Anda di halaman 1dari 5

C.

Kerajaan-kerajaan lslam di lndonesia

1. Samodra Pasai

Kerajaan Samodra Pasai didirikan oleh Sultan Malik al Saleh. Untuk memperkuat kedudukannya,
Sultan Malik al Saleh menikah dengan putri Ganggang Sari dan memperluas wilayah ke daerah
pedalaman

Pada masa kejayaannya samodra Pasai mernpunyai peranan ganda yakni:

a. Sebagai pusat pengembangan agama lslam. Hal ini terbukti dengan kedatangan musafir dari
Kesultanan Delhi yang bernama lbnu Batutah

b. Sebagai pusat perdagangan. Hal ini karena Samodra Pasai terletak di daerah yang strategis

Untuk melancarkan usaha perdagangannya, samodra Pasai menyiapkan bandar-bandar pelabuhan


Yang berfungsi untuk:

a. Menambah perbekalan dalam pelayaran

b. Mengurus soal-soal Perkapalan

c. mengumpulkan barang-barang yang akan dikirim ke luar atau akan diantarkan ke daerah

lain.

Keadaan ini menarik pedagang-pedagang untuk datang ke Samodra Pasai. Sementara itu untuk
mendapatkan penghasilan, baik berupa pajak atau upeti, maka Samodra Pasai melakukan
pengawasan dalam perdagangan. Mata uang yang digunakan sebagai alat penukar adalah
Dirham.Kerajaan Samodra pasai mengalami kemunduran karena terjadinya perebutan kekuasaan
dan munculnya Keraiaan Majapahit.

2. Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah setelah berhasil melepaskan diri dari
kekuasaan Kerajaan Pedir, Tata pemerintahan Aceh digolongkan menjadi dua, yakni:

a. Pemerintahan yang diperintah oleh golongan bangsawan yang bergelar Teuku

b. Pemerintahan yang dikuasai oleh kaum ulama yang bergelar Tengku

Aceh mencapai kebesaran pada masa pemerintahan Sultan lskandar Muda. Pada masa ini kerajaan
Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan lslam dan menjadi bandar
transito yang dapat menghubungkan perdagangan lslam di dunia Barat. Penghasilan kerajaan
didapat dari penarikan pajak dan cukai, di antaranya yakni wase tanah, adat peukan, Wase kuala,
wase pinang, dan wase inteun. Dalam pergantian tahta di Aceh tidak membedakan antara
kedudukan putra raja (laki-laki) dengan putri raja (wanita).

3. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah atau Pete Rodin Senin yang merupakan keturunan dari
Brawijaya V (raja Majapahit). Pusat pemerintahannya di daerah Bintara. Letaknya yang strategis.
Demak seolah-olah sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah-rempah di lndonesia
Timur dengan Malaka sebagai pasaran Demak di bagian barat.

Dengan berkembangnya Demak, maka Kerajaan Demak berkeinginan untuk menggantikan


kedudukan Malaka sebagai pusat perdagangan nasional maupun internasional. Oleh karena itu, pada
masa Dipati unus dikirimlah pasukan Demak untuk menyerang Malaka yang pada saat itu dikuasai
oleh portugis. perekonomian Demak berkembang dalam dunia maritim dan didukung oleh
penghasilan dalam bidang agraris.

Demak mencapai keberhasilan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana. Pada masa ini wilayah
Demak meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Kehidupan masyarakat telah
teratur dengan dasar hukum lslam walaupun masih tetap melaksanakan tradisi-tradisi lama. Pada
kondisi demikian peran wali sanga sangat besar dalam menentukan kebijaksanaan raja, penyebaran
lslam, maupun sebagai panutan masyarakat. Salah satu bukti peninggalan Kerajaan Dernak adalah
Masjid Demak yang dibangun di bawah pimpinan Sunan Kalijaga.

Sepeninggal Sultan Trenggana, timbul perebutan kekuasaan di antara keluarga keraton yang
melemahkan kerajaan. Akhirnya kericuhan ini dapat dimenangkan oleh Sultan Hadiwijaya dari
Pajang. Pusat pernerintahan akhirnya dipindahkan ke pajang.

4. Kerajaan Banten

Kerajaan Banten berada di ujung barat Pulau Jawa. Daerah ini dapaf diislamkan oleh Fatahillah
(panglima perang dari Demak). Setelah Fatahillah menetap di Cirebon, daerah Banten diserahkan
kepada putranya yang benama Hasanuddin. Ketika Demak mengalami kericuhan, Banten
melepaskan dari Demak dan Hasanuddin dianggap sebagai peletak dasar Kerajaan Banten.

Faktor-faktor pendukung berkembangnya Banten sebagai pusat kerajaan dan pusat perdagangan
antara lain:

a. Letaknya strategis dan pelabuhannya terlindung oleh Pulau Panjang.

b. Memiliki bahan ekspor penting, yakni lada.

c. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.

Banten mencapai kebesaran pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa
pemerintahannya banyak pedagang asing dan membentuk perkampungan di Banten sesuai dengan
daerah asal mereka. Misalnya: Pekojan, Pecinan, Kampung Melayu. Di samping itu, terdapat pula
perkampungan yang berdasarkan keadaan nnasyarakat, misalnya: kampung Pande, kampung
Pajunan, kampung Kauman.

Kemajuan Banten juga ditandai dengan adanya perluasan wilayah yang berhasil menguasai

Kerajaan Pajajaran. Masyarakat Pajajaran yang tidak mau taat kepada Banten banyak yang

melarikan diri ke daerah pedalaman dan disebut bangsa Badui. Mereka mengikuti kepercayaan
Pasundan Kawitan.
Dalam bidang kebudayaan telah dihasilkan bangunan masjid agung dan istana kerajaan oleh Jan
Lucas Cardeel.

Kernunduran Kerajaan Banten terjadi karena pertikaian Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji
yang dibantu Belanda. Akibat pertikaian ini, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan ditawan.

5. Kerajaan Mataram lslam

Kerajaan Mataram lslam didirikan oleh Sutawilaya (Panembahan Senopati) setelah rnenerima
kekuasaan dari Pangeran Benowo (Putra Sultan Hiadiwijaya) dari Pajang. Untuk membenahi
kerajaan, Panembahan Senopati mulai melancarkan perluasan ke daerah timur dan daerah pesisir.

Mataram mencapai kebesaran pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Masa
pemerintahannya dibagi menjadi dua periode, yakni:

a. Masa penyatuan negara, yang dilakukan dengan mengadakan ekspansi ke barat dan timur.

b. Masa pembangunan negara.

Usaha yang dilakukan pada masa ini antara lain:

1) Mempertahankan Mataram sebagai negara maritim.

2) Mempertahankan Mataram sebagai negara agraris.

3) Menciptakan sistem feodal

4) Memunculkan kebudayaan kejawen yang merupakan akulturasi kebudiayaan asli, Hindu, Buddha,
dan lslam.

5) Diberlakukannya tarikh lslam yang berdasarkan peredaran bulan.

6) Diterbitkannya kitab sastra dan filsafat antara lain: Sastra Geneding, Nitisastra, dan Asrabrata.

Tata pemerintahan Mataram dibagi dalam beberapa wilayah, misalnya wilayah Kutanegara, Negara
Agung, dan Mancanegara. Dalam melaksanakan pemerintahannya, raja dibantu pejabat-pejabat,
antara lain: patih, Wedana, dan Tumenggung. Untuk mengetahui kesetiaan para bawahan harus
menghadap raja, setiap hari tertentu diadakan upacara, para bawahan harus menghadap kepada
raja (seba).

Setelah Sultan Agung wafat (1645), Mataram mengalami kemunduran. Hai ini disebabkan oleh
pemberontakan dan perang saudara dalam rangka perebutan kekuasaan. Pemberontakan yang
terjadi antara lain: pemberontakan Trunoioyo, pemberontakan Pangeran Kajoran, dan
pemberontakan pacinan. Puncaknya yakni perlawanan yang ditimbulkan dari Raden Mas Said dan
pangeran Mangkubumi.

Akibat perlawanan ini, maka berdasarkan Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua,
yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Kemudian pada tahun 1757 diadakan Perjanjian Salatiga yang berisi bahwa Raden Mas Said
mendapatkan sebagian daerah Surakarta yang kemudian terkenal dengan nama Mangkunegaran
yaitu Kasultanan
Akhirnya kerajaan Mataram dibagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil, yaitu Kasultanan Yogyakarta,
Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran.

6. Kerajaan Goa dan Tallo

Dua kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan. Karena dekatnya hubungan dua kerajaan itu
disatukan menjadi Kerajaan Makassar. Penguasa Gowa meniadi raja dan bergelar Sultan Alaudin,
sedangkan penguasa Tallo menjabat sebagai mengkubumi dan bergelar Sultan Abdullah.

Kerajaan Makasar mencapai puncak kebesaran pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. pada
masa pemerintahannya, Makasar banyak didatangi pedagang dari berbagai negara. Untuk mengatur
perniagaan itu, maka disusunlah undang-undang perniagaan yang disebut Aje' Attopeloping Bicarana
Paballu'e dan naskah Lontar Amanna Gappa.

Dari sejarah Gowa dapat diketahui jabatan-jabatan di Kerajaan Gowa; antara lain:

a. Bate Salapanga: dewan pembantu raja.

b. Paccalaya: pemimpin yang mengawasi dewan.

c. Anrong Guru Lampona Tumahaiana: panglima pemimpin tentara

d. Tumai Lalang Matowa: pegawai tinggi yang menyampaikan perintah raja kepada Bate Salapanga.

e. Opu Bali Rante: bendahara kerajaan

Letak Makasar yang strategis dan banyak menghasilkan keuntungan dalam perdagangan,
mendorong Belanda untuk menguasai daerah itu. Hal ini ditentang oleh Sultan Hasanuddin, sehingga
terjadilah pertempuran antara kedua belah pihak. Namun karena kalah dalam persenjataan dan
pengkhianatan Flaja Bone (Aru Palaka), maka Makassar mengalami kekalahan dan terpaksa
menandatangani Perjanjian Bongaya (1667) yang berisi:

a. VOC memperoleh hak monopoli dagang di Makassar

b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makassar

c. Makassar harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya.

d. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.

7. Kerajaan Ternate dan Tidore

Proses lslamisasi di Maluku rnengakibatkan raja-raja Maluku menganut ajaran lslam. Raja Maluku
yang benar-benar rnenganut agama lslam adalah Zainal Abidin. Daerah Maluku yang kaya rernpah-
rernpah menarik pedagang-pedagang asing untuk datang ke Maluku. Permintaan rempah-rempah
yang semakin meningkat, mendorong orang-orang Maluku untuk membentuk persekutuan-
persekutuan daerah untuk menguasai perdagangan, antara lain Uli Lima yang dipimpin Ternate dan
Uli Siwa yang dipimpin Tidore.

Kedatangan Portugis yang ingin memonopoli perdagangan menimbulkan perlawanan rakyat Maluku.
Ketika dipimpin Sultan Baabullah, Maluku berhasil rnengusir Portugis. Sementara itu, di Tidore
terjadi intervensi Belanda yang ingin mernonopoli perdagangan di Maluku. Hal ini menimbulkan
perlawanan rakyat Maluku, misalnya yang dipimpin Sultan Nuku.