarkan hasil uji regresi logistik berganda maka variabel yang
paling berpengaruh pada kepuasan pasien adalah informasi pemberian obat.
Tingginya tingkat pendidikan merupakan karakteristik responden yang dapat
menjelaskan mengapa responden menganggap pemberian informasi obat
merupakan hal yang penting, tingkat pendidikan yang tinggi membuat
mereka lebih tahu akan haknya dalam memperoleh informasi mengenai obat
yang dibutuhkan, dan semakin kritis pula mereka dalam memberikan
pertanyaan.
Pada hubungan kemudahan pelayanan dengan kepuasan pasien hasil
uji statistik dengan korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,015 (p<0,05) yang
berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara kemudahan
pelayanan dengan kepuasan pasien. Kekuatan hubungan dinyatakan dengan
nilai r = 0,242 yang berarti kuat hubungan antarakemudahan pelayanan
dengan kepuasan pasien adalah lemah.

23
Menurut pendapat Muninjaya (2004) yang mengatakan bahwa
prosedur pelayanan yang tidak berbelit-belit merupakan kontribusi yang
cukup besar terhadap variasi tingkat kepuasan pasien. Di samping itu
instalasi melayani sepanjang 24 jam, sehingga kapan saja responden
membutuhkan obat akan dapat terlayani. Hal ini sesuai yang dikatakan Hizrani
M (2003), proses pelayanan yang baik akan mempengaruhi kualitas
pelayanan yang akan memberikan kepuasan kepada konsumen.
Pada hubungan kepuasan pasien dengan keputusan membeli ulang
hasil uji statistik dengan korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05)
yang berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada hubungan kepuasan pasien
dengan keputusan membeli obat ulang. Kekuatan hubungan dinyatakan
dengan nilai r = 0,625 yang berarti kuat hubungan antara kepuasan pasien
dengan keputusan membeli obat ulang adalah kuat. Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Pratiwi (2007) yang menemukan bahwa kepuasan
pasien bayar pelayanan kesehatan puskesmas Wisma Jaya dengan minat
kunjungan ulang.
Secara keseluruhan persepsi responden terhadap pelayanan IFRS
cukup baik, hal ini dapat dilihat dari sebagian besar responden merasa
puas dan hampir seluruh menyatakan akan membeli ulang obat di IFRS.
Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan Fornell (1992) bahwa konsumen
atau pelanggan yang puas akan melakukan kunjungan ulang pada waktu yang
akan datang dan memberitahukan kepada orang lain atas jasa yang
dirasakannya. Begitu juga dengan pendapat Hellier (2002) bahwa kepuasan
pelanggan penting bagi para pemasar karena merupakan determinan dari
pembelian ulang. Dengan adanya kepuasan dari pelanggan, maka pelanggan
akan memiliki minat untuk menggunakan kembali jasa dari provider

24
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 pekerjaan kefarmasian yaitu
meliputi pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketenaga
farmasian juga bekerja berdasarkan peraturan perundangan RI No 51 Tahun
2009 pasal 19 tentang Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian. Fasilitas pelayanan kefarmasian meliputi apotek,
instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat atau apotek bersama.
Berdasarkan menteri kesehatan Republik Indonesia dalam perizinan
apotek menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.1332/MENKES/SK/X/2002, tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek. Berarti bahwa KepMenKes No. 1332, tahun 2002, merupakan
amanat dan atau merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari UU No.23
tahun 1992.
KepMenKes No.1332 tahun 2002, Pasal19 :
1. Point (1) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugas
nya pada jam buka apotek, Apoteker Pengelola Apotek harus menunjuk
Apoteker Pendamping.
2. Point (2) Apabila Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping
karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola
Apotek menunjuk Apoteker Pengganti.
3. Point (5) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan
tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, Surat Izin Apotek atas
nama Apoteker bersangkutan dicabut.
Apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan
prilaku agar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk
interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pemberian informasi,

25
monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan
dan terdokumentasi dengan baik.
Menurut WHO, Pelayanan farmasi rumah sakit yang dilakukan meliputi:
1. Pengkaijian dan pelayanan resep
2. Penelusuran riwayat penggunaan obat
3. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
4. Konseling
5. Pemantauan terapi obat (PTO)
6. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

B. Saran
Seharusnya untuk apoteker yang mengabdikan dirinya di apotek dan
rumah sakit, harus lebih menjiwai pekerjaannya dengan cara hadir di apotek dan
rumah sakit selama kegiatan kefarmasian sedang berjalan. Sesuai dengan Dalam
PP no. 51 Pasal 21 ayat 2 dipaparkan, bahwa yang boleh melayani pemberian
obat berdasarkan resep adalah apoteker. Jelas terlihat bahwa disini peran
apoteker sangatlah penting.
Sebaiknya tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien
haruslah ramah, agar pada saat memberikan obat dan memberikan informasi
tentang obat yang diterima oleh pasien dapat dimengerti secara jelas untuk
mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat. Dan saran kami, perlu
diadakannya pelatihan dan pendidikan tentang managemen kefarmasian dan
etika profesi bagi tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di sarana farmasi, agar
kelak masyarakat dapat mempercayai kita selaku tenaga farmasi yang handal.

26
DAFTAR PUSTAKA

Adelina Br Ginting (2009). Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek


Kota Medan.
Hirzani, dkk. (2003). Analisis Kepuasan Pasien Rawat Inap terhadap Mutu
Pelayanan dan Hubungannya dengan Minat Beli Ulang di RS X di
Jakarta tahun 2002. Jurnal Manajemen dan Administrasi RS Indonesia.
No.1. Vol IV.
Kashmir. (2005). Etika Customer service. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
KepMenKes No.1332 tahun 2002, Pasal19 tentang Peran Apoteker.
Muninjaya. (2004). Peluang RS dalam Meraih Keunggulan Bersaing Melalui
Strategi pemasaran. Jurnal Manajemen dan Administrasi RS. Program Pasca
Sarjana. UI.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesai No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian
Pudjaningsih. (2007). Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di
Farmasi Rumah Sakit. UGM Press.
Pratiwi, E.N. (2007). Hubungan Kepuasan Pasien Bayar dengan Minat Kunjungan
Ulang di Puskesmas Wisma Jaya Kota Bekasi Tahun 2007. Makara Kesehatan.
Vol.12.
Putera, F.R. (2008). Pengendalian Biaya Kesehata dengan Farmakoekonomi.
Ghalia Indonesia. Jakarta.
Purwastuti, R. (2005). Analisis Faktor-Faktor Pelayanan Farmasi Yang
Memprediksi Keputusan Beli Obat Ulang dengan Pendekatan Persepsi
Pasien Klinik Umum di Unit Rawat JalanRS Tegolrejo Semarang.
Quick, J.D., Rankin, J.R., Laing, R.O., et al. (1997). Managing Drug Supply :
The Selection, Procurement, Distribution and Use of Pharmaceuticals. 2nd
Ed. Revised and Expand. Kumarian Press.
Supranto, J. (1997). Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk
Menaikkan Pangsa Pasar. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Tjiptono, Fandy. (2004). Manajemen Jasa. Andi Offset. Yogyakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
Wingjosoebroto. (2000). Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. Jakarta. Kanisius.

27