Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gagal jantung adalah syndrome klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai
oleh sesak napas dan fatigue (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh
kelainan struktur atau fungsi jantung. Gagal jantung dapat disebabkan oleh gangguan
yang mengakibatkan terjadinya pengurangan pengisian ventrikel (disfungsi diastolic)
dan/atau kontraktilitas miokardial (disfungsi sistolik). (Sudoyo, Ari. et. al, 2009)
Saat ini gagal jantung merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang
terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal
jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan
meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung
merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit
(readmission) meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal.
(Suryadipraja, R. Miftah, 2006).
Menurut Smeltzer C. Suzanne (2013), tanda dan gejala jantung dapat
dihubungkan dengan ventrikel yang mengalami gangguan. Gagal jantung kiri
memiliki manifestasi yang berbeda dari gagal jantung kanan. Pada gagal jantung
kronik, pasien bisa menunjukkan tanda dan gejala dari kedua tipe gagal jantung
tersebut.Hal ini sangat membahayakan bagi kehidupan seseorang, sehingga
untuk mencegah komplikasi lebih lanjut harus segera mendapat perawatan medis di
rumah sakit. Untuk memberikan perawatan medis yang tepat dan efektif, khususnya
bagi tenaga keperawatan, harus memahami konsep asuhan keperawatan pada
gangguan kardiovaskuler. Apalagi dalam keadaan kedaruratan yang membutuhkan
keahlian dalam memberikan pertolongan pada pasien. Berdasarkan sedikit ulasan
diatas, maka penulis tertarik untuk membahas konsep dari Gagal Jantung dan
memberikan asuhan keperawatan pada Tn. A dengan gagal jantung di RSUD
Surakarta yang sesuai dengan kasus pada penugasan mata kuliah Sistem endokrin di
STIKES Kusuma Husada Surakarta.
B. Tujuan
1. Tujuan umum :
Mengetahui konsep dasar dari gagal jantung dan asuhan keperawatan yang
tepat pada pasien dengan gagal jantung.
2. Tujuan khusus :
Diharapkan mahasiswa mampu:
a. Menjelaskan definisi gagal jantung,
b. Menyebutkan dan menjelaskan penyebab atau etiologi dari gagal jantung,
c. Menyebutkan tanda dan gejala pasien yang menderita gagal jantung,
d. Menjelaskan patofisiologi penyakit gagal jantung
e. Menggambarkan pathway gagal jantung,
f. Menjelaskan apa saja pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan pada
pasien diabetes mellitus,
g. Menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan yang tepat bagi pasien
diabetes mellitus,
h. Mengetahui komplikasi dari diabetes mellitus,
i. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus.
Mengetahui konsep dasar dari Gagal Jantung dan asuhan keperawatan yang tepat
pada pasien dengan Gagal Jantung
3. Tujuan khusus :
Diharapkan mahasiswa mampu:
j. Menjelaskan definisi gagal jantung,
k. Menyebutkan dan menjelaskan penyebab atau etiologi dari gagal jantung,
l. Menyebutkan tanda dan gejala pasien yang menderita gagal jantung,
m. Menjelaskan patofisiologi penyakit gagal jantung dalam sebuah pathway,
n. Menjelaskan apa saja pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan pada
pasien gagal jantung,
o. Menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan yang tepat bagi pasien
gagal jantung,
p. Mengetahui komplikasi dari gagal jantung,
q. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Gagal jantung adalah syndrome klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai
oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan oleh
kelainan struktur atau fungsi jantung. Gagal jantung dapat disebabkan oleh gangguan
yang mengakibatkan terjadinya pengurangan pengisian ventrikel (disfungsi diastolic)
dan/atau kontraktilitas miokardial (disfungsi sistolik). (Sudoyo, Ari. et. al, 2009)
Gagal jantung kongestif terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang dan
ventrikel tidak mampu memompa keluar darah sebanyak yang masuk selama diastole.
(Corwin, Elizabeth J, 2009)
Gagal jantung (HF), terkadang disebut gagal jantung kongestif, adalah
ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah cukup untuk
memebuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan. (Smeltzer C. Suzanne, 2013)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa gagal jantung adalah ketidakmapuan jantung
untuk memompa darah yang terjadi sewaktu kontraktilitas jantung berkurang yang
ditandai oleh sesak napas dan fatigue.

B. Etiologi
Penyebab gagal jantung menurut Oktavianus dan Sari, F. S. (2014)
di kelompokkan sebagai berikut :
1. Kelainan otot jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung menyebabkan
kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan otot jantung
mencakup aterosklerosis coroner, hipertensi aterial dan penyakit otot degenerative
atau inflamasi.
2. Aterosklerosis coroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena
terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat
penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya
mendahului terjadinya gagal jantung.
3. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatkan afterload) meningkatkan beban
kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.
4. Peradangan dan penyakit miokardium degenerative berhubungan dengan gagal
jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung,
menyebabkan kontraktilitas menurun,
5. Penyakit jantung lain, gagal jantung dapat tejadi sebagai berikut penyakit jantung
yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang
biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah melalui jantung (stenosis katub
semilunar), ketidakmampuan jantung jantung untuk mengisi darah (tamponade
pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV). Peningkatan mendadak
after load akibat hipertensi maligna dapat menyebabkan gagal jantung meskipun
tidak disertai hipertrofi miokardial.
6. Faktor sistemik
Terdapat sejumlah besar factor yang berperan dala perkembangan dan beratnya
gagal jantung. Meningkatnyalaju metabolism (misal : demam, tirotoksikosis),
hipoksia dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi
kebutuhan oksigen sistemik. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnomalitas
elektronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung.

C. Manifestasi Klinis
Smeltzer, C. Suzanne (2001) menyatakan bahwa tanda dominan gagal jantung
adalah meningkatknya volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan
arteri dan vena yang meningkat akibat turunnya curah jantung pada kegagalan
jantung. Peningkatan tekanan vena pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir
dari kapiler paru ke alveoili, akibatnya terjadi edema paru, yang dimanifestasikan
dengan batuk dan napas pendek. Meningkatnya tekanan venan sistemik dapat
mengakibatkan edema perifer umum dan penambahan berat badan. Turunnya curah
jantung pada gagal jantung dimanifetasikan secara luas karena darah tidak dapat
mencapai jaringan dan organ (perfusi rendah) untuk menyampaikan oksigen yang
dibutuhkan. Beberapa efek yang biasanya timbul akibat perfusi rendah adalah pusing,
konfusi, kelelahan, tidak toleran terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin, dan
haluaran urin berkurang (oliguri). Tekanan perfusi ginjal menurun, mengakibatkan
pelepasan renin dari ginjal, yang pada gilirannya akan menyebabkan sekresi
aldosteron, retensi natrium dan cairan, serta peningkatan volume intravaskuler.
D. Patofisiologi
Menurut Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan
kemampuan kontraktilitas, yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah
jantung normal. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO
= HR x SV dimana curah jantung (CO : Cardiak Output) adalah fungsi frekuensi
jantung (HR:Heart Rate) x volume sekuncup (SV: Stroke Volume). (Smeltzer, C.
Suzanne, 2001)
Kontraktilitas jantung menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah
jantung normal. Bila curah jantung berkurang, sistem saraf simpatis akan
mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Bila
mekanisme ini gagal, maka volume sekuncuplah yang harus menyesuaikan. Volume
sekuncup adalah darah yang di pompa pada di setiap kontraksi, yang dipengaruhi oleh
faktor yaitu preload (jumlah darah yang mengisi jantung), kontraktilitas (perubahan
kekuatan kontraksi yang terjadi pada tingkat pada tingkat sel kalsium), dan afterload
(besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan
perbedaan tekanan yang di timbulkan oleh tekanan arteriol). Apabila salah satu
komponen itu terganggu maka curah jantung akan menurun. (Oktavianus dan Sari, F.
S. 2014)
Kelainan fungsi otot jantung disebabkan karena aterosklerosis coroner,
hipertensi arterial dan penyakit otot degenerative atau inflamasi. Aterosklerosis
coroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke
otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark
mikardium biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Hipertensi sistemik atau
pulmonal (peningkatkan afterload) meningkatkan beban jantung dan pada gilirannya
mengdak dapat akibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi
miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan
kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertrofi otot jantung tadi
tidak dapat berfungsi secara normal, dan akhirnya akan terjadi gagal jantung.
(Oktavianus dan Sari, F. S. 2014)
Gagal jantung dapat dimulai di sisi kiri atau kanan jantung. Sebagai contoh,
hipertensi sistemik yang kronik akan menyebabkan ventrikel kiri mengalami
hipertrofi dan melemah. Hipertensi paru yang berlangsung lama juga akan
menyebabkan ventrikel kanan mengalami hipertrofi dan melemah. Letak suatu infark
miokardium akan menentukan sisi jantung yang pertama kali terkena setelah terjadi
serangan jantung. Misalnya, ventrikel kiri yang melemah akan menyebabkan darah
kembali ke atrium, lalu ke sirkulasi paru, ventrikel kanan, dan atrium kanan, maka
jelaslah bahwa gagal jantung kiri akhirnya akan menyebabkan gagal jantung kanan.
Karena darah tidak dipompa secara optimum keluar dari sisi kanan jantung, maka
darah mulai terkumpul di sistem yang perifer. Hasil akhirnya adalah semakin
berkurangnya volume darah dalam sirkulasi dan menurunnya tekanan darah serta
perburukan siklus gagal jantung (Corwin, Elizabeth J, 2009)

E. Pathway
Gangguan pertukaran gas
F. Pemeriksaan Penunjang
Oktavianus dan Sari, F. S. (2014) menjabarkan pemeriksaan penunjang
untuk gagal jantung sebagai berikut:
1. EKG
Mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpanan aksis, iskemia
dan kerusakan pola.
2. Rontgen dada
Rontgen dada menunjukkan pembesaran jantung yang ditunjukkan dengan
CTR ( cardio thoraxic ratio)
3. Scan jantung
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan jantung
4. Kateterisasi jantung
Tekanan abnormal menunjukkan indikasi dan membantu membedakan
gagal jantung sisi kanan dan kiri, stenosis katub atau insufisiensi serta
mengkaji potensi arteri coroner.
5. Endokardiogram
Menggambarkan ruang-ruang katub jantung.
6. Hematologi dan kimia klinik
Pemeriksaan yang dilakukan adalah Hb, Ht, Leukossit, ureum, kreatinin,
SGOT, SGPT, gula darah, kolesterol, dan trigiserida.
7. Elektrolit (Na, K, Cl, Mg)
Mungkin berubah karena perpindahan cairan, penurunan fungsi ginjal, dan
terapi diuretic.
8. Oksimetri nadi
Saturasi oksigen mungkin rendah terutama jika CHF memperburuk PPOM.
9. AGD
Gagal ventrikel kiri ditandai alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia
dengan peningkatan tekanan karbondioksida.
10. Enzim jantung
11. Meningkat bila terjadi kerusakan jaringan-jaringan jantung, missal infark
miokard (Kreatinin fosfokinase/CPK, isoenzim CPK dan Dehigrogenase
Laktat/LDH, isoenzim LDH)

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Menurut Smeltzer C, Suzanne (2013) tujuan penatalaksanaan gagal
jantung adalah untuk meredakan gejala, memperbaiki status fungsional dan
memperbaiki kualitas hidup, serta meningkatkan harapan hidup.
Penatalaksanaan medis pada pasien gagal jantung meliputi:
a. Terapi Farmakologis:
1) Tunggal atau kombinasi: pemberian terapi vasodilator (inhibitor
ACE), penyekat reseptor angiotensin II (ARB), penyekat beta,
penyekat saluran kalsium, terapi diuretic, gilkosida jantung
(digitalis), dan lain-lain
2) Infusi intravena: nesitrida, milrinzne, dobutamin
3) Obat obat untuk mengurangi disfungsi diastolic
4) Antikoagulan, obat obatan untuk mengontrol hyperlipidemia
(statins)
b. Penatalaksanaan bedah:
Pembedahan pintas coroner, angioplasty coroner transluminal perkutan
(PTCA), dan beberapa terapi inovatif yang diindikasikan (pemasangan
alat bantu jantung, transplantasi)
2. Penatalaksanaan keperawatan
Oktavianus dan Sari, F. S. (2014) menjabarkan, penatalaksanaan
keperawatan atau nonfarmakologis pada pasien gagal jantung antara lain:
a. Diit rendah garam
Pembatasan natrium untuk menncegah, mengontrol, atau
menghilangkan edema.
b. Membatasi cairan
Mengurangi beban jantung dan menghindari kelebihan volume cairan
dalam tubuh.
c. Mengurangi berat badan
d. Menghindari alkohol
e. Manajemen stress
Respon psikologis dapat mempengaruhi peningkatan kerja jantung.
f. Mengurangi aktifitas fisik
Kelebihan aktifitas fisik mengakibatkan peningkatan kerja jantung
sehingga perlu dibatasi.

H. Komplikasi
Menurut Patric davay (2005), komplikasi gagal jantung kongestif adalah
sebagai berikut :
1. Efusi pleura: dihasilkan dari peningkatan tekanan kapiler. Transudasi cairan
terjadi dari kapiler masuk ke dalam ruang pleura. Efusi pleura biasanya
terjadi pada lobus bawah darah.
2. Aritmia: pasien dengan gagal jntung kongestif mempunyai risiko untuk
mengalami aritmia, biasanya disebabkan karena tachiaritmias ventrikuler
yang akhirnya menyebabkan kematian mendadak.
3. Trombus ventrikuler kiri: pada gagal jntung kongestif akut dan kronik,
pembesaran ventrikel kiri dan penurunan kardiac output beradaptasi
terhadap adanya pembentukan thrombus pada ventrikel kiri. Ketika
thrombus terbentuk, maka mengurangi kontraktilitas dari ventrikel kiri,
penurunan suplai oksigen dan lebih jauh gangguan perfusi. Pembentukan
emboli dari thrombus dapat terjadi dan dapat disebabkan dari
Cerebrivaskular accident (CVA)
4. Hepatomegali: karena lobus hati mengalami kongestif dengan darah vena
sehingga menyebabkan perubahan fungsi hati. Kematian sel hati, terjadi
fibrosis dan akhirnya sirosis.
I. Asuhan Keperawatan Sesuai Teori
1. Pengkajian
Oktavianus dan Sari, F. S. (2014) menyatakan bahwa, fokus
pengkajian keperawatan ditunjukan untuk mengobservasi adanya tanda-
tanda dan gejala kelebihan cairan paru dan tanda serta gejala sistemis.
a. Aktivitas / istirahat
Keletihan,insmnia, nyeri dada dengan aktifitas, gejala, dyspnea saat
istirahat atau aktifitas, perubahan status mental, tanda vital berubah saat
beraktifitas.
b. Sirkulasi
Riwayat HT,IM akut,GJK sebelumnya, penyakit katub jantung, nadi
apical bunyi jantung S3 galop nadi perifer berkurang perubahan dalam
denyutan nadi jugularis, warna kulit kebiruan, punggung kuku pucat
atau sianosis, hepar adanya pembesaran, bunyi nafas krekles atau
ronkhi edema.
c. Integritas ego
Ansietas, stress, marah, takut, dan mudah tersinggung
d. Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna pekat, berkrmih malam
hari diare/ konstipasi.
e. Makanan / Cairan
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penambahan berat badan
signifikan, pembengkakan ekstremitas bawah, diit tinggi garam
penggunaan, deuretik, distensi abdomen, edema dll.
f. Hygiene
Keletihan selama aktifitas perawatan diri, penampilan kurang
g. Neurosensory
Kelemahan, pusing, letargi, perubahan perilaku dan mudah
tersinggung
h. Nyeri / kenyamanan
Nyeri dada akut / akut kronik, nyeri abdomen, sakit pada otot,
gelisah
i. Pernafasan dan keamanan
Dyspnea saat aktifitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa
bantal, batuk dengan atau sputum, penggunaan bantuan otot
pernafasan / oksigen dll
j. Interaksi social
Penurunan aktivitas yang biasa dilakukan

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Oktavianus dan Sari, F. S. (2014) diagnosa keperawatan
yang mungkin muncul pada pasien gagal jantung antara lain:
a. Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya curah
jantung, hipoksemia jaringan, asidosis, dan kemungkinan thrombus atau
emboli.
b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan sekuncup
jantung.
c. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran darah
ke alveoli atau kegagalan utama paru, perubahan membrane alveolar
kapiler (atelectasis, kolaps jalan nafas/ alveolar edema paru / efusi,
sekresi berlebihan / perdarahan aktif)
d. Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskular berhubungan dengan
penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium/retensi air, peningkatan
tekanan hidrostatikatau penurunan protein plasma (menyerap cairan
dalam area interstisial/jaringan.
e. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan volume paru,
hepatomegaly, splenomegaly.
f. Intoleransi aktifitas dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari
berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen miokard
dan kebutuhan, adanya iskemik/nekrotik jaringan miokard.
3. Intervensi Keperawatan
Oktavianus dan Sari, F. S. (2014) menjabarkan intervensi atau
perencanaan keperawatan pada gagal jantung yang berdasarkan NANDA,
NOC, dan NIC sebagai berikut:
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
No
Keperawatan hasil Keperawatan
1 Perfusi jaringan 1. Status sirkulasi 1. Kaji adanya nyeri
tidak efektif efektif dada
(renal, cereberal, 2. Keseimbangan 2. Pantau frekuensi
perifer, elektrolit dan nadi dan irama
kardiopulmonal & asam basa jantung
GI) berhubungan 3. Status hidrasi baik 3. Obvervasi vital
dengan : 4. Eliminasi usus sigh
1. Hipovolemia/ efektif 4. Timbang BB
hypervolemia Selama dilakukan setiap hari
2. Aliran arteri asuhan keperawatan : 5. Observasi adanya
terhambat 1. Tidak ada nyeri edema
3. Peningkatan dada atau 6. Pantau nilai
masalah abdomen elektrolit dan
4. Reduksi 2. Vital sigh normal asam basa
mekanis dari (Td:,N:,RR 7. Kaji adanya sakit
aliran darah ,S) kepala
vena dan atau 3. Tidak ada bunnyi 8. Kaji adanya
arteri nafas tambahan mental pasien
5. Kerusakan 4. Tidak ada 9. Kaji pupil dan
transportasi kelemahan ketajaman
oksigen ekstrimitas/ pengelihan
melewati paralisis 10. Kaji tingkat
membrane 5. Haluran urine kesadaran dan
kapiler & normal(cc/jam) orientasi pasien
alveolar
6. Tidak 6. AGD normal 11. Berikan terapi
sebanding (Na,K,Cl,Ca,Mg, sesuai program
antara Bicarbonate, medis
ventilasi & BUN, Kreatinin) 12. Obsevasi status
aliran darah 7. Tidak ada mual, hidrasi
7. Penurunan muntah dan (membrane
konsentarasi kesulitan menelan mukosa, nadi,
Hb 8. Tidak ada Td)
perubahan status 13. Kaji intake dan
Data subyektif mental output pasien
Pasien 9. Bising usus
mengatakan : normal(x/menit
1. Kelelahan )
ekstrem/ 10. Tidak ada edema
paralisis 11. Tidak ada disteni
2. kesulitan abdomen
menelan 12. Bentuk, ukuran
3. Nyeri dada kesimetrisan dan
4. Nyeri reaktifitas pupil
abdomen normal
5. Mual/nausea
6. Perasaan akan
mati

Data obyektif
1. Oliguria/
anuria/
haematuria
2. Perubahan
status mental :
menarik diri,
gelisah,
cemas, apatis.
3. Perubahan
reaksi pupil
4. Perubahan
suhu: 0C
5. Sianosis,
dyspnea
6. Denyut nadi
lemah/aritmia
7. Retraksi dada
8. AGD
abnormal
9. Tidak ada
bising usus
10. Distensi
abdomen
11. Edema
12. Nilai GCS:
.EMV

13. Pengisian
kapiler >3
detik
2 Penurunan curah 1. Pompa jantung Perawatan jantung
jantung efektif (cardiac (Cardiac care)
berhubungan pump 1. Evaluasi adanya
dengan : effectiveness) nyeri dada
1. Peruban 2. Status sirkulasi (intensitas,
denyut / irama lancer( circulation lokasi, durasi)
jantung status) 2. Monitor
2. Perubahan 3. Status vital sign pemberian O2
sekuncup normal(controlled 3. Monitor status
jantung vital signs) kardiovaskuler
3. Pre load: Selama dilakukan (disritmia)
distensi V. asuhan keperawatan : 4. Monitor status
jogularis , 1. Tanda vital (TD, pernapasan
edema, N, sirkulasi, suhu, (dyspnea,
peningkatan respirasi dalam ortopnea,
BB rentang normal) tacipnea)
4. After load: 2. Gambaran ECG 5. Monitor balance
kulit dingin, normal tidak ada cairan
pengisian edema paru, edema 6. Monitor toleransi
kapiler, perifer, acites, aktifitas pasien
dyspnea, distensi, vena 7. Atur periode
penurunan leher. latihan dan
nadi perifer, 3. Dapat istirahat untuk
penurunan menteloransi menghindari
tekanan darah, aktifitas, tidak ada kelelahan
oliguria. kelelahan. 8. Atur posisi tidur
5. Penurunan 4. Tidak terjadi sesuai kondisi
kontraktilitas penurunan pasien.
miokard: kesadaran( Monitor tanda vital
krakles, kuantitatif dan (Vital sign
orthopnea, kualitatif) monitoring)
paroksikmal 5. Warna kulit 1. Monitor tanda
nocturnal normal (tidak vital dan GCS
dyspnea sianosis) tiap . jam
6. Nilai AGD normal 2. Monitor warna
Data subyektif (pO2, Pco2,dll..) dan kelembapan
Pasien 7. Bj urine normal kulit
mengatakan: :1,016- 1,030 urine 3. Monitor tanda
1. Cemas, output normal vital saat pasien
gelisah (30cc/jam) berbaring, duduk,
2. Kedinginan berdiri, sebelum.
3. Berat badan Selama, dan
meningkat sesudah pasien
4. Sesak nafas aktivitas
4. Monitor suara
Data obyektif paru dan bunyi
1. Aritmia: jantung
takhikardi, 5. Jelaskan
bradikardi penggunaan,
2. Palpitasi dosis, efek
3. Perubahan samping
EKG pengobatan
4. Edema 6. Berikan
5. Kulit dingin/ informasi
lembab meliputi
6. Nadi menurun pembatasan
7. Nafas pendek aktifitas,
8. Tekanan darah perubahan diet
bervariasi 7. Anjurkan pasien
9. Nafas pendek/ segera
dyspnea melaporkan bila
10. Oliguria
11. Perubahan terjadi nyeri
warna kulit dada, palpitas
12. Suhu: ..0C 8. Kolaborasi :
13. Pengisian medis( untuk
kapiler >2 pemberian terapi
detik antiaritmia,
nitrogliserin,
vasodilator,
antikoagulan,
terapi cairan dan
oksigenasi),
social pastoral,
ahli gizi.
3 Gangguan 1. Kontrol respon Manajemen
pertukaran gas alergi: Sistemis Elektrolit & Asam-
berhubungan (allergic response: basa (Acid base and
dengan: Systemik) electrolyte
1. Ketidakseimb 2. Keseimbangan management)
angan perfusi elektrolit dan asam 1. Pertahankan
ventilasi basa (electrolyte kepatenan
(bronkospasm and acid/Base infus
e/PPOM: balance) 2. Monitor
bronkiestasis, 3. Status respirasi: AGD dan
empisema, pertukaran gas elektrolit dan
asthma) (respiratory abnormalitas
2. Perubahan status: gas serum
membrane exchange) 3. Monitor
kapiler alveoli 4. Status respirasi: kehilangan
(atelektae, ventilasi asam (missal:
kolaps jalan 9respiratory muntah,
napas, edem status: ventilation) output
paru, efusi 5. Perfusi jaringan: nasogastric,
pleura, sekresi pulmonary diare, dan
berlebih/perda adekuat tissue diuresis)
rahan aktif) perforation: 4. Monitor
Data Subyektif pulmonary) kehilangan
Pasien Setelah dilakukan bikarbonat
mengatakan: asuhan keperawatan: (missal:
1. Sakit kepala 1. Tanda-tanda vital drainase
ketika bangun dan irama jantung fistula dan
2. Gangguan normal diare)
penglihatan/vi 2. Bebas dari reaksi 5. Berikan
sual alergi (integritas terapi
3. Kelelahan mukosa utuh) oksigen bila
4. Sesak nafas 3. Nilai WBC dalam perlu
5. Merasa batas normal 6. Monitor
kebingungan 4. Menunjukkan status
keseimbangan neurologi dan
Data Obyektif elektrolit dan asam atau
1. Dispnea basa (Na, K, Cl, neuromuskul
2. Takikardi Ca, Mg, pH, ar (missal:
3. Sianosis HCO3, BUN dalam tingkat
4. Gelisah batas normal) kesadaran
5. Hipoksia, 5. Menunjukkan dan adanya
Hiperkarbia, orientasi kognitif kebingungan,
hipercapnea baik, dan paresthesia,
6. Irama/frekuen kewaspadaan kejang)
si.kedalaman status mental 7. Tingkatkan
nafas 6. Menunjukkan periode
abnormal pertukaran gas istirahat yang
efektif (PaO2 dan adekuat
PaCO2 normal, pH
7. Warna kulit arteri dalam batas 8. Monitor
pucat kehitam normal, saturasi O2 pencatatan
hitaman normal, status input dan
8. Tensi mental dalam batas output yang
MmHg normal, tidak ada akurat
9. RR.. x/mnt dyspnea dan 9. Kolaborasi:
10. Nadix/m sianosis, mampu pemberian
nt bernafas dengan elektrolit
11. SpO2.% mudah) tambahan
12. Agd/BGA 7. Menunjukkan (missal: oral,
abnormal ventilasi adekuat nasogastric,
13. Penurunan (RR, normal, parenteral),
CO2 ekspansi dindingg ahli gizi:
dada simetris, pemberian
suara nafas bersih, diet sesuai
tidak ada: ketidakseimb
penggunaan otot- angan
otot nafas elektrolit
tambahan, retraksi pasien)
dinding dada, 10. Menunjukka
nafas cuping n ventilasi
hidung, dyspnea, adekuat (RR
taktil fremitus) normal,
8. Tidak ada nyeri ekspansi
dada, hemoptysis, dinding dada
kecemasan, AGD simetris,
dalam batas suara nafas
normal bersih, tidak
ada:
penggunaan
otot otot
nafas
tambahan,
retraksi
dinding dada,
nafas cuping
hidung,
dyspnea,
taktil
fremitus)
11. Tidak ada
nyeri dada
hemoptysis,
kecemasan,
AGD dalam
batas normal
Hemodinamic
regulation
1. Auskultasi suara
nafas, bunyi
jantung
2. Monitor nadi
perifer, capillary
refill, suhu dan
warna
ekstremitas,
edema, distensi
JVP
3. Kolaborasi obat
vasodilator dan
atau
vasokonstriktor
4. Identifikasi
sumber alergi
(obat, makanan,
serbuk, debu,
cuaca,...) dan
reaksi yang biasa
terjadi
5. Monitor respon
alergi selama 24
jam
6. Ajarkan atau
diskusikan untuk
menghindari
alergen
Kolaborasi : tes
alergi, obat anti
alergi
4 Kelebihan volume 1. Keseimbangan Managemen Cairan
cairan elektrolit dan acid (fluid management)
berhubungan (asam & basa) 1. Monitor
dengan: (electrolyte and intake&output
1. Mekanisme Acid/bace yang akurat dala
pengaturan balance) 24 jam
melemah 2. Keseimbangan 2. Observasi
2. Kelebihan cairan (fluid adanya odem,
intake cairan balance) ofusi, asites, dan
3. Kelebihan 3. Pengendalian peningkatan BB,
intake sodium cairan tubuh yang sesak nafas,
berlebih (control dispnea,
Data Subyektif of fluid over load orthopnea
saverity)
Pasien 4. Fungs ginjal 3. Ajarkan pada
mengatakan: efektif(kidney pasien dan
1. Mengeluh function) keluarga tentang
sesak nafas Selama dilakukan pembatasan
2. Mengeluh asuhan keperawatan : intake cairan
haus, sakit 1. Tidak ada odem, 4. Kolaborasi untuk
bila menarik peningkatan BB, konseling nutrisi
nafas efusi asites 5. Monitor ynda-
3. Intake lebih 2. Intake dan output tanda vital
banyak dari seimbang 6. Kolaborasi
pada output 3. Tidak ada sesak pemberian terapi,
4. Peningkatan nafas, dispnea, diuritik,
BB yang orthopnea pemeriksaan
cepat 4. Terbebas dari laboratorium
distensi vena yang spesifik,
Data Obyektif jugularis dan tindakan
1. Perubahan 5. Memelihara vena hemodialisis/
tekanan sentral, out put peritonial dialisis
darah:.......mm jantung dan vital sesuai indikasi.
Hg sign dalam batas Monitorng Cairan
2. Oedem normal (Fluid Monitoring)
berkembang 6. Terbebas dari 1. Tentukan
ke anasarka kelelahan dan kemungkinan
3. Oliguria, kecemasan, faktor resiko dari
Azotemia kebingungan ketidak
4. Perubahan 7. Hasil pemeriksaan seimbangan
status mental: laboratorium cairan
5. Gelisah, kearah (hiperthermia,
cemas perbaikan...... terapi deuretik,
6. Perubahan kelainan renal,
pola respirasi gagal jantung,
7. Dyspnea diaporesis,
8. Nafas pendek disfungsi hati)
9. Orthopnea 2. Monitor BB,
10. Suara lingkar perut
abnormal : 3. Montir tekanan
Rales, Crakles darah orthostatik,
Efusi pleura dan perubahan
Distensi vena irama jantung
jugularis 4. Monitor
11. Perubahan parameter
Hb, Hct, hemodinamik
Ieucocyte 5. Kolaborasi untuk
pemasangan DC
6. Ajarkan pasien
dan keluarga
untuk
memperhatikan
penyebab dan
mengatasi
edema,
pembatasan diit,
penggunaaan
dosis dan efek
samping obat
5 Pola nafas tidak 1. Respon Ventilasi Managemen jalan
efektif Mekanik Efektif : nafas (airway
berhubungan Pasien Dewasa managemen)
dengan : (Mechanical 1. Atur posisi tdur
1. Hiperventilasi Ventilation untuk
2. Hypoventilasi Response Adult) memaksimalkan
ventilasi
3. Deformitas 2. Status Pernafasan : 2. Jaga kepatenan
tulang Ventilasi Tidak jalan nafas :
4. Nyeri Terganggu suction, batuk
deformitas (Respiratory efektif
dinding dada Status : 3. Kaji adanya
5. Cemas Ventilation) pucat dan
6. Penurunan Selama dilakukan sianosis
energi / asuhan keperawatan : 4. Tentukan lokasi
kelelahan 1. Sesak nafas dan luasnya
7. Disfungsi berkurang sampai krepitasi diruang
neuro dengan hilang dada
muscular 2. Kedalaman 5. Monitor
8. Kerusakan inspirasi dan kecepatan, irama
persepsi / kemudahan usaha, respirasi
kognitif bernafas dan tanda vital
9. Obesitas 3. Ekspirasi dada tiap.....jam
10. Kerusakan simetris 6. Kaji adanya
musculoskelet 4. Tidak ada penurunan
al: cidera penggunaan otot ventilasi dan
tulang bantu pernafasan, bunyi nafas
belakang tidak ada nafas tambanhan,
11. Posisi tubuh pendek kebutuhan insersi
yang tidak 5. Bunyi nafas jalan nafas
sesuai tambahan tidak 7. Kaji peningkatan
12. Kelelahan otot ada (wheezin, kegelisahan,
pernafasan ronchi,....) ancietas dan
6. Tidak ada nyeri tersenggal-
Data Subyektif dan cemas senggal
1. Pasien 7. Vital sign normal 8. Ajarkan tekhnik
mengatakan : (.......... ) relaksasi
2. Nafas pendek
3. Sesak nafas 8. Tipe pernafasan 9. Kolaborasi:
untuk normal medis(untuk
bernafas (.................) program terapi:
4. Nyeri pemberian
7. Cemas oksigen, obat,
Data Obyektif cairan, nebulizer,
1. Penurunan tindakan/
tekanan pemeriksaan
inspirasi medis,
/ekspirasi pemasangan alat
2. Penggunaan bantu nafas),dan
otot bantu fisioterapi
pernafasan
3. Ekspirasi
memanjang
4. Pernafasan
nasal faring
5. Dyspnea/orth
opnea
6. RR:......x mnt
Nadi:.....x mnt
7. Tipe
pernafasan
(kusmaul,
biot,
cheynestokes,
takipneu)
6 Intoleransi 1. Mentoleransi Manajemen Energi
aktivitas aktivitas yang (Energy
berhubungan biasa dilakukan management)
dengan:
1. Tirah (Activity 1. Kaji respon
baring/Imobili tolerance) emosi, social dan
sasi 2. Mampu spiritual,
2. Kelemahan melakukan terhadap
secara aktivitas sehari- aktivitas
menyeluruh hari (Self Care: 2. Evaluasi
3. Ketidakseimb ADL) motivasi dan
angan antara Selama dilakukan keinginan pasien
kebutuhan & Asuhan keperawatan: untuk
suplai O2 1. Berpartisipasi meningkatkan
4. Gaya hidup dalam aktivitas aktivitas
yang menetap fisik tanpa disertai 3. Monitor respon
Data Subyektif peningkatan TD, kardiorespirasi
Pasien N, RR, dan EKG terhadap
mengatakan: normal aktivitas
1. Merasa 2. Mengidentifikasi (takikardi,
kelelahan & aktivitas dan ataun disaritmia,
lemah situasi yang dyspnea,
2. Penurunan menimbulkan diaphoresis,
aktivitsa kecemasan yang pucat, tekanan
3. Tidak nyaman berkontribusi pada hemodinamik,
yang sangat intoleransi respirasi,
Data Obyektif aktivitas gambaran EKG)
1. Nadi dan 3. Pasien 4. Monitor asupan
tekanan darah mengungkapkan nutrisi untuk
tidak normal secara verbal, memastikan
2. Perubahan paham dan tahu keadekuatan
EKG tentang kebutuhan sumber energy
menunjukan oksigen, 5. Monitor respon
aritmia & pengobatan dan terhadap
disritm ia peralatan yang pemberian
3. Dispnoe dapat oksigen (nadi,
4. RR: x/mnt meningkatkan irama jantungt,
toleransin terhadap frek. Respirasi)
aktivitas terhadap
4. Pasien mampu aktivitas
beraktivitas sehari- perawatan
hari tanpa bantuan 6. Monitor pola
atau dengan istirahat pasien
bantuan minimal dan lamanya
tanpa waktu tidur
menunjukkan 7. Kaji adanya
kelelahan factor yang
menyebabkan
kelelahan
8. Ajarkan teknik
relaksasi selama
aktivitas, tentang
pegaturan
aktivitas dan
teknik
pengelolaan
waktu untuk
mencegah
kelelahan
Terapin aktivitas
(Activity Therapy)
1. Bantu pasien
melakukan
ambulasi yang
dapat ditoleransi
2. Rencanakan
jadwal antara
aktivitas dan
istirahat
3. Bantu dengan
aktivitas fisik
teratur (missal:
ambulasi,
berubah posisi,
perawatn
personal) sesuai
kebutuhan
4. Minimalkan
ansietas dan
stress
5. Berikan istirahat
yang adekuat
6. Kolaborasi
dengan tenaga
rehabilitasi
medis/fisioterapi
dalam
pemuliham terapi
yang tepat

(Oktavianus dan S.S. Febriana, 2014)


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. A
DENGAN DIAGNOSA MEDIS GAGAL JANTUNG
DI RUANG 2 B RSUD SURAKARTA

Tanggal / Jam masuk Rumah Sakit : Jumat, 22 Mei 2015/08.00 WIB


Tanggal / Jam Pengkajian : Jumat, 22 Mei 2015/09.15 WIB
Metode Pengkajian : Autoanamnesa (dari pasien)
Diagnosa Medis : Gagal Jantung
No. Registerasi : 1342015

KASUS:
Tn. A, 55 tahun masuk RSUD Surakarta pada tanggal 22 Mei 2015 pukul
08.00 dengan keluhan sesak napas, nyeri dada, badan terasa lelah dan lemas, batuk
dan bengkak pada kaki dan wajah. Batuk dirasakan klien sudah 2 minggu,
bengkak pada kaki dan wajah sejak 4 hari yang lalu sebelum klien masuk RS, dan
sesak napas dirasakan kemarin sehari sebelum masuk RS yang kemudian di ikuti
dengan nyeri dada, saat dikaji klien mengeluh sesak napas yang disertai dengan
nyeri dada dengan skala nyeri 5-6 (nyeri sedang), batuk dan bengkak pada wajah
dan kedua kaki. Sebelumnya klien sudah 3 kali masuk rumah sakit pada tahun 2010,
pertama pada bulan februari klien masuk rumah sakit karena jatuh klien dirawat
selama 2 minggu, hanya 2 minggu dirumah klien kembali masuk rumah sakit
dengan keluhan sesak napas klien dirawat selama 10 hari, lalu pada bulan juli klien
masuk masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas dan batuk.
Menurut klien dalam keluarga klien, ayah klien menderita penyakit yang
sama dengan klien yaitu penyakit jantung dan hipertensi. Klien memiliki kebiasaan
merokok. Klien tampak sesak, terpasang O2 nasal kanul 2 liter/menit, TTV : TD:
100/70 mmHg, N: 92 x/m, R: 30 x/m, klien batuk berlendir, terdengar bunyi jantung
tambahan S3 (Gallop), terdengar bunyi ronchi pada paru paru, konjungtiva anemis
dan wajah pucat, bibir dan jari-jari tangan tampak sianotik, wajah dan kedua kaki
tampak edema, terdapat distensi vena jugularis, nadi perifer teraba lemah, ictus
cordis teraba pada ruang intercostalis midklavikula ke-6, klien terbaring ditempat
tidur dengan menggunakan 2 bantal dibawah kepala, aktivitas klien dibantu oleh
keluarga dan perawat. Pemeriksaan EKG: terdapat kesan iskemik anterior.
Pemeriksaan Laboratorium:
1. LED : 20
2. Hb : 5,8 gr/dl
3. Leukosit : 3900 mm3
4. N. Segmen : 82 %
5. Limfosit : 16 %
6. Monosit :2%
7. Trombosit : 102.000/mm3
8. Natrium : 120 mmol/L
9. Kalium : 5,3 mmol/L
10. Chlorida : 80 mmol/L

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama Klien : Ny. A
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Gondangrejo, Karanganyar
Umur : 82 tahun
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga

2. Identitas Penanggungjawab
Nama : Tn. B
Jenis Kelamin : Laki - laki
Umur : 55 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tukang kayu
Alamat : Gondangrejo, Karanganyar
Hubungan klien dengan pasien : Anak pasien

B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Sesak napas
2. Riwayat penyakit sekarang
Klien masuk RSUD Surakarta pada tanggal 22 Mei 2015 pukul
00.80 dengan keluhan sesak napas, nyeri dada, batuk dan bengkak pada kaki
dan wajah. Batuk dirasakan klien sudah 2 minggu, bengkak pada kaki
dan wajah sejak 4 hari yang lalu sebelum klien masuk RS, dan sesak napas
dirasakan kemarin sehari sebelum masuk RS yang kemudian di ikuti dengan
nyeri dada, saat dikaji klien mengeluh sesak napas yang disertai dengan
nyeri dada dengan skala nyeri 5-6 (nyeri sedang), batuk dan bengkak pada
wajah dan kedua kaki.
3. Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya klien sudah 3 kali masuk rumah sakit pada tahun 2010,
pertama pada bulan februari klien masuk rumah sakit karena jatuh klien
dirawat selama 2 minggu, hanya 2 minggu dirumah klien kembali masuk
rumah sakit dengan keluhan sesak napas klien dirawat selama 10 hari, lalu
pada bulan juli klien masuk masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas
dan batuk
4. Riwayat penyakit keluarga
Menurut klien dalam keluarga klien, ayah klien menderita penyakit
yang sama dengan klien yaitu penyakit jantung dan hipertensi.
5. Genogram

Tn. A

Keterangan :
: Laki - laki
: Perempuan
: Klien
Tn. A

: Menikah
: Mempunyai anak
` : Tinggal satu rumah dengan klien

C. Pengkajian Pola Fungsi Gordon


1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Klien mengatakan bahwa sehat itu penting, klien dan keluarga jika sakit
langsung periksa ke dokter terdekat. Klien mengatakan bahwa ia sering
makan makanan gorengan yang mengandung banyak lemak dan sehari
harinya merokok habis satu bungkus/hari. Klien juga mengatakan jarang
berolahraga. Klien merasa sedih dengan penyakitnya saat ini.
2. Pola Aktivitas dan Latihan
Sebelum Sakit Selama Sakit
Kemampuan Perawatan Diri
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Makan dan Minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi / ROM
Keterangan :
0 : Mandiri, 1 : Dengan alat bantu, 2 : Dibantu orang lain, 3 : Dibantu orang
lain dan alat, 4 : tergantung total
3. Pola Istirahat dan Tidur
Keterangan Sebelum Sakit Selama Sakit
Jumlah jam tidur siang + 2 jam + 1 jam
Jumlah jam tidur malam + 8 jam + 4 jam
Pengantar tidur (Penggunaan Tidak ada Tidak ada
obat tidur)
Gangguan tidur Tidak ada Sering batuk,
sesak nafas, dan
nyeri dada
Perasaan waktu bangun Nyaman Badan lemas
4. Pola Nutrisi/Metabolik
Keterangan Sebelum Sakit Selama Sakit
Frekuensi 3x sehari 2x sehari (pagi dan
siang)
Jenis Nasi, lauk, sayur, Bubur
buah
Porsi / Jumlah 1 porsi habis 1 porsi tidak habis
(hanya 5-6 sendok)
Keluhan Tidak ada Kurang nafsu
makan, kesulitan
menelan, saat
menelan makanan
nyeri di dada
bertambah.

5. Pengkajian Nutrisi (ABCD)


a. A : Antropometri
- Berat badan (BB) : 48 kg
- Tinggi Badan (TB) : 166 cm : 1,66 m
-
BB 48
- IMT : : : 17,42 kg/m2
(TB)2 (1,66)
48 2

(nilai normal: 18,5-22,9 kg/m2)


b. B : Biomechanical
Pemeriksaan Laboratorium :
Hemoglobin : 11 g/dl
(normal: 12-16 gr/dL (wanita), 14-18 gr/dL (pria))
c. C : Clinical Sign
Badan kurus, konjungtiva anemis
d. D : Diet
Klien hanya habis makanan 5-6 sendok (bubur), klien sekarang tidak
boleh merokok

6. Pola Eliminasi
a. Eliminasi BAB
Keterangan Sebelum Sakit Selama Sakit
Frekuensi 1 kali sehari 1 kali sehari
Konsistensi Lunak berbentuk Lunak berbentuk
Bau Khas Khas
Warna Kuning Kuning
kecokelatan
Keluhan Tidak ada Tidak ada
Penggunaan obat
Tidak ada Tidak ada
pencahar

b. Eliminasi Urine
Keterangan Sebelum Sakit Selama Sakit
Frekuensi 5-6 kali sehari 5-6 kali sehari
Pancaran Kuat Kuat
Jumlah + 200 cc sekali + 200 cc sekali
BAK BAK
Bau Amoniak Amoniak
Warna Kuning
kecokelatan
Jernih
(lebih pekat dari
biasanya)
Perasaan sebelum
Lega Lega,
BAK
Keluhan Tidak ada Tidak ada
Total Produksi + 1100 1300 + 1100 1300
Urine (per hari) cc/hari cc/hari
Analisa Kesimbangan Cairan Selama Perawatan
Intake Output Analisa
Minuman 1200 cc Urine 1300 cc Intake 2550
Makanan 100 cc Feses 200 cc Output 2220
Infuse NaCl 1250 IWL 720 cc
cc
Total: 2550 Total: 2220 +330

7. Pola Kognitif dan Perceptual


Klien dapat berbicara lancar, mampu menjawab pertanyaan perawat
dengan tepat, dapat mengidentifikasi bau makanan, dapat meraba dan
memegang anggota tubuhnya. Klien juga mengatakan Nyeri, dengan
pengkajian nyeri :
P : Nyeri bertambah klien beraktivitas ringan / saat batuk
Q : Nyeri dirasakan seperti dada tertusuk tusuk
R : Nyeri pada dada kiri
S : Skala Nyeri 6 dari 10
T : Nyeri terus menerus
8. Pola Konsep Diri
a. Gambaran Diri / Citra Diri
Klien mengatakan bahwa, klien sedih dan penyakitnya saat ini..
b. Ideal Diri
Klien mengatakan, Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik,
tetapi dengan penyakitnya ini, nampaknya tidak memungkinkan
melakukan kewajibannya dengan baik.
c. Harga Diri
Klien mengatakan, Saya merasa merepotkan orang orang yang ada
disekitarnya saya. Saya merasa tidak berharga.
d. Peran Diri
Klien mengatakan, Selama saya sakit, tidak ada yang bisa
menggantikan peran saya di keluarga saya. Saya hanya ingin kembali
menafkahi keluarga saya.
e. Identitas Diri
Klien mengatakan, Saya menyadari bahwa saya adalah seorang laki -
laki, dan saya adalah seorang kepala keluarga bagi keluarga saya.
9. Pola Seksual dan Seksualitas
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan seksualitasnya.
10. Pola Peran dan Hubungan
Hubungan klien dengan keluarganya sangat harmonis, dan dengan
masyarakat sekitarnya juga baik.
11. Pola manajemen dan Koping Stres
Pasien mengatakan dalam menyelesaikan masalah maupun dalam
pengambilan keputusan selalu bermusyawarah dengan keluarga.
12. Sistem Nilai dan Keyakinan
Klien sebelum sakit selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Tetapi
selama sakit, klien tidak bisa menjalankan sholat dan klien hanya berdoa
supaya cepat diberikan kesembuhan.

D. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan / Penampilan Umum :
a. Kesadaran : Composmentis
b. Tanda Tanda Vital :
- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 96x/menit
- Suhu : 36,60 C
- RR : 30 kali/menit
2. Pemeriksaan Head To Toe
e. Kepala, rambut :
Rambut beruban, kebersihan cukup, tidak ada ketombe, tidak ada lesi.
f. Muka
1) Mata :
- Kebersihan : Bersih
- Palpebra : edema pada palpebral
sebelah kanan
- Konjungtiva : anemis
- Pupil : Isokor 2 mm
- Sclera : tidak ikterik
- Reflek terhadap cahaya : +/+
- Penggunaan alat bantu penglihatan :-
2) Hidung:
Septum ditengah/tidak ada deviasi, tidak ada sekret, fungsi
penciuman baik, terpasang O2 nasal canule 2 liter/menit
3) Telinga:
Tampak bersih, simetris kiri dan kanan, tidak ada benjolan, tidak ada
nyeri tekan, tidak ada lesi, fungsi pendengaran baik
4) Mulut:
Bibir sianotik, gigi sudah tidak lengkap, klien menggunakan gigi
palsu
g. Leher
1) Inspeksi : Terdapat distensi vena jugularis
2) Palpasi : Distensi vena jugularis, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid
h. Paru-paru:
1) Inspeksi : Simetris kiri dan kanan, pergerakan dada mengkuti
irama pernapasan
2) Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
3) Perkusi : Fremitus taktil simetris kanan kiri
4) Auskultasi : Ronchi (+), Whizing (-)
i. Jantung:
1) Inspeksi : IC (ictus cordis) tampak
2) Palpasi : ictus cordis (IC) teraba pada ruang interkostalis
midklavikula ke-6
3) Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar pelan, Bunyi
jantung S3(Gallop) terdengar, terdengar ronchi
4) Perkusi ; Bunyi pekak di lapang dada sebelah kiri.

j. Abdomen
1) Inspeksi : Perut cembung, tampak asites
2) Auskultasi : Bising usus normal, peristaltik usus baik
3) Palpasi : Lemas, tidak ada nyeri tekan
4) Perkusi : Redup
k. Genetalia: Tidak ada kelainan, kebersihan cukup
l. Anus: Tidak ada kelainan, tidak ada haemoroid, kebersihan cukup
m. Ekstremitas
- Kekuatan Otot kanan dan Kiri
4 4
3 3
- Perabaan Akral : dingin dan berkeringat, sianosis pada jari
jari kedua kaki dan jari jari tangan kanan
- Edema pitting : edema pada kedua kaki (2 mm)
- Terpasang Infus : tangan kanan
n. Integumen
1) Inspeksi ; warna kulit sawo matang, tidak ada lesi, tampak pucat
2) Palpasi : Kulit licin, mengkilat

E. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium :
Jenis Pemeriksaan Nilai Keterangan
Satuan Hasil
Normal Hasil
LED 0-10 mm/jam 20 Normal
Hemoglobin Laki-laki: Dibawah
12 16, normal
g/dl 5,8
Perempua
n: 14-18
Leukosit 5.000- Dibawah
% 3.900
10.000 normal
N. Segmen 40-60 Diatas
% 82
normal
Limfosit 25-40 16 Dibawah
%
normal
Monosit 3-5 2 Dibawah
%
normal
Trombosit 150.000- 102.00 Dibawah
/mm3
450.000 0 normal
Natrium 136-145 120 Dibawah
mmol/L
normal
Kalium 3,1-5,1 5,3 Diatas
mmol/L
normal
Chlorida 97-111 80 Dibawah
mmol/L
normal
2. Pemeriksaan EKG : kesan iskemik anterior

F. Terapi medis
IVFD Asering : 30 gtt/m
Rantidine : 2 x 150 gr.IV
Allupent : 3 x 1 amp
Bicnat :3x2
Furocemid : 1-1-0
Oksigen tambahan: 2 L/m

G. Analisa Data
Nama : Tn. A No. CM : 1342015
Umur : 55 tahun Diagnosa Medis : Gagal Jantung
Hari/Tgl/ Diagnosis
No Data Fokus Masalah Etiologi
Jam Keperawatan
1 Jumat, DS : Penuruna Perubaha Penurunan
22 Mei 1. Klien n Curah n Curah Jantung
2015/ mengeluh Jantung Sekuncup berhubungan
09.30 sesak napas Jantung dengan
WIB 2. Klien Perubahan
mengeluh Sekuncup
nyeri dada Jantung
DO :
1. TD : 100/70
mmHg
2. N : 92 x/m,
teraba lemah
dan kecil
3. Terdapat
Distensi vena
jugularis
4. Terdapat
edema pada
wajah dan
ekstremitas
bawah
5. Wajah pucat
6. Konjungtiva
anemis
7. Hb 5,8
8. Pemeriksaan
EKG: kesan
iskemik
anterior
2 Jumat, DS : Gangguan Perubaha Gangguan
22 Mei Klien mengeluh pertukara n pertukaran
2015/ sesak napas n gas membran gas
09.45 DO : e berhubungan
WIB 1. Klien tampak alveolar- dengan
sesak napas, kapiler perubahan
terpasang membrane
O2 nasal alveolar-
kapiler
canule 2
L/mnt
2. Bibir dan jari-
jari sianotik
3. RR : 30 x/m
4. Klien batuk
berlendir
5. Terdengar
ronchi
3 Jumat, DS: Klien Nyeri Faktor Nyeri akut
22 Mei mengatakan nyeri Akut Biologis berhubungan
2015/ dada, dengan dengan factor
10.00 pengkajian nyeri: biologis
WIB P: Nyeri
bertambah klien
beraktivitas
ringan / saat batuk
Q: Nyeri
dirasakan seperti
dada tertusuk
tusuk
R: Nyeri pada
dada kiri
S: Skala Nyeri 6
dari 10
T: Nyeri terus
menerus
DO:
1. Klien nampak
selalu
memegangi
dada kirinya
2. TTV:
a. Tekanan
darah:
100/70
mmHg
b. Nadi:
96x/menit
c. Suhu:
36,60 C
d. RR: 30
kali/menit
4 Jumat, DS : - Kelebihan Ganggua Kelebihan
22 Mei DO : volume n volume cairan
2015/ 1. Klien tampak cairan mekanis berhubungan
10.00 sesak, me dengan
WIB terpasang regulasi
O2 nasal
canule 2 L/m
2. Edema pada
wajah dan
kaki
3. Terdapat
asites
4. Distensi vena
jugularis
5. Bunyi jantung
S3 (Gallop)
5 Jumat, DS : Intolerans Ketidaks Intoleransi
22 Mei 1. Klien i eimbanga Aktivitas
2015/ mengeluh Aktivitas n antara berhubungan
10.10 badan terasa kebutuha dengan
WIB lemah n dan ketidakseimba
2. Klien suplai O2 ngan antara
mengeluh kebutuhan
kelelahan dan suplai O2
DO :
1. Klien tampak
sesak,
terpasang O2 2
L/m
2. Klien
terbaring
ditempat tidur
dengan posisi
semi fowler
3. Aktivitas
klien dibantu
oleh keluarga
dan perawat

H. Intervensi keperawatan
Nama : Tn. A No. CM : 1342015
Umur : 55 tahun Diagnosa Medis : Gagal Jantung
Diagnosa Tujuan dan
No Intervensi Ttd
Keperawatan Kriteria Hasil
1 Penurunan Setelah dilakukan Perawatan jantung
Curah Jantung asuhan (Cardiac care)
berhubungan keperawatan
dengan selama 3x24 jam, 1. Evaluasi adanya
Perubahan diharapkan curah nyeri dada
Sekuncup jantung klien (intensitas, lokasi,
Jantung membaik dengan durasi)
kriteria hasil: 2. Monitor pemberian
Pompa jantung O2
efektif (cardiac 3. Monitor status
pump effectiveness) kardiovaskuler
1. Gambaran ECG (disritmia)
normal tidak 4. Monitor status
ada edema pernapasan
paru, edema (dyspnea, ortopnea,
perifer, acites, tacipnea)
distensi, vena 5. Monitor balance
leher. cairan
2. Dapat 6. Atur posisi tidur
menteloransi sesuai kondisi
aktifitas, tidak pasien.
ada kelelahan. Monitor tanda vital
3. Tidak terjadi (Vital sign monitoring)
penurunan 1. Monitor tanda vital
kesadaran( saat pasien
kuantitatif dan berbaring, duduk,
kualitatif) berdiri, sebelum.
4. Warna kulit Selama, dan
normal (tidak sesudah pasien
sianosis) aktivitas
Status vital sign 2. Monitor warna dan
normal(controlled kelembapan kulit
vital signs) 3. Monitor suara paru
dan bunyi jantung
Tanda vital (TD, N, 4. Jelaskan
sirkulasi, suhu, penggunaan, dosis,
respirasi dalam efek samping
rentang normal) pengobatan
5. Kolaborasi : medis(
untuk pemberian
terapi antiaritmia,
nitrogliserin,
vasodilator,
antikoagulan, terapi
cairan dan
oksigenasi), social
pastoral, ahli gizi.
2 Gangguan Setelah dilakukan Airway Management
pertukaran gas asuhan 1. Posisikan pasien
berhubungan keperawatan untuk
dengan selama 3x24 jam, memaksimalkan
perubahan diharapkan status ventilasi
membrane pernapasan klien 2. Identifikasi pasien
alveolar- membaik dengan perlunya
kapiler kriteria hasil: pemasangan alat
Status respirasi: jalan nafas buatan
pertukaran gas 3. Auskultasi suara
(respiratory status: nafas, catat adanya
gas exchange) suara tambahan
1. Tanda-tanda 4. Monitor respirasi
vital dan irama dan status O2
jantung normal Respiratory Monitoring
2. Menunjukkan 1. Monitor rata-rata
pertukaran gas kedalaman irama
efektif (PaO2 dan usaha respirasi
dan PaCO2 2. Catat pergerakan
normal, pH dada, amati
arteri dalam kesimetrisan,
batas normal, penggunaan otot
saturasi O2 tambahan, retraksi
normal, status otot supraclavivular
mental dalam dan intercostal
batas normal, 3. Monitor pola nafas:
tidak ada bradipnea,
dyspnea dan takipnea, kussmaul,
sianosis, hiperventilasi,
mampu cheyne stokes, biot
bernafas
dengan mudah)
Status respirasi:
ventilasi
(respiratory status:
ventilation)
1. Menunjukkan
ventilasi
adekuat (RR,
normal,
ekspansi
dindingg dada
simetris, suara
nafas bersih,
tidak ada:
penggunaan
otot-otot nafas
tambahan,
retraksi dinding
dada, nafas
cuping hidung,
dyspnea, taktil
fremitus)
2. Tidak ada nyeri
dada,
3 Nyeri akut Setelah dilakukan Pain Management
berhubungan tindakan 1. Observasi
dengan factor keperawatan intensitas nyeri
biologis selama 3x24 jam pasien (dengan
masalah nyeri akut skala 0-10) dan
teratasi dengan lokasi nyerinya
kriteria hasil: 2. Bantu melakukan
Pain Control teknik relaksasi
a. Nyeri msl: Nafas dalam
berkurang 3. Ajarkan prinsip-
menjadi skala prinsip manajemen
4-5 nyeri
b. Pasien tampak 4. Kolaborasi
rileks pemberian
c. Dapat Analgetik dan
melakukan antibiotik sesuai
teknik relaksasi indikasi
d. Menggunakan
tindakan
pencegahan
e. Mengenal
datangnya nyeri
4 Kelebihan Setelah dilakukan Managemen Cairan
volume cairan asuhan (fluid management)
berhubungan keperawatan 1. Monitor
dengan selama 3x24 jam, intake&output yang
diharapkan status akurat dalam 24
cairan pasien jam
kembali seimbang 2. Observasi adanya
dengan kriteria odem, ofusi, asites,
hasil : dan peningkatan
Keseimbangan BB, sesak nafas,
elektrolit dan acid dispnea, orthopnea
(asam & basa) 3. Ajarkan pada
(electrolyte and pasien dan keluarga
Acid/bace balance) tentang pembatasan
1. Tidak ada intake cairan
odem, 4. Kolaborasi
peningkatan pemberian terapi,
BB, efusi asites diuritik,
2. Intake dan pemeriksaan
output laboratorium yang
seimbang spesifik, dan
3. Tidak ada tindakan
sesak nafas, hemodialisis/
dispnea, peritonial dialisis
orthopnea sesuai indikasi.
4. Terbebas dari Monitorng Cairan
kelelahan dan (Fluid Monitoring)
kecemasan, 1. Tentukan
kebingungan kemungkinan
faktor resiko dari
ketidak seimbangan
cairan
(hiperthermia,
terapi deuretik,
kelainan renal,
gagal jantung,
diaporesis,
disfungsi hati)
2. Monitor tekanan
darah orthostatik,
dan perubahan
irama jantung
3. Ajarkan pasien dan
keluarga untuk
memperhatikan
penyebab dan
mengatasi edema,
pembatasan diit,
penggunaaan dosis
dan efek samping
obat
5 Intoleransi Setelah dilakukan Manajemen Energi
Aktivitas Asuhan (Energy management)
berhubungan keperawatan 1. Evaluasi motivasi
dengan selama 3x24 jam, dan keinginan
ketidakseimba diharapkan klien pasien untuk
ngan antara dapat mengalami meningkatkan
kebutuhan dan perbaikan dalam aktivitas
suplai O2 melakukan 2. Monitor respon
aktivitas dengan kardiorespirasi
indokator: terhadap aktivitas
Mentoleransi (takikardi,
aktivitas yang disaritmia, dyspnea,
diaphoresis, pucat,
biasa dilakukan tekanan
(Activity tolerance) hemodinamik,
1. Berpartisipasi respirasi, gambaran
dalam aktivitas EKG)
fisik tanpa 3. Monitor asupan
disertai nutrisi untuk
peningkatan memastikan
TD, N, RR, dan keadekuatan
EKG normal sumber energy
2. Mengidentifika 4. Monitor respon
si aktivitas dan terhadap pemberian
atau situasi oksigen (nadi,
yang irama jantung, frek.
menimbulkan Respirasi) terhadap
intoleransi aktivitas perawatan
aktivitas 5. Monitor pola
3. Pasien istirahat pasien dan
mengungkapka lamanya waktu
n secara verbal, tidur
paham dan tahu 6. Kaji adanya factor
tentang yang menyebabkan
kebutuhan kelelahan
oksigen, 7. Ajarkan teknik
pengobatan dan relaksasi selama
peralatan yang aktivitas, tentang
dapat pegaturan aktivitas
meningkatkan dan teknik
toleransi pengelolaan waktu
terhadap untuk mencegah
aktivitas kelelahan
4. Pasien mampu Terapi aktivitas
beraktivitas (Activity Therapy)
sehari-hari 1. Rencanakan jadwal
tanpa bantuan antara aktivitas dan
atau dengan istirahat
bantuan 2. Berikan istirahat
minimal tanpa yang adekuat
menunjukkan 3. Kolaborasi dengan
kelelahan tenaga rehabilitasi
medis/fisioterapi
dalam pemulihan
terapi yang tepat
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gagal jantung merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang
banyak dijumpai dan menjadi penyebab mortalitas utama baik di negara maju
maupun di negara sedang berkembang. Kejadian gagal jantung dalam individu
yang menderita kematian jantung mendadak sekitar 64 dan 90 %. Gagal
jantung adalah pemberhentian sirkulasi normal darah dikarenakan kegagalan
dari ventrikel jantung untuk berkontraksi secara efektif pada saat systole.
Akibat kekurangan penyediaan oksigen ke otak, menyebabkan korban
kehilangan kesadaran dan berhenti bernafas dengan tiba-tiba.
Terdapat tiga aspek penting dalam menanggulangi gagal jantung yaitu
pengobatan terhadap penyakit yang mendasari dan pengobatan terhadap faktor
pencetus . Termasuk dalam pengobatan medikamentosa yaitu mengurangi
retensi cairan dan garam, meningkatkan kontraktilitas dan mengurangi beban
jantung. Sekaligus pengobatan umum meliputi istirahat, pengaturan suhu,
kelembapan, oksigen, pemberian cairan dan diet.

B. Saran
Dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gagal
jantung diperlukan pengkajian, konsep dan teori oleh seorang perawat.
Informasi atau pendidkan kesehatan berguna untuk klien dengan gagal jantung
selain itu pengobatan terbaik untuk gagal jantung adalah pencegahan atau
pengobatan dini terhadap penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, , Gloria M., Howard K. Butcher, dan Joanne M. Dochteman, ed. 2013.
Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louis: Mosby Elsevier

Davey Patrick. 2006. At a Glance Medicine. Alih bahasa : Anissa Racmalia.


Jakarta: Erlangga

Herdman, T. Heather, ed. 2010. NANDA International, Diagnosis Keperawatan:


Definisi dan Klasifikasi 201-2014. Jakarta : EGC

Moorhead, Sue., Marion Johnson, Meridean L. Maas, ed. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC). St. Louis: Mosby Elsevier

Oktavianus dan Sari, Febriana Sartika. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Sistem
Kardiovaskular Dewasa. Yogyakarta: Graha Ilmu

Smeltzer, S.C., dan B.G. Bare. 2013. Keperawatan Medikal bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 10.. Jakarta: EGC

Sudoyo, Aru. et. al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1,2,3, Edisi
Keempat. Jakarta: Internal Publishing

Suryadipraja, R Miftah. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi III.
Jakarta: FKUI