Anda di halaman 1dari 12

RMK 1

AKUNTANSI MANAJEMEN

Disusun oleh :

Pandu Kurniawan

Veronika Narendra Novelita


1.1 Sistem Informasi Akuntansi Manajemen

Sistem informasi akuntansi manajemen adalah proses yang dideskripsikan oleh


aktivitas-aktivitas, seperti pengumpulan, pengukuran, penyimpanan, analisis, pelaporan,
dan pengelolaan informasi sedangkan informasi mengenai peristiwa ekonomi diproses
untuk mengeluarkan output. Contohnya adalah laporan khusus, biaya produk, biaya
pelanggan, anggaran, laporan kinerja, dan sebagainya (Hansen dan Mowen, 2007).
Input Proses Output

Pengumpulan Laporan Khusus


Kegiatan
Pengukuran Biaya produk
Ekonomi
Penyimpanan Biaya pelanggan
Analisis Anggaran
Pelaporan Laporan Kinerja
Pengelolaan Komunikasi pribadi

Pengguna

Manajemen

Tujuan umum sistem akuntansi manajemen dalam buku Akuntansi Manajemen (Hansen
dan Mowen, 2007) adalah sebagai berikut :

Penghitungan biaya jasa, ditentukan oleh


Penghitungan biaya produk manajemen

Perencanaan
Menyediakan Pengendalian meningkatkan efisiensi
Informasi dan produktivitas dari
Evaluasi aktivitas
Continous Improvement
pemilihan alternatif
strategi untuk going
Strategic decision making
concern bagi
perusahaan
Sedangkan menunrut Supriyono (2003), akuntansi manajemen bertujuan membantu
manajemen dalam melaksanakan sistem kegiatan manajemen. Tujuan akuntansi
manajemen dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Tujuan primer akuntansi manajemen adalah membantu manajemen dalam


pembuatan keputusan manajemen.
2. Tujuan skunder akuntansi manajemen adalah sebagai berikut :
a. Akuntansi manajemen bertujuan membantu manajemen dalam melaksanakan
fungsi perencanaan.
b. Akuntansi manajemen bertujuan membantu manajemen dalam menjawab
masalah bidang organisasi.
c. Akuntansi manajemen bertujuan membantu manajemen dalam melaksanakan
fungsi pengendalian manajemen.

Proses Manajemen adalah fungsi-fungsi yang dilaksanakan oleh para manajer dan
pekerja yang diberdayakan atau employee empowerment yaitu pemberian wewenang
kepada orang-orang operasional untuk merencanakan, mengendalikan, dan membuat
keputusan tanpa otorisasi yang eksplisit dari pihak manajemen tingkat menengah atau
yang lebih tinggi (Hanson dan Mowen, 2007). Proses Manajemen meliputi
1. Perencanaan adalah formulasi terperinci dari kegiatan untuk mencapai suatu
tujuan akhir tertentu. Perlu adanya sebuah penetapan tujuan dan pemilihan
metode.
2. Pengendalian adalah aktivitas manajerial untuk memonitor implementasi rencana
dan melakukan perbaikan sesuai kebutuhan. Pengendalian yang sesuai, yaitu :
a. Dapat dicapai dengan feedback yaitu informasi yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi atau memperbaiki langkah-langkah yang dilakukan dalam
mengimplementasikan rencana.
b. Dapat berupa informasi keuangan dan non keuangan. Dilaporkan dalam
bentuk laporan kinerja (perbandingan data aktual dengan benchmark).
3. Pengambilan keputusan adalah proses pemilihan diantara berbagai alternatif.
4. Apa pun bentuk organisasinya manajer harus memiliki kemampuan yang
memadai dalam menggunakan informasi akuntansi.
1.2 Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan
Dalam buku Akuntansi Manajemen (Hansen dan Mowen, 2007), perbedaan
antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen, yaitu :
1. Akuntansi keuangan memiliki tujuan utama untuk menyusun laporan keuangan
bagi pengguna eksternal (pemerintah, kreditor, dan investor) untuk keputusan
investasi, evaluasi, pemonitoran, penyusunan peraturan yang dapat disebut
dengan akuntansi eksternal.
2. Akuntansi manajemen memiliki tujuan utama untuk mengidentifikasi, mengukur,
mengklarifikasi dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna
internal (manajer, eksekutif, pekerja) untuk merencanakan, mengendalikan, dan
mengambil keputusan yang dapat disebut dengan akuntansi internal.

Perbedaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen dapat dilihat pada tabel
berikut :

Akuntansi Manajemen Akuntansi Keuangan


Pengguna utama Internal Eksternal
Pembatasan pada Tidak ada prinsip-prinsip Ada prinsip-prinsip yang
masukan dan proses yang mendasari. mendasari pelopran
keuangan (FASB, SEC,
PCAOB)
Jenis informasi Subjektif (keuangan dan Objektif dan dapat
non keuangan) diverifikasi
Orientasi waktu Masa depan Historis
Tingkat agregasi Mengevaluasi kinerja Berfokus pada ke=inerjja
berbagai entitas, lini perusahaan secara
produk, departemen, dan keseluruhan.
maanajer.
Keluasan Meliputi aspek-aspek
ekonomi manajerial,
rekayasa industri, ilmu
manajamen, dll.
Menurut Supriyono (2003), perbedaan akuntansi keuangan dengan akuntansi
manajemen dapat ditinjau dari berbagai faktor, berikut perbedaan dari sisi akuntansi
manajemen :

1. Tujuan utama akuntansi manajemen adalah menyajikan laporan-laporan suatu


satuan usaha atau organisasi tertentu atau bagian-bagiannya untuk kepentingan
pihak internal dalam rangka melaksanakan proses manajemen.
2. Dasar penyusunan laporan akuntansi manajemen adalah manfaat atau faedah
laporan tersebut pada manajemen dengan mempertimbangkan biaya dan
manfaat.
3. Obyek pengukuran akuntansi manajemen adalah laporan untuk manajmeen
berhubungan dengan mengukur dan mengkomunikasikan prestasi para manajer
pada berbagai tingkatan atau bagian di dalam organisasi.
4. Orientasi laporan yang disajikan oleh akuntansi manajemen adalah orientasi
masa depan, data historikal hanya dipakai sebagai dasar untuk prediksi masa
depan.
5. Jarak waktu pelaporan akuntansi manajemen lebih fleksibel karena laporan
dapat disusun sesuai dengan kapan diperlukan oleh manajemen.
6. Bentuk laporan keuangan (akuntansi manajemen) untuk pihak internal adalah
laporan yang terperinci, misalkan untuk setiap bagian perusahaan, setiap jenis
produk, setiap kegiatan individual, setiap divisi atau departemen, setiap pusat
pertanggungjawaban, setiap daerah, adan sebagainya.
7. Penyusunan laporan (akuntansi manajemen) untuk pihak internal relatif lebih
sulit karena informasi yang diperlukan meliputi informasi kuantitatif dan
kualitatif. Oleh karena itu disiplin pengetahuan yang dipakai lebih las dan
komplek.
8. Isi laporan akuntansi manajemenuntuk pihak internal umumnya meliputi
anggaran, lapran biaya, laporan pelaksanaan atau prestasi, dan laporan-laporan
analisis khusus lainnya.
9. Akuntansi manajemen pada tingkat presisi dan akurasi sifatnya kurang penting
dibandingkan dangan sifat segera dan cepatnya penyediaan informasi.
10. Akuntansi manajemen tidak bersifat mandatori. Suatu perusahaan benar-benar
bebas untuk menyusun laporan yang diperlukan oleh manajemen, tidak ada
badan lain yang menentukan tentang apa yang harus dikerjakan di dalam
penyusunan laporan untuk kepentingan manajemen (opsional).

1.3 Sejarah Singkat Akuntansi Manajemen

Sejarah Singkat Akuntansi Manajemen (Hansen dan Mowen, 2007) :

1880 : Perhitungan biaya produk dikembangkan. Perusahaan menelusuri tingkat


laba ke tiap produk.

1925 : Muncul pendekatan perhitungan biaya persediaan. Alokasi biaya


manufaktur ke produk agar dapat dilaporkan ke pihak eksternal.

1950-1960 : Usaha peningkatan kegunaan manajerial dari sistem biaya


konvensional.

1980-1990 : Praktik akuntansi manajemen tradisional sudah mulai runtuh.


Evaluasi terhadap sistem akuntansi manajemen tradisional dilakukan untuk
mengembangkan sistem yang baru agar dapat memenuhi lingkungan ekonomi
dewasa ini.

1.4 Tema Baru Dalam Akuntansi Manajemen

Tema baru dalam Akuntansi Manajemen (Hansen dan Mowen, 2007), sebagai
berikut :

1. Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Activity-Based Management)


Manajemen berdasarkan Aktivitas adalah suatu pendekatan yang terintegrasi di
seluruh sistem yang memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas
yang bertujuan meningkatkan nilai bagi pelanggan dan laba yang dihasilkan.
2. Manajemen Berdasarkan Aktivitas (activity-based costingABC)
Manajemen Berdasarkan Aktivitas adalah meningkatkan keakuratan
pengalokasian biaya dan analisis nilai proses yang menekankan pada analisis
aktivitas untuk efisiensi.
3. Orientasi Pada Pelanggan
Orientasi pada Pelanggan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai pelanggan
dengan cara memperoleh aktivitas. Fokus utamanya pada pelanggan (customer
value) yaitu selisih antara apa yang pelanggan terima (realisasi, contohnya: fitur
umum dan khusus produk, jasa, kualitas, petunjuk penggunaan, reputasi, brand,
dan sebagainya) dan yang pelanggan serahkan (pengorbanan, contohnya: biaya
pembelian produk, usaha dan waktu untuk mendapatkan produk, post purchase
cost).
4. Penetapan Posisi Strategis (Strategic Positioning)
Keberhasilan strategic positioning (cost leader dan/ diferensiasi) didasari
pemahaman akan penggunaan data biaya untuk mengembangkan dan
mengidentifikasi strategi suerior yang nantinya akan menghasilkan keunggulan
bersaing dalam jangka panjang.

Melalui diferensiasi,
Superior
meningkatkan nilai bagi
product
Strategic pelanggan dengan
Positioning meningkatkan realisasi

Cost
Leadership

Meningkatkan nilai bagi


pelanggan dengan
menurunkan pengorbanan

Gambar Kerangka Kerja Rantai Nilai

5. Kerangka Kerja Rantai Nilai


1. Rantai nilai internal (internal value chain)
Rantai nilai internal adalah rangkaian aktivitas yang dibutuhkan untuk
mendesain, mengembangkan, memproduksi, memasarkan, serta
mengirimkan produk dan jasa kepada pelanggan.
2. Rantai nilai industri (industrial value chain)
Rantai nilai industri adalah rangkaian aktivitas yang menciptakan nilai dan
saling berhubungan, mulai dari bahan baku sampai pemakaian produk akhir
oleh pelanggan akhir. Dasar kerangka kerja rantai nilai adalah pemahaman
akan pertalian (linkage) antar aktivitas :
a. Pertalian internal
Pertalian internal adalah hubungan antara kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam rantai nilai industri perusahaan (rantai nilai internal).
b. Pertalian eksternal
Pertalian eksternal adalah hubungan kegiatan antara perusahaan,
pemasok perusahaan, dan pelanggan. Dapat disebut pertalian pemasok &
pertalian pelanggan.

Rantai Nilai
Internal
Rantai Nilai
Rantai Nilai
Keberhasilan Industri
Strategic
Positioning Pertalian
internal
Linkage
Pertalian
eksternal

6. Perspektif Lintas Fungsional


Perspektif Lintas Fungsional adalah ketika pendekatan rantai nilai digunakan
dan nilai bagi pelanggan diutamakan yang akan menghubungkan antara
akuntansi manajemen dengan pemasaran, manajemen, teknik, keuangan, dan
fungsi bisnis lainnya.
7. Manajemen Kualitas Total
Manajemen Kualitas Total adalah dimana perusahaan akan berusaha
menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan pekerjanya yang
menghasilkan suatu produk yang sempurna (zero defect).
8. Waktu Sebagai Elamen Persaingan
Elemen terpenting dalam tahap rantai nilai adalah waktu. Pada dasrnya tingkat
inovasi teknologi yang semakin meningkat akan sangat membantu dalam banyak
industri dan umur suatu produk dapt menjadi pendek. Olah karena itu seorang
manajer harus dapat merespom dalam perubahan kondisi pasar.
9. Efisiensi
Efisiensi merupahan suatu hal yang sangat penting karena tren dalam biaya
sepanjang waktu dan perubahan dalam produktivitas dapat menjadi ukuran
penting atas keefektivan keputusan perbaikan berkelanjutan.
10. Bisnis Secara Elektronik (E-business)
Bisnis Secara Elektronik adalah pertukaran informasi dan transaksi bisnis yang
dijalankan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Suatu hal
yang perlu diperhatikan akuntan manajemen adalah mempertimbangkan
keuntungan, risiko, dan peluang bisnis secara elektronik.

1.5 Peran Akuntan Manajemen

Akuntan manajemen harus mendukung manajemen dalam semua tahap


pengambilan keputusan bisnis, seorang akuntan manajemen diharapkan memiliki
pengetahuan tentang lingkungan hukum dari bisnis, khususnya mengenai Sarbanes-
Oxley Act (SOX) tahum 2002 (Hansen dan Mowen, 2007). SOX diberlakukan untuk
perusahaan yang diperdagangkan secara publik, peraturan perundangnan ini
dilatarbelakangi dari jatuhnya Enron besera terungkapnya kecurangan skuritas dan
penyimpangan dalam praktik akuntansi yang dilakukan berbagai perusahaan. Beberapa
bagian terpenting SOX, yaitu :

1. Pembentukan Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB).


2. Peningkatan independansi auditor.
3. Pengetatatn peraturan tata kelola perusahaan.
4. Pengendalian atas manajemen dan penilaian manajemen atau auditor atas
pengendalian internal di perusahaan.
Dalam struktur organisasi akuntan manajemen memiliki peran pendukung di
dalam organisasi, di dalam organisasi meskipun akuntan manajemenseperti pengontrol
dan manajer akuntan biaya juga berpengaruh di dalam organisasi akan tetapi mereka
tidak memiliki wewenang terhadap manajer bagian produksi (Hansen dan Mowen,
2007). Namun, akuntan manajemen dapat memberikan masukan yang signifikan dalam
berbagai kebijakan serta keputusan melalui penyediaan dan penginterpretasian
informasi akuntansi. Berikut bagan organisasi parsial pada perusahaan manufaktur :

1.6 Akuntansi Manajemen dan Perilaku Etis

Pada umumnya organisasi memiliki standar perilaku untuk para manajer dan
karyawannya. Sebagai contoh, Institute of Managment Accountants (IMA) membuat
standar etika untuk akuntan manajemen serta mengeluarkan revisi pernyataan pada
tahun 2005 yaitu Statement of Ethical Professional Practice yang menguraikan
mengenai standar perilaku etis bagi akuntan manajemen. Pada standar III-1 dan III-2
menyatakan akuntan manajemen harus mengurangi berbagai pertentangan kepentingan
aktual dan mengunngkapkan semua informasi yang dapat secara wajar diperkirakan
yang akan berpengaruh pada pemahaman pemakaiannya atas laporan, analisis, atau
rekomendasi terkait (Hansen dan Mowen, 2007).

Perusahaan yang menerapkan kode etik yang kuat dapat menciptakan konsumen
dan pekerjanya yang cukup loyalitas. Pendidikan etika dan moral harus memiliki
kesepakatan tentang nilai-nilai yang dianggap benar agar mempunyai arti (Hansen
dan Mowen, 2007). Sepuluh dari nilai-nilai tersebut diidentifikasikan dan
dideskripsikan oleh Michael Josephson dalam Teaching Ethical Decision Making and
Principled Reasoning. Sepuluh nilai inti itu menghasilkan prinsip prinsip yang
membedakan antara benar dan salah dalam istilah umum, oleh karena itu nilai tersebut
menyediakan petunjuk tingkah laku. Berikut sepuluh nilai inti yang dimaksudkan dalam
kutipan, yaitu :

1. Kejujuran
2. Integritas
3. Pemenuhan janji
4. Kesetiaan
5. Keadilan
6. Kepedulian terhadap sesama
7. Penghargaan kepada orang lain
8. Kewarganegaraan yang bertanggung jawab
9. Usaha untuk mencapai kesempurnaan
10. Akuntabilitas

1.7 Sertifikasi

Menurut Hansen dan Mowen (2007) dalam bukunya Akuntansi Manajemen menyatakan
bahwa terdapat tiga jenis sertifikasi yang tersedia bagi akuntan manajemen, yaitu :

1. Certified Management Accountants (CMA)


CMA adalah sertifikasi yang didesain secara khusus untuk akuntan manajemen.
2. Certificate in Puvlic Accounting (CPA)
CPA ditujukan untuk seorang yang berpraktik sebagai akuntan publik
3. Certificate in Internal Auditing (CIA)
CIA adalah sertifikasi untuk auditor internal.
DAFTAR PUSTAKA

Hansen D.R dan Mowen M.M. (2007). Akuntansi Manajerial. Jakarta: Salemba
Empat.

Supriyono R.A. (2003). Akuntansi Manajemen 1: Konsep Dasar Akuntansi


Manajemen dan Proses Perencanaan. Yogyakarta: BPFE.