Anda di halaman 1dari 9

PENGUKURAN FAKTOR LINGKUNGAN

Lasri Susanti
Email lasrisusanti2@gmail.com
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Riau 28293

ABSTRAK
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kondisi faktor fisika
dan kimia lingkngan mikro yang berbeda (dibawah naungan pohon, daerah
transisi / peralihan dan didaerah terbuka/terdedah) . Kegiatan praktikum ini
dilakukan pada hari Senin, 10 Oktober 2016 di Laboratorium Pendidikan Biologi
FKIP Universitas Riau. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan dalam
melihat faktor fisika kimia tanah yaitu di tempat terdedah didapatkan hasil bahwa
kondisi tanah yang kami amati memiliki suhu rata-rata 51oC , pH 4. Secara umum,
terdapat perbedaan antara tempat terdedah dengan ternaung, baik dari segi suhu,
pH ini dikarenakan oleh kapasitas sinar matahari yang dapat ditangkap pada
daerah tersebut. Suhu udara pada tempat yang berbedabeda (dalam ruangan,
tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur selang waktu 5
menit, ternyata suhu di tempat terbuka cenderung tinggi dari pada didaerah
transisi dan daerah ternaung. areal terbuka ratarata kelembaban udaranya paling
rendah. Sedangkan yang paling tinggi adalah di daerah ternaung. kandungan air
tanah (KAT) digunakan tanah sebanyak 20 gram dan dimasukkan ke dalam oven
selama 3 jam kemudian melakukan pengukuran kembali terhadap tanah tersebut
hasil yang diperoleh adalah untuk tanah ternaung 15,79 gram kemudian
menghitung jumlah persentase kandungan air dan didapatkan hasil sebesar
21,05%. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya
tidak besar, hanya sekitar 35 %, tetapi pengaruhnya terhadap sifatsifat tanah
sangat besar sekali.

Kata Kunci : pH, transisi, ternaung, KAT, KOT

PENDAHULUAN
Dalam studi ekologi dikenal faktorfaktor yang mempengaruhi keberadaan dan
keadaan organisme di alam, yaitu faktor nonbiotik dan faktor biotik. Faktor
nonbiotik sendiri dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor kimia.
Faktor fisik meliputi temperatur, kelembaban, intensitas cahaya, komposisi
substrat berdasar substrat, dan arus. Sedangkan factor kimia meliputi salinitas, pH,
DO, BOD, dan COD. Dari tiga medium yang ada di alam, yaitu air, darat dan
udara, ada yang parameternya sama, ada pula yang khusus untuk medium maupun
habitat tertentu yang dipengaruhi oleh faktorfaktor di atas (Hariyanto, dkk., 2008).

Tinggi rendahnya suhu dipengaruhi oleh kedudukan matahari terhadap bumi


(sudut datang sinar matahari), beserta lamanya penyinaran matahari. Di samping
itu wujud permukaan bumi (daratan, lautan, pegunungan, kota, hutan, dan
lainlain) dan ketinggian suatu tempat, yaitu semakin tinggi suatu tempat, maka
semakin rendah suhu, dan sebaliknya. Perubahan suhu umumnya dipengaruhi oleh
waktu, udara, musim, tekanan udara, arus air pada geomorfologi, latitude,
altitude, dan angin. Alat pengukur suhu adalah termometer. Untuk mengukur suhu
di dalam suatu ruangan dan suhu di udara terbuka kita biasa menggunakan
termometer maksimum dan minimum (Hariyanto, dkk., 2008).

Kelembaban juga merupakan salah satu faktor fisika yang mempunyai kaitan erat
dengan suhu. Kelembaban menunjukkan banyaknya uap air di udara, bila di tanah
biasanya disebut kandungan air. Alat untuk mengukur kelembaban udara adalah
Sling psycrhometer. Biasanya dalam alat yang mencatat temperatur basah dan
kering sudah tersedia tabel kelembaban udara. Alat ini ada yang ditempel di
dinding, ada pula yang harus diputarputar (sling psychrometer). Asumsinya
adalah temperatur basah menunjukkan suhu pada kelembaban 100% atau absolut,
sedang temperatur kering menunjukkan suhu pada kelembaban seadanya. Bila
suhu pada temperatur kering sama dengan suhu pada temperatur basah berarti
kelembaban 100%. Tampaklah bahwa ada hubungan antara suhu dan kelembaban
udara (Hariyanto, dkk., 2008).

Analisis tanah pada dasarnya bertujuan memberikan data sifat fisika dan kimia
serta unsur hara dalam tanah (Puslittanak 2005). dengan metode gravimetri.
Gravimetri merupakan cara penentuan jumlah zat berdasarkan pada penimbangan
hasil reaksi setelah bahan yang dianalisis direaksikan (Harjadi 1993). Metode
gravimetri terdiri atas dua jenis, yaitu gravimetri secara langsung dan tidak
langsung. Pada metode gravimetric langsung zat yang akan ditentukan merupakan
suatu hasil analisis yang bobotnya dapat ditimbang, sedangkan dalam metode
tidak langsung zat yang akan ditentukan bobotnya diperoleh dari bobot sebelum
dan sesudah proses. Kadar air tanah dapat mempengaruhi ekosistem yang terdapat
pada tanah, oleh karena itu pada proses analisis dilakukan pengukuran sebagai
faktor koreksi dari setiap kondisi tanah yang berbeda.

Teknik pengukuran kadar air tanah diklasifikasikan ke dalam dua cara, yaitu
langsung dan tidak langsung. Pengukuran secara langsung adalah berupa
pemisahan air dari matrik tanah dan pengukuran langsung dari jumlah air yang
dipisahkan tersebut. Pemisahan air dari matriks tanah dapat dicapai melalui: (1)
pemanasan; (2) ekstraksi dan penggantian oleh larutan; atau (3) reaksi kimia.
Jumlah air yang dipisahkan ditentukan dengan: (1) mengukur perubahan
massa/berat setelah pemanasan dan (2) pengukuran kuantitatif dari hasil reaksi.
Pemisahan air dengan pemanasan biasa disebut dengan metode gravimetrik, dan
merupakan metode pengukuran secara langsung (Topp and Ferre, 2002) yang
akan dibahas dalam bab ini. Metode tidak langsung adalah dengan mengukur
beberapa sifat fisik atau kimia tanah yang berhubungan dengan kadar air tanah.
Sifat ini meliputi konstanta dielektrik (permitivity relatif), konduktivitas elektrik,
kapasitas panas, kandungan ion H, dan kepekaan magnetik. Berlawanan dengan
metode langsung, metode tidak langsung bersifat lebih tidak merusak atau
nondestruktif, sehingga kandungan air dalam contoh tidak berubah selama
pengukuran. Akurasi dan ketepatan dari metode ini tergantung kepada kedekatan
hubungan antara sifat yang diukur dan kadar air volumetrik (v).

Metode gravimetrik adalah metode yang paling sederhana secara konseptual


dalam menentukan kadar air tanah. Pada prinsipnya mencakup pengukuran
kehilangan air dengan menimbang contoh tanah sebelum dan sesudah dikeringkan
pada suhu 105 110 oC dalam oven. Hasilnya dinyatakan dalam presentase air
dalam tanah, yang dapat diekspresikan dalam presentase terhadap berat kering,
berat basah atau terhadap volume. Masing-masing dari presentase berat ini dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
1. % H2O berat kering = (berat H2O/ berat tanah kering oven) x 100%
2. % H2O berat basah = (berat H2O/ berat basah tanah) x 100%
3. % H2O volume = % H2O berat kering x BD (bulk density)

Air ditahan oleh komponen tanah pada kisaran energi yang lebar dan tidak ada
waktu yang pasti pada level energi yang mana, tanah mencapai kondisi kering
ketika suhu mencapai 105 oC. Contoh tanah terus menurun massanya secara
perlahan-lahan pada 105 oC untuk beberapa hari. Selain itu, beberapa contoh
tanah mengandung bahan organik yang sebagian tervolatilisasi pada suhu 105 oC.
Jadi penurunan massa, mungkin disebabkan oleh volatilisasi dari komponen
bukan air.

Bahan organik pada tanah hutan merupakan komponen penting ditinjau dari siklus
hara, siklus hidrologi, produktivitas hutan, dan neraca karbon global. Secara
global, tanah mengandung cadangan karbon lebih besar daripada kawasan daratan
lainnya dan bahan organik pada tanah hutan merupakan ekosistem yang sangat
dinamis (Jobggy dan Jackson 2000). Zat organik umumnya berasal dari proses
pelapukan/penguraian serasah pada lapisan teratas tanah. Secara teoritis palisan
yang kaya zat organiknya adalah lapisan humus. Penentuan kandungan organik
dan anorganik tanah yang paling sederhana adalah dengan cara pengabuan.
Kandungan air tanah secara kuantitatif dapat ditentukan dengan menghitung
jumlah air yang terkandung didalam tanah dengan berat segar tertentu. Kandungan
air dapat dinyatakan sebagai persentase air terhadap berat segar tanah.

Nilai pH tanah adalah nilai negatif logaritma dari aktivitas ion hidrogen tanah.
Besarnya nilai pH tanah dipengaruhi oleh banyak factor diantaranya jenis batuan
induk, tipe vegetasi dan aktivitas pemupukan. pH tanah menentukan kelarutan
unsurunsur hara dalam larutan tanah, sehingga pH akan memengaruhi
ketersediaan unsurunsur hara bagi tumbuhan (Barbour et al, 1999). Pengukuran
pH tanah dapat dilakukan dengan pHmeter elektronik, soil tester dan kertas pH
universal.

METODE

Praktikum ini dilakukan di ruangan Laboratorium Biologi ,Fkip Universitas Riau,


Pekanbaru pada hari Senin, 10 Oktober 2016. Dalam kegitan ini dilakukan dua
macam pengamatan yaitu pengukuran faktor iklim (iklim mikro) dan pengukuran
faktor fisika dan kimia tanah. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum kali ini adalah termohygrometer, thermometer Hg, penggaris, aquades
25ml, kertas indikator pH, aqua gelas, neraca analitik, oven, cawan porselen, dan
tungku pembakar (furnace muffle).

Untuk praktikum pengukuran faktor iklim (iklim mikro) yang harus dilakukan
ialah dilakukan pengukuran temperature udara dan kelembaban relative udara
menggunakan termohygrometer pada ketinggian 1 dan 2 meter dari permukaan
tanah, masing- masing selama 5 menit. Lalu ditulis hasil pengukurannya pada
tabel pengamatan. Untuk praktikum pengukuran factor fisika dan kimia tanah
dilakukan pengukuran suhu pada permukaan tanah dan pada kedalaman 30 cm
menggunakan thermometer Hg. Diukur pH tanah (ternaung, terbuka dan transisi)
dengan cara dicampur 10 gram tanah dengan 25 ml aquades kemudian di aduk,
lalu diukur pHnya dengan menggunakan kertas indikator. Di ukur Kadar Air
Tanah dengan cara pengeringan. Di timbang sample tanah sebanyak 20 gram,
kemudian keringkan didalam oven pada suhu 105 oC selama 2 jam, lalu ditimbang
beratnya.

( )
Kadar Air Tanah = ( ) 100%

Di ukur Kadar Organik Tanah (KOT) dengan cara dibakar 5 gram tanah yang
sudah dikeringkan dalam tungku pembakar (furnace muffle) pada suhu 600 oC
selama 3 jam, lalu ditimbang beratnya. Ditulis hasil pengamatan pada tabel
( )
Kadar Organik Tanah = ( ) 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. PENGUKURAN FAKTOR IKLIM (IKLIM MIKRO)

Tabel 1. Hasil Pengukuran Temperatur udara pada daerah ternaung, transisi dan
terbuka (terdedah)

Temperatur Kelembaban
Ketinggian Daerah
Udara (0C) Udara (%)
Ternaung 35,7 34
1 meter Transisi 37,7 31
Terbuka 38,3 29
Rerata 37,23 31,33
Ternaung 35 35
2 meter Transisi 38,6 30
Terbuka 40,3 25
Rerata 37,97 30
Penyajian data : Tabel grafik dan grafik batang (x=faktor lingkungan, y=skala
pengukuran)

Suhu udara pada tempat yang berbedabeda (dalam ruangan, tempat terbuka, di
bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur selang waktu 5 menit, ternyata
suhu di tempat terbuka cenderung tinggi dari pada didaerah transisi dan daerah
ternaung. Hal ini terjadi karena pada areal terbuka mendapatkan pancaran sinar
matahari secara langsung, sehingga menyebabkan makin lama suhunya semakin
meningkat. Hal yang sebaliknya terjadi di dalam daerah yang tidak mendapatkan
pancaran sinar matahari secara langsung, sehingga rata-rata suhunya rendah.
Sedangkan suhu didaerah transisi relatif karena ada beberapa tempat yang
terlindungi dari cahaya matahari langsung, misalnya dengan adanya pohonpohon
ataupun atap bangunan, sehingga suhunya tidak terlalu panas dan juga tidak
terlalu dingin.

Kegiatan yang kedua adalah mengukur kelembaban udara pada tempat yang
berbedabeda (dalam ruangan, tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka).
Setelah diukur dengan 2 kali pengulangan yaitu dengan ketinggian 1m dan
ketinggian 2m dari permukaan tanah, ternyata di areal terbuka ratarata
kelembaban udaranya paling rendah. Sedangkan yang paling tinggi adalah di
daerah ternaung. Hal ini terjadi karena pada areal ternaung suhu udara sejuk
sebagai akibat dari penyinaran cahaya matahari tidak lansung mengenai tanah.
Sebaliknya, di daerah terbuka suhu udara rendah, sehingga kelembaban udaranya
rendah.

B. PENGUKURAN FAKTOR FISIKA DAN KIMIA TANAH

Tabel 2. Hasil Pengukuran Temperatur tanah dan pH pada daerah ternaung,


transisi dan terbuka (terdedah)

Temperature Tanah 0C
NO Daerah Permukaan Dalam tanah = 30 cm pH
1 2 Rerata 1 2 Rerata
1 Ternaung 28 29 28,5 25 25 25 4
2 Transisi 30 30 30 28 28 28 5
3 Terbuka 50 52 51 34 34 34 4
Rerata 36 37 36,5 29 29 29 4,33
Penyajian data : Tabel grafik dan grafik batang (x=faktor lingkungan, y=skala
pengukuran)

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan dalam melihat faktor fisika kimia
tanah yaitu di tempat terdedah didapatkan hasil bahwa kondisi tanah yang kami
amati memiliki suhu rata-rata 51oC , pH 4. Secara umum, terdapat perbedaan
antara tempat terdedah dengan ternaung, baik dari segi suhu, pH ini dikarenakan
oleh kapasitas sinar matahari yang dapat ditangkap pada daerah tersebut. Dengan
kata lain, daerah terdedah memiliki suhu dan kelembapan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah ternaung. Setelah diukur ternyata pH tertinggi
terdapat pada daerah transisi yaitu 5 . dan yang terendah yaitu pada darah terbuka
dan ternaung yaitu 4 (asam). Seharusnya tanah di daerah ternaung tidak bersifat
asam, karena tanah di bawah pohon banyak mengandung air dan garamgaram
mineral lainnya yang diserap oleh akar pepohonan. Sehingga tanahnya agak basah
karena kandungan air di dalamnya. Sehingga seharusnya kisaran pH ditempat
ternaung harusnya mendekati 7. Hal ini dapat disebabkan oleh kandungan organik
tanah atau saat pengujian pH wadahnya sudah terkontaminasi zat lain .
Sedangkan pada tempat terbuka dan areal terbuka, ratarata pH tanahnya lebih
rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tanahnya cenderung bersifat asam, karena
pHnya dibawah 7. Selain itu, karena pengaruh penyinaran matahari secara
langsung, suhu udara menjadi panas. Hal ini menyebabkan tanah menjadi kering
dan kekurangan air, sehingga tanah cenderung bersifat asam.

Tabel 3. Hasi pengukuran Kadar Air Tanah (KAT)

Berat Basah Berat Kering Kadar Air


Daerah
(gram) (gram) Tanah (%)
Ternaung (A) 20 15,79 21,05
Transisi (B) 20 19,01 4,95
( )
Kadar Air Tanah A =( ) 100%

(20 gram15,79 gram)


=( ) 100%
20 gram

4,21 gram
= ( 20 gram ) 100% = 21,05%

( )
Kadar Air Tanah A =( ) 100%

(20 gram19,01 gram)


=( ) 100%
20 gram

0,99 gram
= ( 20 gram ) 100% = 4,95%

Fungsi utama dari kelembaban tanah adalah mengontrol pembagian air hujan yang
turun ke bumi menjadi run off ataupun infiltrasi. Untuk memperoleh kandungan
air digunakan tanah sebanyak 20 gram dan dimasukkan ke dalam oven selama 3
jam kemudian melakukan pengukuran kembali terhadap tanah tersebut hasil yang
diperoleh adalah untuk tanah ternaung 15,79 gram kemudian menghitung jumlah
persentase kandungan air dan didapatkan hasil sebesar 21,05% .Presentase ini
menunjukkan bahwa tanah tempat dilakukannya pengamatan adalah tanah yang
lembab. Sedangkan untuk tanah transisi pengukuran kembali terhadap tanah
tersebut hasil yang diperoleh adalah untuk tanah transisi 19,01 gram kemudian
menghitung jumlah persentase kandungan air dan didapatkan hasil sebesar 4,95%.
Presentase ini menunjukkan bahwa tanah tempat dilakukannya pengamatan adalah
tanah yang kering

Tabel 4. Hasi pengukuran Kadar Organik Tanah (KOT)

Daerah Berat Basah (gram) Berat Abu (gram) Kadar Organik Tanah (%)
Ternaung (A) 5 4,49 10,2
Transisi (B) 5 4,82 3,6
( )
Kadar Organik Tanah A = ( ) 100%

(5 gram4,49 gram)
=( ) 100%
5 gram

0,51 gram
=( ) 100% = 10,2%
5 gram

( )
Kadar Organik Tanah B = (
) 100%
(5 gram4,82 gram)
=( ) 100%
5 gram

0,18 gram
=( ) 100% = 3,6%
5 gram

Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya tidak besar,


hanya sekitar 35 persen, tetapi pengaruhnya terhadap sifatsifat tanah sangat besar
sekali. Adapun pengaruh bahan organik terhadap sifatsifat tanah dan akibatnya
juga terhadap pertumbuhan tanaman adalah Sumber unsur hara N, P, S, unsur
mikro, dll, Sebagai granulator, yaitu untuk memperbaiki struktur tanah.
Menambah kemampuan tanah untuk menahan air.Sumber energi bagi
mikroorganisme. Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsurunsur hara.
Kandungan bahan organik dalam tanah juga mempengaruhi kehidupan ekosistem
yang ada didalam tanah. Jika kandungan bahan organiknya terdiri atas unsurunsur
yang mampu membantu kesuburan tanah maka dilingkungan tersebut akan banyak
ditumbuhi tanamantanaman dan akanm menjadi sumber energi bagi
mikroorganisme Bahan organik dalam tanah terdiri dari bahan organik kasar dan
bahan organik halus (humus). Humus terdiri dari bahan organik halus berasal dari
hancuran bahan organik kasar serta senyawasenyawa baru yang dibentuk dari
hancuran bahan organik tersebut melalui kegiatan mikroorganisme di dalam
tanah. Humus merupakan senyawa yang resisten (tidak mudah hancur) berwarna
hitam atau coklat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi.
Tingginya daya menahan (menyimpan) unsur hara adalah akibat tingginya
kapasitas tukar kation dari humus, karena humus mempunyai beberapa gugus aktif
terutama gugus karboksil.

KESIMPULAN
Suhu udara suatu daerah sangat dipengaruhi oleh pancaran sinar matahari. Daerah
yang menerima pancaran sinar matahari secara langsung suhu udaranya lebih
tinggi atau lebih panas dibandingkan dengan daerah yang terlindung atau tidak
menerima pancaran sinar matahari secara langsung. Kadar pH tanah dipengaruhi
oleh kandungan air dan garamgaram mineral di dalamnya. Dalam hal ini, tanah
yang basah dan mengandung banyak air pHnya cenderung bersifat netral atau
basa, sedangkan tanah yang kering dan mengandung sedikit air cenderung bersifat
asam. Tinggi rendahnya kelembaban tanah dipengaruhi oleh kandungan air yang
terdapat di dalam tanah. Tanah yang banyak mengandung air memiliki
kelembaban yang lebih tinggi. Sedangkan tanah yang kering dan mengandung
sedikit air memiliki kelembaban yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Barbour, B.M., J.K. Burk, and W.D. Pitts. 1999. Terrestrial Plant Ecology.

Durmishi, et al. 2008. The physical, physicalchemical and chemical parameters


determination of river water Shkumbini part A. Phil: Balwois

Faisal nento.2014.Pengukuran Faktor Lingkungan Abiotik Terrestrial.


http://faisalnento.blogspot.co.id/2014/04/laporanpraktikumpengukuranfakt
or.html

Faisal,hezim. 2013. Parameter Fisika dan Kimia. Diakses tanggal 15 Oktober


2016.http://faisolhezim1994.blogspot.co.id/2013/11/laporanparameterfisika
dankimia.html.

Handayanto, E. Hiriah, K. 2009. Biologi Tanah. Yogyakarta: Pustaka Adipura.

Hariyanto, Sucipto, dkk. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya: Penerbit
Universias Airlangga (Airlangga Press)

Harjadi, S. S. 1979. Pengantar Agronomi. Jakarta : Gramedia.

Jobggy E.G. and R.B Jackson. 2000. The vertical distribution of soil organic
carbon and its relation to climate and vegetation. Ecol. Appl. 10: 423-36.
New York: The Benjamin/Cummings.

Puslittanak. 2000. Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat


Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor. hlm 169-172.