Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH OPTIK

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA PADA SAYAP KUPU-KUPU


MORPHO BIRU

disusun oleh :

Agata Kiki Mayangsari

Husnul Apriani (145090301111031)

Muhammad Reza Firhan

Shabrina Rizqi Hawadah (145090307111001)

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bidang yang terkait dengan analisis perilaku cahaya dikenal dengan sebutan optik.
Optik berkaitan erat dengan fenomena lebar spektrumnya. Jika lubang, atau obyek yang
harus dilalui cahaya menjadi sangat kecil sehingga ukurannya mendekati panjang
gelombang dari cahaya tersebut maka terjadi pembelokkan cahaya (difraksi).
Optika dibagi menjadi dua studi pembahasan diantaranya : optika geometris dan optika
fisis. Optika geometris mempelajari mengenai, pemantulan, pembiasan, dan disfersi
cahaya. Optic geometri menyatakan cahaya yakni garis-garis lurus yang dibelokan pada
permukaan yang merefleksikan atau merefraksikan cahaya.
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang kasat mata panjang
gelombangnya sekitar 380-750 nm.Sifat cahaya sendiri adalah bergerak lurus ke semua
arah Gelombang elektromagnetik dapat digambarkan dengan dua buah gelombang
transversal pada bidang tegak lurus yaitu antara medan listrik dan medan magnet.Hanya
sedikit gelombang yang tampak oleh mata kita (visible).
Gelombang elektromagnetik adalah permukaan sebuah konduktor atau permukaan
sebuah dielektrik dapat berperan sebagai reflektro. Prinsip superposisi berlaku untuk
gelombang elektromagnetik sama persis seperti untuk medan listrik dan medan magnet.
Superposisi dari sebuah gelombang masuk dan sebuah gelombang yang direfleksikan
membentuk suatu gelombang berdiri. Gelombang elektromagnetik meliputi spectrum
panjang gelombang dan frekuensi yang sangat lebar. Spectrum elektromagnetik ini
mencakup transmisi radio dan TV, cahaya tampak, radiasi inframerah dan ultraviolet,
sinar-x, dan sinar gamma.

1.2 Rumusan Masalah


a) Bagaimana proses pemantulan dan pembiasan cahaya?
b) Apa yang menyebabkan terjadinya gelombang elektromagnetik?
c) Apa yang dimaksud dengan interferensi cahaya?
d) Bagaimana cara terjadinya interferensi pada sayap kupu-kupu morpho
1.3 Tujuan
a) Menjelaskan proses pemantulan dan pembiasan cahaya
b) Menjelaskan penyebab terjadinya gelombang elektromagnetik
c) Menjelaskan maksud dari interferensi cahaya
d) Menjelaskan cara terjadinya interferensi pada sayap kupu-kupu morpho

1.4 Manfaat
Makalah ini memberikan wawasan terjadinya interferensi cahaya dan menunjukkan
fenomena alam yang terjadi akibat interferensi tersebut kepada pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Proses pemantulan dan pembiasan cahaya


Pemantulan cahaya terjadi apabila pancaran cahaya mengenai bidang pantul
kemudian bidang pantul tersebut meneruskan pancaran cahaya. Hukum pemantulan
cahaya adalah cermin datar memantulkan cahaya yang datang pada media. Sinar dari
kotak cahaya yang ditutup dengan celah tunggal diarahkan ke cermin datar, sinar
mengalami pemantulan.

Ternyata sinar datang, garis normal, dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar.
Bunyi hukum pemantulan :
1. Sinar datang, garis normal, dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar.
2. Sudut datang, sama besar dengan sudut pantul.

Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokkan cahaya karena


melalu dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya dibedakan
menjadi dua macam, yaitu :

1. Mendekati garis normal


Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium
optic kurang rapat ke medium optic lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari
udara ke dalam air.
2. Menajuhi garis normal
Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari medium optic
lebih rapat ke medium optic kurang rapat.
Syarat terjadinya pembiasan :
1. Cahaya melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya
2. Cahaya datang tidak tegak lurus terhadap bidang batas.

Pembiasan cahaya dapat terjadi dikarenakan perbedaan laju cahaya pada


kedua medium. Laju cahaya pada medium yang rapat lebih kecil dibandingkan dengan
laju cahaya pada medium yang kurang rapat. Christian Huygens (1629-1695) mengatakan
perbandingan laju cahaya dalam ruang hampa dengan laju cahaya dalam suatu zat
disebabkan indeks bias.

2.2 Penyebab terjadinya gelombang elektromagnetik


Para fisikawan telah menemukan perubahan medan listik menimbulkan medan
magnet pada abad ke 19. Seorang fisikawan, Faraday mengemukakan bahwa perubahan
medan magnet dapat menghasilkan gaya gerak listrik atau medan listrik. Tetapi, Maxwell
menyatakan bahwa medan listrik juga dapat menghasilkan medan magnet. Menurut
Maxwell, fenomena listrik dan medan dapat digambarkan dengan persamaan yang
melibatkan medan listrik dan medan magnet.
Pada tahun 1864, seorang ahli Fisika James Clerk Maxwell menyatakan suatu hipotesis
berikut.
Oleh karena perubahan medan magnet dapat menimbulkan medan listrik,
sebaliknya perubahan medan listrik pun dapat menimbulkan perubahan medan
magnet.

Maxwell mengemukakan suatu hipotesis yang mengacu pada tiga aturan dasar listrik
magnet, yaitu :

1. Muatan listrik dapat menghasilkan medan listrik di sekitarnya (Hukum


Coulumb).
2. Arus listrik atau muatan listrik yang mengalir dapat menghasilkan medan
magnet di sekitarnya (Hukum Biot-Savart).
3. Perubahan medan magnet dapat menghasilkan medan listrik (Hukum Faraday).

Maxwell kemudian melakukan percobaan terhadap dua buah isolator, yang


masing-masing diikat pada ujung pega dan diberi muatan yang berbeda (positif
dan negatif). Pegas tersebut kemudian digetarkan sehingga jarak antara kedua
muatan berubah-ubah terhadap waktu di sekitarnya. Menurut Maxwell, perubahan
medan listrik tersebut dapat menimbulkan medan magnet yang juga berubah-ubah
terhadap waktu.

Gambar 1. Perubahan medan magnet yang dapat menghasilkan gelombang


elektromagnetik

Perubahan medan magnet yang terjadi, akan menimbulkan kembali medan listrik.
Timbulnya medan listrik ditandai dengan adanya gelombang elektromagnetik. Seterusnya
hingga diperoleh hubungan berantai pembentukan medan magnet dan medan listrik yang
merambat ke segala arah.
Gambar 2. Perambatan gelombang elektromagnetik yang tegak lurus arah medan
listrik dan medan magnet

Penjelasan dari gambar di atas adalah arah medan magnet selalu tegak lurus dengan
arah medan listrik, sedangkan arah rambat gelombang elektromagnetik selalu tegak lurus
dengan medan listrik dan medan magnet sehingga gelombang elektromagnetik termasuk
gelombang transversal.

Pada tahun 1887, ilmuwan fisika yaitu Heinrich Hertz menguji hipotesa Maxwell
menggunakan kumparan Ruhmkorf, seperti gambar di bawah ini.

Gambar 3. Kumparan Ruhmkorf untuk membangkitkan dan mendeteksi

gelombang elektromagnetik

Ketika saklar S pada kumparan digetarkan maka menginduksikan pulsategangan


pada kedua elektrode bola di sisi A sehingga terjadi percikan api karena adanya pelepasan
muatan. Percikan bunga api di sisi A diikuti percikan bunga api pada kedua elektrode
bola di sisi B. Berdasarkan pengamatn ini, disimpulkan terjadi pengiriman tenaga
gelombang elektromagnetik dari sisi A ke sisi B.kemudian, Hertz berhasil mengukur
bagian gelombang elektromagnetik yang lain, seperti gelombang elektromagnetik
frekuensi radio dengan nilai frekuensi 100MHz

Beberapa sifat gelombang elektromagnetik sebagai berikut :

1. Perubahan medan listrik dan medan magnet terjadi pada asaat yang
bersamaan. Arah medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus.
2. Kuat medan listrik dan medan magnet besarnya berbanding lurus satu dengan
yang lain.
3. Arah perambatan gelombang elektromagnetik selalu tegak lurus arah medan
listrik dan medan magnet.
4. Gelombang elektromagnetik dapat merambat dalam ruang hampa
5. Gelombang elektromagnetik merambat dengan laju yang hanya bergantung
pada sifat-sifat listrik dan magnet medium.
6. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang transversal.
7. Gelombang elektromagnetik merambat dalam arah garis lurus.
8. Gelombang elektromagnetik dapat mengalami proses pemantulan, pembiasan,
polarisasi, interferensi, dan difraksi(lenturan).

2.3 Cara terjadinya interferensi pada sayap kupu-kupu morpho


Interferensi adalah paduan dua gelombang atau lebih menjadi satu gelombang baru.
Dua buah cahaya yang menghasilkan pantylan salah satunya memantul pada permukaan
luar dan lainnya memantul pada permukaan dalam sehingga menimbulkan gelombang
baru. Dua berkas cahaya disebut koheren jika kedua cahaya itu memeiliki beda fase tetap.
Jika rasio pantulan dari kedua gelombang itu relative kuat maka hal itu dsebut dengan
interferensi konstruktif. Interferensi konstruktif terjadi ketika gelombang yang datang
adalah sefase atau memiliki beda fase 0o sehingga gelombang baru yang terbentuk adalah
penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Gelombang resultannya memiliki amplitude
maksimum. Sedangkan jika rasio pantulan dari kedua gelombang relative lemah maka hal
itu disebut dengan interferensi destruktif. Interferensi destruktif terjadi ketika gelombang
yang datang memiliki beda fase 180o atau berlawanan fase sehingga kedua gelombang
saling melemahkan. Gelombang resultan memiliki amplitudo nol.

Gambar 4. Pola interferensi destruktif dan interferensikonstruktif

Pola interferensi dua cahaya diselidiki oleh Fresnel dan Young. Fresnel melakukan
percobaan interferensi dengan menggunakan rangkaian dua cermin datar untuk
menghasilkan dua sumber cahaya kohern dan sebuah sumber cahaya di depan cermin.
Young menggunakan celah ganda untuk menghasilkan dua sumber cahaya kohern.
a. Percobaan Fresnel

Gambar 5. Diagram eksperimen interferensi Fresnel

Pada gambar diatas, sumber cahaya monokromatis S0 ditempatkan di depan dua


cermin datar yang dirangkai membentuk sudut tertentu. Bayangan sumber
cahaya S0 oleh kedua cermin, yaitu S1dan S2berlaku sebagai pasangan cahaya kohern
yang berinterferensi. Pola interferensi cahaya S1danS2ditangkap oleh layar.Jika
terjadi interferensi konstruktif, pada layar akan terlihat pola terang. Jika terjadi
interferensi destruktif, pada kayar akan terlihat pola gelap.
b. Interferensi Celah Ganda

Gambar 6. Interferensi konstruktif

Inteferensi maksimum (konstruktif) yang ditandai pola terang akan terjadi jika
kedua berkas gelombang fasenya sama. Ingat kembali bentuk sinusoidal fungsi
gelombang berjalan pada grafik simpangan (y) versus jarak tempuh (x). Dua
gelombang sama fasenya jika selisih jarak kedua gelombang adalah nol atau
kelipatan bulat dari panjang gelombangnya.

Gambar 7. Selisih lintasan kedua berkas adalah d sin

2.4 Interferensi pada Sayap Kupu-Kupu Morpho

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa interferensi merupakan sifat cahaya yang


dapat diamati ketika perbedaan gelombang cahaya dicampur bersamaan. Warna-
warni pelangi menunjukkan bahwa sinar matahari adalah gabungan dari berbagai
macam warna dari spektrum kasat mata. Di lain fihak, warna pada gelombang sabun,
lapisan minyak, warna bulu burung merah, dan burung kalibri bukan disebabkan oleh
pembiasan. Hal ini terjadi karena interferensi konstruktif dan destruktif dari sinar
yang dipantulkan oleh suatu lapisan tipis. Adanya gejala interferensi ini bukti yang
paling menyakinkan bahwa cahaya itu adalah gelombang. Interferensi cahaya bisa
terjadi jika ada dua atau lebih berkas sinar yang bergabung. Jika cahayanya tidak
berupa berkas sinar, maka interferensinya sulit diamati. Interferensi cahaya sulit
diamati karena dua alasan :

1. Panjang gelombang cahaya sangat pendek, kira-kira 1% dari lebar rambut


2. Setiap sumber alamiah cahaya memancarkan gelombang cahaya yang
fasenya sembarang (random) sehingga interferensi yang terjadi hanya
dalam waktu sangat singkat. Inteer.

Jadi, interferensi cahaya tidaklah senyata sepert interferensi pada gelombang air
atau gelombang bunyi, inteferensi terjadi jika terpenuhi dua syarat berikut ini :

1. Kedua gelombang cahaya harus koheren, dalam arti bahwa kedua


gelombang cahaya harus memiliki beda fase yang selalu tetap, oleh sebab
itu keduanya harus memiliki frekuensi yang sama
2. Kedua gelombang cahaya harus memiliki amplitude yang hamper sama.

Kupu-kupu Morpho jantan merupakan spesies kupu-kupu yang terdapat di hutan


hujan tropir Amerika Selatan. Kupu-kupu tersebut memiliki warna biru yang cerah dan
dikenal sebagai kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu morpho mendapatkan warna birunya
yang luar biasa dari bentuk sisik-sisik renik pada sayapnya, setiap sisik tertutupi oleh
kepak-kepak tegak dan jarak antar kepak adalah persisi setengah panjang gelombang
jenis cahaya biru tertentu. Kepak-kepak itu berfungsi sebagai jeruji difraksi alamiah.Jika
cahaya putih jatuh pada sayap kupu-kupu itu, bagian terbesar warna itu terserap. Cahaya
biru dipantulkan sedemikian rupa sehingga terjadi interferensi konstruktif yang
menyebabkan sayap berwarna cemerlang.
Gambar 8. Sayap Kupu-kupu Morpho

Warna biru cerah pada warna kupu-kupu tidak disebabkan warna pigmen pada
sayap, tetapi disebabkan karena adanya efek multi interferensi dari cahaya yang
dipantulkan oleh lapisan tipis lamellae. Lapisan tersebut berbentuk bukit seperti kisi
yang terdapat pasa sayap kupu-kupu. Lapisan lamellae juga menyebabkan cahaya
terdifraksi. Kombinasi dari kedua efek tersebut menyebabkan sebuah spectrum refleksi
dengan intensitas tinggi yang sangat tergantung pada sudut.

Multi interferensi merupakan sumber warna biru yang ditampilkan oleh sayap dan
disebabkan interferensi antara lamellae dan lapisan udara diantara lamellae, sedangkan
difraksi berasal dari serangkaian gununang lamellae yang tersusun secara periodic.
Difraksi membantu memperbesar sudut yang tergantung pada panjang gelombang cahaya.
Hamburan juga terjadi karena ketidakteraturan ketinggian struktur permukaan sayap,
mengakibatkan keterganggunya dari koherensi antara tonjolan lamellae dan menghasilkan
warna yang seragam.

Terdapat dua lapisan sisik pada sayap kupu-kupu. Lapisan bawah sesnsitif terhadap
cahaya, dan sisik transparan yang berperan sebagai pendisfus optic untuk cahaya datang
dan memperluas sudut. Struktur bukitan (ridge) terdapat pada sisik bawah, yang tersusun
antara 2 dan 12 lapisan lamellae sepanjang rankaian bukitan (ridge)dan sedikit miring
keatas.Lamellae diposisikan asimetris sekitar pusat punggungan (ridge) dipisahkan oleh
sebuah jaringan trabekula untuk membentuk crossection seperti pohon Periodisitas
pegunungan terletak diantara 300nm dan 2000nm,dengan lebar punggung total antara 500
nm dan 700nm, tetapi meskipun ini, sedikit variasi terlihat alam warna yang berbeda
dari spesies kupu-kupu Morpho, itu adalah intensitas warna yang bervariasi, dari biru
berintensitas tinggi ke biru muda.
Lamellae memiliki ketebalan sekitar 60 nm dan terpisah sejauh 200 nm. Lamellae
dan jarak diantaranya bertindak sebagai multilayer yang menyebabkan interferensi
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Interferensi merupakan penjumlahan superposisi dari dua gelombang atau lebih


yang meimbulkan pola gelombang yang baru. Interferensi cahay terbagi menjadi dua
yaitu interferensi konstruktif (menguatkan) dan interferensi destruktif (melemahkan).
Proses interferensi cahaya ini juga terjadi pada sayap kupu-kupu morpho, dimana
proses interferensi yang terjadi menunjukkan bukti bahwa cahaya memancarkan
gelombang elektromagnetik. Sayap kupu-kupu morpho yang berwarna biru tidak
disebabkan karena pigmen dari kupu-kupu itu sendiri melainkan efek multi
interferensi dari cahaya yang dipantulkan oleh lapisan tipis lamellae.