Anda di halaman 1dari 3

Pengertian, Dasar Hukum, dan Landasan Filosofi Ekonomi Syariah

A. Pengertian Ekonomi Syariah


Pada dasarnya, setiap manusia diperintahkan untuk bekerja dan berusaha
dalam rangka memperoleh penghidupan yang layak. Kegiatan ekonomi dilakukan
dengan prinsip-prinsip tertentu serta sejalan tujuan awal, yaitu mencapai
kesejahteraan hidup.
Islam sebagai agama yang sempurna pun tidak hanya mengajarkan kepada
umatnya untuk beribadah semata, melainkan juga bekerja untuk memperoleh rezeki
dengan cara yang benar menurut aturan syariat.
Apa itu ekonomi?
Ekonomi adalah sebuah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan
menciptakan kemakmuran (mencukupi kebutuhannya).
Apa itu syariah?
Syariah (Asy-syariah) secara bahasa berarti sumber air minum (mawrid al-mali al-
istisqa) atau jalan lurus (Ath-thariq al-mustaqim). Secara istilah, Syariah bermakna
perundang-undangan (aturan) yang diturunkan Allah azza wa jalla kepada
Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia mulai dari masalah akidah, akhlak,
makanan, minuman, pakaian, hingga muamalah guna meraih kebahagiaan di dunia
dan di akhirat.
Jadi, apa itu Ekonomi Syariah?
Ekonomi syariah atau disebut juga sebagai ekonomi Islam. Ekonomi syariah
merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang diatur
berdasarkan syariat Islam dan di dasari dengan keimanan.

B. Dasar Hukum Ekonomi Syariah


Sebuah ilmu tentu memiliki landasan hukum agar bisa dinyatakan sebagai
sebuah bagian dari konsep pengetahuan, demikian pula dengan ekonomi dalam
Islam. Ada beberapa dasar hukum yang menjadi landasan pemikiran dan penentuan
konsep ekonomi dalam Islam. Beberapa dasar hukum islam tersebut diantaranya
adalah sebagai berikut,

1) Al-Quran
Ini merupakan dasar hukum utama konsep ekonomi dalam Islam karena Al-Quran
merupakan ilmu pengetahuan yang berasal langsung dari Allah. Beberapa ayat
dalam Al-Quran merujuk pada perintah manusia untuk mengembangkan sistem
ekonomi yang bersumber pada hukum Islam. Diantaranya terdapat pada QS.
Fuskilat: 42, QS. AzZumar: 27, QS. Al-Hasy: 22.

2) Hadist dan Sunnah


Pengertian Hadist dan Sunnah adalah sebuah perilaku Nabi yang tidak diwajibkan
dilakukan manusia, namun apabila mengerjakan apa yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW, maka manusia akan mendapatkan pahala. Keduanya dijadikan
dasar hukum ekonomi dalam Islam mengingat Nabi Muhammad SAW sendiri adalah
seorang pedagang yang sangat layak untuk dijadikan panutan pelaku ekonomi
modern.
3) Ijma
Ijma adalah sebuah prinsip hukum baru yang timbul sebagai akibat adanya
perkembangan zaman. Ijma adalah konsensus baik dari masyarakat maupun
cendekiawan agama, dengan berdasar pada Al-Quran sebagai sumber hukum
utama.

4) Ijtihad atau Qiyas


Merupakan sebuah aktivitas dari para ahli agama untuk memecahkan masalah yang
muncul di masyarakat, di mana masalah tersebut tidak disebut secara rinci dalam
hukum Islam. Dangan menunjuk beberapa ketentuan yang ada, maka ijtihad
berperan untuk membuat sebuah hukum yang bersifat aplikatif, dengan dasar Al-
Quran dan Hadist sebagai sumber hukum yang bersifat normatif.

C. Filosofi Ekonomi Islam


Adiwarman Karim (2001) mengemukakan ada empat landasan filosofis sistem
ekonomi syariah yang menjadi pembeda utama dengan sistem ekonomi
konvensional, yaitu:

1) Tauhid
Dalam sistem ekonomi syariah tauhid merupakan landasan fundamental, dengan
landasan ketauhidan ini segala sesutu yang ada merupakan ciptaan Allah swt . dan
hanya Allah pula yang mengatur segala sesuatunya terhadap ciptan-Nya tersebut,
termasuk mekanisme hubungan pengaturan rezeki terhadap hamba-hamba-Nya,
seperti pemilikannya, cara perolehannya dan pembelanjaannnya (Tauhid
rububiyyah). Untuk itu para pelaku ekonomi (manusia) harus mentaati segala kaidah
yang telah ditetapkan oleh Allah secara kaffah, termasuk dalam bidang aktivitas
perekonomian. Ketaatan tersebut bukan hanya dalam kehidupan sosial belaka,
tetapi meliputi hal-hal yang bersifat etik dan moral (Tauhid uluhiyyah).

2) Keadilan dan keseimbangan


Sistem ekonomi syariah memandang keadilan dan keseimbangan merupakan
sesuatu hal yang mutlak untuk diamalkan olek pelaku ekonomi. Perlunya hal ini
berulangkali ditegaskan dalam Al-Quran. Keadilan dan keseimbangan merupakan
syarat mutlak untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Keadilan dan
keseimbangan ini harus teraplikasi sedemikian rupa antara anggota masyarakat
yang melakukan hubungan ekonomi. Artinya keadilan dan keseimbangan tersebut
bukan hanya pada tataran teoritis tetapi juga dalam tataran teknis. Misalnya dua
orang melakukan hubungan ekonomi (contohnya penjual-pembeli, pengusaha-
pekerja) berada pada tempat yang sejajar dan berkeadilan. Allah menegaskan
bahwa Ia sangat mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS, 60: 8).

3) Kebebasan
Dalam sistem ekonomi syariah, kebebasan merupakan hal pokok. Kebebasan disini
dimaksudkan bahwa manusia bebas untuk melakukan aktivitas ekonomi sepanjang
tidak ada larangan dari Allah swt. Dengan demikian pelaku ekonomi dalam sistem
ekonomi syariah diberikan keleluasaan untuk berkreatifitas dan berinovasi dalam
mengembangkan kegiatan ekonomi.
4) Pertanggungjawaban
Dalam sistem ekonomi syariah manusia sebagai khalifah pemegang amanah Allah
di muka bumi. Dalam melakukan aktivitas (termasuk aktivitas ekonomi) diberikan
keleluasaan untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya. Namun demikian sebagai
hamba Allah kepadanya akan diminta pertanggungjawaban atas segala sesuatu
yang dilakukannya itu.

Dengan empat landasan filosofis tersebut menjadikan sistem ekonomi syariah


memiliki keistimewaan dibanding dengan sistem ekonomi konvensional. Sistem
ekonomi syariah tidak memandang manusia sebagai makhluk ekonomi yang
mendewakan materi, akan tetapi memandang manusia memiliki fitrah sebagai
makhluk yang memiliki kasih sayang. Dengan adanya rasa kasih sayang akan
melahirkan perbuatan tolong menolong antar sesama (taawun dan takaful). Apalagi
manusia memiliki sifat dasar yang senang memberi bantuan kepada orang lain.
Allah mengemukakan bahwa orang yang berkasih sayang digolongkan kepada
golongan kanan (QS, 90: 18).