Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Mekanikal, Vol. 2 No.

1: Januari 2011: 1 9 ISSN 2086 - 3403

PENGARUH PANJANG SERAT TERTANAM TERHADAP KEKUATAN


GESER INTERFACIAL KOMPOSIT SERAT BATANG MELINJO-
MATRIKS RESIN EPOXY

Sri Chandrabakty
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako
Jl. Sukarno-Hatta Km.9 Tondo, Palu 94119
Email: chandrabakty@fatek.untad.ac.id

Abstract

This research is aimed to understand the effect of length-embedded fibres to interfacial


shear strength on epoxy resin composite reinforced melinjo stem fibres. Pull-out testing
was performed with variation of length-embedded fibres including 1 mm, 3mm, and 5mm.
Prior to pull-out testing, fibres were treated with boiling with water media and 5% NaOH
media. The results showed that fibres with surface treatment using boiling of 5%NaoH have
higher interfacial fibre shear strength, but fibres without surface treatment have lower
interfacial fibre shear strength. For length - embedded fibre, the highest interfacial fibre
shear strength were obtained on the length-embedded fibre respectively from 1 mm, then 3
mm and 5mm.

Keyword: Serat Batang Melinjo, Pull-Out, IFSS.

PENDAHULUAN yang dapat disandingkan dengan serat


sintetis.
Pemanfaatan serat alam baik dari
segi teknis maupun sebagai produk Terdapat beberapa alasan
pertanian non-pangan telah lama menggunakan serat alam sebagai
dikembangkan. Meskipun pemanfaatan penguat komposit, menurut Mallick
serat alam sebagai penguat sempat (2007), sebagai berikut:
mengalami penurunan setelah
dikembangkannya serat sintetis, namun a. Lebih Ramah Lingkungan dan
kembali memainkan peranan utama biodegradable, dibandingkan serat
dalam pengembangan serat dengan sintetik.
adanya perubahan ke arah penggunaan
bahan alam yang berbasis ekonomi b. Berat Jenis Serat alam lebih kecil.
sebagai konsekuensi dari Kyoto
c. Pada beberapa jenis serat alam
Protocol terhadap perubahan iklim
mempunyai rasio berat-modulus
global (UN FCC 1997).
lebih baik serat E-glass.
Meningkatnya penggunaan bio-
d. Komposit serat alam mempunyai
komposit dalam bidang rekayasa
daya redam akustik lebih tinggi
material tidak terlepas dari issu
dibanding komposit serat glass dan
mengenai dampak lingkungan dan
serat karbon dan,
keberlanjutan dari sumber serat. Serat
alam (misalnya flax, hemp, sisal, abaca, e. Serat alam lebih ekonomis
dll.) merupakan serat alternatif bagi dibanding serat glass dan serat
serat sintetik, mampu menurunkan karbon.
tingkat CO2 di udara, kemampuan serat
untuk dapat terurai oleh bakteri Pohon melinjo (Gnetum Gnemon)
(biodegradability) dan sifat mekanis merupakan tumbuhan khas Asia

1
Pengaruh Panjang Serat Tertanam Terhadap Kekuatan Geser Interfacial Komposit Serat Batang Melinjo-Matriks
Resin Epoxy (Sri Chandrabakty)

Tenggara di mana pertumbuhannya tali busur panah dan masyarakat pantai


menyebar dari semenanjung Asia Papua Nugini menggunakan sebagai tali
Tenggara, Kepulauan Indonesia, pancing dan jaring ikan.
Philipina hingga ke Melanesia. Pohon ini
cukup mudah berkembang biak pada Tomlinson (2003) melaporkan,
daerah dengan ketinggian 1700 m di terdapat tiga jenis topografi serat
atas permukaan laut. Tinggi pohon batang melinjo dalam tiga kategori
dapat mencapai 15 m dengan diameter diameter. Untuk Serat pada bagian
batang hingga 40 cm. Serat batang Cortex 1 (Co1) diameter rata-rata 21
pohon melinjo telah digunakan secara m (kisaran 1530 m); Bagian Cortex
tradisional oleh masyarakat, misalnya di 2 (Co2) diameter rata-rata 51.5 m
pedalaman Malaysia telah digunakan (kisaran 42.567 m); dan untuk serat
sebagai tali kekang kuda, masyarakat bagian phloem (Phf) diameter rata-rata
Pulau Sumba memanfaatkan sebagai 27 m (kisaran 22.532.5 m).

(a)

(b)
Gambar 1. Penampang serat batang melinjo,
(a) penampang melintang, (b) penampang membujur (Tomlinson. 2003)

Semua serat alam cellulose menurunkan daya rekat dengan matrik


memiliki sifat yang sangat mampu polimer yang bersifat hydrophobic
menyerap air dari lingkungan bebas (Marsyahyo, 2009). Chandrabakty
yang disebut sifat hydrophilic. (2009) melaporkan, bahwa serat
Kandungan air yang tinggi dapat batang melinjo mempunyai kandungan

2
Jurnal Mekanikal, Vol. 2 No. 1: Januari 2011: 1 9 ISSN 2086 - 3403

air (moisture content) berkisar antara Ekstraktif Benzene 3.08%


6.20% - 10.42%.
Kekuatan ikatan antar muka serat
Sifat mekanis serat dari tumbuhan sangat berpengaruh terhadap kerja
(plant fibers) sangat terkait dengan bahan komposit dengan penguatan
jumlah cellulose, di mana sangat serat. Hal ini disebabkan oleh terjadinya
berhubungan dengan crystallinity dari kombinasi dissimilar bahan penyusun
serat dan sudut micro-fibril terhadap komposit yang memiliki sifat mekanis
sumbu serat utama. (Sreekala dkk., dan kimia berbeda. Metode untuk
1997). Menurut Mohanty dkk (2005) menentukan kekuatan interface
Cotton, flax, dan rami memiliki derajat ditempuh antara lain melalui uji
crystallinity tertinggi (6570 %). Sifat microbond/pull-out, Uji fragmentasi
crystalline dari serat dihasilkan dari serat tunggal dan multi-serat serta uji
ikatan hidrogen antara rantai cellulosic, microindentation (Marsyahyo, 2009).
namun dalam beberapa ikatan hidrogen
juga muncul pada fase amorphous. Dari Pengujian pull-out dilakukan untuk
hasil penelitian sebelumnya komposisi mendapatkan tegangan geser antar-
kimia serat batang melinjo diukur muka antara serat dan matrik, serta
dengan mengacu pada ASTM D 1107- memberi informasi perilaku kegagalan
56, diperoleh komposisi kimia seperti serat-matrik akibat kompatibilitas dua
yang ditunjukkan pada tabel 1 bahan yang rendah. Prosedur uji pull-
out secara sederhana dapat dijelaskan
Tabel 1. Komposisi kimia Serat batang dari Gambar 2.(a), di mana serat
melinjo (Gnetum Gnemon) tunggal ditanam di dalam matrik
(Chandrabakty, 2009) dengan kedalaman tanam sebesar lx
Komponen Persentase kemudian diberi beban tarik axial
(w/w) sebesar P. Beban P diharapkan mampu
Hemisellulosa 24.02% mencabut serat yang tertanam dan
Alfasellulosa 39.3% diasumsikan tegangan geser di
Lignin 9.82% sepanjang permukaan serat tertanam
adalah seragam.

Gambar 2. Mekanisme uji pull-out (a) Spesimen uji pull-out serat tunggal dan
(b) Kesetimbangan gaya tarik dan geser interfacial antara serat dan matrik
(Marsyahyo, 2009)

3
Pengaruh Panjang Serat Tertanam Terhadap Kekuatan Geser Interfacial Komposit Serat Batang Melinjo-Matriks
Resin Epoxy (Sri Chandrabakty)

Jacob dkk (2005) melaporkan, interfacial serat-matrik maka


terdapat dua aspek utama yang akan menghasilkan komposit dengan transfer
diperoleh dari uji pull-out yakni (1) beban yang lebih efektif dibandingkan
inisiasi perilaku debonding atau serat ukuran panjang namun kekuatan
terlepasnya serat dari matrik geser interfacial rendah.
pengikatnya yang menunjukkan
permukaan serat tidak mampu dilapisi Hipotesis pengaruh panjang serat
matrik secara sempurna dan (2) pada komposit serat matrik polimer
tercabutnya serat dari matrik yang dapat dirumuskan bahwa peningkatan
gagal melawan gesekan antara kekuatan geser interfacial serat-matrik
permukaan serat dan matrik akibat pada komposit matrik polimer
beban tarik yang dikenakan. dipengaruhi oleh kekuatan tarik serat
tunggal, panjang kritis serat, model
Nilai tegangan geser antara matrik patahan serat tunggal dan perilaku
dan serat dapat dihitung dari besarnya ikatan mekanis interlock di daerah
beban yang digunakan untuk interface antara permukaan serat dan
memutuskan/mencabut serat dari matrik.
matrik dengan menggunakan
persamaan: Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh material bio-komposit baru
F dengan bahan dasar dari alam,
(1)
.d.l x mengetahui pengaruh panjang
tertanam dari serat melalui uji pull-out
Di mana, F adalah beban yang memberikan harga tegangan
maksimum, d adalah diameter fiber, geser antar-muka serat matrik. Di mana
dan lx adalah panjang serat tertanam. diyakini merupakan faktor penentu sifat
ketangguhan dan kekuatan inter-
Panjang kritis serat merupakan laminate komposit.
indikator yang baik bagi kemampuan
dari interphase untuk meneruskan METODE PENELITIAN
beban diantara dua unsur. Dengan
Bahan penelitian menggunakan
asumsi tegangan geser yang dialami
serat batang melinjo (Gnetum
permukaan serat adalah sama pada
Gnemon). Serat batang dipilih dari
setiap titiknya, sehingga dari model
pohon yang berumur di atas 5 tahun
Kelly-Tyson diperoleh persamaan:
atau dengan diameter batang 15 cm.
4 Serat yang di uji diambil dari bagian
. y .x (2) batang pohon dengan ketinggian 100
d
cm dari atas tanah untuk mendapat
Dengan asumsi bahwa tegangan keseragaman serat. Matriks yang
maksimum serat terjadi pada x =l/2, digunakan adalah Polimer thermoset
sehingga persamaan menjadi: (epoxyresin) merek Eposchn yang
dipasarkan oleh PT JUSTUS
4 l 2. y .l x KIMIARAYA.
f max . y. x (3)
d 2 d
Serat yang akan diteliti dibedakan
Secara kualitatif, persamaan (3) di dalam 3 tipe perlakuan yaitu; (1) serat
atas menunjukkan semakin pendek Untreated (UT) atau serat yang tidak
serat yang tertanam namun mampu mengalami perlakuan pada saat
memberikan kekuatan ikatan geser penguraiannya, (2) serat dengan

4
Jurnal Mekanikal, Vol. 2 No. 1: Januari 2011: 1 9 ISSN 2086 - 3403

perlakuan perebusan dengan air biasa, serat-matrik dari bio-komposit. Pada


masing-masing selama 60, 120 dan 180 pengujian ini panjang serat tertanam
menit dan (3) serat dengan perlakuan divariasikan masing-masing 1 mm, 3
rebus air yang dicampur dengan larutan mm dan 5 mm. Peralatan yang
NaOH 5% masing-masing selama 60, digunakan di desain sendiri untuk
120, 180 menit. mengukur ikatan antara serat dan
matriks.
Pengujian pull-out dilakukan untuk
mengetahui sifat mampu rekat antara

Load F
Load F
Fiber dia. (D)
micro-vise

Lc
Lc Matriks
micro-droplet
matriks
Fiber dia. (D)

a. Fiber pull-out test b. Fiber micro-bonding test


Gambar 3. Model Pengujian Pull-out Serat
Dari hasil pengujian pull-out akan Strength Stress, IFSS) mengalami
didapatkan berupa (i) kriteria kekuatan kecenderungan menurun seiring
geser ditunjukkan oleh kekuatan tarik dengan bertambahnya panjang
axial dari panjang serat yang tertanam tertanam serat. Hal ini bisa diamati
dan (ii) kegagalan mekanis serat matrik pada gambar 4 dan gambar 5, grafik
ditunjukkan oleh model patahan serat penurunan tersebut identik dengan
di sepanjang serat yang tidak tertanam, distribusi tegangan geser yang terjadi
debonding serat yang tertanam di sepanjang permukaan serat meskipun
dalam matrik dan micro-cracking matrik tegangan tarik serat adalah maksimum
dengan cara visual scanning electron yakni kekuatan tarik serat saat patah
micrographic. dan gaya geser sepanjang serat
seragam.

HASIL DAN DISKUSI Menurut Meurs (1998) tegangan


geser antar-muka tergantung dari
Dari hasil pengujian pull-out yang panjang serat tertanam, di mana
diberikan pada serat untreated (UT), semakin panjang serat tertanam
serat dengan perlakuan rebus dengan semakin menurun daya rekat
media air dengan lama 60, 120, 180 permukaan serat-matrik tetapi akan
menit (M1, M2 dan M3), serta serat meningkatkan ketahanan gesekan.
dengan perlakuan rebus dengan media Debonding dapat terjadi jika tegangan
NaOH 5% selama 60, 120, 180 menit geser di daerah interface serat-matrik
(N1, N2 dan N3), diperoleh nilai lebih besar dari daya rekat (bonding
tegangan geser antar muka (Interfacial strength) permukaan serat-matrik.

5
Pengaruh Panjang Serat Tertanam Terhadap Kekuatan Geser Interfacial Komposit Serat Batang Melinjo-Matriks
Resin Epoxy (Sri Chandrabakty)

Gambar 4. Pengaruh panjang serat tertanam terhadap kekuatan geser interfacial


pada serat untreated (UT) dan serat yang mengalami perlakuan rebus media air
(M1, M2 dan M3)

Gambar 5. Pengaruh panjang serat tertanam terhadap kekuatan geser interfacial


pada serat untreated (UT) dan serat yang mengalami perlakuan rebus media NaOH
5% (N1, N2 dan N3)
Hasil pengujian pull-out pada serat Untuk panjang serat tertanam lx =
dengan panjang tertanam lx= 1 mm 3 mm, tegangan geser antar-muka
menunjukkan nilai kekuatan geser lebih tertinggi dicapai oleh serat dengan
tinggi pada serat dengan perlakuan perlakuan NaOH 5% selama 180 menit
yaitu untuk media NaOH 5% sebesar (N3) sebesar 53,09 MPa dan terendah
66,42 MPa dan media air sebesar 54,39 dicapai oleh serat tanpa perlakuan (M3)
MPa, sementara serat tanpa perlakuan sebesar 28,02 MPa. Sedangkan pada
(UT) sebesar 40,71 MPa. panjang serat tertanam lx = 5 mm,

6
Jurnal Mekanikal, Vol. 2 No. 1: Januari 2011: 1 9 ISSN 2086 - 3403

tegangan geser antar-muka tertinggi tidak tercabutnya serat ada tiga


juga terjadi pada serat dengan kemungkinan yakni (a) perlakuan NaOH
perlakuan NaOH 5% selama 180 menit 5% memberikan efek wettability
(N3) sebesar 26,28 MPa dan terendah permukaan serat terhadap matrik
terjadi pada serat tanpa perlakuan (UT) epoxy, (b) matrik epoxy tidak
sebesar 18,89 MPa. mempunyai waktu penetrasi kedalam
pori-pori serat karena terhalang oleh
Pada hasil foto SEM menunjukkan masih adanya lignin impuritas serat
bahwa serat tanpa perlakuan dan serat yang lain dan (c) secara kimia
dengan perlakuan rebus media air perlakuan NaOH 5% terhadap
mengalami serat tercabut dari permukaan serat menghasilkan
matriksnya sementara serat dengan kompatibilitas ikatan antar molekul
perlakuan rebus media NaOH 5% permukaan serat-matrik lebih optimal
mengalami patah dan tidak tercabut dibanding dengan perlakuan rebus.
dari matriksnya. Kondisi tercabut dan

Gambar 6. Kondisi serat dengan perlakuan NaOH 5% mengalami patah dan tidak
tercabut

Gambar 7. Kondisi permukaan matrik yang mengalami kegagalan dengan serat


dengan perlakuan rebus dan terlihat butiran-butiran pecahan matrik

7
Pengaruh Panjang Serat Tertanam Terhadap Kekuatan Geser Interfacial Komposit Serat Batang Melinjo-Matriks
Resin Epoxy (Sri Chandrabakty)

Gambar 8. Kondisi matrik dengan serat tanpa perlakuan yang tercabut sempurna.
Area permukaan tidak terlihat adanya crack yang menandakan serat tercabut
dengan mudah.

Meskipun secara mekanis matrik interfacial tertinggi didapatkan


epoxy mampu mengikat serat namun pada serat dengan perlakuan
kegagalan lebih didominasi oleh NaOH 5% selama 180 menit (N3)
rendahnya kemampuan matrik dengan panjang serat tertanam 1
mentransfer tegangan sepanjang mm sebesar 66,242 MPa dan
permukaan serat sehingga serat mudah terendah pada serat tanpa
tercabut. perlakuan (UT) 18,891 MPa dengan
panjang serat tertanam 5 mm.
Ditinjau dari mekanika kegagalan
interaksi serat-matrik, Kim dan May 2. Dari pengamatan foto SEM hasil uji
(1998) menjelaskan perilaku load pull-out, kegagalan serat melinjo-
transfer distribusi tegangan di daerah epoxy memperlihatkan serat
interface sebagai berikut: tercabut pada kedalaman serat
1. sebagian serat yang berfungsi tertanam 3 dan 5 mm dan dinding
sebagai media penguatan pada di sekitar panjang serat tertanam
komposit matrik hanya menerima terlihat mampu-rekat permukaan
tegangan tarik; serat dengan matrik epoxy yang
rendah. Perilaku ini disebabkan
2. sebagian matrik yang berfungsi oleh kecenderungan kemampuan
mengikat serat juga menahan adhesi antara serat matrik yang
tegangan geser permukaan serat. optimal dan pengaruh iregularitas
sifat mekanis, kimia dan fisika di
sepanjang permukaan serat.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat DAFTAR PUSTAKA
disimpulkan bahwa:
Anonim, ASM Handbook volume 21,
1. Meningkatnya tegangan geser 2001, Composite, ASM International
interfacial pada permukaan serat Handbook Committee.
dipengaruhi oleh jenis dan lama
perlakuan serta panjang serat
tertanam. Tegangan geser

8
Jurnal Mekanikal, Vol. 2 No. 1: Januari 2011: 1 9 ISSN 2086 - 3403

Akovali, G, 2001, Handbook of Marsyahyo E., 2009, Perlakuan


Composite Fabrication, RAPRA Permukaan Serat Rami (Boehmeria
Technology, Ltd. Ankara. nivea) dan kompatibilitas serat-matrik
pada komposit matrik polimer.
Chandrabakty, 2009, Pengaruh Disertasi, Universitas Gadjah Mada
Perlakuan Permukaan Serat Batang Yogyakarta.
Melinjo (Gnetum Gnemon) Terhadap
Wettability dan Kemampuan Rekat Matthews R.L, Rawlings R.D. 1994,
dengan Matrik Epoxy-Resin, Thesis, Composite Materials Engineering and
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Science, Chapman & Hall.

Clyne, T. W., and Jones, F.R., 2001, Meurs, P. F. M., 1998, Characterization
Composites Interfaces, Encyclopedia of of Microphenomena in Transversely
Materials, Science and Technology, Loaded Composite Materials, Thesis,
Elsevier. University Eindhoven,

Doan, T. T. L., 2006, Investigation on Mohanty A.K., Misra M. dan Hinrichsen


jute fibres and their composites based G. 2000a. Biofibers, biodegradable
on polypropylene and epoxy matrices, polymers and biocomposites: An
Dissertation Der Fakultt overview. Macromolecular Materials and
Maschinenwesen Der Technischen Engineering 276/277:1-24.
Universitt Dresden.
Mohanty A.K., Misra M. dan Drzal L.T.,
Dorn, L. 1994, Adhesive Bonding- 2005. Natural Fibers, Biopolymers, and
Terms and Definitions, TALAT Lecture Biocomposites. Taylor & Francis.
4701, European aluminium Association,
Berlin.

Kim, J.K., May, Y.W., 1998, Engineered


Interfaces in Fiber Reinforced
Composites, ed.1, Elsevier.

Korte S. 2006 , Processing-Property


Relationships of Hemp Fibre, A thesis
Degree of Master of Engineering,
University of Canterbury.

Lee, H. J., 2007, Design and


Development of Superhydrophobic
Textile Surfaces. A dissertation , Faculty
of North Carolina State University

Mallick, P.K. , 2007, Fiber-reinforced


composites : materials, manufacturing,
and design 3rd ed. CRC Press Taylor &
Francis Group.

Manner H. I. dan Elevitch C. R.,2006.


Gnetum gnemon (gnetum), Species
Profiles for Pacific Island Agroforestry
(www.traditionaltree.org). tanggal
penelusuran 04 September 2008.