Anda di halaman 1dari 90

PERPINDAHAN MASSA ANTAR FASE

Perpindahan massa adalah perpindahan massa dari satu lokasi, biasanya


berupa aliran, fasa, fraksi, atau komponen, ke lokasi lainnya. Perpindahan massa
muncul pada banyak proses, seperti absorpsi, evaporasi, adsorpsi, pengeringan,
presipitasi, filtrasi membran, dan distilasi.
Pembahasan pada bab sebelumnya hanya mengenai difusi pada zat dalam
fase tunggal. Proses perpindahan massa pada umumnya mengenai dua fase yang
tidak saling larut dikontakkan agar terjadi perpindahan massa. Oleh karena itu,
pada bab ini akan dibahan mengenai aplikasi dari mekanisme diffusional untuk
setiap fase pada system gabungan. Seperti yang kita ketahui bahwa laju difusi
pada setiap fase tidak bergantung pada gradient konsentrasi. Pada waktu yang
sama gradient konsentrasi pada system dua fase mengindikasikan tercapainya
kesetimbangan antar fase.

Perpindahan massa antar fase dapat terjadi pada :


1. Fase cair cair : proses ekstraksi
2. Fase cair gas : proses absorbsi >< desorbsi
3. Fase cair padat : proses leaching
4. Fase gas gas : proses difusi gas
5. Fase gas padat : proses sublimasi

Macam-macam jenis tranfer massa:


a. Difusi molekuler
b. Difusi antar fase satu film (difusi dalam aliran turbulen).
c. Difusi antar fase dua film

1
DIFUSI MOLEKULER
Difusi molekuler merupakan transfer mssa yang disebabkan
gerakan molekuler secara acak dalam luida diam, atau dalam fluida yang
mengalir secara laminer. Transfer molekuler juga disebut transfer molekul
dalam satu fase. Gerak molekul ini disebabkan karena adanya gradien atau
perbedaan konsentrasi. Difusi molekuler dapat terjadi di fluida ( gas atau
cairan) dan di dalam padatan. Difsi molekuler di dalam padatan lebih
lambat daripada di dalam fluida, hal ni karena tidak ada gerak padatan
dalam padatan.
Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya
suatuzatdalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan
disebut gradien konsentrasi. Difusi merupakan salahsatu peristiwa
perpindahan massa yang prosesnya sering juga dilakukan dalam industri-
industri. Proses difusi minimal melibatkan dua zat, salah satu zat
berkonsentrasi lebih tinggi daripada zat lainnya atau dapat dikatakan
dalam kondisi belum setimbang, Keadaan ini dapat menjadi driving force
dari proses difusi.
Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas
secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan
molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.
Contoh yang sederhana adalah uap air dari cerek yang berdifusi
dalam udara. Contoh lain adalah pemberian gula pada cairan teh tawar.
Lambat laun cairan menjadi manis.
Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini
terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekulyang
diam dari solid atau fluida.
Proses difusi terjadi karena adanya perpindahan massa suatu zat
dimana massa dapat berpindah dari kondisi dengan konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah.
Perpindahan massa dapat terjadi dalam fasa gas maupun cair.

2
Peristiwa difusi berakhir jika telah mencapai keadaan setimbang antara
dua keadaan (pada keadaan sebelumnya terdapat perbedaan konsentrasi
sehingga keadaan belum setimbang). Proses difusi dapat terus-menerus
berlangsung jika perbedaan konsentrasi antara dua kondisi dipertahankan.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengalirkan fluida yang merupakan
tempat akan berdifusinya suatu molekul secara terus menerus. Proses
difusi akan berhenti jika kondisi dari dua fluida sudah sama atau
setimbang.
Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga
mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion), difusi melalui
saluran yang terbentuk oleh protein trans membran (simple difusion by
chanel formed ), dan difusi difasilitasi ( fasiliated difusion). Difusi melalui
membran berlangsung karena molekul-molekul yang berpindah atau
bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga
dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran
sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid,
vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak,
Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul
anorganik seperti O, CO2, OH, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus
yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran
melalui saluran ini terbentuk dari protein trans membran, semacam pori
dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter
lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu,
molekul molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan
beberapa garam garam mineral, tidak dapat menembus membran secara
langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk
dapat menembus membran. Proses masuknya molekul besar yang
melibatkan transporter dinamakan difusi difasilitasi, yaitu pelaluan zat
melalui rnembran plasma yang melibatkan protein pembawa atau protein
transporter. Protein transporter tergolong protein transmembran yang
memilik tempat perlekatan terhadap ion atau molekul yang akan ditransfer

3
ke dalam sel.
Setiap molekul atau ion memiliki protein transporter yang khusus,
misalnya untuk pelaluan suatu molekul glukosa diperlukan protein
transporter yang khusus untuk mentransfer glukosa kedalam sel. Protein
transporter untuk glukosa banyak ditemukan pada sel-sel rangka,otot
jantung, sel-sel lemak dan sel-sel hati, karena sel sel tersebut selalu
membutuhkan glukosa untuk diubah menjadi energi. Walaupun penyebab
difusi umumnya karena gradient konsentrasi, tetapi difusi dapat juga
terjadi karena gradien tekanan, karena gradien suhu, atau karena medan
gaya yang diterapkan dari luar seperti pada pemisah sentrifugal.
Difusimolekuler yang terjadi karena gradien tekanan (bukan tekanan
parsial) disebut difusi tekanan pressure diffusion), yang disebabkan karena
gradien suhu disebut difusi termal (thermaldiffusion), sedangkan yang
disebabkan oleh medan gaya dari luar disebut difusi paksa (
forceddiffusion).

4
FENOMENA PERPINDAHAN
Dalam fisika, kimia, dan teknik, fenomena perpindahan adalah salah satu
dari berbagai mekanisme di mana partikel atau kuantitas fisik berpindah dari satu
tempat ke tempat lain. Tiga contoh umum fenomena perpindahan adalah difusi,
konveksi, dan radiasi. Tiga jenis utama fenomena perpindahan adalah
perpindahan panas, perpindahan massa, dan perpindahan momentum (dinamika
fluida).
Satu prinsip penting dalam fenomena perpindahan adalah adanya analogi
antar tiap fenomena. Sebagai contoh, massa, energi, dan momentum semua dapat
mengalami perpindahan secara difusi:
Penyebaran atau disipasi bau di udara merupakan contoh difusi massa
Konduksi panas pada bahan padat adalah contoh difusi panas
Seretan (drag) yang dialami butiran hujan sewaktu jatuh dalam atmosfer
adalah contoh dari difusi momentum (butiran hujan kehilangan
momentumnya ke udara sekitar melalui tegangan kental, viscous stress,
dan berkurang kecepatannya)

Perpindahan massa, energi, dan momentum juga dipengaruhi faktor-faktor luar:


Disipasi atau pelesapan bau menjadi lebih lambat jika sumber bau tetap
ada
Laju pendinginan suatu zat padat yang menghantarkan panas tergantung
pada apakah sumber panas ada.
gaya gravitasi yang bekerja terhadap butiran hujan melawan seretan yang
disebabkan udara sekitar.

Proses-proses transfer di bidang Teknik Kimia meliputi :


A. FISIS
1. Transfer momentum
Dijumpai di kasus aliran fluida, pencampuran, sedimentasi dan filtrasi.
2. Transfer panas
Dijumpai pada alat-alat pertukaran panas, distilasi, dan pengeringan.

5
3. Transfer massa
Dijumpai pada alat-alat distilasi, pengeringan, ekstraksi, absorbsi,
adsorpsi, stripping dan membran.

B. KIMIA
Peristiwa perpindahan massa (transfer massa) atau difusi banyak dijumpai
di dalam kehidupan sehari-hari, di dalam ilmu pengetahuan dan di industri.

Contoh peristiwa transfer massa dalam kehidupan sehari-hari adalah:


larutnya kristal gula dalam air, artinya komponen gula mendifusi ke fase
air, larutnya kopi ke dalam air.
terserapnya zat beracun ke dalam arang,
larutnya oksigen ke dalam darah,
Pada proses fermentasi, nutrisi dan oksigen yang terlarut dalam larutan
mendifusi ke mikroorganisme,
Pengambilan uranium dari batuan, dengan cara ekstraksi menggunakan
pelarut organik, misal heksan.
Penghilangan logam berbahaya dari limbah cair menggunakan adsorben.

Di industri kimia maupun dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai


operasi pemisahan suatu bahan atau lebih dari campurannya menggunakan dasar
transfer massa antar fase (difusi antar fase), misalnya :
1) Transfer solut dari fase gas ke fase cair, dijumpai pada absorpsi,
dehumidifikasi, distilasi.
2) Transfer solut dari fase cair ke fase gas, dijumpai pada desorpsi,
humidifikasi.
3) Transfer solut dari cairan satu ke cairan lain yang tidak saling larut,
dijumpai pada ekstraksi cair-cair.
4) Transfer solut dari padatan ke fase cair, dijumpai pada drying dan
leaching.

6
5) Transfer solut dari cairan ke permukaan padatan, dijumpai pada adsorpsi
dan ion exchange.

Absorber dan stripper adalah alat yang digunakan untuk memisahkan satu
komponen atau lebih dari campurannya menggunakan prinsip perbedaan
kelarutan. Solut adalah komponen yang dipisahkan dari campurannya sedangkan
pelarut (solvent ; sebagai separating agent) adalah cairan atau gas yang
melarutkan solute. Karena perbedaan kelarutan inilah, transfer massa solut dari
fase satu ke fase yang lain dapat terjadi.
Absorbsi adalah operasi pemisahan solut dari fase gas ke fase cair, yaitu
dengan mengontakkan gas yang berisi solut dengan pelarut cair (solven /
absorben) yang tidak menguap.
Stripping adalah operasi pemisahan solute dari fase cair ke fase gas, yaitu
dengan mengontakkan cairan yang berisi solute dengan pelarut gas ( stripping
agent) yang tidak larut ke dalam cairan.
Berdasarkan cara kontak antar fase, alat transfer massa difusional dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu :
1) proses keseimbangan dimana operasi dengan keseimbangan antar fase, yaitu
alat dengan kontak bertingkat (stage wise contact / discreet), misalnya menara
menggunakan plat atau tray.
2) proses dikontrol kecepatan transfer massa, yaitu alat dengan kontak kontinyu (
continuous contact), misalnya menara sembur, gelembung atau menggunakan
bahan isian (packing).

7
Difusi adalah perpindahan molekul dari konsentrasi tinggi ke rendah. Ini
berarti perpindahan komponen/molekulnya terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi (Singh and Heldman, 2001).
Proses difusi itu terbagi ke dalam 3 jenis yaitu :

1. Difusi cair
Dikatakan difusi cair jika terjadi perpindahan molekul cairan dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu ketika kita
merendam kedelai dalam air saat pembuatan tempe. Selama perendaman
akan terjadi difusi air dari lingkungan luar (yang kadar airnya tinggi) ke
dalam kedelai (yang kadar airnya rendah).

2. Difusi padat
Dikatakan difusi padat jika terjadi perpindahan molekul padatan dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu ketika kita
melakukan perendaman buah dengan larutan gula dalam pembuatan
manisan buah. Selama perendaman selain terjadi difusi air dari lingkungan
luar ke dalam buah juga terjadi difusi molekul gula (molekul padatan) ke
dalam buah dan ini berarti difusi padatan juga terjadi dalam pembuatan
manisan buah ini. Selama ini batasan antara kapan terjadinya difusi air
dengan difusi padatan masih belum jelas karena prosesnya sering terjadi
bersamaan dan susah untuk dibedakan.

Difusi gas
Dikatakan difusi gas jika terjadi perpindahan molekul gas dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu difusi O
pada pengemas plastik. Ketika kita menggunakan pengemas plastik
untuk membungkus suatu bahan, maka selama penyimpana n akan
terjadi difusi oksigen dan uap air dari lingkungan luar ke dalam
plastik pengemas. Jumlah oksigen dan uap air yang dapat masuk ke
dalam plastik pengemas bervariasi tergantung permeabilitas dari
plastik pengemas tersebut. Semakin banyak jumlah oksige n dan uap
air yang dapat masuk ke dalam plastik pengemas berarti kualitas

8
plastik pengemasnya semakin buruk. Disini, difusi oksigen
merupakan difusi gas dan difusi uap air merupakan difusi cair.

Tiga prinsip mekanisme perpindahan massa :


1. Molecular diffusion ( Difusi molekuler )
2. Interphase mass transfer (one-film theory)
3. Interphase mass transfer (two-film theory)

1. Molecular Diffusion ( Difusi Molekuler )


Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam
pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi
rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien
konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas
secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan
molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.
Definisi difusi adalah penyebaran molekul zat dan gas / cairan yang
konsentrasinya tinggi (hipertonis) ke gas / cairan yang konsentrasinya lebih
rendah (hipotonis). Dengan kata lain setiapzat akan berdifusi menuruni
gradien konsentrasinya. Hasil dari difusi adalah konsentrasiyang sama antara
larutan tersebut dinamakan isotonis.
Proses difusi terjadi karena adanya perpindahan massa suatu zat dimana
massa dapat berpindah dari kondisi dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah. Perpindahan massa dapat terjadi dalam fasa gas maupun cair.
Peristiwa difusi berakhir jika telah mencapai keadaan setimbang antara dua
keadaan (pada keadaan sebelumnya terdapat perbedaan konsentrasi sehingga
keadaan belum setimbang). Proses difusi dapat terus-menerus berlangsung
jika perbedaan konsentrasi antara dua kondisi dipertahankan. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengalirkan fluida yang merupakan tempat akan
berdifusinya suatu molekul secara terus menerus. Proses difusi akan berhenti
jika kondisi dari dua fluida sudah sama atau setimbang.
Pada absorbsi gas, zat- terlarut terdifusi melalui fase gas ke antarmuka
antara kedua fase dan melalui zat cair dari antarmuka itu. Pada proses

9
destilasi, komponen yang bertitik didih rendah terdifusi melalui fase zat cair
ke antarmuka dan dari antarmuka ke fase uap. Komponen yang bertitik didih
tinggi terdifusi pada arah yang berlawanan dan berpindah melalui uap ke zat
cair. Pada proses ekstraksi zat cair , zat terlarut terdifusi melalui fase rafinat
ke antarmuka ,lalu ke fase ekstrak. Pada proses kristalisasi, zat- terlarut
terdifusi melalui cairan induk ke kristal dan mengendap pada permukaan zat
padat. Pada proses humidifikasi ( kelembaban ) tidak ada difusi fase zat cair
karena zat cairnya murni dan tidak mungkin ada gradien konsentrasi di dalam
zat cair itu, tetapi uapnya terdifusi ke antarmuka zat cair- gas.
Ada beberapa macam kecepatan ( velocity )yang diperlukan untuk
memberikan gerakan masing- masing bahan dan fase kesluruhan . Oleh
karena gerakan absolut tidak mempunyai makna , setiap kecepatan itu harus
didasarkan pada suatu keadaan diam sembarang . Molekul- molekul setiap
komponen dalam suatu campuran berada dalam keadaan rambang, jika
seluruh kecepatan sesaat komponen itu di jumlahkan dan diuraikan menjadi
kecepatan yang tegak lurus terhadap antarmuka , dan dibagi dengan
banyaknya molekul zat itu , maka akan di dapat kecepatan makroskopik
komponen itu.
Masalah perpindahan massa dapat diselesaikan dengan dua cara yang
berbeda, pertama dengan menggunakan konsep tahap kesetimbangan
(equilibrium stage) atau kedua atas dasar proses laju diffusi (diffusional rate
process). Cara mana yang dipilih, bergantung pada jenis peralatan yang
digunakan untuk melaksanakan operasi tersebut. Semua perhitungan
perpindahan massa akan memerlukan pengetahuan tentang hubungan
kesetimbangan fase.
Batas perpindahan fase tercapai apabila kedua fase itu mencapai
kesetimbangan dan perpindahan netto berhenti. Untuk proses praktis, yang
harus mempunyai laju produksi, maka proses kesetimbangan harus dihindari,
karena laju perpindahan massa pada setiap keseimbangan. Ada beberapa
macam kesetimbangan yang penting dalam perpindahan massa. Dalam fase

10
lindak (bulk), pengaruh luas permukaaan dapat diabaikan dan variabel yang
menentukan adalah sifat-sifat intensif seperti suhu, tekanan dan konsentrasi.
Walaupun penyebab difusi umumnya karena gradien konsentrasi,tetapi
difusidapat
juga terjadi karena gradien tekanan, karena gradien suhu, atau karena medan
gaya yang diterapkan dari luar seperti pada pemisah sentrifugal. Difusi
molekuler yang terjadi karena gradien tekanan (bukan tekanan parsial)
disebut difusi tekanan ( pressure diffusion), yangdisebabkan karena gradien
suhu disebut difusi termal (thermal diffusion), sedangkan yang disebabkan
oleh medan gaya dari luar disebut difusi paksa ( forced diffusion).

Difusi Molekular pada Cairan


Laju difusi molekular untuk cairan lebih kecil apabila dibandingkan
terhadap laju difusi molekul gas. Hal ini disebabkan jarak antara molekul
dalam fasa cair lebih rapat apabila dibandingkan dalam fasa gas. Umumnya
koefisien difusi untuk gas lebih besar hingga105 kali koefisien difusi cairan.
Namun fluks pada gas tidak berbeda jauh dari fluks dalam cair yaitu 100 kali
lebih cepat, hal itu disebabkan karena konsentrasi cair lebih besar daripada
konsentrasi dalam fasa gas.
Persamaan difusi untuk cairan Jarak molekul dalam cairan lebih rapat
daripada dalam fasa gas, maka densitas danhambatan difusi pada cairan akan
lebih besar. Hal ini juga menyebabkan gaya interaksi antarmolekul sangat
penting dalam difusi cairan. Perbedaan antara difusi cairan dan difusi
gasadalah bahwa pada difusi cairan difusifitas sering bergantung pada
konsentrasi daripadakomponen yang berdifusi.Equimolar counterdiffusion,
dimulai dengan persamaan umum fick kita dapat mensubstitusiuntuk NA =
NB pada keadaan steady state.

Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu:

11
1 .Difusi sederhana (simple difusion),
2. Difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein trans membran
3. Difusi difasilitasi ( fasiliated difusion).

Difusi melalui membran berlangsung karena molekul-molekul yang


berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid )
sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung.
Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid,
vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak,
Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik
seperti O, CO, OH, dan HO. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut
serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui Saluran ini
terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu
yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori
tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul molekul berukuran besar
seperti asam amino, glukosa,dan beberapa garam garam mineral, tidak
dapat menembus membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein
pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran. Proses
masuknya molekul besar yang melibatkan transporter dinamakan difusi
difasilitasi, yaitu pelaluan zat melalui rnembran plasma yang melibatkan
protein pembawa atau protein transporter. Protein transporter tergolong
protein transmembran yang memiliki tempat perlekatan terhadap ion atau
molekul yang akan ditransfer ke dalam sel. Setiap molekul atau ion memiliki
protein transporter yang khusus, misalnya untuk pelaluan suatu molekul
glukosa diperlukan protein transporter yang khusus untuk mentransfer
glukosa kedalam sel. Protein transporter untuk glukosa banyak ditemukan
pada sel-sel rangka, otot jantung, sel-sel lemak dan sel-sel hati, karena sel
sel tersebut selalu membutuhkan glukosa untuk diubah menjadi energi.

Syarat suatu partikel atau molekul dapat melewati membrane sel dengan cara
difusi adalah:

12
1. Partikel atau molekul tersebut merupakan partikel atau molekul
sederhana
2. Berukuran kecil
3. Dapat larut dalam air ataupun lemak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi :


1. Perbedaan Konsentrasi
Makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin besar
proses difusi yang terjadi.
2. Jarak Tempat Berlangsungnya Difusi
Makin dekat jarak tempat terjadinya difusi, makin cepat proses difusi
yang berlangsung.
3. Area Tempat Berlangsungnya Difusi
Makin luas area difusi makin cepat proses difusi
4. StrukturTempat Berlangsungnya Difusi
Adanya pori-pori pada membran (sekat) meningkatkan proses difusi.
Makin banyak jumlah pori dan makin besar ukuran pori, makin
meningkatkan proses difusi..
5. Ukuran dan Tipe Molekul Yang Berdifusi
Molekul-molekul berukuran kecil (misalnya, oksigen), berdifusi lebih
cepat daripada molekul-molekul berukuran besar (misalnya, karbon
dioksida)
Molekul-molekul yang larut dalam bahan-bahan penyusn membran,
berdifusi lebih cepat. Misalnya, molekul-molekul yag larut dalam
berdifusi lebih cepat daripada molekul-molekul yang tidak larut dalam
air.
6. Suhu, makin tinggi difusi makin cepat
7. BM makin besar difusi makin lambat
8. Kelarutan dalam medium, makin besar difusi makin cepat

13
Gambar Contoh Difusi

KESETIMBANGAN

14
Langkah yang tepat untuk membahas kesetimbangan adalah mengetahui
karakteristik kesetimbangan disetiap proses dan untuk menyetarakan
nya dengan yang lain. Contohnya, pada proses absorpsi gas yang
melibatkan ammonia yang terlarut dari campuran ammonia-udara
dengan air. Misalnya air yang jumlahnya tetap ditempatkan pada wadah
tertutup bersamaan dengan campuran gas ammonia dan udara, system
keseluruhan dijalankan pada tekanan dan temperature konstan. Karena
ammonia adalah zat yang sangat larut dalam air, molekul ammonia
akan berpindah secara langsung dari gas ke liquid, menembus
permukaan antar fase yang memisahkan kedua fase. Sejumlah molekul
ammonia keluar kembali menjadi molekul gas, pada laju proporsional
ke dalam konsentrasi nya pada liquid. Semakin banyak ammonia yang
berpindah ke liquid, diiringi dengan kenaikan konsentrasi yang
konsekuen di dalam liquid, sampai perlahan laju perpindahan massa
yang memasuki liquid samma dengan laju perpindahan massa yang
keluar dari liquid. Pada saat yang sama, melalui mekanisme difusi,
konsentrasi pada setiap fase menjadi sama. Kemudian terjadi
kesetimbangan dinamik, saat molekul ammonia berpindah kembali dan
seterusnya dari satu fase ke fase lainnya, perpindahan massa
keseluruhan sama dengan nol. Konsentrasi pada tiap fase tidak lagi
mengalami perubahan.

Apabila ditambahkan ammonia ke dalam wadah, akan terjadi


suatu kesetimbangan konsentrasi yang baru secara perlahan, dengan
konsentrasi yang lebih tinggi daripada konsentrasi mula-mula pada
setiap fase. Pada saat ini secara perlahan dapat diselesaikan hubungan
antara kesetimbangan konsentrasi dalam kedua fase. Jika ammonia
dimisalkan sebagai zat A, kesetimbangan konsentrasi pada fase gas dan
liquid adalah yA dan xA adalah fraksi mol, akan menimbulkan kenaikan

15
pada kurva kesetimbangan distribusi seperti gambar 5.1. Kurva ini
menghasilkan jumlah air yang tidak berpengaruh dan udara yang
digunakan pada saat mula-mula dan hanya dipengaruhi oleh kondisi,
seperti temperature dan tekanan, dikaitkan dengan system tiga
komponen. Penting untuk dicatat bahwa pada keadaan setimbang
onsentrasi pada dua fase tidak sama; malah potensial kimia dari
ammonia adalah sama pada kedua fase.
Kurva pada gambar 5.1.tidak menunjukkan semua
kesetimbangan konsentrasi yang ada pada system. Contohnya, air akan
secara perlahan menguap menjadi gas, komponen di udara juga akan
terlarut menjadi komponen kecil dalam liquid, dan kesetimbangan
konsentrasi untuk zat tersebut akan terbentuk.

yA

xA
yA = fraksi mol gas
xA = fraksi mol liquid

Gambar 5.1. kesetimbangan distribusi pelarut antara gas dan liquid pada
temperature konstan.

1.PERPINDAHAN MASSA FASE CAIR-CAIR

16
1. Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi adalah salah satu proses pemisahan atau pemurnian suatu
senyawa dari campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan
harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material
suatu bahan lainnya. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan yang
menggunakan sifat fisis, yaitu perbedaan kelarutan komponen-komponen
dalam larutan dengan menggunakan larutan lain sebagai media pemisah.
Pemisahan larutan dengan ekstraksi digunakan untuk memisahkan
komponen-komponen yang mempunyai perbedaan titik didih yang relatif
kecil tetapi mempunyai perbedaan kelarutan yang cukup besar dengan suatu
pelarut.
Ekstraksi cair-cair menggunakan prinsip kesetimbangan dengan
perpindahan massa zat terlarut (fasa disperse) dan larutan yang diekstraksi
kelarutan yang digunakan sebagai pelarut (fasa kontinu). Menurut Ladda
(1976), ekstraksi cair-cair digunakan jika pemisahan denganoperasi lainnya
tidak dapat dicapai seperti: distilasi, evaporasi, kristalisasi dan lain-lain
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan suatu komponen dari fasa cair
kefasa cair lainnya.
Ekstraksi pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan
metode pemisahan atau pengambilan zat terlarut dalam larutan(biasanya
dalam air) dengan menggunakan pelarut lain (biasanya organik).
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di
antara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat
berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk zat organik
maupun zat anorganik. Cara ini juga dapat digunakan untuk analisis makro
maupun mikro. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga
banyak digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan preparatif dalam bidang kimia
organik, biokimia dan anorganik di laboratorium. Alat yang digunakan
dapat berupa corong pemisah (paling sederhana), alat ekstraksi soxhlet
sampai yang paling rumit berupa alat Counter Current Craig.

17
Menurut Estien Yazid (2005), berdasarkan bentuk campuran yang
diekstraksi, suatu ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi padat-cair dan
ekstraksi cair-cair.
1. Ekstraksi padat-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran
yang berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam
usaha mengisolasi zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam
seperti steroid, hormon, antibiotika dan lipida pada biji-bijian.
2. Ekstraksi cair-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran
yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi
pelarut banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-
logam tertentu dalam larutan air.

Pertimbangan pertimbangan pemakaian proses ekstraksi sebagai proses


pemisahan antara lain :
1. Komponen larutan sensitive terhadap pemanasan jika digunakan destilasi
meskipun pada kondisi vakum.
2. Titik didih komponen komponen dalam campuran berdekatan.
3. Kemudahan menguap (volatility) komponen komponen hampir sama.

Mekanisme pemisahan digambarkan secara sederhana pada gambar dibawah


berikut ini.

18
Gambar 1. Ekstraksi Cair Cair Dalam Kolom Isian

Ekstraksi cair cair terjadi berdasarkan pindah massa akibat kontak


antara larutan yang dialirkan secara kontinyu (fasa kontinyu) dengan pelarut
yang dialirkan secara terdispersi (fasa terdispersi). Fasa kontinyu dialirkan
dari bagian atas kolom isian yang kemudian mengalir turun.Selama mengalir
di sepanjang kolom, cairan mengisi celah-celah kosong dan membentuk
lapisan tipis pada permukaan bahan isian. Fasa terdispersi dialirkan dari
bagian bawah kolom isian yang selama mengalir di sepanjang
kolomdimungkinkan mengalami proses proses berikut :
1. Melewati celah-celah kosong
2. Menembus bahan isian
3 Mengalami perpecahan menjadi gelembung dengan ukuran yang lebih
kecil akibat bertumbukan dengan bahan isian.

2. Ekstraksi Cair-Cair

19
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu
pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair.
Campuran diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak
saling campur), dan jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat)
dan fase solven (ekstrak).
Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.
Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.
Ekstraksi cair-cair adalah Pemisahan yang digunakan untuk
mendapatkan senyawa dalam campuran fase cair dengan pelarut cair.
Ekstraksi cair-cair dalam dunia farmasi sama dengan kromatografi cair-
cair. Dimana kromatografi cair-cair adalah kromatografi pembagian dimana
partisi terjadi antara fase gerak dan fase dia yang kedua-duanya zat cair. Dala
hal ini fase diam tidak boleh larut dalam fase gerak. Umumnya fase diam
yang digunakan air, sebagai fase gerak digunakan pelarut organik.
Ekstraksi cair-cair sangat berguna untuk memisahkan analit yang dituju
dari penganggu dengan cara melakukan partisi sampel antar 2 pelarut yang
tidak saling campur. Salah satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang
lain adalah pelarut organik. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan
ditemukan di dalam fase air, sementara senyawa-senyawa yang bersifat
hidrofobik akan masuk pada pelarut organik. Analit yang terekstraksi ke
dalam pelarut organik akan mudah diperoleh kembali dengan cara penguapan
pelarut, sementara analit yang masuk ke dalam fase air seringkali diinjeksikan
secara langsung ke dalam kolom.
Disamping itu, ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan
analit yang ada dalam sampel dengan jumlah kecil sehingga tidak
memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi atau kuantifikasinya.
Dalam bentuk yang paling sederhana, suatu alikuot larutan air digojog
dengan pelarut organik yang tidak campur dengan air. Kebanyakan prosedur
ekstraksi cair-cair melibatkan ekstraksi analit dari fase air ke dalam pelarut
organik yang bersifat non polar atau agak polar seperti heksana, metilbenzen
atau diklorometan. Meskipun demikian proses sebaliknya (ekstraksi analit

20
dari pelarut organik non polar ke dalam air) juga mungkin terjadi. Dengan
kata lain, dalam ekstraksi cair-cair ini tidaklah mungkin untuk mencapai
100% analit terekstraksi pada salah satu fase/pelarut.
Karena ekstraksi merupakan proses kesetimbangan dengan efisiensi
terbatas, maka sejumlah tertentu analit akan tertahan di kedua fase.
Kesetimbangan kimia yang melibatkan perubahan pH, kompleksasi, pasangan
ion, dan sebagainya dapat digunakan untuk meningkatkan perolehan kembali
analit dan/atau menghilangkan pengganggu.

Ekstraksi cair-cair ditentukan oleh distribusi Nerst atau hukum partisi


yang menyatakan bahwa pada konsentrasi dan tekanan yang konstan, analit

21
akan terdistribusi dalam proporsi yang selalu sama diantara dua pelarut yang
saling tidak campur. Perbandingan konsentrasi pada keadaan setimbang di
dalam 2 fase disebut dengan koefisien distribusi atau koefisien partisi (KD)
dan diekspresikan dengan:

[S]org
KD = -------------
[S]aq
[S]org dan [S]aq masing-masing merupakan konsentrasi analit dalam fase
organik dan dalam fase air; KD merupakan koefisien partisi.

Dalam prakteknya, analit seringkali berada dalam bentuk kimia yang


berbeda karena adanya disosiasi (ionisasi), protonasi, dan juga kompleksasi
atau polimerisasi karenanya ekspresi yang lebih berguna adalah rasio
distribusi atau rasio partisi (D) yang diekspresikan dengan:

(Cs)org
D = -------------
(Cs)aq

(Cs)org dan (Cs)aq masing-masing merupakan konsentrasi total analit (dalam


segala bentuk) dalam fase organik dan dalam fase air; D merupakan rasio
partisi. Jika tidak ada interaksi antar analit yang terjadi dalam kedua fase
maka nilai KD dan D adalah identik.
Analit yang mempunyai rasio distrbusi besar (10 4 atau lebih) akan
mudah terekstraksi ke dalam pelarut organik meskipun proses kesetimbangan
(yang berari 100% solut terekstraksi atau tertahan) tidak pernah terjadi.

Kebanyakan ekstraksi dilakukan dengan menggunakan corong pisah


dalam waktu beberapa menit. Akan tetapi untuk efektifitas ekstraksi analit
dengan rasio distribusi yang kecil (< 1) hanya dapat dicapai dengan

22
mengenakan pelarut baru pada larutan sampel secara terus-menerus. Hal ini
dapat dilakuan dengan refluks menggunakan alat yang didisain secara khusus
yaitu suatu alat ekstraktor secara terus-menerus.

Alat ekstraksi secara terus-menerus :


pelarut pengekstraksi kurang rapat dibanding dengan larutan yang
mengandung solut yang akan diekstraksi.
pelarut pengekstraksi lebih rapat dibanding dengan larutan yang
mengandung solut yang akan diekstraksi.

Pelarut organik yang dipilih untuk ekstraksi pelarut adalah: mempunyai


kelarutan yang rendah dalam air (<10%), dapat menguap sehingga
memudahkan menghilangkan pelarut organik setelah dilakukan ekstraksi, dan
mempunyai kemurnian yang tinggi untuk meminimalkan adanya kontaminasi
sampel.
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu
campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara
teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika,
bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam.
logam. Proses inipun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan
ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran
dengan cara distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan
aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis.
Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya
dua tahap, yaltu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut,
dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam
pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi
dan pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar

23
terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang
besar haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di
antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi
tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan
menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar
sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar.
Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang
batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat
mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan
yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi
sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar
dapat dipisahkan dari cairan yang lain.
Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga
disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan
popular. Pemisahan ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro.
Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur.
Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda
dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan
preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja.
Berbeda dengan proses retrifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi
pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan
mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses
ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap berikut:

1. Mencampurkan bahan ekstrak dengan pelarut dan membiarkannya


saling kontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara
difusi pada bidang antar muka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan
demikian terjadi ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarut ekstrak.

24
2. Memisahkan larutan ekstrak dari refinat, kebanyakan dengan cara
penjernihan atau filtrasi.
3. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali
pelarut. Umumnya dilakukan dengan mendapatkan kembali pelarut.
Larutan ekstrak langsung dapat diolah lebih lanjut atau diolah
setelah dipekatkan.

Prinsip kerja ekstraksi cair-cair adalah pemisahan senyawa yang


mempunyai perbedaan kelarutan pada 2 pelarut yang berbeda. Dakam hal
ini ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan satu atau lebih
senyawa menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur, dimana
senyawa akan terdistribusi di antara dua fase sesuai dengan derajat
kelarutannya yang kemudian masing-masing jenuh dan terjadi pemisahan.
Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur.
Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda
dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan
prepratif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja.

25
Gambar 1. Corong Berisi 2 Pelarut Berbeda yang Menunjukkan
Adanya 2 Lapisan
Jika fasa yang saling tidak larut dikontakkan, maka dalam keadaan
tertentu salah satu komponen akan berpindah dari fasa yang satu ke fasa yang
lain. Peristiwa ini disebut perpindahan antar fasa.
Pada operasi ekstraksi proses perpindahan massa dari fasa rafinat ke
fasa ekstrak mengikuti mekanisme difusi antarfasa. Teori dua film dapat
digunakan untuk menjelaskan mekanisme perpindahan massa solute (B) dari
fasa umpan ke fasa pelarut. Teori tersebut menjelaskan bahwa perpindahan
massa B dimulai dari badan utama fasa cair pertama ke batas antar fasa dan
perpindahan massa B dari batas antar fasa ke badan utama fasa cair kedua.

3. Sistem Penggunaan dalam Ekstraksi Cair-Cair


Dalam ekstraksi cair-cair terdapat dua macam sistem penggunaan yaitu:
1. Kromatografi fasa normal
Fase gerak non polar ( ex: heksana, isopropil-eter)
Fase diam sangat polar (ex: air)
Digunakan untuk memisahkan senyawa polar, sebab senyawa polar
akan tertahan lebih lama didalam kolom yang polar, sedangkan
senyawa yang non-polar akan keluar lebih awal dari dalam kolom.

2. Kromatografi fasa terbalik


Fase gerak polar ( ex: air, metanol)
Fase diam non polar (ex: hidrokarbonoktadekana)
Digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa non polar.

26
4. Prosedur Kerja Ekstraksi Cair-Cair
Ekstrak kental yang diperoleh di larutkan dengan etanol secukupnya
kemudian dilarutkan dengan pelarut n-heksana dan dimasukkan dalam corong
pisah. Ekstrak yang tidak larut kedalam air maupun campuran metanol-air
(7:3). Proses ekstraksi selanjutnya menggunakan teknik partisi yaitu
mengekstraksi suspensi ekstrak metanol-air dengan pelarut n-heksana
menggunakan corong pisah yang diletakan pada sebuah statif untuk
memudahan terjadinya pemisahan.

Gambar 2. Alat Ekstraksi Cair-Cair


Partisi dilakukan berulang kali sehingga diperoleh ekstrak n-heksana
dan setelah diuapkan pelarutnya diperoleh ekstrak kental. Sisa ekstrak
metanol-air diuapkan sampai semua metanol habis menguap. Kemudian
bagian ekstrak air yang tersisa dipartisi berulang kali dengan menggunakan
pelarut kloroform atau n-butanol jenuh. Hasil partisi kloroform atau n-butanol
jenuh ini setelah diuapkan pelarutnya diperoleh ekstrak kental kloroform
ataupun n-butanol.

5. Konsep Ekstraksi Cair-Cair


Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan senyawa atas dasar
perbedaan kelarutan pada dua jenis pelarut yang berbeda yang tidak saling

27
bercampur. Jika analit berada dalam pelarut anorganik, maka pelarut yang
digunakan adalah pelarut organik, dan sebaliknya.
Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan cara
bertahap (batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana dan
banyak dilakukan adalah ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup dengan
menambahkan pelarut pengekstrak yang tidak bercampur dengan pelarut
pertama melalui corong pemisah, kemudian dilakukan pengocokan sampai
terjadi kesetimbangan konsentrasi solut pada kedua pelarut. Setelah
didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan dan lapisan yang
berada di bawah dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan untuk
dilakukan analisis selanjutnya.
Cara ini digunakan jika harga D cukup besar ( 1000). Bila hal ini
terjadi, maka satu kali ekstraksi sudah cukup untuk memperoleh solut secara
kuantitatif. Nmaun demikian, ekstraksi akan semakin efektif jika dilakukan
berulangkali menggunakan pelarut dengan volume sedikit demi sedikit.
Bila suatu zat terlarut membagi diri antara dua cairan yang tak dapat
campur, ada suatu hubungan yang pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam
dua fase pada kesetimbangan. Nernst pertama kalinya memberikan
pernyataan yang jelas mengenai hukun distribusi ketika pada tahun 1981 ia
menunjukkan bahwa suatu zat terlarut akan membagi dirinya antara dua
cairan yang tak dapat campur sedemikian rupa sehingga angka banding
konsentrasi pada kesetimbangan adalah konstanta pada suatu temperatur
tertentu: = tetapan menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair 1.
Meskipun hubungan ini berlaku cukup baik dalam kasus-kasus tertentu,
pada kenyataannya hubungan ini tidaklah eksak. Yang benar, dalam
pengertian termodinamik, angka banding aktivitas bukannya rasio
konsentrasi yang seharusnya konstan. Aktivitas suatu spesies kimia dalam
satu fase memelihara suatu rasio yang konstan terhadap aktivitas spesies itu
dalam fase cair yang lain: = KDADi sini menyatakan aktivitas zat terlarut A
dalam fase 1. Tetapan sejati KDA disebut koefisien distribusi dari spesies A.

28
Ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu
pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan
kedua fasa cair itu sesempurna mungkin. Pada saat pencampuran terjadi
perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna
(media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi).
Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak saling melarut
(atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa yang
baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar
terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut.
Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya
dengan bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh karena akan
menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar
sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar.
Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang
batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat
mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan
yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi
sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup
besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.

6. Keuntungan dan Kerugian Ekstraksi Cair-cair


A. Keuntungan Ekstraksi Cair-Cair
1. Pelarut yang sedikit akan dapat diperoleh substansi yang relatif
banyak.
2. Peralatannya sederhana
3. Pemisahannya cepat dan selektif

B. Kerugian Ekstraksi Cair-Cair

29
1. Tidak dapat menggunakan zat yang termolabil, karena akan
mengubah bentuk kimia sehingga koefisien distribusi dan
efektifitas pelarut pun berubah
2. Dapat membentuk emulsi pada saat pengocokan sehingga tidak
akan jelas pemisahannya.

2.PERPINDAHAN MASSA ANTAR FASE PADAT CAIR

30
1. Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)
Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara yaitu suatu
zat pelarut. Proses ini dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari
suatu padatan atau untuk memurnikan padatan dari cairan yang membuat
padatan terkontaminasi, seperti pigmen. Metode yang digunakan untuk
ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya
dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut
menyebar merata di dalam padatan, material yang dekat permukaan akan
pertama kali larut terlebih dahulu. Pelarut, kemudian akan menangkap
bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut selanjutnya, dan
proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Biasanya proses leaching berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:
Pertama perubahan fase dari zat terlarut yang diambil pada saat zat pelarut
meresap masuk. Kedua terjadi proses difusi pada cairan dari dalam
partikel padat menuju keluar. Ketiga perpindahan zat terlarut dari padatan
ke zat pelarut.
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat
larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Proses ini
digunakan secara teknis dalam skala besar terutama dibidang, industri
bahan alami dan makanan, misalnya untuk memperoleh bahan-bahan aktif
dari tumbuhan atau organ-organ binatang untuk keperluan farmasi, gula
dari umbi, minyak dari biji-bijian, kopi dari biji kopi.
Alat-alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu berikut ini biasanya
merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap, yang misalnya terdiri atas:
1. Alat untuk pengolahan awal (pengecilan ukuran, pengeringan) bahan
ekstraksi.
2. Ekstraktor yang sebenarnya perlengkapan untuk memisahkan (dengan
penjernihan atau penyaringan) larutan ekstrak dari rafinat (seringkali
menyatu dengan ekstraktor)

31
3. Peralatan untuk mengisolasi ekstrak atau meningkatkan konsentrasi
larutan ekstrak dan memperoleh kembali pelarut (dengan cara
penguapan).

Keberhasilan proses ekstraksi padat-cair dipengaruhi oleh


persiapan umpan, langkah-langkah persiapan padatan, karakteristik
padatan serta tujuan dan kendala proses yang berlaku.
a. Pada beberapa kasus dijumpai solut yang dilengkapi matrik padatan tak
larut untuk mempermudah kontak solute dengan padatan. Pelarutan
dilakukan dengan penggilingan padatan, sehingga solute yang semula
ditangkap oleh padatan.
b. Pengaruh temperatur
Pada umumnya temperatur yang lebih tinggi akan lebih menguntungkan
sebagian proses ekstraksi padat cair, karena akan meningkatkan harga
difusivitas perpindahan massa sebagai perpindahan solute, kelarutan
solute dan pelarut.
Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala
laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt.
a. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih
sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke
kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian
pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan
membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi
pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong.
Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke
dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan
efek sifon.
b. Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet.
Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui
annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian
pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk

32
kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan
ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain
itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif
daripada ekstraktor Soxhlet.

Jika suatu komponen dari campuran merupakan padatan yang


sangat larut dalam pelarut tertentu dan komponen yang lain secara khusus
tidak larut, maka proses pemisahan dapat dilakukan dengan pengadukan
sederhana dan dengan pelarut tertentu yang diikuti dengan proses
penyaringan. Akan tetapi bila komponen terlarut sangat sedikit larut atau
disebabkan oleh bentuknya sehingga proses pelarutan sangat lambat, maka
perlu dilakukan pemisahan dengan ekstraksi soxhlet.
Ekstraksi soxhlet dapat digunakan untuk mengekstraksi larutan
dari padatan dengan menggunakan pelarut yang dapat menguap, yang
dapat bercampur dengan air ataupun tidak. Pelarutnya diuapkan bila
terkondensasi maka akan menetes pada senyawa padat setelah mencapai
volume tertentu media pelarut tersebut akan keluar melalui pipa kecil dan
terus menuju ke tempat penampungan (labu) proses ini berlangsung terus-
menerus pelarut dalam labu diuapkan.
Keuntungan dari metode ini antara lain :
1. Sampel terekstraksi dengan sempurna.
2. proses ekstraksi lebih cepat.
3. Pelarut yang digunakan sedikit.

Sedangkan kerugian dari metode ini antara lain:


1. Tidak dapat menggunakan bahan yang mempunyai tekstur yang keras
dan pengerjaannya rumit
2. Agak lama, karena harus diuapkan di rotavapor untuk mmeperoleh
ekstrak kental.

33
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia
yang terdapat dalam sampel. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan
massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai
terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam
pelarut.
Untuk mengekstraksi minyak dalam kemiri dapat menggunakan
metode ekstraksi soxhlet. Soxhletasi merupakan penyarian sampel secara
berkesinambungan, pelarut dipanaskan hingga menguap, uap cairan
pelarut terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin
(kondensor) lalu turun mengekstrak sampel dalam ruang soxhlet dan
selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa
sifon. Dalam proses ekstraksi, pemilihan pelarut yang akan digunakan
sangatlah penting. Hal ini juga dapat mempengaruhi hasil yang akan
didapatkan dari proses ekstraksi yang dilakukan. Sebagaimana yang kita
ketahui bahwa minyak merupakan senyawa yang bersifat non polar
sehingga dalam memilih pelarut sebaiknya menggunakan pelarut yang

34
bersifat non polar pula. Biasanya digunakan n-heksan sebagai pelarut yang
dapat mearutkan minyak dalam kemiri karena sama-sama bersifat
nonpolar. Pelarut yang digunakan (n-heksan) dimasukkan dalam labu alas
bulat yang dipanaskan kemudian pelarut berubah menjadi fase uap dan
dengan menggunakan kondensor, pelarut yang dalam fase uap tadi
berubah menjadi fase cair dan akan jatuh menetesi sampel. Pada proses ini
terjadi proses ekstraksi oleh pelarut dimana pelarut akan mengekstrak
minyak yang ada pada sampel. Pelarut yang mengikat minyak lama
kelamaan akan memenuhi sifon dan jika sifon telah terisi oleh pelarut
sampai penuh maka pelarut akan jatuh kembali pada labu alas bulat
bersama ekstrak sampel. Proses ini dinamakan satu kali ekstraksi, dan
demikian proses ekstraksi oleh pelarut ini terjadi secara berulang-ulang.
Semakin banyak frekuensi ekstraksi yang dilakukan maka semakin banyak
pula minyak yang akan terekstrak dari sampel kemiri.
Setelah ekstraksi telah selesai dilakukan, dilanjutkan dengan proses
penguapan dimana proses ini dimaksudkan untuk memisahkan minyak
yang diperoleh dari pelarut. Proses penguapan ini dilakukan dengan
memanaskan pelarut yang telah bercampur dengan minyak sehingga
pelarut yang mempunyai titik didih lebih rendah ini akan menguap
sehingga pelarut akan terpisah dari minyak. Untuk proses penguapan
pelarut, kita menggunakan alat soxhlet untuk menguapkan pelarut dari
ekstrak. Setelah dilakukannya proses penguapan dapat langsung
menghitung berapa banyak minyak yang didapatkan dari proses ekstraksi
tersebut.

35
2. Kristalisasi
Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari
pengendapan larutan, melt (campuran leleh), atau lebih jarang
pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga merupakan teknik
pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan
massa (mass transfer) dari suat zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke
fase kristal padat. Pemisahan secara kristalisasi dilakukan untuk
memisahan zat padat dari larutannya dengan jalan menguapkan pelarutnya.
Zat padat tersebut dalam keadaan lewat jenuh akan membentuk kristal.
Pemisahan dengan teknik kristalisasi didasari atas pelepasan
pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogeen atau
larutan, sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya. Proses ini adalah
salah satu teknik pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri,
karena dapat menghasilkan kemurnian produk hingga 100%.

Kristalisasi empat macam, yaitu:


1. Kristalisasi penguapan
Kristalisasi penguapan dilakukan jika zat yang akan dipisahkan tahan
terhadap panas dan titik bekunya lebih tinggi daripada titik didih
pelarut.
2. Kristalisasi pendinginan.
Kristalisasi pendinginan dilakukan dengan cara mendinginkan larutan.
Pada saat suhu larutan turun, komponen zat yang memiliki titik beku
lebih tinggi akan membeku terlebih dahulu, sementara zat lain masih
larut sehingga keduanya dapat dipisahkan dengan cara penyaringan.
Zat lain akan turun bersama pelarut sebagai filtrat, sedangkan zat padat
tetap tinggal di atas saringan sebagai residu.
3. Pemanasan dan Pendinginan.
Metode ini merupakan gabungan dari dua metode diatas. Larutan
panas yang Jenuh dialirkan kedalam sebuah ruangan yang
divakumkan. Sebagian pelarut menguap, panas penguapan diambil dari

36
larutan itu sendiri, sehingga larutan menjadi dingin dan lewat jenuh.
Metode ini disebut kristalisasi vakum.
4. Penambahan bahan (zat) lain.
Untuk pemisahan bahan organic dari larutan seringkali ditambahkan
suatu garam. Garam ini larut lebih baik daripada bahan padat yang
dinginkan sehinga terjadi desakan dan membuat bahan padat menjadi
terkristalisasi.
Pembentukan kristal dapat juga terjadi bila suatu larutan telah
melampaui titik jenuhnya. Titik jenuh larutan adalah suatu titik ketika
penambahan partikel terlarut sudah tidak dapat menyebabkan partikel
tersebut melarut, sehingga terbentuk larutan jenuh. Larutan jenuh adalah
larutan yang mengandung jumlah maksimum partikel terlarut pada suatu
larutan pada suhu tertentu. Contohnya adalah NaCl ketika mencapai titik
jenuh maka akan terbentuk kristal. Berkurangnya air karena penguapan,
menyebabkan larutan melewati titik jenuh dan mempercepat terbentuknya
kristal.

Syarat syarat kristalisasi:


1. Larutan harus jenuh
Larutan yang mengandung jumlah zat berlarut berlebihan pada suhu
tertentu, sehingga kelebihan itu tidak melarut lagi. Jenuh berarti
pelarut telah seimbang zat terlarut atau jika larutan tidak dapat lagi
melarutkan zat terlarut, artinya konsentrasinya telah maksimal kalau
larutan jenuh suatu zat padat didinginkan perlahan-lahan, sebagian zat
terlarut akan mengkristal, dalam arti diperoleh larutan super jenuh
atau lewat jenuh.

2. Larutan harus homogen


Partikel-partikel yang sangat kecil tetap tersebar merata biarpun
didiamkan dalam waktu lama.

37
3. Adanya perubahan suhu.
Penurunan suhu secara dratis atau kenaikan suhu secara dratis
tergantung dari bentuk kristal yang didinginkan.

Pembagian Tahapan Operasi Kristalisasi


Operasi kristalisasi terbagi menjadi:
1. Membuat larutan supersaturasi (lewat jenuh)
2. Pembentukan inti kristal (nuclei)
3. Pertumbuhan kristal

1. Membuat Larutan Lewat Jenuh (supersaturasi)


Bila larutan telah mencapai derajat saturasi tertentu, maka di dalam
larutan akan terbentuk zat padat kristaline. Oleh sebab itu derajat
supersaturasi larutan merupakan faktor terpenting dalam mengontrol
operasi kristalisasi.

2. Pembentukan Inti Kristal


Pembentukan Inti Kristal secara sistematis dapat dijelaskan sbb.

a. Primary Nukleus
Proses pembentukan inti kristal ini dapat terjadi pada saat larutan
telah mencapai derajat supersaturasi yang cukup tinggi. Nukleasi
primer dapat terjadi lewat dua cara:
Homogen Nukleus
Nukleus disini pembentukannya spontan pada larutan dengan
supersaturasi tinggi, artinya nukleus terbentuk karena

38
penggabungan molekul-molekul solute sendiri
Heterogen Nukleus
Pembentukan inti kristalnya masih dalam supersaturasi tinggi,
namun dapat dipercepat dengan adanya partikel-partikel asing
seperti debu dan sebagainya.
b. Secondary Nukleus (Contact Nucleation)
Pembentukan inti kristal dengan akibat dari tumbukan (contact)
antar kristal induk ataupun tumbukan antara kristal induk dengan
impeler pengaduk, tumbukan dengan dinding kristaliser ataupun
gesekan permukaan kristal induk dengan larutan.

3. Pertumbuhan Kristal
Teori Diffusi Solute dari Larutan ke Permukaan Kristal :
Proses kristalisasi merupakan kebalikan dari proses kelarutan, sebagai
berikut : Kristal didalam larutan membentuk daerah boundary layer
dipermukaannya. Konsentrasi solute didalam daerah boundary layer ini =
konsentrasi jenuhnya (saturasi), karena selalu dalam kondisi
kesetimbangan cair-padat. Bila larutan konsentrasinya supersaturasi (C+)
maka molekul solute akan mendifusi dari larutan kepermukaan kristal (
arah panah dari kiri ke kanan), kemudian menempel menjadi molekul
kristal, artinya kristal akan tumbuh karena mendapat tambahan molekul
dipermukaannya. Tetapi bila larutannya belum jenuh (C-) maka molekul
kristal dipermukaan akan larut menjadi solute (arah panah dari kanan ke
kiri).

39
Gambar 2. Difusi Solute dari larutan ke permukaan kristal
Dengan :
Cs : konsentrasi saturasi (jenuh)
C+: Konsentrasi supersaturasi (lewat jenuh)
C- : konsentrasi unsaturasi (belum jenuh)
CL1; CL1* menunjukkan pengaruh adanya pengadukan dalam larutan,
sehingga jarak diffusi lebih pendek, sebaliknya
CL2; CL2* menunjukkan tidak adanya pengadukan sehingga jarak
diffusi lebih jauh.

3. Adsorbsi Padat-Cair
Adsorpsi padat-cair merupakan salah satu proses pemisahan
campuran yang melibatkan proses perpindahan massa zat terlarut dari fasa
cair ke fasa padat. Proses adsorpsi padat- cair dapat dilakukan secara
perkolasi, dimana pelarut yang mengandung zat terlarut mengalir secara
kontinyu dan perlabor melewati padatan/adsorben yang membentuk suatu
unggun tetap (fixed bed). Ketika pelarut yang mengandung zat terlarut
tersebut kontak dengan adsorben, terjadi perpindahan massa zat terlarut
dari pelarut ke permukaan adsorben, sehingga konsentrasi zat terlarut di
dalam cairan dan di dalam padatan akan berubah terhadap waktu dan
posisinya dalam kolom adsorpsi. Kinerja proses adsorpsi padat-cair
sangat bergantung pada dinamika yang terjadi di dalam kolom adsorpsi.
Adsorpsi adalah proses penjerapan solut dari fluida ke permukaan

40
padatan. Operasi adsorpsi melibatkan kemampuan padatan untuk
menyerap partikel tertentu dari larutan ke permukaannya. Adsorpsi suatu
material terjadi saat energi asosisasi dari suatu permukaan padatan
menyerang molekul-molekul atau spesies ion dari larutan ke permukaan
aktif padatan. Pada keadaan ini diperoleh pemisahan antara komponen-
komponen dalam larutan. Terdapat dua tipe adsorpsi, yaitu:
1. Physical adsorption atau Van der Waals adsorption
Adsorpsi yang terjadi karena gaya tarik antar molekul dari partikel
padatan dan bahan yang diadsorpsi. Sifat adsorsi jenis ini adalah
reversibel.
2. Chemisorption atau adsorpsi teraktifkan
Adsorpsi yang terjadi akibat interaksi kimia antara padatan dan bahan
teradsorpsi. Kekuatan dari ikatan kimia ini berbeda-beda. Daya lekat
bahan lebih besar daripada daya lekat bahan pada physical adsorption.
Kebanyakan sifat adsorpsi jenis ini adalah ireversibel (Treybal, 1981).
Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorph dan berpori
yang mengandung 85-95% karbon yang dihasilkan dari bahan-bahan yang
mengandung karbon (batubara, kulit kelapa, dan sebagainya) atau dari
karbon yang diperlakukan dengan cara khusus baik aktivasi kimia
maupun fisika untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Karbon
aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau
sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori
dan luas permukaan. Daya serap karbon aktif sangat besar, yaitu 25-
1000% terhadap berat karbon aktif. Karena hal tersebut maka karbon aktif
banyak digunakan oleh kalangan industri. Hampir 60% produksi karbon
aktif di dunia ini dimanfaatkan oleh industri-industri gula dan
pembersihan minyak dan lemak, kimia dan farmasi.
Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang
kontak dengan karbon tersebut. Dalam waktu 60 jam biasanya karbon
aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya
karbon aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap

41
tertentu beberapa jenis karbon aktif dapat di reaktivasi kembali,
meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali
pakai. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktivasi
sebelumnya, oleh karena itu perlu diperhatikan keterangan pada kemasan
produk tersebut.
Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung
pada beberapa faktor, yaitu :
1. Jenis adsorben
Apabila adsorbennya bersifat polar, maka komponen yang bersifat
polar akan terikat lebih kuat dibandingkan dengan komponen yang
kurang polar.
2. Luas permukaan adsorben
Ukuran partikel dan luas permukaan merupakan karakteristik penting
karbon aktif sesuai dengan fungsinya sebagai adsorban. Ukuran
partikel karbon mempengaruhi tingkat adsorbsi; tingkat adsorbsi naik
dengan adanya penurunan ukuran partikel.
Oleh karena itu adsorbsi menggunakan karbon PAC (Powdered
Acivated Carbon) lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan
karbon GAC (Granular Acivated Carbon). Kapasitas total adsorbsi
karbon tergantung pada luas permukaannya.
Ukuran partikel karbon tidak mempengaruhi luas permukaanya. Oleh
sebab itu GAC atau PAC dengan berat yang sama memiliki kapasitas
adsorbsi yang sama.
3. Konsentrasi zat terlarut
Senyawa terlarut memiliki gaya tarik-menarik yang kuat terhadap
pelarutnya sehingga lebih sulit diadsorbsi dibandingkan senyawa tidak
larut.
4. Temperatur
Tingkat adsorbsi naik diikuti dengan kenaikan temperatur dan turun
diikuti dengan penurunan temperatur.

42
4.Ion Exchanger (Penukar Ion)
Pertukaran ion didefinisikan sebagai pertukaran ion yang reversibel
antara fase padatan dan fase cair yang dalam struktur padatan tidak ada
perubahan tetap. Padatan adalah bahan penukar ion, sedangkan ion dapat
merupakan zat aktif. Apabila digunakan sebagai suatu pembawa zat aktif,
bahan penukar ion memberikan suatu cara untuk mengikat zat aktif pada
matriks polimer tak larut dan dapat secara efektif menutup rasa dan arome
zat aktif yang akan diformulasikan menjadi tablet kunyah.
Resin penukar ion adalah suatu jaringan polimer yang mempunyai
gugus fungsi ionik. Ion adalah partikel bermuatan listrik. Berdasarkan
muatan listriknya, ada dua jenis ion yaitu ion bermuatan positif dan ion
bermuatan negatif. Ion bermuatan positif disebut kation sedangkan ion
bermuatan negatif disebut anion. Resin dapat dibedakan menjadi dua jenis
yaitu:
1. Resin alami
Umumnya yang digunakan adalah zeolit, yaitu mineral yang terdiri dari
kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau
alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.
2. Resin buatan atau sintesis
Resin penukar ion sintetis merupakan suatu polimer yang terdiri dari dua
bagian yaitu struktur fungsional dan matrik resin yang sukar larut. Resin
penukar ion ini dibuat melalui kondensasi phenol dengan formaldehid
yang kemudian diikuti dengan reaksi sulfonasi untuk memperoleh resin
penukar ion asam kuat. Resin sintesis memiliki kapasitas ion exchange
yang lebih besar dari resin alami baik dari segi penukaran kation maupun
anion. Biasanya resin sintesis terdiri dari polimerasi material organik
syrene dan DVB (divinylbenzene).

Sebagai media penukar ion, maka resin penukar ion harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut agar proses yang dilakukan dapat berlangsung secara
maksimal:

43
1. Kapasitas total yang tinggi. Maksudnya resin memiliki kapasitas
pertukaran ion yang tinggi.
2. Kelarutan yang rendah dalam berbagai larutan sehingga dapat berulang-
ulang. Resin akan beroperasi dalam cairan yang mempunyai sifat
melarutkan, karena itu resin harus tahan terhadap air dan tidak larut
dalam pelarut tersebut.
3. Kestabilan kimia yang tinggi. Resin diharapkan dapat bekerja pada range
pH yang luas serta tahan terhadap asam dan basa. Demikian pula
terhadap oksidasi dan radiasi.
4. Kestabilan fisik yang tinggi. Resin diharapkan tahan terhadap tekanan
mekanis, tekanan hidrostatis cairan serta tekanan osmosis.
Beberapa faktor yang harus dipenuhi dalam resin penukar ion yaitu :
1. Partikel yang sama dengan tahanan terobosan relatif kecil,
2. Stabilitas mekanik yang tinggi,
3. Tidak larut dalam air dan pelarut yang digunakan,
4. Tahan terhadap asam dan basa yanng mengoksidasi,
5. Tahan terhadap suhu,
6. Dapat digunakan dalam suatu daerah pH yang luas,
7. Tidak mempunyai daya adsorpsi terhadap ion lawan yang bergerak
bebas.
8. Dapat diregenerasi, dan
9. Kapasitas penukaran dan aktifitas penukaran sudah tertentu.

Proses penukaran ion merupakan proses yang sering banyak dimanfaatkan


dalam bidang pemurnian air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung
ion logam seperti Ca2+ atau Mg2+. Kesadahan air tidak diharapkan dalam
kehidupan sehari-hari karena dapat membentuk kerak dan dapat
menyebabkan pemakaian air sabun yang banyak. Proses penukaran ion
salah satunya adalah dengan menggunakan resin penukar ion.

44
Mekanisme pertukaran ion melibatkan transfer massa dari larutan yang
berkonsentrasi tinggi ke padatan resin yang berkonsentrasi rendah.
Mekanisme pertukaran ion adalah sebagai berikut:
a. Pergerakan ion dari larutan menuju lapisan(film) atau lapisan
perbatasan disekitar padatan/resin
b. Ion melalui perpindahan massa melewati lapisan menuju ke
permukaan padatan/resin
c. Terjadi perpindahan massa menuju pori-pori padatan karena adanya
perbedaan konsentrasi diluar dan didalam resin. Dimana konsentrasi
diluar lebih tinggi dibandingkan didalam
d. Terjadi reaksi pertukaran ion hingga mencapai konsentrasi seimbang
e. Perpindahan massa melewati lapisan cairan atau lapisan perbatasan
disekitar padatan/resin
f. Ion yang telah dipertukarkan terbawa aliran larutan dan meninggalkan
kolom.

Pada proses penukaran ion dikenal dengan istilah backwash. Proses


backwash dilakukan setelah tahap sevice atau pemakaian karena setelah
pemakaian unggun resin akan memadat dan menggumpal. Pemadatan ini
menyebabkan permukaan luas kontak air dengan resin menjadi berkurang
sehingga pertukaran ion menjadi kurang efektif. Tujuan diadakannya proses
backwash antara lain untuk :
1. Menghilangkan kotoran dan gas

45
Kotoran-kotoran ini disebabkan oleh air sadah yang akan dilewatkan
pada resin tidak disaring terlebih dahulu.
2. Memisahkan resin yang menggumpal
Resin yang telah mengalami proses service ketinggiannya akan semakin
berkurang, karena resin akan semakin menggumpal karena tekanan air
dari atas. Hal ini akan semakin mengurangi efisiensi pertukaran ion
karena luas permukaan pertukaran ion pada resin semakin berkurang
karena penggumpalan tersebut.

3. Mengatur ulang kembali resin


Resin yang telah melewati proses backwash akan tersusun kembali
dengan baik.

46
3. PERPINDAHAN MASSA GAS CAIR
1. Teori Transfer Gas
Transfer gas didefinisikan sebagai perpindahan gas dari fase gas ke
fase cair atau sebaliknya. Transfer gas melibatkan terjadinya kontak antara
udara atau gas lain dengan air atau suatu pelarut yang menyebabkan
berpindahnya suatu senyawa dari fase gas ke fase cair atau menguapnya
suatu senyawa dari fase cair(dalam bentuk terlarut) menjadi fase gas ( lepas
ke udara ).
Perpindahan massa zat dari fase gas ke fase cair atau sebaliknya
(absorpsi desorpsi), terjadi bila ada kontak antar permukaan cairan dengan
gas atau udara. Mekanisme ini terjadi secara difusi. Gaya penggerak
perpindahan massa dari udara ke dalam air atau sebaliknya dikendalikan
oleh perbedaan konsentrasi zat dalam larutan dan kelarutan gas pada kondisi
tertentu.

Faktor utama yang mempengaruhi kelarutan gas dalam air adalah:


suhu air, tekanan parsial gas dalam fase gas, konsentrasi padatan terlarut
dalam fase air dan komposisi kimia gas.

Kelarutan gas, tidak seperti kelarutan zat padat dalam air, menurun
seiring dengan kenaikan suhu. Pada tekanan parsial sampai 1 atm,
konsentrasi keseimbangan gas dalam larutan pada suatu suhu tertentu
sebanding dengan tekanan parsial gas dalam air, sesuai dengan hukum
Henry:

Cs = H.P (7.1)

Dimana :
Cs = konsentrasi jenuh atau keseimbangan gas dalam larutan, mg/l
P = Tekanan parsial phase gas dalam air,atm
H = koefisien kelarutan Henry.

47
Jika kita perhatikan dengan seksama persamaan tersebut dapat kita
ketahui bahwa persamaan tersebut merupakan bektuk khusus dari
persamaan kesetimbangan gas. Dimana kesetimbangan gas dipengaruhi oleh
tekanan parsial gas. Sedangkan tekanan parsial gas diperngaruhi oleh faktor
konsentrasi zat serta suhu yang dapat diformulasikan melalui hukum boyle-
charles yaitu:

PV = T

Dimana :
= koefisien massa dari gas
P = tekanan gas
V = volume gas
T = tekanan absolute gas

dalam persamaan tersebut secara umum menyatakan fumgsi


jumlah mol gas yang ada, sehingga persamaan gas ideal dapat ditulis
kembali menjadi :

PV = nRT

Dimana n merupakan jumlah mol zat dan R merupakan konstanta


untuk semua jenis gas.

Hukum Henry merupakan hukum yang penting berkaitan dengan


kelarutan gas dalam air. Hukum Henry juga berkaitan dengan hukum
tekanan gas parsial yang dikemukakan oleh Dalton yang berbunyi pada
campuran gas, seperti udara, setiap jenis gas yang ada memiliki tekanan
yang tidak bergantung terhadap yang lainnya. Tekanan parsial setiap jenis
gas sebanding dengan jumlah (persen volume) gas dalam campuran....

48
Hukum Henry banyak digunakan pada gas-gas yang sering
dijumpai dalam teknik pengolahan air dan air limbah seperti oksigen, metana,
karbondioksida, dan hidrogen sulfida.

Bila permukaan air dipaparkan dengan udara atau gas dan belum
terjadi kesetimbangan sebelumnya, maka secara serentak dan segera pada
bidang kontak antar fase akan jenuh dengan gas dan gas ditransportasikan ke
badan air dengan proses difusi molekuler sebagai berikut :

(7.2)

dimana : mt = Laju perpindahan gas melintas permukaan area bidang kontak

D = koefisien difusi molekuler

c
x = Gradien konsentrasi pada interface.

Model secara fisik dari konsep persamaan 7.2 ditunjukkan dalam Gambar 7.1.
Bulk Gas Well Mixed

(Turbulen area) Interface

Pg
Fixed Gas Film (Laminer area)
Pi Ci=Cs
Fixed Liquid Film (laminer area)
CL

49
(Turbulen area)

Bulk Liquid Well Mixed.


Gambar 7.1 Model transfer gas dua-film

Diasumsikan bahwa tahanan pada perpindahan gas berada dalam


lapisan tetap (fixed film) gas dan cair pada antar bidang (interface) gas -
cair. Perpindahan gas melintasi bidang permukaan lapisan gas menunjukkan
adanya gradien tekanan dalam lapisan gas dan oleh sebab itu tekanan gas
pada bidang permukaan (interface), Pi lebih rendah dari tekanan bulk gas,
Pg. Perpindahan gas terjadi dalam dua langkah (1) perpindahan dari
keseluruhan fase gas dengan tekanan gas (Pg) ke interface, dengan tekanan
parsial gas (Pi), selanjutnya dikonversi ke fase liquid dengan konsentrasi Ci,
(2) Transformasi dalam fase cair ke bulk liquid dengan konsentrasi (CL).
Perpindahan ini dapat terjadi dalam dua arah tergantung pada perbedaan
konsentrasi CL dan Ci. Jika CL > Ci dan Pi > Pg maka terjadi pelepasan gas
dari fase cair ke fase gas.
Laju perpindahan gas melintas bidang permukaan A dinyatakan
dalam persamaan:

(7.3).

Untuk menyatakan massa gas dalam bentuk konsentrasi maka


satuan massa gas dibagi dengan volume cairan yang ada dan disederhanakan
maka diperoleh persamaan :

( 7.4 )

50
Dimana : a = A/V
KL = koefisien transfer dalam fase cair.
KG = koefisien transfer dalam fase gas.
NA = Laju perpindahan massa,

Persamaan (7.4) dapat ditulis dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu:

(7.5)

di mana: KLa = koefisien transfer total, jam-1


Cs = konsentrasi gas jenuh, mg/l
C = konsentrasi gas dalam cairan mg/l

Aerator untuk perpindahan oksigen ditentukan berdasar pada


kapasitas oksigenasinya (OC), yang didefinisikan sebagai laju suplai

oksigen oleh aerator ke dalam air bersih pada kondisi standar (20C, 1 atm).
Oxygenation Capacity (OC) dapat dituliskan:
Nilai KLa dapat ditentukan dalam skala percobaan dengan
melakukan integrasi terhadap persamaan (7.5) diperoleh persamaan garis :
Dari data percobaan dengan konsentrasi awal oksigen Ci dan

51
konsentrasi oksigen dalam interval waktu percobaan Ct, maka dapat diplot
ln(Cs-Ct) Vs t, maka diperoleh garis lurus dengan besarnya sudut arah
(slope) adalah KLa.

2. Aerasi
Aerasi merupakan istilah lain dari transfer gas dengan penyempitan
makna, lebih dikhususkan pada transfer gas (khususnya oksigen) dari fase
gas ke fase cair. Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan oksigen
adalah (1) suhu, (2) kejenuhan oksigen, (3) karakteristik air, dan (4) derajat
turbulensi.

Pengaruh Suhu

Koefisien penyerapan oksigen kLa meningkat seiring dengan


kenaikan suhu, karena suhu dalam air akan mempengaruhi tingkat difusi,
tegangan permukaan dan kekentalan air. Kemampuan difusi oksigen
meningkat dengan peningkatan suhu, sedang tegangan permukaan dan
kekentalan menurun seiring dengan kenaikan suhu. Pengaruh suhu pada
berbagai faktor tersebut dirangkum dalam persamaan dengan koefisien
empiris (f) sbb :

(kl .a)20 = (kl .a)T f (20T ) (7.9)

Nilai f untuk aerasi permukaan umumnya memiliki rentang nilai 1,012


1,047.

52
Kejenuhan Oksigen
Konsentrasi jenuh oksigen dalam air tergantung pada derajat
salinitas air, suhu, dan tekanan parsial oksigen yang berkontak dengan air.
Eckenfelder dan OConnor dalam Benefield dan Randal (1982)
menyarankan bahwa konsentrasi jenuh dapat ditentukan dari persamaan
berikut :

475 2,65S
(C ) = (7.10)
s
760
33,5 +T

dimana :

(Cs)760 = nilai kejenuhan oksigen pada tekanan udara 760 mm Hg, mg/l
S = konsentrasi padatan terlarut dalam air, gram/l
T = suhu, C

Nilai konsentrasi jenuh oksigen pada persamaan (7.10) dapat


dikoreksi untuk tekanan udara barometrik dengan pernyataan:

Pp
C = (C ) (7. 11)
s s 760
760 p

P menyatakan tekanan barometrik dalam mm Hg dan p menyatakan


tekanan jenuh uap air pada suhu air yang diaerasi. Tekanan jenuh uap air
pada berbagai suhu disampaikan pada tabel 7.1.

53
Tabel 7.1 Tekanan Uap Air yang Berkontak dengan Udara

Suhu C Tekanan uap (mm Hg)

0 4,5
5 6,5
10 9,2
15 12,8
20 17,5
25 23,8
30 31,8
Sumber: Benefield L.D & Randall (1982)
Karakteristik Air

Dalam praktek ada perbedaan nilai KLa untuk air bersih dengan KLa
air limbah yang mengandung materi tersuspensi, surfactant (detergen) dalam
larutan dan perbedan temperatur. Faktor-faktor ini juga mempengaruhi nilai
Cs. Pengaruh faktor ini, dikoreksi dengan menggunakan koefisien empirik
() untuk pengaruh padatan tersuspensi dan surfactant dan () untuk
pengaruh perbedaan temperatur.
KLa (air lim bah) (7.12)

= KLa (air bersih)

Cs (air lim bah) (7.13)


= Cs (air bersih)

Nilai tipikal untuk surface aerator berkisar 0,8 1,2 dan nilai berkisar
0,9 1.

54
Derajat Turbulensi
Derajat turbulensi dalam tangki aerasi akan mempengaruhi nilai
sebagai berikut :
1. Turbulensi akan menurunkan derajat tahanan liquid film.
2. Turbulensi akan meningkatkan laju perpindahan masa oksigen karena
terjadi percepatan laju pergantian permukaan bidang kontak, yang
berakibat pada defisit oksigen (driving-force, C ) tetap terjaga konstan.
3. Turbulensi secara langsung akan meningkatkan nilai koefisien
perpindahan oksigen (KLa).

55
3. Stripping
"stripping" merupakan istilah lain dari transfer gas dengan
penyempitan makna, lebih dikhususkan pada transfer gas dari fase cair ke
fase gas.
Jenis peralatan stripping untuk penyisihan ammonia umumnya
adalah menara dengan sistem counter-current antara udara (upflow) dan air
(downflow). Menara dilengkapi dengan kipas , rak untuk mendistribusikan
air, lubang untuk pengeluaran gas, dan sebagainya.

Dasar perancangan ammonia stripping menggunakan persamaan


Henry's sebagai berikut:

pA = m X (7.14)

Dimana :

56
Tabel 7.2 Tekanan Parsial Ammonia
Suhu, oC Tekanan parsial ammonia, X
pA (mmHg) (gr NH3/106 gr air)
0 0,0112 50
10 0,0189 50
20 0,0300 50
25 0,0370 50
30 0,0479 50
40 0,0770 50
50 0,1110 50
Sumber: Qasim et al. (2000)

Kadar ammonia setimbang dalam campuran udara dinyatakan


sebagai ratio massa atau berat, dihubungkan dengan tekanan parsial sebagai
berikut:

dalam hal ini:

Y* = ratio massa atau berat ammonia


Pt = tekanan total atmosfer, mmHg
pA = tekanan parsial ammonia,
mmHg

MA = merat molekul ammonia, 17 gr/gr mol

Mudara = berat molekul udara, 29 gr/gr mol

57
4. Absorbsi
Absorbsi adalah operasi penyerapan komponen-komponen yang
terdapat di dalam gas dengan menggunakan cairan, sehingga tingkat
absorbsi gas akan sebanding dengan daya kelarutan gas tersebut dalam
cairan. Proses ini melibatkan difusi molekuler dan turbulen atau perpindahan
massa solute A melalui gas B diam menembus cairan C diam. Peristiwa ini
mengikuti prinsip kecenderungan kelarutan solute A di dalam cairan
(pelarut). Tujuan dari proses absorbsi adalah :
1) Untuk mendapatkan senyawa yang bernilai tinggi dari campuran gas
atau uap.
2) Untuk mengeluarkan senyawa yang tidak diinginkan dari produk.
3) Pembentukan persenyawaan kimia dari absorben dengan salah satu
senyawa dalam campuran gas.
Bila gas dikontakkan dengan zat cair, maka sejumlah molekul gas
akan meresap dalam zat cair dan juga terjadi sebaliknya, sejumlah molekul
gas meninggalkan zat cair yang melarutkannya. Dengan bertambahnya
waktu, pada suatu ketika akan terjadi dimana kecepatan pelarutan gas sama
besar dengan kecepatan pelepasan gas. Keadaan ini disebut keadaan
setimbang. Tekanan yang diukur pada keadaan ini juga disebut tekanan
setimbang pada temperature tertentu.
Zat cair yang masuk bisa berupa pelarut murni atau larutan encer
zat terlarut di dalam pelarut didistribusikan di atas isian itu dengan
distributor, sehingga pada operasi yang ideal, membasahi permukaan isian
itu secara seragam.
Beberapa hal yang mempengaruhi absorbsi gas ke dalam cairan :
1. Temperature operasi.
2. Tekanan operasi.
3. Konsentrasi komponen di dalam cairan.
4. konsentrasi komponen di dalam aliran gas.
5. Luas bidang kontak.
6. Lama waktu kontak.

58
Beberapa jenis menara absorbsi :
a) Menara absorbsi dengan benda isi (packing column).
Alat ini memakai metoda pengabsorpsian gas yang paling umum.
Alat ini mirip dengan alat yang dipergunakan untuk distilasi atau eksraksi
pelarut dan dapat dipaking dengan cincin Raschig, pelana Berl atau tipe-tipe
paking lainnya. Paking disini gunanya untuk memperbesar permukaan
kontak dengan jala penyebaran zat cair dan penyebaran gas. Cairan
disemprotkan ke bagian puncak kolom dan secara vertical ke bawah akan
bertemu dengan aliran gas-gas yang berlawanan arah yang melalui kolom
tersebut. Cairan yang berisi gas-gas terlarut akan meninggalkan dasar
kolom dan gas yang tak larut akan keluar melalui puncak kolom. Cairan
tersebut dapat dipergunakan kembali (recycle) seperti proses semula sampai
tidak terdapat lagi gas atau gas-gas terlarutnya dihilangkan dan cairan dapat
digunakan kembali.

b) Menara absorbsi dengan pelat atau piringan.


Bentuk dari pelat/piringan ayak atau piring berlubang (sieve tray)
dan pelat golakan (bubble cup). Pelat ayakan terdiri dari pelat yang
berlobang yang dipasang horizontal dalam kolom dengan diameter lobang
berkisar sekitar 6-25 mm, sedangkan pada sisi tepian diberi tepian limpahan.
Zat cair mengalir melalui tepian ke dalam ruang limpahan, zat cair dari atas
mengalir ke bawah dengan gravitasi dengan pola berliku-liku melalui pelat.
Gas mengalir naik ke atas melalui lubang yang ada pada piring (perforasi)
dan kontak dengan cairan membentuk gelembung-gelembung gas yang
kecil-kecil.
Pelat golakan (bubble cup) berupa lubang-lubang bulat dengan
ditambahkan cup dan aluran atau cerebong kecil diatasnya. Gas yang akan
diabsorpsi mengalir lewat lubang dan cerobong dan berkontak dengan
cairan.

59
c) Menara absorbsi dengan penyemprot.
Tipe ini berukuran pendek berupa menara yang tidak dilengkapi
dengan paking. Ke dalam menara ini cairan diisikan dari puncak berupa
semprotan yang sangat halus. Proses penyemprotan ini dilakukan untuk
memperbanyak luasmukaan dengan bantuan penyemprotan. Pembagian zat
cair ini diatur agar menjadi percikan kecil yang banyak.

d) Pembersih Pancar (Jet Scrubber)


Cairan pengabsorpsi ditarik oleh gaya tekan melalui pipa dan
masuk ke dalam lubang. Kemudian cairan disemprotkan ke ruangan dimana
gas-gas yang terdapat diserap dan diisap.

Pada absorbsi sendiri ada dua macam proses yaitu :


a. Absorbsi fisik
Absorbsi fisik merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan
penyerap tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah
absorbsi gas H2S dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan
terjadi karena adanya interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan
gas ke fase cair
b. Absorbsi kimia
Absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut didalam larutan
penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah
absorbsi dengan adanya larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya.
Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas
CO2 pada pabrik amoniak. Penggunaan absorbsi kimia pada fase kering
sering digunakan untuk mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna
dari campuran gasnya. Keuntungan absorbsi kimia adalah meningkatnya
koefisien perpindahan massa gas, sebagian dari perubahan ini disebabkan
makin besarnya luas efektif permukaan. Absorbsi kimia dapat juga
berlangsung di daerah yang hampir stagnan disamping penangkapan
dinamik.

60
5. Operasi dan Peralatan Transfer Gas
Peralatan untuk perpindahan massa dari fase gas ke fase cair atau
sebaliknya dapat dibedakan dalam beberapa jenis sesuai dengan sifat
operasinya, yaitu:
(1) Gravitasi / jatuhan
Peristiwa perpindahan massa dari cair ke gas dengan menggunakan
prinsip gravitasi, contohnya pada alat packing column.
(2) Semprotan
Peristiwa perpindahan massa dari cair ke gas yang dilakukan dengan
cara menyemprotkan suatu cairan yang akan dikontakkan ke dalam
suatu ruang yang berisi gas, lalu gas tersebut akan terdifusi ke dalam
cairan. Hal ini dapat dilihat pada alat spray column.
(3) Diffuser
Merupakan alat sirkulasi yang dapat memberikan pengaruh suhu udara
di dalam ruangan tersebar secara merata, dan terjadi perpindahan massa
dari fase cair ke fase gas. Contohnya adalah humidifier.

61
5.Humidifikasi

Dalam pemrosesan bahan sering diperlukan untuk menentukan uap


air dalam aliran gas. Operasi ini dikenal sebagai proses humidifikasi.
Dalam humidifikasi, kadar dapat ditingkatkan dengan melewatkan aliran
gas di atas cairan yang kemudian akan menguap ke dalam aliran gas.
Perpindahan ke aliran utama berlangsung dengan cara difusi dan
pada perbatasan (interface) perpindahan panas dan massa yang
berlangsung terus menerus.
Arah aliran proses humidifikasi tergantung dari cara mengatur
valve yang ada. Gas yang masuk mengalir pada pipa orifice mempunyai
beda tekanan tertentu.
Proses humidifikasi, merupakan suatu proses yang dapat menambah
kadar air dalam gas. Dalam prosesnya ada dua cara yaitu dengan
pemanasan dan tanpa pemanasan. Arah aliran kedua proses tersebut
berbeda tergantung bagaimana kita dapat mengatur buka tutupnya valve.
Pada proses ini, gas dikontakan dengan air yang berada di dalam labu
secara counter current dimana air mengalir dari atas dan gas/udara
menngalir ke atas dari bawah, dengan laju alir sirkulasi air tertentu. Data
yang diambil adalah suhu gas masuk (Td in dan Tw in), suhu gas keluar (
Td out dan Tw out), dan beda tekanan di dalam labu.
Istilah dalam proses humidifikasi
1. Kelembaban yaitu massa uap yang dibawa oleh satu satuan massa gas
bebas uap, karena itu humidity hanya bergantung pada tekanan bagian
uap di dalam campuran bila tekanan total tetap.
2. Suhu bola basah yaitu suhu pada keadaan tunak dan tidak
berkesetimbangan yang dicapai bila suatu massa kecil dari zat cair
dikontakkan dalam keadaan adiatik di dalam arus gas yang kontinue.
3. Kelembaban jenuh yaitu udara dalam uap air yang berkesetimbangan
dengan air pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam campuran ini,

62
tekanan parsial uap air dalam campuran udara-air adalah sama tekanan
uap air murni pada temperatur terntentu.
4. Kelembaban relatif yaitu ratio antara tekanan bagian dan tekanan uap
zat cair pada suhu gas. Besaran ini dinyatakan dalam persen (%)
sehingga kelembaban 100% berarti gas jenuh sedang kelembaban 0%
berarti gas bebas uap.
5. Kalor lembab yaitu energi kalor yang diperlukan untuk menaikkan
suhu satu satuan massa beserta uap yang dikandungnya sebesar satu
derajat satuan suhu.
6. Entalpi lembab adalah entalpi satu satuan massa gas ditambah uap
yang terkandung di dalamnya.
7. Volume lembab adalah volume total stu satuan massa bebas uap
beserta uap yang dikandungnya pada tekanan 1 atm.
8. Titik embun campuran udara-uap air adalah temperatur pada saat gas
telah jenuh oleh uap air.

Ada beberapa jenis pelembab udara yaitu:


1. Vaporizer (uap humidifier)

Salah satu jenis evaporative humidifier memanfaatkan


hanya reservoir dan sumbu. Kadang-kadang disebut humidifier alami, ini
biasanya non-komersial, perangkatnya yang dapat dirakit atau tanpa
biaya. Salah satu versi dari humidifier alami menggunakan mangkuk
stainless steel, sebagian diisi dengan air, ditutupi oleh handuk. Berat A
digunakan untuk wastafel handuk di tengah mangkuk. Tidak perlu untuk
kipas angin sebagai air menyebar melalui handuk dengan aksi kapiler dan
luas permukaan handuk cukup besar untuk menyediakan penguapan
cepat. Mangkuk stainless steel jauh lebih mudah dan bersih dari tangki air
humidifier. Hal ini, kombinasi untuk setiap hari penggantian handuk, dapat
menghilangkan masalah dengan jamur dan bakteri.

63
Sebuah humidifier untuk melembabkan sel bahan bakar terdiri dari
humidifier sisi anoda dan katoda sisi humidifier masing-masing memiliki
sejumlah modul membran serat berongga untuk migrasi kelembaban antara
pasokan gas yang dipasok ke sel bahan bakar, dan gas buang, yang
kelelahan dari sel bahan bakar untuk melembabkan sehingga pasokan gas,
yang humidifier terdiri dari sepasang kepala yang memegang kedua ujung
modul membran serat berongga, anggota menghubungkan yang
menghubungkan masing-masing kepala, dan perangkat untuk pemanasan
pasokan gas terdiri dari saluran melalui mana media pendinginan
kelelahan dari sel bahan bakar dilewatkan. Perangkat untuk pemanasan gas
pasokan dikonfigurasi sehingga menghangatkan humidifier pada sisi outlet
dari pasokan gas, dan kemudian menghangatkan humidifier pada sisi inlet
dari pasokan gas.

Sebuah perangkat CPAP meliputi humidifier termasuk bak


humidifier memiliki panas melakukan plat dasar, dan cradle untuk
mendukung bak humidifier dalam posisi operasi. Cradle juga dapat
mendukung generator aliran dalam kaitannya operasi ke bak
humidifier. Cradle termasuk piring pemanas dalam komunikasi dengan
panas melakukan base plate dari bak humidifier digunakan. Cradle
selanjutnya meliputi mekanisme penahan untuk mempertahankan bak
humidifier dalam buaian, mekanisme mempertahankan yang terstruktur
untuk memaksa pelat dasar menjadi keterlibatan dengan pelat
pemanas. Generator humidifier dan / atau aliran dapat mencakup berbagai
fitur untuk mengelola kembali spill air dari humidifier ke generator
mengalir.

2. Impeller humidifier
Sebuah disk berputar air pada diffuser, yang memecah air menjadi
tetesan halus yang melayang ke udara.

64
3. Ultrasonic humidifier
Sebuah diafragma logam yang bergetar pada frekuensi
ultrasonik menciptakan tetesan air yang perlahan-lahan keluar humidifier
dalam bentuk kabut dingin. Humidifier ultrasonik menggunakan transduser
piezo-listrik untuk menciptakan mekanik osilasi frekuensi tinggi dalam
air. Air tersebut mencoba untuk mengikuti osilasi frekuensi tinggi tetapi
tidak bisa karena berat komparatif dan inersia massa. Dengan demikian,
kekosongan sesaat dibuat pada osilasi negatif, menyebabkan air untuk
menjadi uap. Transduser mengikuti kekosongan sesaat dengan osilasi
positif yang menciptakan gelombang tekanan kompresi yang tinggi di
permukaan air, melepaskan molekul-molekul uap kecil air ke udara. Ini
adalah kabut sangat halus, sekitar satu mikrometer diameternya, yang
dengan cepat diserap ke dalam aliran udara. Berbeda dengan humidifier
bahwa air mendidih, air tetesan ini mengandung kotoran yang berada di
reservoir, termasuk mineral dari air keras (yang kemudian sulit untuk
menghilangkan debu putih pada benda-benda terdekat dan furnitur), dan
patogen tumbuh di tangki stagnan. Humidifier ultrasonik harus dibersihkan
secara teratur untuk menghindari kontaminasi bakteri yang dapat
diproyeksikan ke udara.

Impeller dan ultrasonik humidifier tidak selektif menaruh air di


udara, mereka juga menambahkan materi tersuspensi dalam air ke udara
seperti mikroorganisme dan mineral. Jumlah mineral dan bahan lainnya
dapat sangat dikurangi dengan menggunakan air suling, meskipun tidak
ada air yang benar-benar murni.

Pada proses humidifikasi yaitu proses penambahan kandungan air


dalam udara dilakukan dalam dua proses yaitu dengan dan tanpa
pemanasan. Dengan bertambahnya jumlah aliran air yang dikontakkan
dengan udara proses maka akan meningkatkan kandungan air dalam udara
sampai mencapai kondisi jenuh. Pada proses humidifikasi dengan
pemanasan jumlah kandungan air yang diserap oleh udara makin besar. Ini

65
disebabkan karena dengan pemanasan maka temperatur udara akan naik
sementara kelembaban relatifnya menjadi turun sehingga kemampuan
udara di dalam menangkap air lebih besar bila dibandingkan dengan yang
tanpa pemanasan.
Contoh aplikasi humidifier pada industri kimia adalah pengeringan
gas dan menara pendingin (cooling tower).
1. Proses Pengeringan Gas
Cairan dan uap yang di kandung oleh gas alam yang di
produksikan dari reservoir harus di pisahkan agar memenuhi syarat
lebih kecil dari 2 4 lb/MMSCF.
Jika produksi gas kandungan airnya lebih besar dari syarat maka
harus di lakukan proses lebih dahulu sebelum di jual, di bakar
sebagai bahan bakar dan di kirim ke konsumen, tujuan proses ini
adalah :
1. Mencegah terjadinya hydrate dalam pipa transmisi.
2. Menyesuaikan syarat kontrak yang telah di tetapkan.
3. Mencegah korosi dan
4. Mencegah terjadinya pembekuan pada proses pendinginan.
Dehydration adalah adalah proses pengolahan gas alam untuk
mengurangi dan mengeluarkan kandungan air.
Teknik dehydration tediri dari :
1. Absortion menggunakan liquid desiccant (desikan cair)
2. Adsorption menggunakan solid desiccant (desikan padat)
3. Dehydration dengan menggunakan pendingin.

2. Cooling Tower
Cooling tower adalah suatu alat yang dipergunakan untuk
memindahkan sejumlah panas dari suatu fluida ke fluida yang lain.
Cooling tower ini beroperasi menurut prinsip difusi, dimana adanya
perubahan temperatur dapat mengakibatkan perbedaan besarnya laju

66
perpindahan massa yang terjadi. Besarnya laju perpindahan massa
dipengaruhi oleh luas daerah kontak antara fluida panas dan fluida dingin.
Didalam industri kimia, cooling tower banyak sekali digunakan
untuk mendinginkan air, air digunakan sebagai fluida dingin pada proses
dengan udara, sehingga air tersebut dapat dipergunakan kembali pada
proses berikutnya. Pada operasi cooling tower tersebut bukan hanya panas
laten saja diperhatikan , tetapi juga panas sensibel. Bial terjadi kontak
antara air panas dan air dingin, maka udara akan mendinginkan air
sehingga temperatur udara meningkat, hal demikian menyebabkan
timbulnya panas sensibel dari air sekitar 15% dari panas sensibel yang
berpindah ke menara. Selama operasi tersebut ada air yang hilang. Uap air
melalui cooling tower dan keluar atmosfer. Untuk operasi normal yang
hilang mendekati 0,2 % dari jumlah volume air yang disirkulasikan pada
setiap range pendingin 10. Kurang lebih 1 % setiap perbedaan temperatur
12 dalam 1000 btu/lb air yang diuapkan.
Macam Macam Cooling Tower

Cooling tower terbagi beberapa macam antara lain:

1. Berdasarkan arah aliran udara masuk


a. Cross flow
b. Counter current flow
2. Berdasarkan cara pemakaian alat bantu seperti fan atau blower
a. Induced draft, yaitu alat bantu berada dibagian puncak tower
b. Force draft, yaitu alat bantu berada dibagian bawah tower
3. Berdasarkan kondisi aliran udara bebas tanpa alat pembantu
a. Atmosphere (udara pada kondisi atmosphereric mengalir bebas
tanpa memakai penutup tower)
b. Natural draft (udara mengalir dalam udara pendinginan dari
tower namun kondisi udara belum tentu atmospheric)
c. Mechanical Draft (menggunakan fan untuk sirkulasi udara)

67
Tipe Tipe Dasar Cooling Tower
Tipe-tipe dasar cooling tower secara garis besar dapat dibagi menjadi
2 bagian besar yaitu :
1. Evaporasi Cooling Tower atau Wet Cooling Tower
Transfer panas dari hot water menjadi cool water menggunakan
proses transfer panas lewat evaporasi. Tiga perbedaan mendasar pada
desain evaporasi cooling tower yaitu:
a. Atmospherics Cooling Tower
b. Natural Draft Cooling Tower
c. Mechanical Draft Cooling Tower
Pada evaporasi cooling tower (ECT) panas yang dibuang berada
pada keadaan atmosfer dibawa oleh sirkulasi cooling water dan terjadi
kontak dengan udara. Pendinginan lebih baik dari pada evaporasi karena
sedikit porsi atau persediaan air yang dapat menyebabkan perpindahan
panas (PP) dari air keudara, air dipanaskan dalam kondensor steam
kemudian dipompa untuk didistribusikan ketower bagian atas. Dan air
yang dijatuhkan dengan grafitasi dengan aliran fill tower sebagai aliran
udara pada seksi fill. Kesimpulannya dalam cooling dari air pada ambient
wet bulb, temperature dan perpindahan panas latent ke udara, yang terjadi
pada keadaan saturasi.
Proses pendinginan pada proses evaporasi, air panas dibawa masuk
dan langsung kontak dengan air pendingin. Ketika air masuk cooling
tower, yamg mengandung kelembaban yang biasanya dibawah saturasi
yang muncul tiba-tiba pada temperature tinggi dan dengan kandungan
kelembaban atau mendekati saturasi. Pendinginan secara evaporasi terjadi
ketika air masuk berupa saturated karena seperti temperature air yang
meningkat dalam proses panas sensible absorbsi air, juga peningkatan
kapasitas air yang dibawa dan evaporasi dilanjutkan. Perhitungan proses
evaporasi antara 65%-75% dari total transfer panas, sisanya ditransfer
proses transfer panas sensible.

68
Dari ketiga tipe dari cooling tower sebagai tempat panas mempunyai
termal efisien yang paling besar tapi konsumsi airnya paling banyak dan
mempunyai visible vapor volume yang besar ketika modul mechanical
draft cooling tower disusun dalam sebuah jajaran, dapat terjadi ground
fogging. Ini bisa diperkecil dengan menggunakan natural draft tower dan
dapat direduksi dengan modularized mechanical draft tower ketika disusun
dalam circular fashion.
2. Non evaporative Cooling Tower atau Dry Cooling Tower
Transfer panas dari hot water menjadi cold water menggunakan
transfer panas sensible. Terdapat 3 jenis dessain untuk tipe non
evaporative cooling tower :
a. Air Cooled Tower Cndenser
Air cooled condensers digunakan sebagai air cooled steam surface
condensers untuk mentransfer panas yang ditolak dari cycle ke
atmospherics cooling air.
b. Air Cooled Heat Exchanger Cooling Air Flow.
Air Cooled Heat Exchanger digunakn sebagi air cooled heat
exchanger dimana panas ditrasfer dari air cooled condenser atau air cooled
heat exchanger dengan konveksi sebagai panas sensible.
c. Wet-Dry Cooling Tower
Cooling Air flow dibagi dua tipe, yaitu;
1. Tipe direct condencing
2. Tipe Heat Exchanger
Pada proses nonevaporasi air panas dipisahkan dari udara dingin
dengan means of thin metals walls, biasanya tubenya circular cross section
tapi kadang elliptical cross section. Karena laju transfer panas yang rendah
dari permungkaan pada udara pada tekanan atm, dibuat sisi udara dengan
permungkaan yang panjang dengan fin dalam beragam geometri.
Perpindahan panas pada permungkaan biasanya melewati dua atau lebih
dalam sisi air dan single pass, cross flow dalam sisi udara.

69
Perpindahan panas sensible melewati tube dan dari permukaan yang
panjang dan responsible untuk semua panas yang diberikan oleh air dan
akan diabsorbsi oleh udara pendingin. Temperatur air akan turun dan
temperature udara akan meningkat. Nonevaporative cooling tower dapat
digunakan sebagai air cooled vapor condenser dan biasanya dikerjakan
sebagai condensing steam. Steam dikondensat didalam tube pada
temperature konstan, memberikan panas vaporasi laten untuk udara
pendingin yang kemudian akan menaikkan temperature. Limit teoritis
untuk pendinginan adalah temperature udara masuk. Dry cooling tower
(nonevaporasi) menggunakan heat exchanger dengan permungkaan yang
panjang untuk panas yang ditolak keatmosfer dengan fluida sirkulasi juga
aliran udara ambient diatas tube luar dan permungkaan yang panjang
meningkatkan transfer panas konveksi sebagai hasil dari peningkatan
kontak area.
Gabungan dari dua tipe dasar diatas dengan dua proses pendinginan
yang digunakan secara paralel atau terpisah. Jika udara kering pada
temperatur konstan dijenuhkan dengan air pada temperatur yang sama
dalam suatu peralatan kontak langsung. Uap air akan masuk keudara
dengan membawa panas latentnya. Humiditas campuran udara-uap air
akan meningkat selama penjenuhan, karena tekanan uap dari air yang
berpindah dari lingkungan air lebih besar dari tekanan uapnya dalam udara
tak jenuh sehingga penguapan dapat terjadi. Dan bila tekanan uap dari air
diudara sama dengan cairannya, maka penguapan akan
terhenti.perpindahan material dan perbedaan teklanan uap (beda
konsentrasi) disebut difusi.
2.1. Fungsi Cooling Tower
Cooling tower sangat dibutuhkan oleh industri sebab cooling tower
merupakan bagian dari utilitas yang banyak digunakan. Dimana cooling
tower memproses air yang panas menjadi air yang dingin yang digunakan
kembali yang bisa dirotasikan. Cooling tower salah satu alat yang juga
mengolah air untuk mengatasi masalah polusi lingkungan.

70
2.2. Persyaratan Proses Cooling Tower
Umumnya batasan operasi cooling tower adalah pada suhu 120 oF.
Temperatur air keluar biasanya lebih rendah dari 120 oF. Pada saat
temperatur air proses melebihi 120 oF perlu dilakukan tahapan evaporasi
dengan menggunakan cooler sehingga tidak terjadi kontak langsung antar
air panas dan udara.

Temperatur air terendah yang mungkin didinginkan didalam cooling


tower tergantung pada wet bulb temperatur udara, tetapi ini bukanlah
batasan mutlak karena tekanan uap keluar dan wet bulb temperatur dalam
cooling tower disebut Approach.

2.3. Packing Cooling Tower


Jenis bahan isian atau packing pada cooling tower biasanya khusus,
seperti kayu sipres yang mempunyai daya tahan aksi gabungan air dan
angin. Pengisian packing pada cooling tower harus memenuhi karakteristik
sebagai berikut:

1. Permukaan interfacial antara fuida yang akan didinginkan dengan


fluida yang mendinginkan besar.

2. Memiliki karakteristik aliran fluida yang didinginkan pada


packing harus terjadi pertukaran volume fluida yang besar melalui cross
section tower yang kecil tanpa loading/ fleeding dan presure drop yang
rendah untuk gas.

3. Zat inert fluida dapat diproses secara kimia.

4. Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam


penangan dan instalasi.

5. Biayanya murah.

2.4. Operasi Cooling Tower


Sistem operasi cooling tower berdasarkan pada penguapan dan
perubahan panas sensibel, dimana campuran dua fluida pada temperatur
yang berbeda (air dan udara) akan melepaskan panas latent penguapan

71
yang menyebabkan efek pendinginan ke fluida yang lebih panas dalam
dalam kasus ini adalah air. Efek pendinginan ini dicapai dengan merubah
sebagian cairan ke dalam uap dengan melepaskan panas latent penguapan.
Selain itu, panas sensibel juga berperan ketika air panas yang dilewatkan
kontak dengan aliran udara dingin yang masuk, sehingga udara kan
mendinginkan air dan temperaturnya akan meningkat sesuai dengan
jumlah panas sensibel air yang diperolehnya.
Selama proses terjadi penghilangan air, dimana uap air yang lewat
cooling tower akan dilepaskan ke atmosfer. Untuk kondisi normal, air
yang hilang kira-kira 0,2% dari volume total air yang disirkulasikan untuk
setiap 10o range pendinginan dan 1,0 % untuk 12o beda temperatur dalam
area 1000 btu/lb air yang menguap.
Prinsip perpindahan panas yang terlibat dalam yaitu
evaporasi/penguapan dan konveksi. Laju peprpindahan panas dari
keduanya akan meningkat sebanding dengan peningkatan luas permukaan
kontak udara-air, kecepatan relatif, waktu kontak dan temperatur
differensial. Sebelum cooling tower diaktifkan, beberapa hal yang harus
diperhatikan :
1. Sistem distribusinya harus bersih dan lubang-lubangnya harus
sudah terpasang
2. Valve untuk basin tempat penambahan air beroperasi secara
bebas

Penerapan yang nyata dari operasi ini adalah dengan cooling tower.
Biasanya cooling tower ini menyerupai kotak kayu, dimana alat ini
mengontakkan air panas sisa dari proses pendingin ke udara sehingga
terjadi proses pendinginan air. Fungsi kayu yang ada pada bagian cooling
tower adalah untuk memperluas wilayah pertemuan antara air dan udara.
Suatu cooling tower biasanya dapat menekan kebutuhan akan cooling
water sebanyak 98 % walau ada juga resiko terkontaminasi yang
disebabkan oleh penjenuhan air oleh uap air.

72
Pada cooling tower udara dingin dari atmosfer dilewatkan ke
bagian bawah cooling tower dan terjadi panas antara air panas dengan
udara dingin. Bila zat cair panas dikontakkan kepada gas tak jenuh,
sebagian dari zat cair tersebut akan menguap dan suhu zat cair menjadi
turun. Pendinginan air dalam jumlah besar dilakukan dalam kolam-kolam
semprot (Spray Pond).

Kita telah tahu bahwa tujuan dari dibuatnya cooling tower atau
menara pendingin adalah untuk mensirkulasikan air pendingin dengan cara
mendinginkan air itu dan menggunakannya kembali secara berulang-ulang.
Air panas yang biasanya berasal dari kondensor atau unit perpindahan
panas lainnya dimasukkan melalui puncak menara (top tower) dan di
distribusikan ke dalam plat-plat melalui metode cascade kebawah
dilengkapi dengan Slat Grating untuk memberikan luas permukaan yang
besar untuk kontak udara dan air.
Pada prinsipnya cooling tower atau menara pendingin adalah jenis
bahan isian yang khusus yaitu kayu sipres yang mempunyai daya tahan
aksi gabungan air dan angin. Dalam menara itu sebian air menguap ke
udara dan kalor sensibel berpindah dari air panas ke udara yang lebih
dingin. Kedua proses itulah yang mengakibatkan turunnya air dingin dan
untuk menjaga keseimbangan air dingin kita hanya perlu menambahkan air
untuk menggantikan air yang hilang karena penguapan atau angin. Air
panas dialirkan berlawanan arah dengan media pendingin yaitu udara.
Udara di alirkan dari bawah cooling tower, sedangkan air di alirkan dari
atas cooling tower. Perpindahan panas yang terjadi adalah panas sensibel
dari air yang panas ke udara yang lebih dingin yang mengakibatkan
turunnya temperatur air. Proses perpindahan panas yang terjadi antara
panas yang dibawa oleh air dan panas yang dibawa udara agar dapat
menguapkan kandungan uap air dari fasa air. Semakin banyaknya kontak
antara air dengan udara maka akan semakin besar nilai humidity. Bila
semakin besar kontaknya maka akan semakin banyak terjadinya
perpindahan panas maupun massa. Cara memperbesar kontak antara air

73
dengan udara yaitu dengan menambah sekat-sekat pada cooling tower.
Sedangkan untuk perpindahan massa terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi. Di mana saat pertama kali udara yang masuk bersifat tidak
jenuh dan saat keluar dari atas cooling tower, udara akan jenuh yang
memiliki cukup banyak kandungan uap air.

74
4.PERPINDAHAN MASSA FASE GAS-PADAT

- Proses Sublimasi
1. Pengertian Sublimasi
Sublimasi adalah perubahan
wujud zat dari padat ke gas
atau dari gas ke padat. Bila
partikel penyusun suatu zat
padat diberikan kenaikan suhu
melalui pemanasan, maka partikel tersebut akan berubah fasa [wujud] menjadi
gas. Sebaliknya, bila suhu gas tersebut diturunkan dengan cara kondensasi, maka
gas akan segera berubah menjadi padat. Pada dasarnya sublimasi diterapkan untuk
memisahkan suatu zat dari pengotornya [impurities] sehingga diperoleh zat yang
lebih murni, kotoran biasanya akan tertinggal dalam wadah akibat ketidak
mampuannya dalam menyublim. Syarat pemisahan campuran dengan
menggunkan sublimasi adalah partikel yang bercampur harus memiliki perbedaan
titik didih yang besar, sehingga dapat menghasilkan uap dengan tingkat
kemurnian yang tinggi.Sublimasi juga diartikan sebagai proses perubahan zat dari
fasa padat menjadi uap, kemudian uap tersebut dikondensasi langsung menjadi
padat tanpa melalui fasa cair (fase antara).

2. Prinsip Kerja Sublimasi


Prinsip kerja sublimasi secara umum [dalam skala industri] adalah
memisahkan zat yang mudah menyublim tersebut dengan sebuah sublimator
sehingga menjadi gas/uap. Gas yang dihasilkan ditampung, lalu
didinginkan/dikondensasi kembali. Sedangkan cara kerja sublimasi secara
sederhana [dalam skala laboratorium] adalah zat yang akan disublimasi
dimasukkan dalam cawan/gelas piala untuk keperluar sublimasi, ditutup dengan
gelas arloji , corong/labu berisi air sebagai pendingin , kemudian di panaskan
dengan api kecil pelan-pelan. Zat padat akan menyublim berubah menjadi uap,
sedangkan zat penyampur tetap padat. Uap yang terbentuk karena adanya proses

75
pendinginan berubah lagi menjadi padat yang menempel pada dinding alat
pendingin. Bila sudah tidak ada lagi zat yang menyublim , dihentikan proses
pemanasan dan di biarkan dingin supaya uap yang terbentuk menyublim semua,
kemudian zat yang terbentuk dikumpulkan untuk diperiksa kemurniannya. Bila
kurang murni proses sublimasi dapat diulang sampai didapatkan zat yang murni.

3. Proses Sublimasi
Diklasifikasikan menjadi 2, yaitu proses sublimasi buatan dan secara alami,
antaralain:
A. Proses Sublimasi Buatan
Merupakan proses sublimasi yang terjadi secara sengaja/paksa, proses ini
dapat terjadi pada skala industri dan skala laboratorium.
Berikut ini merupakan langkah retorika proses sublimasi iodin pada skala
laboratorium :
Prinsipnya : Iodin diubah menjadi gas dengan cara memanaskan campuran
bersama kotoran. Setelah iodin berubah menjadi gas, gas akan terperangkap di
dalam beaker gelas yang atasnya telah ditutup dengan labu didih sehingga gas
iodin tidak keluar. Untuk mengubah wujud iodin yang berupa gas menjadi padat
kembali secara cepat, diperlukan proses pendinginan [kondensasi]. Pendinginan
pada percobaan tersebut dilakukan dengan meletakkan beberapa potong es
batu/air dingin di dalam labu didih. Hasil dari percobaan tersebut adalah adanya
kapur barus yang menempel di bagian bawah labu didih yang berbentuk kerak.
Pada akhirnya kotoran [impurities] akan tertinggal di dasar beaker glass karena
tidak dapat menyublim.
Alat & Bahan :
Beaker glass
Cawan porselein beserta mortir
labu didih berleher
Kaki tiga dan kassa
Pembakar Bunsen

76
Campuran kristal iodin yang telah ditumbuk dengan pasir/karbon aktif
es batu/air dingin

Prosedur :
1. Gerus/tumbuk iodin [kuantitas bahan sesuai keinginan kita sendiri] sampai
halus untuk memperoleh luas permukaan yang besar sehingga proses
perubahan fasa berjalan lebih cepat
2. Tambahkan zat pengotor seperti pasir maupun karbon aktif.
3. Masukkan ke dalam beaker glass lalu tutup bagian atasnya dengan cawan
porselein atau labu didih yang didalamnya telah dilengkapi dengan batu es
atau air dingin.
4. Susun alat dan bahan tersebut seperti pada gambar di bawah ini, nyalakan
pembakar bunsen

5. Biarkan sampai semua iodin yang ada di dalam campuran menguap. Setelah
itu matikan pembakar bunsen.
6. Amati yang terjadi pada labu didih. Akan terbentuk kerak yang menempel
pada bagian bawah labu didih seperti di bawah ini.

77
Keterangan :
Hati-hati saat mengambil kerak iodin, karena uap
berwarna ungu dari iodin yang menerobos keluar
dapat menimbulkan keracunan dan iritasi
pernafasan bila terhirup.

B. Proses Sublimasi Secara Alami


Merupakan proses sublimasi yang terjadi
secara natural [alami] akibat dari proses alam itu
sendiri. Misalnya sublimasi belerang yang terjadi
pada kawah-kawah gunung berapi. Contohnya
yakni pada kawah Gunung Ijen (ketinggian 2.386 m), Kecamatan Licin, Sempol,
Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Jawa Timur. Kawah ini selalu melepaskan
gas vulkanik dengan konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas yang kadang
menyengat. Belerang tersebut dihasilkan dari hasil sublimasi gas-gas belerang
yang terdapat dalam asap solfatara [asap yang berasal dari kawah] yang bersuhu
sekitar 200 C. ketika asap tersebut menuju atmosfer maka udara dingin di
pegunungan akan mengkondensasi secara alami gas yang mengandung belerang.

Selanjutnya belerang yang telah padat


akan menumpuk di tanah lalu terkubur
secara alami membentuk deposit
[endapan] yang dapat berupa batuan padat. Kemudian akibat adanya erosi [misal

78
karena hujan dan angin] maka batuan belerang ini dapat muncul separuh bagian
maupun seluruhnya dengan wujud visual batuan padat kasar berwarna kuning
pucat. Biasanya deposit belerang ini dimanfaatkan oleh penambang lokal maupun
industri terdekat [misalnya industri karet] melalui penggalian secara langsung.
Contoh : Proses sublimasi pada sulfur dari alam
Sulfur yang terdapat di alam dapat di proses menggunakan proses frasch ,
yaitu dengan mengalirkan pipa ke dalam tanah yang mengandung sulfur
kemudian di alirkan uap panas sehingga sulfur tersebut mencapai titik
didihnya dan menguap. Ketika telah sampai ke permukaan tanah campuran
sulfur air udara yang ada segera di pompakan ke dalam tangki besar
yang merupakan tempat pendinginan dan cairan kristal sulfur yang
berwarna ungu akan berubah menjadi padatan sulfur kuning.
Kemudian dilakukan pemisahan dinding penopang padatan ( tangki) dan
dengan menggunakan dinamit sulfur dibelah / di pecahkan sehingga dapat
diangkut dengan kendaraan. Oleh karena itu sulfur tidak larut dalam air
dan dapat di peoleh sulfur pada metode ini sebesar 99,6%.

4. Syarat Pemisahan Campuran Dengan Metode Sublimasi

Zat padat yang memiliki suhu dan tekanan di bawah T dan P, T dan P adalah
suhu dan tekanan dimana zat berada dalam keadaan setimbang.

Partikel yang bercampur harus memiliki perbedaan titik didih yang besar sehingga
dapat menghasilkan uap dengan tingkat kemurnian yang tinggi.

5. Bahan-Bahan Yang Dapat Disublimasi

-Ammonium clorida

-CO2 padat (dry ice)

-Kafein

79
-Kamper (Naftalein)

-Iodium

-Belerang

-Arsenik

-Klorofoam

7. Aplikasi Proses Sublimasi

Pembuatan Dry Ice (CO2 padat)

Gas yang mengandung konsentrat CO2 tinggi

Gas yang kaya kerbon dioksida ini kemudian dimampatkan dan di


turunkan suhunya sampai -78.5C

Tekan/pemampatan kemudian dikurangi (sebagian kecil CO2 menguap)

CO2 yang telah berbentuk salju kemudian dipotong-potong

80
Proses pemisahan kapur barus dari pasir dengan cara sublimasi

Sublimasi adalah proses pemisahan campuran yang digunakan untuk


memisahkan komponen yang dapat menyublim dari campuran yang tidak
dapat menyublim.
Kapur barus merupakan zat yang dapat menyublim jika di panaskan ,jika
kapur barus ini bercampur dengan zat pengotor seperti pasir. Cara
memisahkan kapur barus yang bercampur dengan zat pengotor dapat
dilakukan dengan proses sublimasi ini. Ketika campuran kapur barus dan
pasir di panaskan, kapur barus akan menguap sedangkan Pasir tidak uap
kapur barus akan segera berkeristal ketika menemui daerah yang cukup
dingin, dengan demikian kapur barus murni dapat di peroleh kembali.

81
5.PERPINDAHAN MASSA FASE GAS-GAS
Difusi gas
Dikatakan difusi gas jika terjadi perpindahan molekul gas dari konsentrasi
tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu difusi O2 pada pengemas plastik.
Ketika kita menggunakan pengemas plastik untuk membungkus suatu bahan,
maka selama penyimpanan akan terjadi difusi oksigen dan uap air dari lingkungan
luar ke dalam plastik pengemas. Jumlah oksigen dan uap air yang dapat masuk ke
dalam plastik pengemas bervariasi tergantung permeabilitas dari plastik pengemas
tersebut. Semakin banyak jumlah oksigen dan uap air yang dapat masuk ke dalam
plastik pengemas berarti kualitas plastik pengemasnya semakin buruk. Disini,
difusi oksigen merupakan difusi gas dan difusi uap air merupakan difusi cair.

Makin besar perbedan konsentrasi anatara dua daerah, maka makin tajam
pula gradasi konsentrasinya sehingga makin lambat pula kecepatan difusinya.
Apabila partikel suatu zat dapat bergerak bebas tanpa terhambat oleh gaya tarik,
maka dalam jangka waktu tertentu partikel-partikel itu akan tersebar merata dalam
ruang yang ada. Sampai distribusi merata seperti itu terjadi, akan terdapat lebih
banyak partikel yang bergerak dari daerah tempat partikel itu lebih pekat ke
daerah yang partikelnya kurang pekat, lalu terjadi yang sebaliknya, dan secara
menyeluruh gerakan partikel ke arah tertentu disebut difusi. Makin besar
perbedaan konsentrasi antara dua daerah, yaitu makin tajam gradasi
konsentrasinya, makin besar kecepatan difusinya.

1. Difusi Gas Respirasi Pada Manusia


Peristiwa respirasi pada manusia berlangsung di dalam paruparu tepatnya
di bagian alveoli. Udara/gas oksigen yang terdapat di lingkungan sekitar memiliki
kandungan oksigen yang lebih tinggi daripada di dalam tubuh manusia. Ketika
menghirup oksigen, udara berjalan melewati rongga hidung menuju saluran
trakea/tenggorokan, selanjutnya menuju bronkus dan bronkiolus.

82
Proses difusi:
Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli
dengan darah pada kapiler paru Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan,
gas berdifusi dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Salah satu ukuran difusi
adalah tekanan parsial.

Difusi terjadi melalui membran respirasi yang merupakan dinding alveolus


yang sangat tipis dengan ketebalan rata-rata 0,5 mikron. Di dalamnya terdapat
jalinan kapiler yang sangat banyak dengan diameter 8 angstrom. Dalam paru-paru
terdapat sekitar 300 juta alveoli dan bila dibentangkan dindingnya maka luasnya
mencapai 70 m2 pada orang dewasa normal.

Saat difusi terjadi pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida


secara simultan. Saat inspirasi maka oksigen akan masuk ke dalam kapiler paru
dan saat ekspirasi karbondioksida akan dilepaskan kapiler paru ke alveoli untuk
dibuang ke atmosfer. Proses pertukaran gas tersebut terjadi karena perbedaan
tekanan parsial oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.

83
Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk
setiap perbedaan tekanan sebesar 1 mmHg disebut dengan kapasitas difusi.
Kapasitas difusi oksigen dalam keadaan istirahat sekitar 230 ml/menit. Saat
aktivitas meningkat maka kapasitas difusi ini juga meningkat karena jumlah
kapiler aktif meningkat disertai dDilatasi kapiler yang menyebabkan luas
permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi karbondioksida saat
istirahat adalah 400-450 ml/menit. Saat bekerja meningkat menjadi 1200-1500
ml/menit.

Difusi dipengaruhi oleh :


1. Ketebalan membran respirasi
2. Koefisien difusi
3. Luas permukaan membran respirasi*
4. Perbedaan tekanan parsial

84
2. Pertukaran Gas Pada Tumbuhan

Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada
siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi
O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari
daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara
luar masuk melalui stomata
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan)
medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat
padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran
besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil.
Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang
hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2
meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari
daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara

85
luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga
merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan
molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi.

Daun tumbuhan darat memperoleh karbondioksida dari udara sekitarnya


melalui difusi. Udara di sekitar tumbuhan mengandung karbondioksida lebih
banyak dibandingkan di dalam daun, sehingga gas karbondioksida berdifusi ke
dalam daun melalui stoma di epidermis daun. Pada stomata (tunggal = stoma),
bila sel penutup menyerap air secara osmosis, maka sel-sel tersebut mengembang
atau membengkak.Bila stoma membuka, gas karbondioksida dapat berdifusi ke
dalam daun. Gas oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis dapat juga
keluar dari daun melalui stoma yang membuka. Bila sel penjaga kehilangan air
secara osmosis, maka sel-sel tersebut mengkerut. Bila stoma menutup, gas
karbondioksida dan oksigen tidak dapat masuk atau keluar dari daun. Pertukaran
udara seperti dijelaskan di muka selain terjadi pada stoma juga terjadi pada
lentisel. Pertukaran udara melalui stoma dan lentisel tersebut terjadi pada
tumbuhan berpembuluh. Pada tumbuhan tidak berpembuluh pertukaran udara
terjadi secara difusi melalui membran plasma sel-sel penyusun tubuhnya.

86
3.Pencemaran Udara
Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam rumah,
sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan.
Sementara itu pencemaran di luar ruangan berasal dari emisi kendaraan bermotor,
industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar
udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber
diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan
sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi
laut. Dari data BPS tahun 1999, di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar
seperti Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan
kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya
lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun
terakhir menunjukkan kita bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha
pengurangan emisi ini. Baik melalui penyuluhan kepada masyarakat ataupun
dengan mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.
Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu pencemaran akibat
sumber alamiah, seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan
manusia, seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di
dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan
manusia, yaitu Karbon monoksida (CO), oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen
(NOx), partikulat, hidrokarbon (HC), dan oksida fotokimia, termask ozon. Di
Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat
menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap
lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon
(HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor
menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM),
71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO)
ke udara Jakarta. Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah
tangga, di mana mencakup 41% dari sumber debu.

87
Zat pencemar

1. Karbon Monoksida
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai
perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta
disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar
solar terutama berasal dari Metromini. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio
kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar
mesin diesel. Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang
terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge merupakan salah satu
strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang meningkat di
berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan
jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan kadar
karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti pengggunaan
bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida
dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan
bermotor.

2.Nitrogen Dioksida (NO2)


NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100
ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian
tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar
NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-
binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Percobaan dengan
pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia
mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.

3.Sulfur Oksida (SOx)


Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur
bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida
(SO3), yang keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx

88
terhadap manusia adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm
atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar
1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama
terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem
pernafasan kadiovaskular.

4.Khlorin (Cl2)
Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat.
Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen
khlorida yang toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang
digunakan pada perang dunia ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat
menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk
dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat
membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi
dan peradangan.

Proses difusi :
Gas-gas pencemar yang dihasilkan dari suatu sumber pencemaran memiliki
konsentrasi yang tinggi. Gas-gas pencemar tersebut akan berdifusi ke tempat yang
konsentrasinya lebih rendah sehingga konsentrasi pada semua tempat sama
(hingga mencapai kesetimbangan). Hal ini mengakibatkan semua daerah dapat
merasakan dampak dari pencemaran udara.

89
4.Belerang Pada Kawah Gunung
Kawah merupakan sumber gas sulfur dalam bentuk SO2 dan atau H2S.
Kawah secara aktif mengeluarkan gas belerang. Hal ini dapat diketahui terutama
dari intensitas aroma yang spesifik dari kepulan asap putih yang diemisikan, serta
warna belerang yang terdeposit pada batuan dan tanah di sekitar kawah.
komponen penyusun gas belerang yang terdapat disekitar kawah adalah SO2 dan
H2S.
Sulfur dioksida (SO2) merupakan oksida belerang yang tidak mudah
terbakar, beraroma tajam dan waktu tinggal diudara selama 4 hari. Hidrogen
sulfida (H2S) merupakan gas yang mudah terbakar, aromanya khas seperti telur
busuk dan waktu tinggal di udara selama 2 hari. Pada waktu gas belerang
berdifusi di atmosfer, akan terjadi proses pengenceran karena sebagian dari gas
tersebut akan terdeposit basah atau kering pada permukaanbenda atau organisme
yang ada pada arah difusi, akibatnya akan terbentuk gradien konsentrasi gas
belerang dan atau keasaman habitat di sepanjang arah difusi gas.

Proses difusi:
Daerah di sekitar kawah memiliki konsentrasi gas sulfur dan belerang yang tinggi.
Gas tersebut akan berdifusi ke tempat lain karena adanya perbedaan konsentrasi
dan tekanan gas. Oleh karena itu pada saat kita berada di sekitar kawah, kita bisa
merasakan bau gas beleran tersebut. Hal ini karena gas sulfur dan belerang
tersebut telah berdifusi di sekitar tempat tersebut.

90

Anda mungkin juga menyukai