Anda di halaman 1dari 15

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN RELATING EXPERIENCING APPLYING

COOPERATING TRANSFERRING (REACT) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI


MATEMATIK SISWA KELAS VIII SMPN 6 KENDARI

Dian Mayang Sari1), Hafiludin Samparadja2), Suhar3)


1)
Alumni Jurusan Pendidikan Matematika, 2,3)Dosen Jurusan Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Halu Oleo Email: dianmayang2406@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan komunikasi matematik siswa. Populasi
penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari. Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling, sehingga terpilih kelas VIIIE dan VIIIF
sebagai sampel. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes kemampuan komunikasi
matematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ketercapaian pembelajaran oleh guru selama 5
pertemuan berturut turut adalah 71,67%, 75,83%, 75%, 83,33%, dan 88,33% sedangkan keaktifan
siswa selama 5 pertemuan berturut-turut adalah 60%, 68,75%, 87,5%, 88,75%, dan 87,5%, (2)
kemampuan komunikasi matematik siswa kelas eksperimen pada materi Lingkaran memiliki nilai
rata-rata yaitu 68.26, (3) kemampuan komunikasi matematik siswa kelas kontrol pada materi
Lingkaran memiliki nilai rata-rata yaitu 59,11, (4) kemampuan komunikasi matematik siswa kelas
eksperimen lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematik siswa kelas kontrol. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran REACT efektif terhadap kemampuan komunikasi
matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari.

Kata Kunci: Model Pembelajaran REACT , Kemampuan Komunikasi Matematik.

EFFECTIVENESS OF RELATING EXPERIENCING APPLYING COOPERATING


TRANSFERRING (REACT) LEARNING MODEL TO MATHEMATICAL
COMMUNICATION ABILITY OF CLASS VIII STUDENTS OF SMPN 6 KENDARI

Abstract
This research is based on the low ability of students' mathematical communication. The study
population includes all students of class VIII SMP Negeri 6 Kendari. The sampling technique used in
this research is purposive sampling technique, so that the selected class VIIIE and VIIIF as sample.
Data were collected using observation sheets and tests of mathematical communication ability. The
results showed that: (1) Teacher learning achievement during 5 consecutive meetings was 71,67%,
75,83%, 75%, 83,33%, and 88,33% while student activity for 5 consecutive meeting is 60%, 68,75%,
87,5%, 88,75%, and 87,5%, (2) the students 'mathematical communication ability of the
experimental class on Circle material has average value that is 68.26, (3) the students 'mathematical
communication ability of the control class on Circle material has an average score of 59.11, (4) the
students 'mathematical communication ability of the experimental class is better than the students'
mathematical communication ability of the control class. So it can be concluded that the REACT
learning model is effective to the mathematical communication ability of students of grade VIII SMP
Negeri 6 Kendari.

Keywords: REACT Learning Model, Mathematical Communication Ability


Pendahuluan
Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki peran sangat penting dalam membentuk
manusia yang berkualitas tinggi. Manfaat matematika telah banyak dirasakan dalam berbagai bidang
kegiatan. Matematika dapat mendorong kemajuan teknologi serta mendorong manusia untuk semakin
cermat dalam menangkap fenomena yang terdapat dalam kehidupan.
Bagi dunia keilmuan, matematika memiliki peran sebagai bahasa simbolik yang
memungkinkan terwujudnya komunikasi secara cermat dan tepat. Dapat dikatakan bahwa
perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh
perkembangan matematika. Penguasaan matematika yang kuat sejak dini diperlukan siswa untuk
menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan. Oleh karena itu, mata pelajaran matematika
perlu diajarkan di setiap jenjang pendidikan untuk membekali siswa dengan mengembangkan
kemampuan menggunakan bahasa matematika dalam mengkomunikasikan ide atau gagasan
matematika untuk memperjelas suatu keadaan atau masalah.
National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menyatakan ada 5 (lima) kemampuan
dasar yang harus dikuasai siswa yaitu kemampuan: (1) mengenal, memahami dan menerapkan
konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika, (2) menyelesaikan masalah matematika (mathematical
problem solving), (3) bernalar matematik (mathematical reasoning), (4) melakukan koneksi
matematik (mathematical connection), dan (5) komunikasi matematik (mathematical
communication).
Pada pembelajaran matematika, komunikasi sangat dibutuhkan mengingat matematika dalam
proses pembelajaran tidak lepas dari bahasa-bahasa simbol. Kemampuan komunikasi matematik
(mathematical communication) dalam pembelajaran matematika sangat perlu untuk dikembangkan.
Hal ini karena melalui komunikasi matematik siswa dapat mengorganisasikan berpikir matematisnya
baik secara lisan maupun tulisan.
Baroody dalam (Nuraeni dan Luritawaty, 2016:10) menjelaskan bahwa terdapat dua alasan
mengapa komunikasi penting. Alasan pertama adalah matematika tidak hanya sekedar alat bantu
berpikir, alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan, akan
tetapi matematika juga merupakan suatu alat yang tidak ternilai untuk mengkomunikasikan berbagai
ide dengan jelas, dengan tepat, dan dengan ringkas tapi jelas. Alasan kedua adalah pembelajaran
matematika merupakan aktivitas sosial dan juga sebagai wahana interaksi antara siswa dengan siswa
dan antara guru dengan siswa.
Komunikasi memainkan peranan yang penting dalam membantu siswa bukan saja dalam
membina konsep melainkan membina perkaitan antara ide dan bahasa abstrak dengan simbol
matematika. Siswa juga harus diperkenankan mempersembahkan ide-ide mereka secara lisan,
menulis, melukis gambar atau grafik. Komunikasi membuka ruang kepada siswa untuk berbincang
dan berdiskusi tentang matematika. Jadi jika siswa memiliki kemampuan komunikasi yang baik
kemungkinan besar hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pun akan baik pula.
Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tak lepas dari interaksi dengan sesama. Kebutuhan
terhadap makhluk sesama merupakan suatu kebutuhan mendasar. Hal yang melandasi adanya
interaksi tersebut adalah komunikasi, oleh karena itu komunikasi merupakan suatu sarana yang dapat
memenuhi kebutuhan manusia terhadap sesamanya.
Nurlia (2015), dalam studinya menyebutkan bahwa kemampuan siswa dalam meyelesaikan
soal-soal komunikasi masih rendah. Demikian juga Yenni (2016) menyebutkan bahwa kemampuan
komunikasi matematik siswa masih jauh dari harapan. Kebanyakan siswa masih berorientasi dapat
mengerjakan soal tanpa perlu memaknainya. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pembelajaran
matematika di Indonesia dalam aspek komunikasi matematik masih rendah.
Hasil wawancara dengan guru matematika kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari, diketahui
bahwa kemampuan siswa dalam menyampaikan ide atau gagasan matematika baik secara lisan
maupun tulisan masih tergolong rendah. Kurangnya pemahaman siswa ketika dihadapkan pada suatu
soal cerita, siswa tidak terbiasa menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal
sebelum menyelesaikannya, sehingga siswa sering salah dalam menafsirkan maksud dari soal
tersebut. Dari informasi yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa tingkat kemampuan
komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari masih relatif rendah.
Terkait dengan masalah rendahnya kemampuan komunikasi matematik siswa, maka sudah
saatnya untuk membenahi proses pembelajaran matematika terutama mengenai model pembelajaran
yang digunakan. Model pembelajaran dipandang memiliki peran strategis dalam upaya mendongkrak
keberhasilan proses belajar mengajar karena bergerak dengan melihat kondisi kebutuhan siswa,
sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan tepat tanpa mengakibatkan siswa
mengalami kebosanan.
Menyadari pentingnya suatu strategi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi
matematik, maka diperlukan adanya pembelajaran yang menekankan pada belajar siswa aktif, dengan
berbekal kemampuan komunikasi. Sehingga siswa lebih memahami konsep yang diajarkan serta
mampu mengkomunikasikan ide atau gagasan matematikanya. Pemilihan model pembelajaran yang
tepat dan efektif dimungkinkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, model pembelajaran
yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik materi pelajaran, potensi, sikap dan minat siswa.
Salah satu model pembelajaran yang dapat dipilih adalah model pembelajaran Relating
Experiencing Applying Cooperating Transferring (REACT). Model pembelajaran REACT dapat
memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan konsep baru melalui aktivitas
konstruktif, aktif, kooperatif, penyusunan model dalam pemecahan masalah, pendidikan berkarakter,
partisipasi aktif, dan saling berbagi untuk memenuhi kebutuhan yang beragam (Crowford dalam
Niken, 2015:3).
Yulianti (dalam Niken, 2015: 16-19) mengemukakan bahwa langkah-langkah model
pembelajaran REACT tercermin dari akronimnya. Langkah-langkah tersebut adalah Relating,
Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transferring. Sintaks pelaksanaan model REACT
ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1
Fase Model Pembelajaran REACT
Fase-fase Kegiatan
Relating Guru menghubungkan konsep yang dipelajari dengan materi
pengetahuan yang dimiliki siswa.
Experiencing Siswa melakukan eksperimen (hands-on-activity) dan guru
memberikan penjelasan untuk mengarahkan siswa menemukan
pengetahuan baru.
Applying Siswa menerapkan pengetahuan yang dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari
Cooperating Siswa melakukan diskusi kelompok untuk memecahkan
permasalahan dan mengembangkan kemampuan berkolaborasi
dengan teman.
Transferring Siswa menunjukkan kemampuan terhadap pengetahuan yang
dipelajarinya dan menerapkannya dalam situasi dan konteks
baru.

Belajar berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari dan menghubungkannya


dengan pembelajaran di sekolah merupakan salah satu karakteristik pembelajaran kontekstual.
Sebagai pengembang REACT, Center for Occupational Research and Development (CORD)
menyatakan bahwa relating adalah bentuk belajar yang menghubungkan konsep yang dipelajari
dengan materi pengetahuan yang dimiliki siswa dalam konteks kehidupan nyata atau pengalaman
nyata. Pembelajaran menjadi sarana untuk menghubungkan situasi sehari-hari dengan informasi baru
yang dipelajari.
Belajar selalu ditekankan dengan konteks kehidupan nyata, yaitu peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari yang dikaitkan dengan informasi baru yang didapat. Untuk itu, sebelum mengawali
pembelajaran seharusnya guru memberi pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan akrab bagi siswa,
sehingga siswa memiliki gambaran awal tentang materi yang akan dipelajari.
Experiencing, yaitu belajar melalui kegiatan exploration, discovery, dan invention,
merupakan hal yang utama dalam pembelajaran kontekstual. Siswa dimotivasi dengan menggunakan
berbagai metode dan media pembelajaran.
Setelah mendapatkan pengetahuan baru siswa akan dapat menemukan ide, dan menciptakan
sesuatu dari ide yang dia miliki tersebut. hal tersebut akan mendorong siswa untuk aktif dalam
belajar dan belajar secara mandiri karena siswa benar-benar mengalami senidiri setiap kegiatan
dalam pembelajaran dan bukan hanya teori-teori yang disampaikan oleh guru.
Dalam hal ini guru tidak pernah memberitahukan secara langsung kepada siswa tentang
segala sesuatu, tetapi lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri
pengetahuannya. Namun demikian guru harus tetap memandu siswa selama proses pembelajaran
berlangsung.
Applying, yaitu penerapan konsep dan informasi dalam konteks bermakna diperlukan siswa
dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja. Pada pembelajaran kontekstual, penerapan konsep
dilakukan pada kegiatan yang bersifat skill. Siswa tidak sekedar mempelajari suatu teori-teori
tertentu saja, melainkan siswa juga dituntun untuk dapat menerapkan konsep-konsep yang sudah
dipelajarinya ke dalam konteks pemanfaatannya dalam kehidupan nyata.
Cooperating, yaitu belajar untuk berbagi pengalaman, memberikan tanggapan dan
berkomunikasi dengan siswa lain, merupakan strategi pembelajaran dasar dalam pembelajaran
kontekstual. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa belajar materi ajar, tetapi juga
membantu siswa untuk selalu konsisten dengan kehidupan nyata.
Selama proses pembelajaran berlangsung tentunya selalu ada masalah yang tidak dapat
diselesaikan secara individual oleh siswa. Untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks,
khususnya maslaah yang meblibatkan situasi-situasi yang reallistis yang tidak dapat diselesaikan
secara individu tersebut sebaiknya siswa dapat bekerja sama dengan teman-temannya secara
berkelompok. Dengan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil akan memberikan kemampuan
yang lebih bagi siswa untuk dapat mengatasi persoalan yang kompleks.
Transferring pengetahuan dilakukan siswa berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Guru dapat mengembangkan rasa percaya diri siswa dengan membangun pengalaman belajar baru
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Transferring bisa diwujudkan
dalam bentuk pemecahan masalah dalam konteks dan situasi baru tetapi masih terkait dengan materi
yang dibahas.
Berdasarkan penjelasan di atas, model pemebelajaran ini menitikberatkan agar dalam
pembelajaran, siswa tidak hanya mendapatkan solusi yang diberikan oleh guru, melainkan siswa
dapat menemukan sendiri solusinya dengan cara memperoleh kompetensi suatu mata pelajaran
melalaui belajar tahu, belajar berbuat, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup bersama dalam
komunitas lingkungan belajar sehingga siswa menjadi paham, dan dapat memecahkan permasalahan
yang berhubungan dengan pelajaran.
Model pembelajaran ini dikembangkan dengan mengacu pada paham kontruktivisme karena
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ini menuntut siswa untuk terlibat dalam
berbagai aktivitas yang terus-menerus, berpikir dan menjelaskan penalaran mereka, mengetahui
berbagai hubungan antara tema-tema dan konsep-konsep bukan hanya sekedar menghafal dan
membaca fakta secara berulang-ulang serta mendengar caramah dari guru. dalam hal ini guru
berusaha menanamkan pada diri siswa rasa minat dan kepercayaan diri dan rasa butuh terhadap
pemahaman.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika hendaknya mengajak siswa untuk berinteraksi
secara aktif dengan temannya di kelas. Interaksi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyampaikan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan ide-idenya dan
gagasan-gagasannya. Selain itu siswa dapat mengevaluasi dan mendiskusikan hasil dari tiap-tiap
gagasan yang diberikan oleh temannya.
Melalui model pembelajaran REACT siswa dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
matematiknya karena pada saat proses relating siswa diarahkan untuk mengidentifikasi suatu
permasalahan dan memberikan penjelasan yang sederhana, dimana penjelasan itu akan mendorong
siswa mengeluarkan ide-idenya. Ide-ide tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun keterampilan
dasar siswa saat siswa melakukan experiencing. Supaya siswa mampu membuat kesimpulan yang
baik, siswa bisa melakukannya dalam kelompok. Saat berdiskusi, siswa dapat memberikan
penjelasan yang lebih lanjut dan mengatur strategi serta taktik dalam mengaplikasikan konsep yang
sedang dipelajari dalam apllying dan transferring.
Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai proses penyampaian suatu informasi atau
gagasan dari seseorang kepada orang lain untuk memberitahu pendapat, atau perilaku baik secara
langsung maupun tidak langsung (Fachrurazi, 2011:76). Di dalam berkomunikasi tersebut harus
dipikirkan bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan seseorang itu dapat dipahami oleh orang
lain.
Komunikasi berkaitan dengan aspek mencari, memilah-milah, merumuskan, menerapkan,
mengatur, menghubungkan, dan memadukan gagasan dengan kata-kata yang bermakna dan dapat
dipahami. Kaitan itu melalui proses pembelajaran dapat kita amati, siswa yang banyak melakukan
aktivitas belajar seperti mendengar, mencatat, bertanya, berdiskusi, membuat pekerjaan rumah.
Aryan (2007) mengemukakan bahwa kemampuan komunikasi dalam matematika
mengandung arti kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam matematika yang meliputi
penggunaan keahlian membaca, menulis, menyimak, menelaah, menginterpretasi, dan mengevaluasi
ide, simbol, istilah, serta informasi matematik. Ketika siswa memperoleh konsep atau informasi
matematika yang diberikan oleh guru melalui proses menyimak yang kemudian mencatat ide penting
dari konsep yang disampaikan tersebut, atau siswa memperoleh konsep tersebut secara sendiri
melalui bacaan yang ditelaah dan kemudian diinterpretasikannya, maka pada saat tersebut
berlangsung proses komunikasi dalam pembelajaran matematika.
Kemampuan komunikasi matematik merupakan kemampuan atau kecakapan seseorang
dalam menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan, situasi antara lain melalui lisan
maupun secara tertulis. Komunikasi matematik merefleksikan pemahaman matematis dan merupakan
bagian dari daya matematis. Siswa-siswa mempelajari matematika seakan-akan mereka berbicara dan
menulis tentang apa yang sedang mereka kerjakan. Mereka dilibatkan secara aktif dalam
mengerjakan matematika ketika mereka diminta untuk memikirkan ide-ide atau berbicara dan
mendengarkan siswa lain dalam berbagi ide, strategi, dan solusi. (Fachrurazi, 2011:81).
Seiring berkembangnya kemampuan komunikasi matematik, siswa diharapkan dapat lebih
menghargai dan memaknai matematika. Matematika tidak hanya dianggap sebagai bahasa simbol
tanpa makna, melainkan dapat berguna untuk membantu memudahkan permasalahan yang dihadapi
baik dalam dunia sekolah atau kehidupan sehari-hari siswa. Untuk mengetahui kemampuan
komunikasi matematik siswa, perlu adanya indikator untuk mengukurnya.
Indikator kemampuan siswa dalam komunikasi matematik pada pembelajaran matematika
menurut NCTM (1989) dapat dilihat dari.
1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tertulis, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matematika baik secara
lisan maupun dalam bentuk visual lainnya.
3. Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika dan struktur-
strukturnya untuk menyajikan ide, menggambarkan hubungan-hubungan dan model-model
situasi.
Herdian (2010) mengungkapkan bahwa kemampuan komunikasi matematik siswa dapat
dilihat dari aspek sebagai berikut:
1. menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika,
2. menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematik, secara lisan dan tulisan dengan benda nyata,
gambar, grafik dan aljabar,
3. menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika,
4. mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika,
5. membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis,
6. membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi,
7. menjelaskan dan membuat pertanyaan matematika yang telah dipelajari.
Pemberian skor kemampuan komunikasi matematik menggunakan metode penskoran holistik
(holistic scoring rubrics). Pemberian skor menggunakan metode penskoran holistik (holistic scoring
rubrics) bertujuan untuk menilai keluasan, kedalaman dan kualitas masing-masing unsur atau
langkah-langkah penyelesaian yang ada pada jawaban peserta tes dan memberi skor sesuai dengan
pedoman kriteria pemberian skor yang telah ditentukan (Tamur dalam Qomariyah, 2013:51-52).
Adapun pedoman pemberian skor instrumen tes kemampuan komunikasi matematik siswa tercantum
pada Tabel 2.

Tabel 2
Pedoman Pemberian Skor Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa
Menggunakan Holistic Scoring Rubrics
Indikator
Komunikasi Respon Siswa Terhadap Soal Skor
Matematika
Menghubungkan Tidak ada komunikasi (Tidak ada jawaban) 0
benda nyata, gambar, Jawaban tidak benar, upaya yang dibuat tidak benar 1
dan diagram ke dalam Hanya sedikit dari model matematika yang benar 2
ide matematika. Membuat model matematika dengan benar dan 3
melakukan perhitungan, namun sedikit kesalahan dalam
mendapatkan solusi
Membuat model matematika dengan benar, melakukan 4
perhitungan dan mendapatkan solusi secara lengkap dan
benar
Menjelaskan ide, Tidak ada komunikasi (Tidak ada jawaban) 0
situasi, dan relasi Jawaban tidak benar, upaya yang dibuat tidak benar 1
matematik, secara Gambar, diagram atau tabel yang dibuat hanya sedikit 2
lisan dan tulisan yang benar
dengan benda nyata, Membuat gambar, diagram atau tabel dengan lengkap 3
gambar, grafik dan dan benar namun penjelasannya masih ada sedikit
aljabar. kesalahan
Membuat gambar, diagram atau tabel dengan lengkap 4
dan benar serta penjelasan secara matematik masuk akal
dan benar
Menyatakan peristiwa Tidak ada komunikasi (Tidak ada jawaban) 0
sehari-hari dalam
Jawaban tidak benar, upaya yang dibuat tidak benar 1
bahasa atau simbol
matematika. Penjelasan secara matematika masuk akal, namun hanya 2
sebagian lengkap dan benar
Penjelasan secara matematik masuk akal dan benar, 3
meskipun tidak tersusun secara logis dan masih ada
sedikit kesalahan
Penjelasan secara matematik masuk akal, benar dan 4
tersusun secara logis
Menjelaskan atau Tidak ada komunikasi (Tidak ada jawaban) 0
membuat pertanyaan Jawaban tidak benar, upaya yang dibuat tidak benar 1
atau cerita model
Penjelasan secara matematik masuk akal, namun hanya 2
matematika dari
sebagian lengkap dan benar
grafis atau tabel yang
diberikan Penjelasan secara matematik masuk akal dan benar, 3
meskipun tidak tersusun secara logis dan masih ada
sedikit kesalahan
Penjelasan secara matematik masuk akal, benar dan 4
tersusun secara logis.
Metode
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu penelitian yang membandingkan
antara satu kelompok (eksperimen) yang diajar dengan model pembelajaran REACT dengan satu
kelompok (kontrol) yang diajar dengan model pembelajaran Langsung.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari tahun
ajaran 2016/2017 yang tersebar pada 7 kelas parallel, yaitu kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII
E, VIII F dan VIII G. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Purposive Sampling, yaitu
dengan memperhatikan nilai rata-rata berdasarkan pemberian tes awal kemampuan komunikasi
matematik. Dari teknik pengambilan sampel tersebut, kemudian diperoleh kelas VIII E dan kelas
VIII F. Selanjutnya penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol dipilih secara acak, sehingga
diperoleh kelas VIII E sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII F sebagai kelas kontrol.Tahapan
pengambilan data tes awal pada seluruh kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari dimulai tanggal 7 sampai
12 Januari 2017. Tahapan pelaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
dilaksanakan pada tanggal 22 Januari sampai 13 Februari 2017. Tahapan pengambilan data posttest
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2017.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu perlakuan berupa pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran REACT pada kelas eksperimen dan perlakuan berupa
model pembelajaran langsung pada kelas kontrol dan variabel terikat yaitu kemampuan komunikasi
matematik siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran REACT dan kemampuan
komunikasi matematisk siswa yang diajar dengan pembelajaran langsung. Desain penelitiannya
ditunjukkan pada tabel 3.

Tabel 3
Posttest-Only Control Group Design
Kelompok Perlakuan Posttest
Eksperimen (R) X O1
Kontrol (R) . O2
Sumber: Sugiyono, 2015:114
Keterangan:
R= kelompok eksperimen dan kelompok kontrol siswa kelas VIII SMP
Negeri 6 Kendari yang diambil secara random sampling.
X= perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran REACT
. = perlakuan berupa pembelajaran dengan model pembelajaran Langsung
O1 = posttest pada kelompok eksperimen
O2= posttest pada kelompok kontrol

Uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji
empiris. Analisis validitas digunakan untuk mengetahui validitas instrumen melalui hasil uji dengan
menggunakan rumus korelasi product moment, sedangkan reliabilitas instrument menggunakan
rumus alpha cronbatch.
Penelitian ini dilakukanlah pengujian hipotesis (uji-t) dengan terlebih dahulu dilakukan uji syarat
normalitas dan homogenitas data.

Hasil
Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan
menggunakan model pembelajaran REACT oleh guru di kelas eksperimen pada materi lingkaran,
keberhasilan pengelolaan pembelajaran pada 5 pertemuan sudah baik. Tingkat keberhasilan secara
berturut turut sebesar 71,67%, 75,83%, 75%, 83,33% dan 88,33%.
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran matematika
menggunakan model pembelajaran REACT di kelas eksperimen pada lingkaran pada 5 pertemuan,
ketercapaian seluruh aspek yang diamati adalah 60%, 68,75%, 87,50%, 88,75% dan 87,50%.
Persentase ini menunjukkan bahwa pada setiap pertemuan siswa mampu mengkondisikan diri
maupun kelompoknya untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan
pembelajaran matematika realistik secara maksimal.
Data hasil penelitian pada kelas eksperimen dan kelas control, menghasilkan data yang
disajikan pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4.
Distribusi Nilai Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa yang Diajar dengan Model
Pembelajaran REACT dan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa yang Diajar dengan
Pembelajaran Langsung
Rentang Nilai Kategori Model Pembelajaran Pembelajaran Langsung
REACT
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
(%) (%)
80 < X 100 Sangat Baik 5 20,83 3 12,50
60 < X 80 Baik 10 41,67 8 33,33
40 < X 60 Cukup 9 37,50 12 50
20 < X 40 Kurang 0 0 1 4,17
0 < X 20 Sangat 0 0 0 0
Kurang
Jumlah 24 100 24 100

Berdasarkan tabel 4 di atas maka dapat dibuat grafik distribusi data kemampuan komunikasi
matematik siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai berikut :

14

12

10

8 Model Pembelajaran
REACT
6
Pembelajaran Langsung
4

0
sangat baik cukup kurang sangat
baik kurang

Gambar 1 Distribusi Data Kemampuan Komunikasi Matematik.

Ukuran statistik data diperoleh dari analisis data hasil tes kemampuan komunikasi matematisk
yang dilaksanakan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penentuan kelas eksperimen dan
kelas kontrol dilakukan secara purposive seperti yang telah dikemukakan pada bab III. Kelas
eskperimen yaitu kelas VIII E dengan jumlah siswa 24 orang, dan kelas kontrol yaitu kelas VIII F
dengan jumlah siswa 24 orang.
Hasil analisis deskriptif pada kelas eksperimen diperoleh nilai terendah 43,75 dan nilai
tertinggi 100, nilai rata-rata 68,2406, median atau nilai tengah 71,86, modus atau nilai yang sering
muncul yaitu 75, standar deviasi 15,27528 dan varians 233,334.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data kemampuan komunikasi matematik
kedua kelas berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau
tidak digunakan statistik uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan aplikasi SPSS. Hasil analisisnya
dapat dijabarkan sebagai berikut.
1) Uji normalitas nilai posttest kelas eksperimen
Hasil perhitungan analisis statistik pada data posttest kemampuan komunikasi matematik siswa
kelas VIII E digunakan statistik uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS. Hasil
perhitungannya dapat dilihat pada tabel 5 berikut.
Tabel 5.
Hasil Analisis Uji Normalitas Data Posttest Kelas Eksperimen

2) Uji normalitas nilai posttest kelas kontrol


Hasil perhitungan analisis statistik pada data posttest kemampuan komunikasi matematik siswa
kelas VIII F digunakan statistik uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan SPSS. Hasil
perhitungannya dapat dilihat pada tabel 6 berikut.
Tabel 6
Hasil Analisis Uji Normalitas Data Posttest Kelas Kontrol

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebaran data kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa pada kedua kelas berdistribusi normal.
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah data mempunyai varians yang sama
(homogen) atau tidak. Untuk menguji apakah data mempunyai varians yang sama atau tidak
digunakan statistik uji Levene dengan menggunakan program SPSS seperti yang terlihat bahwa nilai
dari sig.=0,791 > =0,05 maka H0 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok
memiliki varians yang relatif sama. Ini berarti sebaran kedua kelompok yaitu yang mendapat model
pembelajaran REACT dan model pembelajaran langsung memiliki varians homogen. Data yang
diperoleh berdistribusi normal dan variansnya homogen, maka untuk menguji perbandingan
kemampuan komunikasi matematik siswa antara siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran REACT dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung
digunakan uji-t sampel independen (Independent-Sample t Tets). Pengujian hipotesis menggunakan
uji-t sampel independen (Independent Sample t-test) dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS
Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7
Hasil Analisis Uji Hipotesis

1
Hasil uji-t diperoleh 2 sig. 2-tailed = 0,0195 < = 0,05 sehingga H0 ditolak. Hal ini berarti
bahwa kemampuan komunikasi matematik siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan
daripada kemampuan komunikasi matematik siswa kelas kontrol.

Pembahasan
Berdasarkan telaah terhadap pelaksanaan dan hasil proses pembelajaran matematika di SMP
Negeri 6 Kendari, salah satu penyebab sulitnya mengembangkan kemampuan komunikasi matematik
dalam mata pelajaran matematika adalah saat siswa dihadapkan pada suatu masalah matematika.
Dimana, sebagian besar siswa hanya sekedar menghafal konsep sehingga siswa belum mampu
mengidentifikasikan informasi-informasi yang terdapat pada suatu masalah matematika terebut.
Akibatnya, saat dihadapkan pada suatu masalah matematika yang membutuhkan pemahaman, siswa
tersebut mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, guru perlu menggunakan suatu model yang dapat memperbaiki
pembelajaran matematika tersebut, yaitu model pembelajaran REACT. Dengan model pembelajaran
REACT diharapkan : (1) pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa, (2)
siswa mudah memahami materi pelajaran matematika karena dikaitkan dengan lingkungannya, (3)
siswa dapat menerapkan materi yang telah dipelajarinya baik untuk menyelesaikan soal maupun
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
matematik siswa.
Selama proses penelitian berlangsung, peneliti menggunakan dua kelas sampel penelitian
yakni kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran REACT sebagai kelas eksperimen
dan kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran langsung sebagai kelas kontrol. Untuk
melihat kemampuan komunikasi matematik siswa dari kedua kelas tersebut digunakan data hasil tes
awal yang dilakukan pada seluruh populasi yaitu seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari.
Total pertemuan dalam penelitian ini yakni sebanyak enam kali pertemuan dengan lima kali
pertemuan digunakan untuk proses pembelajaran dan satu kali pertemuan digunakan untuk
pelaksanaan tes kemampuan komunikasi matematik siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Selain itu, kedua kelas juga diberikan materi yang sama dengan urutan yang sama.
Penelitian ini menggunakan LKS dengan tujuan untuk membantu siswa menemukan konsep
matematika, dimana masalah-masalah yang disajikan dalam LKS didesain agar siswa mampu
menemukan konsep matematika dari materi yang dipelajari berdasarkan pengalamannya sendiri,
namun dalam pelaksanaan pembelajaran dengan LKS ini ada beberapa siswa yang mampu
menyelesaikan masalah dalam LKS sampai penemuan konsep dan ada juga siswa yang belum
mampu memberikan kesimpulan dari masalah yang diselesaikan yang disebabkan oleh terbatasnya
waktu pembelajaran yang ditetapkan.
Pertemuan pertama di kelas eksperimen dilakukan kegiatan pendahuluan yang meliputi
membuka pelajaran dan menginformasikan topik pembelajaran yang akan dibahas, menyampaikan
tujuan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa, kemudian dilakukan pembagian kelompok
secara heterogen. Dalam proses pembelajaran di kelas ini, siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang
terdiri atas 4-5 orang untuk tiap kelompok. Setelah itu, siswa diberikan alat peraga dan LKS untuk
dikerjakan pada masing-masing kelompok. Pada tahap ini guru berperan memberikan pengarahan
dan membimbing siswa tanpa menjelaskan materi terlebih dahulu. Setelah siswa menyelesaikan
masalah, siswa mendiskusikan hasil pekerjaan mereka dengan teman kelompoknya masing-masing.
Setelah semua kelompok telah mengerjakan LKS yang diberikan sesuai dengan waktu yang
ditetapkan, beberapa siswa dipilih tampil ke depan kelas untuk mempresentasekan hasil kerja
kelompoknya untuk ditanggapi oleh kelompok lain. Guru memandu jalannya diskusi, memperbaiki
jawaban siswa jika ada jawaban siswa yang keliru dan membantu siswa menyimpulkan alternatif
jawaban yang benar dari hasil pemecahan masalah yang dibuat masing-masing kelompok. Pada akhir
pertemuan guru mengajak siswa untuk membuat kesimpulan dari materi yang dipelajarinya, dan di
akhir pelajaran guru memberikan lembar penilaian untuk dikerjakan secara individu.
Pada awal pelaksanaan perlakuan pada kelompok eksperimen mengalami sedikit hambatan.
Siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang baru diterapkan di
kelas, terutama pada saat pembentukan kelompok, sehingga proses ini cukup menyita waktu
pembelajaran. Siswa yang tidak terbiasa dengan pembentukkan kelompok belajar. Awalnya kurang
antusias dalam proses pembelajaran ini. Beberapa siswa menunjukkan sikap yang kurang
bekerjasama dalam kelompok, sehingga hanya sedikit saja siswa yang aktif dalam kelompok belajar
pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini mengakibatkan proses penyerapan materi
pembelajaran oleh siswa kurang maksimal. Perlahan-lahan, hambatan-hambatan yang terjadi dapat
diminimalisir. Guru dapat mengontrol dan mengarahkan siswanya dengan sangat baik, sehingga
siswa yang tadinya kurang antusias, merasa senang bekerja sama dalam kelompoknya.
Pada pertemuan kedua dan pertemuan-pertemuan berikutnya, proses pembelajaran dapat
berjalan dengan baik dan lancar. Meskipun pada pertemuan kedua sampai keyiga, beberapa siswa
masih mengalami kesulitan dalam menggali dan mengolah informasi dari LKS dan sumber belajar
lainnya, sehingga siswa tersebut belum mampu menemukan sendiri penyelesaian dari masalah yang
diberikan. Melalui bimbingan guru, siswa sudah mulai mengerti dengan model pembelajaran REACT.
Sehingga pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, guru dan siswa sudah menunjukkan sikap yang
antusias dalam proses pembelajaran. Siswa juga mulai merasa bertanggung jawab dalam kelompok
belajarnya, untuk mengerjakan tugas-tugas kelompok. Selain itu, guru sudah dapat memberi umpan
balik terhadap respon-respon siswa dan mendorong siswa mengumpulkan informasi untuk
mendapatkan solusi dari masalah yang diberikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, siswa juga
memerlukan waktu untuk beradaptasi terhadap suatu pembelajaran yang baru diterapkan. Ini juga
terlihat dari persentase ketercapaian aspek yang diamati, secara keseluruhan mengalami peningkatan
jika dibandingkan dengan persentase pada pertemuan pertama.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran REACT
terhadap kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMPN 6 Kendari. Untuk mngetahui
efektivitas tersebut, akan ditunjukkan bahwa model pembelajaran REACT efektif berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan. Adapun kriteria efektivitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: (1)
kriteria kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran ditunjukkan dengan sekurangnya-
kurangnya melaksanakan 75% kegiatan pembelajaran sesuai indikator pengamatan, (2) kriteria
aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran ditunjukkan dengan sekurang-kurangnya 75% siswa
terlibat aktif dalam proses pembelajaran, dan (3) kemampuan komunikasi matematik siswa yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran REACT lebih baik daripada kemampuan
komunikasi matematik siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Langsung.
Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan
menggunakan model pembelajaran REACT pada materi Lingkaran, keberhasilan pengelolaan
pembelajaran pada pertemuan pertama sudah cukup baik dengan tingkat keberhasilan sebesar
71,67%. Pada pertemuan pertama, peneliti menyesuaikan kondisi siswa dengan model pembelajaran
yang baru diterapkan di kelas. Namun, peneliti tidak menyampaikan tujuan atau indikator
pembelajaran serta peneliti lupa memberikan motivasi kepada siswa. Pada kegiatan inti, peneliti juga
tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang masalah-masalah yang belum
dipahami. Hal ini dikarenakan kurangnya respon siswa pada pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua dan ketiga mengalami peningkatan
dibanding pertemuan pertama. Tingkat keberhasilan secara berturut-turut mencapai 75,83% dan 75%.
Pada pertemuan kedua dan ketiga peneliti masih kurang baik memotivasi siswa, peneliti tidak sempat
memberikan pekerjaan rumah dan tidak menyampaikan tentang materi pada pertemuan selanjutnya.
Tingkat keberhasil pada pertemuan keempat dan kelima terus mengalami peningkatan, pada
pertemuan keempat tingkat keberhasilan mencapai 83,33% dan pada pertemuan kelima mencapai
88,33%. Hal ini karena siswa maupun guru sudah dapat menyesuaikan diri dengan proses
pembelajaran REACT. Berdasarkan data ini, aktivitas guru untuk kelas yang diajar dengan model
pembelajaran REACT terinterpretasi baik dengan rata-rata keaktifan mencapai 78,83%.
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran matematika
menggunakan model pembelajaran REACT pada materi Lingkaran. Pada pertemuan pertama
persentase keaktifan siswa berdasarkan lembar observasi adalah 60% yang berarti bahwa keaktifan
siswa pada pertemuan pertama tergolong cukup. Meskipun pada pertemuan pertama siswa masih
kurang menyadari tugas dan tanggung jawab mereka dalam kelompok. Mereka cenderung saling
berharap kepada teman, sehingga kerjasama dalam kelompok berjalan kurang baik. Beberapa siswa
belum mampu menemukan sendiri penyelesaian suatu masalah yang diberikan dan juga beberapa
masih kurang berani mengemukakan pendapat.
Pertemuan kedua persentase keaktifan siswa berdasarkan lembar observasi mengalami
peningkatan pada angka 68,75%, ini termasuk pencapaian yang baik. Pada pertemuan kedua siswa
mulai terbiasa belajar secara berkelompok dengan menggunakan model pembelajaran REACT.
Mereka mulai berinisiatif untuk terlibat aktif dalam kelompok serta antusias mengikuti proses
pembelajaran. Pada pertemuan ketiga sampai pertemuan kelima, peneliti lebih memperhatikan
kekurangan-kekurangan pada pertemuan pertama dan kedua. Sehingga pada pertemuan ketiga
persentase keaktifan siswa kembali mengalami peningkatan ketercapaian yaitu menjadi 87,5%. Ini
sudah tergolong dalam kategori sangat baik. Begitu pula pada pertemuan keempat yang mengalami
peningkatan ketercapaian, yaitu sebesar 88,75%, ketercapaian ini tergolong sangat baik. Namun pada
pertemuan kelima persentase keaktifan siswa mengalami penurunan ketercapaian dari sebelumnya
menajdi 87,5%, namun meskipun mengalami penurunan tapi tingkat ketercapaian teresebut masih
tergolong dalam kategori sangat baik. Beradarkan data ini, dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari
tingkat keaktifan siswa yang diajar dengan model pembelajaran REACT terinterpretasi baik dengan
rata-rata keaktifan mencapai 78,5%.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t (Independent Sample t-test).
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t diperoleh 12 sig. 2-tailed = 0,0195 < =
0,05, sehingga H0 ditolak dengan demikian kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa kemampuan
komunikasi matematik siswa kelas VIII SMPN 6 Kendari yang diajar dengan model pembelajaran
REACT lebih baik secara signifikan daripada kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII
SMPN 6 Kendari yang diajar dengan model pembelajaran Langsung. Jadi, berdasarkan kriteria
efektivitas yang telah ditetapkan, maka dapat simpulkan bahwa penerapan model pembelajaran
REACT lebih efektif daripada model pembelajaran Langsung terhadap kemampuan komunikasi
matematik siswa kelas VIII SMPN 6 Kendari.

Simpulan dan Saran


Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran matematika dengan menggunakan model Pembelajaran REACT pada siswa
kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari tergolong baik. Hal ini ditunjukkan dengan persentase
keterlaksanaan pembelajaran oleh guru pada 5 kali pertemuan berturut-turut adalah 71,67%,
75,83%, 75%, 83,33%, dan 88,33%. Demikian pula dengan persentase keaktifan siswa pada 5
kali pertemuan berturut-turut adalah 60%, 68,75%, 87,5%, 88,75%, dan 87,5%.
2. Kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari untuk kelas yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran REACT pada materi Lingkaran memiliki nilai
minimum 43.75, nilai maksimum 100, nilai mean 68.26. Tidak ada siswa ysng mempunyai
tingkat penguasaan terhadap materi dengan kategori kurang dan sangat kurang, 9 siswa (37,50%)
mempunyai tingkat penguasaan dengan kategori cukup, 10 siswa (41,67%) mempunyai tingkat
penguasaan dengan kategori baik, 5 orang (20,83%) mempunyai tingkat penguasaan dengan
kategori sangat baik.
3. Kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari untuk kelas yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung pada materi Lingkaran memiliki nilai
minimum 25, nilai maksimum 87,50, nilai mean 59,11. Tidak ada siswa yang mempunyai
penguasaan terhadap materi dengan kategori sangat kurang, 1 orang (4,17%) mempunyai tingkat
penguasaan dengan kategori kurang, 12 orang (50%) mempunyai tingkat penguasaan dengan
kategori cukup, 8 orang (33.33%) mempunyai tingkat penguasaan dengan kategori baik dan 3
orang (12,50%) mempunyai tingkat penguasaan dengan kategori sangat baik.
4. Kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari yang diajar dengan
model pembelajaaran REACT lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematik siswa
kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari yang diajar dengan model pembelajaran Langsung.
Berdasarkan simpulan di atas, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran
REACT lebih efektif daripada model pembelajaran Langsung terhadap kemampuan komunikasi
matematik siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Kendari.

Saran
Berdasarkan uraian pada hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, maka saran yang
dapat disampaikan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran REACT dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran
matematika khususnya pada materi lingkaran karena dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi matematik siswa SMP.
2. Model pembelajaran REACT dalam penerapannya membutuhkan waktu yang lebih banyak
terutama pada tahap experiencing sehingga guru dituntut dapat mengatur waktu secara efisien
dan dapat mengondisikan kelas dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Daftar Pustaka
Bambang Aryan. (2007). Komunikasi dalam Matematika. Disajikan di
http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/30/komunikasi-dalam-matematika/ , [diakses 27
November 2016].
Fachrurazi. (2011). Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian, 1:76-89.
Herdian. (2010). Kemampuan Komunikasi Matematika. Disajikan di
http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/kemampuan-komunikasi-matematis. [diakses 27
November 2016].
NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics.
Reston,Va:NCTM.http://standards.nctm.org/document/chapter4/index.html, [diakses 27
November 2016].
Niken Ramandha Wulan Sari. (2015). Keefektifan Model Pembelajaran React Berbantuan Worksheet
Terhadap Pemecahan Masalah Dan Kerja Sama Siswa Kelas VII. UNS.
Nuraeni, R dan Luritawaty, I.P. (2016). Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematik
Siswa melalui Strategi Think Talk Write. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP Garut.
Vol.8, No.2, Hal: 9-20. Tersedia di http://jurnalmtk.stkip-garut.ac.id [diakses tanggal 13
Februari].
Nurlia. (2015). Kemampuan Komunikasi Matematika Dalam Pembelajaran Matematika Sebelum
Dan Setelah Penerapan Pendekatan Matematika Realistik. Jurnal Daya Matematis, Vol. 3
No. 3. Hal:328-336.
Qomariyah Sitti. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Koopertaif Tipe Jigsaw II Terhadap
Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik (Studi Kuasi Eksperimen di SMA Negeri
1 Terbanggi Besar Lampung Tengah). Universitas Terbuka Jakarta. Skripsi.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta,
Yenni. (2016). Analisis kemampuan komunkasi matematik siswa SMP pada Materi Bangun Ruang
Sisi Lengkung dengan Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw. Jurnal Analisis Prodi
Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Vol.2, No.3, Hal.1-8.
BIODATA PENULIS

Dian Mayang Sari lahir di Raha, 24 Juni 1994 merupakan anak dari pasangan La Atto, A.Ma.Pd. dan
Cory Parindingan. Menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 5 Katobu pada tahun 2000
hingga 2007, pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Raha tahun 2007 hingga 2010,
pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Raha pada tahun 2010 hingga tahun 2013. Dan
saat ini telah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Halu Oleo Kendari
jurusan Pendidikan Matematika sejak tahun 2013.