Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang datang menuju serambi
jantung yang bersifat elastic. Pembuluh darah vena yang membawa darah dari bagian
tubuh yang masuk ke dalam jantung,. Pada umumnya darah vena banyak mengandung
gas CO2. Pembuluh ini terdapat katup yang tersusun sedemikian rupa sehingga darah
dapat mengalir ke jantung tanpa jatuh kearah sebaliknya. Darah vena berwarna lebih tua
dan agak ungu kerena banyak dari oksigennya sudah diberikan kepada jaringan. Lokasi
pengambilan darah vena umumnya didaerah fossa cubiti yaitu vena cubiti atau daerah
dekat pergelangan tangan.
Pemeriksaan Laboratorium yang dirancang untuk tujuan tertentu misalnya untuk
mendeteksi penyakit, menentukan resiko, memantau perkembangan penyakit, memantau
pengobatan, dan juga sebagai panduan untuk mempermudah Dokter dalam menentukan
jenis pemeriksaan bagi pasien. Pengumpulan atau pengambilan sampel darah yang baik
merupakan langkah awal dalam menjamin ketelitian dan kepercayaan terhadap hasil
pemeriksaan laboratorium. Specimen darah untuk pemeriksaan hematologi (pemeriksaan
hemoglobin) dapat diperoleh dari darah vena. Dalam melakukan pemeriksaan
laboratorium ada bermacam-macam pemeriksaan Hematology yaitu, pemeriksaan
hemoglobin, pemeriksaan hematokrit, pemeriksaan laju endapan darah, dan pemeriksaan
jumlah sel seperti sel leukosit, sel eritrosit dan sel eosinofil. Mahasiswa melakukan
praktikum ini dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana cara yang benar dalam
melakukan pengambilan sampel spesimen (flebotomy) Darah Vena dengan menggunakan
sistem Spuit dan Vacumtainer
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara pengambilan darah vena dan dorsal pada pasien
menggunakan jarum wing needle. Serta mengetahui cara menggunakan jarum wing
needleyang baik untuk pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengambilan darah di laboratorium sering diasumsikan dengan nama flebotomi.


Flebotomi (bahasa inggris : phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan tomia. Phleb
berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong (cutting). Dahulu
dikenal istilah venasectie (Belanda), venesection atau venisection (Inggris). Jadi tidaklah
tepat karena flebotomi sebenarnya diarahkan pengambilan darah dengan cara vena seksi
(vena section) dan tidak sempit maknanya juga karena mencakup darah vena, kapiler dan
darah arteri. Pengambilan darah umumnya yang diberikan kepada analis kesehatan hanya
untuk memperoleh spesimen darah yang berasal dari vena dan kapiler, namun tidak masuk
dalam kurikulum mata pelajaran khusus yang mandiri, tetapi melekat pada hematologi. Hal
ini memberikan sinyal bahwa pengambilan darah hanya untuk membantu analis kesehatan
untuk memperoleh darah, bukan menjadi suatu keahlian profesional. Umumnya praktek awal
pengambilan darah menggunakan suatu alat peraga phantom (suatu alat peraga yang
dikondisikan mirip dengan vena manusia) dan setiap orang dapat mencobanya. Pengambilan
darah selain bertujuan mengambil darah secara aman, juga harus memperhatikan etika dalam
berkomunikasi dengan pasien, oleh sebab itu perlunya penjelasan petugas kepada pasien agar
pasien merasa tenang saat akan dilakukan 3 Flebotomi sederhana pengambilan darah.
Petugas pengambilan darah pun harus menggunakan alat pelindung diri, agar terlindung dari
resiko penularan penyakit infeksi melalui darah.
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomy yang
berarti proses mengeluarkan darah. Dalam praktek laboratorium klinik, ada 3 macam cara
memperoleh darah, yaitu : melalui tusukan vena (venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture)
dan tusukan arteri atau nadi. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh
karena itu istilah phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture.
A. Kesulitan
Bila kulit sekitar luka tak kering karena alkohol atau keringat, maka tetesan darah yang
keluar tak dapat mengumpul pada tempat itu, melainkan segera menyebar disekitarnya,
sehingga darah tidak dapat diperoleh secara sempurna.
1. Pengambilan darah vena
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya diambil
dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku). Vena ini terletak
dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada pasokan saraf besar. Apabila
tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya.
Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya
berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median. Jika vena cephalica dan basilica
ternyata tidak bisa digunakan, maka pengambilan darah dapat dilakukan di vena di
daerah pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati dan
menggunakan jarum yang ukurannya lebih kecil. Lokasi yang tidak diperbolehkan
diambil darah adalah :
a. Lengan pada sisi mastectomy
b. Daerah edema 3
c. Hematoma
d. Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
e. Daerah bekas luka
f. Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
g. Daerah intra-vena lines
Pengambilan darah di daerah ini dapat menyebabkan darah menjadi lebih encer
dan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar zat tertentu. Ada dua cara dalam
pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara manual dilakukan
dengan menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum dengan menggunakan
tabung vakum (vacutainer). Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam
pengambilan darah vena adalah :
1) Pemasangan turniket (tali pembendung)
a) pemasangan dalam waktu lama dan terlalu keras dapat menyebabkan
hemokonsentrasi (peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel),
peningkatan kadar substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid total)
b) melepas turniket sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma
2) Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga mengakibatkan
masukknya udara ke dalam tabung dan merusak sel darah merah.
3) Penusukan
a) penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan jaringan
sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping itu, penusukan yang
berkali-kali juga berpotensi menyebabkan hematoma.
b) tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena menyebabkan darah
bocor dengan akibat hematoma
c) Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolysis sampel
akibat kontaminasi oleh alcohol, rasa terbakar dan rasa nyeri yang berlebihan
pada pasien ketika dilakukan penusukan.
2. Pengambilan Darah Vena dengan Syring
Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring) merupakan
cara yang masih lazim dilakukan di berbagai laboratorium klinik dan tempat-tempat
pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah sebuah pompa piston sederhana yang terdiri
dari sebuah sebuah tabung silinder, pendorong, dan jarum. Berbagai ukuran jarum yang
sering dipergunakan mulai dari ukuran terbesar sampai dengan terkecil adalah : 21G,
22G, 23G, 24G dan 25G. Pengambilan darah dengan suntikan ini baik dilakukan pada
pasien usia lanjut dan pasien dengan vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
a. Pastikan pasien merasa nyaman.
b. Perkenalkan diri dan menjelaskan apa yang akan dilakukan.
c. Membaca surat penganter dokter untuk permintaan pemeriksaan.
d. Cocokkan identitas pasien.
e. Tanyakan pasein takut. tidak merasakan nyaman. Atau mempunyai masalah sebelumnya
saat melakukan phlebotomy.
f. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan. Seperti tourniquet, botol penampung, kassa
alcohol/bola kapas dibasahi alcohol 70%, bola kapas kering, ukuran spuit yang
dibutuhkan dan dan ukuran jarum sesuai besar kecilnya vena.
g. Pakailah perlengkapan pelindung diri, terutama sarung tangan.
h. Pasang tourniquet, jangan telalu lama dengan jarak penusukan (tidak lebih dari 2 menit).
i. Tetapkan vena (palpasi) dengan cara memegang lengan pasien dan letakkan jempol
dibawah daerah venepuncher.
j. Mintalah pasien untuk mengepalkan tangan agar vena dapat tampak terlihat jelas.
k. Apus mengunakan bola kapas alcohol/kassa alcohol dimulai dari tengah melingkar ke
arah luar membuat area 2 cm atau lebih 7 cm
l. Biarkn mengering. Gagal kontak dengan alcohol dapat menyebabkan resiko kontaminasi
dan jangan sentuh daerah yang sudah bersih seperti menempatkan jari diatas vena yang
sudah ditentukan jika terentuh lakukan desinfeksi kembali.
m. Gunakan tangan kanan untuk memegang jarum, ujung telunjuk pada pangkal jarum.
Lakukan prepungsi/persiapan jarum, pastikan tidak ada rongga udara dan kencangkan
jarumnya.
n. Tegangkan kulit diatas pembuluh darah supaya pembuluh darah tidak bergerak.
o. Masukkan jarum kedalam pembuluh vena sepanjang 1-1,5 cm dengan sudut 15-30
derajat.
p. Apabila terlihat bercak darah pada ujung jarum, ambillah darah sesuai kebutuhan.
q. Setelah darah terkumpul, lepaskan tourniquet sebelum menarik jarum. Pedoman lain
menyarankan melepaskan tourniquet segera setelah darah mengalir.
r. Tarik jarum perlahan sambil meneekan pada daerah penusukan menggunakan bola kapas
kering. Sarankan pasien untuk tetap meluruskan tangan dan tidak menekuknya karena
jika menekuk lengan akan menyebabkan hematom.
s. Tutup jarum dengan tidak menyentuh tutup dan ujung jarum. Diperbolehkan menyentuh
ujung tutup jika jarum sudah benar-benar masuk dalam tutup.
t. Buka ujung jarum lalu pindahkan darah yang telah diperoleh pelan-pelan ke dalam botol
penampung lalu dicamppurkan secara lembut (digoyangkan secara lembut) jangan terlalu
keras karena akan mempengaruhi komposisi darah.
u. Catatlah atau labelkan sampel yang diperoleh sesuai identitas pasien, nama plebotomist
dan keperluan pemeriksaan.
v. Setelah selesai buanglah bekas jarum ke empat yang tersedia dan kapas secara terpisah
(tempat pembuangan sampah medis/sharp container) serta membereskan area kerja.
w. Ucapkan terimakasih kepada pasien dan memberi tahu bahwa pengambilan darah sudah
selesai.
3. Pengambilan darah vena mengguakan vacutainer dan jarum bersayap/kupu (winged
needle).
Pada dasarnya pengambilan darah vena menggunakan vacutainer sama seperti
pengambilan darah vena menggunakan spuit/syringe (jarum suntik biasa), yang
membedakan adalah pada saat setelah menusukkan jarum dan kemudia melakukan
penyedotan darah ke dalam vakum-vakum khusus yang sudah terisi oleh antikoagulan
sesuai pemeriksaan dan mempunyai sistem urutan pengambilan darah pemeriksaan.
Urutan pengambilan sampel (vacutainer):
a. Kultur darah
b. Tabung antara
c. Koagulasi
d. Serum kimia
e. Plasma separator gel tubes (PSTs) hematologi crossmacth
f. Glucose (oxalate) atau bank darah
g. Menampung Darah Dalam Tabung
4. Menampung Darah Dalam Tabung
Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek laboratorium
klinik adalah sebagai berikut :
a. Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah akan menjadi
beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank darah (crossmatching test)
b. Tabung tutup kuning. Tabung ini berisi gel separator (serum separator tube/SST) yang
fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah pemusingan, serum akan berada
di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan kimia darah, imunologi dan serologi
c. Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma separator tube/PST)
dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah pemusingan, plasma akan berada di
bagian atas gel dan sel darah berada dibawah gel. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan kimia darah.
d. Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA. Umumnya digunakan
untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)
e. Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)
f. Tabung tutup hijau. Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin, umumnya
digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia darah.
g. Tabung tutup biru gelap. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam, umumnya
digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper, mercury) dan toksikologi.
h. abung tutup abu-abu terang. Tabung ini berisi natrium fluoride dan kalium oksalat,
digunakan untuk pemeriksaan glukosa.
i. Tabung tutup hitam ; berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk pemeriksaan LED
(ESR). 3
j. Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan
imunohematologi.
k. Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan molekuler/PCR
dan bDNA.
l. Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi media biakan,
digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi - aerob, anaerob dan jamur
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Jarum wing needle dan needle
b. Spoid
c. Cawan petri
d. Tourniquet
2. Bahan
a. Alcohol
b. Kapas alcohol
c. Kapas kering
B. Prinsip Kerja
pengambilan spesimen dengan metode tusukan vena, dimana jarum diarahkan 30
dan disesuaikan arah pada pembuluh vena mediana cubiti (bagian pangkal siku) serta
posisi jarum menghadap keatas, dengan menggunakan jarum spuit 3 cc/ml dan wing
needle. Pembendungan pembuluh darah vena dilakukan agar pembuluh darah tampak
jelas dan dengan mudah dapat ditusuk sehingga didapatkan sempel darah
C. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipasangkan jarum pada holder, pastikan terpasang erat
3. Dilakukan pendekatan pada pasien dengan tenang dan ramah
4. Diperiksa identitasnya pasien, agar tidak terjadi kesalahan
5. Dimintai untuk pasien meluruskan lengannya
6. Dimintai pasien untuk mengepalkan tangan
7. Dipasangkan tourniquet pada lengan pasien, diukur diatas 3 jari dari vena pasien
8. Dipilih bagain vena yang akan ditusuk, dengan melakukan perabaan untuk
menentukan posisi vena
9. Setelah didapat, bersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan kapas alcohol 70 %
dan dibiarkan kering.
10. Ditusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas, setelah masuk
tarik spoit untuk menarik darah keluar
11. Dilepaskan tourniquet pada pasien dan minta pasien membuka kepalan tangannya
12. Diletakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarikjarum keluar.
BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN
A. Hasil dan Gambar

B. Pembahasan
Pada praktikum flebotomy dan teknik sampling kali ini kami menggunakan jarum
wing needle untuk proses pengambilan darah pada dorsal. Pada teknik pengambilan darah
kita menggunakan jarum wing needle dimana kita membutuhkan konsentrasi yang
maksimal untuk proses pengambilan darah tersebut, supaya kita bisa mendapatkannya.
Dan jika kalau kita tidak membutuhkan konsentrasi, maka kita tidak akan mendapatkan
sampel darah tersebut. Pada teknik menggunakan jarum wing needle kadangkala kita
tidak menemukan letak tempat/posisi pembuluh darah tersebut, karna pada saat jarum
wing needle masuk ke dorsal kangdala melengset ke arteri artinya pada pembulu darah
bagian dorsal bergerak sehingga kita tidak mendapatkannya. jadi kita sebagai flebotomis
harus tahu cara mencari pembuluh darah tersebut dengan menggerakan posisi jarum
kearah dimana letak tempat/posisi pembuluh darah itu berada, Supaya kita bisa
menemukannya dan tari keluar darah pada bagian dorsal dengan menggunakan wing
needle.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pada teknik flebotomy dan teknik sampling kita menggunakan jarum wing needle,
dimana kita gunakan untuk proses pengambilan darah pada pasien.
2. Proses yang dilakukan untuk pengambilan harus dengan hati-hati dan konsentrasi
supaya kita dapat menemukan vena dari pasien tersebut.
3. Komunikasi atau cara pendekatan pada pasien bagi seorang flebotomis itu harus
dilakukan untuk menimbulkan kerjasama antara pasien dan flebotomis itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Isakandar Ulti Assyfa, (2015/2016). Pengambilan Sampel Darah. Semarang :


Universitas Muhammadiyah Semarang
Ulfah Marya Karina, (2016). Pengambilan Darah Kapiler dan Vena. Semarang :
Universitas Muhammadiyah Semarang
Ulya Faizatul, (2016). Flebotomy Sederhana. Semarang : Universitas Muhammadiyah
Semarang