Anda di halaman 1dari 16

Bab 7.

Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________


____________________________________________________________
7
GEOLOGI STRUKTUR
7.1 Pendahuluan
Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk
(arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi batua
n adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya yang b
ekerja di dalam bumi. Secara umum pengertian geologi struktur adalah ilmu yang m
empelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta
menjelaskan proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi
struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur geologi, sepe
rti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang
merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan ge
otektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempe
lajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, l
antai samudera, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui bahwa batuan-batuan yang t
ersingkap dimuka bumi maupun yang terekam melalui hasil pengukuran geofisika mem
perlihatkan bentuk bentuk arsitektur yang bervariasi dari satu tempat ke tempat
lainnya. Bentuk arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya merupaka
n batuan-batuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja
pada batuan tersebut. Deformasi pada batuan dapat berbentuk lipatan maupun patah
an/sesar. Dalam ilmu geologi struktur dikenal berbagai bentuk perlipatan batuan,
seperti sinklin dan antiklin. Jenis perlipatan dapat berupa lipatan simetri, as
imetri, serta lipatan rebah (recumbent/overtune), sedangkan jenis-jenis patahan
adalah patahan normal (normal fault), patahan mendatar (strike slip fault), dan
patahan naik (trustfault). Proses yang menyebabkan batuan-batuan mengalami defor
masi adalah gaya yang bekerja pada batuan batuan tersebut. Pertanyaannya adalah
dari mana gaya tersebut berasal ? Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam teori “Tekt
onik Lempeng” dinyatakan bahwa kulit bumi tersusun dari lempeng-lempeng yang salin
g bergerak satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa
pergerakan yang saling mendekat (konvergen), saling menjauh (divergen), dan ata
u saling berpapasan (transform). Pergerakan lempeng-lempeng inilah yang merupaka
n sumber asal dari gaya yang bekerja pada batuan kerak bumi. Berbicara mengenai
gaya yang bekerja pada batuan, maka mau tidak mau akan berhubungan dengan ilmu m
ekanika batuan, yaitu suatu ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisik batuan yang
terkena oleh suatu gaya.
7.2
Tujuan Mempelajari Geologi Struktur
Adapun tujuan dari mempelajari geologi struktur adalah antara lain: 1. Memberi p
emahaman mengenai prinsip-prinsip dasar deformasi batuan. 2. Memberi pemahaman m
engenai jenis-jenis dan mekanisme pembentukan struktur geologi dan tektonik yang
terlibat dalam deformasi batuan.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
189
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
3. Memperkenalkan konsep tektonik lempeng sebagai mekanisme utama asal dari sumb
er gaya deformasi pada batuan. 4. Mampu menafsirkan arah gaya dari deformasi bat
uan pada peta topografi dan singkapan batuan. 1. Apa yang dipelajari dalam geolo
gi struktur? a) Kajian mengenai gaya yang bekerja pada batuan, termasuk asal-usu
lnya, geometri dan kinetiknya. b) Memahami proses-proses geologi dan mekanisme p
embentukan struktur geologi seperti kekar, retakan, sesar dan lipatan. Semua str
uktur ini terbentuk sebagai respon atas gaya yang bekerja pada batuan sebagai ak
ibat dari pergerakan dan interaksi lempeng/kerak bumi. 2. Apa pentingnya kita me
mpelajari geologi struktur ? a) Memahami bagaimana struktur geologi dalam suatu
batuan terbentuk dan hal ini dapat membantu untuk mengetahui sejarah yang pernah
terjadi pada batuan tersebut. Selain dari pada itu, dengan mempelajari geologi
struktur, kita dapat mengetahui proses kejadian jebakan sumberdaya geologi seper
ti air, minyakbumi, gas dan mineral lainnya. b) Dengan mengetahui jenis struktur
yang ada pada batuan maka kita dapat mengetahui kondisi batuan tersebut, apakah
batuan tersebut telah terkena gaya yang sangat kuat atau tidak? dan apakah gaya
yang bekerja pada batuan masih aktif atau tidak ?. c) Dengan mengetahui kekuata
n gaya yang telah terjadi pada batuan maka kita dapat meramal kekuatan atau keta
hanan batuan itu apabila batuan tersebut terkena getaran yang berasal dari gempa
bumi. d) Dengan mengetahui jenis struktur yang ada, seperti lipatan atau sesar,
kita dapat mengetahui keadaan bentuk muka bumi dengan lebih baik. Dan hal ini a
kan membantu kita untuk mengetahui kesesuaian atau kestabilan sesuatu kawasan te
rhadap daya dukung lahan untuk konstruksi bangunan atau kestabilan wilayah terha
dap bencana longsoran, dsb. 3. Apakah ada hubungan antara geologi struktur denga
n bidang ilmu lainnya ? a) Bidang ilmu fisika, kimia dan matematik mempunyai hub
ungan yang sangat penting dengan geologi struktur, terutama untuk mengetahui dan
memahami mekanisme dan memperkirakan arah gaya yang bekerja pada suatu batuan.
b) Saat ini program komputer telah banyak dipakai dalam menentukan dan menafsirk
an arah gaya yang bekerja pada suatu batuan. 4. Apakah ada hubungan antara geolo
gi struktur dengan bidang geologi lainnya? a) Untuk mengkaji struktur geologi da
n tektonik tanpa pengetahuan tentang stratigrafi, sedimentologi dan paleontologi
akan menjadi sulit. Ketiga pengetahuan tersebut dapat membantu untuk menjelaska
n kedudukan asal suatu susunan batuan. Tafsiran urutan susunan batuan akan lebih
mudah dijelaskan melalui bidang pengetahuan tersebut diatas. b) Pengetahuan ten
tang petrologi dan geokimia dapat membantu dalam menjelaskan asal usul struktur
geologi, sedangkan pengetahuan geomorfologi penting untuk mengetahui aktivitas s
truktur geologi, khususnya aktivitas yang resen. c) Geofsika, oseonografi dan ge
ologi bawah tanah dapat membantu dalam menelaah struktur bawah tanah dan struktu
r dasar laut. Dengan kata lain, geologi struktur sangat erat kaitannya dengan il
mu-ilmu geologi lainnya. 5. Bagaimana cara mempelajarinya?
a) Untuk mempelajari geologi struktur dibutuhkan pengetahuan 3 dimensi seperti d
alam
bidang arsitektur serta menggunakan peta topografi, gambar foto dan citra sateli
t atau radar, dan data geofisika.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
190
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
b) Melalui pengamatan dan observasi lapangan yaitu dengan melihat sendiri singka
pan
singkapan batuan yang telah terdeformasi, seperti terlipat atau tersesarkan, bag
aimana bentuk deformasinya dan seberapa kuat deformasinya, yaitu dengan cara men
gukuran unsur-unsur struktur geologinya langsung di lapangan. c) Dengan cara men
gaitkan hubungan antara unsur struktur geologi mikro dengan unsur struktur geolo
gi yang lebih besar di lapangan (meso atau makro). Setiap unsur struktur geologi
mikro akan memiliki hubungan dengan unsur struktur meso maupun makronya.
7.3 Prinsip Dasar Mekanika Batuan
Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme pembentukan suatu struk
tur geologi akan menjadi lebih mudah apabila kita memahami prinsip-prinsip dasar
mekanika batuan, yaitu tentang konsep gaya (force), tegasan (stress), tarikan (
strain) dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi karakter suatu materi/bahan.
7.3.1 Gaya (Force) a) Gaya merupakan suatu vektor yang dapat merubah gerak dan a
rah pergerakan suatu b) Gaya dapat bekerja secara seimbang terhadap suatu benda
(seperti gaya gravitasi dan c) d) e) f) g)
benda. elektromagnetik) atau bekerja hanya pada bagian tertentu dari suatu benda
(misalnya gaya-gaya yang bekerja di sepanjang suatu sesar di permukaan bumi). G
aya gravitasi merupakan gaya utama yang bekerja terhadap semua obyek/materi yang
ada di sekeliling kita. Besaran (magnitud) suatu gaya gravitasi adalah berbandi
ng lurus dengan jumlah materi yang ada, akan tetapi magnitud gaya di permukaan t
idak tergantung pada luas kawasan yang terlibat. Satu gaya dapat diurai menjadi
2 komponen gaya yang bekerja dengan arah tertentu, dimana diagonalnya mewakili j
umlah gaya tersebut. Gaya yang bekerja diatas permukaan dapat dibagi menjadi 2 k
omponen yaitu: satu tegak lurus dengan bidang permukaan dan satu lagi searah den
gan permukaan. Pada kondisi 3-dimensi, setiap komponen gaya dapat dibagi lagi me
njadi dua komponen membentuk sudut tegak lurus antara satu dengan lainnya. Setia
p gaya, dapat dipisahkan menjadi tiga komponen gaya, yaitu komponen gaya X, Y da
n Z.
7.3.2 Tekanan Litostatik
a) Tekanan yang terjadi pada suatu benda yang berada di dalam air dikenal sebaga
i tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik yang dialami oleh suatu benda yang be
rada di dalam air adalah berbanding lurus dengan berat volume air yang bergerak
ke atas atau volume air yang dipindahkannya. b) Sebagaimana tekanan hidrostatik
suatu benda yang berada di dalam air, maka batuan yang terdapat di dalam bumi ju
ga mendapat tekanan yang sama seperti benda yang berada dalam air, akan tetapi t
ekanannya jauh lebih besar ketimbang benda yang ada di dalam air, dan hal ini di
sebabkan karena batuan yang berada di dalam bumi mendapat tekanan yang sangat be
sar yang dikenal dengan tekanan litostatik. Tekanan litostatik ini menekan keseg
ala arah dan akan meningkat ke arah dalam bumi.
7.3.3 Tegasan (Stress forces)
a) Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu luasan permukaan dari suatu benda
. Tegasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang terjadi pada batua
n sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal dari luar. b) Tegasan dapat didefin
isikan sebagai gaya yang bekerja pada luasan suatu permukaan benda dibagi dengan
luas permukaan benda tersebut: Tegasan (P)= Daya (F) / luas (A).
Copyright @2009 by Djauhari Noor
191
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
c) Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan yang mempunyai komponen tegasa
n prinsipal atau tegasan utama, yaitu terdiri daripada 3 komponen, yaitu: σ P , σ Q
dan σ R . d) Tega an pembeda adalah perbedaan antara tega an mak imal (σ P ) dan teg
a an minimal (σ R ). Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui kekuatan batuan maka
retakan/rekahan akan terjadi pada batuan ter ebut. e) Kekuatan uatu batuan an
gat tergantung pada be arnya tega an yang diperlukan untuk mengha ilkan retakan/
rekahan.
7.3.4 Gaya Tarikan (Ten ional Force )
a) Gaya Tegangan merupakan gaya yang diha ilkan oleh tega an, dan melibatkan per
ubahan panjang, bentuk (di tortion) atau dilata i (dilation) atau ketiga-tiganya
. b) Bila terdapat perubahan tekanan lito tatik, uatu benda (homogen) akan beru
bah volumenya (dilata i) tetapi bukan bentuknya. Mi alnya, batuan gabro akan men
gembang bila gaya hidro tatiknya diturunkan. c) Perubahan bentuk bia anya terjad
i pada aat gaya terpu at pada uatu benda. Bila uatu benda dikenai gaya, maka
bia anya akan dilampaui ketiga fa a, yaitu fa a ela ti ita , fa a pla ti ita , d
an fa a pecah. d) Bahan yang rapuh bia anya pecah ebelum fa e pla ti ita dilam
paui, ementara bahan yang pla ti akan mempunyai elang yang be ar antara ifat
ela ti dan ifat untuk pecah. Hubungan ini dalam mekanika batuan ditunjukkan o
leh tega an dan tarikan. e) Kekuatan batuan, bia anya mengacu pada gaya yang dip
erlukan untuk pecah pada uhu dan tekanan permukaan tertentu. f) Setiap batuan m
empunyai kekuatan yang berbeda-beda, walaupun terdiri dari jeni yang ama. Hal
ini dikarenakan kondi i pembentukannya juga berbeda-beda. g) Batuan edimen epe
rti batupa ir, batugamping, batulempung kurang kuat dibandingkan dengan batuan m
etamorf (kuar it, marmer, batu abak) dan batuan beku (ba alt, ande it, gabro). B
atuan yang terdapat di Bumi merupakan ubyek yang ecara teru meneru mendapat
gaya yang berakibat tubuh batuan dapat mengalami pelengkungan atau keretakan. Ke
tika tubuh batuan melengkung atau retak, maka kita menyebutnya batuan ter ebut t
erdeforma i (berubah bentuk dan ukurannya). Penyebab deforma i pada batuan adala
h gaya tega an (gaya/ atuan lua ). Oleh karena itu untuk memahami deforma i yang
terjadi pada batuan, maka kita haru memahami kon ep tentang gaya yang bekerja
pada batuan. Tega an ( tre ) dan tega an tarik ( train tre ) adalah gaya gaya
yang bekerja di eluruh tempat dimuka bumi. Salah atu jeni tega an yang bia a
kita kenal adalah tega an yang ber ifat eragam (uniform tre ) dan dikenal eb
agai tekanan (pre ure). Tega an eragam adalah uatu gaya yang bekerja ecara
eimbang ke emua arah. Tekanan yang terjadi di bumi yang berkaitan dengan beban y
ang menutupi batuan adalah tega an yang ber ifat eragam. Jika tega an ke egala
arah tidak ama (tidak eragam) maka tega an yang demikian dikenal ebagai tega
an diferen ial. Tega an diferen ial dapat dikelompokaan menjadi 3 jeni , yaitu:
1. Tega an ten ional (tega an exten ional) adalah tega an yang dapat mengakibatk
an batuan mengalami peregangan atau mengencang. 2. Tega an kompre ional adalah t
ega an yang dapat mengakibatkan batuan mengalami penekanan. 3. Tega an ge er ada
lah tega an yang dapat berakibat pada terge ernya dan berpindahnya batuan. Ketik
a batuan terdeforma i maka batuan mengalami tarikan. Gaya tarikan akan merubah b
entuk, ukuran, atau volume dari uatu batuan. Tahapan deforma i terjadi ketika
uatu batuan mengalami peningkatan gaya tega an yang melampaui 3 tahapan pada def
orma i batuan.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
192
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Gambar 7.1
Tega an Seragam / Uniform Stre (ata ); tega an ten ional (tengah kiri); tega a
n kompre ional (tengah kanan); dan tega an ge er / hear tre (gambar bawah)
Gambar 7.2 memperlihatkan hubungan antara gaya tarikan dan gaya tega an yang ter
jadi pada pro e deforma i batuan. Deforma i yang ber ifat ela ti (Ela tic Defo
rmation) terjadi apabila ifat gaya tariknya dapat berbalik (rever ible). 2. Def
orma i yang ber ifat lentur (Ductile Deformation) terjadi apabila ifat gaya tar
iknya tidak dapat kembali lagi (irrever ible). 3. Retakan / rekahan (Fracture) t
erjadi apabila ifat gaya tariknya yang tidak kembali lagi ketika batuan pecah/r
etak.
1.
Gambar 7.2
Kurva hubungan tega an ( tre ) dan tarikan ( train) terhadap batuan, dimana teg
a an dan tarikan emakin meningkat maka bata ela ti ita akan dilampaui dan pad
a akhirnya mengalami retak.
Kita dapat membagi material menjadi 2 (dua) kela dida arkan ata ifat perilaku
dari material ketika dikenakan gaya tega an padanya, yaitu : Material yang ber
ifat reta (brittle material), yaitu apabila ebagian kecil atau ebagian be ar
ber ifat ela ti tetapi hanya ebagian kecil ber ifat lentur ebelum material te
r ebut retak/pecah (gambar 7-3 kiri). 2. Material yang ber ifat lentur (ductile
material) jika ebagian kecil ber ifat ela ti dan ebagian be ar ber ifat lentu
r ebelum terjadi peretakan / fracture (gambar 7-3 kanan).
1.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
193
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Gambar 7.3 Kurva hubungan tega an ( tre ) dan tarikan ( train) untuk material/b
atuan yang ber ifat reta dan batuan/material yang ber ifat lentur.
Bagaimana uatu batuan / material akan bereak i tergantung pada beberapa faktor,
antara lain adalah: 1. Temperatur – Pada temperatur tinggi molekul molekul dan ik
atannya dapat meregang dan berpindah, ehingga batuan/material akan lebih bereak
i pada kelenturan dan pada temperatur, material akan ber ifat reta . 2. Tekanan
beba – pada material yang terkena tekanan beba yang be ar akan ifat untuk reta
k menjadi berkurang dikarenakan tekanan di ekelilingnya cenderung untuk menghala
ngi terbentuknya retakan. Pada material yang tertekan yang rendah akan menjadi b
er ifat reta dan cenderung menjadi retak. 3. Kecepatan tarikan – Pada material ya
ng tertarik ecara cepat cenderung akan retak. Pada material yang tertarik ecar
a lambat maka akan cukup waktu bagi etiap atom dalam material berpindah dan ole
h karena itu maka material akan berperilaku / ber ifat lentur. 4. Kompo i i – Bebe
rapa mineral, eperti Kuar a, Olivine, dan Feld par ber ifat angat reta . Miner
al lainnya, eperti mineral lempung, mica, dan kal it ber ifat lentur. Hal ter e
but berhubungan dengan tipe ikatan kimianya yang terikat atu dan lainnya. Jadi,
kompo i i mineral yang ada dalam batuan akan menjadi uatu faktor dalam menentu
kan tingkah laku dari batuan. A pek lainnya adalah hadir tidaknya air. Air kelih
atannya berperan dalam memperlemah ikatan kimia dan mengitari butiran mineral e
hingga dapat menyebabkan perge eran. Dengan demikian batuan yang ber ifat ba ah
cenderung akan ber ifat lentur, edangkan batuan yang kering akan cenderung ber
ifat reta .
7.3.5 Mekani ma Se ar 1. Pengenalan
a) Se ar merupakan retakan yang mempunyai pergerakan earah dengan arah retakan.
Ukuran pergerakan ini adalah ber ifat relatif, dan kepentingannya juga relatif.
b) Se ar mempunyai bentuk dan dimen i yang bervaria i. Ukuran dimen i e ar mun
gkin dapat mencapai ratu an kilometer panjangnya ( e ar Semangko) atau hanya beb
erapa entimeter aja. Arah ingkapan uatu e ar dapat luru atau berliku-liku.
c) Se ar boleh hadir ebagai empadan yang tajam, atau ebagai uatu zona, deng
an ketebalan beberapa milimeter hingga beberapa kilometer.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
194
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
2. Anatomi Se ar
a) Arah pergerakan yang terjadi di epanjang permukaan uatu e ar dikenal ebaga
i bidang e ar. Apabila bidang e arnya tidak tegak, maka batuan yang terletak d
i ata nya dikenali ebagai dinding gantung (hanging wall), edangkan bagian bawa
hnya dikenal dengan dinding kaki (footwall). b) Ada dua jeni gelinciran e ar,
atu komponen tegak (dip- lip) dan atu komponen mendatar ( trike- lip). Kombina
i kedua-dua gelinciran dikenal ebagai gelinciran oblik (oblique lip). c) Pada
permukaan bidang e ar terdapat gore -gari e ar ( licken- ide) yang dicirikan
oleh permukaan yang licin, pertumbuhan mineral dan tangga-tangga kecil. Arah pe
rgerakan e ar dapat ditentukan dari arah gore gari nya. d) Menurut Ander on (1
942) ada tiga kategori utama e ar, yaitu e ar normal atau e ar turun (normal
fault), e ar ungkup/ e ar naik (thru t fault) dan e ar mendatar (wrench fault
atau trike- lip fault). e) Se ar mendatar, berda arkan gerak relatifnya terdap
at e ar mendatar dek tral atau ini tral. Sedangkan e ar tran form adalah e a
r mendatar yang terjadi antara dua lempeng yang aling berpapa an. f) Terdapat j
uga e ar jeni en echelon, e ar radial, e ar membulat dan e ar epanjang per
lapi an.
3. Kriteria Pen e aran
a) Se ar yang aktif ditunjukkan oleh rayapan akibat gempa bumi dan pecahan dalam
tanah. b) Yang tidak aktif dapat dilihat dari peralihan pada kedudukan lapi an,
perulangan lapi an, perubahan ecara tiba-tiba uatu jeni batuan, kehadiran mi
loniti a i atau brek ia i, kehadiran truktur eretan (drag-fault), bidang e ar
(fault-plane).
7.4 Jeni Jeni Struktur Geologi
Dalam geologi dikenal 3 jeni truktur yang dijumpai pada batuan ebagai produk
dari gaya gaya yang bekerja pada batuan, yaitu: (1). Kekar (fracture ) dan Rekah
an (crack ); (2). Perlipatan (folding); dan (3). Patahan/Se ar (faulting). Ketig
a jeni truktur ter ebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa jeni un ur truk
tur, yaitu:
7.4.1 Kekar (Fracture )
Kekar adalah truktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat uatu gaya ya
ng bekerja pada batuan ter ebut dan belum mengalami perge eran. Secara umum dici
rikan oleh: a). Pemotongan bidang perlapi an batuan; b). Bia anya teri i mineral
lain (minerali a i) eperti kal it, kuar a d b; c) kenampakan brek ia i. Strukt
ur kekar dapat dikelompokkan berda arkan ifat dan karakter retakan/rekahan ert
a arah gaya yang bekerja pada batuan ter ebut. Kekar yang umumnya dijumpai pada
batuan adalah ebagai berikut: 1. Shear Joint (Kekar Geru ) adalah retakan/rekah
an yang membentuk pola aling berpotongan membentuk udut lancip dengan arah gay
a utama. Kekar jeni hear joint umumnya ber ifat tertutup. 2. Ten ion Joint ada
lah retakan/rekahan yang berpola ejajar dengan arah gaya utama, Umumnya bentuk
rekahan ber ifat terbuka. 3. Exten ion Joint (Relea e Joint) adalah retakan/reka
han yang berpola tegak luru dengan arah gaya utama dan bentuk rekahan umumnya t
erbuka.
Copyright @2009 by Djauhari Noor
195
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Kekar Geru (Shear Joint)
Kekar Ten ional (Ten ional Joint)
Gambar 7.4 Kekar (fracture) jeni “Shear Joint ” dan “Ten ional Joint”.
7.4.2 Lipatan (Fold )
Lipatan adalah deforma i lapi an batuan yang terjadi akibat dari gaya tega an e
hingga batuan bergerak dari kedudukan emula membentuk lengkungan. Berda arkan b
entuk lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu a). Lipatan Sinklin adalah b
entuk lipatan yang cekung ke arah ata , edangkan lipatan antiklin adalah lipata
n yang cembung ke arah ata . Berda arkan kedudukan gari umbu dan bentuknya, li
patan dapat dikelompokkan menjadi : 1. Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ket
ebalan lapi an yang tetap. 2. Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapi a
n ejajar dengan umbu utama. 3. Lipatan Harmonik atau Di harmonik adalah lipata
n berda arkan meneru atau tidaknya umbu utama. 4. Lipatan Ptigmatik adalah lip
atan terbalik terhadap umbunya. 5. Lipatan Chevron adalah lipatan ber udut deng
an bidang planar. 6. Lipatan I oklin adalah lipatan dengan ayap ejajar. 7. Lip
atan Klin Band adalah lipatan ber udut tajam yang dibata i oleh permukaan plana
r.
Gambar 7.5 Pegunungan Lipatan (Folded Mountain ) ebagai ha il dar produk tekton
ik (orogene a).
Copyright @2009 by Djauhari Noor
196
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Lipatan Antiklin (Anticline fold )
Lipatan Sinklin (Syncline fold )
Lipatan Rebah (Recumbent fold )
Lipatan Chevron (Chevron fold )
Lipatan Di harmonic
Lipatan Ptigmatik
Lipatan Klin Band
Lipatan, Leng eran, Patahan
Copyright @2009 by Djauhari Noor
197
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
7.4.3 Hubungan Antara Lipatan dan Patahan
Batuan yang berbeda akan memiliki ifat yang berbeda terhadap gaya tega an yang
bekerja pada batuan batuan ter ebut, dengan demikian kita juga dapat memperkirak
an bahwa beberapa batuan ketika terkena gaya tega an yang ama akan terjadi reta
kan atau terpatahkan, edangkan yang lainnya akam terlipat. Ketika batuan batuan
yang berbeda ter ebut berada di area yang ama, eperti batuan yang ber ifat le
ntur menutupi batuan yang ber ifat reta , maka batuan yang reta kemungkinan aka
n terpatahkan dan batuan yang lentur mungkin hanya melengkung atau terlipat diat
a bidang patahan. Demikian juga ketika batuan batuan yang ber ifat lentur menga
lami retakan dibawah kondi i tekanan yang tinggi, maka batuan ter ebut kemungkin
an terlipat ampai pada titik tertentu kemudian akan mengalami pen e aran, membe
ntuk uatu patahan.
Gambar 7.6
Batuan yang ber ifat lentur diata batuan yang reta yang tidak ikut terpatahkan
(kiri) dan Batuan yang ber ifat lentur yang ter e arkan (dragfold).
7.4.4 Patahan/Se ar (Fault )
Patahan / e ar adalah truktur rekahan yang telah mengalami perge eran. Umumnya
di ertai oleh truktur yang lain eperti lipatan, rekahan d b. Adapun di lapang
an indika i uatu e ar / patahan dapat dikenal melalui : a) Gawir e ar atau bi
dang e ar; b). Brek ia i, gouge, milonit, ; c). Deretan mata air; d). Sumber ai
r pana ; e). Penyimpangan / perge eran kedudukan lapi an; f) Gejala-gejala truk
tur minor eperti: cermin e ar, gore gari , lipatan d b. Se ar dapat dibagi ke
dalam beberapa jeni /tipe tergantung pada arah relatif perge erannya. Selama pat
ahan/ e ar dianggap ebagai uatu bidang datar, maka kon ep juru dan kemiringan
juga dapat dipakai, dengan demikian juru dan kemiringan dari uatu bidang e a
r dapat diukur dan ditentukan. 1. Dip Slip Fault – adalah patahan yang bidang pat
ahannya menyudut (inclined) dan perge eran relatifnya berada di epanjang bidang
patahannya atau off et terjadi di epanjang arah kemiringannya. Sebagai catatan b
ahwa ketika kita melihat perge eran pada etiap patahan, kita tidak mengetahui
i i yang ebelah mana yang ebenarnya bergerak atau jika kedua i inya bergerak,
emuanya dapat kita tentukan melalui pergerakan relatifnya. Untuk etiap bidang
patahan yang yang mempunyai kemiringan, maka dapat kita tentukan bahwa blok yan
g berada diata patahan ebagai “hanging wall block” dan blok yang berada dibawah pa
tahan dikenal ebagai “footwall block”. 2. Normal Fault – adalah patahan yang terjadi
karena gaya tega an ten ional hori ontal pada batuan yang ber ifat reta dimana
“hangingwall block” telah mengalami perge eran relatif ke arah bagian bawah terhada
p “footwall block”. 3. Hor t & Gaben – Dalam kaitannya dengan e ar normal yang terj
adi ebagai akibat dari tega an ten ional, eringkali dijumpai e ar- e ar norma
l yang berpa ang pa angan dengan bidang patahan yang berlawanan. Dalam ka u yan
g demikian, maka bagian dari blok-blok yang turun akan membentuk “graben” edangkan
pa angan dari blok-blok yang terangkat ebagai “hor t”. Contoh ka u dari pengaruh g
aya tega an ten ional yang bekerja pada kerak bumi pada aat ini adalah “Ea t Afri
can Rift Valley” uatu wilayah dimana terjadi pemekaran
Copyright @2009 by Djauhari Noor
198
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
benua yang mengha ilkan uatu “Rift”. Contoh lainnya yang aat ini juga terjadi peme
karan kerak bumi adalah wilayah di bagian barat Amerika Serikat, yaitu di Nevada
, Utah, dan Idaho.
Gambar 7.7
Se ar / Patahan Normal yang di ebabkan oleh gaya tega an ten ional hori ontal, d
imana hangingwall bergerah kebagian bawah dari footwall.
Gambar 7.8
Rangkaian patahan normal ebagai ha il dari gaya tega an ten ional hori ontal ya
ng membentuk “Hor t” dan “Graben”.
4. Half-Graben – adalah patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkunga
n dengan be ar kemiringannya emakin berkurang kearah bagian bawah ehingga dapa
t menyebabkan blok yang turun mengalami rota i.
Gambar 7.9 Patahan normal yang bidang patahannya berbentuk lengkungan dengan be
ar bidang kemiringannya emakin mengecil kearah bagian bawah.
Gambar 7.9
Berbagai jeni patahan normal ebagai ha il dari gaya tega an ten ional hori ont
al .
Copyright @2009 by Djauhari Noor
199
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
5. Rever e Fault – adalah patahan ha il dari gaya tega an kompre ional hori ontal
pada batuan yang ber ifat reta , dimana “hangingwall block” berpindah relatif keara
h ata terhadap “footwall block”.
Gambar 7.10
Rever e Fault ebagai ha il dari gaya tega an kompre ional, dimana bagian hangin
gwall bergerak relatif kebagian ata dibandingakan footwallnya .
5. A Thru t Fault adalah patahan “rever e fault” yang kemiringan bidang patahannya l
ebih kecil
dari 150. . Perge eran dari e ar “Thru t fault” dapat mencapai hingga ratu an kilom
eter ehingga memungkinkan batuan yang lebih tua dijumpai menutupi batuan yang l
ebih muda.
Gambar 7.11 Thru t Fault adalah uatu patahan “rever e fault” yang bidang patahannya
mempunyai kemiringan kurang dari 150
6. Strike Slip Fault – adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah hori ont
al mengikuti
arah patahan. Patahan jeni ini bera al dari tega an ge er yang bekerja di dalam
kerak bumi. Patahan jeni “ trike lip fault” dapat dibagi menjadi 2(dua) tergantun
g pada ifat pergerakannya. Dengan mengamati pada alah atu i i bidang patahan
dan dengan melihat kearah bidang patahan yang berlawanan, maka jika bidang pada
alah atu i i bergerak kearah kiri kita ebut ebagai patahan “left-lateral tr
ike- lip fault”. Jika bidang patahan pada i i lainnya bergerak ke arah kanan, mak
a kita namakan ebagai “right-lateral trike- lip fault”. Contoh patahan jeni “ trike
lip fault” yang angat terkenal adalah patahan “San Andrea ” di California dengan pa
njang mencapai lebih dari 600 km.
Gambar 7.12 Strike Slip Fault adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah
hori ontal mengikuti arah patahan
Copyright @2009 by Djauhari Noor
200
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Gambar 7.13 Peta ebaran batuan yang memperlihatkan perge eran (off et) batuan
di epanjang bidang patahan mendatar ( trike lip fault) jeni “leftlateral trike-
lip fault” dimana blok kiri bergerak relatif ke elatan dan blok kanan bergerak r
elatif ke utara.
7. Tran form-Fault adalah jeni patahan “ trike- lip fault ” yang kha terjadi pada
bata
lempeng, dimana dua lempeng aling berpapa an atu dan lainnya ecara hori ontal
. Jeni patahan tran form umumnya terjadi di pematang amudra yang mengalami per
ge eran (off et), dimana patahan tran form hanya terjadi diantara bata kedua pe
matang, edangkan dibagian luar dari kedua bata pematang tidak terjadi pergerak
an relatif diantara kedua bloknya karena blok ter ebut bergerak dengan arah yang
ama. Daerah ini dikenal ebagai zona rekahan (fracture zone ). Patahan “San Andr
ea ” di California terma uk jeni patahan “tran form fault”.
Gambar 7.14 Patahan jeni “Tran form-Fault” hanya terjadi diantara bata kedua pemat
ang amudra
Copyright @2009 by Djauhari Noor
201
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
Rever e Fault (Bidang Se ar < 45°)
Thru t Fault (Bidang Se ar < 15°)
Strike Slip Fault
Tran form Fault
Normal Fault (Dip Slip Fault)
Normal Fault (Oblique Normal Fault)
Gambar 7.12 Kenampakan e ar naik (rever e fault & thru t fault), e ar mendatar
( trike lip fault & tran form fault) dan e ar normal di lapangan
Copyright @2009 by Djauhari Noor
202
Bab 7. Geologi Struktur Pengantar Geologi ______________________________________
____________________________________________________________
RINGKASAN
Geologi truktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk
(ar itektur) batuan ebagai ha il dari pro e deforma i. Tega an adalah gaya ya
ng bekerja pada uatu lua an permukaan dari uatu benda atau uatu kondi i yang
terjadi pada batuan ebagai re pon dari gaya-gaya yang bera al dari luar. Gaya m
erupakan uatu vektor yang dapat merubah gerak dan arah pergerakan uatu benda.
Kekar adalah retakan/rekahan yang terbentuk pada batuan akibat uatu gaya yang b
ekerja pada batuan ter ebut. Dalam geologi truktur dikenal 3 (tiga) jeni kekar
, yaitu kekar geru ( hear fracture), kekar tarik (ga h fracture) dan kekar rele
a e. Lipatan adalah uatu deforma i batuan yang berbentuk gelombang inu oidal y
ang di ebabkan oleh gaya yang bekerja pada batuan akan tetapi tidak melampaui ba
ta ela ti ita batuannya. Berda arkan kedudukan gari umbu dan bentuknya, lipa
tan dapat dikelompokkan menjadi : 1). Lipatan Paralel adalah lipatan dengan kete
balan lapi an yang tetap; 2). Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapi a
n ejajar dengan umbu utama; 3). Lipatan Harmonik atau di harmonik adalah lipat
an berda arkan meneru atau tidaknya umbu utama; 4). Lipatan Ptigmatik adalah l
ipatan terbalik terhadap umbunya; 5). Lipatan Chevron adalah lipatan ber udut d
engan bidang planar; 6). Lipatan I oklin adalah lipatan dengan ayap ejajar: 7)
. Lipatan Klin Band adalah lipatan ber udut tajam yang dibata i oleh permukaan
planar. Patahan ( e ar) adalah perge eran ebagian ma a batuan dari kedudukan e
mula yang diakibatkan oleh gaya yang bekerja pada batuan. Terdapat 3 (tiga) jeni
patahan, yaitu: 1. Patahan Normal (Dip Slip Fault, Normal Fault, Hor t and Gra
ben) 2. Patahan Mendatar (Strike Slip Fault, Tran form Fault). 3. Patahan Naik (
Rever e Fault, Thru t Fault).
PERTANYAAN ULANGAN
1. Sebutkan tujuan mempelajari geologi truktur ? 2. Jela kan mengapa pola dan a
rah kekar dapat dipakai untuk menganali a jeni uatu e ar (patahan) dan arah g
aya utama yang bekerja pada batuan ? 3. Bagaimana cara menentukan gaya utama dar
i uatu perlipatan ? 4. Jela kan perbedaan antara e ar “Tran form” dan e ar “Strike
Slip Fault” ? 5. Jela kan gaya utama yang bekerja pada e ar Naik dan e ar Normal
? 6. Jela kan perbedaan antara “Rever e Fault” dan “Thru t Fault” ?
Copyright @2009 by Djauhari Noor
203