Anda di halaman 1dari 94

This module provides a framework for the diagnosis of nutritional

problems in traditional African livestock production systems. The


discussion is confined to the main ruminant species (cattle, sheep and
goats),1 because of their relative importance in an African context2 and
because of the emphasis given to ruminants in ILCA's research work.
The module follows the format used elsewhere in this section but it also
includes definitions of some of the basic concepts used in the literature.
(Modul ini menyediakan kerangka kerja untuk diagnosis masalah nutrisi
pada sistem produksi ternak tradisional Afrika. Pembahasan ini terbatas
pada spesies ruminansia utama (sapi, domba dan kambing), 1 karena
kepentingan relatifnya dalam konteks Afrika2 dan karena penekanan
yang diberikan pada ruminansia dalam penelitian ILCA. Modul ini
mengikuti format yang digunakan di tempat lain dalam bagian ini, tetapi
juga mencakup definisi beberapa konsep dasar yang digunakan dalam
literatur)

1
The anatomy and physiology of the ruminant is not discussed in this
module. It is assumed that the reader is familiar with the basic
characteristics of ruminant digestion, which are discussed in several
textbooks (e.g. Van Soest, 1982; Church and Pond, 1982).
(1 Anatomi dan fisiologi ruminansia tidak dibahas dalam modul ini.
Diasumsikan bahwa pembaca terbiasa dengan karakteristik dasar
pencernaan ruminansia, yang dibahas di beberapa buku teks (misalnya
Van Soest, 1982; Church and Pond, 1982).)
2
Ruminants and camels (also known as pseudo-ruminants) comprise
approximate y 90% of domestic livestock units in sub-Saharan Africa
(FAO, 1986).
(2 Ruminansia dan unta (juga dikenal sebagai pseudo-ruminansia)
terdiri dari perkiraan 90% unit ternak domestik di sub-Sahara Afrika
(FAO, 1986).)
The reader is encouraged to use the support references given at the end
of this module to ensure that an adequate background on the topic is
obtained. Butterworth's (1985) book is a useful complement in that it
provides a comprehensive review of research on animal nutrition in the
tropics and includes an extensive reference list. Other references such
as Van Soest (1982), Church and Pond (1982) and McDowell et al
(1986) are useful basic texts on the theory of ruminant nutrition.
(Pembaca didorong untuk menggunakan referensi dukungan yang
diberikan pada akhir modul ini untuk memastikan latar belakang yang
memadai mengenai topik diperoleh. Buku Butterworth's (1985) adalah
pelengkap yang berguna karena menyediakan kajian komprehensif
terhadap nutrisi ternak di daerah tropis dan termasuk daftar referensi
yang luas. Referensi lain seperti Van Soest (1982), Church and Pond
(1982) dan McDowell dkk (1986) adalah teks dasar yang berguna
mengenai teori nutrisi ruminansia.)
Part A: Concepts
In any discussion of the principles of animal nutrition, the concepts most
commonly used relate either to the animal (as the user of feed) or the
feed (as the source of nutrients). The concepts defined below are
grouped accordingly into animal- and feed-related concepts.
(Dalam diskusi tentang prinsip nutrisi ternak, konsep yang paling umum
digunakan berhubungan baik dengan ternak (sebagai pengguna pakan)
atau pakan (sebagai sumber nutrisi). Konsep yang didefinisikan di
bawah ini dikelompokkan sesuai dengan konsep ternak dan pakan.)
Concepts related to animal productivity
The term 'productivity' refers to the ability of an animal to grow,
reproduce and produce outputs such as milk, wool, draught power and
transport.3
3
Liveweight growth can be negative (through a loss of weight), while the
production of other outputs such as milk and draught continues. rut in
another way, the requirements for maintenance need not always be met
in order for production to continue, e.g. feed intake needs to fall
substantially below maintenance requirements before wool production
actually ceases (Davies, 1982).
(Konsep terkait produktivitas ternak
Istilah 'produktivitas' mengacu pada kemampuan seekor ternak untuk
tumbuh, bereproduksi dan menghasilkan produksi seperti susu, wol,
tenaga kerjadan transportasi.3
3 Pertumbuhan berat badan dapat negatif (melalui kehilangan berat
badan), sementara produksi lainnya seperti susu dan tenaga kerjaa
terus berlanjut. Dengan cara lain, kebutuhan untuk maintenance tidak
perlu dipenuhi agar produksi dapat dilanjutkan, mis. konsumsi pakan
perlu menurun secara substansial di bawah kebutuhan maintenance
sebelum produksi wol benar-benar berhenti (Davies, 1982).)
In order to perform these functions on a sustained basis, essential
nutrients in the form of energy, proteins, minerals, vitamins and water
(above those necessary for the maintenance of normal body functions),
must be provided. For a given animal species, the level of production
achieved will, in turn, depend on the quantity and nutritive value of feed
available, breed, genetic potential, sex, age and management.
Below are some of the basic concepts related to animal productivity and
their definitions.
Maintenance. When an animal is not reproducing or producing any other
output, and when body weight and condition are stable (i.e. the ratio
between fat and muscle), it is said to be in maintenance condition
(McDonald et al, 1973, p. 261),4 with its energy requirements in 'balance'
or 'equilibrium.'5
4
The use of body weight as the sole criterion for assessing maintenance
condition is not reliable since an animal can maintain weight by an
increase of water in body tissues, while losing condition (fat and/or
muscle). For a discussion of condition and body weight refer to page 152
of this module.
(Untuk melakukan fungsi ini secara berkelanjutan, nutrisi penting berupa
energi, protein, mineral, vitamin dan air (di atas yang diperlukan untuk
kebutuhan maintenance fungsi normal tubuh), harus disediakan. Untuk
spesies ternak tertentu, tingkat produksi yang dicapai akan, pada
gilirannya, bergantung pada kuantitas dan nilai nutrisi pakan yang
tersedia, jenis, potensi genetik, jenis kelamin, usia dan manajemen.
Berikut adalah beberapa konsep dasar yang terkait dengan
produktivitas ternak dan definisinya.

Maintenance. Bila ternak tidak bereproduksi atau menghasilkan


produksi lain, dan dengan berat badan dan kondisi stabil (yaitu rasio
antara lemak dan otot), dikatakan dalam kondisi maintenance
(McDonald et al, 1973, hal 261), 4 pada kebutuhan energinya dalam
'keseimbangan' atau 'ekuilibrium.'5
4 Penggunaan berat badan sebagai satu-satunya kiteria untuk menilai
kondisi maintenance tidak dapat diandalkan karena ternak dapat
mempertahankan berat badan dengan meningkatkan air di jaringan
tubuh, sementara kehilangan kondisi (lemak dan / atau otot). Untuk
pembahasan kondisi dan bobot tubuh lihat halaman 152 modul ini.)
5
The same applies to other essential nutrients. If, for instance, an
animal is fed a diet lacking protein, it will continue to lose nitrogen in its
faeces and urine and will be in a state of negative nitrogen balance. The
concept of maintenance, therefore, implies that all nutrient requirements
are in balance, with nutrient inputs being exactly offset by nutrient
losses. It is more common, however, to refer to maintenance in terms of
the energy requirements of the animal.
However, this definition is complicated by the fact that animals can adapt
to sub-maintenance energy levels by lowering their requirements in
order to stabilise their body weight and condition. This phenomenon has
been observed in African cattle in Kenya (Ledger and Sayers, 1977).
The ability to adapt to lower energy levels has important implications for
feeding requirements on tropical African grasslands, where animals
spend long periods in a state of maintenance or near maintenance. The
fact that Bos indicus cattle appear to be more efficient in this respect
(Butterworth, 1985) is also of interest. Thus, the standards for cattle
maintenance and growth, used in the northern hemisphere, may not be
applicable in the context of African tropical grasslands.6
(5 Hal yang sama berlaku untuk nutrisi penting lainnya. Jika, misalnya,
seekor ternak diberi pakan protein yang kurang protein, ia akan terus
kehilangan nitrogen dalam kotoran dan air kencingnya dan akan berada
dalam keadaan keseimbangan nitrogen negatif. Konsep maintenance,
oleh karena itu, menyiratkan bahwa semua kebutuhan nutrisi seimbang,
dengan masukan nutrisi diimbangi dengan kekurangan nutrisi. Namun
lebih umum untuk merujuk pada kebutuhan energi ternak untuk
maintenance.
Namun, definisi ini diperumit oleh fakta bahwa ternak dapat beradaptasi
dengan tingkat energi sub-maintenance dengan menurunkan kebutuhan
mereka untuk menstabilkan berat dan kondisi tubuh mereka. Fenomena
ini telah diamati pada sapi Afrika di Kenya (Ledger and Sayers, 1977).
Kemampuan untuk beradaptasi dengan tingkat energi yang lebih rendah
memiliki implikasi penting untuk kebutuhan pakan di padang rumput
Afrika tropis, dimana ternak menghabiskan waktu lama dalam
maintenance atau mendekati maintenance. Fakta bahwa ternak Bos
indicus tampaknya lebih efisien dalam hal ini (Butterworth, 1985) juga
menarik. Dengan demikian, standar untuk maintenance dan
pertumbuhan sapi, yang digunakan di belahan bumi bagian utara,
mungkin tidak dapat diterapkan dalam konteks padang rumput tropis
Afrika.6)
6
Standards have been devised in the USA, by the National Research
Council (NRC), and in Britain, by the Agricultural Research Council
(ARC), which relate to the daily nutritional needs for growth and
production (energy, protein and minerals) of different species of
livestock. The standards used in the United States are summarised in a
series of booklets published by the NRC (1976) under the general title
Nutrient requirements of domestic animals. ARC (1965; 1980) gives
similar tables. The standards adopted by ARC (1980) are likely to be
closer to the animal requirements of tropical livestock.
Metabolism. Metabolism is the sum of all the physical and chemical
processes taking place in living organisms. Some of these processes
involve the degradation or decomposition of complex compounds to
simpler materials (catabolism) and others involve the synthesis of
simpler materials into complex compounds (anabolism). The excretion
of waste products from the body is part of the metabolic process.
(6 Standar telah dirancang di Amerika Serikat, oleh National Research
Council (NRC), dan di Inggris, oleh Agricultural Research Council (ARC),
yang berkaitan dengan kebutuhan nutrisi harian untuk pertumbuhan dan
produksi (energi, protein dan mineral) dari berbagai jenis ternak. Standar
yang digunakan di Amerika Serikat dirangkum dalam serangkaian buklet
yang diterbitkan oleh NRC (1976) dengan judul umum Kebutuhan nutrisi
ternak piaraan. ARC (1965; 1980) memberikan tabel yang serupa.
Standar yang diadopsi oleh ARC (1980) cenderung lebih dekat dengan
kebutuhan ternak ternak tropis.
Metabolisme. Metabolisme adalah jumlah semua proses fisik dan kimia
yang terjadi pada organisme hidup. Beberapa proses ini melibatkan
degradasi atau dekomposisi senyawa kompleks ke bahan sederhana
(katabolisme) dan yang lainnya melibatkan sintesis bahan sederhana
menjadi senyawa kompleks (anabolisme). Ekskresi produk limbah dari
tubuh merupakan bagian dari proses metabolisme.)
Fasting metabolism. The amount -of energy used for the maintenance of
an animal is known as fasting metabolism, and it is estimated as follows:
(Metabolisme puasa. Jumlah energi yang digunakan untuk
maintenance ternak dikenal sebagai metabolisme puasa, dan
diperkirakan sebagai berikut:))
Fasting metabolism (kcal of NE/day) = 70 W0.75
or
Fasting metabolism (kJ of NE/day) = 293 W0.75
where:
NE = net energy (see page 154 of this module)
W = the animal's liveweight in kilograms, and
W0.75 = the so-called 'metabolic weight' of the animal.
This relationship between the liveweight of a ruminant animal and the
amount of energy it uses for fasting metabolism is applicable to all
ruminant species, though variations occur between species as well as
within species (e.g. on the basis of age and sex). The equation can be
used to estimate whether the energy intake of an animal is sufficient to
meet its energy requirements for maintenance and/or production (see
Part D of this module).
Compensatory growth. This concept refers to the ability of an animal to
recuperate or recover growth after periods of underfeeding. Recovery
following underfeeding has often been associated with higher than
normal rates of growth (see Figure 1) and has been observed in cattle
and small ruminants.
(Hubungan antara ternak ternak ruminansia dan jumlah energi yang
digunakan untuk metabolisme puasa berlaku untuk semua jenis
ruminansia, meskipun variasi terjadi antara spesies dan spesies
(misalnya berdasarkan usia dan jenis kelamin). Persamaan ini dapat
digunakan untuk memperkirakan apakah konsumsi energi ternak cukup
untuk memenuhi kebutuhan energi untuk maintenance dan / atau
produksi (lihat Bagian D dari modul ini).
Pertumbuhan Kompensasi. Konsep ini mengacu pada kemampuan
seekor ternak untuk memulihkan atau memulihkan pertumbuhan setelah
masa menyusui. Pemulihan setelah menyusui sering dikaitkan dengan
tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari tingkat normal (lihat Gambar
1) dan telah diamati pada ternak dan ruminansia kecil.)
As a general rule, the earlier in life nutritional stress occurs and the
longer the period of feed deprivation, the less the compensatory growth
will be. In the African rangelands, periods of nutritional stress are
common because of long dry seasons and frequent droughts.
Condition. The condition of an animal is reflected in the proportion of
body fat and muscle on its carcass. It is generally a more reliable
indicator of an animal's nutritional status than body weight since
variations in the latter may merely result from changes in gut fill, body
water, parturition etc.
Condition measurement has, therefore, been used to monitor changes in
animal body reserves over time (Nicholson and Sayers, 1987), and rapid
appraisal methods have been devised to 'condition score' African cattle
for this purpose (Module 5) (Pullan, 1978; Nicholson and Butterworth,
1986).
(Sebagai aturan umum, stres gairah hidup di masa lalu terjadi dan
semakin lama masa kekurangan pakan, semakin sedikit pertumbuhan
kompensasi. Di rangelands Afrika, periode stres nutrisi umum terjadi
karena musim kering yang panjang dan seringnya terjadi kekeringan.
Kondisi. Kondisi ternak tercermin dalam proporsi lemak tubuh dan otot
pada karkasnya. Ini umumnya merupakan indikator status nutrisi ternak
yang lebih dapat diandalkan daripada berat badan karena variasi pada
yang terakhir mungkin hanya disebabkan oleh perubahan isi perut, air
tubuh, parturisi, dll.
Oleh karena itu, pengukuran kondisi telah digunakan untuk memantau
perubahan cadangan tubuh ternak dari waktu ke waktu (Nicholson dan
Sayers, 1987), dan metode penilaian cepat telah dirancang untuk
'menilai nilai' sapi Afrika untuk tujuan ini (Modul 5) (Pullan, 1978
Nicholson dan Butterworth, 1986).)
Figure 1. Patterns of growth.

Source: Davies (1982, p. 14).


Intake. Intake is the amount of feed voluntarily consumed by an animal.
It is determined by:
the availability, palatability and digestibility of feed
the nutrient content of the feed
For instance, feed intake is depressed when a diet contains inadequate
amounts of minerals, vitamins and various sources of nitrogen (Davies,
1982), or when it is poorly digestible.
bite size and frequency which, in turn, is influenced by plant structure
and feed availability
For instance, Stobbs (1973) found that the amount consumed per bite
tends to increase with the amount of green leafy material in the sward.
the physiological status of an animal
For instance, pregnant animals have different intake requirements
according to litter size and stage of gestation.
environmental conditions
For instance, the availability of water will affect the amount of feed an
animal consumes, as will temperature and humidity.
infectious, parasitic and metabolic diseases, which may depress
intake.
The measurement of intake is discussed in detail in Part D of this
module.
(Intake. Konsumsi adalah jumlah pakan yang secara sukarela
dikonsumsi oleh ternak. Hal ini ditentukan oleh:
ketersediaan, palatabilitas dan kecernaan pakan
kandungan nutrisi pakan
Misalnya, konsumsi pakan tertekan saat pakan mengandung jumlah
mineral, vitamin dan berbagai sumber nitrogen (Davies, 1982) yang
tidak mencukupi, atau bila kurang dapat dicerna.
Ukuran dan frekuensi gigitan yang, pada gilirannya, dipengaruhi
oleh struktur tanaman dan ketersediaan pakan
Misalnya, Stobbs (1973) menemukan bahwa jumlah yang
dikonsumsi per gigitan cenderung meningkat dengan jumlah
bahan berdaun hijau di sward.
status fisiologis ternak
Misalnya, ternak hamil memiliki kebutuhan konsumsi yang berbeda
sesuai ukuran serasah dan tahap kehamilan.
keadaan lingkungan
Misalnya, ketersediaan air akan mempengaruhi jumlah pakan yang
dikonsumsi ternak, seperti halnya suhu dan kelembaban.
Penyakit menular, parasit dan metabolik, yang dapat menekan
konsumsi.
Pengukuran konsumsi dibahas secara rinci di Bagian D modul ini.)
Feed selection and palatability. Animals show distinct preferences for
particular types of feed. The animals' feed preferences are influenced by
feed availability, plant structure, nutrient deficiencies (e.g. salt), appetite
and, of course, different species of animals prefer different types of feed
(Chacon et al, 1978; Gammon and Roberts, 1980; Van Soest, 1982).
(Selektifitas pakan dan palatabilitas. Ternak menunjukkan preferensi
yang berbeda untuk jenis pakan tertentu. Preferensi pakan ternak
dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, struktur tanaman, kekurangan
nutrisi (misalnya garam), nafsu pakan dan, tentu saja, spesies ternak
yang berbeda memilih jenis pakan yang berbeda (Chacon et al, 1978;
Gammon and Roberts, 1980; Van Soest, 1982).)

The term palatability is a subjective concept and refers to the assumed


reason behind an animal's choice of one source of feed over another
(e.g. the choice between different parts of a plant or the choice between
different plants). Selection, on the other hand, is an objective term,
referring to the actual choice that is made. The ability of an animal to
select feed of an adequate quantity and nutritive value affects its
productivity.
Grazing time. This is the amount of time a ruminant spends consuming
feed. While generally applied to actual grazing on pasture, the definition
can be widened to include time spent browsing, consuming stover etc.
Grazing time is determined by the availability and nutritive value of feed
and by the management system used (Gammon and Roberts, 1980;
Lambourne et al, 1983). There is often an inverse relationship between
grazing time per day and the quantity and quality of feed available
(Butterworth, 1985).
(Istilah palatabilitas adalah konsep subjektif dan mengacu pada alasan
yang diasumsikan di balik pilihan ternak dari satu sumber pakan di atas
dan yang lain (misalnya pilihan antara berbagai bagian tanaman atau
pilihan di antara tanaman yang berbeda). Seleksi, di sisi lain, adalah
istilah objektif, mengacu pada pilihan sebenarnya yang dibuat.
Kemampuan seekor ternak untuk memilih pakan dengan jumlah dan
nilai nutrisi yang cukup mempengaruhi produktivitasnya.
Waktu penggembalaan. Ini adalah jumlah waktu ruminansia
mengkonsumsi pakan. Sementara umumnya diterapkan pada
penggembalaan yang sebenarnya di padang rumput, definisi tersebut
dapat diperlebar untuk mencakup waktu yang digunakan untuk
browsing, mengkonsumsi stover dll. Waktu penggembalaan ditentukan
oleh ketersediaan dan nilai nutrisi pakan dan oleh sistem manajemen
yang digunakan (Gammon dan Roberts, 1980; Lambourne et al, 1983).
Sering ada hubungan terbalik antara waktu penggembalaan per hari dan
kuantitas dan kualitas pakan yang tersedia (Butterworth, 1985).)
Feed-related concepts
These concepts include:
Digestibility. The digestibility of a feed determines the amount that is
actually absorbed by an animal and therefore the availability of nutrients
for growth, reproduction etc.
Apparent digestibility is estimated by subtracting nutrients contained in
the faeces from nutrients contained in the dietary intake. Therefore, it
does not account for nutrients lost as methane gas or as metabolic
waste products excreted in the faeces.
True digestibility is estimated by correcting for the endogenous and
microbial amount of a nutrient actually lost in the faeces.
The measurement of apparent digestibility is less complex than
measuring true digestibility and, therefore, more suited to the
requirements of diagnostic livestock systems research.
The amount of energy in (or the energy content of) feed potentially
utilisable by animals can be expressed in the form of gross
energy (GE), digestible energy (DE),metabolisable energy (ME)
or net energy (NE) for maintenance and production. The relationships
between them are as follows:
DE = GE - energy lost in faeces
ME = DE - energy lost in urine and gases
NE = ME - heat loss (heat increment)
(Konsep terkait pakan
Konsep-konsep ini meliputi:
Kecernaan. Daya cerna pakan menentukan jumlah yang benar-benar
diserap oleh ternak dan oleh karena itu ketersediaan nutrisi untuk
pertumbuhan, reproduksi dll.
Kecernaan yang jelas diperkirakan dengan mengurangkan nutrisi yang
terkandung dalam kotoran dari nutrisi yang terkandung dalam konsumsi
pakan. Oleh karena itu, tidak memperhitungkan nutrisi yang hilang
sebagai gas metana atau karena produk limbah metabolik diekskresikan
dalam kotoran.
Kecernaan yang benar diperkirakan dengan mengoreksi jumlah hara
endogen dan mikroba yang benar-benar hilang dalam kotoran.
Pengukuran kecernaan yang jelas kurang kompleks daripada mengukur
kecernaan yang benar dan, oleh karena itu, lebih sesuai dengan
kebutuhan penelitian sistem peternakan diagnostik.
Jumlah energi dalam (atau kandungan energi) pakan yang berpotensi
disembuhkan oleh ternak dapat diekspresikan dalam bentuk energi
bruto (GE), energi mudah dicerna (DE), energi metabolis (ME) atau
energi bersih (NE) untuk maintenance dan produksi. Hubungan antara
mereka adalah sebagai berikut:
DE = GE - energi hilang dalam kotoran
ME = DE - energi hilang dalam air seni dan gas
NE = ME - kehilangan panas (kenaikan panas)))
Gross energy is the total heat of combustion of a feed substance
measured in calories or Joules per unit weight of dry matter (DM) or
organic matter (OM).7 Because it takes no account of energy losses,
gross energy provides no real indication of the energy value of a feed.
7
Dry-matter weight is determined by drying the feed in the oven at
105C for 12-15 hours and weighing. Dry organic matter (DOM) is
determined by weighing the dry matter, then burning its organic matter in
a furnace at 550C for eight hours. The difference between the dry-
matter weight and the weight of the ash remaining is the DOM weight of
the feed. In dry tropical pastures, dry organic matter usually lies in the
range of 90 92% (by weight) of its parent dry-matter material.
Net energy is the energy actually available for maintenance and
production (after all losses have been accounted for). It is the most
precise estimate of a feed's energy value, but, because of the
complexities involved, net energy is rarely measured.
Digestible energy is commonly taken as an indicator of a feed's energy
value because faecal losses are relatively easy to measure.
Metabolisable energy can be approximated by multiplying digestible
energy by a factor of 0.82 (ARC, 1965; 1980).
Crude protein. Protein is the basic structural material from which all body
tissues (e.g. muscles, nerves, blood cells) are formed. It is, therefore,
essential for production and maintenance and cannot be replaced by
other nutrients in the feed.
Ruminants are able to synthesise protein from non-protein nitrogen
sources (e.g. urea) by microbial action in the rumen. The nitrogen
content of a feed is, therefore, often used to estimate the amount of
protein available to the ruminant, which is expressed as the crude
protein (CP) content of a feed and calculated as:
% CP = % nitrogen content x 6.25
where the figure 6.25 is based on the assumption that feed protein
contains, on average, 16% nitrogen.
(Energi kotor (Gross energy) adalah total panas pembakaran zat nutrisi
pakan yang diukur dalam kalori atau Joule per satuan berat bahan
kering (DM) atau bahan organik (OM) .7 Karena tidak memperhitungkan
kerugian energi, GE tidak memberikan indikasi nyata mengenai nilai
energi pakan.
7 Bobot bahan kering ditentukan dengan mengeringkan pakan di oven
pada suhu 105 C selama 12-15 jam dan menimbangnya. Bahan
organik kering (DOM) ditentukan dengan menimbang bahan kering,
kemudian membakar bahan organiknya di tungku pada suhu 550 C
selama delapan jam. Perbedaan antara berat bahan kering dan berat
abu yang tersisa adalah bobot DOM pakan. Di padang rumput tropis
yang kering, bahan organik kering biasanya terletak pada kisaran 90
92% (berat) bahan bahan kering sumbernya (induknya).
Energi bersih (Net energy ) adalah energi yang benar-benar tersedia
untuk maintenance dan produksi (setelah semua kehilangan
diperhitungkan). Ini adalah perkiraan paling tepat dari nilai energi pakan,
namun karena kompleksitas yang terlibat, energi bersih jarang diukur.

Energi yang mudah dicerna (Digestible energy ) biasanya diambil


sebagai indikator nilai energi pakan karena kelilangan melalui feses
relatif mudah diukur. Energi yang dapat dimetabolisme dapat
diperkirakan dengan mengalikan energi yang dapat dicerna dengan
faktor 0,82 (ARC, 1965; 1980).
Protein Kasar (Crude protein). Protein adalah bahan struktural dasar
dari mana semua jaringan tubuh (misalnya otot, saraf, sel darah)
terbentuk. Oleh karena itu, penting untuk produksi dan maintenance dan
tidak dapat digantikan oleh nutrisi lain dalam pakan.
Ruminansia mampu mensintesis protein dari sumber nitrogen non-
protein (misalnya urea) dengan aksi mikroba di rumen. Kandungan
nitrogen dari pakan, oleh karena itu, sering digunakan untuk
memperkirakan jumlah protein yang tersedia untuk ruminansia, yang
dinyatakan sebagai kandungan protein kasar (CP) pakan dan dihitung
sebagai:
% CP =% kandungan nitrogen x 6.25
dimana gambar 6.25 didasarkan pada asumsi bahwa protein pakan
mengandung, rata-rata, 16% nitrogen.)
Fibre. This fraction refers to the cell-wall content of feeds and consists
of carbohydrates (hemicellulose and cellulose) and lignin.
Carbohydrates are partially available for digestion by rumen micro-
organisms and represent a major source of energy for ruminants. The
lignin component of the fibre fraction limits the digestibility of cell-wall
carbohydrates.
Crude fibre (which is used in the Wende system of feed analysis) is a
poor estimate of cell-wall content because it does not recover lignin and
hemicellulose. Instead, the detergent system of analysis (described in
Part D below) should be used where feasible, although there are other
methods for estimating total fibre (Van Soest, 1982).
Minerals and vitamins. Minerals are required for tissue growth and the
regulation of body functions. They are normally categorised as macro-
minerals (when required in the order of g/day) or as micro-minerals
(when required in mg/day or less). So far, 22 mineral elements have
been shown to be essential to animal nutrition (Little, 1985) (Table 1).
(Serat. Fraksi ini mengacu pada kandungan dinding sel pakan dan
terdiri dari karbohidrat (hemiselulosa dan selulosa) dan lignin.
Karbohidrat sebagian tersedia untuk pencernaan oleh mikroorganisme
rumen dan merupakan sumber energi utama untuk ruminansia.
Komponen lignin dari fraksi serat membatasi kecernaan karbohidrat
dinding sel.
Serat kasar (yang digunakan dalam sistem analisis pakan Wende)
adalah perkiraan yang kurang baik dari kandungan dinding sel karena
tidak menemukan lignin dan hemiselulosa. Sebagai gantinya, sistem
analisis deterjen (bahan pembersi) (dijelaskan pada Bagian D di bawah)
harus digunakan jika memungkinkan, walaupun ada metode lain untuk
menghitung serat total (Van Soest, 1982).
Mineral dan vitamin. Mineral dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan
dan pengaturan fungsi tubuh. Mereka biasanya dikategorikan sebagai
mineral makro (bila diperlukan dalam urutan g / hari) atau sebagai
mineral mikro (jika diperlukan dalam mg / hari atau kurang). Sejauh ini,
22 unsur mineral telah terbukti penting untuk nutrisi ternak (Little, 1985)
(Tabel 1).)
Table 1. Essential mineral nutrients.
Macro-minerals: Ca P Na K Mg S Cl
Micro-minerals: Cu Zn Ma Mo Se I Fe Co
F V Sn Ni Cr Si As
In tropical feeds, deficiencies of phosphorus (P), sodium (Na) and
copper (Cu) are those most likely to occur, while deficiencies of
potassium (K) and chorine (CL) and of the micro-minerals listed in the
bottom row of the table are most unlikely in the field.
Vitamins are organic substances required by animals in very small
amounts for the regulation of various body processes which ensure
normal health and production. Under most conditions, the ruminant is
able to synthesise most of its vitamin requirements.8
8
Ruminants do not synthesise vitamin. A which can be deficient in
tropical pastures and crop residues. The synthesis of vitamin B12
requires Co which may also be deficient in these feeds. The specific
functions of the different minerals and vitamins are discussed in any text
on ruminant nutrition.
(Dalam pakan tropis, kekurangan fosfor (P), natrium (Na) dan tembaga
(Cu) adalah yang paling mungkin terjadi, sedangkan kekurangan kalium
(K) dan chorine (CL) dan mineral mikro yang tercantum di baris
terbawah dari tabel yang paling jarang terjadi di lapangan.
Vitamin adalah zat organik yang dibutuhkan ternak dalam jumlah
sangat kecil untuk pengaturan berbagai proses tubuh yang menjamin
kesehatan dan produksi normal. Dalam kebanyakan kondisi, ruminansia
mampu mensintesis sebagian besar kebutuhan vitaminnya
8 Ruminansia tidak mensintesis vitamin. A yang bisa kekurangan di
padang rumput tropis dan residu tanaman. Sintesis vitamin B12
membutuhkan Co yang mungkin juga kekurangan pakan ini. Fungsi
spesifik dari berbagai mineral dan vitamin dibahas dalam teks tentang
nutrisi ruminansia.)
Part B: Purposes

Diagnostic research on animal nutrition problems


The nature of nutritional constraints
Scope for improvement
(Penelitian diagnostik tentang masalah nutrisi ternak
Sifat kendala nutrisi
Lingkup untuk perbaikan)

Diagnostic research on animal nutrition problems


During the descriptive phase of livestock systems research, data
obtained from informal surveys, secondary data sources and other
diagnostic studies can be used to determine the need for further
diagnostic research on animal nutrition issues. The following types of
data will often be useful in this respect:
production data
Production performance (i.e. mortalities, birth rates, milk production,
condition/liveweight gain) may point to nutritional problems in the target
area.
environmental data
Soil surveys may indicate mineral deficiencies. Also, the vegetation
characteristics of an area (e.g. plant composition, density, biomass) can
be used to identify probable deficiencies in dietary energy and crude
protein.9
management data
Information about management systems can be useful with regard to the
use and availability of crop residues, communal grazing practices,
stocking rates etc. Evidence of overgrazing on a wide scale will indicate
nutrition problems, particularly during the dry season when feed quantity
and nutritive value are lowest.
(Diagnostik Penelitian tentang masalah nutrisi ternak
Selama fase deskriptif dalam penelitian sistem peternakan, data yang
diperoleh dari survei informal, sumber data sekunder dan studi
diagnostik lainnya dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan
diagnostik penelitian lebih lanjut mengenai masalah nutrisi ternak. Jenis
data berikut akan sering berguna dalam hal ini:
data produksi
Performance produksi (yaitu mortalitas, tingkat kelahiran, produksi susu,
kondisi / Pertambahan berat badan ) dapat menunjukkan masalah nutrisi
di daerah sasaran.
data lingkungan
Survei tanah mungkin menunjukkan kekurangan mineral. Juga,
karakteristik vegetasi suatu daerah (misalnya komposisi tanaman,
kepadatan, biomassa) dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kemungkinan kekurangan dalam energi pakan dan protein kasar.9
data manajemen
Informasi tentang sistem pengelolaan dapat bermanfaat berkaitan
dengan penggunaan dan ketersediaan residu tanaman, cara
penggembalaan umum, tingkat stok, dll. Bukti penggembalaan dalam
skala yang luas akan mengindikasikan masalah nutrisi, terutama pada
musim kemarau ketika kuantitas pakan dan nilai nutrisi terendah.)
producers' opinions
Local opinions about particular problem should be taken into account,
after having weighed them against evidence available from other
sources.
9
Plant composition may also indicate the likelihood of mineral
deficiencies. For instance, a high proportion of fortes in the diet can
usually be taken as an indication that minerals, in particular phosphorus,
may not be deficient.
(pendapat produsen
Pendapat lokal tentang masalah tertentu harus diperhitungkan, setelah
mempertimbangkannya dari bukti yang ada dari sumber lain.
Komposisi tanaman juga menunjukkan kemungkinan kekurangan
mineral. Misalnya, proporsi fortes yang tinggi dalam pakan biasanya
dapat dianggap sebagai indikasi bahwa mineral, khususnya fosfor,
mungkin tidak kurang.)
The nature of nutritional constraints
If solutions are to be identified, the nature of nutritional problems must
be clearly defined. Studying the relationships between nutrition on the
one hand and performance, management and grazing conditions on the
other hand, as well as other nutritional relationships, might be useful in
this context.
Relationships between nutrition and animal performance. By using
techniques such as linear regression analysis, the relative importance of
the different factors affecting production performance can be compared
simultaneously. Table 2 shows how performance could be related to
different variables of which nutrition is only one.
(Sifat kendala nutrisi
Jika solusi harus diidentifikasi, sifat masalah nutrisi harus didefinisikan
secara jelas. Mempelajari hubungan antara nutrisi di satu sisi dan
kondisi performance, pengelolaan dan penggembalaan di sisi lain, serta
hubungan nutrisi lainnya, mungkin berguna dalam konteks ini.
Hubungan antara nutrisi dan performance ternak. Dengan
menggunakan teknik analisis regresi linier, kepentingan relatif dari
berbagai faktor yang mempengaruhi performance produksi dapat
dibandingkan secara bersamaan. Tabel 2 menunjukkan bagaimana
performance dapat dikaitkan dengan variabel yang berbeda dimana
nutrisi hanya satu.)
Example:
Table 2. Relationships determining the effects of animal
nutrition on production performance.
(Tabel 2. Hubungan menentukan efek nutrisi ternak terhadap
performance produksi.)
Dependent variable
(production Independent (influencing) variables
performance)
1. Liveweight/condition DM intake, breed, type of birth, sex, parity,
disease, management system (Konsumsi DM,
jenis, jenis kelahiran, jenis kelamin, paritas,
penyakit, sistem manajemen)
2. Fertility rate Seasonal conditions, breed, parity, disease,
type of birth, sex of progeny (Kondisi
musiman, berkembang biak, paritas, penyakit,
jenis kelahiran, jenis kelamin keturunan)
3. Milk production DM intake,10 breed, parity, weaning period,
disease, lactation length (Konsumsi DM, 10
jenis, paritas, masa penyapihan, penyakit,
panjang laktasi)
10
When making comparisons between animals of different size to
determine the importance of nutrition as a constraint, DM intake should
be expressed in relation to the liveweight (and preferably the metabolic
weight, i.e. LW0.75) of the animal. When comparing animals of different
species, the preferred exponent is LW0.9 (Graham, 1972).
Various indicators or measures (e.g. digestibility, DM intake, crude
protein) can be used to determine the effects of nutrition on production
performance. Surrogate or substitute variables for feed availability or
intake can be used, as well.
For instance, seasonal rainfall is often assumed to be an indicator of
feed conditions while stocking rate has been used as a substitute for
feed intake (Abel et al, 1987).
(10 Ketika membuat perbandingan antara ternak dengan ukuran yang
berbeda untuk menentukan pentingnya nutrisi sebagai kendala,
konsumsi DM harus dinyatakan dalam kaitannya dengan bobot hidup
(dan lebih disukai berat metabolik, yaitu LW0.75) pada ternak tersebut.
Saat membandingkan ternak dari spesies yang berbeda, eksponen yang
disukai adalah LW0.9 (Graham, 1972).
Berbagai indikator atau ukuran (misalnya kecernaan, konsumsi DM,
protein kasar) dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh nutrisi pada
performance produksi. Variabel pengganti untuk ketersediaan pakan
atau konsumsi juga dapat digunakan.
Misalnya, curah hujan musiman sering diasumsikan sebagai indikator
kondisi pakan sementara stocking rate telah digunakan sebagai
pengganti konsumsi pakan (Abel et al, 1987).)
Relationships between nutrition and management. The link between
management practices and animal nutrition is often pronounced and
needs to be understood. Examples of the relationships which might be
studied are:
the relationship between stocking rate and intake
the relationship between animal feeding practices and herd
size (as an indicator of wealth)
For instance, the use of supplements (salt, bonemeal etc) may vary with
herd size (Bailey, 1982).
the relationship between crop stover utilisation (intake) and oxen
condition at ploughing time
the relationship between stock movement to feed or mineral
sources and animal productivity
(Hubungan antara nutrisi dan manajemen. Hubungan antara cara
pengelolaan dan nutrisi ternak sering diucapkan dan perlu dipahami.
Contoh hubungan yang bisa dipelajari adalah:
hubungan antara stocking rate dan konsumsi
hubungan antara cara pemberian pakan ternak dan ukuran ternak
(sebagai indikator dan informasi)
Misalnya, penggunaan suplemen (garam, bonemeal dll) dapat bervariasi
dengan ukuran ternak (Bailey, 1982).
hubungan antara pemanfaatan croping (konsumsi) dan kondisi lembu
pada waktu pembajakan
hubungan antara perubahan kesediaan pakan dengan sumber pakan
atau mineral dan produktivitas ternak)
In other words, is the performance of herds which are moved to these
sources superior to that of herds which are not? (Dahl and Sandford,
1978; Sandford, 1983).
In mixed production systems, an understanding of crop/livestock
linkages may point to potential areas for improvement. Crop residues
can, for instance, have an important bearing on animal nutrition (Bayer
and Otchere, 1985), by providing energy to carry stock through the dry
season when feed quantity and nutritive value from grazing are low. The
availability of energy from stov er will, therefore, influence mortalities and
birth rates (Powell and Waters-Bayer, 1985; Reed and Goe, 1989).
Figure 2 gives a schematic representation of some of the linkages which
commonly affect both crop and livestock performance. Diagrams of this
kind are useful in that they force the researcher to think through the
system and identify some of the important linkages which exist. From
this information, it is often possible to identify the data needs of research
more precisely.
(Dengan kata lain, apakah performance ternak yang dipindahkan ke
sumber-sumber ini lebih tinggi dari pada jenis ternak? (Dahl dan
Sandford, 1978; Sandford, 1983).
Dalam sistem produksi campuran, pemahaman tentang hubungan
tanaman / ternak mungkin mengarah pada area potensial untuk
perbaikan. Residu tanaman dapat, misalnya, memiliki pengaruh penting
pada nutrisi ternak (Bayer dan Otchere, 1985), dengan menyediakan
energi untuk membawa persediaan melalui musim kemarau saat
kuantitas pakan dan nilai nutrisi dari penggembalaan rendah.
Ketersediaan energi dari stover akan mempengaruhi mortalitas dan
tingkat kelahiran (Powell dan Waters-Bayer, 1985; Reed dan Goe,
1989).
Gambar 2 memberikan gambaran skematis dari beberapa keterkaitan
yang umumnya mempengaruhi performance tanaman dan ternak.
Diagram semacam ini berguna karena mereka memaksa peneliti untuk
memikirkan sistem dan mengidentifikasi beberapa hubungan penting
yang ada. Dari informasi ini, seringkali dimungkinkan untuk
mengidentifikasi kebutuhan data penelitian secara lebih tepat.)
Figure 2. Example of negative linkages between crop and livestock
production in a mixed farming system. (Gambar 2. Contoh hubungan
negatif antara produksi tanaman dan ternak dalam sistem pertanian
campuran.)

Relationships between nutrition and grazing conditions. These


include the relationships between:
the amount of intake and the nutritive value of feed (measured in
terms of energy or crude protein content)
selection and the nutritive value of feed, and
grazing time and animal production performance
For instance, Smith (1961) found that liveweight gains of cattle grazing
seven hours per day were only half those of cattle grazed for 11 or 24
hours a day. Bayer and Otchere (1985) also suggest that grazing time
affects calving and weaning percentages for cattle owned by pastoralists
in the Nigerian subhumid zone.
(Hubungan antara nutrisi dan kondisi penggembalaan. Ini termasuk
hubungan antara:
jumlah konsumsi dan nilai nutrisi pakan (diukur dari segi energi
atau kandungan protein kasar)
seleksi dan nilai nutrisi pakan, dan
waktu penggembalaan dan performance produksi ternak
Misalnya, Smith (1961) menemukan bahwa Pertambahan berat badan
ternak penggembalaan tujuh jam sehari hanya setengah dari ternak
yang merumput selama 11 atau 24 jam sehari. Bayer dan Otchere
(1985) juga menyarankan bahwa waktu penggembalaan mempengaruhi
persentase melahirkan dan menyapih untuk ternak yang dimiliki oleh
pastoralis di zona subhumid Nigeria.)
Other nutritional relationships. This includes the relationships
between digestibility end feed quality, and between seasonal conditions
(rainfall) and the nutritive value of feed consumed (measured in terms of
energy or crude protein content). Such relationships need to be
adequately understood if problems are to be correctly identified.
For instance, a positive correlation between digestible energy or dry-
matter intake and liveweight gain is commonly observed (Ademosun et
al, 1985; Zemmelink et al, 1985) (Figure 3). While this correlation may
correctly imply that energy is a limiting factor in the diet, the availability
of energy may itself be limited by some other factor (e.g. intake and,
therefore, the amount of energy available could be limited by mineral,
vitamin or protein deficiencies). Effective diagnosis thus depends on the
identification of the primary limiting nutrient (Little, 1985).
(Hubungan nutrisi lainnya. Ini termasuk hubungan antara kecukupan
kualitas pakan akhir, dan antara kondisi musiman (curah hujan) dan nilai
nutrisi pakan yang dikonsumsi (diukur dari segi energi atau kandungan
protein kasar). Hubungan semacam itu perlu dipahami secara memadai
jika masalah diidentifikasi dengan benar.
Sebagai contoh, korelasi positif antara energi yang dapat dicerna atau
konsumsi bahan kering dan PBBh diamati secara umum (Ademosun et
al, 1985; Zemmelink et al, 1985) (Gambar 3). Sementara korelasi ini
benar dapat menyiratkan bahwa energi adalah faktor pembatas dalam
pakan, ketersediaan energi dapat dibatasi oleh beberapa faktor lain
(misalnya konsumsi dan, oleh karena itu, jumlah energi yang tersedia
dapat dibatasi oleh mineral, kekurangan vitamin dan protein ). Diagnosis
yang efektif tergantung pada identifikasi nutrisi pembatas utama (Little,
1985).)
Figure 3. Relationship between intake and liveweight gain in cattle,
Mali, 1980. (Hubungan antara konsumsi dan kenaikan berat badan pada
sapi, Mali, 1980.)

Source: Lambourne et al (1983).


Scope for improvement
The scope for alleviating nutritional problems will depend very much on
the characteristics of the system being studied. In pastoral systems,
where the range vegetation is the major source of feed, improvements
in animal nutrition may be virtually impossible without first addressing
issues related to land tenure (communal grazing)11 and management
(e.g. stocking rates). While in mixed cropping systems, technologies
which increase the quantity and nutritive value of stover fed to animals at
the end of the cropping season might be applicable (Powell 1985).
11
Work by ILCA in Nigeria on fodder-bank use by Fulani pastoralists
suggests that there is scope for improvement in pastoral systems,
despite overgrazing on communal lands.
It should be remembered that in livestock systems research, the solution
to a particular problem may not always be technological. (For instance, it
may be more important to correct particular aspects of policy before
significant improvements in production can be achieved). Any
technology studied should, in any event, be consistent with
farmer/pastoralist objectives and circumstances (Module 1, Section 1;
Module 2, Section 2).
Feasible technological solutions to improve animal nutrition may come
through one or more of the following pathways:
(Lingkup untuk perbaikan
Ruang lingkup untuk mengurangi masalah nutrisi akan sangat
bergantung pada karakteristik sistem yang sedang dipelajari. Dalam
sistem penggembalaan, di mana rentang vegetasi merupakan sumber
utama pakan, perbaikan nutrisi ternak mungkin hampir tidak mungkin
tanpa terlebih dahulu membahas isu-isu yang berkaitan dengan
kepemilikan lahan (penggembalaan bersama) 11 dan pengelolaan
(misalnya tingkat persediaan). Sementara pada sistem tanam
campuran, teknologi yang meningkatkan kuantitas dan nilai nutrisi pakan
yang diberikan pada ternak pada akhir musim tanam mungkin berlaku
(Powell 1985).
11 Bekerja dengan ILCA di Nigeria untuk penggunaan pakan ternak oleh
pastoral Fulani menunjukkan bahwa ada ruang untuk perbaikan sistem
pastoral, meskipun penggembalaan di atas tanah komunal.
Harus diingat bahwa dalam penelitian sistem peternakan, solusi untuk
masalah tertentu mungkin tidak selalu bersifat teknologi. (Misalnya,
mungkin lebih penting untuk memperbaiki aspek kebijakan tertentu
sebelum perbaikan produksi yang signifikan dapat dicapai). Setiap
teknologi yang dipelajari harus, dalam hal apapun, konsisten dengan
tujuan dan situasi petani / pastoralis (Modul 1, Bagian 1; Modul 2,
Bagian 2).
Solusi teknologi yang layak untuk memperbaiki nutrisi ternak dapat
dilakukan melalui satu atau lebih dari jalur berikut:)
crop improvement
changes in livestock management
pasture improvement, and
feed supplementation.
( perbaikan tanaman
perubahan dalam pengelolaan ternak
perbaikan padang rumput, dan
suplementasi pakan.)
Crop improvement strategies. In mixed systems of production,
livestock nutrition may be enhanced by improving the quantity and
nutritive value of crop residues used by stock through:
the selection for crop varieties which yield residues of higher nutritive
value or quantity
For instance, strong positive correlations between crop yield and stover
production and nutritive value have been observed in Nigeria (and
elsewhere) for sorghum and millet (Grove, 1979; Powell, 1985).
changing crop combinations so as to produce residues favoured by
livestock
For instance, Powell (1985) found in Nigeria that livestock preferred
millet (which had a higher nutritive value) to sorghum residues.
However, the change from sorghum to millet would need to be
consistent with farmers' crop preferences and/or income-earning
objectives to be adopted.
changing the time of planting, which affects stover production
For instance in northern Nigeria, sorghum stover yields were observed
to decline by 1700 kg/ha for each week's delay in planting beyond the
optimum date (Kassam and Andrews, 1975).
(Strategi perbaikan tanaman. Dalam sistem produksi campuran, nutrisi
ternak dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kuantitas dan nilai
nutrisi residu tanaman yang digunakan oleh stok melalui:
pemilihan varietas tanaman yang menghasilkan residu dengan nilai
atau kuantitas nutrisi tinggi
Misalnya, korelasi positif yang kuat antara hasil panen dan produksi
stork dan nilai nutrisi telah diamati di Nigeria (dan di tempat lain) untuk
sorghum dan millet (Grove, 1979; Powell, 1985).
Mengubah kombinasi tanaman sehingga menghasilkan residu yang
disukai oleh ternak
Misalnya, Powell (1985) ditemukan di Nigeria bahwa ternak lebih
memilih millet (yang memiliki nilai nutrisi lebih tinggi) terhadap residu
sorgum. Namun, perubahan dari sorgum menjadi millet perlu konsisten
dengan preferensi tanaman petani dan / atau tujuan pendapatan yang
harus diadopsi.
Mengubah waktu tanam, yang mempengaruhi produksi stover
Misalnya di Nigeria utara, hasil panen sorgum diamati turun 1700 kg / ha
untuk setiap minggu dalam proses penanaman di luar tanggal optimum
(Kassam dan Andrews, 1975).)
Livestock management strategies. This involves changing livestock
management strategies to match feed availability with livestock feed
requirements.
For instance, Wagenaar et al (1986) and Wilson and Sayers (1987) have
shown that change in the timing of births (to match feed demands with
feed supplies) can have significant effects on conception rates and
parturition number in sheep and goats.
Pasture improvement strategies. These involve ranching schemes
which aim to improve the management of the range and raise
productivity, principally through increasing in the amount of available
forage. The available evidence suggests, however, that such schemes
have mostly been unsuccessful in Africa (Danckwerts, 1975; Behnke,
1984). The redistribution of water points to better utilise grazing
resources is another example of a pasture improvement strategy.
(Strategi pengelolaan ternak. Ini melibatkan perubahan strategi
pengelolaan ternak agar sesuai dengan ketersediaan pakan dengan
kebutuhan pakan ternak.
Misalnya, Wagenaar dkk (1986) dan Wilson dan Sayers (1987) telah
menunjukkan bahwa perubahan dalam waktu kelahiran (untuk
memenuhi permintaan pakan dengan persediaan pakan) dapat memiliki
dampak signifikan pada tingkat konsepsi dan jumlah parturisi pada
domba dan kambing.
Strategi perbaikan padang rumput. Ini melibatkan skema peternakan
yang bertujuan untuk memperbaiki pengelolaan jangkauan dan
meningkatkan produktivitas, terutama melalui peningkatan jumlah pakan
ternak yang tersedia. Bukti yang ada menunjukkan, bagaimanapun,
bahwa skema semacam itu kebanyakan tidak berhasil di Afrika
(Danckwerts, 1975; Behnke, 1984). Redistribusi titik air untuk lebih
memanfaatkan sumber daya penggembalaan adalah contoh lain dari
strategi perbaikan padang rumput.)
Feed supplementation strategies. These involve the use of fodder
banks, fodder trees, byproducts such as oilseed cakes and meals, and
urea/molasses licks to supplement crude protein shortages.
Fodder banks are concentrated stands of forage, often legumes, sown
either on natural grass or fallows to provide dry-season supplementary
grazing (Bayer, 1986; Mohamed-Saleem, 1986; Taylor-Powell and
Ingawa, 1986). Those tested by ILCA in Nigeria are
mainly Stylosanthes spp and have been shown to be viable. However,
widespread adoption of forage legumes is constrained by competition for
land with food crops, labour shortages during crop operations and lack
of adapted species (Reed and Goe, 1989).
Among fodder trees, leucaena and sesbania have been shown to be
suitable for animal feed supplementation by the ILCA alley farming
programme in Nigeria (Atta-Krah, 1986). Browse gardens and
multipurpose trees have also been tried (Reed and Soller, 1987).
(Strategi suplementasi pakan. Ini melibatkan penggunaan bank pakan
ternak, pohon pakan ternak, produk sampingan seperti kue dan pakan
sari minyak, dan lambung urea / tetes tebu untuk melengkapi
kekurangan protein kasar.
Bank pakan ternak adalah pagu konsentrat yang terkonsentrasi,
seringkali kacang polong, ditaburkan baik di rumput alami atau berumput
untuk memberikan penggembalaan penggilingan musim kemarau
(Bayer, 1986; Mohamed-Saleem, 1986; Taylor-Powell dan Ingawa,
1986). Mereka yang diuji oleh ILCA di Nigeria terutama Stylosanthes
spp dan telah terbukti layak untuk dilakukan. Namun, adopsi kacang
sanitasi secara luas dibatasi oleh persaingan lahan dengan tanaman
pangan, kekurangan tenaga kerja selama operasi panen dan kurangnya
spesies yang disesuaikan (Reed and Goe, 1989).
Di antara pohon pakan ternak, leucaena dan sesbania telah terbukti
sesuai untuk suplementasi pakan ternak oleh program peternakan alga
ILCA di Nigeria (Atta-Krah, 1986). Jelajahi kebun dan pohon serbaguna
juga telah dicoba (Reed dan Soller, 1987).)
Part C: Types of data

Animal data
Feed data

Animal data
The objectives of data collection in this case are to (Table 3):
examine the effect of nutrition on production
determine the amount of feed consumed, and
determine the composition of the feed consumed.
With some of these data (e.g. intake, grazing behaviour, liveweight
gains) it may also be necessary to differentiate on the basis of age, sex,
breed, productive activity, species, season and/or management
system.12
12
Dab on animals' nutrient requirements have not been included since
the methods used to collect such data are not discussed in this module.
It is recommended that, when such dab are required, the ARC (1980)
standards should be used.
(Data ternak
Tujuan pengumpulan data dalam kasus ini adalah untuk (Tabel 3):
memeriksa efek nutrisi pada produksi
tentukan jumlah pakan yang dikonsumsi, dan
tentukan komposisi pakan yang dikonsumsi.
Dengan beberapa data ini (misalnya konsumsi, perilaku
penggembalaan, keuntungan hidup), perlu juga dibedakan berdasarkan
usia, jenis kelamin, jenis kelamin, aktivitas produktif, spesies, musim dan
/ atau sistem manajemen.12
12 Larutan nutrisi ternak belum disertakan karena metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data semacam itu tidak dibahas dalam
modul ini. Disarankan agar, jika diperlukan pengurasan seperti itu,
standar ARC (1980) harus digunakan.)
Table 3. Types of animal data used to diagnose animal
nutrition problems.
(Jenis data ternak digunakan untuk mendiagnosis masalah nutrisi
ternak)
Objective Types of data
Production effects Liveweight gain, condition scores, traction power,
(efek produksi) milk production, wool production (Bobot hidup,
skor kondisi, daya traksi, produksi susu, produksi
wol)
Amount of feed Feed intake (konsumsi pakan)
consumed (julah
pakan yg dikon)
Composition of feed Oesophageal or rumen fistula samples, faecal
consumed (komposisi samples, grazing behaviour studies (selection
pakan yang data) (Sampel fistula esofagus atau rumen,
dikonsumis) sampel feses, studi perilaku penggembalaan
(data seleksi))
Feed data
The principle objective, in this case, is to determine the nutritive value of
the feed consumed and digested by the animal. This may also involve
an assessment of sources of feed as yet unutilised but with the potential
for introduction into the diet.
In particular, data will be collected on digestibility, the energy value of
feed (dry matter, dry organic matter, digestible energy and
metabolisable energy), and crude protein content When assessing the
nutritive value of feed, differentiation on the basis of season or system of
production (which affect feed sources and feed availability) will often tee
useful. Under certain circumstances (see Part D below), data on the
mineral content and fibre composition of a diet may be necessary. When
determining mineral content, samples of the feed consumed and of
blood or bone may be needed.
(Data pakan
Tujuan prinsipnya, dalam hal ini, adalah untuk menentukan nilai nutrisi
pakan yang dikonsumsi dan dicerna oleh ternak. Ini mungkin juga
melibatkan penilaian sumber pakan yang belum dimanfaatkan namun
berpotensi untuk diperkenalkan ke dalam pakan.
Secara khusus, data dikumpulkan pada kecernaan, nilai energi pakan
(bahan kering, bahan organik kering, energi mudah dicerna dan energi
metabolis), dan kandungan protein kasar Saat menilai nilai nutrisi pakan,
diferensiasi berdasarkan musim atau sistem produksi (yang
mempengaruhi sumber pakan dan ketersediaan pakan) seringkali
berguna. Dalam keadaan tertentu (lihat Bagian D di bawah), data
kandungan mineral dan komposisi serat pakan mungkin diperlukan.
Saat menentukan kandungan mineral, sampel pakan yang dikonsumsi
dan darah atau tulang mungkin diperlukan.)
Part D: Methods of data collection

Effects of nutrition on animal production performance


Composition of consumed feed
Feed digestibility
Nutritive value of feed
Efek nutrisi pada performance produksi ternak
Komposisi pakan yang dikonsumsi
Cerna pakan
Nilai nutrisi pakan)
The discussion in Module 11 of different methods of data collection is
generally applicable to all types of diagnostic research, and the user is
encouraged to read it before embarking on studies of animal nutrition.
The emphasis here is on those methods which have been tested by
ILCA staff.
Following the format adopted in Part C of this module, these methods
have been grouped into methods used to measure:
the effects of nutrition on animal production
the amount of feed consumed (i.e. feed intake)
the composition of feed consumed
the digestibility of feed, and
the nutritive value of feed.
(Diskusi di Modul 11 tentang metode pengumpulan data yang berbeda
umumnya berlaku untuk semua jenis penelitian diagnostik, dan
pengguna didorong untuk membacanya sebelum memulai studi tentang
nutrisi ternaki. Penekanannya di sini adalah pada metode yang telah
diuji oleh staf ILCA.
Setelah format yang diadopsi di Bagian C dari modul ini, metode ini
telah dikelompokkan ke dalam metode yang digunakan untuk mengukur:
efek nutrisi pada produksi ternak
jumlah pakan yang dikonsumsi (misalnya konsumsi pakan)
komposisi pakan yang dikonsumsi
kecernaan pakan, dan
nilai nutrisi pakan.)
Effects of nutrition on animal production performance
(Dampak nutrisi pada performance produksi ternak)
The production performance of an animal often reflects its nutritional
status. Liveweight and body condition, for instance, provide a measure
of the nutritional response, integrated over weeks or months
(Lambourne et al, 1983).
Studies which attempt to isolate the key factors influencing animal
production performance may, therefore, be the first step in the diagnosis
of animal nutrition problems (see Part B above). If nutrition is identified
as the critical constraint to performance, further studies on specific
aspects of nutrition (related to the animal or the feed) may be needed.
The various methods used to assess animal production performance are
discussed in Module 5, and the reader should refer to it if detailed
diagnosis of production performance is envisaged.13
13
Prior evidence may be available which removes the need for such
studies. For instance, there may be data available from range evaluation
and animal production studies and farm management surveys, which
specifically identify nutrition as the critical constraint to production.
(Performance produksi ternak sering mencerminkan status nutrisi. Berat
badan dan kondisi tubuh , misalnya, memberikan ukuran respons nutrisi,
terintegrasi selama beberapa minggu atau bulan (Lambourne et al,
1983).
Studi yang mencoba mengisolasi faktor kunci yang mempengaruhi
performance produksi ternak dapat menjadi langkah pertama dalam
diagnosis masalah nutrisi ternak (lihat Bagian B di atas). Jika nutrisi
diidentifikasi sebagai kendala kritis terhadap performance, studi lebih
lanjut mengenai aspek nutrisi tertentu (terkait dengan ternak atau pakan)
mungkin diperlukan.
Berbagai metode yang digunakan untuk menilai performance produksi
ternak dibahas pada Modul 5, dan pembaca harus merujuknya jika
diagnosis rinci mengenai performance produksi dipertimbangkan.13
13 Bukti sebelumnya mungkin tersedia yang menghilangkan kebutuhan
akan penelitian semacam itu. Misalnya, mungkin ada data yang tersedia
dari evaluasi jangkauan dan studi produksi ternak dan survei
pengelolaan pertanian, yang secara khusus mengidentifikasi nutrisi
sebagai kendala penting untuk produksi.)
Feed intake
Intake, or the amount of feed an animal consumes, can be estimated by
using either digestibility data or 'markers'.
Digestibility data. When such data are available, intake can be
estimated by multiplying the dry-matter weight of faeces by a digestibility
factor. The factor is known as the feed:faeces ratio and is expressed
as:
(Konsumsi pakan. Konsumsi, atau jumlah pakan yang dikonsumsi
ternak, dapat diperkirakan dengan menggunakan data kecernaan.
Data kecernaan Bila data tersebut tersedia, konsumsi dapat
diperkirakan dengan mengalikan berat kering benda dari kotoran
dengan faktor kecernaan. Faktor ini dikenal sebagai pakan: rasio
kotoran dan dinyatakan sebagai
DM intake = 100/(100 - digestibility) x DM weight of faeces where
digestibility is in per cent.
Example: If the dry-matter weight of faeces of an animal is 870 g/d and
the percentage digestibility of the feed consumed is 60%, then the
amount of dry feed consumed would be: (: Jika berat kering kotoran
ternak adalah 870 g / d dan persentase kecernaan pakan yang
dikonsumsi adalah 60%, maka jumlah pakan kering yang dikonsumsi
adalah:_
DM intake (g/day) = (100/40) x 870 = 2175
The methods used to determine intake and to measure faecal output are
discussed below.
(Metode yang digunakan untuk menentukan konsumsi dan untuk
mengukur hasil feses dibahas di bawah ini.)
Markers. Digestibility and intake data can be derived from the
indigestible components of a diet, known as 'markers'. Markers are
classified as internal, if they are ordinarily present in the diet (e.g.
lignin), or as external, if they are added to the diet (e.g. chromic
oxide).14 They are used when the measurement of feed intake and
faecal output is difficult.
14
Other markers used include iron oxide, barium sulphate, titanium
oxide, and radioactive tracers (Dicko-Tour, 1980). Synthetic organic
substances such as beads, rubber and ribbon have also been used,
since they can be easily separated from the feed. Van Soest (1982)
provides a detailed account of the various markers used to estimate
intake and digestibility, and of their advantages and disadvantages. The
term 'indicator' is sometimes used instead of 'marker' (Dicko-Tour,
1980, Church and Pond, 1982; Lambourne et al, 1983).
The formula to estimate faecal output is:
(Pencatatan. Data kecernaan dan konsumsi dapat diturunkan dari
komponen pakan yang tidak dapat dicerna, yang dikenal sebagai
'pencatatan'. Pencatatan diklasifikasikan sebagai internal, jika biasanya
disajikan dalam pakan (misalnya lignin), atau eksternal, jika
ditambahkan ke pakan (misalnya oksida kromik) .14 Mereka digunakan
saat kesulitan dalam pengukuran konsumsi pakan dan produksi feses.
14 Pencatatan lainnya yang digunakan meliputi oksida besi, barium
sulfat, titanium oksida, dan pelacak radioaktif (Dicko-Tour, 1980). Zat
organik sintetis seperti manik-manik, karet dan pita juga telah
digunakan, karena mudah dipisahkan dari pakan. Van Soest (1982)
memberikan penjelasan rinci tentang berbagai perhitungan yang
digunakan untuk memperkirakan konsumsi dan kecernaan, dan
kelebihan dan kekurangannya. Istilah 'indikator' kadang-kadang
digunakan sebagai pengganti 'marker' (Dicko-Tour, 1980, Church and
Pond, 1982; Lambourne et al, 1983).
Rumus untuk memperkirakan hasil feses adalah

Example: An animal is dosed with 50 g of chromic oxide per day to


determine its daily faecal output. The concentration (proportion) of
marker in the dry-faeces sample is 5.75%, and the dry-matter weight of
the faecal output is: (Ternak diberi dosis 50 g oksida kromik per hari
untuk menentukan hasil feses hariannya. Konsentrasi (proporsi)
pencatatan pada sampel kotoran kering adalah 5,75%, dan berat kering
dari produksi feses adalah
Faecal output = 50/0.0575 = 870 g/d
Let us now take the estimated dry-matter weight of the faecal output and
the concentrations of the marker in the diet and in the dry faeces, and
calculate intake by using the following formulae:

Example: The dry-matter weight of faeces excreted per day is 870 g


and 5.75% of this is the marker. The proportion of the marker in the diet
is 3.4%. Calculate the DM intake of the animal.
DM intake (g/day) = 870 x (5.75/3.4)
Different intake rates can be calculated for animals classified on the
basis of age, sex, weight or productive activity. These can then be
related to such variables as seasonal rainfall, stocking rate,
management practices or plant composition to isolate its main
determinants.
(Mari kita lihat perkiraan bobot bahan kering dari produksi feses dan
konsentrasi marker dalam pakan dan kotoran kering, dan hitung
konsumsi dengan menggunakan rumus berikut:

Contoh: Berat kering benda tinja yang diekskresikan per hari adalah 870
g dan 5,75% dari jumlah ini adalah marker. Proporsi marker dalam
pakan adalah 3,4%. Hitung konsumsi DM pada ternak.
Konsumsi DM (g / hari) = 870 x (5.75 / 3.4)
Tingkat konsumsi yang berbeda dapat dihitung untuk ternak yang
diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, berat badan atau
aktivitas produktif. Ini kemudian dapat dikaitkan dengan variabel seperti
curah hujan musiman, tingkat persediaan, cara pengelolaan atau
komposisi tanaman untuk mengisolasi faktor penentu utamanya.)
Summary
The normal procedures to estimate DM digestibility and intake are to:
identify animals (3-5) for sampling
sample the feed consumed by these animals (e.g. by the
hand-plucking, oesophageal-fistula or rumen cannula
methods described below)
take faecal samples from the animals (as described below)
and mix them to eliminate differences between animals
determine the proportion of the marker in the (mixed) faecal
sample
determine the weight and proportion of the marker in the
feed sample taken, using standard laboratory techniques15
calculate digestibility of the feed as the ratio of feed:faecal
marker concentrations (digestibility can also be estimated
using in vitro procedures on feed samples see next page)
and
calculate intake from the formula given above. This requires
the further estimation of faecal output either by total faecal
collection or dosing with known quantities of, for instance,
chromic oxide.
(Ringkasan
Prosedur normal untuk memperkirakan kecernaan dan konsumsi DM
adalah:
mengidentifikasi ternak (3-5) untuk pengambilan sampel
sampel pakan yang dikonsumsi oleh ternak-ternak ini (misalnya
dengan metode pemetikan tangan, oesophageal-fistula atau
rumen cannula yang dijelaskan di bawah ini)
mengambil sampel feses dari ternak (seperti yang dijelaskan di
bawah) dan mencampurnya untuk menghilangkan perbedaan
antara ternak
tentukan proporsi marker dalam sampel fekal (campuran)
menentukan berat dan proporsi marker dalam sampel pakan yang
diambil, dengan menggunakan teknik laboratorium standar15
hitung kecernaan pakan sebagai rasio pakan: konsentrasi marker
fecal (kecernaan juga dapat diperkirakan dengan menggunakan
prosedur in vitro pada sampel pakan lihat halaman berikut) dan
hitung konsumsi dari rumus yang diberikan di atas. Ini memerlukan
estimasi lebih lanjut dari produksi feses baik dengan pengumpulan
feses total atau dosis dengan jumlah oksida kromik yang
diketahui.)
15
These techniques are discussed in most texts on animal nutrition.
When facilities for laboratory analysis are not available or are
inadequate, intake should be calculated on the basis of digestibility.
Simple methods to estimate digestibility are given in the text which
follows.
(Teknik ini dibahas dalam kebanyakan teks tentang nutrisi ternak. Bila
fasilitas untuk analisis laboratorium tidak tersedia atau tidak memadai,
konsumsi harus dihitung berdasarkan kecernaan. Metode sederhana
untuk memperkirakan kecernaan diberikan dalam teks berikut.)
Composition of consumed feed
There are various methods used to determine what the animal is eating.
Those discussed here are:
the oesophageal fistula method
the rumen cannula method
direct observation of grazing habits
pasture analysis before and after grazing, and
faecal samples.
(Komposisi pakan yang dikonsumsi
Ada berbagai metode yang digunakan untuk menentukan apa yang
dipakan binatang. Yang dibahas di sini adalah:
metode fistula esofagus
metode cannula rumen
pengamatan langsung terhadap kebiasaan merumput
Analisis padang rumput sebelum dan sesudah penggembalaan, dan
sampel feses)
Oesophageal fistula. The botanical composition of feed consumed by
an animal can be determined by using a surgical fistula inserted into an
animal's oesophagus. The food eaten passes into a collection bag
attached to the neck, and samples are taken directly from the bag after
allowing the animals to graze for not more than two hours before re-
inserting the fistula plug.
The oesophageal fistula method provides an accurate indication of the
botanical composition of the feed consumed. An illustration of this type
of approach is given by McLean et al (1981). However, because of
salivary contamination of the samples, accurate direct estimates of the
chemical composition of feed eaten are restricted to nitrogen, neutral
detergent solubles, calcium, magnesium, sulphur and copper (Little,
1972; 1975). Dietary phosphorus concentrations can be estimated
accurately only from oesophageal extrusa labelled with radioactive P
(Little et al, 1977). It also tends to be time-consuming and costly, and
farmers are unlikely to cooperate when their own stock is involved.
Nevertheless, ILCA research workers have used the method in the field.
(Fistula esofagus. Komposisi botani pakan yang dikonsumsi oleh seekor
ternak dapat ditentukan dengan menggunakan metode fistula yang
dimasukkan ke dalam esofagus ternak. Pakan yang dipakan masuk ke
tas koleksi yang menempel di leher, dan sampel diambil langsung dari
tas setelah membiarkan ternak itu merumput tidak lebih dari dua jam
sebelum memasukkan kembali steker fistula.
Metode fistula esofagus memberikan indikasi akurat tentang komposisi
botani pakan yang dikonsumsi. Ilustrasi pendekatan jenis ini diberikan
oleh McLean et al (1981). Namun, karena kontaminasi sampel air liur,
perkiraan langsung yang akurat dari komposisi kimia pakan yang
dipakan dibatasi pada nitrogen, pelarut detergen netral, kalsium,
magnesium, belerang dan tembaga (Little, 1972; 1975). Konsentrasi
fosfor diet dapat diperkirakan secara akurat hanya dari ekstrak luar
esofagus yang diberi label dengan radioaktif P (Little et al, 1977). Ini
juga cenderung mepakan waktu dan mahal, dan petani tidak mungkin
bekerja sama saat persediaan mereka sendiri terlibat. Meski demikian,
pekerja penelitian ILCA telah menggunakan metode ini di lapangan.)
In Kenya, for instance, oesophageal fistulae were fitted to cows which
had been purchased from Maasai pastoralists and herded with farmers
herds during three seasons in several locations (Semenye, 1988a,
b). The data obtained on feed composition were then complemented by
studies on grazing behaviour of the type discussed below. ILCA has also
used the fistula method with a small sample of cattle in Mali (Dicko-
Tour, 1980; Lambourne et al, 1983).
Material collected with the fistula method can be used in the
determination of digestibility by in vitro estimation procedures (see page
167).
(Di Kenya, misalnya, fistula esofagus dipasang pada sapi yang telah
dibeli dari penggembala Maasai dan digiring dengan ternak petani
selama tiga musim di beberapa lokasi (Semenye, 1988a,
b). Data yang diperoleh pada komposisi pakan kemudian dilengkapi
dengan penelitian tentang perilaku penggembalaan dari jenis yang
dibahas di bawah ini. ILCA juga menggunakan metode fistula dengan
sampel kecil ternak di Mali (Dicko-Tour, 1980; Lambourne et al, 1983).
Bahan yang dikumpulkan dengan metode fistula dapat digunakan dalam
penentuan kecernaan dengan prosedur estimasi in vitro (lihat halaman
167).)
Rumen cannula. This method is applicable to both cattle and smallstock
and allows direct sampling of the contents of the rumen by means of a
cannula surgically inserted into the rumen. It involves physically
emptying the contents of the rumen by hand before the animal goes to
graze and then taking samples from the freshly ingested material two to
three hours after the animal started grazing. The method has been used
by ILCA field researchers in Ethiopia (Nicholson and Sayers, 1987) and
Mali (Dicko-Tour, 1980) but the technique is elaborate, labour-intensive
and costly. It is therefore more likely to be applicable to on-farmlon-
range experiments described in Section 2.
(Kanula rumen Metode ini berlaku untuk ternak dan bahan baku kecil
dan memungkinkan pengambilan sampel secara langsung dari isi rumen
melalui cannula yang dimasukkan ke dalam rumen. Ini melibatkan
pengosongan isi rumen secara fisik secara fisik sebelum ternak tersebut
pergi untuk merumput dan kemudian mengambil sampel dari bahan
yang baru dicerna dua sampai tiga jam setelah ternak tersebut mulai
merumput. Metode ini telah digunakan oleh peneliti lapangan ILCA di
Ethiopia (Nicholson dan Sayers, 1987) dan Mali (Dicko-Tour, 1980)
namun teknik ini rumit, padat karya dan mahal. Oleh karena itu, lebih
mungkin untuk menerapkan eksperimen on-farmlon range yang
dijelaskan pada Bagian 2.)
Direct observation of grazing habits. The content of food consumed
by grazing animals can be guesstimated by following selected animals in
a herd or flock at distances which are close enough to observe what is
being eaten. Each selected animal is observed at regular intervals. Two
field examples demonstrate the principles.
(Pengamatan langsung terhadap kebiasaan merumput. Kandungan
pakan yang dikonsumsi oleh ternak penggembalaan dapat diperkirakan
dengan mengikuti ternak terpilih dalam kawanan ternak atau kawanan
pada jarak yang cukup dekat untuk mengamati apa yang dipakan.
Setiap binatang yang dipilih diamati pada interval reguler. Dua contoh
lapangan menunjukkan prinsip-prinsipnya.)
Examples:
De Leeuw and Chara (1985) used the technique to compare goat and
sheep browse preferences in mixed Maasai flocks in Kenya.
Observations were carried out during the dry season with randomly
selected animals being followed for periods of one to two hours by one
or two observers who were familiar with the local flora. Because the
animals were familiar with humans, observations could be made at
distances of 2-10 m.
(Contoh:
De Leeuw dan Chara (1985) menggunakan teknik ini untuk
membandingkan preferensi kambing dan domba dalam kawanan
Maasai campuran di Kenya. Pengamatan dilakukan selama musim
kemarau dengan ternak yang dipilih secara acak diikuti untuk jangka
waktu satu sampai dua jam oleh satu atau dua pengamat yang akrab
dengan flora lokal. Karena ternak itu sudah biasa dengan manusia,
pengamatan bisa dilakukan pada jarak 2-10 m.)
The aim was to obtain an equal number of 'hits' for sheep and goat - a
'hit' occurring each time a particular plant species was eaten. Hits per
plant species were then summed and compared with the total number to
determine the proportion of each plant eaten. These figures were then
used to derive an index of preference or selection. Between 200 and 400
hits were collected for both sheep and goats in each sample flock.
Nyerges (1979) observed the grazing habits of 120 sheep, by following
each for a period of 20 minutes (measured by stop watch). Animals were
followed at distances of 5-15 m and the shrub and ground species
consumed (including ground litter) during the observation period were
recorded.
(Tujuannya adalah untuk mendapatkan jumlah 'hits' yang sama untuk
domba dan kambing - 'hit' yang terjadi setiap kali spesies tanaman
tertentu dipakan. Hit per spesies tanaman kemudian dijumlahkan dan
dibandingkan dengan jumlah total untuk menentukan proporsi masing-
masing tanaman yang dipakan. Angka-angka ini kemudian digunakan
untuk mendapatkan indeks preferensi atau seleksi. Antara 200 dan 400
hit dikumpulkan untuk kedua domba dan kambing di setiap kawanan
sampel.
Nyerges (1979) mengamati kebiasaan merumput dari 120 domba,
dengan mengikuti masing-masing untuk jangka waktu 20 menit (diukur
dengan stop watch). Ternak diikuti pada jarak 5-15 m dan spesies
semak dan tanah yang dikonsumsi (termasuk serasah tanah) selama
periode pengamatan dicatat.)
Direct observation can also be applied to other studies of animal grazing
behaviour, e.g. time spent eating, walking, resting and watering (Dicko-
Tour, 1980). These variables can then be related to such parameters
as intake, digestibility, stocking rate and distance to water, to isolate the
more important determinants of grazing behaviour (Lambourne et al,
1983, pp. 195-198).
A modification of the direct-observation method was used by Dicko-
Tour (1980) in Mali to determine the composition of feed consumed.
Selected animals were followed for a period of one minute, and distance
walked as well as the number of mouthful taken during this period were
recorded.
A sample of forage was then collected by hand from the area grazed
during the one-minute observation period. The size of the sample taken
was in proportion to the observed number of mouthfuls (one hand-grab
for every five mouthful). Similar measurements were made for each
selected animal every 45 minutes throughout the day in order to obtain
comprehensive data on feeding habits and feed composition.
Lambourne et al (1983) argued that, for most purposes, such rapid-
survey techniques provide sufficient detail on diet composition. They are
low-cost, require minimal supervision and can be completed in a
relatively short time. Observers should, preferably, have a good
knowledge of local flora, but it is more important for them to be
observant. If hand samples are collected to mimic grazing habits, these
can be analysed at a later stage by someone who is thoroughly familiar
with the flora.
(Pengamatan langsung juga dapat diterapkan pada penelitian lain
tentang perilaku penggembalaan ternak, mis. Waktu yang dihabiskan
untuk pakan, berjalan, beristirahat dan menyiram (Dicko-Tour, 1980).
Variabel ini kemudian dapat dikaitkan dengan parameter seperti
konsumsi, kecernaan, tingkat stoking dan jarak terhadap air, untuk
mengisolasi faktor penentu perilaku penggembalaan yang lebih penting
(Lambourne et al, 1983, hlm. 195-198).
Modifikasi metode pengamatan langsung digunakan oleh Dicko-Tour
(1980) di Mali untuk menentukan komposisi pakan yang dikonsumsi.
Ternak yang dipilih diikuti selama satu menit, dan jarak berjalan serta
jumlah seteguk yang diambil selama periode ini dicatat.
Sampel pakan kemudian dikumpulkan dengan tangan dari area yang
dilumuri selama periode observasi satu menit. Ukuran sampel yang
diambil sebanding dengan jumlah suap yang diamati (satu tangkapan
tangan untuk setiap lima seteguk). Pengukuran serupa dilakukan untuk
setiap ternak yang dipilih setiap 45 menit sepanjang hari untuk
mendapatkan data komprehensif tentang kebiasaan pakan dan
komposisi pakan.
Lambourne dkk (1983) berpendapat bahwa, untuk sebagian besar
tujuan, teknik survei cepat tersebut memberikan rincian yang cukup
mengenai komposisi diet. Biaya murah, membutuhkan pengawasan
minimal dan bisa selesai dalam waktu yang relatif singkat. Pengamat
sebaiknya, memiliki pengetahuan yang baik tentang flora lokal, namun
lebih penting bagi mereka untuk menjadi jeli. Jika sampel tangan
dikumpulkan untuk meniru kebiasaan merumput, ini dapat dianalisis
pada tahap selanjutnya oleh seseorang yang benar-benar akrab dengan
flora.)
Data on diet composition can be complemented by opinions obtained
from herdsmen in the area. Their knowledge about species differences
in terms of selectivity and palatability is often very precise.
Pasture analysis before and after grazing. The 'before' and 'after'
method involves the demarcation of quadrats in a paddock before and
after animals are released into an area for grazing (Figure 4). Adjacent
to each fenced quadrat is an equally sized area, with similar vegetation
characteristics. The biomass and vegetation composition of the two
'paired' areas are measured using one of the techniques described in
Module 6 and animals are then released into the area to graze
(t'Mannetje, 1978). (Data tentang komposisi pakan dapat dilengkapi
dengan pendapat yang diperoleh dari para gembala di daerah tersebut.
Pengetahuan mereka tentang perbedaan spesies dalam hal selektivitas
dan palatabilitas seringkali sangat tepat.
Analisis padang rumput sebelum dan sesudah penggembalaan. Metode
'before' dan 'after' melibatkan demarkasi kuadrat di paddock sebelum
dan sesudah ternak dilepaskan ke area untuk merumput (Gambar 4).
Berdekatan dengan masing-masing kuadran berpagar adalah area
berukuran sama, dengan karakteristik vegetasi yang serupa. Komposisi
biomassa dan vegetasi dari dua area 'pasangan' diukur dengan
menggunakan salah satu teknik yang dijelaskan dalam Modul 6 dan
ternak kemudian dilepaskan ke daerah untuk merumput (t'Mannetje,
1978).)
Figure 4. Schematic representation of the pasture analysis method.
(Gambar 4. Skema representasi metode analisis padang rumput.)
After a prescribed period (e.g. one week) biomass and plant composition
in the paired areas adjacent to each fenced quadrat is remeasured and
preferences for different species of vegetation are determined. The
method will give reasonable estimates provided that the two areas are
not highly variable in terms of species composition. When vegetation is
highly variable, the number of paired samples required must be
increased, making measurement more time-consuming.
Faecal samples. Faecal samples have been used for microscopic
analysis of the plant part they contain, to provide an indication of the
vegetation consumed by an animal (Stewart, 1967). However, as an
indicator of dietary composition such samples tend to be unreliable since
the indigestible portion of the diet may bear little relationship to the
portion actually consumed. The faeces may, for instance, contain high
proportions of woody ligneous material consumed during browsing. This
does not necessarily mean that the diet also contains similar proportions
of this component.
(Setelah ditentukan periode tertentu (misalnya satu minggu) komposisi
biomassa dan tanaman di daerah berpasangan yang berdekatan
dengan masing-masing kuadrat berpagar diukur ulang dan preferensi
untuk berbagai jenis vegetasi ditentukan. Metode ini akan memberikan
perkiraan yang masuk akal asalkan kedua daerah tersebut tidak terlalu
bervariasi dalam hal komposisi spesies. Bila vegetasi sangat bervariasi,
jumlah sampel berpasangan yang dibutuhkan harus ditingkatkan,
membuat pengukuran lebih mepakan waktu.
Sampel feses. Sampel feses telah digunakan untuk analisis
mikroskopis bagian tanaman yang dikandungnya, untuk memberi
indikasi vegetasi yang dikonsumsi oleh ternak (Stewart, 1967). Namun,
sebagai indikator komposisi pakan, sampel semacam itu cenderung
tidak dapat diandalkan karena bagian pakan yang tidak dapat dicerna itu
mungkin sedikit berhubungan dengan porsi yang benar-benar
dikonsumsi. Kotoran misalnya, mengandung proporsi tinggi bahan kayu
berkaki yang dikonsumsi saat browsing. Ini tidak berarti bahwa diet juga
mengandung proporsi komponen yang serupa.)
Feed digestibility
The methods used to assess digestibility are based on:
the use of markers
the use of if 'faecal indices'
in vitro analysis of consumed feed, and
in vivo analysis of consumed feed.
Of these, only the first three are relevant to the diagnostic phase of
livestock systems research. The in vivo method is more applicable to on-
station research and involves intensive laboratory work and careful
supervision.
The use of markers. When it is impossible or inconvenient to
measure total feed intake or to collect total faeces, markers can be used
to determine intake (see pages 161-162) as well as digestibility. The
formula used to calculate apparent digestibility16 is:
(Kecernaan pakan
Metode yang digunakan untuk menilai kecernaan didasarkan pada:
penggunaan markers
penggunaan jika 'indeks feses'
analisis in vitro pakan yang dikonsumsi, dan
analisis in vivo pakan yang dikonsumsi.
Dari jumlah tersebut, hanya tiga yang pertama yang relevan
dengan fase diagnostik dari penelitian sistem peternakan. Metode in
vivo lebih sesuai untuk penelitian di stasiun dan melibatkan kerja
laboratorium intensif dan pengawasan yang cermat.
Penggunaan markers. Bila tidak mungkin atau tidak nyaman
untuk mengukur total konsumsi pakan atau untuk mengumpulkan total
kotoran, markers dapat digunakan untuk menentukan konsumsi (lihat
halaman 161-162) dan juga kecernaan. Rumus yang digunakan untuk
menghitung kecernaan yang jelas16 adalah

16
The reciprocal of apparent digestibility is per cent faeces.
Example: A sample of feed contains 13% lignin and a dry-faeces
sample taken after the animal consumed the feed contains 22% lignin.
Calculate the apparent digestibility of the feed.
Using the above formula,
(Contoh: Sampel pakan mengandung 13% lignin dan sampel kotoran
kering yang diambil setelah ternak yang mengkonsumsi pakan tersebut
mengandung 22% lignin. Hitung kecernaan pakan yang jelas.
Dengan menggunakan rumus di atas,)
Apparent digestibility (%) = 100 - 100(13/22) = 41
The formula for feed digestibility can be extended to estimate the
apparent digestibility of a given nutrient or component of the diet as
follows: (Formula untuk kecernaan pakan dapat diperluas untuk
memperkirakan kecernaan nutrisi tertentu atau komponen diet sebagai
berikut

To obtain data for the analysis based on markers, follow this procedure:
collect 3-5 grab samples of faeces from the area in which the
animals are grazing and mix them thoroughly
collect grab samples of the forage consumed after observing
animal behaviour
determine the percentage of the indicator in the faeces and
the feed, using standard laboratory techniques. If you are
interested in the estimation of crude protein and energy
intake or nutrient digestibility, assess the same samples for
nutrient content, and
determine digestibility (and intake) as shown above.
(Untuk mendapatkan data untuk analisis berdasarkan markers, ikuti
prosedur ini:
1. Mengumpulkan 3-5 sampel ambil kotoran dari daerah di mana
ternak tersebut merumput dan mencampurnya dengan seksama
2. Mengumpulkan sampel ambil dari pakan ternak yang dikonsumsi
setelah mengamati perilaku ternak
3. Tentukan persentase indikator pada kotoran dan pakan, dengan
menggunakan teknik laboratorium standar. Jika anda tertarik
dengan perkiraan protein kasar dan konsumsi energi atau
kecernaan nutrisi, tentukan sampel yang sama untuk kandungan
nutrisi, dan
4. Tentukan kecernaan (dan konsumsi) seperti yang ditunjukkan di
atas.)
Note: There are two obvious sources of error in such a methodology.
First, lignin may be partly digestible and is thus not always a reliable
indicator (marker). Second, the feed samples taken will often be not truly
representative of actual intake, particularly when pasture is highly
variable, and where the choice of samples is entirely dependent on the
enumerator judgement. (Catatan: Ada dua sumber kesalahan yang jelas
dalam metodologi seperti itu. Pertama, lignin dapat dicerna sebagian
dan dengan demikian tidak selalu merupakan indikator yang dapat
diandalkan (marker). Kedua, sampel pakan yang diambil seringkali tidak
benar-benar mewakili konsumsi aktual, terutama bila padang rumput
sangat bervariasi, dan di mana pilihan sampel sepenuhnya bergantung
pada penghitungan pencacah.)
There are various methods available to sample faecal output in the field,
including:
taking 'grab samples' from several animals and mixing them
thoroughly to ensure that differences between individual
animals are eliminated. This method is practical in a range
context.
total collection by bags attached to the animal: The method
is generally regarded as being inapplicable to most
range/pasture studies because of the cost and supervision
involved (e.g. Schneider and Flatt, 1975).
(Ada berbagai metode yang tersedia untuk sampel hasil feses di
lapangan, termasuk:
1. Mengambil 'sampel di ambil' dari beberapa ternak dan
mencampurnya secara menyeluruh untuk memastikan bahwa
perbedaan antara ternak individu dieliminasi. Metode ini praktis
dalam konteks jangkauan.
2. Koleksi total oleh kantong yang menempel pada ternak: metode ini
umumnya dianggap tidak dapat diterapkan untuk sebagian besar
studi jarak / padang rumput karena biaya dan pengawasan yang
terlibat (misalnya Schneider dan Flatt, 1975).)
However, (Dicko-Tour, 1980, p. 248), who used a low-cost
modification of the method on pastoral male cattle in Mali, reported that
this need not necessarily be the case. She argued that the costs of using
indicators to estimate faecal output would, in fact, have been more
expensive since this method would have involved sending samples to
another country at a cost that is at least 10 times higher than the cost
actually incurred by using the bag-collection method.
Thus, the methods adopted in any diagnostic study to sample faecal
output should be tailored to the particular circumstances of the study,
bearing in mind the financial and manpower resources of the research
team.
(Namun, (Dicko-Tour, 1980, hal 248), yang menggunakan
modifikasi biaya rendah pada ternak sapi pastoral di Mali, melaporkan
bahwa hal ini tidak perlu dilakukan. Dia berpendapat bahwa biaya
menggunakan indikator untuk memperkirakan hasil feses tentu saja
akan lebih mahal karena metode ini akan melibatkan pengiriman sampel
ke negara lain dengan biaya paling sedikit 10 kali lebih tinggi daripada
biaya yang sebenarnya dikeluarkan dengan menggunakan metode
koleksi kantong
Dengan demikian, metode yang diadopsi dalam studi diagnostik
untuk mengetahui produksi feses harus disesuaikan dengan keadaan
penelitian tertentu, mengingat sumber daya keuangan dan sumber daya
tim peneliti.)
The use of faecal indices. The methods using faecal indices to
estimate digestibility are based on established regression relationships
between faecal indices and the digestibility of dry or organic matter (Van
Soest, 1982). The general model for these relationships is:
Digestibility of forage grazed = f (faecal index)
The faecal indices in this model are calculated on the basis of the
nitrogen, lignin or chromogen contents of the faeces, i.e. the
components of faeces known to be closely related to digestibility.17
17
The relationship is not causal. The two variables merely happen to go
together i.e. they are concomitant (Dicko-Tour, 1980) are only relevant
to the site at which data were originally collected or to sites with very
similar vegetation and animal species (Dicko-Tour, 1980; Semenye,
1987).
(keuangan dan sumber daya tim peneliti.)
Penggunaan indeks feses. Metode yang menggunakan indeks
feses untuk memperkirakan kecernaan didasarkan pada hubungan
regresi mapan antara indeks faecal dan kecernaan bahan kering atau
organik (Van Soest, 1982). Model umum untuk hubungan ini adalah:
Digestibility forage grazed = f (indeks fekal)
Indeks faecal dalam model ini dihitung berdasarkan kandungan
nitrogen, lignin atau chromogen dari kotoran, yaitu komponen kotoran
yang diketahui terkait erat dengan kecernaan.17
Hubungannya bukan kausal. Dua variabel hanya kebetulan
berjalan bersamaan yaitu bersamaan (Dicko-Tour, 1980) hanya
relevan dengan lokasi pengumpulan data atau situs dengan vegetasi
dan spesies ternak yang sangat mirip (Dicko-Tour, 1980; Semenye,
1987).)
The estimation of digestibility via faecal indices involves the following
steps:
conduct conventional studies to determine, from faeces and
feed samples, regression relationships between digestibility and
the content of these substances in the faeces (The principles of
regression analysis are discussed in Module 11 of this section)
analyse faecal samples collected in the field to determine the
percentage(s) of selected substance(s) in the faeces (The
methods used to obtain faecal samples are described above)
predict digestibility using the faecal indices calculated from
these data.
The main advantages of this method are that it is relatively low-
cost and results can be obtained fairly quickly. Its chief disadvantage is
that it is site-specific, and the derived parameters and relations
(Estimasi kecernaan melalui indeks feses melibatkan langkah-langkah
berikut:
Melakukan penelitian konvensional untuk menentukan, dari
kotoran dan sampel pakan, hubungan regresi antara kecernaan
dan kandungan zat-zat ini dalam kotoran (Prinsip analisis regresi
dibahas pada Modul 11 pada bagian ini)
Menganalisis sampel feses yang dikumpulkan di lapangan untuk
menentukan persentase zat terpilih pada kotoran (Metode yang
digunakan untuk mendapatkan sampel feses dijelaskan di atas)
Memprediksi kecernaan dengan menggunakan indeks feses yang
dihitung dari data ini.
Keuntungan utama dari metode ini adalah biaya yang relatif
rendah dan hasilnya bisa didapat dengan cukup cepat. Kerugian
utamanya adalah bahwa situs itu spesifik, dan parameter dan relasi
yang diturunkan)
In vitro analysis of consumed feed. When digestibility is analysed by
in vitro methods, samples of feed ingested are subjected to artificial tests
which simulatedigestibility under controlled conditions. The more
commonly applied methods involve the use of rumen fluids, chemical
fermenters and nylon bags (see Church and Pond, 1982).
Rumen fluids. Rumen fluids are extracted from rumen-fistulated
animals and used in combination with buffers to simulate the action of
saliva. The substances are added to feed taken from the fistula, and the
mixture is heated at rumen temperature (39C) for periods of 24-48
hours (Church and Pond, 1982). The Tilley-Terry (1963) method, which
is widely used, involves an additional stage in which the feed is further
digested with acid pepsin for another 48 hours. The residual represents
the indigestible portion of the feed.
Chemical fermenters added to the feed have been used to predict
digestibility. The method is also used to study rumen function and the
metabolism of certain compounds, e.g. to determine types of non-protein
nitrogen (NPN) that can be utilised by rumen micro-organisms.
The advantage of the two methods is that the analysis is not expensive
(if laboratory facilities are available) and that it can be performed fairly
quickly. The methods can also be used to assess the digestibility of grab
samples of grass or of cut samples of stover and straws taken after crop
harvesting.
Nylon bags. These are inserted into the rumen of test animals and
removed after a prescribed period. The loss of material from the bag as
a result of fermentation is then calculated. The method is more
applicable to on-station research, but it can be used together with the
rumen cannula method to determine intake.
Analisis in vitro pakan yang dikonsumsi. Ketika kecernaan
dianalisis dengan metode in vitro, sampel pakan yang tertelan dikenai
tes buatan yang mensimulasikan kemampuan dalam kondisi terkendali.
Metode yang lebih umum diterapkan melibatkan penggunaan cairan
rumen, fermentor kimia dan tas nilon (lihat Church and Pond, 1982).
Cairan rumen Cairan rumen diekstraksi dari ternak rumen-
fistulated dan digunakan dalam kombinasi dengan buffer untuk
mensimulasikan aksi air liur. Zat ditambahkan ke pakan yang diambil
dari fistula, dan campuran dipanaskan pada suhu rumen (39 C) selama
24-48 jam (Church and Pond, 1982). Metode Tilley-Terry (1963), yang
banyak digunakan, melibatkan tahap tambahan dimana pakan
selanjutnya dicerna dengan pepsin asam selama 48 jam lagi. Sisa
mewakili bagian pakan yang tidak dapat dicerna.
Fermenter kimia yang ditambahkan ke pakan telah digunakan
untuk memprediksi kecernaan. Metode ini juga digunakan untuk
mempelajari fungsi rumen dan metabolisme senyawa tertentu, mis.
untuk menentukan jenis nitrogen non protein (NPN) yang dapat
dimanfaatkan oleh mikroorganisme rumen.
Keuntungan dari kedua metode tersebut adalah analisisnya tidak
mahal (jika tersedia fasilitas laboratorium) dan hal itu dapat dilakukan
dengan cukup cepat. Metode ini juga dapat digunakan untuk menilai
kecernaan sampel tangkapan rumput atau sampel potong stover dan
sedotan yang diambil setelah panen.
Kantong nilon Ini dimasukkan ke dalam rumen ternak uji dan
dikeluarkan setelah periode yang ditentukan. Hilangnya bahan dari
kantong hasil fermentasi kemudian dihitung. Metode ini lebih sesuai
untuk penelitian di stasiun, namun dapat digunakan bersamaan dengan
metoda rumen cannula untuk menentukan konsumsi.)
Nutritive value of feed
This part of the module focuses on the methods and techniques used in
estimating the supply of different nutrients to animals in particular
situations or systems, in relation to their need for these nutrients. It starts
with a general section on estimating the main feed components. It then
goes straight to fibre analysis because of the difficulties involved in
estimating feed values in very fibrous diets. Finally, it looks at some of
the techniques in use for the physical sampling, from stands of different
kinds of feed, for laboratory analysis.
Methods to estimate feed components
The feed value of a source of feed can be assessed on the basis of its
energy value, crude protein content and mineral content, using methods
specifically designed to estimate these components of feed.
Energy. The energy yield of a source of feed (such as natural pasture)
can be estimated from its dry-matter weight per unit area. Module 6
discusses the various methods used to estimate biomass or dry-matter
weight under rangeland conditions. Many of these methods rely on the
use of predictive equations based on the relationship between biomass
and the vegetation characteristics (e.g. height, density, crown diameter,
stem diameter) of an area in order to extrapolate biomass estimates
over larger areas.
(Metode untuk memperkirakan komponen pakan
Nilai pakan dari sumber pakan dapat dinilai berdasarkan nilai
energinya, kandungan protein kasar dan kandungan mineral, dengan
menggunakan metode yang secara khusus dirancang untuk
memperkirakan komponen pakan ini.
Energi. Hasil energi dari sumber pakan (seperti padang rumput
alami) dapat diperkirakan dari berat bahan kering per satuan luasnya.
Modul 6 membahas berbagai metode yang digunakan untuk
memperkirakan berat biomassa atau bahan kering di bawah kondisi
rangeland. Banyak dari metode ini bergantung pada penggunaan
persamaan prediktif berdasarkan pada hubungan antara karakteristik
biomassa dan vegetasi (misalnya tinggi, kerapatan, diameter mahkota,
diameter batang) dari suatu daerah untuk memperkirakan perkiraan
biomassa di wilayah yang lebih luas.)
Samples can be taken to establish similar predictive relationships for the
estimation of dry-matter weight of crop residues. Powell (1985), for
instance, used grain yield to predict total stover dry-matter weight and
stalk and leaf dry-matter weights for millet and sorghum. The
relationships, which were based on data obtained from randomly chosen
sites in Kaduna State, Nigeria, were highly significant (Figure 5).
Van Raay and de Leeuw (1971) adopted a similar procedure to
determine the DM weight of crop residues in Katsina, Nigeria. They
established predictive relationships on the basis of stalk and stand
density, plant height and plant edibility (subjectively estimated).
Sampel dapat diambil untuk membentuk hubungan prediktif yang
serupa untuk memperkirakan bobot kering bahan residu tanaman.
Powell (1985), misalnya, menggunakan hasil gabah untuk memprediksi
berat bahan baku stover total dan tangkai dan bobot kering daun untuk
millet dan sorgum. Hubungan, yang didasarkan pada data yang
diperoleh dari lokasi yang dipilih secara acak di Negara Bagian Kaduna,
Nigeria, sangat signifikan (Gambar 5).
Van Raay dan de Leeuw (1971) mengadopsi prosedur serupa
untuk menentukan berat DM residu tanaman di Katsina, Nigeria. Mereka
membentuk hubungan prediktif berdasarkan kerapatan tangkai dan
tegakan, tinggi tanaman dan edibilitas tanaman (diperkirakan secara
subyektif).)
Figure 5. Relationships between sorghum and millet grain yields
and stover dry-matter (DM) yields.( Hubungan antara hasil panen
gandum sorgum dan millet dan hasil panen kering (DM).)
Note: The three relationships shown are between grain yield and,
respectively, stover DM weight (A), stalk DM weight (B) and leaf DM
weight (C). (Catatan: Tiga hubungan yang ditunjukkan adalah antara
hasil gabah dan, masing-masing, berat badan stover DM (A), berat DM
tangkas (B) dan berat DM daun (C).)
Source: Powell (1985, p. 79).
Having obtained an estimate of dry-matter yield, an estimate of
digestibility is then required before the desired approximation of the
energy yield can be calculated. The fibrous portions of a feed must,
therefore, be considered before more accurate estimates of nutritive
value can be made.
Feeds with a high biomass per unit area are often low in energy since
they also contain a high proportion of indigestible fibrous matter.
Methods of fibre analysis have been devised to separate those portions
of fibre which can be utilised by the ruminant from those which are
essentially indigestible.18 These methods are briefly discussed.
18
The digestible portion of the fibrous fraction of crop residues and agro-
industrial byproducts is a major source of energy for ruminant animals.
Fibre analysis is thus particularly important in the assessment of the
nutritive value of these feeds.
Setelah memperoleh perkiraan hasil bahan kering, perkiraan
kecernaan kemudian diperlukan sebelum perkiraan yang diinginkan dari
hasil energi dapat dihitung. Bagian berserat dari pakan harus
dipertimbangkan sebelum perkiraan nilai nutrisi yang lebih akurat dapat
dibuat.
Pakan dengan biomassa tinggi per satuan luas seringkali rendah
energi karena mengandung juga sejumlah besar bahan berserat yang
tidak dapat dicerna. Metode analisis serat telah dirancang untuk
memisahkan bagian serat yang dapat digunakan oleh ruminansia dari
pakan yang pada dasarnya tidak dapat dicerna.18 Metode ini dibahas
secara singkat.
Bagian yang mudah dicerna dari fraksi berserat residu tanaman
dan produk samping agroindustri merupakan sumber energi utama bagi
ternak ruminansia. Analisis serat sangat penting dalam penilaian nilai
nutrisi dari pakan ini.)
For the purposes of illustration, however, the following average
relationships can be used:19
GE (gross energy) = 18.0 MJ/kg DM of feed intake
DE (digestible energy) = 0.50 (for example), and
ME (metabolisable energy) = 0.81 DE.
So in this illustration, ME = 7.3 MJ/kg DM of feed intake.
19
The average relationships used in the text which follows are feed
energy supply and requirements derived principally from King (1983) to
whom reference should be made for all supporting details.
The metabolisable energy available in the feed intake can then be
related to energy requirements for maintenance and/or production to
provide an indication of the energy status of the animal.
(19 Hubungan rata-rata yang digunakan dalam teks berikut adalah
pasokan energi pakan dan kebutuhan yang diperoleh terutama dari Raja
(1983) kepada siapa referensi harus dibuat untuk semua rincian
pendukung.
Energi metabolis yang tersedia dalam konsumsi pakan kemudian
dapat dikaitkan dengan kebutuhan energi untuk maintenance dan / atau
produksi untuk memberi indikasi status energi ternak.)
Example: Let us calculate the feed energy requirements of a 300 kg
(liveweight) ox for maintenance, foraging and production, and compare
these with the availability of energy to that animal from its feed supply.
The maintenance (fasting metabolism) requirement is determined as
follows:
Daily maintenance requirement (Em) = 0.293 W0.75 MJ of NE where:
(Contoh: Mari kita hitung kebutuhan energi pakan dari 300 kg (Berat
hidup) sapi untuk maintenance, mencari pakan dan produksi, dan
bandingkan dengan ketersediaan energi untuk ternak itu dari suplai
pakannya.
Kebutuhan maintenance (metabolisme puasa) ditentukan sebagai
berikut:
Kebutuhan maintenance harian (Em) = 0,293 W0,75 MJ NE dimana
MJ = megajoules

NE = net energy, and

W = liveweight in kilogrammes.
In this case, W = 300 kg, so

Em = 0.293 (300)0.75 MJ of NE = 21.12

To convert this figure into metabolisable energy (ME), we need to divide


it by the efficiency of conversion (Km) of ME to NE for maintenance.
Km tends to lie in the range 0.64 to 0.70, and here it is assumed to be
0.67. So,
(Untuk mengubah angka ini menjadi energi metabolis (ME), kita perlu
membaginya dengan efisiensi konversi (Km) ME ke NE untuk
maintenance.
Km cenderung berbaring di kisaran 0.64 sampai 0.70, dan di sini
diasumsikan 0,67. Begitu,)
Em = 21.12/0.67 = 31.52 ME
To obtain its energy needs for maintenance (fasting metabolism), an
animal needs to walk while grazing and trekking to water. We can call
this 'foraging'. The energy requirement for foraging (Ef) are given by the
formula:
Untuk mendapatkan kebutuhan energi untuk maintenance (metabolisme
puasa), ternak perlu berjalan sambil merumput dan trekking ke air. Kita
bisa menyebutnya 'mencari pakan'. Kebutuhan energi untuk mencari
pakan (Ef) diberikan dengan rumus
Ef (in MJ of ME) = 1.8/1000 x W x distance walked in km (Ef (di MJ dari
ME) = 1,8 / 1000 x W x jarak berjalan di km)
On the assumption that our ox walks 18 km daily at a speed of 3 kph:
(Dengan asumsi bahwa lembu kami berjalan sejauh 18 km setiap hari
dengan kecepatan 3 kph
Ef = 1.8/1000 x 300 x 18 = 9.72 MJ of ME daily
so its daily energy requirement for living (El), i.e. fasting metabolism and
foraging, is: (Jadi kebutuhan energinya sehari-hari untuk hidup (El), yaitu
metabolisme puasa dan mencari pakan, adalah
El = Em + Ef = 31.52 + 9.72 = 41.24 MJ of ME
If the daily energy intake of our ox is greater than 41.24 MJ of ME, it will
be able to put on weight. To gain weight, an animal needs between 12
and 27 MJ of ME per kg liveweight, depending on the percentage that fat
constitutes in the meat accumulated. Under African conditions, the
average figure may be about 16 MJ of ME/kg LW gain (derived from
Ledger and Sayers, 1977). (Jika konsumsi energi harian sapi kita lebih
besar dari 41,24 MJ ME, maka akan mampu menambah berat badan.
Untuk menambah berat badan, ternak membutuhkan antara 12 dan 27
MJ ME per kg daging sapi, tergantung pada persentase lemak yang ada
dalam akumulasi daging. Di bawah kondisi Afrika, angka rata-rata
mungkin sekitar 16 MJ keuntungan ME / kg LW (berasal dari Ledger dan
Sayers, 1977).)
Assume now that we are conducting our study in a region where the
remaining stock of standing hay in the early dry season (three months or
90 days before rain will bring fresh growth) is estimated at 200 kg
DM/ha. Assume also that the stocking rate in the area is the equivalent
of three ha/ox. We can now compare supply and requirements of feed
energy per ox for the 90 days of the dry season as follows
Asumsikan sekarang bahwa kita sedang melakukan penelitian kami di
wilayah dimana sisa stok jerami berdiri di awal musim kemarau (tiga
bulan atau 90 hari sebelum hujan akan membawa pertumbuhan segar)
diperkirakan 200 kg DM / ha. Asumsikan juga bahwa tingkat stok di
daerah tersebut setara dengan tiga ha / lembu. Kita sekarang dapat
membandingkan pasokan dan kebutuhan energi pakan per lembu untuk
90 hari musim kemarau sebagai berikut
Supply (persediaan)
3 (ha) x 200 (kg DM/ha) x 7.3 (MJ ME/kg DM) = 4380 MJ ME/ox
Requirement for living (Kebutuhan untuk hidup)
90 (days) x 41.24 (E/days) = 3712 MJ ME/ox
Balance available for liveweight gain (Saldo tersedia untuk
mendapatkan berat hidup)
Supply - requirements for living = 4380 - 3712 = 668 MJ ME/ox or the
equivalent of about 42 kg of liveweight gain at the rate of:
(Pasokan - kebutuhan untuk hidup = 4380 - 3712 = 668 MJ ME / sapi
atau setara dengan sekitar 42 kg PBBhpada tingkat
42/90 = 0.47/head/day.
Crude protein. The standard laboratory method for the estimation of
crude protein is the Kjeldahl method which is described in most texts
on animal nutrition (e.g. McDonald et al, 1973; Church and Pond, 1982).
The analysis is used to determine the crude protein content of a sample
of grass or stover, and the results can then be used to establish
predictive regression equations similar to those illustrated in Figure 5.
(Protein kasar. Metode laboratorium standar untuk estimasi protein
kasar adalah metode Kjeldahl yang dijelaskan dalam kebanyakan teks
tentang nutrisi ternak (misalnya McDonald et al, 1973; Church and
Pond, 1982). Analisis ini digunakan untuk menentukan kandungan
protein kasar dari sampel rumput atau stover, dan hasilnya kemudian
dapat digunakan untuk membuat persamaan regresi prediktif yang
serupa dengan yang diilustrasikan pada Gambar 5.)
Powell (1985), for instance, found that the relationship between grain
yield at the time of harvest and total crude protein (CP), and between
grain yield and leaf CP/ha were highly significant. Such relationships can
be used to indicate the availability of crude protein from different sources
and/or at different stages of plant growth.
When estimating the crude protein content of browse plants and crop
residues, it should be borne in mind that the presence of certain
phenolics (tannins) in these feeds can affect the availability of nitrogen to
the ruminant. This is particularly true of feeds high in insoluble
polyphenolics, for which the calculated crude protein content may
overestimate the amount of nitrogen which can actually be synthesised
into protein (e.g. Woodward and Reed, 1989).
(Powell (1985), misalnya, menemukan bahwa hubungan antara hasil
gabah pada saat panen dan total protein kasar (CP), dan antara hasil
gabah dan CP daun / ha sangat signifikan. Hubungan semacam itu
dapat digunakan untuk menunjukkan ketersediaan protein kasar dari
sumber yang berbeda dan / atau pada tahap pertumbuhan tanaman
yang berbeda.
Ketika memperkirakan kandungan protein kasar dari tanaman
browse dan residu tanaman, harus diingat bahwa adanya beberapa
fenolat (tannin) tertentu dalam pakan ini dapat mempengaruhi
ketersediaan nitrogen ke ruminansia. Hal ini terutama berlaku untuk
pakan yang mengandung polifenol yang tidak larut, dimana kandungan
protein kasar yang dihitung dapat melebih-lebihkan jumlah nitrogen yang
sebenarnya dapat disintesis menjadi protein (misalnya Woodward dan
Reed, 1989).)
Minerals. Analysis should only be attempted if mineral deficiencies are
clearly evident. Even then, if other nutrients such as energy or crude
protein are more limiting (as is likely to be the case on African
rangelands), the mineral constraint should be dealt with only after the
primary deficiencies have been rectified (Little, 1985).
The methods used by ILCA researchers to diagnose the more common
deficiencies involve blood, bone, liver, milk and faecal samples and are
discussed in general terms below. All the methods outlined rely on
adequate laboratory facilities. For a more detailed account of symptoms
of mineral deficiency and the role of minerals in animal nutrition, the user
is referred to basic nutrition texts, e.g. Cullison (1982) and Church and
Pond (1982).
Blood samples. Whole blood, blood serum and blood plasma samples
have been used to diagnose mineral deficiencies (particularly
phosphorous and magnesium) in livestock. Values significantly below
'normal' concentrations (or ranges) indicate the nutritional status of an
animal with respect to a particular mineral, but the evidence is not
always conclusive (McDowell et al, 1986).
Precautions must, for instance, be taken when samples are taken in less
than optimum conditions since exercise, stress, temperature and other
factors can alter mineral concentrations. Such factors are often difficult
to control in African conditions (Mtimuni, 1982) and have resulted in high
concentrations of phosphorous in serum when the concentration in
forages consumed was, in fact, extremely low.
Little et al (1971) described a method for obtaining accurate estimates of
blood inorganic P concentrations, but the difficulties of interpretation of
such data were noted by Gartner et al (1980). Basically, only low blood
inorganic P values have any diagnostic value.
Bone samples. Because of the problems just described, tests using
bone samples have been developed to test for phosphorus deficiency in
livestock. Samples of rib bone can be obtained by simple surgery. For
FSR diagnostic work, simple measurements that can be made on certain
long bones at slaughter can provide results which are generally more
reliable than those obtained from blood samples. These methods have
been described by Little (1984).
Liver samples. Liver samples have been used to diagnose for copper,
cobalt and vitamin A deficiencies in African livestock (Tartour, 1975; van
Niekerk, 1978).
Milk samples. ILCA has used samples of milk to diagnose mineral
deficiencies in cattle in Ethiopia. However, since milk composition is
influenced by such factors as cow age, stage of lactation and genetic
potential, milk sampling tends to be unreliable. The 'let-down' problem
associated with zebu cattle (Module 5) also means that it is cliff cut to
obtain representative samples in field studies. Large variations in
butterfat content between successive milkings of the same cow reflect
this problem (Lambourne et al, 1983). However, milk samples are very
useful in the diagnosis of iodine deficiency (Committee on Mineral
Nutrition, 1973).
Faecal samples. Apart from their use in digestibility and intake studies,
faecal samples have been used to diagnose for phosphorus and sodium
deficiencies (Little, 1987). Sodium problems are diagnosed more
accurately, but with more difficulty, from saliva samples.
However, the analysis of mineral deficiencies is probably best done by
feed analysis at the diagnostic phase of farming systems research. The
methods described above are more applicable to specific problems
requiring more sensitive analysis (Little, 1987). A knowledge of the
symptoms involved will provide further confirmatory evidence (e.g. bone
chewing is an indication of phosphorus deficiency). The opinions of
traditional herders will also be useful in identifying mineral deficiencies
(particularly the need for salt), as will be the movement of stock over
large distances to natural sources of minerals.
(Mineral Analisis hanya boleh dilakukan jika kekurangan mineral jelas
terlihat. Bahkan kemudian, jika nutrisi lain seperti energi atau protein
kasar lebih membatasi (seperti yang mungkin terjadi pada rangelands
Afrika), batasan mineral harus ditangani hanya setelah defisiensi primer
telah diperbaiki (Little, 1985).
Metode yang digunakan oleh peneliti ILCA untuk mendiagnosis
kekurangan yang lebih umum melibatkan sampel darah, tulang, hati,
susu dan feses dan dibahas secara umum di bawah ini. Semua metode
yang digariskan mengandalkan fasilitas laboratorium yang memadai.
Untuk penjelasan lebih rinci tentang gejala kekurangan mineral dan
peran mineral dalam nutrisi ternak, pengguna dirujuk ke teks nutrisi
dasar, mis. Cullison (1982) dan Church and Pond (1982).
Sampel darah. Seluruh darah, serum darah dan sampel plasma darah
telah digunakan untuk mendiagnosa kekurangan mineral (terutama
fosfor dan magnesium) pada ternak. Nilai yang jauh di bawah
konsentrasi 'normal' (atau rentang) menunjukkan status nutrisi ternak
sehubungan dengan mineral tertentu, namun buktinya tidak selalu
meyakinkan (McDowell et al, 1986).
Tindakan pencegahan harus, misalnya, diambil saat sampel diambil
dalam kondisi kurang optimal karena berolahraga, stres, suhu dan faktor
lainnya dapat mengubah konsentrasi mineral. Faktor-faktor seperti ini
seringkali sulit dikendalikan dalam kondisi Afrika (Mtimuni, 1982) dan
telah menghasilkan konsentrasi fosfor dalam serum yang tinggi saat
konsentrasi hijauan dikonsumsi pada kenyataannya sangat rendah.
Little et al (1971) menggambarkan sebuah metode untuk mendapatkan
perkiraan yang akurat tentang konsentrasi P anorganik darah, namun
kesulitan interpretasi data tersebut dicatat oleh Gartner et al (1980).
Pada dasarnya, hanya nilai P anorganik darah rendah yang memiliki
nilai diagnostik.
Sampel tulang Karena masalah yang baru saja dijelaskan, tes
menggunakan sampel tulang telah dikembangkan untuk menguji
kekurangan fosfor pada ternak. Sampel tulang rusuk dapat diperoleh
dengan operasi sederhana. Untuk pekerjaan diagnostik FSR,
pengukuran sederhana yang bisa dilakukan pada tulang panjang
tertentu saat pembantaian dapat memberikan hasil yang umumnya lebih
dapat diandalkan daripada yang diperoleh dari sampel darah. Metode ini
telah dijelaskan oleh Little (1984).
Sampel hati Sampel hati telah digunakan untuk mendiagnosa
kekurangan tembaga, kobalt dan vitamin A pada ternak Afrika (Tartour,
1975; van Niekerk, 1978).
Sampel susu. ILCA telah menggunakan sampel susu untuk
mendiagnosa kekurangan mineral pada ternak di Ethiopia. Namun,
karena komposisi susu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti umur sapi,
stadium laktasi dan potensi genetik, pengambilan sampel susu
cenderung tidak dapat diandalkan. Masalah 'let-down' yang terkait
dengan ternak zebu (Modul 5) juga berarti bahwa tebing dipotong untuk
mendapatkan sampel yang representatif dalam studi lapangan. Variasi
besar kandungan lemak susu antara susu sapi yang sama berturut-turut
mencerminkan masalah ini (Lambourne et al, 1983). Namun, sampel
susu sangat bermanfaat dalam diagnosis defisiensi yodium (Komite
Nutrisi Mineral, 1973).
Sampel feses. Terlepas dari penggunaannya dalam studi kecernaan
dan konsumsi, sampel feses telah digunakan untuk mendiagnosis
defisiensi fosfor dan natrium (Little, 1987). Masalah natrium didiagnosis
lebih akurat, namun dengan lebih banyak kesulitan, dari sampel air liur.
Namun, analisis kekurangan mineral paling mungkin dilakukan dengan
analisis pakan pada fase diagnostik dari penelitian sistem pertanian.
Metode yang dijelaskan di atas lebih sesuai untuk masalah spesifik yang
memerlukan analisis yang lebih sensitif (Little, 1987). Pengetahuan
tentang gejala yang terlibat akan memberikan bukti konfirmasi lebih
lanjut (misalnya mengunyah tulang adalah indikasi kekurangan fosfor).
Pendapat penggembala tradisional juga akan berguna dalam
mengidentifikasi kekurangan mineral (terutama kebutuhan akan garam),
seperti juga pergerakan stok pada jarak yang jauh ke sumber mineral
alami.)
Fibre analysis
The crude-fibre (Weende) method is described in most texts on animal
nutrition. The method has been widely used to determine the fibre
content of feed, but it has two serious shortcomings, particularly with
respect to highly fibrous feeds such as crop residues, straws etc. These
are:
The method treats all fibre components (cellulose, hemicelluose
and lignin) as uniformly digestible. Ruminants can, however, utilise
some cellulose and hemicelluose though lignin is essentially
indigestible. The digestibility of a feed therefore tends to be
underestimated.
Not all of the lignin and hemicelluose is extracted by the crude-
fibre method. As a result, a portion of these components is
included in the nitrogen-tree extract (sugars and starches) and is,
therefore, assumed to be highly digestible. The digestibility of a
feed therefore tends to be overestimated.
Because of these shortcomings, Van Soest (1988) devised a method
which separates feed dry matter into two fractions - one of high
or uniform digestibility and the other of low or non-uniform digestibility.
Feed samples are boiled in a neutral-detergent solution and components
are separated as follows:
neutral-detergent solubles (NDS), consisting mainly of lipids,
sugars, starches and protein with a digestibility of about 98%, and
neutral-detergent fibre (NDF), consisting of plant cell wall
components (lignin, silica, hemicelluose and some protein). This
fraction more closely corresponds to the true fibre fraction than the
estimate of the Weende crude-fibre analysis.
However, NDF is not a uniform chemical entity, its overall nutritive value
is considerably influenced by the amount of lignin present. To determine
this amount, the feed is treated by acid detergent, and the procedure is
known as the acid-detergent fibre (ADF) analysis. By heating the NDF in
acid detergent, the presence of tannins can also be detected.
The detergent analysis and its different procedures are discussed in
greater detail by Van Soest (1988) and Reed and Van Soest (1985).
Because of the high costs of reagents and apparatus used in detergent
analysis, developing countries have been slow to adopt the method.
ILCA's Animal Nutrition Section has recently developed a low-cost
micro-fibre apparatus which uses one tenth of the amount of reagent
used in conventional detergent analysis experiments. This method is
described by Reed (1984), and the specifications of the apparatus can
be obtained from ILCA, Addis Ababa, Ethiopia.
(Analisis serat
Metode serat kasar (Weende) dijelaskan dalam kebanyakan teks
tentang nutrisi ternaki. Metode ini telah banyak digunakan untuk
menentukan kandungan serat pakan, namun memiliki dua kelemahan
serius, terutama berkenaan dengan pakan berserat tinggi seperti residu
tanaman, sedotan dll. Ini adalah:
Metode ini memperlakukan semua komponen serat (selulosa,
hemiseluosa dan lignin) sebagai pencerna yang seragam.
Ruminansia dapat, bagaimanapun, menggunakan beberapa
selulosa dan hemiselluose meskipun lignin pada dasarnya tidak
dapat dicerna. Oleh karena itu, kecernaan pakan jadi cenderung
diremehkan.
Tidak semua lignin dan hemiseluose diekstraksi dengan metode
serat kasar. Akibatnya, sebagian dari komponen ini termasuk
dalam ekstrak pohon nitrogen (sugars dan pati) dan oleh karena
itu, diasumsikan sangat mudah dicerna. Kecernaan pakan jadi
cenderung terlalu tinggi.
Karena kekurangan, Van Soest (1988) merancang sebuah metode yang
memisahkan bahan kering pakan menjadi dua fraksi - salah satu
kecernaan yang tinggi atau seragam dan yang lain dari kecernaan yang
rendah atau tidak seragam. Sampel pakan direbus dalam larutan
detergen netral dan komponennya dipisahkan sebagai berikut:
neutral-detergent solubles (NDS), terutama terdiri dari lipid, gula,
pati dan protein dengan kecernaan sekitar 98%, dan
neutral-detergent fibre (NDF), terdiri dari komponen dinding sel
tanaman (lignin, silika, hemiselluosa dan beberapa protein). Fraksi
ini lebih sesuai dengan fraksi serat yang sebenarnya daripada
perkiraan analisis serat kasar Weende.
Namun, NDF bukanlah entitas kimia yang seragam, nilai nutrisi
keseluruhannya sangat dipengaruhi oleh jumlah lignin yang ada. Untuk
menentukan jumlah ini, pakan diolah dengan deterjen asam, dan
prosedurnya dikenal dengan analisis asam-deterjen (ADF). Dengan
memanaskan NDF dalam deterjen asam, kehadiran tanin juga bisa
dideteksi.
Analisis deterjen dan prosedur yang berbeda dibahas secara lebih
rinci oleh Van Soest (1988) dan Reed dan Van Soest (1985). Karena
tingginya biaya reagen dan aparatus yang digunakan dalam analisis
deterjen, negara-negara berkembang lamban menerapkan metode ini.
Bagian Nutrisi Ternak ILCA baru-baru ini mengembangkan peralatan
mikro-serat berbiaya rendah yang menggunakan sepersepuluh dari
jumlah reagen yang digunakan dalam eksperimen analisis deterjen
konvensional. Metode ini dijelaskan oleh Reed (1984), dan spesifikasi
aparatus dapat diperoleh dari ILCA, Addis Ababa, Ethiopia.)
Feed sampling for laboratory analysis
The types of feed usually sampled for laboratory analysis are crop
residues and hays, grains and fresh forage or silage.
Crop residues and hays. Most African farmers store crop residues and
hays in stacks, and the nutritive value of the feed tends to be highly
variable both within and between stacks. This increases sampling
requirements and complicates the procedures involved.
Because of the variability in the nutritive value of crop residues and hay
commonly encountered, it is useful to make a visual estimate of the
variation in a selected stack before sampling begins, and to interview the
farmer about the time of harvesting, the methods of stacking used and
the composition of the stack (i.e. whether it contains material from more
than one source or crop).
Sampling may be done with a coring device or by hand. Samples should
always be taken from a cross-section of each chosen stack. When large
stacks are encountered, dismantling may be necessary to ensure that
samples from the less accessible parts are obtained.
When the coring device is used, at least 10 samples should be taken per
stack. The material gathered should be properly mixed, weighed and
stored in a dry place before dispatching it to the laboratory. The
combined dry weight of corings taken per stack should not be less than
2 kg. The samples should be clean and stored in a porous paper or a
piece of cloth to avoid moisture contamination. Relevant information
(date, feed type, sample weight, identification) should be recorded in
duplicate.
When samples are taken by hand, several visits are normally required to
ensure that the nutritive value of the stack is properly assessed. At each
visit, 12-15 grab samples should be taken from the face of the stack and
mixed. They should be taken at every 50-75 an, as the farmer makes
use of the stack. If the farmer finishes one stack and starts another, or
alternates between different stacks, new samples should be taken
following the same procedure.
Although hand-sampling is tedious, changes in feed quality over time
(e.g. resulting from storage or environmental effects) can be monitored
at the same time. With coring, several return trips would be required if
specific information on quality change over time was needed.
Grains. Grain samples are usually taken with a grain probe. Between 5-
7 cores should be taken at random from the storage bin. The samples
should then be mixed and separated into subsamples of about 450 g.
Each sub-sample should be placed in a porous paper or cloth sack and
properly labelled before dispatch or storage.
Wet feeds. These are usually fresh forage or silage.
Fresh forage should be weighed immediately after sampling and put in
a porous paper or cloth sack for dispatch to the laboratory, where it
should be dried at 65C to a constant weight and weighed again (Van
Soest and Robertson, 1985).
If it is not possible to weigh the sample when it is taken, one half should
be placed in a sealed plastic bag to retain moisture and then weighed
after returning from the field. This fresh weight is needed to calculate
dry-matter content after drying. The other half of the sample should be
kept in a porous paper or cloth sack for other analyses than dry-matter
content.
In the event that samples cannot be transported to the laboratory the
same day, they should be dried either by hanging under cover or by
spreading them out on paper in a dry and protected place. Alternatively,
samples can be hung in sacks above the coil of a kerosene refrigerator.
If drying is delayed, samples should be kept in plastic bags out of direct
sunlight to avoid spoilage, or they should be stored frozen.
Silage. Cored samples should be taken from the pit using the procedure
outlined above for stacked hay and crop residues. If sampling is done by
hand, about 20 grab samples should be taken from the freshly cut face
and mixed thoroughly. A subsample of 2 kg is required for analysis. The
procedure should be repeated every third or fourth face cut to account
for within-pit variability.
After weighing, samples should be placed in sealed plastic bags, frozen
or dried at 65C and sent immediately to the laboratory. If oven-drying is
not possible, one of the drying methods given for fresh forage will
suffice.
(Sampel pakan untuk analisis laboratorium
Jenis pakan yang biasanya dijadikan sampel untuk analisis
laboratorium adalah residu tanaman dan hays, biji-bijian dan pakan
segar atau silase.
Tanaman residu dan hays. Sebagian besar petani Afrika
menyimpan sisa tanaman dan hays di tumpukan, dan nilai nutrisi pakan
cenderung sangat bervariasi baik di dalam maupun di antara tumpukan.
Hal ini meningkatkan kebutuhan sampling dan mempersulit prosedur
yang terlibat.
Karena variabilitas nilai nutrisi residu tanaman dan jerami yang
biasa ditemui, berguna untuk membuat estimasi visual variasi pada
tumpukan yang dipilih sebelum pengambilan sampel dimulai, dan untuk
mewawancarai petani tentang waktu pemanenan, metode penumpukan
digunakan dan komposisi tumpukan (yaitu apakah itu berisi bahan dari
lebih dari satu sumber atau tanaman).
Pengambilan sampel bisa dilakukan dengan alat coring atau
dengan tangan. Sampel harus selalu diambil dari penampang setiap
tumpukan yang dipilih. Saat tumpukan besar ditemukan, pembongkaran
mungkin diperlukan untuk memastikan agar sampel dari bagian yang
tidak terjangkau diperoleh.
Saat perangkat coring digunakan, setidaknya 10 sampel harus
diambil per tumpukan. Bahan yang dikumpulkan harus dicampur dengan
benar, ditimbang dan disimpan di tempat yang kering sebelum dikirim ke
laboratorium. Gabungan berat kering dari corings yang diambil per
tumpukan tidak boleh kurang dari 2 kg. Sampel harus bersih dan
disimpan dalam kertas berpori atau sehelai kain untuk menghindari
kontaminasi kelembaban. Informasi yang relevan (tanggal, jenis pakan,
berat sampel, identifikasi) harus dicatat dalam rangkap dua.
Ketika sampel diambil dengan tangan, beberapa kunjungan
biasanya diperlukan untuk memastikan bahwa nilai nutrisi dari tumpukan
dinilai dengan benar. Pada setiap kunjungan, 12-15 sampel ambil harus
diambil dari muka tumpukan dan campuran. Mereka harus diambil
setiap 50-75 an, karena petani memanfaatkan tumpukan itu. Jika petani
menyelesaikan satu tumpukan dan memulai yang lain, atau bergantian
di antara tumpukan yang berbeda, sampel baru harus diambil mengikuti
prosedur yang sama.
Meskipun pengambilan sampel sangat membosankan, perubahan
kualitas pakan dari waktu ke waktu (misalnya akibat penyimpanan atau
dampak lingkungan) dapat dipantau pada saat bersamaan. Dengan
coring, beberapa perjalanan pulang akan diperlukan jika informasi
spesifik mengenai perubahan kualitas dari waktu ke waktu dibutuhkan.
Biji-bijian Sampel biji-bijian biasanya diambil dengan probe butir. Antara
5-7 inti harus diambil secara acak dari tempat penyimpanan. Sampel
kemudian harus dicampur dan dipisahkan menjadi subsampel sekitar
450 g. Setiap sub-sampel harus ditempatkan di kertas berpori atau
kantong kain dan diberi label dengan benar sebelum dikirim atau
disimpan.
Pakan basah Ini biasanya pakan segar atau silase.
Pakan segar harus ditimbang segera setelah pengambilan sampel
dan dimasukkan ke dalam kantong kertas atau kain berpori untuk dikirim
ke laboratorium, di mana harus dikeringkan pada suhu 65 C sampai
berat konstan dan ditimbang lagi (Van Soest dan Robertson, 1985).
Jika tidak memungkinkan menimbang sampel saat diambil, satu
setengah harus ditempatkan di kantong plastik tertutup untuk menahan
kelembaban dan kemudian ditimbang setelah kembali dari lapangan.
Berat segar ini diperlukan untuk menghitung kadar bahan kering setelah
pengeringan. Bagian lain dari sampel harus disimpan dalam kertas
berpori atau kantong kain untuk analisis lainnya daripada konten bahan
kering.
Jika sampel tidak dapat diangkut ke laboratorium pada hari yang
sama, mereka harus dikeringkan dengan menggantung di bawah
penutup atau dengan menyebarkannya di atas kertas di tempat yang
kering dan terlindungi. Sebagai alternatif, sampel dapat digantung di
karung di atas gulungan kulkas kerosin. Jika pengeringan ditunda,
sampel harus disimpan dalam kantong plastik dari sinar matahari
langsung untuk menghindari pembusukan, atau harus disimpan beku.
Silase. Sampel yang sesuai harus diambil dari lubang dengan
menggunakan prosedur yang diuraikan di atas untuk susun jerami dan
residu tanaman. Jika sampling dilakukan dengan tangan, sekitar 20
sampel ambil harus diambil dari wajah yang baru dipotong dan dicampur
secara menyeluruh. Contoh 2 kg diperlukan untuk analisis. Prosedur
harus diulang setiap wajah ketiga atau keempat dipotong untuk
memperhitungkan variabilitas dalam lubang.
Setelah ditimbang, sampel harus ditempatkan di kantong plastik
tertutup, dibekukan atau dikeringkan pada suhu 65 C dan segera
dikirim ke laboratorium. Jika pengeringan oven tidak memungkinkan,
salah satu metode pengeringan yang diberikan untuk pakan segar
sudah cukup.)
References
1. Abel N O J. Flint M E, Hunter N D, Chandler D and Make G.
1987. Cattle-keeping, ecological change and communal
management in Ngwaketse. Vol. 1. Summary; Vol. 2. Main
report. ILCA (International Livestock Centre for Africa), Addis
Ababa, Ethiopia; Integrated Farming Pilot Project, Ministry of
Agriculture, Gaborone, Botswana and Overseas Development
Group, School of Development Studies, University of East Anglia,
Norwich, UK Vol. 1, 45 pp; Vol. 2, 82 pp. + tables, figures,
references.
2. Ademosun A A, Jansen H J and van Houtert V. 1985. Goat
management research at the University of Ife. In: Sumberg J E
and Cassaday K (eds), Sheep and goats in humid West
Africa. Proceedings of the workshop on small ruminant
production systems in the humid zone of West Africa, held in
Ibadan, Nigeria, 23-26 January 1984. ILCA (International
Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia. pp. 34-37.
3. ARC (Agricultural Research Council). 1965. The nutrient
requirements of farm livestock No. 2 Ruminants. Technical
reviews and summaries. Agricultural Research Council, London,
UK 264 pp.
4. ARC (Agricultural Research Council). 1980. The nutrient
requirements of ruminant livestock Commonwealth Agricultural
Bureaux, Farnham Royal, Slough, UK 351 pp.
5. Atta-Krah A. 1986. The ILCA/NLPU on-farm alley farming project:
Considerations on data collection and evaluation. In: Kearl S
(ed), Livestock in mired farming systems: Research
methodologies and priorities. Proceedings of a workshop held at
ILCA, Addis Ababa, Ethiopia, 24-27 June 1985. FSSP Network
Report 2, Farming Systems Support Project (FSSP), University of
Florida and the International Livestock Centre for Africa (ILCA),
Gainesville, Florida, USA. pp. 1-18.
6. Bailey CR. 1982. Cattle husbandry in the communal areas of
eastern Botswana Phd thesis, Cornell University, Ithaca, New
York, USA. 367 pp. [Subsequently published by University
Microfilms International, Michigan State University, Ann Arbor,
Michigan, USA]
7. Bayer W. 1986. Utilization of fodder banks. In: von Kaufmann R.
Chater S and Blench R (eds), Livestock systems research in
Nigeria's subhumid zone. Proceedings of the second
ILCA/NAPRI symposium held in Kaduna, Nigeria, 29 October - 2
November 1984. ILCA (International Livestock Centre for Africa),
Addis Ababa, Ethiopia. pp. 351-364.
8. Bayer W and Otchere E O. 1985. Effect of livestock-crop
integration on grazing time of cattle in a subhumid African
savanna. In: Tothill J C and Mott J J (eds) Ecology and
management of the world's savannas. Australian Academy of
Science, Canberra, Australia. pp. 256-259.
9. Behnke R. Jr. 1984. Measuring the benefits of subsistence
versus commercial livestock production in Africa. In: Flora CB
(ed), Animals in the farming system.Proceedings of Kansas State
University's 1983 Farming Systems Research Symposium,
Manhattan, Kansas, 31 October - 2 November 1983. Farming
Systems Research Paper Series 6. Kansas State University,
Manhattan, Kansas, USA. pp. 564-592.
10. Butterworth M H. 1985. Beef cattle nutrition and tropical
pastures. Longman Inc., New York, USA. 500 pp.
11. Chacon E A, Stobbs T H and Dale M B. 1978. Influence of sward
characteristics on grazing behaviour and growth of Hereford
steers grazing tropical grass pastures.Australian Journal of
Agricultural Research 29(1):89-102.
12. Church D C and Pond W G. 1982. Basic animal nutrition and
feeding. Second edition. John Wiley and Sons Inc., New York,
USA. 403 pp.
13. Committee on mineral nutrition. 1973. Tracing and treating
mineral disorders in dairy cattle. Centre for Agricultural
Publishing and Documentation, Wageningen, The Netherlands.
61 pp.
14. Cullison A E. 1982. Feeds and feeding Third edition. Reston
Publishing Co. Inc., Virginia, USA. 628 pp.
15. Dahl G and Sandford S. 1978. Which way to go? A study of
people and pastoralists in the Isiolo District in Kenya Canadian
International Development Agency, Ottawa, Canada and ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
236 pp.
16. Danckwerts J P. 1975. Livestock and land use in the T.T.Ls of
Rhodesia. 13 pp. [ILCA library microfiche number 56072]
17. Davies H L 1982. A course manual in nutrition and
growth Australian Universities International Development
Program, Melbourne, Australia. 188 pp.
18. Dicko-Tour M. 1980. Measuring the secondary production of
pasture: An applied example in the study of an extensive
production system in Mali. In: Le Houerou H N(ed), Browse in
Africa: The current state of knowledge. Papers presented at the
International Symposium on Browse in Africa, Addis Ababa, 8-12
April 1980. ILCA (International Livestock Centre for Africa), Addis
Ababa, Ethiopia. pp. 247-254.
19. FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations).
1986. FAO production yearbook. Vol. 39, FAO Statistics Series
70. FAO, Rome, Italy. 330 pp.
20. Gammon M and Roberts B D R. 1980. Grazing behaviour of
cattle during continuous and rotational grazing of the Matopos
sandveld of Zimbabwe. Zimbabwe Journal of Agricultural
Research 18(1):13-27.
21. Gartner R J W. McLean R W. Little D A and Winks L. 1980.
Minerals limiting production of ruminants grazing tropical
pastures. Tropical Grasslands 14:266-272.
22. Graham N M. 1972. Units of metabolic body size for comparisons
amongst adult sheep and cattle. In: Proceedings of the Australian
Society of Animal Production, Ninth Biennial Conference held in
Canberra, Australia, Feb. 1972. Ramsay, Ware Publishing Pty
Ltd. Australia. Vol. 9, pp. 352-355.
23. Grove T. L (ed). 1979. Nitrogen fertility in Oxisols and Ultisols of
the humid tropics. Cornell International Agriculture Bulletin 36.
Cornell University, Ithaca, New York, USA. 28 pp.
24. Kassam A and Andrews D. 1975. Effects of sowing date on
growth, development and yield of photosensitive sorghum at
Samaru, northern Nigeria Experimental Agriculture 11(2):227-
240.
25. King J M. 1983. Livestock water needs in pastoral Africa in
relation to climate and forage. ILCA Research Report 7. ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
95 pp.
26. Lambourne L J. Dicko M S. Semenye P and Butterworth M.
1983. Animal nutrition. In. Pastoral systems research in sub-
Saharan Africa. Proceedings of the IDRC/ILCA workshop held at
ILCA, Addis Ababa, Ethiopia, 21-24 March 1983. ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
pp. 183-208.
27. Ledger H P and Sayers A R. 1977. The utilization of dietary
energy by steers during periods of restricted food intake and
subsequent re-alimentation. 1. The effect of time on the
maintenance requirements of steers held at constant five
weights. Journal of Agricultural Science 88(1):11-26.
28. de Leeuw P and Chara P. 1985. Species preferences in browse
of sheep and goats in mixed Maasai flocks in eastern Kajiado,
Kenya Paper presented to the fourth CRSP (Collaborative
Resource Support Programme) workshop on small ruminants,
Kebete, Kenya, 5- 6 March 1984.
29. Little D A. 1972. Studies on cattle with oesophageal fistulae: The
relation of the chemical composition of feed to that of the
extruded bolus. Australian Journal of Experimental Agriculture
and Animal Husbandry 12: 126-130.
30. Little D A. 1975. Studies on cattle with oesophageal fistulae:
Comparison of concentrations of mineral nutrients in feeds and
associated boluses. Australian Journal of Experimental
Agriculture and Animal Husbandry 15:437-439.
31. Little D A. 1984. Definition of an objective criterion of body
phosphorus reserves and its evaluation in vivo. Canadian Journal
of Animal Science (Supplement) 64:229-231.
32. Little D A. 1985. The dietary mineral requirements of ruminants:
Implications for the utilization of tropical fibrous agricultural
residues. In: Doyle P T (ed), The utilization of fibrous agricultural
residues as animal feeds. Proceedings of the Fourth Annual
Workshop of the Australian-Asian Fibrous Agricultural Residues
Research Network held in Khon Kaen, Thailand, 10-14 April
1984. International Development Program of Australian
Universities and Colleges Limited, Canberra, Australia. pp. 37-
43.
33. Little D A. 1987. The influence of sodium supplementation on the
voluntary intake and digestibility of low-sodium Setaria
sphacelata cv Nandi by cattle. Journal of Agricultural
Science (Cambridge) 108(1):231-236.
34. Little D A, McLean R W and Winter W H. 1977. Prediction of the
phosphorus content of herbage consumed by grazing
cattle. Journal of Agricultural Science (Cambridge) 88:533-538.
35. Little D A, Robinson P J. Playne M J and Haydock K P. 1971.
Factors affecting blood inorganic phosphorus determinations in
cattle. Australian Veterinary Journal 47:153-156.
36. McDonald P. Edwards R A and Greenhalgh J F D. 1973. Animal
nutrition. Second edition. Longman Group Ltd. London, UK 479
pp.
37. McDowell L R. Conrad J H and Ellis G L. 1986. Mineral research
techniques for ruminants. In: Kearl S (ed), Livestock in mixed
farming systems: Research methodologies and
priorities. Proceedings of a workshop held at ILCA, Addis Ababa,
Ethiopia, 24-27 June 1985. FSSP Network Report 2. Farming
Systems Support Project (FSSP), University of Florida and
International Livestock Centre for Africa (ILCA), Gainesville,
Florida, USA. pp. 163-194.
38. McLean R W. Winter W H. Mott J J and Little D A. 1981. The
influence of superphosphate on the legume content of the diet
selected by cattle grazing stylosanthes-native grass
pastures. Journal of Agricultural Science (Cambridge) 96:247-
249.
39. Mohamed-Saleem M A. 1986. The establishment and
management of fodder banks. In: von Kaufmann R. Chater S and
Blench R (eds), Livestock systems research in Nigeria's
subhumid zone. Proceedings of the second ILCA/NAPRI
symposium held in Kaduna, Nigeria 29 October - 2 November
1984. ILCA (International Livestock Centre for Africa), Addis
Ababa, Ethiopia. pp. 326-350.
40. Mtimuni J P. 1982. Identification of mineral deficiencies in soil,
plant and animal tissues as constraints to cattle production in
Malawi PhD thesis, University of Florida, Gainesville, Florida,
USA. 190 pp.
41. Nicholson M J and Butterworth M H. 1986. A guide to condition
scoring of Zebu cattle. ILCA (International Livestock Centre for
Africa), Addis Ababa, Ethiopia. 29 pp.
42. Nicholson M J and Sayers A R. 1987. Relationships between
body weight, condition score and heart girth changes in Boran
cattle. Tropical Animal Health and Production19(2):115-120.
43. van Niekerk B D H. 1978. Limiting nutrients: Their identification
and supplementation in grazing ruminants. In: Conrad J H and
McDowell L R (eds), Latin American symposium on mineral
nutrition research with grazing ruminants. Proceedings of the
conference held at Belo Horizonte, Brazil, 22-26 March 1976.
University of Florida, Gainesville, Florida, USA. pp. 194-200.
44. NRC (National Research Council). 1976. Nutrient requirements
of beef cattle. No. 4. Fifth revised edition. National Academy of
Sciences, Washington, DC, USA. 56 pp.
45. Nyerges A E. 1979. The ecology of domesticated animals under
traditional management in Iran: Preliminary results from the
Turan Biosphere Reserve. ODI Pastoral Network Paper 9d.
Overseas Development Institute, London, UK pp. 1-44.
46. Powell J M. 1985. Yields of sorghum and millet and stover
consumption by livestock in the subhumid zone of
Nigeria. Tropical Agriculture (Trinidad) 62(1):77-81.
47. Powell J M and Waters-Bayer A. 1985. Interactions between
livestock husbandry and cropping in a West African savanna. In:
Tothill J C and Mott J J (eds) Ecology and management of the
world's savannas. Australian Academy of Science, Canberra,
Australia. pp. 252-255.
48. Pullan N. 1978. Condition scoring of White Fulani cattle. Tropical
Animal Health and Production 10(2): 118-120.
49. van Raay J G T and de Leeuw P N. 1971. The importance of
crop residues as fodder: A resource analysis in Katsina Province,
Nigeria. Reprint. Samaru Research Bulletin 139. Institute for
Agricultural Research, Samaru, Ahmadu Bello University, Zaria,
Nigeria. pp. 137-144.
50. Reed J D. 1984. Inexpensive detergent fibre analysis using a
micro system. ARNAB Newsletter 4(4):7-11. ILCA (International
Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
51. Reed J D and Goe M R. 1989. Estimating the nutritive value of
cereal crop residues: Implications for developing feeding
standards for draught animals. ILCA Bulletin34:2-9. ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
52. Reed J D and Soller H. 1987. Phenolics and nitrogen utilisation in
sheep fed browse. In: Rose M (ed), Herbivore nutrition
research Proceedings of the Second International Symposium on
the Nutrition of Herbivores, University of Queensland, 6-10 July
1987. An occasional publication. Australian Society of Animal
Production, Australia. 236 pp.
53. Reed J D and Van Soest P J. 1985. Estimating the nutritive value
of crop residues and agro-industrial by-products by chemical
methods. In: Preston T R. Kossila V U. Goodwin J and Reed S B
(eds), Better utilisation of crop residues and by-products in
animal feeding: Research guidelines. 1. State of knowledge. FAO
Animal Production and Health Paper 50. FAO (Food and
Agriculture Organization of the United Nations), Rome, Italy. pp.
117-128.
54. Sandford S. 1983. Organisation and management of water
supplies in tropical Africa ILCA Research Report 8. ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
45 pp.
55. Schneider B H and Flatt W P. 1975. The evaluation of feeds
through digestibility experiments. University of Georgia Press,
Athens, Georgia, USA. 423 pp.
56. Semenye P P. 1987. Factors influencing Maasai cattle
productivity and nutrition in Kajiado District, Kenya. PhD thesis,
University of Nairobi, Kenya.
57. Semenye P P. 1988a. Grazing behaviour of Maasai cattle. In:
Dzowela B H (ed), African forage plant genetic resources,
evaluation of forage germplasm and extensive livestock
production systems. Proceedings of the third workshop held at
the International Conference Centre, Arusha, Tanzania, 27-30
April 1987. ILCA (International Livestock Centre for Africa), Addis
Ababa, Ethiopia. 325-330.
58. Semenye P P. 1988b. Nutritional values of the diets of Maasai
cattle. In: Dzowela B H (ed), African forage plant genetic
resources, evaluation of forage germplasm and extensive
livestock production systems. Proceedings of the third workshop
held at the International Conference Centre, Arusha, Tanzania,
27-30 April 1987. ILCA (International Livestock Centre for Africa),
Addis Ababa, Ethiopia. pp. 373-382.
59. Smith C A. 1961. Studies on the Northern Rhodesia Hyparrhenia
veldt Part II. Seasonal milk production using natural veldt Journal
of Agricultural Science 56(1):11-15.
60. Stewart D R M. 1967. Analysis of plant epidermis in faeces: A
technique for studying the food preferences of grazing
herbivores. Journal of Applied Ecology 4:83-111.
61. Stobbs T H. 1973. The effect of plant structure on the intake of
tropical pastures. Australian Journal of Agricultural
Research 24:809-819.
62. Tartour G. 1975. Copper status in livestock, pasture and soil in
western Sudan. Tropical Animal Health and Production 7(2):87-
94.
63. Taylor-Powell E and Ingawa S A. 1986. Beneficiary reactions to
the fodder bank trials. In: von Kaufmann R. Chater S and Blench
R (eds), Livestock systems research in Nigeria's subhumid
zone. Proceedings of the second ILCA/NAPRI symposium held in
Kaduna, Nigeria, 29 October - 2 November 1984. ILCA
(International Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
pp. 365-381.
64. Tilley J M A and Terry R A. 1963. A two-stage technique for the
in vitro digestion of forage crops Journal of the British Grassland
Society 18:104-111.
65. t'Mannetje L (ed), 1978. Measurement of grassland vegetation
and animal production. Bulletin 52, Commonwealth Bureau of
Pastures and Field Crops, Hurley, Berkshire, England.
Commonwealth Agricultural Bureaux, Farnham Royal,
Buckinghamshire, England. 260 pp.
66. Van Soest P J. 1982 Nutritional ecology of the ruminant. O and B
Books Inc., Oregon, USA. 374 pp.
67. Van Soest P J. 1988. Effect of environment and quality of fibre on
the nutritive value of crop residues. In: Reed J D, Capper B S
and Neate P J H (eds), Plant breeding and the nutritive value of
crop residues. Proceedings of a workshop held at ILCA, Addis
Ababa, Ethiopia, 7-10 December 1987. ILCA (International
Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia. pp. 71-96.
68. Van Soest P J and Robertson J B. 1985. Analysis of forages and
fibrous foods: A laboratory manual for animal science, 613.
Cornell University, Ithaca, New, York, USA. 202 pp.
69. Wagenaar K T. Diallo A and Sayers A R. 1986. Productivity of
transhumant Fulani cattle in the inner Niger delta of Mali ILCA
Research Report 13. ILCA (International Livestock Centre for
Africa), Addis Ababa, Ethiopia. 57 pp.
70. Wilson R T and Sayers A R. 1987. Livestock production in central
Mali: Effects of climatic variables on the period of birth and on
litter size in traditionally managed goats and sheep. Agricultural
and Forest Meteorology 40(1):31-36.
71. Woodward A and Reed J D. 1989. The influence of polyphenolics
on the nutritive value of browse: A summary of research
conducted at ILCA. ILCA Bulletin 35:2-11. ILCA (International
Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia.
72. Zemmelink G. Tolkamp B J and Meinderts J H. 1985. Feed
intake and weight gain of West African Dwarf goats. In: Sumberg
J E and Cassaday K (eds), Sheep and goats in humid West
Africa. Proceedings of the workshop on small ruminant
production systems in the humid zone of West Africa, held in
Ibadan, Nigeria, 23-26 January 1984. ILCA (International
Livestock Centre for Africa), Addis Ababa, Ethiopia. pp. 29-33.

Anda mungkin juga menyukai