Anda di halaman 1dari 10

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Sistem Pencernaan Unggas


Sistem pencernaan merupakan sistem yang terdiri dari saluran pencernaan
dan organ-organ pelengkap yang berperan dalam proses perombakan bahan
makanan, baik secara fisik maupun secara kimia menjadi zat-zat makanan yang
mudah diserap oleh dinding saluran pencernaan (Rasyaf M, 2008). Menurut
Anggorodi (1995), pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-
zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh
jaringan-jaringan tubuh.
Sistem pencernaan unggas berbeda dengan sistem pencernaan ternak
mamalia atau ternak ruminansia, karena pada unggas tidak memiliki gigi untuk
melumat makanan. Unggas menimbun makanan yang dimakannya dalam
tembolok (Tillman dkk., 1991).
Prinsip pencernaan pada ayam ada tiga macam (Kamal, 1994) :
1. Pencernaan secara mekanik (fisik); Pencernaan ini dilakukan oleh
kontraksi otot polos, terutama terjadi di empedal (gizzard) yang dibantu
oleh bebatuan (grit). Pencernaan ini banyak terjadi pada ayam yang
dipelihara secara umbaran sehingga mendapatkan grit lebih banyak
daripada ayam yang dipelihara secara terkurung.
2. Pencernaan secara kimiawi (enzimatik); Pencernaan secara kimia
dilakukan oleh enzim pencernaan yang dihasilkan: (1) kelenjar saliva di
mulut; (2) enzim yang dihasilkan oleh proventrikulus; (3) enzim dari
pankreas; (4) enzim empedu dari hati; dan (5) enzim dari usus halus.
Peranan enzim-enzim tersebut sebagai pemecah ikatan protein, lemak, dan
karbohidrat.
3. Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya sedikit sekali) dan terjadi di
sekum dan kolon.
4

Saluran pencernaan pada unggas terdiri dari mulut, oesophagus, tembolok,


proventriculus, ventriculus (gizzard), usus halus yang terdiri dari duodenum,
jejenum, dan ileum, caecum, usus besar, dan cloaca. Selain itu terdapat organ
asesori terdiri dari pancreas, liver, dan hati (Suprijatna dkk., 2008).

Ilustrasi 1. Sistem Pencernaan Unggas (Nesheim dkk., 1979).


Mulut unggas tidak memiliki gigi, sehingga tidak bisa memecah makanan
di dalam mulut (Anggorodi, 1984). Mulut ayam di dalamnya terdapat lidah yang
berfungsi untuk mendorong makanan masuk kedalam oesophagus. Kelenjar saliva
mengeluarkan sejenis mukosa yang berfungsi sebagai pelumas makanan untuk
mempermudah masuk ke oesophagus (Nesheim dkk., 1979). Air diambil dengan
cara menyendok saat minum dengan menggunakan paruh (beak), dan masuk ke
dalam kerongkongan setelah kepala menengadah dengan memanfaatkan gaya
gravitasi (North, 1978).
Oesophagus atau kerongkongan berupa pita tempat pakan, melalui saluran
ini dari bagian belakang mulut (pharynx) ke proventrikulus (Suprijatna dkk.,
2005). Oesophagus adalah organ yang menghubungkan faring dan lambung.
Relatif pendek. Diameter potensialnya kurang lebih 7 cm di kedua ujung dan 4,2
cm di bagian tengah. Bolus bahan makanan yang dibentuk dalam rongga mulut
5

dapat berjalan melalui oesophagus tersebut oleh adanya gerakan peristaltik dari
oesophagus, adanya tekanan bukkofaringeal dan gaya gravitasi bumi. Peristaltik
tersebut terjadi setelah proses penelanan bolus bahan makanan (peristaltik primer)
dan akibat rangsangan-rangsangan bolus-bolus itu sendiri terhadap oesophagus
dalam perjalannya ke lambung (Frandson, 1993).
Tembolok mempunyai bentuk seperti kantong atau pundi-pundi yang
merupakan perbesaran dari oesophagus (Nesheim dkk., 1979). Tembolok
berperan sebagai tempat penyimpanan pakan. Sedikit atau bahkan tidak ada
proses pencernaan di sini, kecuali pencampuran sekresi saliva dari mulut yang
dilanjutkan aktivitasnya di tembolok (Suprijatna dkk., 2005). Pakan disimpan
dalam tembolok hanya sementara. Pelunakan dan pencampuran pakan terjadi di
sini oleh kerja enzim (Blakely dan Bade, 1992).
Proventriculus merupakan perbesaran terakhir dari oesophagus dan juga
merupakan perut sejati dari ayam. Juga merupakan kelenjar, tempat terjadinya
pencernaan secara enzimatis, karena dindingnya disekresikan asam klorida, pepsin
dan getah lambung yang berguna mencerna protein (Nesheim dkk., 1979). Karena
makanan berjalan cepat dalam jangka waktu yang pendek di dalam proventriculus,
maka pencernaan pada material makanan secara enzimatis sedikit terjadi (North,
1978).
Gizzard berbentuk oval dengan dua lubang masuk dan keluar pada bagian
atas dan bawah. Bagian atas lubang pemasukkan berasal dari proventriculus dan
bagian bawah lubang pengeluaran menuju ke duodenum (Nesheim dkk., 1979).
Ventrikulus tersusun dari suatu struktur bertanduk yang berotot tebal.
Penghancuran pakan terjadi secara tidak sadar oleh otot empedal memiliki
kecenderungan untuk menghancurkan pakan seperti yang dilakukan oleh gigi
(Blakely dan Bade, 1992). Fungsi gizzard adalah untuk mencerna makanan secara
mekanik dengan bantuan grit dan batu-batu kecil yang berada dalam gizzard yang
ditelan oleh ayam (Nesheim dkk., 1979). Partikel batuan ini berfungsi untuk
memperkecil partikel makanan dengan adanya kontraksi otot dalam gizzard
sehingga dapat masuk ke saluran intestine (North, 1978).
6

Usus halus (intestinum tenue) dibagi menjadi tiga bagian, yaitu duodenum
penghubung dengan lambung, jejenum adalah bagian tengah, dan ileum yang
menghubungkan dengan usus besar (intestinum crassum) (Tillman dkk., 1998).
Pada bagian duodenum disekresikan enzim pankreatik yang berupa enzim
amilase, lipase dan tripsin (North, 1978). Pencernaan pakan ayam di dalam usus
kecil secara enzimatik dengan berfungsinya enzim-enzim terhadap protein lemak
dan karbohidrat. Protein oleh pepsin dan khemotripsin akan diubah menjadi asam
amino. Lemak oleh lipase akan diubah menjadi asam lemak dan gliserol.
Karbohidrat oleh amilase akan diubah menjadi disakarida dan kemudian menjadi
monosakarida.
Caecum dapat disamakan dengan usus buntu manusia, dengan fungsi yang
tidak diketahui pasti. Usus besar adalah kelanjutan saluran pencernaan dari
persimpangan usus buntu ke kloaka (Blakely dan Bade, 1992). Fungsi utama ceca
secara jelas belum diketahui tetapi di dalamnya terdapat sedikit pencernaan
karbohidrat dan protein dan absorbsi air (North, 1978). Di dalamnya juga terjadi
digesti serat oleh aktivitas mikroorganisma (Nesheim dkk., 1979).
Usus besar absorbsi hasil pencernaan makanan sebagian besar terjadi
dalam usus kecil (halus), maka sebagian bahan-bahan yang dicerna yang masuk
usus besar zat-zat makanannya telah mengalami absorbsi, menyisakan bahan-
bahan yang tahan pencernan yaitu selulose dan hemiselulosa yang dihasilkan
hewan (Tillman dkk., 1998). Pada large intestine terjadi reabsorbsi air untuk
meningkatkan kandungan air pada sel tubuh dan mengatur keseimbangan air pada
unggas (North, 1978).
Kloaka merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan. Kloaka
merupakan lubang pelepasan sisa-sisa digesti, urin dan merupakan muara saluran
reproduksi. Kloaka pada bagian terluar mempunyai lubang pelepasan yang disebut
vent, yang pada betina lebih lebar dibanding jantan, karena merupakan tempat
keluarnya telur (North, 1978).
Liver merupakan organ asesori pada sistem pencernaan. Liver suatu
kelenjar terbesar di dalam tubuh. Liver tersusun dari dua lobi besar. Fungsi
7

fisiologis hati adalah sekresi empedu, detoksifikasi persenyawaan racun bagi


tubuh, metabolisme protein, karbohidrat, dan lipid, penyimpanan vitamin,
penyimpanan karbohidrat, destruksi sel-sel darah merah, pembentukan protein
plasma, dan inaktivasi hormone polipeptida (Suprijatna dkk., 2005).
Kantong empedu merupakan produk liver dan bagian organ asesori. Dua
saluran empedu mentransfer empedu dari hati ke usus (Suprijatna dkk., 2005).
Pancreas terletak diantara duodenum pada usus halus. Sebagai kelenjar
endokrin, pancreas mensekresikan hormone insulin dan glukagon. Pancreas juga
memproduksi enzim seperti tripsin, lipase, dan amilase (Suprijatna dkk., 2005).

2.2 Sistem Reproduksi Unggas Betina


Sistem reproduksi unggas betina terdiri dari alat kelamin primer dan alat
kelamin sekunder. Alat kelamin primer adalah ovarium dan alat kelamin sekunder
adalah oviduct atau saluran telur. Unggas betina secara normal hanya memiliki
ovarium dan oviduct sebelah kiri yang berkembang sempurna (Sarengat, 1982).
Ovarium merupakan bagian alat kelamin primer yang berfungsi sebagai alat
pembentuk telur.

Ilustrasi 2. Sistem Reproduksi Unggas Betina (Nesheim dkk., 1979).


8

Ovarium terletak diantara paru-paru dan ginjal dibawah dan dibelakang


hati, ovarium tersebut terletak pada tulang belakang dan dikelilingi oleh alat-alat
lainnya sehingga ia tertutup dalam suatu kantung ovarium sehingga jalan satu-
satunya adalah oviduct (Sarwono, 1993). Organ reproduksi ayam betina terdiri
dari ovarium dan oviduct. Pada ovarium terdapat banyak folikel dan
ovum. Oviduct terdiri dari infudibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina
(Nalbandov, 1990).
Menurut (Blakely dan Bade, 1991) Ovarium tersebut terletak pada tulang
belakang dan dikelilingi oleh alat-alat lainnya, sehingga ia tertutup dalam suatu
kantong ovarium. Jalan satu-satunya untuk keluar adalah oviduct. Menurut
Yuwanta (2004), oviduct digantung oleh dua lapis lipatan peritoneum yang
membentuk ligamen-ligamen oviduct. Oviduct terdiri dari 5 bagian, yaitu
infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. pada saat dewasa kelamin
panjang total oviduct 70 cm dan berat 40 g.
Sastridihardjo dan Resnawati (1999) infundibulum berfungsi sebagai
corong yang terdapat pada bagian ujung oviduct, di tempat inilah terjadi
pembuahan. Pada bagian leher infundibulum yang merupakan tempat
penyimpanan sperma, sperma juga tersimpan pada bagian pertemuan antara uterus
dan vagina. Penyimpanan ini terjadi pada saat kopulasi hingga saat fertilisasi,
namun menurut North (1978) Infundibulum adalah bagian teratas dari oviduk dan
mempunyai panjang sekitar 9 cm, berbentuk seperti corong atau fimbria dan
menerima telur yang telah diovulasikan. Perbedaan ini disebabkan adanya
perbedaan jenis makanan, penyakit, umur dan jenis unggas (Yuwanta, 2004).
Magnum terletak di bagian bawah funnel, panjang magnum adalah 33 cm,
Magnum tesusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel. Mukosa dari
magnum tesusun dari sel gobelet yang berfungsi dalam mensekresikan putih telur
kental dan cair (Yuwanta, 2004). Albumin pada sebutir telur terdiri dari 4 lapisan.
Masing-masing adalah chalazae (27.0 %), putih kental (57.0 %), putih telur encer
(17.3%) dan putih telur encer bagian luar (23.0%). Keempat lapisan tersebut
9

diproduksi pada magnum, tetapi putih telur encer luar (outer thin white) tidak
lengkap sampai air ditambahkan di uterus (Suprijatna, 2005).
Menurut kisaran normal panjang ishtmus adalah 10 cm. Isthmus
merupakan tempat pembentukan kerabang tipis dan tempat terjadi plumping,
kandungan pada masa ini tidak secara lengkap mengisi membran kerabang dan
telur menyerupai sebuah kantung hanya sebagian yang terisi air (Suprijatna,
2005). Nalbandov (1990) menyatakan bahwa terdapat garis yang memisahkan
antara magnum dan isthmus.
Menurut North (1978), panjang isthmus sekitar 10 cm dan merupakan
tempat terbentuknya membran sel (selaput kerabang lunak) yang banyak tersusun
dari serabut protein, yang berfungsi melindungi telur dari masuknya
mikroorganisme ke dalam telur. Membran sel yang terbentuk terdiri dari membran
sel dalam dan membran sel luar, di dalam isthmus juga disekresikan air ke dalam
albumen. Calon telur di dalam isthmus selama 1,25 jam (Sastridihardjo dan
Resnawati, 1999).
Uterus disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm. Telur yang
berkembang tinggal di uterus sekitar 18-20 jam, lebih lama daripada dibagian lain
dari oviduk (Frandson, 1992). Uterus memiliki fungsi sebagai tempat
pembentukan kerabang telur dan pewarnaan kerabang. Warna kerabang telur
terdiri atas phorpyrin yang terbentuk dibagian ini pada akhir mineralisasi
kerabang telur (Suprijatna, 2005). Tugas uterus adalah menyempurnakan
pembentukan telur, dari uterus telur keluar menuju vagina dan kemudian kloaka
(Hunter, 1995). (North, 1978), uterus merupakan bagian oviduk yang melebar dan
berdinding kuat. Warna dominan dari kerabang telur adalah putih dan cokelat,
yang pewarnaannya tergantung pada genetik pewarnaannya tergantung pada
genetik setiap individu (North, 1978). Protoporphyrin merupakan pigmen coklat
yang menyebabkan warna coklat kemerahan pada kerabang telur, pada ayam yang
menghasilkan telur berkerabang coklat hanya memproduksi senyawa
protoporphyrin menurut (Miksik, dkk., 1996). Organ reproduksi betina yaiti
10

uterus, dimana telur akan mendapatkan kerabang keras yang terbentuk dari garam-
garam kalsium (Nalbandov, 1990).
Vagina merupakan tempat penyimpanan telur sementara waktu, sebelum
telur dikeluarkan dari dalam tubuh. (Sarwono, 1993). Kondisi normal telur
dibentuk bagian tumpul terlebih dahulu. Jika induk tidak terggangu pada saat
bertelur, sebagian besar telur akan dikeluarkan dengan ujung tumpul lebih dulu.
Hal ini tidak diketahui secara pasti sebabnya, tetapi diketahui bahwa sesaat
sebelum dikeluarkan, telur diputar secara horisontal (tidak ujung ke ujung), 180
derajat sesaat sebelum telur itu dikeluarkan.
Ovulasi pada ayam secara normal terjadi 30 menit setelah telur
dikeluarkan. Interval waktu dapat bervariasi antara 7 sampai 74 menit (James
Blakely dan David, 1985). Lebih lanjut menyatakan pengeluaran telur dirangsang
oleh cahaya sehingga merangsang dan meningkatkan suplai FSH. Hormon ini
pada gilirannya melalui aktivitas ovari mengakibatkan terjadinya ovulasi dan
oviposisi.

2.3 Sistem Reproduksi Unggas Jantan


Reproduksi hewan jantan adalah suatu proses yang kompleks yang
melibatkan seluruh tubuh hewan tersebut. Sistem reproduksi akan berfungsi bila
makhluk hidup khusus nya hewan ternak dalam hal ini sudah memasuki dewasa
kelamin. Dewasa kelamin merupakan awal dari berkembangnya alat-alat
reproduksi baik ternak jantan maupun betina (Toilehere. 1997).
Organ reproduksi hewan jantan dapat dibagi atas tiga komponen yaitu
organ kelamin primer, yaitu gonad jantan, dinamakan testis testiculus,
sekelompok kelenjar kelamin pelengkap dan alat kelamin luar atau organ
kopulatoris (Toelihere, 1997).
Sistem reproduksi unggas jantan terdiri dari dua testis berbentuk elips dan
berwarna terang yang masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma yang
bernama vas defferens serta sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem
reproduksi tersebut (Srigandono, 1997).
11

Ilustrasi 3. Sistem Reproduksi Unggas Jantan (Nesheim dkk., 1979).


Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang,
melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum
mesorchium, berdekatann dengan aorta dan vena cava atau dibelakang paru-paru
bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis
selalu 41C - 43C karena spermatogenesis akan terjadi pada temperatur tersebut
(Yuwanta, 2004). Testis pada unggas tidak seperti hewan lainya yang terletak di
dalam skrotum (Nesheim dkk., 1990). Fungsi testis menghasilkan hormon
kelamin jantan yang disebut androgen dan sel gamet jantan yang disebut sperma
(Nalbandov, 1990).
Testis yang berbentuk bulat kacang tersebut besarnya berbeda-beda
tergantung pada umur dan besar unggas (Sarwono, 1993) serta ukuran testis tidak
selalu konstan, karena pada musim kawin testis dapat membesar. Pinggir medial
testis sedikit konkaf dan mempunyi penjuluran kecil pipih yang dianggap sama
seperti epididimis pada mamalia. Keluarnya saluran vas defferens yang secara
bergelombang-gelombang lateral terhadap ureter masuk ke dalam kloaka
(Soegiarsih, 1990).
Saluran defferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang
merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan
perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran defferens (Yuwanta,
2004). Masing-masing vas defferens menuju papillae yang berfungsi sebagai
12

organ kopulatoris yang mengalami rudimenter. Papillae ini terletak di bagian


tengah kloaka (Sarengat, 1982). Fungsi reproduksi pada alat kelamin jantan dibagi
menjadi tiga, yang pertama sebagai proses spermatogenesis atau pembentukan
sperma, kedua kinerja kegiatan seksual alat kelamin jantan dan yang ketiga adalah
pengaturan fungsi reproduksi alat kelamin jantan oleh berbagai hormon (Guyton
& Hall, 1997).