Anda di halaman 1dari 77

PENGARUH TEKNIK PROBING TERHADAP HASIL BELAJAR

PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KONSEP GETARAN


DAN GELOMBANG
(Quasi Eksperimen di SMPN 17 Kota Tangerang Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Sarjana Strata 1 (S.Pd)

Oleh:
ISTI NURCAHYANI
105016300594

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
PENGARUH TEKNIK PROBING TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
DALAM PEMBELAJARAN KONSEP GETARAN DAN GELOMBANG
(Quasi Eksperimen di SMP Negeri 17 Kota Tangerang Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh


Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh:
ISTI NURCAHYANI
NIM: 105016300594

Di Bawah Bimbingan:

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Ahmad Sofyan, M.Pd Kinkin Suartini, M.Pd


NIP. 19650115 198703 1 020 NIP. 19780406 200604 2 003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul PENGARUH TEKNIK PROBING TERHADAP HASIL BELAJAR


PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KONSEP GETARAN DAN
GELOMBANG, disusun oleh Isti Nurcahyani, NIM 105016300594, diajukan kepada
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 14
Februari 2011 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar
sarjana S1 (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Program Studi
Pendidikan Fisika.
Jakarta, 14 Maret 2011

Panitia Ujian Munaqasyah


Tanggal Tanda Tangan
Ketua Panitia (Ketua Jurusan Pendidikan IPA)
Baiq Hana Susanti, M.Sc ............ .....................
NIP: 19700209 200003 2 001
Sekretaris (Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA)
Nengsih Juanengsih, M.Pd ............ .....................
NIP. 19790510 2006042001
Penguji I
Iwan Permana Suwarna, M.Pd ............ .....................
NIP. 19520609 1981031004
Penguji II
Erina Hertanti, M.Si______ ............ .....................
NIP. 19720419 1999032002

Mengetahui:
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A


NIP. 19571005 1987031003
ABSTRAK

Isti Nurcahyani, Pengaruh Teknik Probing terhadap Hasil Belajar Peserta


Didik dalam Pembelajaran Konsep Getaran dan Gelombang. Skripsi,
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh teknik probing terhadap hasil belajar peserta didik setelah pembelajaran
pada konsep getaran dan gelombang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 17
Tangerang Selatan pada bulan April 2010. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode Quasi Eksperimen. Pada penelitian ini sampel diambil sebanyak 74
orang dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Instrumen
penelitian yang digunakan berupa tes objektif bentuk pilihan ganda. Tes ini terdiri
dari empat pilihan (opsi) dan hasilnya diuji melalui satatistik uji t. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 2,10 sedangkan ttabel sebesar 1,99 pada
taraf signifikansi 0,05 atau dapat diketahui thitung > ttabel. Maka dapat disimpulkan
bahwa Ha yang menyatakan terdapat pengaruh teknik probing terhadap hasil
belajar diterima atau disetujui. Hal ini menunjukan bahwa teknik probing
membawa pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika.

Kata Kunci : Teknik Probing, Hasil Belajar, Statistik.

i
ABSTRACT

Isti Nurcahyani, The Effect of The Technique Probing to Students Learning


Outcomes in Study Conception Wave and Vibration. Thesis of Physics
Departement, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, State Islamic
University Syarif Hidayatullah Jakarta. The aim of this research is to know the
Effect of The Technique Probing to Students Learning Outcomes in Study
Conception Wave and Vibration. This Research has been done in April 2010 at
SMP Negeri 17 in South Tangerang. To get the data, the research took 74
students as a sample by using Purpsive Sampling technique, after that the class
was divided into two group, i.e. experiments and control classes. The
instrumentation of this research used an objective multiple choice test. This test
was consisted of four options, and the result of this test had been tested through t-
test statistic. The calculation of tcount was 2,10 and ttable was 1,99; and 0,05 on the
significant level or tcount > ttable. The conclusion is Ha that explained there are any
Effect of The Technique Probing to Students Learning Outcomes in Study
Conception Wave and Vibration accepted or agreed. This indicated that Effect of
The Technique Probing brings the significant influence to the learning output.

Key Word : Technique Probing, Learning out, Statistic.

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, yang


telah menciptakan manusia sebaik-baiknya bentuk dan keajaiban, untuk menjadi
khalifah di muka bumi ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan
kepada junjungan umat manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW sang pemilik
akhlak mulia, pembawa kebenaran dan kedamaian bagi seluruh alam. Atas berkat
rahmat dan hidayah Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai
dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada.
Adapun keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak
terlepas dari banyak pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu
penulis patut mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. DR. Dede Rosyada, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.
2. Ketua Jurusan Pendidikan IPA Ibu Baiq Hana Susanti, M.Pd, M.Si.
3. Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd.
4. Ketua Prodi Fisika Ibu Erina Hertanti, M.Si.
5. Bapak Ahmad Sofyan, M.Pd selaku Dosen Pembimbing I yang telah
membimbing penulis dalam menyikapi semua permasalahan dalam skripsi ini.
6. Ibu Kinkin Suartini, M.Pd selaku Dosen Pembimbing II yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak H. Mardi Yuana Abdillah, S.Pd. selaku Kepala SMP Negeri 17 kota
Tangerang Selatan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
melaksanakan Observasi dan penelitian skripsi.
8. Bapak Hendrianto, S.Pd, selaku guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 17
Kota Tangerang Selatan.
9. Seluruh guru, karyawan dan siswa-siswi SMP Negeri 17 Kota Tangerang
Selatan yang banyak memberikan pengetahuan selama penulis menjalankan
penelitian skripsi.
10. Abi dan umi tercinta yang bersusah payah telah mengasuh dan mendidik
penulis hingga dapat terus kuliah serta adikku tersayang dan seluruh

iii
keluargaku yang selalu mendoakan dan mendukung keberhasilan belajar
penulis.
11. Sahabat-sahabat Program Studi Pendidikan Fisika angkatan 2005 yang telah
banyak memberikan pengalaman kepada penulis tentang indahnya arti sebuah
kebersamaan.
Akhirnya penulis berharap semoga amal baik semua pihak serta jasa-
jasanya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan hanya kepada
Allah jualah penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi
penulis sendiri dan para pembaca umumnya.

Jakarta, Juli 2010

Penulis

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK ....................................................................................................... i
ABSTRACT ....................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1


A. Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .......................................................................... 3
C. Pembatasan Masalah ......................................................................... 3
D. Rumusan Masalah ............................................................................. 4
E. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
F. Manfaat Penelitian ............................................................................ 4

BAB II. KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN


PERUMUSAN HIPOTESIS ............................................................ 5
A. Kajian Teoretis .............................................................................. 5
1. Teknik Probing ....................................................................... 5
a. Pengertian Teknik Pembelajaran Probing ....................... 5
b. Tahap-tahap Teknik Probing ........................................... 8
c. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajran Probing ............ 10
2. Hasil Belajar ............................................................................ 12
a. Pengertian Belajar .............................................................. 12
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ..................... . 13
c. Hasil Belajar Sebagai Objek Penilaian ............................ . 14
d. Pengukuran Hasil Belajar................................................... 15

v
e. Prinsip-prinsip Belajar ....................................................... 19
f. Tujuan Belajar .................................................................... 22
3. Metode Tanya Jawab .............................................................. 23
4. Getaran dan Gelombang .......................................................... 24
a. Getaran .............................................................................. 25
1) Amplitudo .................................................................... 26
2) Frekuensi ..................................................................... 26
3) Periode ........................................................................ 27
b. Gelombang ........................................................................ 27
B. Kajian Penelitian yang Relevan .................................................... 29
C. Kerangka Berpikir ......................................................................... 30
D. Perumusan Hipotesis ..................................................................... 32

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 33


A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 33
B. Metode Penelitian ......................................................................... 33
C. Desain Penelitian ........................................................................ .. 33
D. Populasi dan Sampel Penelitian .................................................... 34
E. Teknik Pengambilan Sampel ........................................................ 34
F. Prosedur Penelitian ..................................................................... .. 34
G. Variabel Penelitian ........................................................................ 36
H. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 37
I. Instrumen Penelitian ..................................................................... 38
J. Teknis Analisis Data ..................................................................... 43
K. Hipotesis Statistik ......................................................................... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 48


A. Hasil Penelitian .............................................................................. 48
1. Hasil Uji Data Pretest
a. Deskripsi data Pretest Siswa kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 48

vi
b. Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 50
c. Uji Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 50
d. Uji Hipotesis Pretest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 51
2. Hasil Uji Data Posttest
a. Deskripsi data Posttest Siswa kelompok
Eksperimen dan Kelompok Kontrol ................................. 52
b. Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 53
c. Uji Homogenitas Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 54
d. Uji Hipotesis Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ............................................................ 55
3. Deskripsi Data Normal Gain ................................................... 55
B. Interpretasi Hasil Penellitian ......................................................... 57
C. Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................ 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 61


A. Kesimpulan ................................................................................................... 61
B. Saran ........................................................................................................... 61

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 62


LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................. 64

vii
DAFTAR TABEL

Table 2.1 Keterampilan Proses sains ............................................................. 7


Tabel 3.1 Desain Penelitian .......................................................................... 33
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ....................................................... 38
Tabel 3.3 Interpretasi Reliabilitas ................................................................. 40
Tabel 3.4 Interpretasi Tingkat Kesukaran ..................................................... 41
Tabel 3.5 Interpretasi Daya Pembeda .......................................................... 42
Tabel 3.6 Kriteria Normal Gain....................................................................... 46
Tabel 4.1 Rekapitulasi Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ............ 49
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 50
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 51
Tabel 4.4 Hasil Pretest Uji t Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ........................................................................ 51
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 53
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol ......................................................................... 54
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Posttest Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 54
Tabel 4.8 Hasil Posttest Uji t Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ........................................................................ 55
Tabel 4.9 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Normal Gain ................................. 56
Tabel 4.10 Kategorisasi N-Gain Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ........................................................................ 57

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pola Umum Teknik Probing ......................................................... 9


Gambar 2.2 Bagan Peta Konsep Getaran dan Gelombang ............................... 24
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir............................................................... 32
Gambar 3.1 Tahapan dalam Prosedur Penelitian .............................................. 37
Gambar 4.1 Grafik Batang Hasil Belajar (Pretest) Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 49
Gambar 4.2 Grafik Batang Hasil Belajar (Posttest) Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol ......................................................................... 52

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Instrumen Penelitian dan Uji Coba Instrumen Penelitiaan


Lampiran A.1 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar ..................................... 64
Lampiran A.2 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian..... 75
Lampiran A.3 Contoh PerhitunganValiditas dan Reliabilitas
Uji Coba Instrumen Penelitian ............................................ .. 76
Lampiran A.4 Tingkat Kesukaran Instrumen Penelitian ................................. 78
Lampiran A.5 Distribusi Tingkat Kesukaran Instrumen Penelitian .. 79
Lampiran A.6 Daya Pembeda Instrumen Penelitian ........................................ 80
Lampiran A.7 Distribusi Daya Pembeda Instrumen Penelitian . 81
Lampiran A.8 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian ................... 82
Lampiran A.9 Soal Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar yang dipakai
dalam Penelitian ...................................................................... . 83
Lampiran A.10 Kunci Jawaban Instrumen Tes Hasil Belajar Yang Dipakai
Dalam Penelitian. 88

Lampiran B Perangkat Pembelajaran ........................................................... 89


Lampiran B.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Kelas Eksperimen ...................................................................... 89
Lampiran B.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Kelas Kontrol ............................................................................. 98
Lampiran B.3 Lembar Kerja Siswa (LKS) ...................................................... 107

Lampiran C Uji Analisis Data ....................................................................... 110


Lampiran C.1 Data Nilai Pretest Posttest ...................................................... 110
Lampiran C.2 Distribusi Data Skor Pretest Kelas Eksperimen ....................... 111
Lampiran C.3 Distribusi Data Skor Pretest Kelas Kontrol .............................. 113
Lampiran C.4 Distribusi Data Skor Posttest Kelas Eksperimen ...................... 115
Lampiran C.5 Distribusi Data Skor Posttest Kelas Kontrol ............................ 117
Lampiran C.6 Perhitungan Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen ............. 119
Lampiran C.7 Perhitungan Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol .................. 120
Lampiran C.8 Perhitungan Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen ........... 121

x
Lampiran C.9 Perhitungan Uji Normalitas Posttest Kelas Kontrol ................. 122
Lampiran C.10 Contoh Perhitungan Normalitas ............................................... 123
Lampiran C.11 Uji Homogenitas ....................................................................... 126
Lampiran C.12 Uji Hipotesis ............................................................................. 129
Lampiran C.13 Uji Normal Gain Eksperimen ................................................... 134
Lampiran C.14 Uji Normal Gain Kontrol .......................................................... 136

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas peserta didik, hal ini
tentu saja akan berkaitan dengan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran
akan tercapai. Dalam proses pencapaian tujuan-tujuan pendidikan melalui proses
pembelajaran banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, di antaranya faktor
ekstern dan faktor intern. Faktor tersebut dapat bersifat positif, apabila
mempengaruhi terhadap perubahan dan pembaharuan tingkah laku dan kecakapan
peserta didik menjadi lebih baik.
Selain itu, tujuan pendidikan juga bertujuan menyediakan lingkungan yang
memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya
secara optimal. Dengan adanya lingkungan yang memungkinkan, anak didik dapat
mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan
pribadinya dan kebutuhan masyarakat. 1
Kegiatan pembelajaran di kelas yang diterapkan oleh guru, seringkali
menempatkan peserta didik sebagai objek pendidikan dan guru sebagai subjek
pendidikan sehingga guru selalu mendominasi proses belajar mengajar. Dalam
pelaksanaan pembelajaran seperti ini, guru masih mendominasi kelas, peserta
didik menjadi pasif di kelas yaitu hanya datang, duduk, mendengar, melihat,
berlatih, dan lupa.
Selain itu, masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Anak kurang didorong untuk mengembangkan
kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada
kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat
berbagai informasi tanpa dituntut untuk menghubungkannya dengan kehidupan
sehari-hari siswa. 2 Di samping itu, untuk mengikuti pelajaran di sekolah,

1
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. (Jakarta: Rineka Cipta,
2004), hal.6
2
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2006), h 1

1
2

kebanyakan peserta didik tidak siap terlebih dulu dengan membaca bahan yang
akan dipelajari, peserta didik datang tanpa bekal pengetahuan.
Di lain pihak, banyak peserta didik yang masih belum berani dan terbiasa
beraktivitas, kebanyakan masih takut salah untuk bertanya, menjawab,
berkomentar, mencoba, atau mengemukakan ide. Mereka masih tidak yakin
apakah keberanian akan melanggar etika hormat kepada guru, karena di
lingkungan keluarga pun banyak bicara itu bisa dimarahi. Mereka masih takut
akan kesalahan karena biasanya akan mendapat teguran atau bentakan, ada rasa
tidak aman dalam belajar. Pada pihak guru pun, masih banyak guru yang merasa
kurang nyaman jika peserta didik banyak bicara, merasa kurang senang bila
peserta didik banyak bertanya dan berkomentar, memandang kurang sopan jika
peserta didik banyak bertingkah, dan semacamnya. Apalagi jika peserta didik
berbuat salah biasanya langsung divonis tidak menyenangkan.
Pada teknik pembelajaran probing, diharapkan partisipasi dan aktivitas
peserta didik di kelas tinggi. Pada umumnya, pada pembelajaran probing peserta
didik akan belajar (berpikir-bekerja) secara individu, sehingga mereka dapat
melatih diri dalam memupuk rasa percaya diri. Dengan teknik pembelajaran ini,
peserta didik akan berpartisipasi aktif walaupun ada unsur ketegangan dan cepat
melelahkan. Dengan teknik probing ini peserta didik akan diasah kemampuan
berpikir sehingga menyebabkan peserta didik akan berpikir kreatif dalam
memecahkan setiap masalah yang dihadapinya. Untuk mengefektifkan pertanyaan
guru dalam pembelajaran IPA dapat dipilih suatu alternatif yaitu penggunaan
teknik probing, beberapa pertanyaan berseri yang terprogram, saling berhubungan
dan berkesinambungan agar kompetensi siswa dapat tercapai. 3 Pertanyaan yang
digunakan untuk membimbing siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan
teknik probing, dipilih mulai kategori pertanyaan yang memerlukan proses
berpikir tingkat rendah sampai tingkat tinggi
Pengetahuan bisa didapatkan dimana saja, termasuk di alam. Fenomena-
fenomena alam tersebut bisa dipelajari pada mata pelajaran fisika. Karena fisika
3
Sri Murtini, Kreativitas Teknik Probng, tersedia: http://edu-articles.com/kreativitas-
teknik-probing/, diakses tanggal, 26 april 2009
3

merupakan ilmu yang mempelajari materi dan interaksinya. Banyak konsep-


konsep fisika yang bisa menjelaskan fenomena-fenomena tersebut. Salah satunya
penerapan konsep getaran dan gelombang. Getaran dan gelombang adalah salah
satu materi pada mata pelajaran Fisika yang konsepnya bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Konsep ini diambil karena sesuai dengan penerapan teknik
probing karena teknik ini menghadapkan peserta didik dengan gejala-gejala alam
yang dapat memunculkan teka-teki seperti konsep getaran dan gelombang.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu diadakan penelitian yang lebih
seksama mengenai kesulitan peserta didik dalam proses pembelajaran fisika yang
menyebabkan aktivitas peserta didik di kelas terhambat, dan peneliti tertarik untuk
mengkaji dan meneliti dan menuangkannya dalam bentuk uraian judul
Pengaruh Teknik Probing terhadap Hasil Belajar Peserta Didik dalam
Pembelajaran Konsep Getaran dan Gelombang.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat
diidentifikasikan masalah-masalah berikut:
1. Penerapan teknik pembelajaran masih terpusat pada aktivitas guru, sehingga
guru selalu menguasai proses belajar mengajar dan peserta didik menjadi pasif
di kelas.
2. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan pembelajaran
fisika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kreativitas dan aktivitas peserta
didik terhambat.
3. Peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mengasah kemampuan
berpikir mereka, sehingga terhambatnya proses berpikir.

C. Pembatasan Masalah
Untuk memfokuskan masalah yang diteliti dan karena adanya keterbatasan
waktu, tenaga dan biaya peneliti, maka masalah dibatasi pada pengaruh teknik
probing terhadap hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran konsep getaran
dan gelombang dengan uraian sebagai berikut:
4

1. Metode pembelajaran yang akan diterapkan yaitu metode tanya jawab dengan
teknik probing.
2. Hasil belajar yang diukur hanya pada ranah kognitif berdasarkan taksonomi
Bloom pada jenjang C1 (Pengetahuan), C2 (Pemahaman), C3 (Penerapan) dan
C4 (Analisis).
3. Konsep fisika yang dibahas adalah konsep getaran dan gelombang.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan di
atas maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut: Apakah teknik
probing berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran
konsep getaran dan gelombang?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik probing terhadap hasil
belajar peserta didik setelah pembelajaran pada konsep getaran dan gelombang.

F. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk:
1. Memberikan wawasan tentang cara penerapan teknik pembelajaran fisika
khususnya teknik probing dan memberikan pengalaman melakukan penelitian.
2. Memberikan informasi untuk mengembangkan pemikiran dan pengetahuan
yang bernilai tentang pendidikan.
3. Memberikan informasi mengenai kemampuan kognitif siswa pada proses
pembelajaran.
4. Sebagai informasi untuk mengembangkan upaya guru dalam pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.
BAB II
KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS

A. Kajian Teoretis
1. Teknik Probing
a. Pengetian Teknik Pembelajaran Probing
Teknik probing adalah suatu teknik dalam pembelajaran dengan cara
mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing siswa menggunakan
pengetahuan yang telah ada pada dirinya guna memahami gejala atau keadaan
yang sedang diamati sehingga terbentuk pengetahuan baru.
1
Dalam probing, guru membimbing peserta didik agar mampu membangun
pengetahuannya sendiri dengan mengajukan pertanyaan, sehingga guru
mengetahui kemampuan dasar mereka.
Melalui proses probing, guru berusaha untuk membuat siswa-siswanya
membenarkan atau paling tidak menjelaskan lebih jauh tentang jawaban-jawaban
mereka, dengan cara demikian dapat meningkatkan kedalaman pembahasan.
Selain itu teknik ini juga membantu mereka untuk sejauh mungkin menghindari
jawaban-jawaban yang dangkal. 2 Teknik probing dapat memberikan fasilitas
melatih kemampuan berpikir dan membaca ilmiah agar dapat mempermudah
melakukan akomodasi dan membangun pengetahuannya. 3
Menurut Suyanto, teknik probing adalah usaha atau langkah-langkah
sistematis dalam pembelajaran untuk menggali informasi (fakta, data) yang dinilai
penting dari siswa dan relevan dalam mengembangkan pembelajaran. 4 Teknik
probing memerlukan kekuatan dalam mengembangkan pertanyaan. Guru perlu
1
Maman Wijaya, Penggunaan Teknik Probing dalam Pembelajaran Kesetimbangan
Benda Getar, (Bandung. Tesis PPS UPI. 1999) hal.16
2
David A. Jacobsen dkk, Methods for Teaching (Metode-metode pengajaran
Meningkatkan Belajar TK-SMA), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal.184
3
Maman Wijaya, et all., Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Vol.VNo.6April
2008; Peningkatan Kemampuan Berpikir dan Kemampuan Membaca Ilmiah Guru IPA Melalui
Pembelajaran dengan Teknik Probing, (Bandung: 2008), hal.23
4
Suyanto, Teknik Probing untuk Menguatkan Kapasitas Siswa, Tersedia:
http://garduguru.blogspot.com/2008/10/teknik-probing-untuk-menguatkan.html 24 juli 2010

5
6

menguasai keterampilan bertanya karena guru cenderung mendominasi kelas


dengan ceramah, murid belum terbiasa mengajukan pertanyaan, murid harus
dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal, dan adanya anggapan
bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
Aktivitas secara fisik yang diharapkan terjadi dengan teknik probing guru
adalah sebagai berikut: siswa melakukan observasi (mengamati, mengukur,
mencatat data), menjawab pertanyaan, dan mengajukan pertanyaan atau
sanggahan, sedangkan aktivitas berpikirnya adalah asimilasi, akomodasi dan
pembentukan pengetahuan baru. 5
Dengan teknik pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan
menunjuk peserta didik secara acak sehingga setiap peserta didik mau tidak mau
harus berperan aktif, peserta didik tidak bisa menghindar dari proses
pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab.
Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Pada
umumnya peserta didik akan belajar (berpikir-bekerja) secara individu, sehingga
mereka dapat melatih diri dalam memupuk rasa percaya diri. Dengan teknik ini,
peserta didik akan berpartisipasi aktif tetapi tetap ada unsur ketegangan dan cepat
melelahkan.
Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya ketika
menyampaikan serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara
menyejukkan, dan dengan nada yang lembut. Hal ini bisa mengurangi ketegangan
peserta didik ketika diajukan pertanyaan. Peserta didik akan merasa seperti diberi
pertanyaan oleh teman mereka sendiri tetapi tetap sopan. Saat pelajaran
berlangsung, ketika sedang mengajukan pertanyaan hendaknya juga ada canda,
senyum dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan dan ceria.
Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan dan jawabannya ternyata
salah, guru tidak langsung mempersalahkan dan memarahinya di depan kelas.
Jawaban peserta didik yang salah akan dihargai karena salah adalah ciri bahwa
peserta didik tersebut sedang belajar, ia telah berpartisipasi dalam proses
pembelajaran.

5
Maman Wijaya, op. cit., hal. 21
7

Pertanyaan yang digunakan untuk membimbing siswa dalam pembelajaran


dengan menggunakan teknik probing, dipilih mulai kategori pertanyaan yang
memerlukan proses berpikir tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Aktivitas siswa
yang diharapkan terjadi dengan penggunaan teknik probing oleh guru adalah
aktivitas yang dapat melatih ketrampilan proses sains, contoh: 6
Tabel 2.1 Keterampilan Proses Sains
No. Ketrampilan Proses Sains Pertanyaan
1. Mengamati Apa yang kamu amati ketika Ikan
terlempar dari toples yang berisi air?
2 Mengukur menggunakan Berapakah temperatur akhir? Berapa lama
nomor dan waktu. diperlukan waktu untuk mencapai
temperatur akhir itu?
3 Mengkomunikasikan Apa yang terjadi dengan jumlah gerakan
operkulum ikan emas bila temperatur
diturunkan?
4 Mengklasifikasi Manakah dari hewan-hewan ini yang
berdasarkan persamaan dan termasuk serangga?
perbedaan
5 Membandingkan Manakah tanaman yang lebih kokoh,
yang tumbuh di tempat terang atau yang
tumbuh di tempat gelap?
6 Memprediksi Tanaman mana yang kamu perkirakan
akan tumbuh lebih baik?
7 Menyusun hipotesis Kebanyakan uap air dalam awan berasal
dari laut, mengapa air hujan tidak hanya
jatuh di laut?
8 Merancang eksperimen Apakah cahaya mempengaruhi kecepatan
pertumbuhan kecambah kacang hijau?

Pertanyaan yang baik mempunyai berbagai fungsi antara lain: mendorong


siswa untuk berpikir, meningkatkan keterlibatan siswa, merangsang siswa untuk
mengajukan pertanyaan, mendiagnosis kelemahan siswa, memusatkan perhatian
siswa pada satu masalah, dan membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan
bahasa yang baik. 7

6
Sri Murtini, Kreativitas Teknik Probing, tersedia: http://edu-articles.com/kreativitas-
teknik-probing/ diakses tanggal: 26 April 2009
7
Suyanto, op.cit,. h. 2
8

b. Tahap-tahap teknik probing


Aktivitas guru dalam mengkondisikan teknik probing meliputi tujuh tahap,
sebagai berikut:
1. Tahap I, menghadapkan peserta didik pada situasi baru, misalnya dengan
menunjukkan gambar, alat pembelajaran, objek, gejala yang dapat
memunculkan teka-teki.
2. Tahap II, memberi waktu tunggu beberapa saat agar peserta didik melakukan
pengamatan.
3. Tahap III, mengajukan pertanyaan sesuai indikator atau kompetensi yang
ingin dicapai peserta didik.
4. Tahap IV, memberi waktu tunggu beberapa saat untuk memberikan
kesempatan peserta didik merumuskan jawabannya.
5. Tahap V, Meminta seorang peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang
telah diajukan.
6. Tahap VI, dari respon siswa itu, apabila jawaban yang diberikan peserta didik
benar atau relevan dilanjutkan dengan peserta didik lain, untuk meyakinkan
bahwa semua peserta didik terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung.
Jika jawaban keliru atau tidak relevan, diajukan pertanyaan susulan yang
berhubungan dengan respon pertama. Pertanyaan yang diajukan pada tahap ke
6 (enam) ini sebaiknya diajukan/diinteraksikan juga pada peserta didik lain
agar seluruh peserta didik terlibat dalam kegiatan probing.
7. Tahap VII, mengajukan pertanyaan akhir pada peserta didik lain untuk lebih
menegaskan bahwa kompetensi dasar yang dituju sudah tercapai. 8

8
Maman Wijaya,Op.cit., hal.21
9

Pola umum teknik probing dapat dilihat dalam gambar 2.1. 9

Aktivitas Probing Guru Aktifitas Mental Siswa


TAHAP I
Menghadapkan siswa pada situasi
baru yang mengandung teka-teki,
melalui gambar, peragaan, dll
Asimilasi

TAHAP II
Tunggu beberapa saat
Tanggapan mental
siswa (sesuai?)
TAHAP III
Ajukan pertanyaan sesuai indikator
Disequilibrium
TAHAP IV
Tunggu beberapa saat

TAHAP V
Minta seorang siswa menjawabnya

Akomodasi
Respon siswa?

TAHAP VI
Mengajukan pertanyaan dengan seri pertanyaan
sesuai dengan indikator pembelajaran.

TAHAP VII Equilibrium


Mengajukan pertanyaan akhir untuk menguji
pemahaman peserta didik
Pengetahuan
Baru

Gambar 2.1 Pola Umum Teknik Probing

9
Ibid, hal. 23
10

Penentuan materi yang akan disajikan dengan teknik probing dapat


dimulai pada waktu guru menyusun silabus, pada waktu menganalisins standar
kompetensi maupun kompetensi dasar. Selanjutnya rancangan seri pertanyaannya
disiapkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran berupa pertanyaan-pertanyaan
pokok. Pertanyaan tambahan akan muncul sesuai dengan jawaban yang diberikan
peserta didik.

c. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Probing


Secara umum menggunakan teknik probing dalam pembelajaran di kelas
sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi siswa
melalui aktivitas mendengar, berdiskusi dan merepresentasi. Walaupun demikian,
dari hasil pengamatan dan penganalisaan penggunaan teknik probing, ternyata
teknik probing memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya adalah sebagai
berikut:
1). Sulit merencanakan waktu yang diperlukan secara tepat untuk setiap jenis
kegiatan.
Pada saat pembelajaran, kadang-kadang ada jawaban siswa yang menyimpang
dari yang diinginkan oleh guru sehingga guru terpaksa menyusun pertanyaan
baru yang lain untuk menyesuaikan dengan jawaban siswa tersebut. Dan untuk
menyusun pertanyaan yang baru itu tidak mudah dilakukan secara cepat.
2). Sulit merencanakan serangkaian pertanyaan untuk diajukan satu persatu
sampai selesai.
Karena apabila salah satu pertanyaan itu dijawab salah atau tidak tepat oleh
siswa, lalu guru mengajukan pertanyaan baru yang lain, maka pertanyaan
berikutnya yang telah direncanakan itu tidak terpakai. Selain itu juga sulit
mengontrol jumlah pertanyaan yang diperlukan dan jika pertanyaan terlalu
banyak, sementara siswa tidak dapat juga mengambil kesimpulan, maka siswa
akan lelah dan bosan.
11

3). Sulit menghindari jawaban serempak dari siswa.


Setelah dicoba mengatasinya dengan cara meningkatkan pertanyaan ke tingkat
yang lebih tinggi, seperti pertanyaan evaluatif, siswa menjadi diam. Akhirnya
guru menyederhanakan pertanyaan. 10
Kelebihan teknik probing diantaranya adalah:
1). Guru tidak perlu memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan,
melainkan cukup mengajak siswa untuk mengamati gambar, mengamati benda
atau hal-hal yang mengandung teka-teki menyangkut materi yang akan
diajarkan untuk kemudian mengajukan serangkaian pertanyaan.
2). Siswa dapat lebih meningkatkan kemampuan komunikasi melalui komunikasi
langsung dengan guru dalam membangun pengetahuan baru.
3). Perhatian siswa terhadap bahan yang sedang dipelajarinya cenderung lebih
terjaga karena siswa selalu mempersiapkan jawaban takut ditunjuk oleh guru.
4). Jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran dapat lebih ditingkatkan
dengan cara mendistribusikan pertanyaan secara merata ke seluruh siswa.
5). Aspek kognitif siswa menjadi lebih terlatih setelah mereka terbiasa mengolah
pengetahuan yang telah mereka kuasai, mencari hubungan yang satu dengan
yang lainnya, lalu menerapkannya untuk menerangkan situasi baru yang
diamatinya.
6). Siswa diberi kepercayaan untuk membangun sendiri pengetahuannya dan
diarahkan untuk belajar mandiri, sehingga diharapkan apabila mereka berhasil
melakukannya mereka menjadi lebih puas. Pengetahuan yang diperolehnya
diharapkan dapat melekat lebih lama dan diharapkan pula mereka dapat lebih
bersemangat untuk melakukan hal sama pada situasi lain. 11
Jadi teknik probing adalah teknik pembelajaran dengan cara mengajukan
serangkaian pertanyaan yang bersifat membimbing peserta didik dan semua
peserta didik dapat ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

10
Nitta Puspitasari, Efektifitas Belajar Mengajar Matematika dengan Teknik Probing,
tersedia: http://www.sundayana.web.id/efektifitas-belajar-mengajar-matematika-dengan-teknik-
probing.html diakses tanggal: 24 juli 2010
11
Ibid, hal. 5
12

2. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar atau yang disebut dengan learning, adalah perubahan yang secara
relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-
pengalaman. Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting
bagi kelangsungan hidup manusia. belajar membantu manusia menyesuaikan diri
(adaptasi) dengan lingkungan, dan dengan adanya proses belajar inilah manusia
dapat bertahan hidup (survived). 12
Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.
Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut
pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek
organisme atau pribadi. 13 Salah satu ciri bahwa seseorang dikatakan sudah atau
telah belajar ialah adanya suatu perubahan tingkah laku pada diri seseorang
tersebut. Perubahan itu menyangkut perubahan dalam pengetahuan dan
keterampilan atau juga perubahan dalam sikap.
Prestasi belajar adalah kemampuan siswa yang dicapai setelah melalui
proses pembelajaran yang diukur dengan suatu evaluasi atau kriteria tertentu
misalnya dengan menilai jawaban atas soal-soal yang telah disusun sesuai dengan
rencana yang ingin dicapai setelah terjadi proses pembelajaran tersebut. 14
Winarno Sukarman mengatakan bahwa belajar adalah proses yang terjadi
dalam otak manusia dimana ada syaraf dan sel-sel otak yang bekerja
menyimpulkan apa yang dilihat oleh mata didengar oleh telinga dan lain-lain, lalu
15
disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Sementara itu Anita E. Woolflok
mengemukakan, bahwa belajar adalah suatu proses yang terjadi dari pengalaman

12
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta:Kisi
Brothers, 2006), h. 76
13
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 2002), h 10-11
14
Nyoman Cakra Griadhi, Penanggulangan Miskonsepsi Pada Mata Pelajaran
Ekonomi dengan Lembar Kerja Siswa dan Pemanfaatan Lingkungan Untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar Siswa, dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No.3 thn
XXXV Juli 2002, hal 74
15
Usman Malayu, Hakikat Minat Belajar dan Hasil Belajar, dalam Berita STMT
TRISAKTI Edisi 084, januari 2000. hal. 55
13

atas suatu perubahan yang relatif dalam suatu bidang pengetahuan atau tingkah
laku. 16 Belajar dipahami sebagai suatu proses kegiatan yang menagakibatkan
terjadinya perubahan pada pengalaman dan perilaku seseorang terhadap sesuatu
yang dipelajari.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 17 Menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. 18 Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang
banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap
perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Definisi
dari belajar di atas mengandung pengertian bahwa yang dimaksud dengan belajar
adalah perubahan tingkah laku seseorang secara keseluruhan atas apa yang
didapat dari suatu pengalamannya baik dari suatu penglihatan, pengamatan
ataupun meniru dari seseorang yang ia anggap paling baik.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan
serangkaian kegiatan dalam mencapai perubahan tingkah laku, pengetahuan,
kepribadian, keterampilan yang diakibatkan oleh terjadinya interaksi antara
seseorang dengan seseorang, seseorang dengan kelompok dan seseorang dengan
lingkungannya sebagai hasil dari pengalaman.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu: faktor yang datangnya dari dalam diri siswa (faktor

16
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op.cit, hal. 11
17
Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: PT: Rineka Cipta,
2003), Cet. Ke 4, h. 2
18
Ibid, h. 2
14

internal) dan faktor yang datangnya dari luar diri siswa (faktor eksternal). Faktor
internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
1). Faktor jasmani (fisiologis), baik yang bersifat bawaan ataupun yang
diperolehnya, contohnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan lain
sebagainya.
2). Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperolehnya.
Faktor ini terdiri atas faktor:
a). Faktor intelektif yang meliputi: faktor potensial yaitu kecerdasan, bakat
dan faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dan pernah dimiliki.
b). Faktor non intelektif adalah unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap,
kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosional dan penyesuaian diri.
3). Faktor kematangan fisik maupun psikis
Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai
berikut:
a). Faktor sosial yang terdiri dari: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah,
lingkungan masyarakat dan lingkungan kelompok.
b). Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
c). Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan iklim.
d). Faktor lingkungan spiritual dan keamanan.
Faktor-faktor tersebut di atas saling berinteraksi secara langsung maupun
tidak langsung dalam mencapai prestasi belajar siswa. 19

c. Hasil Belajar sebagai Objek Penilaian


Proses belajar mengajar terdiri dari empat unsur utama yakni tujuan, bahan,
metode dan alat penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses belajar mengajar pada
hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh
siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah
seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dalam kurikulum untuk
disampaikan atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai kepada

19
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
h. 130
15

tujuan yang telah ditetapkan. Metode dan alat adalah cara atau teknik yang
digunakan dalam mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau
tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai
atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengetahui
keberhasilan proses dan hasil belajar siswa.
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan
pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi
tiga macam hasil belajar yakni: (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan
dan pengertian dan (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat
diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne
membagi lima kategori hasil belajar, yakni: (a) informasi verbal, (b) keterampilan
intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap dan (e) keterampilan motoris. Dalam
sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler
maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu
ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.

d. Pengukuran Hasil Belajar


1. Pengukuran Ranah Kognitif
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan berupa materi-materi
esensial sebagi konsep fungsi dan prinsip utama. Konsep kunci dan prinsip utama
keilmuan tersebut harus dimiliki dan dikuasai siswa secara tuntas, bukan hanya
dalam bentuk hapalan. Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak
melibatkan kegiatan mental. Pada ranah ini terdapat enam jenjang berpikir mulai
dari yang tingkat rendah sampai tinggi, yakni: (1) pengetahuan/ingatan
(knowledge), (2) pengetahuan (comprehension), (3) penerapan (application), (4)
analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis) dan (5) evaluasi (evaluation). Pada
tahun 2001 Anderson dan Krathwohl melakukan revisi terhadap taksonomi Bloom
16

menjadi: (1) Remember, (2) understand, (3) apply, (4) analyze, (5) evaluate, dan
(6) create.
Kemampuan-kemampuan yang termasuk domain kognitif oleh Bloom dkk
dikategorikan lebih terinci secara hierarkis kedalam enam jenjang kemampuan
yakni hapalan/ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4),
sintetis (C5) dan evaluasi (C6). 20
2. Pengukuran Ranah Afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli
mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila
seseorang yang memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian hasil
belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak
menilai ranah kogntif semata-mata. Tipe belajar hasil afektif tampak pada siswa
dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,
motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan
hubungan sosial.
Pengukuran ranah afektif tidaklah semudah mengukur ranah kognitif.
Pengukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena perubahan
tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu. Pengubahan sikap
seseorang memerlukan waktu yang relatif lama, demikian juga pengembangan
minat dan penghargaan serta nilai-nilai.
Ranah afektif ini dirinci oleh Kathwohl dkk, menjadi lima jenjang, yakni:
(1) perhatian atau penerimaan (receiving), (2) tanggapan (responding), (3)
penilaian atau penghargaan (valuing), (4) pengorganisasian (organization) dan (5)
karakterisasi terhadap suatu atau beberapa nilai (characterization by a value or
value complex). Tujuan-tujuan instruksional yang termasuk domain afektif
diklasifikasikan oleh David Kathwohl ke dalam jenjang secara hierarkis, yaitu:
"Receiving" meliputi penerimaan secara pasif terhadap suatu nilai dan keyakinan.
"Responding" meliputi keinginan dan kesenangan menanggapi atau
merealisasikan sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat.

20
Ahmad Sofyan, et all., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta:
UIN Jakarta Press, 2006), h 15
17

"Valuing" meliputi pemilikan serta pelekatan pada suatu nilai tertentu.


"Organization" meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi suatu sistem nilai.
"Characterization" mencakup pengembangan nilai-nilai menjadi karakter
pribadi. 21
Kategori ranah afektif sebagai hasil belajar, kategorinya dimulai dari
tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks, yaitu:
a) Receiving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan
(stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi,
gejala dan lain-lain. Tipe ini contohnya kesadaran, keinginan untuk menerima
stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang
terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi,
perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada
dirinya.
c) Valuing (penilaian) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala
atau stimulus tadi. Evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima
nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan
terhadap nilai tersebut.
d) Organisasi, yakni pengembangaan diri dari nilai ke dalam suatu sistem dan
prioritas nilai yang telah dimilikinya, yang termasuk ke dalam organisasi
adalah konsep tentang nilai dan organisasi sistem nilai.
e) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem
nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan
tingkah lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruhan nilai dan
22
karakteristiknya.
Sehubungan dengan tujuan penilaiannya ini maka yang menjadi sasaran
penilaian kawasan afektif adalah perilaku anak didik, bukan pengetahuannya.
Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah, tetapi jawaban yang
khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap dan internalisasi nilai.
21
Ibid, h. 20
22
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990), h 30
18

3. Pengukuran Ranah Psikomotor


Pengukuran ranah psikomotor dilakukan terhadap hasil-hasil belajar yang
berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini disatukan
atau dimulai dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Hasil belajar ini
merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skiil) atau kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Simpson
(1956) menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk
keterampilan dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor
merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif, akan tampak setelah
siswa menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang
terkandung pada kedua ranah tersebut dalam kehidupan siswa sehari-hari. 23
Proses belajar mengajar di sekolah saat ini, tipe belajar hasil belajar
kognitif lebih dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar bidang afektif
dan psikomotoris. Sekalipun demikian tidak berarti bidang afektif dan
psikomotoris diabaikan sehingga tak perlu lagi diberikan penilaian. Tipe hasil
belajar ranah psikomotoris berkenaan dengan keterampilan atau kemampuan
bertindak setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ini
sebenarnya tahap lanjutan dari hasil belajar afektif yang baru tampak dalam
kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu secara garis
besarnya berasal dari faktor internal (diri siswa sendiri) dan eksternal (dari luar
siswa sendiri). Adapun faktor yang datang dari diri sendiri bisa diakibatkan oleh
kemampuan dan keinginan yang kurang atau boleh dibilang mempunyai IQ yang
pas-pasan sehingga dapat menyebabkan penurunan dalam belajarnya. Sedangkan
faktor yang dari luar diri siswa yaitu bisa disebabkan oleh keadaan keluarganya
ataupun lingkungannya yang kurang mendukung dalam proses belajarnya.

23
Ahmad Sofyan, et all, op. cit, h. 23
19

e. Prinsip-prinsip Belajar
Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan
efisien guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip-prinsip
tersebut diantaranya yaitu :
a) Prinsip motivasi, memberikan motivasi kepada siswa agar memiliki semangat
yang tinggi dalam kegiatan belajar mengajar.
b) Prinsip latar/konteks, mengenal siswa secara mendalam, menggunakan
contoh, memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar, dan
menghindari pengulangan materi pengajaran yang tidak terlalu penting.
c) Prinsip keterarahan, merumuskan tujuan secara jelas. Menerapkan bahan dan
alat yang sesuai serta mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat.
d) Prinsip hubungan sosial, mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu
mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru
dengan siswa dan lingkungan serta interaksi banyak arah.
e) Prinsip belajar sambil bekerja, memberi kesempatan kepada anak melakukan
praktek atau percobaan atau menemukan sesuatu melalui pengamatan,
penelitian, dan sebagainya.
f) Prinsip Individualisasi, mengenal kemampuan awal dan karakteristik setiap
siswa dalam menyerap materi pelajaran.
g) Prinsip Menemukan, mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu
memotivasi siswa untuk aktif baik fisik, mental, sosial, dan/atau emosional.
h) Prinsip Pemecahan Masalah, mengajukan persoalan/problem yang ada di
lingkungan sekitar, dan siswa dilatih untuk merumuskan, mencari data,
menganalisis, dan memecahkannya sesuai dengan kemampuan. 24
Davies mengatakan bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai prinsip-
pronsip belajar, khususnya prinsip berikut :
1. Siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar
2. Siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya

24
Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah Inklusif. www.ditplb.or.id.
20

3. Siswa memperoleh penguatan langsung selama proses belajar


4. Penguasaan yang baik oleh siswa akan membuat proses belajar menjadi berarti
5. Siswa akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar jika diberi
tanggungjawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya 25.
Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu
kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan untuk mengatur situasi agar siswa
mudah mencapai tujuan belajar. Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan
dalam pembelajaran tatap muka di kelas maupun diluar kelas. Teori pembelajaran
juga memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang mana yang paling
tepat untuk suatu pembelajaran tertentu.
Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian dan responsif terhadap
materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran harus diatur sedemikian
rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar. Semua proses belajar
memerlukan waktu, dan untuk suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari
sejumlah materi yang sangat terbatas.
Di dalam diri orang yang sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur
internal yang dapat mengontrol motivasi serta menentukan sejauh mana dan
dalam bentuk apa seseorang bertindak dalam suatu situasi tertentu. Pengetahuan
tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting
sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi
belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata.
Sementara menurut Sardiman, beberapa prinsip yang penting untuk
diketahui dalam belajar, antara lain
a) Belajar hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya
b) Belajar memerlukan proses dan tahapan serta kematangan
c) Belajar harus memiliki motivasi
d) Belajar merupakan proses percobaan dan pembiasaan

25
Whandi, Pengertian Belajar, http://whandi.net/ 17 Februari 2007.
21

e) Kemampuan belajar siswa harus diperhitungkan dalam menentukan isi


pelajaran
f) Belajar dapat dilakukan secara langsung, pengalaman dan pengenalan atau
peniruan
g) Belajar melalui praktek atau pengalaman langsung akan lebih efektif
h) Perkembangan pengalaman siswa banyak mempengaruhi kemampuan
belajarnya
i) Bahan pelajaran yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik dipelajari
j) Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan, serta keberhasilan
siswa, banyak membantu kelancaran dan semangat belajar
k) Belajar sebaiknya berupa aneka ragam tugas, sehingga siswa dapat melakukan
atau mengalaminya sendiri. : 26
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran, kegiatan belajar
mengajar dapat berjalan dengan baik. Selain itu, tujuan dari pembelajaran dapat
tercapai. Siswa tidak hanya dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan
oleh guru, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran dapat dikatakan berhasil baik didasarkan bahwa belajar
merupakan proses yang bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara
mekanis saja, tidak sekedar rutinisme. Dalam belajar terdapat sejumlah aspek
yang sifatnya khas dari belajar penuh makna. Belajar yang penuh makna adalah:
1. Belajar harus memiliki tujuan
2. Belajar sesuatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan dan bukan
merupakan pengulangan rutin
3. Hasil belajar yang dicapai memunculkan pemahaman, pengertian, atau
menimbulkan reaksi/jawaban yang dapat dipahami atau diterima oleh akal.
4. Hasil belajar tersebut tidak terikat pada situasi ditempat mencapai, tetapi dapat
juga digunakan dalam situasi lain. 27

26
Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2003), Cet-10, hal. 24-25.
27
Whandi, Pengertian Belajar, http://whandi.net/ 17 Februari 2007.
22

f. Tujuan Belajar
Proses belajar dapat berlangsung dengan baik jika dalam proses belajar
tersebut diperhatikan tujuan belajar yang sesungguhnya. Belajar memiliki
beberapa tujuan, antara lain untuk :
1. Mengetahui suatu kepandaian, kecakapan, atau konsep yang sebelumnya tidak
pernah diketahui
2. Mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat berbuat, baik tingkah laku
maupun keterampilan
3. Mengkombinasikan dua pengetahuan (atau lebih) ke dalam suatu pengertian
baru, baik keterampilan, pengetahuan, konsep maupun sikap/tingkah laku
4. Memahami dan/atau menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. 28
Sementara Sardiman mengemukakan bahwa tujuan belajar ada tiga jenis,
yaitu: 29
1. Mendapatkan pengetahuan
2. Penanaman konsep dan keterampilan
3. Pembentukan sikap
Dengan demikian, pada intinya tujuan belajar adalah ingin mendapatkan
pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai. Pencapaian
tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar.
Berdasarkan yang telah diuraikan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
belajar diartikan sebagai aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, dan
proses belajar telah terjadi di dalam diri anak setelah terjadi perubahan. Perubahan
dalam diri anak yang dikatakan sebagai hasil proses belajar, jika perubahan
tersebut diperoleh dari pengalaman sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
Jadi belajar ditandai oleh dua faktor yaitu adanya pengalaman dan perubahan.

28
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2007), hal. 3.
29
Sardiman A.M., op.cit. hal. 27-28.
23

3. Metode Tanya Jawab


Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan. 30
Pertanyaan-pertanyaan bisa muncul guru, bisa juga dari peserta didik, demikian
halnya jawaban yang muncul bisa dari guru maupun dari peserta didik. Pertanyaan
digunakan untuk merangsang aktivitas dan kreativitas berpikir peserta didik.
Karena itu, mereka harus didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang
tepat dan memuaskan. Dalam mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan
tersebut peserta didik berusaha menghubungkan pengetahuan dan pengalaman
yang telah dimilikinya dengan pertanyaan yang akan dijawabnya.
Beberapa kelebihan metode Tanya jawab antara lain:
a. Memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk dapat menerima
penjelasan lebih lanjut.
b. Guru dapat dengan segera mengetahui kemajuan muridnya dari bahan yang
telah diberikan.
c. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan agak baik dari murid dapat mendorong
guru untuk memahami lebih mendalam dan mencari sumber-sumber lebih
lanjut.
d. Teknik yang efektif memiliki nilai positif dalam melatih anak agar berani
mengemukakan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
e. Mendorong murid lebih aktif dan bersungguh-sungguh, dalam arti murid yang
biasanya segan mencurahkan perhatian akan lebih berhati-hati dan aktif
mengikuti pelajaran.
Beberapa kelemahan metode Tanya jawab antara lain: 31
a. Pemakaian waktu lebih banyak jika dibandingkan dengan metode ceramah.
Jalan pelajaran lebih lambat dari metode ceramah, sehingga kadang-kadang
menyebabkan bahan pelajaran tidak dapat dilaksanakan menurut yang
ditetapkan.

30
E. Mulyana, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), cet. Ke-4, hal.115-116
31
Ibid., hal. 116
24

b. Adanya kemungkinan terjadi perbedaan pendapat antara guru dan murid. Hal
ini terjadi karena pengalaman murid berbeda dengan guru.
c. Kadang terjadi penyimpangan masalah dari pokok bahasan. Karena adanya
mis interpretasi antara yang mengajukan pertanyaan (guru) dan yang
menjawab pertanyaan (murid).
d. Waktu yang tersedia seringkali tidak mencukupi untuk suatu proses tanya
jawab secara relatif utuh dan sempurna sesuai rencana.
e. Kurang dapat secara cepat merangkum bahan-bahan pelajaran.
f. Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian anak, terutama apabila terdapat
jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, padahal bukan sasaran yang
dituju.

4. Getaran dan Gelombang


Amplitudo (A)
memiliki Periode (T)
Getaran
besaran Frekuensi (f ), f = 1/T
yang merambat
Amplitudo (A)
memiliki Periode (T)
Gelombang besaran Panjang Gelombang ()
Frekuensi (f ), f = 1/T
diklasifikasikan sebagai Cepat rambat (v), v = .f

Perlu medium Arah rambat


terhadap arah getar

Tidak ya
Gelombang Gelombang
Gelombang Gelombang Tranversal Longitudinal
Elektromagnetik Mekanik

Gambar 2.2 Bagan Peta Konsep Getaran dan Gelombang


25

a. Getaran
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita melihat atau membuat benda
bergetar. Misalnya, bandul jam yang bergerak bolak-balik secara teratur, senar
gitar yang bergetar ketika dipetik, bedug atau drum yang dipukul, pegas yang
diberi beban bergerak ke atas dan ke bawah, serta benda-benda lainnya yang
mengalami getaran.
Semua benda tersebut akan bergetar apabila kita beri simpangan. Benda
yang bergetar ada yang dapat dilihat dengan mata kasat karena simpangan yang
kita berikan besar. Ada pula yang tidak dapat dilihat dengan mata karena
simpangan yang diberikan kecil sekali, contohnya peristiwa bergetarnya atom
dalam molekul atau partikel udara ketika ada gelombang bunyi.
Benda dikatakan bergetar jika mengalami gerak bolak-balik di sekitar titik
seimbangnya. Dengan demikian getaran dapat didefinisikan sebagai gerak bolak-
balik dari suatu benda di sekitar titik seimbangnya. 32

Gerakan dari titik a ke b ke c kembali lagi ke b dan ke a disebut satu


getaran penuh. Berarti, gerakan dari titik a ke b hingga ke c merupakan gerakan
setengah getaran.
Pada setiap getaran, benda yang bergetar akan mengalami posisi terjauh
dari kedudukan seimbang. Jarak terjauh penyimpangan terhadap kedudukan
seimbang disebut amplitudo. Jadi, amplitudo adalah jarak simpangan yang
terbesar dari sebuah getaran. Pada gambar di atas yang dimaksud amplitudo
adalah jarak a ke b atau b ke c. 33

32
Maman Hermana, Sains Fisika Jilid 2A SMP/MTs Kelas VIII, (Jakarta: Piranti, 2005),
hal.64
33
Sumarwan dkk, Ilmu Pengetahuan Alam SMP Jilid 2B Untuk Kelas VII Semester 2,
(Jakarta: Erlangga, 2007), hal.141
26

1). Amplitudo
Sebuah benda yang bergetar akan memiliki posisi yang berubah-ubah
terhadap posisi seimbangnya. Posisi benda terhadap titik seimbangnya disebut
dengan simpangan. Semakin jauh posisi benda dari titik seimbangnya, maka
semakin besar simpangan benda tersebut. Bila benda mengalami simpangan yang
paling jauh, maka simpangan ini selanjutnya disebut dengan amplitudo. 34

2). Frekuensi
Gerakan setiap getaran tentu mempunyai kecepatan yang berbeda.
Misalnya, ada gerakan yang melakukan getaran 50 kali dalam waktu satu detik
(sekon). Adapula yang dalam waktu setengah detik melakukan getaran sebanyak
200 kali. Untuk itu kita perlu menyatakan seberapa banyak getaran yang
dilakukan oleh suatu benda dalam setiap detik.
Angka yang menyatakan banyaknya getaran dalam setiap detik disebut
frekuensi. Jadi, frekuensi suatu getaran adalah banyaknya getaran yang dilakukan
oleh suatu benda dalam setiap detik (sekon). 35
Besar frekuensi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
n
f = (2.1)
t
Dengan:
f = frekuensi (Hz)
n = jumlah ayunan (getaran)
t = waktu (sekon)
Frekuensi ayunan tidak bergantung pada besar amplitudo yang kamu
berikan, tetapi sangat bergantung pada panjang tali yang digunakan. Jika bandul
disimpangkan sejauh 5 cm atau 10 cm, maka frekuensi ayunan tetap sama. Tetapi
jika panjang talinya diubah (misalnya dari 20 cm menjadi 40 cm), maka frekuensi
ayunan akan berubah. Semakin panjang tali yang digunakan, maka semakin kecil

34
Maman Hermana, op.cit., hal.65
35
Suwarman dkk, op.cit., hal.142
27

frekuensinya. Ayunan bandul ini sering dilakukan orang untuk mengukur


percepatan gravitasi bumi.

3). Periode
Periode adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali getaran.
Jadi, jika frekuensi suatu getaran 2 Hz, setiap getarannya membutuhkan waktu
setengah sekon. Waktu setengah sekon inilah yang disebut periode getaran itu.
Jika frekuensi getaran sebesar 50 Hz, setiap getaran membutuhkan waktu 1/5
sekon. Seperlimapuluh sekon inilah periodenya. Dengan demikian, jika periode
kita beri lambang T dan frekuensi kita beri lambang f, maka dapat dituliskan: 36
1 1
T= sekon f = hertz (2.2)
f T
Periode getaran beban pada pegas tidak bergantung pada amplitudonya
tetapi bergantung pada massa beban. 37

b. Gelombang
Gelombang merupakan salah satu konsep Fisika yang sangat penting
untuk dipelajari karena banyak sekali gejala alam yang menggunakan prinsip
gelombang. Sebagai makhluk yang paling pandai, manusia memiliki kewajiban
untuk selalu mempelajari gejala alam ciptaan Tuhan untuk mengambil manfaat
bagi kehidupan manusia. Kamu dapat berkomunikasi dengan orang lain sebagian
besar dengan memanfaatkan gelombang suara atau gelombang bunyi. Kamu dapat
mendengarkan radio atau menonton televisi karena adanya gelombang radio.
Gelombang ada dimana-mana. Disadari atau tidak, setiap hari kita didera
oleh gelombang. Terdapat banyak macam gelombang, ada gelombang cahaya,
gelombang bunyi, gelombang mikro, gelombang air, gelombang gempa,
gelombang pada tali dan gelombang pada slinki. Bahkan ada gelombang yang
sukar didefinisikan karena merupakan aktivitas yang terjadi di dalam tubuh,
seperti gelombang otak ketika kita sedang berpikir.

36
Ibid., hal.142-143
37
Marthen Kanginan, IPA FISIKA untuk Smp Kelas VIII, (Jakarta: Erlangga, 2007),
hal.137
28

Suatu benda yang sedang bergetar melakukan gerak. Dan setiap benda
yang bergerak memiliki energi. Suatu benda yang bergetar memberikan energinya
ke partikel-partikel yang berada di dekatnya.
Gelombang dapat dibedakan menjadi dua yaitu gelombang mekanik dan
gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik adalah gelombang yang
memerlukan medium dalam perambatannya. Gelombang elektromagnetik adalah
gelombang yang merambat tanpa memerlukan medium. 38
Gelombang pada tali, gelombang pada permukaan air, gelombang gempa,
dan gelombang bunyi merupakan contoh gelombang mekanik. Sedangkan cahaya
(cahaya adalah gelombang), gelombang radio, gelombang radar, dan gelombang
mikro merupakan contoh gelombang elektromagnetik.
Berdasarkan arah rambatannya, gelombang dapat dibedakan menjadi
gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Gelombang transversal
adalah gelombang yang memiliki arah rambat tegak lurus dengan arah getarnya.
Pada gelombang ini akan dihasilkan puncak-puncak gelombang dan lembah-
lembah gelombang. Gelombang pada tali, gelombang cahaya, dan gelombang
radio merupakan contoh gelombang transversal. Gelombang longitudinal adalah
gelombang yang memiliki arah rambat sejajar dengan arah getarnya. Pada
gelombang longitudinal akan dihasilkan rapatan-rapatan dan renggangan-
renggangan. Gelombang pada slinki dan gelombang bunyi merupakan contoh
gelombang longitudinal.
Cepat rambat gelombang adalah jarak satu gelombang tiap periode.
Gelombang yang merambat dari ujung satu ke ujung yang lain memiliki
kecepatan tertentu, dengan menempuh jarak tertentu dalam waktu tertentu pula.
Gelombang yang berbeda bergerak dengan cepat rambat yang berbeda
pula. Cepat rambat gelombang dilambangkan dengan v, dalam SI diukur dalam
satuan m/s.
Secara matematis hubungan frekuensi, panjang gelombang dan cepat
rambat gelombang dapat dirumuskan sebagai berikut.
v = fx (2.3)

38
Maman Hermana, op.cit., hal.72
29

1
Karena f = , maka
T

v= (2.4)
T
Dengan:
v = cepat rambat gelombang (m/s)
f = frekuensi gelombang (Hz)
= panjang gelombang (m)
T = periode gelombang (s)

B. Kajian Penelitian yang Relevan


Penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan juga
telah dilakukan oleh Maman dalam tesisnya yang menyatakan dalam hasil
penelitiannya bahwa penggunaan teknik probing dalam pembelajaran
Keseimbangan Benda Tegar menunjukkan kecenderungan dapat membimbing
siswa dalam membangun sendiri pengetahuannya. 39
Penelitian ini juga relevan dengan penelitian tindakan kelas yang
dilakuakan oleh Maman dan Dadan dalam junal pendidikan yang menyatakan
bahwa: 40
1. Proses pembelajaran dengan teknik probing yang dilakukan oleh penatar pada
setiap siklus mengalami perbaikan yang signifikan ditandai dengan
meningkatnya keterlaksanaan tahapan probing dari siklus satu ke siklus
berikutnya.
2. Kemampuan responden dalam menjawab dengan benar pertanyaan penatar
menunjukkan adanya peningkatan, baik dari segi jumlah jawaban benar
maupun dari segi kategori pertanyaan berdasarkan tingkatan berpikir.
3. Kemampuan berpikir responden dari siklus I ke siklus II dan siklus III
menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan.

39
Maman Wijaya, op. cit., tersedia: http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1120106-
142147/
40
Maman Wijaya, et all., op. cit.,hal.28
30

Pada penelitian Dede Sulaeman yang berjudul Pembelajaran Matematika


Dengan Menggunakan Teknik Probing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa MTs, mendapatkan kesimpulan sebagai berikut: 41
1. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar
dengan menggunakan pendekatan teknik probing dengan siswa yang diajar
menggunakan pendekatan teknik konvensional. Rata-rata hasil belajar siswa
yang diajar dengan menggunakan pendekatan teknik probing diperoleh rata-
rata 66,43; simpangan baku sebesar 10,56 dan varians sebesar 111,52.
Sedangkan kelompok siswa yang diajar menggunakan pendekatan teknik
konvensional diperoleh rata-rata sebesar 61,36; simpangan baku 8,91 dan
varians sebesar 79,39.
2. Teknik probing dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dibanding
dengan yang diajar secara konvensional. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa diperoleh harga thitung 1,724 dan ttabel sebesar 1,671; maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar
matematika siswa yang diajarkan dengan teknik probing dalam kelompok
kecil lebih baik dibandingkan rata-rata nilai prestasi siswa yang diajarkan
dengan teknik konvensional dalam kelompok kecil.

C. Kerangka Berpikir
Penerapan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu fisika banyak dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari, konstribusi ilmu fisika dalam perkembangan dan
kemajuan IPTEK pun tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, ilmu fisika perlu
diperkenalkan dan dipelajari sejak dini kepada peserta didik, dari hal-hal kecil
yang ada di sekitar kita. Dengan begitu akan terbentuk pola pikir ilmiah pada diri
peserta didik yang akan berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan IPTEK di
masa depan.
Dengan belajar fisika dari kecil, anak akan mampu memecahkan masalah-
masalah dalam kehidupannya baik di rumah, di sekolah dan di lingkungannya.
41
Dede Sulaeman. Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Teknik Probing
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Mts. Skripsi Sarjana Pendidikan, (Jakarta:
Perpustakaan UIN. 2007), h.46
31

Dengan pengetahuan fisika yang didapat sejak kecil, anak juga akan menjadi
kreatif. Sehingga, anak akan mampu memecahkan masalah-masalah dengan
pengetahuan yang didapatnya secara kreatif.
Berdasarkan keterangan di atas, menunjukkan bahwa hasil belajar fisika
yang diterapkan bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan kemampuan
memecahkan berbagai macam masalah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena
itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat membimbing peserta didik agar
mencapai hasil belajar yang diharapkan. Hasil belajar yang diperoleh peserta didik
akan bermakna jika pengetahuan yang didapatnya diperoleh dari hasil pemikiran
dan pengalamannya sendiri. Guru harus mampu menciptakan suasana belajar
dimana peserta didik dapat mengkonstruksi pengetahuan sendiri, agar
informasi/pengetahuan awal peserta didik yang diperoleh di luar sekolah terutama
yang ada kaitannya dengan pembelajaran fisika dapat dimanfaatkan.
Proses pelajaran fisika saat ini belum mampu mengembangkan
kemampuan anak untuk berpikir kritis dan sistematis. Pada umunya fisika
dianggap sulit karena fisika menggunakan matematika sebagai alat bantu, dan
matematika yang digunakan biasanya lebih rumit daripada matematika yang
digunakan dalam bidang sains lainnya. Dengan demikian diperlukan teknik
pembelajaran yang ampuh agar siswa dapat menyukai fisika sehingga dapat
meningkatkan hasil belajarnya.
Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa yaitu teknik probing. Dalam teknik pembelajaran probing, peserta
didik akan diajak untuk berpartisipasi aktif di kelas. Guru akan menuntun dan
menggali pengetahuan peserta didik dengan mengaitkan pengetahuan dan
pengalamannya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari sehingga akan
terjadi proses berpikir. Dengan teknik pembelajaran ini peserta didik tidak bisa
menghindari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa terlibat dalam proses tanya
jawab. Singkatnya peserta didik akan melatih diri memupuk rasa percaya diri.
Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran fisika melalui teknik probing
dapat dijadikan suatu pedoman dalam pembelajaran fisika. Dengan demikian
teknik probing dapat dijadikan sebagai strategi dan teknik yang efektif dalam
32

pembelajaran fisika khususnya pada konsep getaran dan gelombang, yang diduga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Proses belajar dengan teknik probing
dijabarkan dengan bagan berikut ini:

Hasil belajar fisika siswa yang


masih rendah

Dominannya model Fisika dianggap sulit


pembelajaran konvensional
(ceramah)

Teknik Probing

Tes hasil belajar


(pretest dan postest)

Peningkatan hasil belajar


fisika siswa

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir

D. Perumusan Hipotesis
Hipotesis dari penelitian berdasar rumusan masalah, kajian teoritis dan
kerangka berpikir adalah terdapat pengaruh teknik probing terhadap hasil belajar
peserta didik dalam pembelajaran konsep getaran dan gelombang.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di SMP N 17 Tangerang Selatan. Adapun waktu
pelaksanaan penelitian ini pada semester genap pada bulan April pada tahun
ajaran 2010/2011.

B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi
eksperimen. Dalam penelitian quasi ekaperimen tidak dilakukan randomisasi
untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
melainkan menggunakan kelompok subjek yang sudah ada sebelumnya. Sebelum
pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan pretest untuk melihat
kemampuan awal peserta didik kemudian dilakukan posttest yaitu untuk melihat
hasil belajar peserta didik setelah penerapan teknik pembelajaran probing.

C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu nonrandomized control group
pretest and posttest design (pre-tes pos-tes grup kontrol tidak secara beraturan),
dimana dalam rancangan ini dilibatkan dua kelompok yang dibandingkan yaitu
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Tabel 3.1 Nonrandomized Control Group Pretest Posttest Design


Kelompok Tes awal Perlakuan Tes akhir

Eksperimen Y1 XE Y2

Kontrol Y1 Xk Y2

33
34

Keterangan:
XE = Perlakuan terhadap kelompok eksperimen berupa pembelajaran fisika
dengan menggunakan teknik probing.
Xk = Perlakuan terhadap kelompok kontrol berupa pembelajaran fisika dengan
menggunakan teknik diskusi
Y1 = Pretest yang diberikan diberikan kepada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan.
Y2 = Postest yang diberikan diberikan kepada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan.

D. Populasi dan Sampel penelitian


Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMP N
17 Tangerang Selatan. Sedangkan populasi terjangkau pada penelitian ini adalah
seluruh peserta didik kelas VIII SMP.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh peserta
didik kelas VIII SMP yang berjumlah 37 orang.

E. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling
purposive yaitu memilih subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah
tertentu. 42 Sampel pada penelitian ini peserta didik kelas VII yang berjumlah 40
orang.

F. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap


persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir penelitian.

42
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002)., h. 117
35

1. Tahap persiapan
Langkah awal pada tahap persiapan sebelum melaksanakan penelitian
adalah pengurusan surat izin penelitian dari Universitas Islam Negeri Jakarta,
langkah selanjutnya adalah survei tempat untuk uji coba instrumen dan
penelitian. Setelah melaksanakan survei tempat, langkah selanjutnya adalah
membuat instrumen penelitian berdasarkan kisi-kisi soal yang telah dibuat
dengan bimbingan dosen pembimbing. Setelah instrumen penelitian selesai
dibuat, dilanjutkan dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Setelah instrumen penelitian dan rencana pelaksanaan pembelajaran
selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah melakukan koordinasi dengan pihak
sekolah dalam hal ini guru bidang studi yang bersangkutan untuk
melaksanakan uji coba instrumen. Uji coba instrumen untuk menentukan soal-
soal yang akan digunakan dalam penelitian (pretest dan posttest). Analisis
data hasil uji coba instrumen merupakan langkah terakhir dalam tahap
persiapan sebelum melaksanakan penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Langkah awal tahap pelaksanaan penelitian adalah menentukan dua
kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
selanjutnya diadakan tes awal (pretest) kepada kedua kelompok penelitian.
Soal pretes menggunakan soal hasil analisis data uji coba instrument
penelitian. Setelah melakukan pretes, pada kelompok eksperimen diberi
perlakuan berupa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan teknik
probing, sedangkan kelompok kontrol dengan perlakuan berupa pembelajaran
dengan menggunakan teknik diskusi. Setelah diberi perlakuan diadakan tes
akhir (posttest) untuk kedua kelompok penelitian. Tes akhir berupa soal-soal
yang sama dengan ketika dilakukan test awal (pretest).
3. Tahap Akhir Penelitian
Setelah kedua kelompok penelitian melaksanakan tes akhir (posttest)
langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data hasil tes awal (pretest)
dan tes akhir (posttest) untuk kedua kelompok penelitian dengan
menggunakan uji statistik. Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimulan
36

berdasarkan hasil uji statistik yang telah dilakukan sebelumnya. Penarikan


kesimpulan merupakan langkah paling akhir dalam prosedur penelitian.

Survei Tempat Uji Coba


Instrumen dan Penelitian

Penyusunan Instrumen
Tahap Persiapan Penelitian dan RPP
Sebelum Penelitian
Uji Coba Instrumen

Analisis Data Hasil


Uji Coba Instrumen

KBM dengan Teknik


Pretest Probing
(Kelompok Eksperimen)
Tahap
Pelaksanaan Pelaksanaan
Penelitian Pembelajaran
KBM dengan Teknik
Diskusi
Posttest (Kelompok Kontrol)

Tahap Akhir Pengolahan dan Analisis Penarikan


Penelitian Data Penelitian Kesimpulan

Gambar 3.1. Tahapan dalam Prosedur Penelitian

G. Variabel Penelitian
1. Variabel X atau variabel bebas yaitu teknik pembelajaran probing.
a. Definisi Konseptual
Teknik probing dalam proses belajar dan mengajar ialah teknik
dimana guru mengajukan serangkaian pertanyaan yang sifatnya
membimbing dan menuntun sehingga terjadi proses berpikir.
37

b. Defrinisi Operasional
Teknik probing merupakan teknik pengajaran yang akan
menggiring peserta didik sampai pada pemahaman yang dimaksud melalui
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru, jika jawaban dari
pertayaan tersebut benar maka akan dilanjutkan ke peserta didik
berikutnya tetapi jika salah maka akan diajukan pertanyaan yang kedua.
2. Variabel Y atau variabel terikat yaitu hasil belajar siswa pada konsep getaran
dan gelombang.
a. Definisi konseptual
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah
belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotorik. Pada penelitian ini hanya dilihat pada kemampuan kognitif
saja.
b. Definisi Operasional
Hasil belajar adalah skor yang diperoleh siswa dalam mata
pelajaran fisika yang diukur dengan menggunakan instrumen tes pada
konsep getaran dan gelombang berupa kemampuan kognitif, dilihat dalam
empat aspek yaitu ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan
analisis (C4).

H. Teknik Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tes
sebagai instrumen penelitian. Jenis tes yang digunakan adalah tes prestasi
(achievement test) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian
seseorang setelah mempelajari sesuatu. Jenis tes ini diberikan setelah siswa yang
dimaksud mempelajari hal-hal yang diteskan dalam hal ini menggunakan teknik
probing.
Kemudian tes ini diberikan sebagai posttest pada dua kelompok, yaitu
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dimana dalam proses
pembelajarannya digunakan teknik pembelajaran sebagai berikut:
38

a. Kelompok eksperimen: menggunakan teknik probing.


b. Kelompok kontrol: menggunakan teknik diskusi.
c. Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh teknik tersebut terhadap hasil belajar peserta didik.

I. Instrumen Penelitian
Yang akan dijadikan instrumen pada penelitian ini adalah berupa tes, yaitu
berupa tes objektif bentuk pilihan ganda. Kisi-kisi instrumen hasil belajar adalah
sebagai berikut:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian


Kompetensi Indikator Aspek Kognitif
Dasar Pembelajaran C1 C2 C3 C4 Soal
Mendeskripsik Mengidentifikasi getaran 1, 2 4, 6 4
an konsep pada kehidupan sehari-hari
getaran dan Mengukur periode dan 3 13 7, *9 6
gelombang frekuensi suatu getaran 10,
serta *15
parameter- Menyelidiki karakteristik 17 5, 11, 8, 14, 8
parameternya gelombang longitudinal dan 12 16,
gelombang transversal 19
Mendeskripsikan hubungan 18, 3
antara kecepatan rambat 20,
gelombang, frekuensi dan 25
panjang gelombang
Mengaitkan konsep 21, 23 *22 4
gelombang dengan *24
kehidupan sehari-hari
Soal 6 7 6 6 25

Presentase Soal 25% 25% 25% 25% 100


%
39

Keterangan:*soal yang tidak digunakan dalam penelitian


Sebelum tes dilakukan terlebih dahulu dilakukan uji untuk menentukan
apakah soal yang akan digunakan memenuhi syarat seperti yang dikemukakan
oleh Suharsimi, yang menyatakan bahwa instrumen yang baik harus memenuhi
dua syarat penting yaitu: valid dan reliabel.
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen dengan
validitas isi yang memadai maka peneliti menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu
sebelum menyusun instrumen.
Pengujian validitas butir soal dengan menggunakan korelasi point biserial

M p M t p
pbi = St
q
keterangan:
phi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari
validitasnya
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
banyaknyasiswayangbenar
p =
jumlahseluruhsiswa
q = proporsi siswa yang menjawab salah
(q = 1 - p) 43
Berdasarkan hasil uji validitas, dari 25 soal yang diujicobakan terdapat 21
soal yang valid yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18,
19, 20, 21, 23, dan 25.

2. Uji Reliabilitas

43
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)
h. 79
40

Selain harus valid soal tes juga harus memiliki reliabilitas. Reliabilitas
suatu alat ukur adalah sejauhmana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang
relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang
sama. Sebelum instrumen diunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan
hasil belajar maka terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui koefisien
relibilitas instrumen tersebut.
Perhitungan reabilitas menggunakan rumus KR-20 yaitu sebagai berikut:

n S pq
2

r11 =
n 1 S2

keterangan:
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
(q = 1 - p)
pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
n = banyaknya item
S = standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians) 44
Interpretasi mengenai derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh
digunakan tabel 3.3 berikut ini :

Tabel 3.3 Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen


Interval Koefisien Kriteria
0,8 r 1,00 Sangat tinggi
0,60 r < 0,80 Tinggi
0,40 r < 0,70 Sedang
0,2 r < 0,40 Rendah
< 0,20 Kecil 45

44
Suharsimi Arikunto, Ibid, h. 100-101
45
Yanti Herlanti, Tanya Jawab Seputar Penelitian Tindakan Sains, (Jakarta: Jurusan
Pendidikan IPA, FITK, UIN Syarif Hidayatullah, 2006), h.32
41

Berdasarkan hasil uji reliabilitas instrumen tes hasil belajar, didapat nilai
koefisien internal seluruh item sebesar 0,834. Jika dilihat kriteria indeks koreksi di
atas, maka kriteria reliabilitasnya termasuk sangat tinggi.

3. Taraf kesukaran
Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal itu apakah sukar, sedang, atau
mudah. Soal dikatakan mudah jika untuk menyelesaikannya hanya langsung
menggunakan data yang ada. Soal dikatakan sedang, jika untuk menyelesaikannya
tidak langsung menggunakan data yang ada dan untuk mencarinya cukup
menggunakan satu konsep saja. Soal dikatakan sulit/sukar, jika untuk
menyelesaikannya tidak menggunakan data/informasi yang ada, tetapi untuk
mencarinya dengan beberapa konsep. 46 Untuk mengetahuinya, maka soal-soal
diujikan tingkat kesukarannya terlebih dahulu. Pengujian terhadap derajat
kesukaran tiap soal menggunakan rumus:

=
Js
keterangan:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
Js = jumlah seluruh siswa peserta tes 47
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering
diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kriteria Indeks Kesukaran


Interval Koefisien Kriteria
0,00 P 0,30 Soal sukar
0,30 < P 0,70 Soal sedang
0,70 < P 1,00 Soal mudah 48

46
Ign. Masidjo, Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah, (Yogyakarta:
Kanisius, 1995), hal. 238
47
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, op. cit, h.207-208
48
Ibid, h. 110
42

Berdasarkan hasil pengujian tingkat kesukaran soal, dari 25 soal tes hasil
belajar yang diujikan, 8 soal termasuk dalam kriteria sukar, 16 soal termasuk
dalam kriteria sedang dan 1 soal termasuk dalam kriteria mudah.

4. Daya Pembeda
Analisis daya pembeda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk
mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu
(tinggi prestasinya) dengan siswa yang tergolong kurang mampu (rendah
prestasinya).
Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah sebagai berikut:
B A BB
D= = PA PB
JA JB
keterangan:
D = jumlah peserta tes
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB = proporsi kelompok bawah yang menjawab benar 49
Klasifikasi daya pembeda:

Tabel 3.5 Kriteria Daya Pembeda Instrumen


Interval Koefisien Kriteria
0,00 d < 0,20 Jelek
0,20 d < 0,40 Cukup
0,40 d < 0,70 Baik
0,70 d < 1,00 Baik sekali 50

49
Suharsimi Arikunto, Ibid, h. 213-214
50
Ibid, h. 218
43

Berdasarkan hasil uji daya pembeda, dari 25 soal tes hasil belajar yang
diujikan, 3 soal termasuk dalam criteria jelek, 1 soal termasuk dalam kriteria
cukup dan 21 soal termasuk dalam kriteria baik. Hasil uji coba instrumen tes hasil
belajar terdapat 22 soal yang sesuai kriteria dari 25 soal, tetapi yang dijadikan soal
pretest dan posttest hanya 21 soal saja.

J. Teknik Analisis Data


Setelah semua data terkumpul dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Uji Prasyarat Analisis


Teknik analisis data dilakukan setelah melakukan uji coba instrumen,
selanjutnya dilakukan penelitian. Data yang diperoleh melalui instrumen
penelitian selanjutnya diolah dan dianalisis dengan maksud agar hasilnya dapat
menjawab pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis. Dalam pengolahan dan
penganalisisan data tersebut digunakan statistik.
a. Uji Normalitas data
Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji liliefors:.
Hipotesis uji normalitas:
Ho = sampel berdistribusi normal
Ha = sampel berdistribusi tidak normal
Kriteria uji normalitas:
Jika Lo L tabel, maka sampel berdistribusi normal pada taraf sifnifikansi =
0,05.

b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan setelah kelas diuji kenormalannya. Teknik yang
digunakan untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah uji Bartlett. Adapun
langkah-langkah uji homogenitas dengan uji Bartlett menurut Riduwan dalam
skripsi Ahmad Sandy, yaitu:
44

1) Masukkan angka-angka statistik untuk pengujian homogenitas pada tabel


penolong.
Kelompok dk (n-1) Si Log Si dk.Log Si

= (n-1) = - - dk.Log Si
Si = varians (kuadrat standar deviasi)
2) Menghitung varians gabungan dari sejumlah kelompok yang ada
3) Menghitung Log Si
4) Menghitung nilai B, yaitu:
B = log S x (ni 1)

5) Menghitung nilai 2 hitung

2 hitung =ln 10 {B (ni 1)log Si }


dengan:
(ni 1)log Si = dk . log Si
sehingga:
2 hitung = ln 10 (B dk . log Si )

6) Membandingkan 2 hitung dengan nilai 2 tabel untuk = 0,05 dan derajat


kebebasan (dk) = n 1, dengan kriteria:
Jika 2 hitung 2 tabel , artinya tidak homogen dan

Jika 2 hitung 2 tabel , artinya homogen

2. Uji Hipotesis
Untuk uji hipotesis digunakan uji-t dengan syarat signifikansi = 0.05
serta uji korelasi. Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagi berikut:

t=
x1 x2 (n1 1)S1 2 + (n2 1)S 2 2
1 1 , dengan S g = n1 + n2 2
Sg +
n1 n2
Keterangan :
x1 = rata-rata skor kelompok eksperimen
45

x 2 = rata-rata skor kelompok kontrol

S g = varians gabungan (kelompok eksperimen dan kontrol)


2
S1 = varians kelompok eksperimen
2
S 2 = varians kelompok kontrol
n1 = jumlah anggota sampel kelompok eksperimen
n2 = jumlah anggota sampel kelompok kontrol
Dengan kriteria pengujian :
Tolak Ho jika thitung < ttabel
Pengujian uji t ini dilakukan dengan tabel pada tahap signifikansi 5 % atau
0.005, apabila harga t perhitungan lebih kecil dari harga t pada tabel atau thitung <
ttabel maka Ho ditolak, sebaliknya jika harga hasil perhitungan lebih besar dari
harga t pada tabel atau thitung > ttabel maka Ha diterima.

3. Uji Normal Gain


Gain adalah selisih antara nilai posttest dan pretest, gain menunjukkan
peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran
dilakukan guru. 51 Untuk menghindari hasil kesimpulan yang akan menimbulkan
bias penelitian, karena pada nilai pretest kedua kelompok penelitian sudah
berbeda, digunakan uji normal gain.
Rumus normal gain menurut Meltzer, yaitu: 52
skor posttest skor pretest
N gain =
skor ideal skor pretest
dengan kategorisasi perolehan: 53

51
Yanti Herlanti, Tanya Jawab Seputar Penelitian Tindakan Sains, (Jakarta: Jurusan
Pendidikan IPA, FITK, UIN Syarif Hidayatullah, 2006), h.70
52
David E. Meltzer, Addendum to: The Relation Between Mathematics Preparation and
Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible Hidden Variabel in Diagnostic Pretest Scores,
dari http://physics.iastate.edu/per/docs/addendum_on_normalized_gain.pdf
53
Inayatussholihah dkk, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Kegiatan
Laboratorium (Praktikum) pada Konsep Fotosintesis, (Jakarta: Jurusan Pendidikan IPA,
FITK,UIN Syarif Hidayatullah, 2008), h 80
46

Tabel 3.6 Kriteria N-Gain


Interval Koefisien Kriteria
(<g>) > 0,70 g-tinggi
0,70 (<g>) 0,30 g-sedang
(<g> < 0,30 g-rendah

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan normal gain antara dua kelompok
dilakukan uji-t. Rumus yang digunakan untuk melakukan uji-t adalah sebagai
berikut:
x1 x 2
t=
1 1
Sg +
n1 n2

dengan:

(n1 1)S1 2 + (n2 1)S 2 2


Sg =
n1 + n2 2

Kemudian hasil t-hitung di atas dibandingkan dengan nilai t-tabel pada


signifikansi 5% ( = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = (n1 1) + (n2 1).
Jika ttabel < thitung < ttabel maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan normal gain antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jika
thitung -ttabel atau ttabel thitung maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
normal gain antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

K. Hipotesis Statistik
Ho : A = B
Ha : A > B
keterangan:
Ho : Rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajarkan dengan teknik Probing
sama dengan rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajarkan dengan
teknik diskusi.
47

Ha : Rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajarkan dengan teknik Probing
lebih besar dari rata-rata skor hasil belajar siswa yang diajarkan dengan
teknik diskusi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Pada subbab deskripsi data ini dijelaskan gambaran umum dari data yang
telah diperoleh. Data-data yang dideskripsikan di sini adalah data hasil pretest dan
posttest dari kedua kelas yang berlaku sebagai kelompok eksperimen dan kontrol.
Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah kuantitatif, berupa nilai
maksimum, nilai minimum, modus, median, nilai rata-rata dan nilai standar
deviasi.
Pada awal pembelajaran, kedua sampel dalam kelas kontrol maupun kelas
eksperimen diberikan pretest untuk mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki
oleh masing-masing siswa. Pada akhir pembelajaran kedua sampel tersebut
diberikan posttest untuk mengetahui apakah kedua pada sampel terdapat
peningkatan hasil belajar siswa setelah sampel tersebut diberi perlakuan
pembelajaran yaitu dengan menggunakan teknik probing untuk kelas eksperimen
dan teknik diskusi untuk kelas kontrol. Adapun data hasil penelitiannya adalah
sebagai berikut:
1. Hasil Uji Data Pretest
a. Deskripsi Data Pretest Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok
Kontrol
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai terendah untuk kelas eksperimen 10
dan nilai tertinggi 52, dengan nilai rata-rata sebesar 32,7; simpangan baku 8,83
dan varians 78,04. Untuk nilai median dan modus kelas ini masing-masing
sebesar 30,40 dan 29,00. Pada kelas kontrol diperoleh nilai terendah 19 dan nilai
tertinggi 57 dengan nilai rata-rata sebesar 34,86; simpangan baku 9,09 dan varians
82,70. Untuk nilai median dan modus kelas ini masing-masing sebesar 24,6 dan
35,3.

48
49

20 18
18
16
14 13
Jumlah Siswa

12
10 9 Eksperimen
8
8 7 Kontrol
6
6 4 4
4 2 2
2 1
0
0
10-17 18-25 26-33 34-41 42-49 50-57
Hasil Belajar Siswa

Gambar 4. 1 Grafik Batang Hasil Belajar (Pretest) Kelompok Eksperimen


dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan grafik di atas batang di atas terlihat bahwa untuk kelompok
eksperimen nilai terendahnya yaitu pada interval skor 10 17 sebanyak dua anak
(5,41%) sedangkan kelompok kontrol tidak ada (0,00%). Pada kelompok
eksperimen nilai tertinggi terdapat pada interva 50 57 yaitu satu anak (2,70%),
sedangkan pada kelompok kontrol nilai tertinggi sebanyak dua anak (5,41%).
Berdasarkan grafik batang di atas, nilai terbanyak pada kelompok eksperimen ada
delapan belas anak (48,65) yang terdapat pada interval 26 33 dan kontrol ada
tiga belas anak (35,14%) yang terdapat pada interval 26 - 33.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Pretest
Data
Eksperimen Kontrol

Skor Max 52 57

Skor Min 10 19
Rata-rata 32,7 34,86
50

b. Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut maka dilakukan pengujian
prasyarat penelitian yaitu uji normalitas. Uji normalitas ini didapat dengan
menggunakan uji Liliefors. Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui apakah
data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi
normal bila memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel diukur pada taraf signifikansi dan
tingkat kepercayaan tertentu. Hasil uji normalitas pretest kedua kelompok sampel
penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Kelompok Kelompok
Statistik
Eksperimen Kontrol
Jumlah Sampel (N) 37 37
Lhitung 0,1366 0,1358
Ltabel 0,1456 0,1456

Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,05). Dari tabel di


atas dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok penelitian berdistribusi normal
karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel.

c. Uji Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Setelah kedua kelompok sampel dinyatakan berdistribusi normal,
selanjutnya dicari nilai homogenitasnya. Pengujian homogenitas terhadap kedua
kelompok menggunakan Uji Bartlett. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut.
51

Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Statistik
S2 Eksperimen 78,04
S2 Kontrol 82,70
2 hitung 0,03

2 tabel 3,84

Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,05). Dari tabel di


atas dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok berasal dari populasi yang
homogen, karena 2 hitung < 2 tabel .

d. Uji Hipotesis Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Untuk selanjutnya yaitu pengujian hipotesis. Uji ini dilakukan setelah uji
normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis ini menggunakan uji t (t test),
untuk menguji hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan bahwa tidak terdapat
pengaruh teknik probing terhadap hasil belajar peserta didik.
Adapun kriterianya adalah: Jika thitung > ttabel, maka Ho ditolak. Jika thitung
< ttabel, maka Ho diterima. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji t
untuk pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh harga thitung
= -0,75 dari tabel distribusi t untuk taraf signifikansi = 0,05 dan derajat
kebebasan (dk) = 37, diperoleh ttabel = 1,99. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.4
berikut:

Tabel 4.4 Hasil Pretest Uji t Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Keterangan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel (N) 37 37
Thitung -0,75
Ttabel 1,99
Kesimpulan Menerima Ho dan menolak Ha
52

Berdasarkan tabel di atas, didapat thitung < ttabel (-0,75 < 1,99) sehingga Ho
diterima. Dengan demikian, hasil pretes yang belum mendapatkan perlakuan
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.

2. Hasil Uji Data Posttest


a. Deskripsi Data Posttest Siswa Kelompok Eksperimen dan Kelompok
Kontrol
Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai tes kemampuan
hasil belajar dari 37 siswa yang dijadikan sampel pada kelas eksperimen diperoleh
nilai terendah 48 dan nilai tertinggi 90, dengan nilai rata-rata sebesar 77,42;
simpangan baku 12,48 dan varians 155,75. Untuk nilai median dan modus kelas
ini masing-masing sebesar 75,00 dan 78,4. Sedangkan pada kelas kontrol
diperoleh nilai terendah 43 dan nilai tertinggi 86 dengan nilai rata-rata sebesar
66,2; simpangan baku 13,06 dan varians 170,56. Untuk nilai median dan modus
kelas ini masing-masing sebesar 68,21 dan 76,78. Lebih jelasnya, deskripsi data
peningkatan hasil belajar pada posttest kelompok eksperimen dapat dilihat pada
grafik batang berikut:

14
12
12

10 9 9 9
8
Jumlah Siswa

8
Eksperimen
6 5 Kontrol
4 4 4
4 3 3
2 2
2

0
48-53 54-60 61-67 68-74 75-81 82-88 89-95
Hasil Belajar Siswa

Gambar 4. 2 Grafik Batang Hasil Belajar (Posttest) Kelompok Eksperimen


dan Kelompok Kontrol
53

Berdasarkan grafik batang di atas terlihat bahwa pada kelompok


eksperimen terdapat dua orang siswa (5,41%) yang mendapat nilai terendah pada
interval 54 60 dan pada interval 68 - 74, sedangkan untuk kelompok kontrol
nilai terendah terdapat pada interval 54 - 60 sebanyak tiga orang siswa (8,11%).
Nilai terbanyak pada kelompok eksperimen terdapat pada interval 75 - 81 yaitu
sebanyak dua belas orang siswa (32,43%), sedangkan pada kelompok kontrol ada
sembilan orang siswa (24,32%) yang terdapat pada interval 75 81.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Pretest Posttest
Data
Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol

Skor Max 52 57 90 86

Skor Min 10 19 48 43

Rata-rata 32,7 34,86 77,42 66,2

b. Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut maka dilakukan pengujian
prasyarat penelitian yaitu uji normalitas. Uji normalitas ini didapat dengan
menggunakan uji Liliefors. Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui apakah
data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi
normal bila memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel diukur pada taraf signifikansi dan
tingkat kepercayaan tertentu. Hasil uji normalitas posttest kedua kelompok sampel
penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
54

Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel (N) 37 37
Lhitung 0,0898 0,1031
Ltabel 0,1456 0,1456

Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,05). Dari tabel di


atas dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok penelitian berdistribusi normal
karena memenuhi kriteria Lhitung < Ltabel.

c. Uji Homogenitas Postest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Setelah kedua kelompok sampel dinyatakan berdistribusi normal,
selanjutnya dicari nilai homogenitasnya. Pengujian homogenitas terhadap kedua
kelompok menggunakan Uji Bartlett. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Posttest Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Statistik
S2 Eksperimen 155,75
S2 Kontrol 170,56
2 hitung 0,14

2 tabel 3,84

Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0,05). Dari tabel di


atas dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok berasal dari populasi yang
homogen, karena 2 hitung < 2 tabel .
55

d. Uji Hipotesis Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Pengolahan data selanjutnya yaitu pengujian hipotesis. Uji ini dilakukan
setelah uji normalitas dan uji homogenitas. Uji hipotesis ini menggunakan uji t
(t test), untuk menguji hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan bahwa tidak
terdapat pengaruh yang signifikan penerapan teknik probing terhadap hasil belajar
peserta didik.
Adapun kriterianya adalah: Jika thitung > ttabel, maka Ho ditolak. Jika thitung <
ttabel, maka Ho diterima. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji t untuk
pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh harga thitung =
2,641 dari tabel distribusi t untuk taraf signifikansi = 0,05 dan derajat
kebebasan (dk) = 37, diperoleh ttabel = 1,99. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.8
berikut:

Tabel 4.8 Hasil Posttest Uji t Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol
Statistik Kelompok eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel (N) 37 37
Thitung 2,10
Ttabel 1,99
Kesimpulan Menolak Ho dan menerima Ha

Berdasarkan tabel di atas, didapat thitung > ttabel (2,10 > 1,99) sehingga
menolak Ho dan menerima Ha. Dengan demikian hasil posttest, yaitu hasil
penelitian setelah diberi perlakuan pemberian metode pembelajaran, menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penerapan
teknik probing terhadap hasil belajar peserta didik.

3. Deskripsi data Normal Gain


Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil normal gain
pada kelas eksperimen, dari 37 siswa yang dijadikan sampel diperoleh N-gain
56

minimum 0,00; N-gain maksimum 0,87; N-gain rata-rata sebesar 0,58; standar
deviasi 0,2 dan varians (0,2)2. Sedangkan untuk kelompok kontrol berdasarkan
hasil perhitungan data penelitian mengenai hasil normal gain, dari 37 siswa yang
dijadikan sampel diperoleh N-gain minimum 0,08; N-gain maksimum 0,80; nilai
rata-rata sebesar 0,48; standar deviasi 0,18 dan varians (0,18)2.

Tabel 4.9 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Normal Gain


Data Kelompok Kelompok
Eksperimen Kontrol
N 37 37
Xrata-rata 0,58 0,48
S2 0,04 0,03
thitung 5,0
ttabel 1,99
Kesimpulan Berbeda

Ketentuan pengujian hipotesis normal gain yaitu jika nilai thitung > ttabel
maka dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara normal gain
kelompok eksperimen dengan normal gain kelompok kontrol, sebaliknya jika
nilai thitung < ttabel maka dinyatakan bahwa kedua kelompok tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara normal gain kelompok eksperimen dengan
normal gain kelompok kontrol. Pada tabel tampak bahwa hasil perhitungan
tersebut nilai thitung > ttabel sehingga dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara normal gain kelompok eksperimen dengan normal gain
kelompok kontrol.
Masing-masing nilai N-Gain dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu
rendah (G < 0,30), sedang (0,30 G < 0,70), dan tinggi (G 0,70). Berikut ini
adalah tabel yang menunjukkan frekuensi dari ketiga kategori nilai N-Gain
tersebut.
57

Tabel 4.10 Kategorisasi N-Gain Kelompok Eksperimen dan


Kelompok Kontrol
Frekuensi
Kategorisasi
Eksperimen Kontrol
Rendah 21 7
Sedang 3 24
Tinggi 13 6
Jumlah 37 37

B. Interpretasi Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan SMP Negeri 17 Kota
Tangerang Selatan diketahui bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar
32,7 dan kelompok kontrol sebesar 34,86 dengan standar deviasi masing- masing
8,83 dan 9,09; yang telah dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas serta
uji t dengan taraf kepercayaan 95% (= 0,05) dari data pretest tersebut, ternyata
Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan pembelajaran,
sampel untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kognitif atau
pengetahuan yang sama.
Setelah diberi perlakuan pembelajaran dengan teknik probing diketahui
bahwa nilai rata- rata untuk kelas eksperimen sebesar 77,42 dan kelompok kontrol
sebesar 66,2 dengan standar deviasi masing-masing sebesar 12,48 dan 13,06; yang
telah dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas serta uji t dengan taraf
kepercayaan 95% (= 0,05) dari data posttest tersebut, ternyata Ho ditolak,
dengan kata lain Ha diterima, hal ini menandakan bahwa terdapat perbedaan
peningkatan hasil belajar siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t pada taraf
kepercayaan 95%, hasil uji kesamaan dua rata-rata pretest dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara skor pretest
kelompok eksperimen dengan skor posttest kelompok kontrol, diperoleh nilai
t hitung sebesar -0,75 dan nilai t tabel sebesar 1,99 hasil pengujian yang diperoleh
58

menunjukkan bahwa nilai t hitung berada pada daerah Ho, yaitu t hitung < t tabel atau -

0,75 < 1,99. dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak pada taraf kepercayaan
95% hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
skor pretest kelompok eksperimen dengan skor pretest kelompok kontrol.
Sedangkan berdasarkan hasil uji kesamaan dua rata-rata posttest, dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara skor posttest
kelompok eksperimen yang diajar dengan teknik probing dengan skor posttest
kelompok kontrol yang diajar dengan teknik diskusi, diperoleh nilai t hitung sebesar

2,10 dan nilai t tabel sebesar 1,99. hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan

bahwa nilai t hitung berada pada daerah Ha, yaitu t hitung > t tabel atau 2,10 > 1,99.

dengan demikian Ha diterima dan Ho ditolak pada taraf kepercayaan 95% hal ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara skor pretest
kelompok eksperimen dengan skor pretest kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil uji normal gain, diketahui rata-rata normal gain dari
kelompok eksperimen sebesar 0,04 dan kelompok kontrol sebesar 0,03. Dari nilai
tes tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata normal gain pada kelompok
eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selanjutnya,
berdasarkan hasil uji-t dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai t hitung

sebesar 5,0 dan nilai t tabel 1,99. Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan

bahwa t tabel < t hitung atau 1,99 < 5,0; dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

normal gain pada kelompok eksperimen berbeda secara signifikan dari kelompok
kontrol.

C. Pembahasan Hasil Penelitian


Belajar pada umumnya adalah segala aktivitas dengan melibatkan
serangkaian pengalaman langsung. Untuk itu, setiap orang yang belajar harus aktif
berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi kegiatan. Tidak ada belajar kalau
tidak ada aktivitas, karena belajar hanya dapat terjadi jika pengalaman secara
langsung tersebut dilalui dengan penemuan atau bereksperimen. Dengan
59

bereksperimen, maka siswa bisa menemukan dan menyusun sendiri


pengetahuannya berdasarkan pengalaman yang dialaminya sendiri.
Dalam penelitian ini peran aktif dan keterlibatan siswa sangat diperlukan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa
teknik probing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa,
seperti penelitian Dede Sulaeman yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan teknik
probing dengan siswa yang diajar menggunakan pendekatan teknik
konvensional. 54
Selain itu, teknik probing dapat meningkatkan kemampuan responden
dalam menjawab dengan benar pertanyaan. Seperti yang diungkapkan oleh
Maman dan Dadan dalam junal pendidikan yang menyatakan bahwa proses
pembelajaran dengan teknik probing yang dilakukan oleh penatar pada setiap
siklus mengalami perbaikan yang signifikan ditandai dengan meningkatnya
keterlaksanaan tahapan probing dari siklus satu ke siklus berikutnya. 55
Pemberian teknik probing memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan
dengan diskusi, karena dalam probing memiliki beberapa keunggulan, yaitu
peserta didik akan berpartisipasi aktif dan peserta didik tidak bisa menghindar dari
proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab
Disini, siswa termotivasi untuk memahami materi lebih dalam agar bisa
menjawab pertanyan-pertanyaan yang diajukan guru. Siswa juga akan termotivasi
untuk membaca materi yang akan diajarkan di rumah.
Dalam teknik probing, siswa dituntut untuk selalu berperan aktif dalam
pembelajaran sehingga siswa akan menjadi lebih percaya diri dan tidak takut salah
dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Karena, walau siswa
menjawab salah tetapi itu berarti siswa tersebut sedang belajar, ia telah
berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dan pertanyaan yang diajukan

54
Dede Sulaeman. Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Teknik Probing
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Mts. Skripsi Sarjana Pendidikan, (Jakarta:
Perpustakaan UIN. 2007)
55
Maman Wijaya, et all., Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Vol.VNo.6April
2008; Peningkatan Kemampuan Berpikir dan Kemampuan Membaca Ilmiah Guru IPA Melalui
Pembelajaran dengan Teknik Probing, (Bandung: 2008)
60

bertujuan untuk membimbing siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada


pada dirinya guna memahami gejala atau keadaan yang sedang diamati sehingga
terbentuk pengetahuan baru.
Melalui proses probing, guru berusaha untuk membuat siswa-siswanya
membenarkan atau paling tidak menjelaskan lebih jauh tentang jawaban-jawaban
mereka, dengan cara demikian dapat meningkatkan kedalaman pembahasan.
Selain itu teknik ini juga membantu mereka untuk sejauh mungkin menghindari
jawaban-jawaban yang dangkal. 56 Kegiatan refleksi dilakukan setelah proses
pembelajaran telah selesai dengan cara mengulang kembali tentang materi yang
baru saja dipelajari. Pada penilaian autentik ada beberapa hal yang bisa dijadikan
bahan, salah satunya adalah dari lembar kerja siswa. Pada hasil posttest baik
kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol terdapat peningkatan hasil
belajar siswa. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata nilai yang mengalami peningkatan.

56
David A. Jacobsen dkk, Methods for Teaching (Metode-metode pengajaran
Meningkatkan Belajar TK-SMA), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal.184
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh
kesimpulan bahwa terdapat pengaruh teknik probing terhadap hasil belajar siswa
pada konsep getaran dan gelombang. Hal ini terlihat dari perolehan skor rata-rata
pretest sebesar 32,7 dan skor rata-rata posttest sebesar 77,42. Dengan uji t pada
taraf = 0,05 dengan thitung adalah 2,10 dan ttabel adalah 1,99; hal ini menunjukkan
terdapat pengaruh teknik probing terhadap hasil belajar peserta didik pada
pembelajaran konsep getaran dan gelombang.

B. Saran
Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, maka dapat dikemukakan
beberapa saran sebagai berikut :
1. Pembelajaran dengan teknik probing memerlukan pengetahuan yang cukup
luas, maka sebaiknya siswa dianjurkan membaca buku pelajarannya di rumah
sebelum dilakukan kegiatan belajar mengajar.
2. Tidak semua jenis pertanyaan dapat digunakan dalam teknik probing, maka
diharapkan peneliti selanjutnya lebih selektif dalam membuat pertanyaan.
Dalam teknik probing memerlukan waktu dalam mengajukan pertanyaan, jadi
diharapkan memperhitungkan waktu yang digunakan terlebih dahulu.

61
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Supriyono, Widodo,.Psikologi Belajar, Jakarta:Rineka Cipta, 2004.

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evalusi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


2006.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta. 2002.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan, Strategi Belajar mengajar, Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2002

Griadhi, Nyoman Cakra. Penanggulangan Miskonsepsi Pada Mata Pelajaran


Ekonomi dengan Lembar Kerja Siswa dan Pemanfaatan Lingkungan
Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, dalam Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No.3 thn XXXV Juli 2002.

Herlanti, Yanti, Tanya Jawab Seputar Penelitian Tindakan Sains, Jakarta:


Jurusan Pendidikan IPA, FITK, UIN Syarif Hidayatullah, 2006

Innayatussholihah, et all, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Kegiatan


Laboratorium (Praktikum) pada Konsep Fotosintesis, Jakarta: Jurusan
Pendidikan IPA, FITK,UIN Syarif Hidayatullah, 2008

Iska, Zikri Neni, Psikologi Pemahaman Diri dan Lingkungan, Jakarta: Kisi
Brothers, 2006

Kanginan, Marthen. IPA FISIKA untuk Smp Kelas VIII. Jakarta: Erlangga. 2007.

Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan


Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

Murtini, Sri. Kreativitas Teknik Probng, http://edu-articles.com/kreativitas-teknik-


probing/

Puspitasari, Nitta. Efektifitas Belajar Mengajar Matematika dengan Teknik


Probing, tersedia: http://www.sundayana.web.id/efektifitas-belajar-
mengajar-matematika-dengan-teknik-probing.html

Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2003.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.


Jakarta: Kencana. 2006.

62
63

Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta: PT: Rineka


Cipta, 2003.

Sofyan, Ahmad et all, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, Jakarta:


UIN Jakarta Press, 2006

Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja


Rosdakarya, 1990

Sulaeman, Dede. Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Teknik


Probing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Mts.
Skripsi Sarjana Pendidikan. Jakarta: Perpustakaan UIN. Skripsi. 2007.

Wijaya, Maman. Penggunaan Teknik Probing Alam Pembelajaran


Kesetimbangan Benda Getar, . Bandung. Tesis PPS UPI. 1999.

Y, Setiawan. Meningkatkan Penalaran Logika dan Pemahaman Matematika


Peserta didik SMPN Cisalak melalui Pembelajaran dalam Kelompok Kecil
dengan Teknik Probing. Bandung. Tesis PPS UPI. 2004.