Anda di halaman 1dari 73

Laporan Pendahuluan

Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

3.1 UMUM
Pengelolaan SDA yang mencakup aspek konservasi SDA, pendayagunaan SDA
dan pengendalian daya rusak air bertujuan mewujudkan kemanfaatan SDA
yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sebagai bagian
dari pendayagunaan SDA, untuk meningkatkan kemanfaatan SDA di setiap
WS/DAS disusun rencana penyediaan SDA atau Rencana Alokasi Air Tahunan
(RAAT), dahulu disebut RAAG.

Rencana penyediaan SDA harus memperhatikan ketersediaan air pada musim


hujan dan musim kemarau. Penyediaan SDA adalah upaya mewujudkan
kebutuhan pokok air sehari-hari sebagai prioritas utama dan kebutuhan air
irigasi untuk pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang ada.

Penyediaan air dimaksud berupa penjatahan optimal dari waktu ke waktu


dari Bangunan Utama (BU) yang terhubung secara hidrolis di jaringan sumber
air untuk para pengguna air sesuai prioritas secara adil dan efisien.

Peran BWS NT II dalam melaksanakan sebagian tugas wajib balai berupa


penyelenggaraan alokasi air di WS Noelmina diawali dari penyiapan RAAT.

Naskah ini dibahas rinci dan disepakati oleh Tim Teknis dari rumpun PU-SDA
se Pulau Lombok dan Integrated Water Alocation Forum (IWAF).

Forum berkala IWAF merupakan wadah jejaring (networking) dari unsur BWS
NT I (selaku Ketua), Dinas PU-SDA Prov NTB, BPSDA, BISDA, Dinas PU
Kab/Kota se P Lombok, DPTPH, DKP, BLHP, Korem 162 Wirabhakti,
PERPAMSI, serta BMKG. Setelah mendapat rekomendasi Tim Koordinasi
Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) WS Lombok, dokumen ini diajukan
kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dalam hal ini
Dirjen SDA, untuk mendapat penetapan.

Setelah penetapan RAAT, masing-masing unsur instansi pengelola dan wadah


koordinasi pengguna air perlu menyiapkan dokumen operasional/rencana
teknis kegiatan tindak lanjut. Pada sektor irigasi perlu segera menyiapkan
Keputusan/Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota tentang Rencana Pola

III-1
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tanam (RPT) sebagai acuan operasional di DI sesuai kewenangan, demikian


pula dengan unsur pengguna air pada sektor lainnya. Untuk melaksanakan
pengendalian lapangan melalui mekanisme Direct Instruction Real-Time
Operation (DIRTO), maka BWS NT II akan menyiapkan/menetapkan Rencana
Alokasi Air Rinci (RAAR).
3.1.1 Pengertian
Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan:

1. Alokasi air adalah penjatahan air permukaan untuk berbagai keper luan
pada suatu Wilayah Sungai dalam memenuhi kebutuhan air bagi para
pengguna air dari waktu kewaktu dengan memperhatikan kuantitas dan
kualitas air, berdasarkan asas pemanfaatanumum dan pelestarian sumber
air.

2. Daerah Layanan (service area) adalah daerah atau objek yang mendapat
pelayanan air dari Institusi pengelola wilayah sungai.

3. Pengelola wilayah sungai adalah Institusi yang diberi wewenang untuk


melaksanakanpengelolaan sumberdaya air di tingkat wilayah sungai yang
meliputi Dinas, Balai, Badan Usaha Pengelola Sumberdaya Air

4. Data Masukan (Input Data ) adalah data yang diperlukan untuk


mendukung perhitungan alokasi air pada periode interval waktu tertentu.

5. Data Keluaran (Output Data) adalah data hasil proses perhitungan


alokasi air yang menyebutkan tempat, waktu, jumlah air untuk masing-
masing pengguna sesuai prioritasserta ketersediaan air.

6. Geographical Information System (GIS) adalah sistem penyajian


informasi yang dikaitkan dengan sistim koordinat bumi yaitu Lintang dan
Bujur.

7. Model Alokasi Air adalah perangkat lunak yang dipergunakan untuk


menghitungpengalokasian air.

8. Prioritas Penggunaan Air adalah kebijakan yang mengatur urutan alokasi


air berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

III-2
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

9. Tata Guna Lahan Suatu Wilayah Sungai adalah identifikasi peruntukan


lahan dan pengaturan pemanfaatan lahan yang digunakan untuk berbagai
peruntukan berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR).

10. Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan air permukaan


dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan atau pulau-pulau kecil
yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2000 km2 (RUU SDA versi 24
September 2002)

11. Wadah koordinasi adalah wadah koordinasi sebagaimana ditetapkan


dalam Undang Undang Sumberdaya A ir

3.1.2 Daftar Inisial / Singkatan dan Notasi


Beberapa inisial / singkatan dan notasi yang umum digunakan dalam
penyiapan alokasi air antara lain :
NO SINGKATAN KETERANGAN
1 AI Areal Irigasi
2 AI DES Areal Irigasi Desa
3 AI PEM Areal Irigasi Kewenangan Pemerintah
4 AMH Awal Musim Hujan
5 AN Atas Normal
6 ARR Automatic Rainfall Recorder
7 B Bendung
8 B/S Bendung Irigasi Suplesi
9 BD Bendungan
10 BE Bendung Elektrik/PLTA/PLTMH
11 BISDA Balai Informasi Sumber Daya Air
12 BKO Bawah Kendali Operasi
13 BLHP Badan Lingkungan Hidup dan Penelitian
14 BMKG Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
15 BN Bawah Normal
16 BPA Bangunan Pengambil Air
17 BPS Badan Pusat Statistik
18 BPSDA Balai Pengelolaan Sumber Daya Air
19 BS Bendung Suplesi
20 BU Bangunan Utama
Bangunan Utama/Bangunan Pengambilan
21 BU/BPA/HW Air/Headwork
22 BWS NT Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara
23 KELAS Klasifikasi Distribusi Air Dalam Jaringan Irigasi
24 CA Catchment Area

III-3
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

NO SINGKATAN KETERANGAN
25 CI Intensitas Tanaman (Crop Intensity)
26 DAR Demand avalaible Ratio
27 DAS Daerah Aliran Sungai
28 FAKTOR K Indeks Kecukupan Air
29 DI Daerah Irigasi
30 DIRJEN Direktur Jenderal
31 DIRTO Direct Instruction Real Time Operation
32 DKP Dinas Kelautan dan Perikanan
33 DPTPH Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
34 DPU Dinas Pekerjaan Umum
35 E (BANGUNAN UTAMA) Embung
36 E (INDEX DEFISIT AIR) Intermiten antar BU/ Emergency intermiten
37 EI Efisiensi Irigasi
38 GOL Jumlah golongan dalam Daerah Irigasi
40 INTAKE Pintu pengambilan di Bangunan Utama
41 IR Irigasi Desa
42 IWAF Integrated Water Allocation Forum
43 K1* Terus menerus
44 K1 Terus menerus (terbatas)
45 K2 Rotasi Ringan
46 K3 Rotasi Sedang
47 K4 Rotasi Berat
48 KOMIR Komisi irigasi
49 KOREM Komando Resort Militer
50 KP Kriteria Perencanaan
51 MKG Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
52 MONEV Monitoring Evaluasi
53 MPR Management Performance Ratio
54 MT Musim Tanam
59 MT 1 Musim Tanam ke - 1 (Padi)
60 MT 2A Musim Tanam ke - 2a (Padi)
61 MT 2B Musim Tanam ke - 2b (Palawija)
62 MT 3 Musim Tanam ke - 3 (Palawija)
63 N Normal
64 N BU Jumlah Bangunan Utama
65 N BU IR Jumlah Bangunan Utama Irigasi Desa
66 NFR Net Fiel Requirement
67 NTT Nusa Tenggara Timur
68 PDAM Perusahaan Daerah Air Minum
69 PDF Probability Distribution Function
70 PERPAMSI Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia

III-4
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

NO SINGKATAN KETERANGAN
71 PKS Perjanjian Kerjasama
72 PLTA/PLTMH Pembangkit Listrik Tenaga Air/Mikro/Mini Hidro
73 PNS Pebgawai Negeri Sipil
74 PS Pengamat Sungai
75 PSDA Pengelolaan Sumber daya Air
76 PUPR Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
77 PU SDA Pekerjaan Umum - Sumer Daya Air
78 Q IN Debit masuk dari DAS pemberi
79 Q OUT Debit keluar untuk DAS penerima
80 QA Debit Ketersediaan Air (Avalaible)
81 QC Kapasitas Saluran (Capacity)
82 QD Debit Kebutuhan Air (Demand)
83 QM Debit Pemeliharaan Sungai (River maintance)
84 QR Debit pemberian Air (Release)
85 QR SUP Debit Suplesi
86 QS Debit melimpah (Spill)
87 QS* Debit Outlet PLTMH + Debit melimpah (QS)
88 RAAG Rencana AlokasiAir Global
89 RAAR Rencana Alokasi Air Rinci
90 RAAT Rencana Alokasi Air Tahunan
91 RAR Release Available Ratio
92 RBI Rupa Bumi Indonesia
93 RDR Release Demand Ratio
94 RTT Rencana Tata Tanam
95 RTTG Rencana Tata Tanam Global
96 RUMKOT Rumah Tangga dan Perkotaan
97 SAT Satuan
98 SDA Sumber Daya Air
99 SH Sifat Hujan
100 SINIK Sosial, Instansi, Niaga, Industri dan Khusus
101 SIPA Surat Ijin Pengguna Air
102 SOP Standar Operasional Prosedur
103 SPAM Sistem Penyedia Air Minum
104 START Mulai Awal Tanam
105 TKPSDA Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air
106 TOT CI Total Intensitas Tanam
107 TOT QA Tota
108 UT l Ketersediaan Air di DAS
109 UTEF Utilitas
110 UU Utilitas Efektif
111 WS Wilayah Sungai

III-5
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

NO SINGKATAN KETERANGAN
112 ZOM Zona Musim

3.1.3 Prinsip Dasar


Secara umum prinsip yang digunakan untuk tercapainya fungsi tujuan (goal
objective function) pemanfaatan air sesuai prioritas secara adil dan efisien
di setiap BU dalam DAS dan antar DAS, yaitu meminimumkan dan
menyetarakan defisit air (kekurangan penyediaan air terhadap kebutuhan
air) atas air yang diberikan di setiap intake BU berdasarkan penggunaan air
sejenis. Mengingat dalam sistim sungai didominasi kebutuhan air irigasi,
maka sebagai basis optimasi menggunakan pendekatan irigasi dengan tetap
mengutamakan penyediaan air RUMKOT dan pemeliharaan sungai terlebih
dahulu.

Perhitungan optimasi alokasi air menggunakan pendekatan/ asumsi/


estimasi/ ketentuan/ lingkup sebagai berikut :

1. Analisis berbasis waktu sepuluh harian atau selanjutnya disebut


dasarian (tanggal 1 10, 11 20 dan 21 akhir bulan), sehingga setiap
tahun terdapat 36 dasarian.

2. Analisis berbasis BU in-stream yang terhubung secara hidraulik di sungai,


berupa bendung, embung dan bendungan dengan luas CA lokal antar BU
0,04 176,37 km2. Adapun penggunaan air irigasi dari embung lapangan
yang tersebar di CA (off-stream) tidak termasuk dalam proses optimasi,
sehingga dilakukan pendekatan awal musim tanam mengikuti kalender
tanam terpadu (KATAM) atau DI sekitarnya oleh petani setempat.

3. DAS utilitas dikelompokkan menjadi DAS saling ketergantungan atau


dependent, yaitu DAS yang terinterkoneksi lintas DAS basah-kering dan
DAS tunggal atau independent.

4. Perhitungan hujan probabilitas tertentu menggunakan metode ranking


Weibull dengan pendekatan basic month.

5. Perhitungan hujan forecast menggunakan metode Thomas-Fierring sesuai


prakiraan ZOM BMKG terkini. Analisis hidrologi dalam RAAT ini tidak
menggunakan pendekatan probabilitas sebagaimana lazimnya di lingkup
SDA, karena mengingat UU RI 31 tahun 2009 tentang Meteorologi,
III-6
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Klimatologi dan Geofisika, dan ketersediaan data serta perangkat


komputasi. Namun sebelum analisis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi
atas seri data prakiraan BMKG, guna mengetahui tingkat akurasi prakiraan
terhadap realisasi.

6. Ketersediaan air merupakan ketersediaan air permukaan yang berasal dari


hujan, base flow (aliran dasar) dan mata air yang mengalir di sepanjang
sungai. Ketersediaan air efektif DAS ditinjau sampai lokasi BU terhilir
dalam DAS utilitas.

7. Perhitungan ketersediaan air lokal antar BU (local inflow) berdasarkan


analisis transformasi hujan (rain-run) dengan metode FJ. Mock yang
terkalibrasi dengan pengukuran debit pos AWLR dan BU terkait, di
samping mempertimbangkan debit mata air (sesuai observasi dan
dianggap konstan).

8. Kebutuhan air RUMKOT dan SINIK mengacu pada pedoman dan standar
yang berlaku, data PDAM dan data penyediaan air sebagaimana
diterbitkan BPS.

9. Alokasi air sebagian penduduk lokal sesuai zona permukiman desa,


langsung dari sumber mata air/sumber air terdekat termasuk dalam hal
ini untuk memenuhi kebutuhan air ternak besar (karena tidak ada data)

10. Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai ditentukan sejumlah 5% dari


ketersediaan air.

11. Parameter yang digunakan dalam perhitungan kebutuhan air di sawah NFR
(Net Field Requirement) mencakup neraca air atas hujan,

12. evapotranspirasi aktual atas hasil observasi panci evaporasi, koefisien


tanaman dan perkolasi yang bervariasi antar waktu.

13. Kebutuhan air perikanan (kolam ikan dan keramba) tidak dihitung secara
khusus karena data tidak tersedia, sehingga dianggap mengikuti pola

14. distribusi air irigasi dengan meminjam air (non konsumtif). Letak budi
daya perikanan berada di sebagian kecil jaringan irigasi di DAS basah.

III-7
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

15. m. Karena kelengkapan data dimensi konstruksi BU yang masih kurang,


maka dianggap kapasitas intake BU dan saluran induk sedemikian rupa
sehingga mampu dilalui debit pemberian air (release).

16. DI yang ditinjau mencakup seluruh DI pemerintah dan pemda dan


sebagian DI desa, yaitu memiliki nama, koordinat dan luas sawah.

17. Memperhitungkan suplesi (water transfer) yang dikondisikan dari DAS


basah ke DAS kering (dependent), dengan tetap mengutamakan indeks
neraca air di DAS basah.

18. Walaupun belum ada data/penelitian valid, pada beberapa zona DI


dalam DI, interkoneksi anak sungai/sungai dalam DAS, interkoneksi antar
jaringan irigasi dalam DAS dan sebaran embung rakyat/sumur dangkal,
bahwa kearifan lokal sangat menentukan. Dalam kondisi ini
memperhatikan adanya return flow dan pemanfaatan air yang dilakukan
secara berulang atau re-use, re-cycle, re-duce (3R), sehingga diberikan
koefisien peningkatan pemanfaatan air melalui efisiensi irigasi sebesar 5
15%.

19. Pada umumnya kualitas air di sungai utilitas lintas kota masih sesuai baku
mutu air nasional (kecuali di beberapa sungai tercemar limbah rumah
tangga/coly), sehingga relatif dapat dipenuhi oleh debit pemeliharaan
sungai.

20. Di setiap proses optimasi, akan ditentukan nilai indeks keandalan volume
di setiap BU, selanjutnya disebut faktor K (release demand ratio/RDR).
Nilai ini mengindikasikan klasifikasi distribusi air dalam jaringan irigasi
sebagai berikut :
Faktor-K (%) Tingkat Kekurangn Air Distribusi Air Dalam Daerah Irigasi
K1* 100 - Terus menerus
K1 80 99 Sangat sedikit Terus menerus (terbatas)
K2 60 79 Sedikit Rotasi ringan
K3 40 59 Sedang Rotasi sedang
K4 20 - 39 Banyak Rotasi berat
- < 20 Emergency

III-8
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Jika nilai Faktor K kurang dari 20%, disebut dengan emergency, maka
diperlukan operasional giliran sangat ketat antar BU/blok primer.

Jenis dan sumber data yang digunakan sebagai berikut :

a. Peta dan luas DAS dan WS.

b. Peta administrasi, berdasarkan peta rupa bumi (RBI) skala 1 : 25.000


(Bakosurtanal).

c. DI berbasis DAS dan DI berbasis sumber air (nama DI, luas sawah irigasi,
lokasi, koordinat dan lintas kab/kota), termasuk estimasi efisiensi irigasi
dari instansi PU-SDA sesuai kewenangan, tahun 2016-2017 yang disepakati
Pengamat Pengairan / Dinas PU dan IWAF.

d. Data hujan dengan pencatatan 15 - 20 tahun dari pos ARR dan CR, sumber
dari BWS NT II dan BISDA, Dinas PU Propinsi dan Kabupaten
e. Data klimatologi berupa evaporasi panci dari BWS NT II, BISDA dan BMKG.

f. Data lokasi dan mata air dari BISDA, BLHP, PDAM dan BWS NT II.

g. Data debit dari pos AWLR pencatatan BISDA dan BWS NT II.

h. Data debit BU pencatatan BWS NT I dan Dinas PU.

i. Data prakiraan musim hujan, berupa sifat hujan dan awal musim hujan
dari BMKG.
j. Data kebutuhan air untuk berbagai penggunaan (irigasi dan sektor
lainnya), sumber dari Dinas PU dan PDAM.

k. Data target luas tanam DPTPH.

l. Data luas panen, luas sawah, penyediaan air PDAM dan data lain terkait
SDA didapat dari BPS.
Data di atas mencakup data primer dan sebagaian besar sekunder, kemudian
dipilah dan diolah menjadi lebih dari 500.000 untaian data selama 36
dasarian sebagai input proses mesin equalisasi alokasi air. Berikut bagan
alur analisis RPT dalam RAAT :

III-9
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

WILAYAH DAS UTI,CA BU, DI :AI, P,EI, GOL, ALTERNATIF


SUNGAI SKEMA SUNGAI EXT PTT PTT

FORECAST ISOHYET WS
HUJAN FORECAS
ZOM BMKG

IKLIM POS
HUJAN POS

PROB 20%, KEBUTUHAN AIR


HUJAN PROB. HUJAN ZONA BU IRIGASI
80%,95% dan
AVG

DEBIT AWLR KALIBRASI KOEFISIEN


KAPASITAS
INTAKE
DEBIT TERSEDIA
DEBIT MATA
LOKAL, BU
AIR

KEBUTUHAN SIMULASI I
PEMELIHARAAN SUNGAI ANTAR BU

TDK YA
TDK
CUKUP? ADIL? DEFISIT AMBANG

YA

DEBIT MENERUS/MELIMPAH DEBIT PENYEDIAAN AIR RTT TERBAIK, AC,


JENIS,CI,AWT,DEMAND,DEFISIT

Gambar-3.1 bagan alur analisis RPT dalam RAAT

KETERSEDIAAN AIR KEBUTUHAN AIR

Hujan (H) Debit Sungai


Domestik& Non Sensus 2000,2010
Penduduk
Domestik 2017, 2037
BPS, 2017
Karyawan
Industri Industri Kry.2017/Pend.2017
Hujan Data tahun yang
Kawasan sama Kry 2017,2037
Q = f (H) Pemeliharaan
Penduduk 2017,2037
Sungai

DAS BPS 2017


Peternakan Ternak
2017, 2037

Perkiraan Debit Kolam


Perikanan 2017
DAS (tambak)

BPS, 2017
Irigasi Luas Sawah 2017,2037
Pengurangan Luas
Existing : IE = 0.5
RF = 0
Debit Sungai untuk Prediksi : IE = 0.65
Lingkungan, Navigasi RF = 0,05

Defisit
Potensi Air
Surplus
Kondisi DAS
- Sangat Berkembang - Tegalan + Tanah Kering
- Berkembang - Hujan
- Sedang Berkembang - Sawah
- Kurang Berkembang - Populasi
- Belum Berkembang
Rencana
Pengembangan

III-10
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Gambar-3.2 Bagan Alir Proses Penyusunan Alokasi Air

3.2 TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA ALOKASI AIR


3.2.1 Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT)
Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) pada dasarnya adalah rancangan alokasi
air tahunan berdasarkan neraca air yang seimbang antara ramalan kern
ungkinan (probabilitas) ketersediaan air dengan rencana penggunaan air
untuk periode satu tahun kedepan. Penyelenggaran alokasi air merupakan
suatu lingkaran kegiatan yang sating terkait seperti terlihat pada gambar
berikut .

Gambar-3.3 Urutan Kegiatan Penyelenggaraan Alokasi Air

Kegiatan Perencanaan pada , diatas merupakan kegiatan Penyusunan


Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) dan terdiri atas kegiatan:

- Penyusunan skenario alokasi air tahunan

- Penetapan rencana alokasi air tahunan


3.2.2 Penyusunan skenario alokasi air tahunan
Agar rencana alokasi air tahunan tidak terlalu besar penyimpangannya
dengan realitas ketersediaan air maka rencana alokasi air perlu dibuat
berdasarkan atas 3 skenario yaitu:

- Tahun Basah (kondisi curah hujan diatas kondisi normal/rata-rata


historis curah hujan tahunan)

III-11
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

- Tahun Normal

- Tahun kering (kondisi curah hujan lebih kecil dari kondisi normal)

Berdasarkan ketiga skenario tersebut dan dengan memperhatikan asas


kelestarian lingkungan SDA, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial,
urutan prioritas penyediaan air yang telah ditetapkan, dapat dirancang
beberapa alternatif dengan melakukan perhitungan simulasi neraca air dapat
ditetapkan skenario yang paling optimum.Urutan kegiatan pelaksanaan
penyusunan RAAT dapat dirinci sebagai berikut:

1. Penetapan batas waktu penyusunan RAAT

Batas waktu penetapan RAAT minimal 2 bulan sebelum dimulai periode


dimulainya RAAR. Oleh karena penggunaan air yang paling dominan
adalah kebutuhan Irigasi, maka awal pelaksanaan alokasi air (RAAR)
dimulai pada saat Musim Tanam I.

2. Pengumpulan data lapangan

Data yang perlu dikumpulkan untuk menyusun RAAT adalah sebagai


berikut:

a) Data debit sungai dengan periode pengamatan panjang (>10 thn) pada
bangunan ukur maupun bangunan duga air.

b) Data hujan periode pengamatan panjang (>10 thn)

c) Pola operasi waduk (bila terdapat waduk).

d) Ketersediaan air di waduk pada tahun ini dan prakiraan pada tahun
berikutnya.

e) informasi mengenai rencana tanam yang ditetapkan (RTTG).

f) Daftar penggunaan SDA yang ada, serta data permintaan alokasi air yang
sedang diajukan oleh pemohon izin.

g) Daftar Pemegang izin yang belum menggunakan air sesuai dengan jatah
yang tercantum dalam surat izin (kapasitas terpasang).

h) Daftar permohonan izin yang belum direspon.

III-12
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

i) Daftar pengambilan air illegal dan estimasi besarnya kapasitas terpasang.

j) Informasi penggunaan air nonkonsumtif (misalnya PLTA dan pelayaran di


sungai).

k) Pola penggunaan air pada berbagai jenis penggunaan air yang tidak
konstan (irigasi, perkebunan, perindustrian).

l) Peta topografi DAS dan Wilayah Sungai.

m) Peta WS dan luas catchment area dari masing-masing DAS pada titik-titik
pos duga air maupun bangunan pengambilan.

n) Peta sungai dalam DAS dengan plottinglokasi keberadaan titik atau


bangunan pengambilan legal maupun ilegal dan lokasi pos duga air.

o) Kapasitas pengaliran bangunan ukur.

p) Ketetapan pemerintah daerah atau konsensus tentang prioritas


penggunaan air saat kekurangan air.

3. Analisa data

Analisis data untuk penyusunan RAAT meliputi:

a) Validasi data hujan dan debit.

b) Peramalan ketersediaan air tahunan per periode tengah bulanan/dasarian


pada setiap titik yang ditetapkan sebagai titik "Inflow" dalam model.

c) Menghitung rencana kebutuhan air irigasi dan non irigasi per periode
setengah bulanan/dasarian sepanjang tahun pada setiap titik simpul/node
di model alokasi air.

d) Verifikasi data kebutuhan air irigasi dan non irigasi (baik yang punya ijin
maupun tidak mempunyai ijin) yang berada dalam sistem tata air
tersebut.

4. Penetapan Prioritas penggunaan air

Bilamana terjadi neraca air (keseimbangan antara ketersediaan dan


kebutuhan air) deficit (kebutuhan lebih besar dari ketersediaan) maka
diperlukan penetapan prioritas penggunaan air.

a) Prioritas utama:

III-13
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

- Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

- Irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada.

b) Untuk menunjang kepentingan kelestarian ekosistem sungai harus


diberikan aliran pemeliharaan sungai dengan mengendalikan ketersediaan
debit andalan 95%.

5. Penyusunan model

Tujuan penyusuan model adalah agar dapat melakukan simulasi neraca air.

6. Simulasi Neraca Air dengan model

Simulasi neraca air dilakukan dengan menggunakan model alokasi air yang
disiapkan dengan 3 skenario yaitu pola tahun basah, pola tahun normal,
dan pola tahun kering.Apabila dalam sistem tata air terdapat waduk maka
perhitungan debit andalan Q8o untuk segmen dihilir waduk, adalah debit
andalan dari sungai (Q80) ditambah dengan Qinlow waduk.Perhitungan
kebutuhan air selain kebutuhan air dan para pengguna, hams
memperhatikan Qaliran minimum untuk kelestarian lingkungan yaitu
sebesar Q95.

7. Uji coba model

Perlu dilakukan uji coba model untuk mengetahui apakah output dari model
telah sesuai dengan kondisi lapangan dan debit yang didistribusikan ke
masing-masing pengguna dapat diterima dengan baik/tidak ada komplain
dari seluruh pemanfaat air dan besarnya debit yang diberikan sesuai
dengan rencana.

8. Penyusunan dokumen RAAT untuk pembahasan di TKPSDA Wilayah Sungai

Dengan melalcukan sosialisasi kepada seluruh pengguna air, maka dapat


disusun dokumen RAAT sebagai hasil kajian dari model alokasi air dan
dengan batasan "Rule prioritas" bila terjadi neraca air defisit.

9. Penyiapan dokumen untuk penetapan RAAT

Dokumen RAAT berisi uraian/informasi tentang:

a) Metodologi antara lain berisi rule prioritas alokasi air yang digunakan.

b) Skema tata air.

III-14
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

c) Daftar pengguna air yang menerima rencana alokasi air, contoh dapat
dilihat pada Lampiran 3 (Form A-01).

d) Rencana Neraca Air untuk masing-masing pengguna air.

e) Uraian untuk masing-masing skenario.

3.2.3 Penetapan Rencana Alokasi Air Tahunan


Pejabat yang menetapkan Rencana Alokasi air tergantung dari yang
berwenang dan bertangungjawab atas pengelolaan wilayah sungai nya dapat
dilihat pada Tabel-3.1

Tabel-3.1 Penetapan Alokasi Air Berdasarkan Wilayah Sungai Yang Menjadi


Kewenangannya

No Tipe WS Penyusun RAAT Penetapan RAAT oleh


WS Lintas Negara WS Lintas Provinsi
1 BBWS/BWS Menteri PU
WS Strategi Nasional
WS Lintas Kabupaten dalam satu
2 BPSDA Gubemur
provinsi

3 WS satu kabupaten/kota SKPD Bupati/Walikota

3.3 ANALISIS KETERSEDIAAN AIR


Salah satu aspek yang harus diketahui sebelum mengadakan analisis
neraca air untuk suatu daerah tertentu adalah jumlah ketersediaan air.
Ketersediaan air dalam pengertian sumberdaya air pada dasarnya berasal
dari air hujan (atmosferik), air permukaan dan air tanah. Hujan yang
jatuh di atas permukaan pada suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) atau
Wilayah Sungai (WS) sebagian akan menguap kembali sesuai dengan
proses iklimnya, sebagian akan mengalir melalui permukaan dan sub
permukaan masuk ke dalam saluran, sungai atau danau dan sebagian lagi
akan meresap jatuh ke tanah sebagai imbuhan (recharge) pada kandungan
air tanah yang ada.

Ketersediaan air yang merupakan bagian dari fenomena alam, sering sulit
untuk diatur dan diprediksi dengan akurat. Hal ini karena ketersediaan air

III-15
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

mengandung unsur variabilitas ruang (spatial variability) dan variabilitas


waktu (temporal variability) yang sangat tinggi. Oleh karena itu, analisis
kuantitatif dan kualitatif harus dilakukan secermat mungkin agar dapat
dihasilkan informasi yang akurat untuk perencanaan dan pengelolaan
sumberdaya air.

Air permukaan adalah air yang mengalir secara berkesinambungan atau


dengan terputus-putus dalam alur sungai atau saluran dari sumbernya
yang tertentu, dimana semua ini merupakan bagian dari sistem sungai
yang menyeluruh. Ilustrasi dari proses terbentuknya aliran permukaan
disajikan pada Gambar-3.4. Aliran yang terukur di sungai atau saluran
maupun danau merupakan potensi debit air permukaan, begitu halnya
dengan air yang mengalir ke dalam tanah, kandungan air yang tersimpan
dalam tanah merupakan potensi debit air tanah. Dari ketiga sumber air
tersebut di atas, yang mempunyai potensi paling besar untuk
dimanfaatkan adalah sumber air permukaan dalam bentuk air di sungai,
saluran, danau/waduk dan lainnya. Penggunaan air tanah sangat
membantu pemenuhan kebutuhan air baku maupun air irigasi pada daerah
yang sulit mendapatkan air permukaan, namun pemanfaatan air tanah
membutuhkan biaya operasional pompa yang sangat mahal.

III-16
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Gambar-3.4 Ilustrasi proses terbentuknya aliran permukaan

Untuk analisis ketersediaan air permukaan, yang akan digunakan sebagai


acuan adalah debit andalan (dependable flow). Yang paling berperan
dalam studi ketersediaan air permukaan adalah data rekaman debit aliran
sungai. Rekaman tersebut harus berkesinambungan dalam periode waktu
yang dapat digunakan untuk pelaksanaan proyek penyediaan air. Apabila
penyadapan air akan dilakukan dari sungai yang masih alami, maka
diperlukan rekaman data dari periode-periode aliran rendah yang kristis
yang cukup panjang, sehingga keandalan pasok air dapat diketahui.

Debit andalan adalah suatu besaran debit pada suatu titik kontrol (titik
tinjau) di suatu sungai di mana debit tersebut merupakan gabungan
antara limpasan langsung dan aliran dasar. Debit ini mencerminkan suatu
angka yang dapat diharapkan terjadi pada titik kontrol yang terkait
dengan waktu dan nilai keandalan. Keandalan yang dipakai untuk
pengambilan bebas baik dengan maupun tanpa struktur pengambilan
adalah 80%, sedangkan keandalan yang dipakai untuk pengambilan dengan
struktur yang berupa tampungan atau reservoir adalah sebesar 50%.

Untuk data aliran yang terbatas dan data hujan yang cukup panjang maka
data aliran tersebut dapat dibangkitkan dengan menggunakan metoda
pendekatan modelling hujan-aliran. Model hujan-aliran yang digunakan
adalah Metoda Mock. Metoda Mock lebih sering dipakai dibandingkan
dengan metoda-metoda yang lain (SMAR, NRECA dll) karena metoda ini
dikembangkan di Indonesia, penerapannya mudah dan menggunakan data
yang relatif lebih sedikit.

3.3.1 Debit Andalan


Untuk menentukan besarnya debit andalan dibutuhkan seri data debit
yang panjang yang dimiliki oleh setiap statiun pengamatan debit sungai.
Metoda yang sering dipakai untuk analisis debit andalan adalah metoda
statistik (rangking). Menurut Soemarto (1987), pengamatan besarnya
keandalan yang diambil untuk penyelesaian optimum penggunaan air di
beberapa macam kegiatan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

III-17
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel-3.2 Nilai Debit Andalan untuk Berbagai Macam Kegiatan

Kegiatan Keandalan
Penyediaan air minum 90%
Penyediaan air industri 95 98%
Penyediaan air irigasi
Daerah beriklim setengah lembab 70 85%
Daerah beriklim kering 80 95%
Pembangkit listrik tenaga air 85 90%

Prosedur analisis dimulai dengan mengurutkan seri data dari urutan


terbesar sampai ke yang terkecil. Selanjutnya dirangking dimulai
dengan rangking pertama (m=1) untuk data yang paling besar dan
seterusnya. Langkah ketiga dibuatkan kolom plotting dengan rumus
Weibul. Adapun Rumus Weibul adalah sebagai berikut :

P = [m/(n+1)] x 100 %

Dimana :

P = probabilitas (%)

m = nomor urut data (rangking)

n = jumlah data
Metoda Mock

Hasil penaksiran atau perkiraan debit limpasan (run off ) tidak bisa
menggantikan dokumentasi data aliran sungai. Namun dalam hal dimana
sangat dibutuhkan tersedianya data tersebut, maka diperlukan adanya
penaksiran atau perkiraan. Ada banyak metoda untuk menaksir debit
limpasan. Akurasi dari masing-masing metoda tersebut bergantung pada
keseragaman dan keandalan data yang tersedia. Salah satu metoda
tersebut adalah Metoda Mock.

Metoda Mock adalah suatu metoda untuk memperkirakan keberadaan air


berdasarkan konsep water balance. Keberadaan air yang dimaksud di sini
adalah besarnya debit suatu daerah aliran sungai. Data yang digunakan
untuk memperkirakan debit ini berupa data klimatologi dan karakteristik
daerah aliran sungai.

III-18
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Metoda Mock dikembangkan oleh Dr. F. J. Mock berdasarkan atas daur


hidrologi. Metoda Mock merupakan salah satu dari sekian banyak metoda
yang menjelaskan hubungan rainfall-runoff. Secara garis besar model
rainfall-runoff bisa dilihat pada Gambar 3.5 Metoda Mock dikembangkan
untuk menghitung debit bulanan rata-rata. Data-data yang dibutuhkan
dalam perhitungan debit dengan Metoda Mock ini adalah data klimatologi,
luas dan penggunaan lahan dari catchment area.

Evapotranspirasi Rainfall

Surface Run Off


Surface
Storage

Ifiltrasi
Total Run Off

Groundwater
Storage
Groundwater Run Off

Gambar-3.5 Bagan alir model rainfall-runoff

Pada prinsipnya, Metoda Mock memperhitungkan volume air yang masuk,


keluar dan yang disimpan dalam tanah (soil storage). Volume air yang
masuk adalah hujan. Air yang keluar adalah infiltrasi, perkolasi dan yang
dominan adalah akibat evapotranspirasi. Perhitungan evapotranspirasi
menggunakan Metoda Penmann.

Sementara soil storage adalah volume air yang disimpan dalam pori-pori
tanah, hingga kondisi tanah menjadi jenuh. Secara keseluruhan
perhitungan debit dengan Metoda Mock ini mengacu pada water balance,
dimana volume air total yang ada di bumi adalah tetap, hanya sirkulasi
dan distribusinya yang bervariasi. Proses perhitungan yang dilakukan
dalam Metoda Mock dijelaskan secara umum dalam Gambar 3.4 berikut
ini.

III-19
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Perhitungan
Evapotranspirasi Potensial
(Metoda Penman)

Perhitungan
Evapotranspirasi Aktual

Perhitungan
Water Surplus

Perhitungan
Base Flow, Direct Run Off dan Storm Run Off

Gambar-3.6 Bagan alir perhitungan debit dengan Metoda Mock

a. Kesetimbangan Air (Water Balance)

Dalam siklus hidrologi, penjelasan mengenai hubungan antara aliran ke


dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) di suatu daerah untuk suatu
perioda tertentu disebut neraca air atau keseimbangan air (water
balance). Hubungan-hubungan ini lebih jelas ditunjukkan oleh Gambar
3.5
Bentuk umum persamaan water balance adalah :
P = Ea + GS + TRO
Dimana :
P = Presipitasi

III-20
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Ea = Evapotranspirasi
GS = Perubahan groundwater storage, dan
TRO = total run off

Water balancemerupakan siklus tertutup yang terjadi untuk suatu kurun


waktu pengamatan tahunan tertentu, dimana tidak terjadi perubahan
groundwater storage atau GS= 0. Artinya awal penentuan groundwater
storage adalah berdasarkan bulan terakhir dalam tinjauan kurun waktu
tahunan tersebut. Sehingga persamaan water balance menjadi :
P = Ea + TRO

Beberapa hal yang dijadikan acuan dalam prediksi debit dengan metoda
Mock sehubungan dengan water balance untuk kurun waktu (misalnya 1
tahun) adalah sebagai berikut.

Dalam satu tahun, perubahan groundwater storage (GS) harus


sama dengan nol.

Jumlah total evapotranspirasi dan total run off selama satu tahun
harus sama dengan total prespitasi yang terjadi dalam tahun itu.

Dengan tetap memperhatikan kondisi-kondisi batas water balance di atas,


maka pridiksi debit dengan metoda Mock akan akurat.

Presipitasi
Evaporasi

Air Permukaan

Limpasan

Uap Air Curah Hujan


Perkolasi Air
Keluar

Perkolasi Kelembaban Tanah


dan
Air Tanah

Evaporasi
Presipitasi

III-21
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Gambar-3.7 Siklus air

b. Data Iklim
Data iklim yang digunakan dalam metoda Mock adalah presipitasi,
temperature, penyinaran matahari, kelembaban relatif dan data
kecepatan angin. Secara umum data-data ini digunakan untuk menghitung
evapotranspirasi.Dalam metoda Mock, data-data meteorologi yang dipakai
adalah data bulanan rata-rata, kecuali untuk presipitasi yang digunakan
adalah jumlah data dalam satu bulan. Notasi dan satuan yang dipakai
untuk data meteorologi ditabelkan sebagai berikut :
Tabel-3.2 Notasi dan satuan parameter meteorologi

Data Meteorologi Notasi Satuan


Presipitasi P Milimeter (mm)
Temperatur T Derajat Celcius (C)
Penyinaran Matahari S Persen (%)
Kelembaban Relatif H Persen (%)
Kecepatan Angin w Mile per hari (mile/hr)
Sumber: Sudirman (2002)

c. Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan faktor penting dalam memprediksi debit


dengan metoda Mock. Alasannya adalah karena evapotranspirasi ini
memberikan nilai yang besar untuk terjadinya debit dari suatu daerah
pengaliran sungai. Evapotranspirasi diartikan sebagai kehilangan air dari
lahan dan permukaan air dari suatu daerah pengaliran sungai akibat
kombinasi proses evaporasi dan transpirasi. Lebih rinci tentang
evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual diuraikan dibawah
ini.

1) Evapotranspirasi Potensial

Evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi yang mungkin


terjadi pada kondisi air yang tersedia berlebihan. Faktor penting yang
mempengaruhi evapotranspirasi potensial adalah tersedianya air yang

III-22
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

cukup banyak. Jika jumlah air selalu tersedia secara berlebihan dari
yang diperlukan oleh tanaman selama proses transpirasi, maka
jumlah air yang ditranspirasikan akan relatif lebih besar di
bandingkan apabila tersedianya air dibawah keperluan.

Beberapa rumus empiris untuk menghitung evapotranspirasi potensial


diantaranya dari Thornthwaite, Blaney-Criddle, Penman dan Turc-
Langbein-Wundt. Metoda Mock menggunakan rumus empiris dari
Penman. Rumus empiris Penman memperhitungkan banyak data
klimatologi yaitu temperatur, radiasi matahari, kelembaban, dan
kecepatan angin sehingga hasilnya relatif lebih akurat. Perhitungan
evaporasi potensial Penman didasarkan pada keadaan bahwa agar
terjadi evaporasi diperlukan panas.

Menurut Penman besarnya evapotranspirasi potensial diformulasikan


sebagai berikut :
AH 0,27D
E =
A 0,27

Dengan :

H = energy budget,

H = R (1 r) (0,18 0,55S) B (0,56 0,092 ed ) (0,10 0,9S) ,

D = panas yang diperlukan untuk evapotranspirasi, dan

D = 0,35 (ea ed ) (k 0,01w)

Dimana :

A = slope vapour pressure curve pada temperatur rata-rata, dalam


mmHg/F.

B = radiasi benda hitam pada temperature rata-rata, dalam


mmH2O/hari.

ea = tekanan uap air jenuh (saturated vapour pressure) pada


temperatur rata-rata.

III-23
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Besarnya A, B dan ea tergantung pada temperature rata-rata.

Hubungan temperature rata-rata dengan parameter evapotranspirasi


ini ditabelkan sebagai berikut.

R = radiasi matahari, dalam mm/hari. Besarnya tergantung


letak lintang. Besarnya radiasi matahari ini berubah-ubah
menurut bulan, seperti ditabelkan berikut ini.

r = koefisien refleksi, yaitu perbandingan antara radiasi


elektronik (dalam sembarang rentang nilai panjang
gelombang yang ditentukan) yang dipantulkan oleh suatu
benda dengan jumlah radiasi yang terjadi, dan dinyatakan
dalam presentasi.

radiasi elektromag netik yang dipantulka n


r = x100%
jumlah radiasi yang terjadi

Koefisien Refleksi sangat berpengaruh pada evapotranspirasi. Berikut


adalah nilai koefisien refleksi yang digunakan dalam metoda Mock.
Tabel-3.4 Hubungan temperatur rata-rata dengan parameter evapotranspirasi A,
B,
ea

Temperatur
8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
(C)
A
0.304 0.342 0.385 0.432 0.484 0.541 0.603 0.671 0.746 0.828 0.917 1.013
(mmhg/F)
B
12.60 12.90 13.30 13.70 14.80 14.50 14.90 15.40 15.80 16.20 16.70 17.10
(mmH2O/hari)
ea 8.05 9.21 10.50 12.00 13.60 15.50 17.50 19.80 22.40 25.20 28.30 31.80
(mmHg)
Sumber : Mock, 1973
Tabel-3.5 Nilai radiasi matahari pada permukaan horizontal di luar atmosfer
(mm/hr)

Bulan Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des Thn
5 LU 13.7 14.5 15.0 15.0 14.5 14.1 14.2 14.6 14.9 14.6 13.9 13.4 14.39
0 14.5 15.0 15.2 14.7 13.9 13.4 13.5 14.2 14.9 15.0 14.6 14.3 14.45
5 LS 15.2 15.4 15.2 14.3 13.2 12.5 12.7 13.6 14.7 15.2 15.2 15.1 14.33
10 LS 15.8 15.7 15.1 13.9 12.4 11.6 11.9 13.0 14.4 15.3 15.7 15.8 14.21

Sumber : Mock, 1973

III-24
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel 3.6 Koefisien refleksi (r)

Koefisien Refleksi
No. Permukaan
[r]
1. Rata-rata permukaan bmi 40 %
2. Cairan salju yang jatuh di akhir musim masih 40-85 %
3. segar 30-40 %
4. Spesies tumbuhan padang pasir dengan daun 31-33 %
5. berbulu 24-28 %
6. Rumput tinggi dan kering 24-27 %
7. Permukaan padang pasir 15-24 %
8. Tumbuhan hijau yang membayangi seluruh 15-20 %
9. tanah 10-15 %
10. Tumbuhan muda yang membayangi sebagian 12-16 %
11. tanah 10-12 %
12. Hutan musiman 8-10 %
13. Hutan yang menghasilkan buah 9-18 %
14. Tanah gundul kering 5%
15. Tanah gundul lembab 14 %
Tanah gundul basah
Pasir, basah-kering
Air bersih, elevasi matahari 45
Air Bersih, elevasi matahari 20
Sumber : Mock 1973

S = rata-rata persentasi penyinaran matahari bulanan, dalam persen


(%).
ed = tekanan uap air sebenarnya (actual vapour pressure), dalam
mmHg.
= ea x h.
h = koefisien kekasaran permukaan evaporasi (evaporating surface).
Untuk permukaan air nilai k = 0,50 dan untuk permukaan vegetasi
nilai k = 1,0.
w = kecepatan angin rata-rata bulanan, dalam mile/ hari.

Subtitusi persamaan-persamaan diatas menghasilkan :

III-25
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

E =

A {R1 r) (0,18 0,55S) B (0,5 0,092 e d ) (0,1 0,9S)} 0,27 {0,35 (ea e d ) (k 0,01w)}

A 0,27

Dalam bentuk lain :

A(0,18 0,55S) AB(0,56 0,092 e d ) 0,27x0,35( e a e d )


E = R(1 r) (0,1 0,9S) (k 0,01w)
A 0,27 A 0,27 A 0,27

Jika :
A(0,18 0,55S)
F1 = f(T, S)
A 0,27

AB(0,56 0,092 ed )
F2 = f(T, H)
A 0,27

0,27x0,35( ea ed )
F3 = f(T, h) , dan
A 0,27

Maka :
E = F1 x R(1 r) F2 x (0,1 0,9S) F3 x (k 0,01w)

dan jika :
E1 = F1 . R(1 r)
E2 = F2 . (0,1 + 0,9 S)
E3 = F3 . (k + 0,01w)

Maka bentuk yang sederhana dari persamaan evapotranspirasi potensial


menurut Penman adalah :
E = E1 E2 + E3

Formulasi inilah yang dipakai dalam metoda Mock untuk menghitung


besarnya evapotranspirasi potensial dari data-data klimatologi yang
lengkap (temperatur, lama penyinaran matahari, kelembaban relatif, dan
kecepatan angin). Besarnya evapotranspirasi potensial ini dinyatakan
dalam mm/ hari. Untuk menghitung besarnya evapotranspirasi potensial
dalam 1 bulan maka kalikan dengan jumlah hari dalam bulan itu.

2) Evapotranspirasi Aktual

III-26
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi yang mungkin terjadi


pada kondisi air yang tersedia berlebihan. Faktor penting yang
mempengaruhi evapotranspirasi potensial adalah tersedianya air yang
cukup banyak. Jika jumlah air selalu tersedia secara berlebihan dari yang
diperlukan oleh tanaman selama proses transpirasi, maka jumlah air yang
ditranspirasikan akan relatif lebih besar di bandingkan apabila tersedianya
air dibawah keperluan.

Jika dalam evapotranspirasi potensial air yang tersedia dari yang


diperlukan tanaman selama proses transpirasi berlebihan, maka dalam
evapotranspirasi aktual ini jumlah air tidak berlebihan atau terbatas. Jadi
evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi yang terjadi ada kondisi
air yang tersedia terbatas. Evapotranspirasi aktual dipengaruhi oleh
proporsi permukaan luar yang tidak tertutupi tumbuhan hijau (exposed
surface) pada musim kemarau. Besarnya exposed surface (m) untuk tiap
daerah berbeda-beda. F.J. Mock mengklasifikasikan menjadi tiga daerah
dengan masing-masing nilai exposed surface sebagai berikut.
Tabel 3.7 Exposed surface (m)

No m Daerah
1 0% Hutan pimer, sekunder
2 10-40 % Daerah tererosi
3 30-50 % Daerah ladang pertanian
Sumber : Mock, 1973

Selain exposed surface evapotranspirasi aktual juga dipengaruhi oleh


jumlah hari hujan (n) dalam bulan yang bersangkutan.

Menurut Mock rasio antara selisih evapotranspirasi potensial dan


evapotranspirasi aktual dengan evapotranspirasi potensial dipengaruhi
oleh exposed surface (m) dan jumlah hari hujan (n), seperti ditunjukkan
dalam formulasi sebagai berikut.

E m
= (18 n)
Ep 20

Sehingga :

III-27
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

m
E = Ep (18 n)
20

Dari formulasi di atas dapat dianalisis bahwa evapotranspirasi potensial


akan sama dengan evapotranspirasi actual (atau E 0 ) jika :

a. Evapotranspirasi terjadi pada hutan primer atau hutan sekunder.


Dimana daerah ini memiliki harga exposed surface (m) sama dengan
nol.

b. Banyaknya hari hujan dalam bulan yang diamati pada daerah itu sama
dengan 18 hari.

Jadi evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi potensial yang


memperhitungkan faktor exposed surface dan jumlah hari hujan dalam
bulan yang bersangkutan. Sehingga evapotranspirasi aktual adalah
evapotranspirasi yang sebenarnya terjadi atau actual evapotranspirasi,
dihitung sebagai berikut:

Eactual = Ep E
3) Water Surplus
Water Surplus didefinisikan sebagai air hujan (presipitasi) yang telah
mengalami evapotranspirasi dan mengisi tampungan tanah (soil storage,
disingkat SS). Water Surplus ini berpengaruh langsung pada infiltrasi atau
perkolasi dan total run off yang merupakan komponen debit. Water
surplus merupakan air limpasan permukaan ditambah dengan air yang
mengalami infiltrasi. Persamaan water surplus (disingkat WS) adalah
sebagai berikut :

WS = (P-Ea) + SS

Tampungan kelembaban tanah (Soil moisture storage, disingkat SMS)


terdiri dari kapasitas kelembaban tanah (Soil moisture capacity, disingkat
SMC), zona infiltrasi, limpasan permukaan tanah dan tampungan tanah
(soil storage, disingkat SS).

III-28
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Gambar-3.8 Water surplus.

Water surplus merupakan presipitasi yang telah mengalami


evapotranspirasi, atau limpasan permukaan ditambah infiltrasi.

Besarnya soil moisture capacity (SMC) tiap daerah tergantung dari tipe
tanaman penutup lahan (land recovery) dan tipe tanahnya (lihat Tabel 7
10), seperti ditunjukkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 3.8 Nilai soil moisture capacity untuk berbagai tipe tanaman dan tipe tanah

Zone Akar Soil Moisture Capacity


Tipe Tanaman Tipe Tanah
(dalam m) (dalam mm)
Pasir Halus 0.50 50
Pasir Halus dan Loam 0.50 75
Tanaman
Lanau dan Loam 0.62 125
Berakar Pendek
Lempung dan Loam 0.40 100
Lempung 0.25 75
Pasir Halus 0.75 75
Pasir Halus dan Loam 1.00 150
Tanaman
Lanau dan Loam 1.00 200
Berakar Sedang
Lempung dan Loam 0.80 200
Lempung 0.50 150
Pasir Halus 1.00 100
Pasir Halus dan Loam 1.00 150
Tanaman
Lanau dan Loam 1.25 250
Berakar Dalam
Lempung dan Loam 1.00 250
Lempung 0.67 200
Pasir Halus 1.50 150
Pasir Halus dan Loam 1.67 250
Tanaman
Lanau dan Loam 1.50 300
Palm
Lempung dan Loam 1.00 250
Lempung 0.67 200
Pasir Halus 2.50 250
Pasir Halus dan Loam 2.00 300
Mendekati
Lanau dan Loam 2.00 400
Hutan Alam
Lempung dan Loam 1.60 400
Lempung 1.17 350
Sumber : Tjahjadi, 1999

III-29
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Dalam studi yang dilakukan Mock di daerah aliran sungai di Bogor,


ditetapkan besarnya kapasitas kelembaban tanah maksimum adalah 200
mm/bulan. Dalam metoda Mock, tampungan kelembaban tanah dihitung
sebagai berikut :

SMS = ISMS + (P- Ea)

Dimana :

ISMS = Initial soil moisture storage (tampungan kelembaban tanah


awal), merupakan soil moisture capacity (SMC) bulan
sebelumnya.

P-Ea = Presipitasi yang telah mengalami evapotranspirasi.

Asumsi yang dipakai oleh F.J. Mock adalah air akan memenuhi SMC
terlebih dahulu sebelum water surplus tersedia untuk infiltrasi dan
perkolasi yang lebih dalam atau melimpas langsung (direct run off). Ada
dua keadaan untuk menentukan SMC, yaitu :
1. SMC = 200 mm/bulan, jika P-Ea 0.

Artinya soil moisture storage (tampungan tanah lembab) sudah


mencapai kapasitas maksimumnya atau terlampaui sehingga air tidak
disimpan dalam tanah lembab. Ini berarti soil storage (SS) sama
dengan nol dan besarnya water surplus sama dengan P-Ea.
2. SMC = SMC bulan sebelumnya + (P-Ea), jika P-Ea < 0.

Untuk keadaan ini, tampungan tanah lembab (soil moisture storage)


belum mencapai kapasitas maksimum, sehingga ada air yang disimpan
dalam tanah lembab. Besarnya air yang disimpan ini adalah P-Ea.
Karena air berusaha untuk mengisi kapasitas maksimumnya, maka
untuk keadaan ini tidak ada water surplus (WS = 0).

4) Limpasan Total

Air hujan yang telah mengalami evapotranspirasi dan disimpan dalam


tanah lembab selanjutnya melimpas di permukaan (surface run off ) dan
mengalami perkolasi. Berikutnya, menurut Mock besarnya infiltrasi adalah
water surplus (WS) dikalikan dengan koefisien Infiltrasi (if), atau:

5) Infiltrasi (i) = Ws x if

III-30
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Koefisien infiltrasi ditentukan oleh kondisi porositas dan kemiringan


daerah pengaliran lahan yang bersifat poros umumnya memiliki koefisien
yang cenderung besar. Namun jika kemiringan tanahnya terjal dimana air
tidak sempat mengalami infiltrasi dan perkolasi ke dalam tanah, maka
koefisien Infiltrasinya bernilai kecil.

Infiltrasi terus terjadi sampai mencapai zona tampungan air tanah


(groundwater storage, disingkat GS). Keadaan perjalanan air di
permukaan tanah dan di dalam tanah sebagaimana berikut ini.

Gambar-3.9 Perjalanan air hujan sampai terbentuk debit

Dalam metoda ini, besarnya groundwater storage (GS) dipengaruhi oleh :

a. Infiltrasi (i), makin besar Infiltrasi maka groundwater storage makin


besar pula.Begitu pula sebaliknya.

b. Konstanta resesi aliran bulanan

Konstanta resesi aliran bulanan (monthly flow recession constant)


disimbolkan dengan K adalah proporsi dari air tanah bulan lalu yang
masih ada bulan sekarang. Nilai K ini cenderung lebih besar pada
bulan basah.

c. Groundwater storage bulan sebelumnya (GSom).

III-31
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Nilai ini diasumsikan sebagai konstanta awal, dengan anggapan


bahwa water balance merupakan siklus tertutup yang ditinjau
selama rentang waktu menerus tahunan tertentu. Dengan demikian
maka nilai asumsi awal bulan pertama tahun pertama harus dibuat
sama dengan nilai bulan terakhir tahun terakhir.

Dari ketiga faktor diatas, Mock merumuskan sebagai berikut :


GS = { 0,5 x (1+K) x i } + { K x GSom }

Seperti telah dijelaskan, metoda Mock adalah metoda untuk memprediksi


debit yang didasarkan pada water balance. Oleh sebab itu, batasan-
batasan water balance ini harus dipenuhi. Salah satunya adalah bahwa
perubahan groundwater storage ( GS ) selama rentang waktu tahunan
tertentu adalah nol, atau (misalnya untuk 1 tahun) :

bulan ke12
GS = 0
i bulan ke1

Perubahan groundwater storage ( GS ) adalah selisih antara


groundwater storage bulan yang ditinjau dengan groundwater storage
bulan sebelumnya.

Perubahan groundwater storage ini penting bagi terbentuknya aliran


dasar sungai (base flow, disingkat BF). Dalam hal ini base flow merupakan
selisih antara Infiltrasi dengan perubahan groundwater storage, dalam
bentuk persamaan :

BF = I GS

Jika pada suatu bulan GS bernilai negative (terjadi karena GS bulan yang
ditinjau lebih kecil dari bulan sebelumnya), maka base flow akan lebih
besar dari nilai Infiltrasinya. Karena water balance merupakan siklus
tertutup dengan perioda tahunan tertentu (misalnya 1 tahun) maka
perubahan groundwater storage (GS) selama 1 tahun adalah nol. Dari
persamaan di atas maka dalam 1 tahun jumlah base flow akan sama
dengan jumlah Infiltrasi.

Selain Base flow, komponen debit yang lain adalah direct run off
(limpasan langsung) atau surface run off (limpasan permukaan). Limpasan

III-32
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

permukaan bersala dari water surplus yang telah mengalami Infiltrasi.


Jadi direct run off dihitung dengan persamaan :

DRO = WS i

Setelah base flow dan direct run off komponen pembentuk debit yang
lain adalah storm run off, yaitu limpasan langsung ke sungai yang terjadi
selama hujan deras. Storm run off ini hanya beberapa persen saja dari
hujan. Storm run off hanya dimasukkan ke dalam total run off, bila
presipitasi kurang dari nilai maksimum soil moisture capacity. Menurut
Mock Storm run off dipengaruhi oleh percentage factor, disimbolkan
dengan PF. Percentage Factor adalah persen hujan yang menjadi
limpasan. Besarnya PF oleh Mock disarankan 5 % - 10 %, namun tidak
menutup kemungkinan untuk meningkat secara tidak beraturan hingga
mencapai 37,3 %.

Dalam perhitungan debit ini, Mock menetapkan bahwa :

a. Jika presipitasi (P) > maksimum soil moisture capacity maka nilai
storm run off = 0.

b. Jika P < maksimum soil moisture capacity maka storm run off adalah
jumlah curah hujan dalam satu bulan yang bersangkutan dikali
percentage factor, atau :
SRO = P x PF

Dengan demikian maka total run off (TRO) yang merupakan komponen-
komponen pembentuk debit sungai (stream flow) adalah jumlah antara
base flow, direct run off dan storm run off, atau :
TRO = BF + DRO + SRO

Total run off ini dinyatakan dalam mm/bulan. Maka jika TRO ini
dikalikan dengan catchment area (luas daerah tangkapan air) dalam km2
dengan suatu angka konversi tertentu akan didapatkan besaran debit
dalam m3/det.

6) Parameter Mock

III-33
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Secara umum, parameter-parameter yang akan dijelaskan ini


mempengaruhi besarnya evapotranspirasi, Infiltrasi, groundwater storage
dan storm run off.

1. Koefisien refleksi (r),

yaitu perbandingan antara jumlah radiasi matahari yang dipantulkan


oleh suatu permukaan dengan jumlah radiasi yang terjadi, yang
dinyatakan dalam persen. Koefisien refleksi ini berbeda-beda untuk
tiap permukaan bumi. Menurut Mock, rata-rata permukaan bumi
mempunyai harga koefisien refleksi sebesar 40%. Mock telah
mengklasifikasikan tiap permukaan bumi dengan nilai koefisien
refleksinya masing-masing .

Tabel 3.9 Koefisien refleksi (Nilai Albedo)


Koefisien Refleksi
No. Permukaan
[r]
1. Rata-rata permukaan bmi 40 %
2. Cairan salju yang jatuh di akhir musim masih 40-85 %
3. segar 30-40 %
4. Spesies tumbuhan padang pasir dengan daun 31-33 %
5. berbulu 24-28 %
6. Rumput tinggi dan kering 24-27 %
7. Permukaan padang pasir 15-24 %
8. Tumbuhan hijau yang membayangi seluruh 15-20 %
9. tanah 10-15 %
10. Tumbuhan muda yang membayangi sebagian 12-16 %
11. tanah 10-12 %
12. Hutan musiman 8-10 %
13. Hutan yang menghasilkan buah 9-18 %
14. Tanah gundul kering 5%
15. Tanah gundul lembab 14 %
Tanah gundul basah
Pasir, basah-kering
Air bersih, elevasi matahari 45
Air Bersih, elevasi matahari 20

Sumber : Mock, 1973


2. Exposed surface (m)
yaitu asumsi proporsi permukaan luar yang tidak tertutupi tumbuhan
hijau pada musim kering dan dinyatakan dalam persen. Besarnya harga
m ini, tergantung daerah yang diamati. Mock mengklasifikasikan
menjadi tiga bagian atau sekunder daerah tererosi dan daerah lading

III-34
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

pertanian. Besarnya harga Exposed surface ini berkisar antara 0 %


sampai dengan 50 % dan sama untuk tiap bulan.

3. Koefisien Infiltrasi (if)

Adalah koefisien yang didasarkan pada kondisi porositas tanah dan


kemiringan daerah pengaliran. Koefisien Infiltrasi mempunyai nilai
yang besar jika tanah bersifat porous, sifat bulan kering dan
kemiringan lahannya tidak terjal. Karena dipengaruhi sifat bulan maka
if ini bias berbeda-beda untuk tiap bulan. Harga minimum koefisien
infiltrasi bias dicapai karena kondisi lahan yang terjal dan air tidak
sempat mengalami infiltrasi.

4. Konstanta resesi aliran (K)

yaitu proporsi dari air tanah bulan lalu yang masih ada bulan sekarang.
Pada bulan hujan Nilai K cenderung lebih besar, ini berarti tiap bulan
nilai K ini berbeda-beda. Harga K suatu bulan relative lebih besar jika
bulan sebelumnya merupakan bulan basah.

5. Percentage factor (PF)

merupakan persentasi hujan yang menjadi limpasan. Digunakan dalam


perhitungan storm run off. Storm run off hanya dimasukkan kedalam
total run off, bila P lebih kecil dari nilai maksimum soil moisture
capacity. Besarnya PF oleh Mock disarankan berkisar 5%-10%, namun
tidak menutup kemungkinan untuk meningkat secara tidak beraturan
sampai harga 37,3 %.

6. Kalibrasi

Kalibrasi adalah upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan keluaran


model dengan data yang didapat dari lapangan. Kalibrasi bertujuan
untuk mengatur kombinasi parameter-parameter dalam pemodelan
sehingga hasil pemodelan dapat menyerupai keadaan sebenarnya. Yang
dimaksud mengatur adalah mengubah parameter-parameter tersebut
dalam rentang yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Hal ini bisa
dilakukan karena kebanyakan parameter dilapangan tidak dapat diukur
secara pasti.

III-35
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Kalibrasi yang dilakukan dalam metoda Mock adalah menyesuaikan


debit hasil perhitungan dengan debit hasil pengukuran dilapangan
dengan mengubah-ubah kombinasi parameter sedemikian rupa
sehingga debit hasil perhitungan sesuai dengan debit hasil pengukuran.

Dari 5 parameter Mock diatas, ada 3 parameter yang dikalibrasi yaitu


koefisien infiltrasi (if), konstanta resesi aliran (K) dan percentage
factor (PF). Dalam proses kalibrasi, beberapa parameter Mock harus
disesuaikan dengan kondisi musim, yaitu musim basah dan musim
kering. Kecenderungan nilai parameter-parameter Mock ini dibuat
sama dengan perubahan musim yang terjadi.

Untuk kondisi tanah yang sama, parameter if atau koefisien infilrasi


mempunyai nilai yang besar pada musim kering dan kecil pada musim
basah. Dengan demikian kecenderungan naik turunnya (trend)
parameter if ini berbanding terbalik dengan curah hujan.

Sementara itu Parameter K mempunyai trend yang sama dengan curah


hujan pada bulan sebelumnya. Nilai K cenderung lebih besar pada
bulan dimana bulan sebelumnya merupakan bulan basah, dan
sebaliknya.

Begitupun Parameter PF yang merupakan persentase hujan yang


menjadi limpasan mempunyai trend yang sama dengan curah hujan
pada bulan yang sama.

Ketiga parameter tersebut dikalibrasi tiap bulan perhitungan sesuai


dengan perhitungan debit bulanan dengan metoda Mock. Karena
dipengaruhi oleh musim, maka tiap bulan ketiga parameter tersebut
berbeda-beda.

3.4 METODOLOGI KEBUTUHAN AIR

Kebutuhan air secara umum dapat dibagi dalam dua kategori yaitu
kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan irigasi dan kebutuhan air
yang digunakan untuk keperluan non irigasi. Untuk kebutuhan air non irigasi
sendiri masih dibagi menjadi kebutuhan air untuk keperluan domestik, non
domestik, industri, peternakan perikanan dan penggelontoran/perawatan

III-36
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

sungai. Untuk memperkirakan kebutuhan air untuk keperluan-keperluan


tersebut, digunakan pendekatan berdasarkan batas administrasi.

3.4.1 Proyeksi Kebutuhan

Analisis kebutuhan air yang meliputi kebutuhan air untuk irigasi, domestik,
non domestik, industri, peternakan, dan perikanan selain dilakukan untuk
kebutuhan air saat ini juga dilakukan untuk kebutuhan air di masa akan
datang dimana faktor-faktor utama yang mempengaruhi kebutuhan tersebut
akan mengalami perubahan. Jumlah dan penyebaran penduduk menentukan
kuantitas kebutuhan air sedangkan laju perubahan penggunaan lahan juga
sangat menentukan kuantitas kebutuhan air untuk irigasi dan perikanan.
Untuk memproyeksikan jumlah penduduk dan perubahan penggunaan lahan
secara tepat adalah sangat sulit. Banyak pendekatan yang dapat dilakukan,
salah satunya adalah dengan menggunakan metode pendekatan eksponensial
yang telah direkomendasikan di dalam buku Pedoman Perencanaan Sumber
Daya Air Wilayah Sungai yang telah diterbitkan Direktorat Jenderal Sumber
Daya Air tahun 2001. Metode ini memakai anggapan persentase pertumbuhan
penduduk dan perubahan lahan tiap-tiap tahun adalah konstan.

Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

Pt = P(1 + r)t

dimana:

Pt = populasi atau luas lahan t tahun yang akan datang (orang atau ha),

P = populasi atau luas lahan waktu dasar yang ditinjau (orang atau ha),

r = perkembangan penduduk atau perubahan luas lahan tiap tahun (%),

t = banyaknya tahun yang diproyeksikan.

Dalam melakukan analisis penentuan jumlah penduduk dan luas lahan suatu
kabupaten dihitung berdasarkan data yang diperoleh dari buku Propinsi dalam
Angka dan Potensi Desa yang diperoleh dari BPS. Proyeksi yang dilakukan
adalah berdasarkan data tahun 2010, 2014, 2015 dan 2016. Dari keempat data
tersebut dilakukan perhitungan untuk memperoleh perkembangan penduduk
dan perubahan luas lahan tiap tahunnya. Dengan demikian untuk menghitung
proyeksi data jumlah penduduk dan luas lahan tahun-tahun mendatang

III-37
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

digunakan nilai perkembangan penduduk dan perubahan luas lahan rata-rata


dari tahun 2010 sampai 2017.

3.4.2 Kebutuhan Air Rumah Tangga

Kebutuhan air rumah tangga atau domestik adalah kebutuhan air untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Kebutuhan air rumah tangga
tersebut antara lain:

Minum.

Memasak

Mandi, cuci, kakus (MCK).

Lain-lain seperti cuci mobil, menyiram tanaman dan sebagainya.

Untuk memperkirakan jumlah kebutuhan air domestik saat ini dan di masa
yang akan datang dihitung berdasarkan jumlah penduduk, tingkat
pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air perkapita. Kebutuhan air perkapita
dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan kebiasaan atau tingkat kesejahteraan.
Oleh karena itu, dalam memperkirakan besarnya kebutuhan air domestik
perlu dibedakan antara kebutuhan air untuk penduduk daerah urban
(perkotaan) dan daerah rural (perdesaan). Adanya pembedaan kebutuhan air
dilakukan dengan pertimbangan bahwa penduduk di daerah urban cenderung
memanfaatkan air secara berlebih dibandingkan penduduk di daerah rural.

Besarnya konsumsi air dapat mengacu pada berbagai macam standar yang
telah dipublikasikan. Tabel 3.10 menampilkan angka-angka dari pengalaman
pemakaian air di di beberapa bagian dunia.

Standar kebutuhan air domestik berdasarkan kriteria jumlah penduduk dan


jenis kota seperti disajikan pada Tabel 3.11. Jumlah penduduk yang
digunakan dalam standar ini adalah jumlah penduduk yang menetap pada satu
wilayah.

Tabel 3.10 Gambaran Pemakaian Air Rumah Tangga di Beberapa Negara

Negara Pemakaian
Amerika Serikat 150 160
Asutralia 180 290

III-38
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Eropa 50 320
Tropis 80 185
Sumber: Chatib dkk, hal 16.
Tabel 3.11 Standar Kebutuhan Air Rumah Tangga Berdasarkan Jenis Kota dan
Jumlah Penduduk

Jumlah Kebutuhan Air


Jumlah Penduduk Jenis Kota
(ltr/org/hari)
> 2.000.000 Metropolitan > 210
1.000.000 2.000.000 Metropolitan 150 120
500.000 1.000.000 Besar 120 150
100.000 500.000 Besar 100 150
20.000 100.000 Sedang 90 100
3.000 20.000 Sedang 60 - 100
Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.

Sedangkan besarnya kebutuhan air untuk tiap orang per hari berdasarkan
standar dari Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah sebagai berikut:

Kebutuhan untuk penduduk kota besar sebesar 120 liter/kapita/hari.

Kebutuhan untuk penduduk kota kecil sebesar 80 liter/kapita/hari.

Kebutuhan untuk penduduk pedesaan sebesar 60 liter/kapita/hari.


3.4.3 Kebutuhan Air Perkotaan

Kebutuhan air non domestik atau sering juga disebut kebutuhan air perkotaan
(municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota, seperti fasilitas
komersial, fasilitas pariwisata, fasilitas ibadah, fasilitas kesehatan dan
fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan, pemadam
kebakaran, sanitasi dan penyiraman tanaman perkotaan. Besarnya kebutuhan
air perkotaan dapat ditentukan oleh banyaknya fasilitas perkotaan. Kebutuhan
ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota.

Untuk memperkirakan kebutuhan air perkotaan suatu kota maka diperlukan


data-data lengkap tentang fasilitas pendukung kota tersebut. Cara lain untuk
menghitung besarnya kebutuhan perkotaan adalah dengan menggunakan
standar kebutuhan air perkotaan yang didasarkan pada kebutuhan air rumah
tangga.

Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat diperoleh dengan prosentase dari


jumlah kebutuhan rumah tangga, berkisar antara 25 - 40% dari kebutuhan air

III-39
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

rumah tangga. Angka 40% berlaku khusus untuk kota metropolitan yang
memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi seperti Jakarta. Tabel 3.12
menampilkan standar yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan air
perkotaan apabila data rinci mengenai fasilitas kota dapat diperoleh. Untuk
lebih jelasnya, kebutuhan air perkotaan dapat dilihat pada Tabel 3.12 dan
Tabel 3.13 Kedua tabel ini digunakan bila tidak ada data rinci mengenai
fasilitas kota.
Tabel 3.12 Besar Kebutuhan Air Perkotaan Berdasarkan Fasilitas Perkotaan

Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.

Tabel 3.13 Besarnya Kebutuhan Air Non Domestik Menurut Jumlah Penduduk

Jumlah kebutuhan Air Non


Kriteria
Domestik (% Kebutuhan Rumah
(Jumlah Penduduk)
Tangga)
> 500.000 40
100.000 500.000 35
< 100.000 25
Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.

III-40
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel 3.14 Besar Kebutuhan Air Perkotaan Menurut Kepadatan Penduduk

Jumlah kebutuhan Air Non


Kriteria Kepadatan
Domestik (% Kebutuhan Rumah
(Jiwa/Ha)
Tangga)
> 100 25 35
50 100 20 30
< 50 15 30
Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.
1) Kebutuhan Air Industri

Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri,


termasuk bahan baku, kebutuhan air pekerja industri dan pendukung
kegiatan industri. Namun besar kebutuhan air industri ditentukan oleh
kebutuhan air untuk diproses, bahan baku industri dan kebutuhan air untuk
produktifitas industri. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan
industri seperti hidran dapat disesuaikan untuk jenis industrinya.

Industri perlu diklasifikasikan untuk menentukan jumlah air yang


dibutuhkan seperti disajikan pada Tabel berikut ini.
Tabel 3.15 Klasifikasi Industri

Jumlah Tenaga Kerja Klasifikasi Industri


1 4 orang Rumah Tangga
5 19 orang Kecil
20 99 orang Sedang
> 100 orang Besar

Besarnya kebutuhan air industri dapat diperkirakan dengan menggunakan


standar kebutuhan air industri. Kebutuhan air industri ini berdasarkan pada
proses atau jenis industri yang ada pada wilayah kawasan industri yang ada
dan jumlah pekerja yang bekerja pada industri tersebut. Besarnya standar
kebutuhan industri adalah sebagai berikut:

Untuk pekerja industri, kebutuhan air merupakan kebutuhan air


domestic yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pekerja pabrik.
Adapun kebutuhan air tersebut adalah 60 liter/pekerja/hari.

Untuk proses industri, kebutuhan air diklasifikasi sesuai dengan Tabel


E.17 berikut ini.

III-41
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel 3.16 Kebutuhan Air Industri Berdasarkan Beberapa Proses Industri

Sumber: Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.


Apabila data industri yang diperoleh adalah data luas lahan areal industri
maka kita dapat menggunakan Kriteria Perencanaan Air Baku yang
dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya (1994) sebagai berikut:

Industri berat membutuhkan air sebesar 0,50-1,00 liter/detik/ha.

Industri sedang membutuhkan air sebesar 0,25-0,50 liter/detik/ha.

Industri kecil membutuhkan air sebesar 0,15-0,25 liter/detik/ha.

Banyak cara untuk memprediksikan kebutuhan air industri tergantung pada


ketersediaan data yang ada. Jabotabek Water Resources Management
Study-JWRMS (1994) telah melakukan studi terhadap lebih dari 6.000
industri dari skala kecil sampai besar untuk mendapatkan korelasi antara
jumlah karyawan dengan kebutuhan air untuk industri. Meskipun demikian
ditemukan bahwa keanekaragaman parameter produksi sangat besar
sehingga hubungan tersebut tidak dapat ditemukan. Akhirnya dipakai angka
kebutuhan sebesar 500 liter/karyawan/hari untuk memperhitungkan
kebutuhan air untuk sektor industri.

2) Kebutuhan Air Peternakan


Kebutuhan air rata-rata untuk ternak ditentukan dengan mengacu pada
hasil penelitian dari FIDP yang dimuat dalam Technical Report National
Water Resources Policy tahun 1992. Rinciannya dapat dilihat pada Tabel
E.18. Secara umum kebutuhan air untuk ternak dapat diestimasikan dengan
cara mengkalikan jumlah ternak dengan tingkat kebutuhan air.

III-42
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel 3.17 Kebutuhan Air untuk Ternak

Jumlah Tenaga Kerja Klasifikasi Industri


Sapi/kerbau/kuda 40
Kambing/domba 5.0
Babi 6.0
Unggas 0.6
Sumber: Technical Report National Water Policy , 1992.
3) Kebutuhan Air Perikanan
Banyak metoda yang dapat dipakai untuk memperkirakan kebutuhan air
perikanan. Kebutuhan ini meliputi untuk mengisi kolam pada saat awal
tanam dan untuk penggantian air. Penggantian air bertujuan untuk
memperbaiki kondisi kualitas air dalam kolam. Intensitas penggantiannya
tergantung pada jenis ikan yang dipelihara. Jenis ikan gurami
(Osphronemus gouramy) dan karper (Cyprinus) membutuhkan penggantian
air minimal 1 kali dalam seminggu, sedangkan ikan lele dumbo (Clarias
glariepinus) hanya membutuhkan minimal 1 bulan sekali.

Estimasi besarnya kebutuhan air untuk perikanan ditentukan sesuai dengan


studi yang dilakukan oleh FIDP. Ditetapkan bahwa untuk kedalaman kolam
ikan kurang lebih 70 cm, banyaknya air yang diperlukan per hektar adalah
35-40 mm/hari, air tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk
pengaliran/pembilasan. Namun karena air tersebut tidak langsung dibuang,
tetapi kembali lagi, maka besar kebutuhan air untuk perikanan yang
diperlukan hanya sekitar 1/5 hingga 1/6 dari kebutuhan yang seharusnya,
dan ditetapkan angka sebesar 7 mm/hari/ha sebagai kebutuhan air untuk
perikanan.

4) Kebutuhan Air Penggelontoran/Pemeliharaan Sungai

Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai bisa diestimasi berdasarkan studi


yang dilakukan oleh IWRD (The Study for Formulation of Irrigation
Development Program in The Republic of Indonesia (FIDP), Nippon Koei
Co., Ltd., 1993), yaitu perkalian antara jumlah penduduk perkotaan
dengan kebutuhan air untuk pemeliharaan per kapita. Menurut IWRD,
kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai untuk saat ini adalah sebesar 360
liter/kapita/hari, sedangkan untuk tahun 20152020 diperkirakan

III-43
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai akan berkurang menjadi 300


liter/kapita/hari dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2015 akan
semakin banyak penduduk yang mempunyai/memanfaatkan system
pengolahan limbah. Mengingat bahwa dibutuhkan struktur penampungan air
khusus yang dapat mengeluarkan debit air dalam jumlah besar seperti
waduk dan reservoir serta nilai ekonomis air yang diperlukan untuk
melakukan penggelontoran apabila dibandingkan dengan jika air waduk
dipakai sebagai air baku untuk bahan air minum maka pada Studi Prakarsa
Strategis Sumber daya air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan ini
kebutuhan air untuk penggelontoran atau pemeliharaan sungai tidak
diperhitungkan.

5) Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air irigasi ini meliputi pemenuhan kebutuhan air keperluan


untuk lahan pertanian yang dilayani oleh suatu sistem irigasi teknis,
setengah teknis maupun sederhana. Kebutuhan air untuk irigasi
diperkirakan dari perkalian antara luas lahan yang diairi dengan kebutuhan
airnya per satuan luas.Kebutuhan air irigasi dapat dihitung dari pola tata
tanam rencana, kebutuhan air tanaman, dan luas areal layanan. Kebutuhan
air dihitung berdasarkan neraca air/water balance dengan parameter antara
lain sebagai berikut :

Kebutuhan air untuk pengolahan tanah

Kebutuhan air untuk tanaman

Kebutuhan air akibat kehilangan air dan distribusi air bawah tanah
(perkolasi)

Kebutuhan air untuk penggantian genangan

Curah hujan efektif

Dalam perhitungan kebutuhan air irigasi, ada beberapa faktor yang


berpengaruh, yaitu :

a) Kebutuhan bersih air untuk penyiapan lahan

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan ini menentukan kebutuhan


maksimum air irigasi. Faktor-faktor yang menentukan besarnya kebutuhan

III-44
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

air untuk penyiapan lahan tergantung dari besarnya penjenuhan tanah,


lama pengolahan tanah dan besarnya evaporasi serta perkolasi. Diambil
harga-harga seperti tersebut dalam KP-01 sebagai berikut :

Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan penyiapan


lahan

Diperkirakan jangka waktu penyiapan lahan ini selama satu bulan


(30 hari)

Jumlah air yang diperlukan untuk penyiapan lahan

Jumlah air yang diperlukan untuk penyiapan lahan ini dapat


ditentukan berdasarkan kedalaman serta porositas tanah di sawah.
Diambil kebutuhan air untuk penjenuhan dan pengolahan lahan
sebesar 200 mm

Pada permulaan tanam tidak ada lapisan air yang tersisa di sawah

Setelah tanam selesai, lapisan air di sawah ditambah 50 mm. Jadi jumlah
lapisan air yang diperlukan untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air
awal setelah tanam selesai seluruhnya menjadi 250 mm.

Apabila sawah telah dibiarkan bero untuk jangka waktu yang lama (2,5
bulan atau lebih) maka diperlukan lapisan air 300 mm. Kebutuhan air
tersebut di atas sudah termasuk kebutuhan air untuk persemaian
(pembibitan).

Untuk memudahkan perhitungan besarnya angka pengolahan tanah


digunakan tabel yang dibuat oleh Van de Goor dan Zylstra (1968), (KP-
Penunjang, 1986, Standar Perencanaan Irigasi, hal. 5).

k
Me
IR =
ek 1

dengan :

IR : kebutuhan air di sawah (mm/hari)


M : 1.1ETo + P (mm/hari), merupakan kebutuhan air
puncak

III-45
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

ETo : evapotranspirasi potensial (mm/hari)


P : perkolasi (mm/hari)

k : M.T/S

T : jangka waktu penyiapan lahan (hari)

S : kebutuhan air untuk penjenuhan

Tabel 3.18 Kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan

Eo (1.1*ET0) P M (E0 + P) K = M.(T/S) QR


Bulan T = 30 hari
(mm.hari-1) (mm.hari-1) (mm.hari-1) (mm.hari-1)
S = 250 mm
Jan 4.28 2.00 6.28 0.75 11.86
Feb 4.25 2.00 6.25 0.75 11.84
Mar 4.53 2.00 6.53 0.78 12.02
Apr 4.74 2.00 6.74 0.81 12.15
Mei 5.04 2.00 7.04 0.84 12.34
Jun 4.88 2.00 6.88 0.83 12.24
Jul 4.92 2.00 6.92 0.83 12.26
Agust 5.08 2.00 7.08 0.85 12.37
Sep 5.25 2.00 7.25 0.87 12.48
Okt 5.05 2.00 7.05 0.85 12.35
Nop 4.75 2.00 6.75 0.81 12.16
Des 4.45 2.00 6.45 0.77 11.97
Sumber : Kriteria Perencanaan (Bagian Penunjang) Hal. 8
b) Kebutuhan Air untuk Tanaman

Koefisien Tanaman (Kc)

Koefisien tanaman besarnya tergantung pada jenis tanaman dan phase


pertumbuhan. Pada hitungan digunakan koefisien tanaman untuk padi
dengan varietas unggul mengikuti ketentuan NEDECO/PROSIDA.

Besarnya koefisien tanaman untuk padi dan koefisien tanaman untuk


palawija dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.19 Nilai koefisien tanaman padi

Nadeco/ Prosida FAO


Bulan Varietas Varietas
Varietas Biasa Varietas Biasa
unggul Unggul
0.50 1.20 1.20 1.10 1.10
1.00 1.20 1.27 1.10 1.10
1.50 1.32 1.33 1.10 1.05

III-46
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

2.00 1.40 1.30 1.10 1.05


2.50 1.35 1.30 1.10 0.95
3.00 1.24 0.00 1.05 0.00
3.50 1.12 0.95
4.00 0.00 0.00
Sumber : Kriteria Perencanaan (KP-01) halaman 164
Tabel 3.19 Nilai koefisien tanaman palawija

Hari Kedelai Jagung Kacang Tanah


0 0.00 0.00 0.00
15 0.50 0.50 0.50
30 0.75 0.59 0.51
45 1.00 0.96 0.66
60 1.00 1.05 0.85
75 0.82 1.02 0.95
90 0.45 0.95 0.95
105 0.95
120 0.55
135 0.55
Sumber : Kriteria Perencanaan (KP-01) halaman 172

Evapotranspirasi Potensial (Eto)

Evapotranspirasi tanaman yang dijadikan acuan adalah rerumputan


pendek (albedo = 0,25). Eto adalah kondisi evaporasi berdasarkan
keadaan meteorologi berikut :

Temperatur

Lama Penyinaran Matahari (atau radiasi)

Kelembaban

Angin

Evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan rumus-rumus teoritis


empiris dan memperhatikan faktor-faktor meteorologi tersebut diatas.
Hitungan (Eto) dibuat secara bulanan dengan menggunakan metode
PENMAN MODIFIKASI, mengikuti metode yang direkomendasikan oleh

III-47
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

NEDECO/PROSIDA seperti diuraikan di dalam PSA-010 : Crop Water


Requirement, Bina Program, Dirjen Pengairan, 1985.

Rumus Evapotranspirasi PENMAN MODIFIKASI :

Eto = L
-1 1


Hshne - H10ne
Eq

radiation term aerodynamic term

dengan :

Eto = Index evaporasi yang besarnya sama dengan evapotranspirasi


potensial dari rumput yang dipotong pendek (mm/hari)

Hshne = Jaringan radiasi gelombang pendek (longleys/day)

H1one = Jaringan radiasi gelombang panjang (longleys/day)

Eq = Evaporasi yang dihitung dari persamaan aerodynamic dimana


temperatur permukaan sama dengan temperatur udara
(mm/hari)

L = Panas latent dari penguapan (longleys/minute)

= Kemiringan tekanan uap air jenuh yang berlawanan dengan


curve temperatur pada temperatur udara (mm Hg / C)

= Konstanta pskyrometris (faktor tak berdimensi) yang


didefinisikan oleh Bowen (0,49 mmHg / C)

Catatan : 1 longleys/day = 1 Cal/cm2.Hari

Harga-harga ( L-1) dan ( + ) dapat dicari dengan Tabel 55 Bila data


radiasi tidak tersedia, maka jaringan radiasi gelombang panjang dihitung
dengan persamaan :

H10ne =

0,97 Tai
4

0,47
_

0,77 ed 1
_ 8
1_ r
10

= r Tai f Tdp f m

III-48
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

dengan :

H1one = 0,97 Tai4

= Efek dari temperatur radiasi gelombang panjang


(nilai lihat pada Tabel 3.6)

0,47 _ 0,77 ed = f (Tdp)

= Efek dari tekanan uap pada radiasi gelombang


panjang (nilai seperti ditunjukkan dalam Tabel
3.7)

m = 8 (1 r)

jadi :

1 1_ r =
_ 8
1 m/10 = f (m)
10

= Efek dari angka nyata dan jam penyinaran


matahari terang maksimum pada radiasi
gelombang panjang

r = Lama penyinaran sinar matahari relatif

Sedangkan jaringan irigasi gelombang pendek dihitung dengan persamaan:

Hshne = 1 _ 0,29 cos 0,52r.10_ 2 Ra


= 0,75 0,29cos 0,52r.10_2 aHsh 10 _2
_2
= ash f r aHsh 10
dengan :

= albedo/koefisien refleksi, tergantung pada lapisan permukaan


yang ada, untuk rumput = 0,25

= derajad lintang (Utara dan Selatan)

r = lama penyinaran sinar matahari relatif

Ra = aHsh x 10-2

= radiasi gelombang pendek maksimum secara teori


(longleys/day) lihat Tabel 3.9

ash x f(r) = lihat Tabel 3.10

III-49
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Besarnya Eq (evaporasi) dihitung dengan rumus berikut :

Eq
= 0,35 0,50 0,54
2
ea _ ed
= f 2 Pz
wa
sa _ Pz wa
dengan :

2 = Kecepatan angin pada ketinggian 0,50 m diatas tanah (m/det)

Harga x f(2) dapat diperiksa pada Tabel 3.8

ea = Tekanan uap jenuh

= Pzwa ] sa (mmHg), lihat Tabel 3.6

ed = Tekanan uap yang terjadi


= Pzwa (mmHg), lihat Tabel 3.7

Jadi dari data kecepatan angin pada ketinggian 0,50 m tersebut


diperoleh harga x Eq.

c) Kebutuhan Air untuk Tanaman/Penggunaan Air Konsumtif (Etc)

Penggunaan konsumtif air oleh tanaman diperkirakan berdasarkan metoda


prakira empiris dengan menggunakan data iklim dan koefisien tanaman
pada tahap pertumbuhan.

Penggunaan konsumtif dihitung secara setengah bulanan dengan rumus


sebagai berikut :
Etc = Kc x Eto
dengan :
Etc = evapotranspirasi tanaman (mm/hari)
Eto = evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari)
Kc = koefisien tanaman

d) Perkolasi dan Rembesan

Perkolasi adalah kehilangan air di petak sawah karena meresap ke bawah


atau meresap ke samping. Besar perkolasi dipengaruhi oleh sifat-sifat
tanah terutama sifat fisik tanah, yaitu tekstur tanah dan struktur tanah,
juga dipengaruhi oleh kedalaman air tanah.

III-50
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Laju perkolasi tergantung dari sifat-sifat tanah, yaitu jenis tanah dan
karakteristik pengolahannya. Air perkolasi diberikan selama masa
pertumbuhan tanaman yang bertujuan untuk menjernihkan lapisan tanah
subsurface. Besarnya air perkolasi berkisar antara 1 s/d 3 mm/hari.

Besarnya perkolasi diambil berdasarkan pedoman dari PSA-10 sebagai


berikut :

Untuk lahan yang datar (dataran rendah) dapat digunakan 1 mm per


hari

Untuk lahan yang miring dengan kemiringan lebih besar 5 %


perkolasi berkisar 2 5 mm per hari.

Atau didasarkan pada tekstur tanah hasil pengamatan di lapangan,


yaitu:

Tanah bertekstur berat (lempungan) = nilai 1 2


mm/hari

Tanah bertekstur sedang (lempung pasiran) = nilai 2 3


mm/hari

Tanah bertekstur ringan (pasiran) = nilai 3 6


mm/hari
e) Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah besarnya curah hujan yang dapat
dimanfaatkan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan
(evapotranspirasi). Besar curah hujan efektif tergantung pada:
Cara pemberian air (rotasi, menerus/penggenangan atau berselang/
intermittent)
Laju pengurangan air genangan di sawah yang harus ditanggulangi
Sifat hujan
Kedalaman lapis air (water layer) yang harus dipertahankan di
sawah
Cara pemberian air ke petak, langsung dari sadap atau dari petak di
atasnya (pada sawah bertingkat)
Jenis tanaman dan tingkat ketahanan tanaman terhadap kekurangan
air

III-51
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Curah hujan efektif diperhitungkan sebesar 70% dari curah hujan andalan
R80 dan R50 tengah bulanan yang terlampaui.
Untuk padi : 70% . R80
Untuk palawija : 70% . R50
Curah hujan efektif untuk palawija ditentukan dengan periode bulanan
dan dihubungkan denagn curah hujan rata-rata bulanan (terpenuhi 50%)
serta rata-rata bulanan evapotranspirasi tanaman (KP-Penunjang, 1986,
Standar Perencanaan Irigasi, hal. 10).

6) Aplikasi Analisis Neraca Air

Analisis neraca air sangat terkait dengan sifat dari sumber daya air yang selalu
berubah-ubah menurut waktu, ruang, jumlah dan mutu. Oleh karena itu, pada
setiap daerah akan memiliki karakteristik yang khas. Perhitungan neraca air
dilakukan dengan didasarkan pada perbandingan antara ketersediaan air
permukaan dengan memperhatikan adanya titik-titik pengambilan (misalnya:
bendung atau waduk) dengan total kebutuhan air di wilayah yang dilayaninya,
dengan belum memperhitungkan adanya optimasi pemanfaatan jika terjadi
defisit air.

Langkah-langkah analisis keseimbangan air dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menghitung ketersediaan air pada masing-masing DAS yang akan melayani


wilayah administrasi tertentu sebagai titik-titik pusat kebutuhan yang
juga dihitung kebutuhan airnya.

Menghitung keseimbangan air antara titik-titik kebutuhan dengan wilayah-


wilayah DAS yang melayaninya.

Melakukan proyeksi terhadap kebutuhan sehingga dapat diperkirakan


kebutuhan air di masa yang akan datang.

Ilustrasi dari analisis neraca air dapat dilihat pada Gambar E.10. Skematisasi
wilayah sungai hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga ketersediaan air
pada setiap bangunan kontrol dan bangunan pengambilan utama telah
terwakili. Biasanya sub wilayah sungai hulu digabungkan di titik tersebut.
Untuk skematisasi tersebut perlu dibedakan sistem sumberdaya air yang
mempunyai pengaruh besar terhadap wilayah tersebut dan titik-titik
pengambilan yang banyak dan kecil-kecil. Wilayah sungai yang besar

III-52
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

diperlukan pengelompokan setiap titik yang kecil-kecil, dengan tujuan


penyederhanaan permasalahan.

Gambar-3.10 Analisis Neraca Air

Neraca Air menyajikan kondisi ketersediaan air dan kebutuhan air pada suatu
lokasi atau kawasan dan mengenai mengalokasikan air, mensimulasikan

III-53
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

kebijakan alokasi air dan mengoptimalkan alokasi air agar didapat manfaat
yang maksimal dengan tetap melestarikan lingkungan.

Neraca air adalah tabel atau gambar yang menyatakan informasi mengenai
ketersediaan air dan kebutuhan air. Neraca air ini dikaji pada suatu kawasan
tertentu misalnya pada daerah pengaliran sungai, wilayah sungai, atau
Kabupaten; atau juga pada suatu lokasi tertentu misalnya waduk atau
bendung pengambilan air. Sehingga suatu neraca air selalu dijelaskan kondisi
tahun neraca air tersebut dibuat atas :

Kondisi kasus dasar, yaitu kondisi ketersediaan air dan kebutuhan air pada
masa kini

Kondisi masa mendatang tanpa upaya pengembangan yaitu dengan kondisi


ketersediaan air yang sama dengan kondisi masa kini, akan tetapi
kebutuhan air telah meningkat.

Kondisi masa mendatang dengan berbagai alternatif upaya pengembangan,


yaitu untuk mengkaji dampak dari upaya-upaya pengembangan sumberdaya
air dalam memenuhi kebutuhan air di masa mendatang.
Bagan alir penyusunan neraca air seperti pada gambar berikut

Data hujan Data debit Data iklim Data irigasi Data penduduk Data industri,
tambak, d.l.l

Model
Hujan-aliran Data hujan Data hujan Data hujan

Kebutuhan
Ketersediaan Kebutuhan Kebutuhan
Air irigasi
air Air minum Air lainnya

Sistem Informasi Jar. Tata air +


Model Distribusi
Geografis (GIS) Pola Operasi
Alokasi Air
MAPINFO

Peta Tematik Peta Skematisasi


Neraca Air Ketersediaan air

III-54
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Gambar-3.11 Bagan Alir Penyusunan Neraca Air

3.5 RENCANA ALOKASI AIR RINCI (RAAR)

Berdasarkan RAAT yang telah ditetapkan, disusun Rencana Alokasi Air Rinci
(RAAR) yaitu rancangan pelaksanaan penyediaan air di lapangan yang berbasis waktu
lebih pendek (setengah bulanan/dasarian) agar bilamana terdeteksi akan terjadi
neraca yang defisit maka segera dapat dilakukan penyesuaian atas ketersediaan
airsehingga air dapat didistribusikan dan dimanfaatkan dengan optimal RAAR memuat
informasi mengenai tentang jadwal dan besarnya volume air yang harus
tersediavolume air yang dapat diambil oleh masng-masing pemanfaat SDA di setiap
titik simpul/node yang berada dalam sistem tata air/disepanjang sungai atau dalam
satu DAS/WS.
Pedoman yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan RAAR adalah sebagai berikut:
a) Memantau ketersediaan air yang menyeluruh di sepanjang sungai, yaitu data
aliran harian di beberapa titik kontrol; apabila ada titik kontrol baru sebagai
akibat dari pemberian ijin baru maka ketersediaan dan alokasi air dari titik
kontrol ke arah hulu DAS tidak perlu dihitung kembali sepanjang tidak merubah
quota pengalokasian air kepada para pengguna dan pemeliharaan aliran sungai
yang telah ditetapkan namun pada penyusunan RAAT yang akan datang perlu
dievaluasi kembali secara menyeluruh. Sebaliknya, apabila mempengaruhi
keseimbangan neraca air yang ada maka perlu dihitung kembali dengan
memperhatikan karakter pengguna baru (konsumtif atau non konsumtif),
ketersediaan air pada musim kemarau, ecosystem sungai, SOP pelaksanaan
alokasi air rinci dan prioritas penggunaan air sesuai dengan prinsip dasar
perencanaan pengalokasian air dan hasilnya untuk bahan evaluasi penyusunan
RAAT yang akan datang. Pengelola sungai perlu mempertimbangkan penundaan
penambahan titik kontrol baru apabila menimbulkan deficit atau dibicarakan
dengan para pengguna sejauh tidak merubah secara signifikan penggalokasian
yang telah ditetapkan
b) Mengefektifkan pemantauan dan pengawasan terhadap penggunaan air konsumtif
dan non-konsumtif, untuk mengurangi jumlah pengambilan air ilegal;

III-55
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

c) Mengembangkan sistem komunikasi dengan para penggunaan air yang legal. Hal
ini dimaksudkan untuk menjaga kelancaran penyampaian informasi mengenai
kondisi aktual air yang tersedia dan volume penggunaan air disepanjang jaringan
sumber air termasuk implikasi yang diperkirakan timbul pada saat terjadinya
krisis air;
Tahapan pelaksanaan penyusunan RAAR adalah sebagai berikut :
1) Persiapan pelaksanaan
2) Penyusunan SOP
3) Proses Simulasi dan pelaksanaan RAAR
4) Koordinasi dalam penyediaan air
5) Pemantauan dan evaluasi
3.6 PERSIAPAN PELAKSANAAN

Langkah kegiatan sebelum melaksanakan alokasi air rinci perlu dilakukan


kegiatan persiapan yaitu meliputi:
1. Pemeriksaan kesiapan sarana dan prasarana pemanfaat SDA yaitu meliputi
kondisi dari masing-masing bangunan intake.
Beberapa bangunan ukur yang sering dijumpai dalam sistem jaringan irigasi
ataupun intake air minum adalah sebagai berikut:
Alat ukur Thomson
Alat ukur Cipoletti
Alat ukur Ambang lebar
Alat ukur Pintu Romyn
Alat ukur Crump weir
Alat ukur Parshall Flume
Alat ukur Crump De Gruyter
Mercu bendung.
Alat ukur tersebut mempunyai spesifikasi teknis tertentu dalam penggunaan
maupun dalam pemasangannya
2. Kesiapan SOP
Standar operasional prosedur merupakan dokumen yang wajib disusun dalam
melaksanakan alokasi air. Penyusunanya dilakukan oleh pengelola sungai
sebagai penanggung jawab kegiatan dan dapat melibatkan para pengguna air
untuk mendapatkan masukkannya

III-56
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

3. Penyiapan SDM, yang terkait dalam penyelenggaraan alokasi air perlu


ditingkatkan kesiapannya melalui pelatihan/sosialisasi dan diskusi tentang
pemahaman rencana alokasi air serta SOP
4. Pemeriksaan kesiapan peralatan pengukuran/pemantauan termasuk
melakukan kegiatan kalibrasi peralatan.
Khusus untuk bangunan ukur perlu didahului dengan kegiatan inventarisasi
keberadaan, kondisi fisik, dan akurasi (apakah bangunan ukur telah
terkalibrasi) dari masing masing bangunan ukur.
5. Pemeriksaan kesiapan peralatan pendukung termasuk sarana komunikasi,
software dan hardware untuk pelaksanaan kegiatan alokasi air dan real time
monitoring system.
6. Ketersediaan dana untuk pembiayaan kegiatan alokasi air.
3.7 PENYUSUNAN SOP

Sebelum dimulai pelaksanaan penyediaan air, Pengelola SDA wajib menyusun


dan menetapkan dan mensosialisaskan SOP (Standard Operation Procedure) alokasi
air. Dokumen yang berisikan tatacara rinci bagi pengelola SDA untuk
menyelenggarakan alokasi air termasuk pemberitahuan bilamana terjadi atau
diperkirakan akan terjadi penyimpangan dalam penyelenggaraan alokasi air.
SOP disusun dan berisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Batas akseptabilitas pelayanan air
2. Batas akseptabilitas operasional prasarana pengairan
3. Kewenangan pengambil keputusan pada berbagai kondisi yang tidak normal
Dalam menyusun SOP minimal memuat:
Tata Cara pelaksanaan alokasi air
Tata Cara pengendalian alokasi air
Tata cara pemantauan dan evaluasi
Peta dan data kondisi prasarana sumber daya air
Struktur kelembagaan :
Daftar nama petugas
Nomor telepon yang bisa dihubungi
Frekwensi radio komunikasi
Tanggung jawab masing-masing petugas
Ketersediaan Prasarana

III-57
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Struktur organisasi pelaksana, daftar nama petugas dan alat


komunikasi.

3.8 PELAKSANAAN RENCANA ALOKASI AIR RINCI RAAR

Pedoman dalam pelaksanaan RAAR digambarkan pada gambar dibawah ini.

Gambar-3.12 Proses pelaksanaan RAAR

Sumber: Modul Water Allocation, PT Virama Karya, 2014

1. Running Model
Penyusunan model sama dengan saat penyusunan model.
2. Input data adalah data ketersediaan dan kebutuhan air yang real time/ tepat
waktu, dengan basis waktu sesuai dengan interval waktu pengaturan pintu
yang ditetapkan (dasarian atau setengah bulanan).
3. Verifikasi data dan Koreksi
Perhitungan data ketersediaan air berbasis pada estimasi bahwa:

o Data dasarian atau setengah bulanan yang akan datang adalah sama
dengan data dasarian atau setengah bulanan yang lalu.

o Data dasarian dan setengah bulanan dikoreksi dengan koef regresi


dengan data pengamatan dasarian atau setengah bulanan yang lalu.

III-58
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Bilamana tidak tersedia data tersebut di atas maka terlebih dahulu harus
membangkitkan data ketersediaan air Perhitungan ketersediaan air ini perlu
untuk mempertimbangkan hasil prediksi musim yang akan datang dari BMKG.
Ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan adalah :
1. Bila didalam sistem tata air terdapat waduk, maka ketersediaan air
pada segmen dihilir waduk tergantung pada pola operasi waduk
2. Perhitungan kebutuhan air irigasi disesuaikan dengan kondisi tata
tanam di lapangan, sedangkan kebutuhan air non irigasi sesuai dengan
jadwal dan volume air yang direncanakan untuk dasarian atau setengah
bulanan yang akan datang.
3. Agar debit dapat terdistribusi ke masing-masing titik pemanfaat
air/titik simpul sesuai dengan hasil perhitungan alokasi air maka pada
setiap titik simpul perlu dilengkapi dengan bangunan ukur yang
berfungsi degan baik dan terkalibrasi.
4. Agar hasil proses dari RAAR dapat dikirimkan ke masing-masing
operator tepat waktu maka perlu untuk dibuat jadwal waktu
pengambilan/pengiriman data lapangan tersebut dan dapat ditaati
oleh seluruh petugas terkait.

5. Bilamana terjadi neraca air defisit (Kebutuhan > Ketersediaan air)


maka:
o Perhitungan penyediaan air harus mengikuti rule prioritas yang
telah disepakati
o Mengusulkan rule prioritas yang baru agar pembagian air untuk
periode yang akan datang dapat optimal.

6. Perubahan rule prioritas yang baru perlu dibahas dan


disepakati/dikoordinasikan dengan seluruh pengguna air dan hal
ini perlu dikoordiner oleh pengelola sungai.
4. Ketentuan yang wahib diketahui operator atau petugas pintu air.
a. Data hasil perhitungan alokasi air yang telah disepakati oleh
seluruh pengguna air harus sampai ke operator tepat waktu, agar
operator dapat mengatur bukaan pintu/intake sesuai yang
disarankan/hasil perhitungan alokasi air.

III-59
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

b. Teknis pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara


diambil/diantar oleh petugas lapangan atau dikirimkan datanya
lewat radio komunikasi atau handphone.

3.9 PEMBERITAHUAN PENYEDIAAN AIR

a. Hasil perhitungan simulasi alokasi air yang sudah disepakati perlu disampaikan
oleh pengelola alokasi air (B/BWS atau BPSDA) kepada seluruh pengguna air
(khususnya untuk pengguna non irigasi yang mempunyai ijin) dan kantor UPT
Dinas Provinsi/Kabupaten yang telah siap dengan para petugas/operator pintu
intake irigasi (Juru bendung)
b. Pemberitahuan/penyerahan data debit (besarnya debit yang di ijin kan dan
jadwalnya) di masing-masing titik simpul/node ke kantor UPT Dinas
Provinsi/Kabupaten dan pemanfaat Air yang memiliki SIPPA dengan cara:
- Pengiriman surat pemberitahuan secara resmi.
- Melalui alat komunikasi (radio komunikasi/telpon/HP atau media
electronik lainnya)
3.10 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan alokasi air di lapangan serta


penertiban terhadap pelanggaran penggunaan air, dilakukan oleh pengelola sumber
daya air (B/BWS atau BPSDA) dengan tujuan agar pelaksanaannya sesuai dengan
persyaratan teknis yang telah ditetapkan dan dapat mengurangi terjadinya
penyimpangan pelaksanaan alokasi air bagi seluruh pemanfaat air (baik yang
ilegal/mempunyai ijin maupun yang tidak mempunyai ijin)
Periode pengawasan dilakukan minimal dua kali dalam satu tahun yaitu pada
awal musim hujan dan awal musim kemarau.
Pedoman dalam pengawasan dilakukan antaralain dengan cara sebagai berikut
a) Mengontrol/inspeksi pelaksanaan alokasi air dan melakukan pengecekan
kesesuaian antara operasionil dengan rencana alokasi air
b) Inspeksi dan Evaluasi kinerja sarana dan prasarana sumber daya air.
c) Inspeksi dan penertiban penggunaan air yang illegal.
d) Inventarisasi pengguna air baru yang mengajukan ijin pengambilan air
permukaan (sungai).

III-60
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Upaya pengendalian dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi


penyimpangandapat dilakukan dengan melaksanakan:
a) Koreksi terhadap pelaksanaan alokasi airdilakukan apabila penyimpangannya
masih dalam batas toleransi yang telah disepakati, dengan melakukan upaya
pencegahan. Batas toleransi yang dimaksud disesuaikan dengan kondisi
lapangan dan kriteria pemberian air dari masing masing pengguna air.
b) Koreksi terhadap rencana alokasi air rinci, dilakukan apabila terjadi
penyimpangan yang melebihi batas toleransi yang telah disepakati, antara lain
disebabkan oleh adanya perubahan cuaca, bencana alam, perubahan
kebijakan.
Koreksi dimaksudkan untuk menghitung kembali pola alokasi air tahun
berkutnya dengan memasukkan asumsi dan kebijakan baru yang disusun melalui
mekanisme perencanaan alokasi air.
3.11 FORMULIR YANG DIGUNAKAN

Tabel-3.1 Formulir-Formulir dalam Penyelenggaraan Alokasi Air


No. NAMA FORMULIR JUDUL FORMULIR KETERANGAN
1. Formulir 1 Rincian Penggunaan Air
2. Formulir 2 Rincian Neraca Air
Realisasi Alokasi Air Pada
3. Formulir 3 Lokasi Pengambilan
(Pelaksanaan)
KetersediaanAir
4. Formulir 4
Waduk/Embung (Pelaksanaan)
Realisasi Perkembangan
5. Formulir 5 Tanam dan Panen Padi
Rendeng (Pelaksanaan)
Realisasi Alokasi Air Pada
6. Formulir 6 Lokasi Pengambilan
(Pemantauan)
Ketersediaan Air
7. Formulir 7
Waduk/Embung (Pemantauan)
8. Formulir 8 Pola Operasi Waduk
9. Formulir 9 Realisasi Perkembangan

III-61
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tanam dan Panen Padi


Rendeng (Pemantauan)
Sumber: Surat Edaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Nomor : 04/SE/D/
2012 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Neraca Air dan
Penyelenggaraan Alokasi Air
Penjelasan masing masing formulir adalah sebagai berikut :
1. Formulir 1 tentang Rincian Penggunaan Air menjelaskan tentang rincian
penggunaan air pada suatu Wilayah Sungai atau Daerah Aliran Sungai yang telah
dimanfaatkan airnya. Diuraikan rinci sesuai dengan kolom yang tersedia baik
untuk pengguna air yang mempunyai ijin maupun tidak . Hal ini berguna
untuk mengetahui status dan jumlah pengguna air setiap tahun dan berguna
untuk penyusunan skema system tata air
2. Formulir 2 tentang Rencana Neraca Air yang meliputi hasil perhitungan
ketersediaan air dan kebutuhan air yang dirinci setiap bulan sehingga terlihat
status neraca air pada suatu DAS yang ditinjau Surplus (S) atau D (deficit)
3. Formulir 3 tentang Realisasi Alokasi Air pada Lokasi Pengambilan. Formulir ini
untuk monitoring dan evaluasi per dekade di setiap bangunan pengambilan air
pada saat pelaksanaan. Tindakanyang dilakukan bila terdapat deviasi terhadap
rencana terutama apabila diluar batas toleransi yang telah disepakati maka
mengacu pada hasil koordinasi dalam TKPSDA dan bila perlu dimasukkan SOP
pelaksanaan.
4. Formulir 4 tentang Data ketersediaan air pada Waduk/Embung pada saat
pelaksanaan. Debit rencana dan evaluasi muka air waduk diperoleh dari pola
operasi waduk yang akan dioperasikan dan disusun pada saat detail design
5. Formulir 5 tentang Realisasi perkembangan tanam dan panen padi rendeng per
dekade per wilayah administrasi dalam suatu Wliayah Sungai atau Daerah Aliran
Sungai selama pelaksanaan alokasi air rinci
6. Formulir 6 tentang Realisasi Alokasi Air pada Lokasi Pengambilan. Formulir ini
untuk monitoring dan evaluasi per dekade di setiap bangunan pengambilan air
pada saat pemantauan. Tindakanyang dilakukan bila terdapat deviasi terhadap
rencana yang telah disepakati maka mengacu pada hasil koordinasi dalam
TKPSDA dan SOP pelaksanaan.
7. Formulir 7 tentang ketersediaan air pada Waduk/Embung pada saat
pemantauan. Tindakanyang dilakukan oleh pengelolala sungai bila terdapat

III-62
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

deviasi terhadap rencana maka kembali pada manual pola operasi waduk yang
telah ditetapkan
8. Formulir 8 tentang Pola Operasi Waduk Aktual (POWA) diperuntukkan bagi
pelaksanaan penyediaan dan alokasi air dalam suatu DAS yang mempunyai
prasana Bendungan. Dari POWA akan terlihat rencana dan realisasi pengeluaran
debit dan volume air waduk berdasarkan elevasi muka air yang direncanakan
maupun realisasinya.
9. Formulir 9 tentang Realisasi perkembangan tanam dan panen padi rending per
Musim Tanam dalam wilayah administrasi pada suatu Wliayah Sungai atau
Daerah Aliran Sungai selama pelaksanaan alokasi air rinci

III-63
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel-3.13 Formulir 1 Tentang Rincian Penggunaan Air

FORMULIR A-01
RINCIAN PENGGUNAAN AIR
Nama Pengelola SDA Wilayah Sungai : .
CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai : ..
Penggunaan Air SIPA
No. Kategori / Nama Pengguna Prop. / Kec. / SIPA Aktual Dikeluarkan KET.
Sungai Koordinat 3
No. Ijin Tahun
Kab. Desa (L/dt) (L/dt) m /th Oleh
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

I. IRIGASI
a. DI. CISADANE Cisadane 7o 34' 55" Banten - - 21290 - - - - -

II. NON IRIGASI


a. Domestik/Municipal
1. PT. CIPUTRA DEVELOPMENT II Cisadane 7o 31' 05" Banten - 20 20 622,08 693.7/033/PU-Kadis 2004 PU-Kadis -
o
2. PT. TAMARA GREEN GARDEN Cisadane 7 29' 15" Banten - 20 10 311,04 693.7/SK.19.1/DPU 2007 DPU -

b. Industri
1. PT. UNIPA DAYA Cisadane 7o 12' 25" Banten - 30 25 777,6 693.7/SK.35.1.2/DPU 2007 DPU -

c. Perikanan - - - - - - - - - -

d. PLT Mikro Hidro

e. Pemeliharaan sungai Cisadane - Banten - - 1500 - - - - -

Keterangan :
Kode WS
: Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006

III-64
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Tabel-3.14 Formulir 2 Tentang Rencana Neraca Air

FORMULIR A-02
RENCANA NERACA AIR
Nama Pengelola SDA wilayah Sungai CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai : Periode : 2010
Nama Bulan (m 3 /dt) Rata-rata
No. Kondisi Keterangan
DAS / DP Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Tahunan

1 Citaruma. Ketersediaan Air


Prakiraan (Q andalan) : 371,97 349,4 369,1 390,1 287,4 169,8 118,9 69,59 62,57 142,5 267,1 294,1 241,05

b. Kebutuhan Air
Rencana kebutuhan air : 218,00 203,06 200,94 213,08 246,75 259,79 243,01 201,92 193,47 229,61 253,37 277,85 228,40

Rincian Keb. Air


1 RKI (Rumah tangga, kota dan industri)
Rencana keb. air DMI : 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73 44,73

2 Irigasi Jadual Awal Tanam :


Keb. Air Tanaman (m3/dt) : 149,5 134,6 132,5 144,6 178,3 191,3 174,5 133,4 125 161,1 184,9 209,4 159,92

3 Perikanan
(Luas .Ha)
Rencana keb. air perikanan : 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50 12,50

4 PLT Mikro Hidro

5 Pemeliharaan sungai
Rencana keb. air pem. Sungai : 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50

Neraca Air ( NA ) : 153,97 146,36 168,15 176,97 40,68 -90,03 ###### ###### ###### -87,12 13,75 16,29 12,65
Status ( NA ) S S S S S D D D D D S S S

Keterangan :
Status ( NA ) : Kode WS
1 : D --> DEFISIT : Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006
2 : S --> SURPLUS
3 Ketersediaan air menggunakan Debit andalan 80%
4 Rencana Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai menggunakan debit andalan 95%

Tabel-3.15 Formulir 3 Realisasi Alokasi Air Pada Lokasi Pengambilan

III-65
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

FORMULIR A-03
REALISASI ALOKASI AIR PADA LOKASI PENGAMBILAN
Periode : Bulan Mei
(Pelaksanaan)
CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai :
Dekade Debit Deviasi thd
No Nama Intake 1/2/3 (m3/det) Rencana*) KETERANGAN
Rencana Aktual (m3/det) (%)

1 Lodoyo-Tulungagung (Lodagung) 2 13,00 13,00 0,00 0,00

2 Mrican Kiri 2 13,84 13,95 0,08 0,57

3 Mrican Kanan 2 16,50 16,58 0,08 0,48

4 Menturus 2 3,21 3,63 0,42 13,15

5 Jatikulon 2 0,38 0,40 0,02 6,46

Ket :
*) Deviasi dari pola yang telah disepakati dalam rapat koordinasi dalam wadah koordinasi SDA
Kode WS : Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006

Tabel-3.16 Formulir 4 Ketersediaan Air Waduk/Embung

III-66
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

FORMULIR A-04
KETERSEDIAAN AIR WADUK / EMBUNG
Periode : Bulan Maret (s.d. tgl. 15 Maret 2008 )
(Pelaksanaan)
CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai :
Elevasi Volume Nama Waduk Wonogiri
3
Dkd Pola Aktual Deviasi Pola Aktual Deviasi Pola Inflow Q Outflow (m /dt) Layanan *)
1/2/3 Normal Normal Kering Pola Aktual Irigasi Air Baku Listrik
6 3 6 3 3 3 3 6 3
(m) (m) (%) (10 m ) (10 m ) (%) (m) (m /det) (m /det) (m /det) (Ha) (10 m ) (MWh)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 136,00 135,84 0,999 466,00 494,00 1,06 136,00 30,00 45,00 24,000 2,00 2,50

Ket :
*) Layanan berdasarkan pola operasi normal
Kode WS : Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006

Tabel-3.17 Formulir 5 Realisasi Perkembangan Tanam dan Panen Padi Rendeng

III-67
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Formulir A-05
REALISASI PERKEMBANGAN TANAM DAN PANEN PADI RENDENG
MT 2007/2008 BULAN APRIL DEKADE 1
DAERAH IRIGASI JATILUHUR CONTOH
(Pelaksanaan)
Tahun 2008
Daerah Irigasi / Wilayah Target Aktivitas (Ha)
Keterangan
Adm (Ha) Bibit Garap Tanam Panen Jumlah

Target

DKI Jaya 933 0 0 0 847 847


Indramayu 24.388 0 0 6.878 17.510 24.388 Palawija 121 ha
*) 100 ha puso
Jumlah 231.303 0 0 78.538 152.171 230.709

Luar Target

DKI Jaya 0 0 0 0 0 0

Bekasi 0 0 0 0 0 0

Jumlah 0 0 0 2.273 3.641 5.914

Tabel-3.18 Formulir 6 Realisasi Alokasi Air Pada Lokasi Pengambilan

III-68
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Formulir A-06
REALISASI ALOKASI AIR PADA LOKASI PENGAMBILAN
Periode : Bulan Mei 2008
(Pemantauan)
CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai :
Dekade Debit Deviasi thd
3
No Nama Intake 1/2/3 (m /det) Rencana*) KETERANGAN
3
Rencana Aktual (m /det) (%)

1 Lodoyo-Tulungagung (Lodagung) 1 12,50 11,15 (1,35) (10,80)

6 Pintu Air Mlirip 1 20,00 20,00 0,00 0,00


3 32,50 27,62 (4,88) (15,02)

8 Kali Konto 1 10,54 16,41 5,87 55,69


2 10,41 14,45 4,04 38,81
3 9,29 13,69 4,40 47,36

9 Kali Widas 1 2,00 2,01 0,01 0,50


2 2,00 0,16 (1,84) (92,00)
3 2,00 1,91 (0,09) (4,50)

10 Tiudan 1 1,82 1,82 0,00 0,00


2 1,90 1,90 0,00 0,00
3 1,77 1,77 0,00 0,00

Ket :
*) Deviasi dari pola yang telah disepakati dalam rapat koordinasi dalam wadah koordinasi SDA
Kode WS : Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006

Tabel-3.19 Formulir 7 Ketersediaan Air Waduk/ Embung

III-69
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Formulir A-07
KETERSEDIAAN AIR WADUK / EMBUNG
Periode : Bulan Maret (s.d. tgl. 31 Maret 2008 )
(Pemantauan) CONTOH
Wilayah Sungai, Kode Wil. Sungai :
Elevasi Volume Nama Waduk Wonogiri
Dkd Pola Aktual Deviasi Pola Aktual Deviasi Pola Inflow Q Outflow (m 3 /dt) Layanan *)
1/2/3 Normal Normal Kering Pola Aktual Irigasi Air Baku Listrik
(m) (m) (%) (10 6 m 3 ) (10 6 m 3 ) (%) (m) (m 3 /det) (m 3 /det) (m 3 /det) (Ha) (10 6 m 3 ) (MWh)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 136,00 135,84 0,999 466,00 494,00 1,06 136,00 30,00 45,00 24,000 2,00 2,50

2 136,50 135,91 0,996 508,00 501,00 0,986 136,00 30,00 28,50 24,000 1,50 2,50

Ket :
*) Layanan berdasarkan pola operasi normal
Kode WS : Menurut Permen PU No. 11 A/PRT/M/2006

Tabel-3.20 Formuli 8 Pola Operasi Waduk Aktual

III-70
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Formulir A-08
POLA VS AKTUAL
CONTOH OPERASI WADUK DJUANDA TAHUN 2005 - 2006

130,00 300,00
120,00 280,00
110,00 260,00
El. Muka Air Waduk (m)

100,00 240,00

Debit (m 3/dt)
90,00 220,00
80,00 200,00
70,00 180,00
60,00 160,00
50,00 140,00
40,00 120,00
30,00 100,00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36
Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember

Elev. MA Pola (m) Elev. MA Aktual (m) Debit Inflow Pola Aktual (m3/dt) Debit Outflow Aktual (m3/dt)

Musim Penghujan 2005 / 2006


Tahun / Bulan/ Dekade Oktober November Desember Januari Februari Maret
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Elevasi Muka Pola
Air (m) Aktual
Vol (Juta m3)
Rencana
Debit (m3/dt)
Vol (Juta m3)
Realisasi
Debit (m3/dt)

Musim Penghujan 2005 / 2006


Tahun / Bulan/ Dekade April Mei Juni Juli Agustus September
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Elevasi Muka Pola 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Air (m) Aktual 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Vol (Juta m3) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Rencana
Debit (m3/dt) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Vol (Juta m3) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Realisasi
Debit (m3/dt) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Tabel-3.212 Formulir 9 Realisai Perkembangan Tanam dan Padi Rendeng

III-71
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

Formulir A-09
REALISASI PERKEMBANGAN TANAM DAN PANEN PADI RENDENG
MT 2007/2008 SAMPAI DENGAN 30/05/08 CONTOH
DAERAH IRIGASI JATILUHUR
(Pemantauan)
Tahun 2008
Daerah Irigasi / Wilayah Target Aktivitas (Ha)
Keterangan
Adm (Ha) Bibit Garap Tanam Panen Jumlah

Target

DKI Jaya 933 0 0 0 847 847

Bekasi 47.007 0 0 8.689 38.153 46.842

Karawang 101.828 0 0 31.067 70.761 101.828

*) 100 ha mati
Jumlah 231.303 0 0 48.679 182.030 230.709

Luar Target

DKI Jaya 0 0 0 0 0 0

Bekasi 0 0 0 0 0 0

Karawang 0 0 0 2.273 166 2.439

Jumlah 0 0 0 2.273 3.641 5.914

III-72
Laporan Pendahuluan
Penyusunan Alokasi Air WS Noelmina

3.12 KONSEP NASKAH PENYUSUNAN RENCANA ALOKASI AIR

Format Naskah Penyusuna Rencana Alokasi Air , disesuaikan dengan Pedoman


Rencana Penyediaan Air Tahunan tahun 2015, yang berisi :

Bab I Pendahuluan
1.1. Dasar Hukum
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Ruang Lingkup Wilayah
1.4 Ruang Lingkup Kegiatan
1.5. Metodologi
1.6 Jangka Waktu Perencanaan
Bab II Gambaran Umum Wilayah Studi
2.1 Wilayah Sungai
2.2 DAS
2.3 Bangunan Pengambilan
2.4 Isu Utama
Bab III Penggunaan Air di Wilayah Sungai
3.1. Irigasi
3.2. Rumah Tangga
3.3. Industri
3.4. Perikanan
3.5 Peternakan
3.6. Tenaga Listrik
3.7. Aliran Pemeliharaan
Bab IV Rencana Neraca Air
4.1. Ketersediaan Air
4.2. Rencana Kebutuhan Air Per Kegiatan
4.3. Perhitungan Neraca Air
Bab V Rencana Alokasi Air Tahunan
5.1. Skenario Rencana Alokasi Air Pada Kondisi Basah
5.2. Skenario Rencana Alokasi Air Pada Kondisi Normal
5.3. Skenario Rencana Alokasi Air Pada Kondisi Kering
5.4. Skala Prioritas Pada Kondisi Defisit/ Kekurangan Air

III-73