Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Dalam memacu pembangunan sekarang ini, kota semakin mempunyai peranan yang

penting. Baik secara historis maupun sosiologi dan ekonomi, kota mempunyai

kedudukan sentral dalam percaturan kehidupan manusia. Dalam hubungan itulah

kota selalu diartikan sebagai fungsi majemuk. Kota merupakan pusat populasi,

perdagangan, pemerintahan, industri maupun sebagai pusat budaya dari suatu

wilayah yang lebih luas.

Pertumbuhan dan perkembangan kota dalam lingkup wilayah kecamatan merupakan

suatu gejala geografis ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk. Peningkatan

kebutuhan akan pemenuhan sarana dan prasarana fasilitas sosial ekonomi dan

infrastruktur lainya. Dinamika pertumbuhan dan perkembangan kota akan

membutuhkan pola pengaturan pemanfaatan ruang demi terciptanya kesinambungan

pembangunan dimasa yasng akan datang sesuai dengan muatan rencana (dimensi

waktu yang ditetapkan). Identifikasi terhadap wilayah perkotaan pada dasarnya

terbagi atas tiga kategori sebagai berikut:

Kategori kota Besar ( Kota Metropolitan)

Kategori Kota Sedang Kota Kabupaten)

Kategori Kota Keci ( Kota Kecamatan)

Ukuran penetapan besaran kota tersbut didasarkan pada pertimbangan: jumlah

penduduk, luas wilayah administratif dan tingkat perkembangan kota itu sendiri.

Kategori untuk skala Ibukota kecamatan termakuk dalam ukuran kecil dalam system

kota-kota dan terkait dengan hirarki rencana pengembangan wilayah baik dalam
lingkup kabupaten dan propinsi serta merupakan kesatuan matarantai yang tak

terpisahkan.

Penyusunan Rencana Umum Tata Ruang Ibukota Kacamatan (RUTRK-IKK) Kota

Sapaya Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa merupakan kajian kinerja pemafaatan

ruang perkotaan yang dijadikan dasar dan alat pengendali pemanfaatan runag, dititik

beratkan pada potensi dan permasalahan wilayah kecamatan serta dikaitkan dengan

peranan Ibukota Kecamatan sebagai pusat pemasaran dan distribusi hasil-hasil

produksi baik dari daerah hinterlandnya (desa-desa disekitarnya maupun kecamatan

yang berbatasan langsung dengan wilayah yang menjadi obyek perencanaan.

Kecamatan Bungaya dengan dominasi potensi pada sub sektor perkebunan jangka

panjang seperti kopi, cengkeh, serta dan lainnya yang dapat dikembangkan baik

dalam rangka pertumbuhan wilayah kecamatan itu sendiri maupuan dalam hubungan

konstelasi dengan Kabupaten Gowa secara keseluruhan. Dalam system hubungan

yang lebih luas. Peranan Ibukota Kecamatan Bungaya (Kota Sapaya) diharapkan

akan merupakan suatu titik tumbuh dalam perimbangan wilayah untuk mewujudkan

hubungan keterkaitan pemasaran dan distribusi dalam lingkup regional kabupaten

secara keseluruhan. Konsekuensi dari pemikiran dasar tersebut akan membutuhkan

perencanan pengelolalan ruang baik secara pusat pertumbuhan baru dalam konstelasi

wilayah maupun kerangka dasar alam dalam mengendalikan program pemanfaatan

ruang dimasa yang akan datang dan diwujudkan dalam bentuk Rencana Umum Tata

Ruang Ibukota Kecamatan (RUTRK- IKK) dengan jangka waktu sepuluk tahun

kedepan.
Rencana Umum Tata Ruang Kota Sapaya Kecamatan Bungaya merupakan

penjabaran dari kebijaksanaan paraturan yang lebih tinggi, seperti Pola Dasar

Pembangunan Daerah, dan Kebijaksanaan Pembangunan Propinsi Sulawesi Selatan

Sebagai perwujudan amanah GBHN 1998 dan Undang Undang Dasar Tahun 1945

yang diterjemahkan dalam bentuk konsep pemanfaatan dan pengendalian ruang

berdimensi waktu 10 tahun ke depan.

Keterkaitan dalam lingkup yang lebih kecil RUTK Ibukota Kecamatan sebagai pusat

distribusi dari desa sebagai daerah belakang (hinterland)

Hasil pengamatan awal yang dilakuka menunjukan pertumbuhan dan perkembangan

Kota Kota Sapaya Kecamatan Bungaya menunjukan tingkat pertumbuhan yang

cukup menggembirakan hal ini terlihan dengan kenikan angka pertumbuhan sektor-

sektor kegiatan pembangunan mencapai ankga ..% yang didominasi oleh sektor

kegiatan pembangunan. Hal ini yang cukup mandapat penanganan oleh PEMDA

setempat dengan meningkatnya sumber daya pada sub sektor perkebunan

mengakibatkan terjadinya pergeseran struktur ekonomi ditandai dengan

meningkatnya sumbangan pada sub sektor perkebunan mengakibatkan terjadinya

pergeseran struktur ekonomi ditandai dengan meningkatnya pergeseran incam

pendapatan masyarakat pada subsektor tersebut. Kondisi demikian akan

membutuhkan lokasi lokasi baru untuk mendukung keberadaaan daerah sentral

produksi dalam bentuk program pamanfaatan ruang bagi segenap unsur komponen

ruang yang diakomodasikan dalam bentuk rencana pamanfaatan ruang kota

berindikasi kinerja panetapan lokasi berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan daya

dukung dan daya tampung lingkungan.


1.2. Tujuan dan Sasaran

1. Tujuan

Secara umum tujuan Rencana Umum Tata Runga Kota Sapaya Kecamatan

Bungaya adalah sebagai beikut:

Mewujudkan efisiensi program pemanfaatan ruang untuk tujuan

pembangunan kota dimasa yang akan datang.

Peningkatan konstribusi nilai ekonomi kota dan pertumbuhan sektor-sektor

perkotaan.

Pemerataan dan perluasan manfaat pembangunan kota bagi seluruh golongan

dan lapisan masyarakat

Peningkatan sosial ekonomi masyarakat melalui pembukaan kesempatan

kerja dan kesempatan berusaha.

Perbaikan kondisi lingkungan hidup perkotaan.

2. Sasaran

Dengan berdasarkan tujuan umum diatas, maka sasaran Recana Umum Tata

Ruang Kota Sapaya Kecamatan Bungaya (RUTRK-IKK) diarahkan pada

program pemanfaatan, pemgendalian, pelaksanaan dan monitoring pembangunan

perkotaan dengan memanfaatkan lahan seefisien dan seefektif mungkin demi

tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-

Undang Dasar Tahun 1945 dengan sasaran sebagai berikut :


Memberikan arahan bagi Pemerintah Kabupaten Gowa dalam rangka

program pemanfatan ruang di Kecamatan Bungaya pada umum dan Kota

Sapaya secara khusus.

Merumuskan jenis-jenis kegiatan pembangunan yang akan ditetapkan

berdasarkan kajian potensi dan kinerja Ibukota Kecamatan.

Merumuskan sasaran pembanguna jangka panjang dan jangka menengah.

Mengoptimalkan program pemanfaatana ruang untuk menciptakan sinergi

wilayah yang harmois dan berkesinambungan.

2.1. Rumusan Masalah

Beberapa permasalahan dapat dikemukana pada Kota Sapaya Kecamatan Bungaya

sebagai berikut:

Terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang belum diakomodasikan pada

ruang yang tepat mengakibatkan pembuangan yang dilakukan masyarakat tidak

terkendali terutama pada kawasan sepanjang daerah manfaat sungai.

Perkembangan jumlah penduduk justru menimbulkan permasalahan

lingkungan terutama kawasan dan wilayah yang wajib dilindungi.

Pengadaaan sarana dan prasarana dasar hingga saat ini belum memenuhi

kebutuhan jumlah penduduk yang ada mengakibatka pola sirkulasi dan mobilisasi

pergerakan penduduk masi bertumpuk pada satu titik.

Kurangnya fasilitas sosial ekonom masyarakat yan bersifat pelayanan umum

baik yang berada pada pusat Ibukota kecamatan maupun yang berada dalam

lingkup kesatuan unit lingkungan


Masih terbatasnya kesempatan berusaha bagi masyarkat sehingga

kecenderungan pergerakan masih bertumpuk pada kecamatan induk sebagai pusat

aktifitas ekonomi

2.2. Pengertian Rencana Umum Tata Ruang Ibukota Kecamatan (RUTRK-IKK)

Rencana Umum Tata Ruang Kota adalah rencana pengembangan kota yang disiapkan

secara teknis dan non teknis, baik yang ditetapkan pemerintah pusat maupun

Pemerintah Daerah dan diinterpresentasikan dalam program pemanfaatan ruang

permukiman bumu termaksud ruang diatanya dan menjadi pedoman [emanfaatan,

pengendali, pengarahan pelaksanan pembangunan (Undang-Undang No. 24 tahun

1993 Tentang Penataan Ruang).

Rencanaan Umum Tata Ruang Kota Mempunyai ruang lingkup sebagai rencana kota.

Mencerminkan strategi pengembangan kota dalam kurung waktu 10 tahun serta

dijabarkan dalam skala prioritas lima tahun.

RUTK- IKK merupakan penjabaran aspirasi masyarakat dan pemerintah setempat

dalam arti membuka kesempatan bagi peran swasta dan masyarakat, dinamis dan

fleksibel serta antisipasi terhadap kemajuan teknilogi dan manusianya.

2.3. Linkup Kegiatan

Rangkaian kegiatan penyusunan Rencana Umum Tata Rung Kota Ibukota

Kecamatan (RUTRK-IKK) Kota Sapaya Kecamatan Bungaya terdiri 4 (empat) seri

pelaporan meliputi : Laporan Pendahuluan, Laporan Antara (Falta dan Analisa),

Rangcangan dan Rencana. Pada tahap awal rangkaian proses tersebut adalah

penyusunan Laporan Pendahuluan dengan lingkup kegiatan sebagai berikut:


Mengkaji pola dasar Pembangunan Daerah dan REPELITA Daerah di

singkrongkan dengan kebijaksann Pembangunan Ibukota Kecamatan serta

mempertimbangkan kondisi ekonomi makro wilayah, kerjasama

pengembangan regional dengan pegaruh globalisasi.

Mengkaji kondisi wilayah perencanaan serta kecenderungan dinamika

perkembangan kota baik yang sementaraberlangsung dan yang akan terjadi

dimasa yang akan dating.

Mengkaji rona awal kawasan perencanaan untuk diadaptasikan pada program

perencanaan sesuai dengan dimensi waktu yang telah ditetapkan.

Merumuskan skenario pengembangan kota untuk jangka waktu 10 tahun

(sepuluh) tahun dengan rumusan sebagai berikut :

Fungsi dan peran kota

Arah pengembangan kota

Identifikasi kawasan kawasana pengembangan perkotaan (Controled

Area. Protmoted Area. Termasuk identifikasi kawasan prioritas)

Kebijaksanaan kependudukan

Kota Sapaya Kecamatan Bungaya

1.6. Sistematika Pembahasan

BAB I : PENDAHULUAN, Menjelaskan mengenai , Latar Belakang,

rumusan Masalah, Pengertian RUTRK-IKK, Lingkup Kegiatan, serta Sistematika

Penyusunan

BAB II : RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA SAPAYA KECAMATAN

BUNGAYA, Menjelaskan Gambara Umum, Batasan Geografis Wilayah


Perencanaan, Hirarki Tata Ruang , Kajian Pola Dasar Pembangunan

Kbupaten Dati II Luwu, Karasteristik wilayah Perencanan.

BAB III :METODOLOGI PENDEKATAN Menjelaskan Ketentuan penyususnan

RUTRK-IKK, Pendekatan Perencanan, Pendekatan Umum dan Model-

Model Analisis yang digunakan.

BAB IV :PELAKSANAAN PEKERJAAN Menjelaskan mengenai waktu

kegiatan, Organisasi Pelaksanaan, Pengerahjan Tenaga , Perincian

Pekerjaan dan Tanggung jawab Tim Tenaga ahli.


BAB II
RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA IBUKOTA KOTA SAPAYA
KECAMATAN BUNGAYA

II.1. Umum

Kecamatan Bungaya merupakan salah satu kecamatan dalam lingkup wilayah

Kabupaten Dati II Gowa, berada pada posisi geografis

Dalam konteks pengembangan wilayah kedudukan Kecamatan Bungaya memiliki

posisi yang strategis . Pada jalur lintas trasportasi regional menuju kecamatan lainya

dan mobilisasi pergerakan ke Ibukota Kabupaten (Trans Sulawesi). Berdasarkan

letak geografis dan potensi wilayah yang dimiliki akan memberikan peluang bagi

pengembangan struktur Tata Ruang Ibukota Kabupaten dengan terakumulasinya titik

tumbuh baru sebagai sentral pengembangan wilayah dalam konstelasi kabupaten

secara umum.

Kota Sapaya dalam konteks pengembangan wilayah diharapkan berperan sebagai

pusat pertumbuhan dalam hal distribusi. Permasalahan barang dan jasa umum

kebutuhan local kota dan lingkungan regional wilayah yang menjadi derah belakang

(hinterland). Sebagai Ibukota Kecamatan diharapkan perkembangan Kota Sapaya

Kecamatan Bungaya..
1. Batas Geografi Wilayah Perencanan

Kota Sapaya Kecamatan Bungaya terletak dibagian terletak

Kabupaten Dati II Gowa dengan posisi koordinat wilayah berada pada posisi

geografis sebagai berikut:

. Lintan Selatan

..Bujur Timur

Berdasarkan posisi koordinat tersebut Kota Sapaya Kecamatan Bungaya dengan

batas administrasi sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan ..

Sebelah Selatan berbatasan dengan

Sebelah Barat berbatasan dengan

2. Hirarki Tata Ruang

Peyusunan Rencana Tata Ruang pada dasarnya terdiri dari 4 (empat) tingkat dan

membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan.Rangkaian Proses pemanfaatan dan

pengendalian ruang perkotaan memiliki hirarki seperti pada diagram dibawah ini:

HIRARKI PEMBANGUNAN KOTA

POLA DASAR PEMBANGUNAN DAERAH


Log- Range Development Strategi

Tingkat I

RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA (RUTRK-IKK)


KECAMATAN PERWAKILAN BAEBUNTA
Struktur Plan
Tingkat II

RENCANA PERUNTUKAN LAHAN/RENCANA


BAGIAN WILAYAH KOTA
Distrik Plan

Tingkat III

RENCANA KOTA TERPERINCI


Detaile Plan

Tingkat IV

RENCANA UNSURE KOTA TERPERINCI


Detaile Urban Element Plan

II.2. Kajian Rencana Pembangunan Lima Tahun Keena, Kabupaten Dati II Luwu

Rencana Pembangunan Lima tahun keenam Kabupaten Dati II Gowa diarahkan

untuk memacu pertumbuhan sector-sektor kegiatan pembangunan, menciptakan

pertumbuhan ekonomi yang dinamis dengan memanfaatkan potensi sumber daya untuk

tujuan kemakmuran masyarakat sebesar-besarnya. Dalm rencana pembangunan lima

tahun keenam Kabupaten Dati II Gowa telah ditetapkan prioritas pembangunan sebagai

berikut :

1. Program Sektor Ekonomi Antara lain :

Industri
Sektor industri diarahkan untuk penggalakan eksport daerah melalui pemanfaatan

potensi sumber daya alam yang ada sebagai bahan baku utama yang telah diproses

baik untuk rangkaian pemasaran local kabupaten. Regional dan nasional dengan

titik berat industri rumah tangga. Mengupayakan terbentuknya Kawasan Industri

Daerah (KIDAL) untuk mengolah bahan baku menjadi setengah jadi dan barang

jadi sebelum di pasarkan ke wilayah yang lebih luas.

Pertanian

Peningkatan produksi dengan jalan penerapan system pertanian intensif melalui

upaya pembinaan kepada petani dengan sasaran yang hendak dicapai sebagai

berikut :

Penyediaan kebutuhan bahan pangan bagi penduduk untuk

meningkatkan potensi dan kualitas sumber daya manusia.

Penggalakan pembangunan pertanian secara

berkesinambungan untuk memantapkan swasembada pangan.

Meniungkatkan tingkat pendapatan petani terutama di

wilayah pedesaan sehingga mampu menyerap hasil produksi industri.

Perikanan

Peningkatan dan optimalisasi potensi sumberdaya perikanan di Kabupaten Dati II

Gowa diupayakan dalam bentuk :

Peningkatan produksi

Pembinaan pola usaha

Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan

Pelestarian sumber daya perikanan


Peternakan

Program pembangunan sector peternakan meliputi :

Pembangunan peternakan

secara umum

Pembangunan sarana

peternakan

Pengembangan sumberdaya

pakan

Perdagangan

Memantapkan

pengadaan dan penyaluran barang-barang yang dikategorikan dalam cadangan

nsional melalui monitoring persediaan barang pokok.

Perluasan

pemasaran barang-barang produksi melalui pembangunan pasar, dan

pembinaan tempat-tempat penampungan untuk mendorong perdagangan antar

daerah.

Transportasi

Peningkatan sarana dsan prasarana perhubungan darat teritama

pengadaan jalan bagi desa-desa terisolir untuk membuka sentra-sentra

produksi baru.

Peningkatan sarana dan prasarana perhubungan udar yang telah

ada.

Peningkatan sarana dan prasarana perhubungan laut.


II-3. Kondisi Umum Wilayah Perencanaan

a. Kondisi Fisik

1. Keadaan Tofografi

Keadaan topografi wilayah perencanaan berada pada ketinggian dari

permukaan air laut antara 100 500 meter dengan kemiringan lereng antara

5 10%,10 15% dan 40%. Kondisi demikian pada area tertentu tidak

dapat dilakukan kegiatan pembangunan terutama bagi kawasan lindung dan

daerah manfaat sungai.

2. Keadaan Geologi

Struktur geologi wilayah perencanaan di pengaruhi oleh hasil pembentukan

kandungan mineral proses alam pada lapisan kerak bumi dan pertemuan sisa

hasil kegiatan gunung api yang membentuk keadaan tanah dan jenis batuan.

Klasifikasi jenis tanah di Kecamatan terdiri dari kandungan hasil

sedimentasi sungai dengan keadaan tekstur tanah terdiri dari tekstur tanah

halus, sedang dan kasar terdiri dari jenis tanah Aluvial kecoklatan,

Hidromofort, dan pedsolit kelabu tua dengan kedalaman efektif 20 30 cm.

3. Keadaan Hidrologi

Kondisi hidrologi di wilayah perencanaan merupakan daerah daratan sampai

bergelombang dilalui oleh aliran sungai Kondisi sungai tersebut

memiliki potensi untuk dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih

masyarakat. Pada daerah-daerah tertentu terdapat wilayah yang mengalami

genangan priodik terletak pada lokasi Desa .

4. Keadaan Klimatologi
Keadaan klimatologi wilayah perencanaan memiliki iklim tropis, dengan

suhu udara normal antara 25 C 30 C pada siang hari dan malam hari antara

23 C 27 C. Curah hujan tertinggi berlangsung pada bulan April dengan

jumlah 647 mm/hh.

5. Pola Penggunaan Lahan

Pola penggunaan lahan di wilayah perencanaan terdiri dari lahan produktif

dimanfaatkan penduduk untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perumahan

dan fasilitas social ekonomi. Lebih jelasnya dapat di lihat pada table

dibawah ini :

Tabel II 1
Pola Penggunaan Lahan Di Kecamatan Gowa
No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Sawah 2325 2,7
2 Lahan Kering 42198 48,7
3 Tegalan 1478 1,7
4 Pekarangan 980 1,13
5 Perkebunan 3750 4,3
6 Padang Rumput 1500 1,7
7 Kolam/Tambak 60 0,06
8 Hutan 33200 38,3
9 Lain-lain 1230 1,4
Jumlah 86,721 100,00
6. Keadaan Vegetasi

Jenis vegetasi yang terdapat di wilayah perencanaan terdiri dari jenis

tanaman perkebunan, padang rumput dan semak belukar, hutan produksi dan

hutan lindung.

II-4 Sosial Ekonomi

a. Perkembangan Sektor Sektor Kegiatan

Perkembangan sector-sektor kegiatan di kecamatan Gowa hingga awal tahun ..

memperlihatkan kenaikan angka yang cukup menggembirakan. Dari jumlah

sector-sektor kegiatan yang ada dominasi sumbangan terbesar masih bertumpu

pada sub sector perkebunan dengan kenaikan nilai produksi sebesar ton /

tahun menyusul sector perikanan dengan nilai produksi sebesar ton / tahun

peternakan sebesar . Ekor dengan klasifikasi ternak besar dan ternak kecil.

Industri rumah tangga unit dan kegiatan perorangan. Dari nilai angka-angka

tersebut mampu mendukung peningkatan pendapatan asli kecamatan tanpa

dukungan dari daerah lain.

b. Ekonomi Masyarakat

Hasil survey yang dilakukan menunjukkan kegiatan social ekonomi masyarakat di

wilayah perencanaan pada umumnya masih bergerak pada sub sector

perkebunan,menyusul kegiatan industri rumah tangga. Hasil wawancara yang

dilakukan kepada masyarakat menunjukkan tingkat pendapatan masyarakat

berkisar antara Rp.100.000,- sampai Rp.500.000,-. Hal ini menunjukkan

indicator tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin membaik.Untuk lebih


jelasnya kondisi social masyarakat di wilayah perencanaan di jelaskan pada table

berikut ini :

Tabel II 2
Penduduk berdasarkan Mata Pencaharaian
Di Kecamatan Gowa Tahun .
No. Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Presentase
1. Petani Pemilik Tanah 7270 1,4
2. Petani Penggarap 325 0,6
3. Wiraswasta 5 0,9
4. Pengrajin 3 0,5
5. Pedagang 20 2,7
6. Pengangkutan 19 3,5
7. Peternakan 12,096 3,6
8. Lain-lain 25,651 4,8
JUMLAH 537,021 100,00
Sumber : Data monografi kecamatan

II-5 Demografi (Kependudukan)

a. Perkembangan Jumlah Penduduk

Pemekaran wilayah kecamatan perwakilan Gowa, pada awalnya bersatu dengan

Kecamatan .. .Angka pertumbuhan jumlah penduduk kecamatan Gowa

setelah terjadi pemekaran wilayah dan lepas dari induknya menunjukkan tingkat

pertumbuhan yang cukup tinggi dan mengalami kenaikan sebesar jiwa. Hal

ini diakibatkan tingginya arus imigrasi dari kabupaten lain dalm lingkup wilayah

Propinsi Sulawesi Selatan dengan rata-rata arus migrasi sebesar 0,2%. Disamping

hal tersebut di pengaruhi denagn tingkat angka kelahiran penduduk sebesar 8 jiwa

setiap 1.000 penduduk dan angka kematian sebesar 4 jiwa setiap 1000 penduduk.

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada pengkajian table berikut ini :

Tabel II-2.1
Jumlah dan Perkembangan Penduduk Kecamatan Buangaya
Tahun 1997-2001

Jumlah Perkembanga
No. Tahun (%)
Penduduk n
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah
Sumber : Monografi Kecamatan Buangaya, Tahun

b. Sosial Budaya

Karakteristik social budaya masyarakat di wilayah perencanaan, seperti halnya

masyarakat sul sel pada umumnya memiliki ciri khas yang masih melekat yaitu

sifat kebersamaan dan kegotong royongan, terutama dalam kegiatan keagamaan

kehidupan social sehari-hari. Salah satu adat kebudayaan yang hampir punah

akibat pengaruh modernisasi adalah adat penduduk setempat yang masih di

pegang teguh yaitu adat Mallomo.

II-6. Sarana dan Prasarana

Kondisi sarana dan prasarana di wilayah perencanaan di bagi dalam 2 (dua)

klasifikasi sebagai berikut :

a. Sarana dan Prasarana Fasilitas Sosial Ekonomi.

Jumlah fasilitas social ekonomi sampai saat ini belum memadai baik dari segi

pelayanan, radius pencapaian dan belum mampu mendukung aktifitas penduduk

secara keseluruhan. Hasil survey yang dilakukan menunjukkan fasilitas yang

tersedia saat ini meliputi ; Kantor pemerintahan kecamatan, pendidikan,

peribadatan dan pelayanan jasa.


b. System Transportasi dan Utilitas Kota

System transportasi yang sangat berperan di wilayah perencanaan adalah

prasarana transportasi jalan darat. Berdasarkan klasifikasi dan fungsinya jenis

jalan yang terdapat di wilayah perencanaan antara lain ; jalan arteri sekunder,

jalan kolekter primer, lkial primer dan local sekunder, dengan pola system

transportasi membentuk pola grid dan rekta liner.

Jenis utilitas yang terdapat di wilayah perencanaan saat ini terdiri dari drainase

primer, sekunde dan tersier. Untuk mengetahui ketersediaan system transportasi

dan utilitas kota di wilayah peencanaan di jelaskan pada table di bawah ini :

Tabel II-3.a
Klasifikasi Sistem Transportasi dan Utilitas Kota
Di Wilayah Perencanaan 1998
No. Fungsi Jalan Kondisi Panjang (m) Lebar (m)
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah
Sumber : Hasil survey Tahun 1988

Tabel II-3.b
Sistem Utilitas Kota di Wilayah Perencanaan
Kondisi Tahun 1998
No. Jenis Utilitas Kondisi Panjang Lebar (m)
1. Drainase Sekunder Baik 250 0,8
Air Bersih Kondisi Diameter Kedalaman
2. Sumur Artesisi Baik 1-2 56
Sistem Persampahan Sistem Lebar Tinggi
3. Pengolahan Bakar - -
Sistem Kapasitas Jumlah
Jaringan Telephone
Sambungan Terpasang Pelanggang
4. Terpasang SLI& STO - -
Sistem Jumlah
Jaringan Listrik Jarak Tiang
Sambungan Travo
Tegangan Unit Rumah
5. 50 m 2
Menengah dan Fasilitas
Sumber : hasil Survey Tim 1998

BAB III

METODOLOGI PENDEKATAN

III-1 Konsepsi dan Ketentuan Pelaksanaan RUTRK-IKK

1. Dasar Hukum

Penyusunan Rencana Umum Tata Ruang Kota Ibukota Kecamatan (RUTRK-

IKK) Kota Ba Kecamatan Bunganya didasarkan pada peraturan dan

pembakuan perencanaan antara lain :

A. Undang-undang dan Kebijaksanaan Pemerintah.

Undang-undang No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang.

Undang-undang No. 4 Tahun 1992 Tentang Permukiman dan Perumahan.

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 Tentang Jalan.


Undang-undang No. 2 Tahun 1987 Tentang Penyusunan Rencana Kota.

Undang-undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup.

Peraturan Pemerintah no. 51 Tahun 1993 Tentang Analisi mengenai Dampak

Lingkungan

B. Pola Dasar Pembangunan Daerah dan REPELITA

Pola Dasar Pembangunan Dati II Sulawesi Selatan

Pola Dasar pembangunan Kabupaten Dati II Luwu

2. Konsep Perencanaan