Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini telah menunjukkan

perbaikan dan peningkatan secara bertahap dari tahun ke tahun. Saat ini petugas

kesehatan

seperti

dokter

dan

perawat

dituntut

untuk

meningkatkan

mutu

pelayanannya serta menentukan strategi terbaik dalam memberikan pelayanan

kesehatan.

Berdasarkan

Undang-Undang

Nomor

23

tahun

1992,

profesi

keperawatan dan kedokteran harus memberikan pelayanan sesuai peran dan

fungsinya masing-masing agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat berjalan

secara maksimal. Tujuan di atas tidak dapat dicapai hanya dengan menjalankan

tugas sesuai peran masing-masing petugas atau profesi kesehatan saja, namun

diperlukan kerja sama antar petugas atau profesi kesehatan terutama perawat dan

dokter. Salah satu cara dalam bekerja sama adalah dengan kolaborasi antar

profesi. Perilaku kolaborasi antar perawat dan dokter telah terbentuk sebagai suatu

proses komunikasi antara perawat dan dokter selama melakukan perawatan pasien

(Bankston, 2005). Perawat dan dokter bekerjasama dan bertanggungjawab untuk

menyelesaikan

masalah,

manajemen

konflik,

pembuat

keputusan

dan

berkomunikasi secara terbuka (Boyle & Kochinda, 2004).

Menurut American Nurses Association (2002) disebutkan bahwa salah satu

fokus dari Nursing’s Agenda for the Future adalah mengembangkan lingkungan

praktik

keperawatan

yang

mendukung

pembuatan

keputusan

berdasarkan

kolaborasi. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Academy Health (2004)

1

2

dari 300 Registered Nurse (RNs) yang diteliti menyimpulkan bahwa kolaborasi

antara

dokter

dan

perawat

dapat

meningkatkan

pelayanan

pada

pasien,

menurunkan biaya rumah sakit yang ditanggung pasien, meningkatkan kepuasan

baik petugas kesehatan maupun pasien, dan kualitas perawatan.

Menurut Departemen Kesehatan RI (2004) Instalasi Gawat Darurat (IGD)

merupakan salah satu pintu kontak pasien dengan rumah sakit yang pertama dan

merupakan suatu unit di rumah sakit yang dikhususkan untuk melayani pasien

gawat darurat yang memerlukan pelayanan medik yang cepat, tepat, bermutu,

terjangkau, bersifat segera, dan pasien bisa datang kapan saja, serta merupakan

karakteristik yang dapat dibedakan dengan unit-unit pelayanan lain yang ada di

rumah sakit. IGD merupakan instalasi yang dituntut adanya kolaborasi yang baik

antara dokter dan perawat, kondisi tersebut dikarenakan dokter dan perawat

merupakan pemberi pelayanan kesehatan pertama yang menangani pasien gawat

darurat. Kolaborasi antar profesi antara dokter dan perawat dalam memberikan

pelayanan kepada pasien dapat diwujudkan melalui diskusi tentang diagnosis,

melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling berkonsultasi dan masing-

masing bertanggungjawab pada pekerjaannya (Basuki dan Endang, 2008). Dokter

dan

perawat

yang

menangani

pasien

gawat

darurat

diharapkan

mampu

memberikan pertolongan pertama dengan respon yang cepat dan tepat terhadap

kondisi pasien saat pertama kali datang atau masuk IGD dan siap siaga terhadap

semua perubahan yang terjadi pada pasien. Situasi ini merupakan kondisi dimana

peran dokter dan perawat harus dijalankan dengan baik, perawat dan dokter harus

mampu saling berkolaborasi dalam mendiskusikan tindakan darurat yang harus

3

diberikan

pada

pasien

gawat

darurat.

Dokter

dan

perawat

bekerja

saling

melengkapi dan saling membutuhkan dalam satu tim untuk mencapai suatu tujuan

sehingga pelayanan kesehatan dapat memberikan hasil yang maksimal terhadap

penyembuhan pasien. Adanya praktik kolaborasi antara perawat dan dokter di

IGD diharapkan dapat menurunkan persentase terjadinya medical error dan

nursing error yang dapat merugikan berbagai pihak.

Penerapan

kolaborasi

antar

perawat

dan

dokter

di

Indonesia

masih

memiliki banyak kendala, sehingga mengakibatkan pelayanan kesehatan yang

kurang maksimal. Kerjasama yang efektif oleh tenaga kesehatan dari berbagai

profesi

merupakan

kunci

penting

dalam

meningkatkan efektifitas

pelayanan

kesehatan dan keselamatan pasien (Butscher, 2012). Fakta yang terjadi saat ini

adalah sulit sekali untuk menyatukan berbagai profesi kesehatan tersebut ke dalam

sebuah tim interprofesi. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kemampuan tenaga

kesehatan untuk menjalin kerjasama yang efektif seperti kurangnya keterampilan

komunikasi interprofesi dan belum tumbuhnya budaya diskusi bersama profesi

lain dalam menentukan keputusan klinis pasien.

Menurut

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Ahyamuddin

(2004)

dalam

penelitiannya yang berjudul Gambaran Strategi Perawat dalam berkolaborasi

dengan Dokter di Ruang rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta

menyebutkan, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan

kolaborasi antara perawat dan dokter antara lain: 1) komunikasi; 2) tingkat

pendidikan

yang

rendah;

3) kurangnya kepercayaan

masyarakat

dan

dokter

terhadap perawat. Sedangkan faktor pendukung terlaksananya kolaborasi adalah

4

1)

tingkat

pendidikan

yang

memadai;

2)

pengakuan

profesionalisme;

3)

keterampilan perawat; 4) lama bekerja dan; 5) penghasilan. Sringati (2007) juga

meneliti

mengenai

kolaborasi

antara

dokter

dan

perawat

yang

berjudul

Pelaksanaan Kolaborasi Dokter Perawat di Ruang Rawat Inap Bedah (Teratai)

RSUD Undata Palu Sulawesi Tengah. Hasil dari penelitian Sringati adalah dari

total 29 responden (24 orang perawat dan 5 orang dokter), responden dokter

berada pada tahap berunding dan akomodasi-kolaborasi 40%, Kolaborasi 20%,

sedangkan responden perawat Menghindar 4,2%, Berunding 25%, Akomodasi-

kolaborasi 33,3%, Bersaing-kolaborasi 4,2%, Kolaborasi 16,7%. Kesimpulan dari

penelitian Sringati adalah pelaksanaan praktik kolaborasi di Ruang Rawat Inap

bedah belum seluruhnya terlaksana. Berdasarkan kedua penelitian di atas dapat

disimpulkan jika kolaborasi antara perawat dan dokter di

maksimal.

Indonesia belum

Komunikasi merupakan faktor penting yang harus dilakukan oleh petugas

kesehatan

untuk

melakukan

kolaborasi.

Menurut

Arford

(2005)

komunikasi

merupakan salah satu bentuk perilaku kolaborasi, ketika salah satu perilaku

kolaborasi ini tidak berjalan secara optimal maka pelayanan kesehatan dapat

terganggu. Faktanya masih banyak kendala yang dihadapi antar tenaga kesehatan

untuk melakukan komunikasi yang efektif. Menurut studi pendahuluan yang

dilakukan dengan mewawancarai penanggungjawab dan petugas piket di IGD

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta menyatakan bahwa dalam

pelaksanaan praktik kolaborasi terutama dalam menangani pasien gawat darurat,

dokter

dan

perawat

sering

terjadi

perbedaan

pandang

dan

pendapat

dalam

5

melakukan tindakan pertolongan di IGD. Perawat juga merasa dokter sering

kurang

memberikan

informasi

dan

instruksi

yang

kurang

lengkap

terhadap

tindakan

yang

harus

dilakukan.

Masalah

di

atas

tentu

dapat

menyebabkan

terganggunya proses pelayanan kesehatan saat melakukan pertolongan terhadap

pasien gawat darurat. Deli (2009) mengungkapkan jika pelayanan IGD digunakan

sebagai tolok ukur terhadap kualitas suatu rumah sakit. Sebagai contoh rumah

sakit dikatakan baik apabila memiliki tingkat pelayanan IGD yang baik pula

sehingga IGD sering dijadikan gambaran terhadap kualitas rumah sakit itu sendiri.

Berdasarkan uraian di atas peneliti akan melakukan penelitian untuk

mengetahui pelaksanaan praktik kolaborasi dokter dan perawat ditinjau dari

pendekatan interprofesi di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini

adalah bagaimana gambaran pelaksanaan praktik kolaborasi antara dokter dan

perawat ditinjau dari pendekatan interprofesi di IGD RS PKU Muhammadiyah

Kota Yogyakarta.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan praktik

kolaborasi pada dokter dan perawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota

Yogyakarta berdasarkan usia, jenis kelamin, lama bekerja dan pendidikan.

6

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran pelaksanaan praktik kolaborasi yang dilakukan

dokter di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

b. Mengetahui gambaran pelaksanaan praktik kolaborasi yang dilakukan

perawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penelitian terutama mengenai

gambaran

kolaborasi

antara

dokter

dan

perawat

di

Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

IGD

RS

2. Bagi Ilmu Kesehatan dan Keperawatan

PKU

Hasil Penelitian ini dapat digunakan sebagai tolok ukur dan tambahan ilmu

bagi petugas kesehatan terutama perawat dan dokter dalam memberikan

pelayanan kesehatan di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta

dengan melakukan kolaborasi antar profesi sehingga menghasilkan pelayanan

kesehatan yang bermutu.

3. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi bagi masyarakat

mengenai pentingnya kolaborasi antar petugas kesehatan di Instalasi Gawat

Darurat dan dapat digunakan sebagai referensi untuk memilih Rumah Sakit

yang memiliki mutu pelayanan

yang baik ditinjau dari segi kolaborasi

multidisiplin antar petugas kesehatannya.

7

4. Bagi Instansi Terkait

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

membuat kebijakan rumah sakit terkait dengan standar mutu pelayanan

kesehatan terutama di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

Peneliti

E. Keaslian Penelitian

menemukan

beberapa

penelitian

lain

yang

berkaitan

dengan

kolaborasi antar dokter dan perawat yang memiliki persamaan dan perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan, yaitu:

1. Purwanti, R. Y (2006) yang berjudul “Persepsi Dokter dan Perawat Tentang

Praktik Kolaborasi Dokter-Perawat di Bangsal Anak RSUP DR. Sardjito

Yogyakarta”.

Tujuan

dari

penelitian

ini

adalah

memperoleh

gambaran

mengenai persepsi dokter dan perawat di bangsal anak RSUP Dr. Sardjito

Yogyakarta terhadap praktik kolaborasi dokter-perawat. Jumlah sampel pada

penelitian ini adalah 7 responden yang terdiri dari 4 perawat dan 3 dokter.

Hasil penelitian yang dilakukan Purwanti adalah dokter dan perawat sama-

sama menyatakan bahwa praktik kolaborasi dokter dan perawat merupakan

suatu kerjasama tim dokter dan perawat untuk menangani masalah pasien.

Tidak ada perbedaan persepsi antara dokter dan perawat tentang praktik

kolaborasi dokter dan perawat. Perbedaan penelitian yang dilakukan Purwanti

dengan

penelitian

yang

akan

dilakukan

peneliti

adalah

pada

penelitian

Purwanti

menggunakan

jenis

penelitian

kualitatif

dengan

menggunakan

wawancara

sebagai

pengumpulan

data

untuk

mendiskripsikan

persepsi

perawat

dan

dokter

terhadap

praktik

kolaborasi

dokter

dan

perawat.

8

Sementara

penelitian

yang

akan

dilakukan

peneliti

menggunakan

jenis

penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuesioner untuk menentukan

2.

tingkat

pelaksanaan

kolaborasi

dokter

dan

perawat

di

Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

IGD

RS

PKU

Setyawati, A (2006) yang berjudul “Gambaran Komunikasi Dokter dan

Perawat Sebagai Salah Satu Aspek Kolaborasi Di Rumah Sakit Jiwa Prof.

DR. Soeroyo Magelang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

gambaran komunikasi antara dokter dan perawat sebagai salah satu aspek

kolaborasi di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Soeroyo Magelang. Penelitian

Setyawati ini menggunakan 75 sampel yang terdiri dari 9 dokter dan 66

perawat. Hasil Penelitian yang dilakukan Setyawati adalah dari 75 responden,

didapatkan mean 69,85 yang berarti komunikasi antara dokter dan perawat

tergolong dalam kategori komunikasi sedang. Hambatan komunikasi meliputi

stigma tentang perawat pembantu dokter, tidak adanya pertemuan rutin, tidak

saling mengenal, tradisi serta beberapa faktor dokter dan perawat. Persamaan

penelitian

yang

akan

dilakukan

dengan

penelitian

Setyawati

ini

adalah

rancangan penelitiannya. Rancangan penelitiannya adalah Cross Sectional

dan menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner

yang dibagikan kepada perawat dan dokter. Sedangkan perbedaan penelitian

yang dilakukan dengan penelitian Setyawati adalah variabel dan subjek

penelitiannya. Variabel yang digunakan hanya berfokus pada komunikasi

dokter dan perawatnya sedangkan subjek penelitiannya adalah perawat dan

dokter yang bertugas di RSJ Prof. DR. Soeroyo Magelang. Sedangkan

9

penelitian yang akan dilakukan peneliti menggunakan variabel tunggal yaitu

gambaran pelaksanaan praktik kolaborasi dokter dan perawat. Sementara

subjek penelitian yang akan dilakukan adalah perawat dan dokter yang

bertugas di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

3.

Ahyamuddin (2004) yang berjudul “Gambaran Strategi Perawat dalam

Berkolaborasi

dengan

Dokter

di

Ruang

Rawat

Inap

RSU

PKU

Muhammadiyah

Yogyakarta”.

Tujuan

dari

Penelitian

ini

adalah

untuk

mengetahui harapan perawat terhadap kolaborasi dan faktor penghambat

beserta faktor pendukung kolaborasi. Jumlah subjek penelitian adalah 10

orang perawat. Hasil penelitiannya adalah perawat mengharapkan kolaborasi

berjalan sesuai dengan nilai-nilai professional, faktor penghambat kolaborasi

diantaranya

adalah

komunikasi,

pendidikan

yang

rendah,

kurangnya

kepercayaan masyarakat dan dokter terhadap perawat. Sedangkan faktor

pendukung kolaborasi adalah tingkat pendidikan, pengakuan profesionalisme,

keterampilan perawat, lama bekerja, dan penghasilan. Perbedaan penelitian

yang akan dilakukan dengan penelitian Ahyamuddin adalah metode dan

subjek penelitiannya. Metode penelitian Ahyamuddin bersifat eksploratif

dengan

pendekatan

metode

kualitatif,

cara

pengumpulan

data

dengan

menggunakan

wawancara

dan

FGD.

Sedangkan

penelitian

yang

akan

dilakukan

menggunakan

jenis

penelitian

kuantitatif

dengan

rancangan

penelitian

Cross

Sectional

dan

menggunakan

teknik

pengumpulan

data

dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada perawat dan dokter.

Subjek penelitian Ahyamuddin adalah perawat yang bekerja di ruang rawat

10

inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sedangkan subjek pada

penelitian yang akan dilakukan adalah perawat dan dokter di IGD RS PKU

Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

4. Sringati (2007) dengan judul “Pelaksanaan Kolaborasi Dokter – Perawat di

Ruang Rawat Inap Bedah (Teratai) RSUD Undata Palu Sulawesi Tengah”.

Tujuan penelitian Sringati adalah untuk mengetahui pelaksanaan praktik

kolaborasi

dokter-perawat

di

Ruang

Rawat

Inap

Bedah.

Penelitian

ini

memiliki 29 responden yang terdiri dari 24 orang perawat dan 5 orang dokter.

Hasil dari penelitian Sringati adalah Responden dokter berada pada tahap

berunding

dan

akomodasi-kolaborasi

40%,

Kolaborasi

20%,

sedangkan

responden

perawat

Menghindar

4,2%,

Berunding

25%,

Akomodasi-

kolaborasi 33,3%, Bersaing-kolaborasi 4,2%, Kolaborasi 16,7%. Kesimpulan

dari penelitian Sringati adalah pelaksanaan praktik kolaborasi di Ruang

Rawat Inap bedah belum seluruhnya terlaksana. Persamaan penelitian yang

akan dilakukan dengan penelitian Sringati adalah metode penelitian dan

kuesioner

yang

digunakan,

yaitu

menggunakan

penelitian

deskriptif

kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Sedangkan kuesioner yang

digunakan adalah kuesioner skala praktik kolaborasi dokter dan perawat

(Collaborating Practice Scale) dari Weiss dan Davis. Perbedaan penelitian

yang akan dilakukan dengan penelitian Sringati adalah subjek penelitiannya.

Sringati menggunakan subjek perawat dan dokter yang ada di ruang inap

bedah RSUD Undata palu Sulawesi Tengah. Sedangkan subjek penelitian

11

yang akan dilakukan adalah perawat dan dokter yang ada di IGD RS PKU

Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

5. Sari, L. P (2011) dengan judul “Pelaksanaan Praktik Kolaborasi Dokter dan

Perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP DR. Sardjito”. Tujuan dari

penelitian tersebut untuk mengetahui gambaran model, aspek, sarana, elemen,

intervensi dan faktor yang mempengaruhi kolaborasi di IGD RSUP Dr.

Sardjito. Penelitian yang dilakukan Sari memiliki 44 responden. Hasil dari

penelitian

ini

adalah

tingkat

kolaborasi

terbanyak

adalah

menghindar-

bersaing

50%,

nilai

rata-rata

aspek

tertinggi

adalah

aspek

komunikasi

keterbukaan dokter triase yaitu 4,41. Sarana kolaborasi adalah percakapan

langsung, dan elemen praktik kolaborasi paling besar adalah assertiviness

dalam memberi dukungan dan mutual trust and respect yaitu 100%, intervensi

yang

dilakukan

adalah

seminar.

Faktor

pendukung

terbanyak

adalah

komunikasi efektif, faktor penghambatnya adalah ketidakseimbangan tenaga

kesehatan dengan pasien dan fasilitas tindakan. Persamaan penelitian yang

dilakukan oleh Sari dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah

sama-sama

merupakan

penelitian

deskriptif

dengan

rancangan

cross

sectional.

Penelitian

ini

juga

menggunakan

instrument

Skala

Praktik

Kolaborasi.

Perbedaannya

adalah

penelitian

Sari

merupakan

gabungan

penelitian

kuantitatif

dengan

kualitatif.

Tujuan

penelitian

Sari

untuk

mengetahui mengetahui gambaran model, aspek, sarana, elemen, intervensi

dan faktor

yang mempengaruhi kolaborasi di IGD RSUP Dr. Sardjito.

Sedangkan jenis penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah penelitian

12

kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan praktik

dokter dan perawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta.