Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

Asfiksia Neonatus

A. Pengertian
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000). Asfiksia berarti hipoksia
yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat
mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi
organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001). Jadi, berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat di
simpulkan bahwa asfiksia merupa suatu keadaan di mana bayi tidak dapat menangis secara
spontan setelah lahir.
Klasifikasi klinis APGAR SCORE :
a. Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung tidak ada atau < 100 x/ menit, tonus otot
buruk/lemas, sianosis berat, tidak ada reaksi, respirasi tidak ada.
b. Asfiksia ringan sedang (Nilai APGAR 4 6)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung < 100 / menit, tonus otot kurang baik
atau baik , sianosis (badan merah, anggota badan biru), menangis. Respirasi lambat,
tidak teratur.
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia 7 9
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung > 100 / menit, tonus otot baik/ pergerakan
aktif , seluruh badan merah, menangis kuat. Respirasi baik.
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
Bayi dianggap sehat, tidak perlu tindakan istimewa.

Tabel penilaian APGAR SCORE


Skor APGAR
Tanda
0 1 2
Frekuensi Tidak ada < 100 x/menit > 100 x/menit
Jantung
Usaha Tidak ada Lambat tak teratur Menangis kuat
bernafas
Tanus otot Lumpuh Ekstremitas agak fleksi Gerakan aktif
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Gerakan kuat/melawan
Warna kulit Biru/pucat Tubuh kemerahan, eks Seluruh tubuh
biru kemerahan

Pemeriksaan Neurologi / Refleks


a) Refleks menghisap (sucking reflex). Bayi akan melakukan gerakan menghisap ketika Anda
menyentuhkan puting susu ke ujung mulut bayi. Refleks menghisap terjadi ketika bayi yang baru
lahir secara otomatis menghisap benda yang ditempatkan di mulut mereka. Refleks ini merupakan
rute bayi menuju pengenalan akan makanan. Kemampuan menghisap bayi yang baru lahir
berbeda beda. Sebagian bayi yang baru lahir menghisap dengan efisien dan bertenaga untuk
memperoleh susu, sementara bayi bayi lain tidak begitu terampil dan kelelahan bahkan sebelum
mereka kenyang.
b) Refleks menggenggam (palmar grasp reflex) atau Grasping Reflex adalah refleks gerakan jari-jari
tangan mencengkram benda-benda yang disentuhkan ke bayi. Bayi akan otomatis menggenggam
jari ketika Anda menyodorkan jari telunjuk kepadanya. Pada akhir bulan ketika, refleks
menggenggam berkurang dan bayi memperlihatkan suatu genggaman yang lebih spontan, yang
sering dihasilkan dari rangasangan visual. Misalnya, ketika bayi melihat suatu gerakan yang
berputar diatas tempat tidurnya, ia akan meraih dan mencoba menggenggamnya. Ketika
perkembangan motoriknya semakin lancar, bayi akan menggenggam benda benda,
menggunakannya secara hati hati, dan mengamati benda benda tersebut.
c) Refleks leher (tonic neck reflex)Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus) pada lengan dan
tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh ke salah satu sisi.
d) Refleks mencari (rooting reflex)Rooting reflex terjadi ketika pipi bayi diusap (dibelai) atau di
sentuh bagian pinggir mulutnya. Sebagai respons, bayi itu memalingkan kepalanya ke arah benda
yang menyentuhnya, dalam upaya menemukan sesuatu yang dapat dihisap. Refleks menghisap
dan mencari menghilang setelah bayi berusia sekitar 3 hingga 4 bulan. Refleks digantikan dengan
makan secara sukarela. Refleks menghisap dan mencari adalah upaya untuk mempertahankan
hidup bagi bayi mamalia atau binatang menyusui yang baru lahir, karena dengan begitu dia dapat
menemukan susu ibu untuk memperoleh makanan.
e) Refleks moro (moro reflex) Releks Moro adalah suatu respon tiba tiba pada bayi yang baru lahir
yang terjadi akibat suara atau gerakan yang mengejutkan. Ketika dikagetkan, bayi yang baru lahir
itu melengkungkan punggungnya, melemparkan kepalanya kebelakang, dan merentangkan tangan
dan kakinya. Refleks ini berbeda dengan refleks lainnya yang termasuk dalam ketegori gerakan
motor. Refleks moro adalah peninggalan nenek moyang primate kita dan refleks ini merupakan
upaya untuk mempertahankan hidup. Refleks ini merupakan keadaan yang normal bagi semua
bayi yang baru lahir, juga cenderung menghilang pada usia 3 hingga 4 bulan. Sentuhan yang
lembut pada setiap bagian tubuh bayi akanmenenangkan bayi yang sempat terkejut. Memegang
lengan bayi yang dilenturkan pada bahu akan menenangkan bayi. Menurut para ahli, refleks moro
ini termasuk reaksi emosional yang timbul dari kemauan atau kesadaran bayi dan akan hilang
dengan sendirinya dalam waktu yg singkat. Refleks moro ini timbul ketika bayi dikejutkan secara
tiba-tiba atau mendengar suara yang keras. Bayi melakukan gerakan refleks dengan
melengkungkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya ke arah belakang. Bersamaan
dengan gerakan tersebut, kaki dan tangan bayi digerakkan ke depan. Reaksi yang berlangsung
sesaat ini pada umumnya diiringi dengan tangisan yang keras.
f) Babinski Reflex . Refleks primitif pada bayi berupa gerakan jari-jari mencengkram ketika bagian
bawah kaki diusap, indikasi syaraf berkembang dengan normal. Hilang di usia 4 bulan.
g) Swallowing Reflex adalah refleks gerakan menelan benda-benda yang didekatkan ke mulut,
memungkinkan bayi memasukkan makanan ada secara permainan tapi berubah sesuai
pengalaman
h) Breathing Reflex Refleks gerakan seperti menghirup dan menghembuskan nafas secara berulang-
ulang fungsi : menyediakan O2 dan membuang CO2 permanen dalam kehidupan.
i) Eyeblink ReflexRefleks gerakan seperti menutup dan mengejapkan mata fungsi : melingdungi
mata dari cahaya dan benda-benda asing permanen dalam kehidupan Jika bayi terkena sinar
atau hembusan angin, matanya akan menutupatau dia akan mengerjapkan matanya.
j) Puppilary Reflex Rekleks gerakan menyempitkan pupil mata terhadap cahaya terang,
membesarkan pupil mata terhadap lingkungan gelap. fungsi : melindungi dari cahaya terang,
menyesuaikan terhadap suasana gelap.
k) Reflex tonic Labyrinthine / labirin Pada posisi telentang, reflek ini dapat diamati dengan
menggangkattungkai bayi beberapa saat lalu dilepaskan. Tungkai yang diangkat akanbertahan
sesaat, kemudian jatuh. Hilang pada usia 6 bulan.
l) Refleks merangkak (crawling) Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi baru lahir,
iamembentuk posisi merangkak karena saat di dalam rahim kakinya tertekuk kearah tubuhnya.
m) Refleks berjalan dan melangkah (stepping) Jika ibu atau seseorang menggendong bayi dengan
posisi berdiri dantelapak kakinya menyentuh permukaan yang keras, ibu/orang tersebut
akanmelihat refleks berjalan, yaitu gerakan kaki seperti melangkah ke depan. Jikatulang
keringnya menyentuh sesuatu, ia akan mengangkat kakinya sepertiakan melangkahi benda
tersebut. Refleks berjalan ini akan hilang dan berbedadengan gerakan berjalan normal, yang ia
kuasai beberapa bulan berikutnya.Menurun setelah 1 minggu dan akan lenyap sekitar 2 bulan.
n) Refleks yawning, Yakni refleks seperti menjerit kalau ia merasa lapar, biasanyakemudian disertai
dengan tangisan.13.
o) Reflek Plantar Reflek ini juga disebut reflek plantar grasp, muncul sejak lahir danberlangsung
hingga sekitar satu tahun kelahiran. Reflek plantar ini dapatdiperiksa dengan menggosokkan
sesuatu di telapan kakinya, maka jari-jarikakinya akan melekuk secara erat.14.
p) Reflek Swimming Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisiiair, ia
akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang.Reflek ini akan menghilang pada
usia empat sampai enam bulan. Reflek iniberfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia
tenggelam. Meskipun bayiakan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun
meletakkanbayi di air sangat berisiko. Bayi akan menelan banyak air pada saat itu.

B. ETIOLOGI
a. Faktor Ibu
1. Preeklampsia dan eklampsi
2. Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3. Partus lama atau partus macet
4. Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
5. Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

b. Faktor Tali Pusat


1. Lilitan tali pusat
2. Tali pusat pendek
3. Simpul tali pusat
4. Prolapsus tali pusat
c. Faktor Bayi
1. Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum,
ekstraksi forsep)
3. Kelainan bawaan (kongenital)
4. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
C. Tanda Dan Gejala
1. Pernapasan terganggu
2. Detik jantung menurun
3. Refleks/ respons bayi melemah
4. Tonus otot menurun
5. Warna kulit biru atau pucat
6. Kejang
7. Penurunan kesadaran

D. Patofisiologi
Pada penderita asfiksia telah dikemukakan bahwa gangguan pertukaran gas serta
transport 02 akan menyebabkan berkurangnya penyediaan 02 dan kesulitan pengeluaran C02.
Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung dari berat dan lamanya
asfiksia fungsi tadi dapat reversibel atau menetap, sehingga menimbulkan komplikasi, gejala
sisa, atau kematian penderita.
Pada tingkat permulaan, gangguan ambilan 02 dan pengeluaran C02 tubuh ini mungkin
hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Apabila keadaan tersebut berlangsung terus, maka
akan terjadi metabolisme anaerobik berupa glikolisis glikogen tubuh. Asam organik yang
terbentuk akibat metabolisme ini menyebabkan terjadinya keseimbangan asam basa berupa
asidosis metabolik. Keadaan ni akan menganggu fungsi organ tubuh, sehingga mungkin
terjadi penurunan sirkulasi kardiovaskuler yang ditandai oleh penurunan tekanan darah dan
frekwensi denyut jantung.

E. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut
sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun,
keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya
edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.

b. Anuria atau oliguria


Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini
dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan
perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ
seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia
padapembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine
sedikit.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan
transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan
pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi
jaringan tak efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan
koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisis gas darah ( ph kurang dari 7,20 )
2. Penilaian apgar scor meliputi ( warna kulit, usaha bernafas, tonus otot )
3. Pemeriksaan EEG dan CT scan jika sudah terjadi komplikasi

G. Penatalaksanaan
a) Terapi Suportif
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang
bertujuan untuk rnempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa
yang mungkin muncul. Tindakan resusiksi bayi baru tahir mengikuti tahap tahapan-
tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :

1. Memastikan saluran nafas terbuka :


a. Meletakkan bayi pada posisi yang benar.
b. Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trakea
c. Bila perlu masukkan ET untuk memastikan pernafasan terbuka
2. Memulai pernapasan :
a. Lakukan rangsangan taktil
b. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
c. Mempertahankan sirkulasi darah (Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah
dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan)
d. Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah, elektrolit )
b) Terapi Medikamentosa
Epinefrin
Indikasi:
1) Denyut jantung bayi < 60x/menit setelah paling tidak 30 detik dilakukan ventilasi
adekuat dan kompresi dada belun ada respon.
2) Sistotik
Dosis : 0,1-0,3 ml / kgBB dalam lanrtan I : 10.000 (0,1 mg 0,03 mg / kgBB). Cara :
i.v atau endotakheal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu
Volume Ekspander
Indikasi:
1) Bayi baru lahir yang dilahirkan resusitasi rnengalami hipovolernia dan tidak ada
respon dengan resusitasi.
2) Hipovolemi kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ,diitandai
dangan adanya pucat perfusi buruk, nadi kecil / lemah dan pada resusitasi tidak
memberikan respons yang adekuat.

Jenis Cairan :
1. Larutan laistaloid isotonis (NaCL 0,9, Ringer Laktat). Dosis : dosis awal 10 ml /
kgBB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat diulang sampai menunjukkan respon
klinis.
2. Transfursi darah gol O negatif jika diduga kehilangn darah banyak.

Bikarbonat
Indikasi:
1. Asidosis metabolik, bayi-bayi baru lahiryang mendapatkan resusitasi. Diberikan
bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik.
2. Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan
hiperkalemia Harus disertai dengan pemerIksaan analisa gas darah dan kimia.

Dosis : 1-2 mEq/keBB atau 2 ml/kgBB (4,2%) atau 1 ml/kgBB (74%).


Cara : diencerkan dengan aqua bidest dan destrosa 5 % sama banyak diberikan
secara i.v dengan kecepaten min 2 menit.
Efek sarnping : pada keadaan hiperosmolarita, dan kandungan CO2 dari
bikarbonat merusak furgsi miokardium dan otak.
Nalokson
Nalokson Hidroklorida adalah antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan depresi
pernapasan.
Indikasi:
1. Depresi psmapa$an pada bayi bam lahir yang ibunya menggunailcan narkotik 4
jam sebelurn pmsalinan.
2. Sebelum diberikan nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.
3. Jangan diberilm pada bayi brug lahir yang ibrmya baru dicurigai sebagai
pemakai obat narkotika sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba pada
sebagian bayi.
Dosis : 0,1 mgikgBB ( 0,4 mg/ml atau lmg/ml)
Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
ASFIKSIA NEONATUS
A. PENGKAJIAN

Data subyektif, terdiri dari: Biodata atau identitas pasien (Bayi) meliputi nama, tempat
tanggal lahir, jenis kelamin, Orangtua; meliputi nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau
kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat, Riwayat kesehatan, Riwayat
antenatal, Riwayat natal, komplikasi persalinan, Riwayat post natal, Pola eliminasi, Latar
belakang sosial budaya, Kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu
terutama jenis psikotropika, Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, Hubungan
psikologis.

1. Data Obyektif,
terdiri dari:
a. Keadaan umum Tanda-tanda Vital, Untuk bayi preterm beresiko terjadinya
hipothermi. bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh <
37 C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5 C 37,5 C, nadi normal antara 120-
140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit.
b. Pemeriksaan fisik.
1) Kulit; warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi preterm
terdapat lanugo dan verniks.
2) Kepala; kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun
besar cekung atau cembung.
3) Mata; warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna
sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
4) Hidung terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
5) Mulut; Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
6) Telinga; perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan Leher; perhatikan kebersihannya
karena leher nenoatus pendek
7) Thorax; bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan
ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit.
8) Abdomen, bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 2 cm dibawah arcus costaae pada garis
papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut
cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa
kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna. Umbilikus, tali
pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda-tanda infeksi pada tali
pusat.
9) Genitalia; pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara
uretra pada neonatus laki laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor,
adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan
10) Anus; perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari
faeses.
11) Ekstremitas; warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang
atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
12) Refleks; pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek
moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya
patah tulang

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.


2. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
3. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
4. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada
agen-agen infeksius.
5. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA NIC RASIONAL


Bersihan jalan TUJUAN: Setelah Management airway: Management airway:
nafas tidak efektif dilakukan tindakan 1. Tentukan 1. pengumpulan
b.d produksi keperawatan selama kebutuhan oral/ suction data untuk perawatan
mukus banyak proses keperawatan tracheal optimal
diharapkan jalan 2. Auskultasi suara 2. membantu
nafas lancar. nafas sebelum dan mengevaluasi
NOC: sesudah suction keefektifan upaya
o Tidak menunjukkan 3. Bersihkan daerah batuk klien
demam bagian tracheal setelah 3. meminimalias
o Rata-rata repirasi suction selesai i penyebaran
dalam batas normal. dilakukan. mikroorganisme
o Pengeluaran sputum 4. Monitor status 4. untuk
melalui jalan nafas. oksigen pasien, status mengetahui
o Tidak ada suara hemodinamik segera efektifitas dari
nafas tambahan. sebelum, selama dan suction.
sesudah suction.
Pola nafas tidak Tujuan: Setelah Management Bersihan
efektif b.d dilakukan tindakan jalan nafas: 1.untuk
hipoventilasi. keperawatan selama 1. Pertahankan membersihkan jalan
proses keperawatan kepatenan jalan nafas nafas guna
diharapkan pola nafas dengan melakukan meningkatkan kadar
menjadi efektif. pengisapan lendir. oksigen yang
o NOC 2. Pantau status bersirkulasi dan
o Pasien pernafasan dan memperbaiki status
menunjukkan pola oksigenasi sesuai dengan kesehatan
nafas yang efektif. kebutuhan. 3. 2. membantu
o Ekspansi dada 3. Auskultasi jalan mengevaluasi
simetris. nafas untuk mengetahui keefektifan upaya
o Tidak ada bunyi adanya penurunan batuk klien perubahan
nafas tambahan. ventilasi. AGD dapat
o Kecepatan dan 4. Kolaborasi mencetuskan
irama respirasi dengan dokter untuk disritmia jantung.
dalam batas normal. pemeriksaan AGD dan 3. mengetahui adanya
pemakaian alat bantu suara tambahan atau
nafas tidak
5. 4. terapi oksigen
dapat membantu
mencegah gelisah bila
klien menjadi
dispneu, dan ini juga
membantu mencegah
edema paru.
Kerusakan Tujuan: Setelah Management airway:
pertukaran gas dilakukan tindakan 1. Kaji bunyi paru, 1. membantu
b.d keperawatan selama frekuensi nafas, mengevaluasi
ketidakseimbanga proses keperawatan kedalaman nafas dan keefektifan
n perfusi diharapkan produksi sputum. upaya batuk klien
ventilasi. pertukaran gas 2. Auskultasi bunyi
teratasi. nafas, catat area 2. membantu
NOC : penurunan aliran mengevaluasi
1. Tidak sesak nafas udara dan / bunyi keefektifan
2. Fungsi paru dalam tambahan. upaya batuk klien
batas normal 3. Pantau hasil Analisa 3. perubahan
Gas Darah AGD dapat
mencetuskan
disritmia jantung.
Risiko cedera b.d Tujuan : Setelah Management APD: 1. 1. untuk mencegah
anomali dilakukan tindakan 1. Cuci tangan setiap infeksi nosokomial
kongenital tidak keperawatan selama sebelum dan sesudah 2. untuk mencegah
terdeteksi atau proses keperawatan merawat bayi. infeksi nosokomial
tidak teratasi diharapkan risiko 2. Pakai sarung tangan 3. untuk mencegah
pemajanan pada cidera dapat dicegah. steril. keadaan yang kebih
agen-agen NOC : 3. Lakukan pengkajian buruk.
infeksius. o Bebas dari cidera/ fisik secara rutin4. 4.untuk
komplikasi. terhadap bayi baru meningkatkan
o Mendeskripsikan lahir, perhatikan pengetahuan keluarga
aktivitas yang pembuluh darah tali dalam deteksi awal
tepat dari level pusat dan adanya suatu penyakit
perkembangan anomali. 5. mencegah
anak. 4. Ajarkan keluarga terjadinya penyakit
tentang tanda dan menular
gejala infeksi dan
melaporkannya pada
pemberi pelayanan
kesehatan.
5. Berikan agen
imunisasi sesuai
indikasi
(imunoglobulin
hepatitis B dari
vaksin hepatitis
Risiko Tujuan:Setelah Management suhu 1. Untuk mencegah
ketidakseimbanga dilakukan tindakan 1. Hindarkan pasien hipotermi
n suhu tubuh b.d keperawatan selama dari kedinginan dan 2. mengetahui suhu
kurangnya suplai proses keperawatan tempatkan pada pasien
O2 dalam darah. diharapkan suhu lingkungan yang Mengetahui apakah
tubuh normal. hangat pasien mengalami
NOC : 2. Lakukan pengukuran kekurang O2 didalam
o Temperatur badan suhu tubuhnya.
dalam batas 3. Observasi perubahan
normal. warna pada kulit
o Tidak terjadi pasien.
distress .
pernafasan. 5. .
o Bayi tidak
menggigil
o Tidak ada
Perubahan warna
kulit.
5
Daftar Pustaka

http://bluesteam47.blogspot.com/2010/05/asuhan-keperawatan-asfiksia-neonatorum.html

Nanda. Nic.Noc. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis.


MediaAction.Jakarta

Prawirohardjo, S. (2008). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :
YBP

A.H Markum. 2012. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. FKUI

NANDA Internasional . 2012. Nursing Diagnosies : Definitions & Clasification 2012-1014.


Jakarta :EGC

Pedoman Praktek Klinik : Ikatan Dokter Anak Indonesia ( 2011 )

Silvia, dan Ali F.2013. Asuhan Keperawatan Pada Anak.Palembang : Graha Surya.

Slusher,et all (2013).Treatment Of Neonatal Jaundice With Filtered Sunligt In Nigerian


Neonates:Fajar Inter Pratama: Jakarta.