Anda di halaman 1dari 6

SUPLAI MAKANAN IKAN NILA

Pada keadaan alami ikan nila bisa cepat tumbuh pada keadaan berarus,
sehingga bisa mengefektifkan peningkatan pertumbuhan ikan nila. Namun, pada
keadaan alami ikan nila sudah jarang ditemukan dan sekarang masyarakat banyak
membudidayakannya. Oleh karena itu suplai makanan haruslah diperhatikan agar
ikan nila bisa tumbuh dengan baik dan tidk merugikan pembudidaya. Dalam
pembuatan kolam hendaknya dekat dengan sumber air karena dengan kualitas yang
baik bisa meningkatkan suplai makanan alami seperti plankton, kutu air, jentik
nyamuk, dan sebagainya ( Prasetio, 2010). Namun, karena ikan nia dinudidayakan
pada kolam sehingga pakan buatan juga harus dibutuhkan, karena produksi yang
tinggi pada kolam juga meningkatkan kepadatan yang tinggi juga. Pakan buatan
digunakan untuk menyuplai pakan alami yang sangat kurang sehingga bisa
membantu dalam menumbuhkan ikan nila secara efektif dan efisien. Sehingga
dalam penggunaan pakan juga harus memperhatikan rumus FR(Finding Rate) yaitu
persentasi pemberian pakan harian pada proses budidaya.
FR=3% x biomassa
Jika masih bibit maka biasanya menggunakan 7%, namun kisarannya yaitu 5-10%.
Jika dewasa maka penggunaan persentasi yaitu 3%, karena metabolisme ikan yang
semakin menurun dibandingkan dengan masih bibit. Menurut Solang (2010),
menyatakan bahwa pemberian pakan alternatif dan pemotorngan sirip ekor akan
mempengaruhi kematangan gonad pada ikan nila, sehingga juga diperhatikan dalam
mengawinkan antar induk ian nila dengan perbandingan pakan yang diberikan.
Menurut Caman (2013), menyatakan dosis yang dianjurkan dalam pemberian ikan
disesuaikan dengan ukuran ikan, suhu air, kepadatan biomassa ikan, dan
kelimpahan pakan alami. Sama halnya dengan ikan lainnya, dosis pemberian pakan
maksimum yang diberikan berbanding terbalik dengan ukuran nila. Pada suhu 27-
29 C, dosis pemberian pakan sesuai pada ukurannya. Sehingga para pembudidaya
harus sangat-sangat memperhatikan kualitas air dan suplai makanan pada
budidayanya agar pembudidaya tidak mengalami kerugian. Karena tujuan budidaya
adalah mencari keuntungan bukan mencari kerugian. Dalam budidaya ekstensif
memang suplai makanan banyak suplai makanan alami karena kepadatan ikan yang
sangat rendah, namun jika menggunakan budidaya semi intensif dan intensif pakan
buatan haruslah diperlukan dan cara pemberiannya pun haru dilakukan dengan hati-
menggunakan rumus FR yang digunakan untuk pemberian pakan harian dengan
melihat ukuran maupun biomassanya

Pembahasan Literatur Pembanding Dengan Hasil Wawancara


Dari hasil wawancara yaitu didapatkan hasil bahwa pada saat perkawinan
atau matang gonad untuk indukan yang siap kawin yaitu 5-6 bulan. Dilakukan
pemijahan pada kolam yang luasnya 12 x 9 m selam 2-3 minggu. Setelah itu
dilakukan pemisahan antara induk dan benih akan benih tidak dimakan oleh
indukannya sendiri. Dalam pemijahan pebandingan rasio antara jantan dan betina
yaiut 1:3. Dilakukan pemijahan sampai jumlah benih/anakan sedikit, berarti
indukan sudah tidak efektif dalam melakukan pemijahan. Dan dalam melakukan
pemijahan narasumber melakukan rasio pada ika nila yaitu jantan dan betina dalah
100:300 yang nantinya akan menghasilkan benih 300.00 larva. Bagi narasumber
pemijahan yang paling bagus adalah pada bulan 7-8. Bapak sugeng menggunakan
kolam semi intensif pada pembudidayaannya. Dan ikan nila dapat menghasilkan
larva lebih banyak pada umur 2-2,5 tahun.
Perbandingan menurut literatur yaitu, menurut Khairuman dan Amri (2013),
menyatakan bahwa induk nila yang matang yaiut berumur 5-6 bulan dan
menghasilkan telur 500-1000 butir. Dan menghasilkan 200-400 ekor larva. Hal ini
sejalan dengan pernyataan narasumber yaitu induk bisa memijah pada umur 5-6
bulan dan dapat menghasilkan larva 300.000. Namun menurut khairuman dan
Amri, ikan yang produktif pada umur 1,5-2 tahun dan apabila lebih dari 2 tahun
maka ikan harus diganti karena tidak produktif lagi. Produktivitas ikan nila sangat
singkat yaitu 3-6 minggu. Menurut Cahyono(2000), menyatakan bahwa dalam
pemijahan/perkawinan induk nila yang ideal dengan perbandingan jantan dan
betina yaitu 1:3. Hal ini juga sama dengan yang diutarakan oleh narasumber pada
saat survei lapang dan wawancara.
Jadi hasil dari wawancara mayoritas sama dengan literatur pembanding
yang didasarkan pada buku maupun jurnal. Hal ini bertujuan untuk menjadi acuan
bagi penyusun agar menjadi lebih jelas dalam pemahaman.
Analisa Proses

Orthofosfat
Kandungan fosfat yang terdapat diperairan umumnya tidak lebih dari 0,1 ppm,
kecuali dari perairan yang menerima limbah dari industri rumah tangga dan industri
tertentu. Serta dari daerah perairan yang terdapat pemupukan fosfat. Oleh karena
itu perairan yang mengandung kadar fosfat yang cukup tinggi melebihi kebutuhan
eutrofikasi (suryadi, 2013). Hasil yang didapat menunjukkan kaandungan fosfat
yang cukup bagi kebutuhan perairan untuk dimanfaatkan bagi organisme air.
Kandungan fosfat yang cukup dapat menunjukkan bahwa pakan dalam perairan dan
kesuburan perairan termasuk baik.

Nitrat Nitrogen
Didalam perairan terdapat nitrat nitrogen yang berguna untuk menumbuhkan
plankton yang bermanfaat sebagai pakan alami. Didalam perairan yang biasa
digunakan yaitu nitrat yang memiliki komposisi yang sederhana sehingga mudah
dimanfaatkan oleh fitoplankton. Namun jika berlebihan maka nitrat nitrogen ini
akan menyebabkan blooming yang dikarenakan hasil limbah pemupukan
persawahan yang terlalu tinggi dan dilepaskan ke perairan. Oleh karen itu terdapat
kisaran bagi nitrat nitrogen yang baik di perairan. Menurut effendi (2003),
menyatakan bahwa nitrat dapat digunakan untuk mengelompokkan tingkat
kesuburan perairan. Perairan oligotrofik memiliki kadar nitrat antara 0-1 mg/l .
perairan mesotropik memiliki kadar nitrat antara 1-5mg/l dan perairan eutrofik
memiliki kadar nitrat berkisar 5-50 mg/l. Jadi kadar nitrat yang baik bagi perairan
yaitu pada keadaan mesotropik yang memiliki kisaranan antara 1-5 mg/l.

Salinitas
Salinitas adalah jumlah kadar garam yang terkandung di periran, sehingga salinitas
juga harus diperhatikan pada pembudidayaan ikan nila. Menurut Sridanti (2010)
menyatakan bahwa kadar salinitas yang baik pada perairan tawar yaitu kurang dari
0,5 ppt. Hal ini karena perairan tawar tidak asin, namun juga ada perairan tawar
yang sedikit asin. Bagi pembudidaya sebaiknya sumber air yang menghasilkan air
tawar yang sedikit asin harus dihindari karena akan mempengaruhi pertumbuhan
ikan nila itu sendiri. Oleh karena itu selain pakan kualitas atau parameter perairan
juga harus diperhatikan guna mendukung budidaya yang dilakukan untuk mencari
keuntungan yang sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Kanisius


Caman, O. dan Sucipto, A. Pembesaran Nila 2,5 Bulan. Jakarta Timur: Penerbit
Swadaya.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius
Khairuman dan Amri, K. 2013 Budi Daya Ikan Nila. Jakarta Selatan: AgroMedia
Pustaka.
Prasetio, B. 2010. Peluang Usaha Top Bidang Agribisnis. Yogyakarta:Andi
Offset
Solang, M. Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis Niloticus L) Yang
Diberikan Pakan Alternatif dan Dipotong Sirip Ekornya. Jurnal Saintek,
5(2): 1-7.
Sridanti, A.N. 2010. Kualitas Perairan Sungai Brantas dalam permasalahan
Lingkungan. Journal Akuatika, 3(2): 95-104.
Suryadi, L.M. 2013. Parameter Kualitas Air Pada Danau Toba. Jurnal Saintek,
6(7): 23-32.