Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas segala rahmat dan kuasa-Nya, sehingga kami bisa
menyelesaikan laporan praktik kerja lapangan ini tentang pembuatan herbarium.

Laporan ini telah kami susun semaksimal mungkin dengan segala bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu kami ucapkan terima kasih atas bantuannya dalam menyelesaikan
laporan herbarium ini.

Dalam pembuatan laporan ini, kami pun tidak luput dari kesalahan yang ada. Kami
menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat atau tata bahasanya.
Oleh karena itu, kami mengaharapkan ada kritik dan saran tentang laporan ini,agar kami
dapatmemperbaikinya lagi.

Akhir kata,semoga laporan ini tentang herbarium dan tata cara pembuatannya dapat
bermanfaat dan menginsipirasi para pembaca.

Penyusun,

Kelompok 1
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN....

1.1 Latar Belakang...


1.2 Tujuan....
1.3 Manfaat..

BAB II DASAR TEORI

2.1 Botani Farmasi / Morfologi Tumbuhan.

2.2 Herbarium...

2.3 Uraian Bagian Tanaman.

2.3.1 Daun..

2.3.2 Batang....

2.3.2 Akar...

2.3.4 Bunga.

2.3.5 Buah...

2.3.6 Biji..

2.3.7 Rimpang.

2.3.8 Umbi......

2.3.9 Umbi Lapis....

2.4 Uraian Tanaman Herbarium....

BAB III METODE KERJA....

3.1 Alat

3.2 Bahan

3.3 Cara Kerja


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.2 Pembahasan

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2

LAMPIRAN 3

LAMPIRAN 4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Botani Farmasi / MorfologiTumbuhan

2.2 Herbarium

1. Pengertian Herbarium

2.3 Uraian Bagian Tanaman

2.3.1 Daun

Daun merupakan satu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap
tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan
tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan. Bagian batang tempat duduknya atau
melekatnya daun dinamakan buku-buku (nodus), dan tempat di atas daun yang merupakan
sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis melebar,
kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu daun biasanya
berwarna hijau dan menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-
tumbuhan Nampak hijau pula.

Bentuk daun yang tipis melebar, warna hijau, dan duduknya pada batang yang
menghadap ke atas itu memang sudah selaras dengan fungsi daun bagi tumbuh-tumbuhan,
yaitu sebagai alat untuk:

1. Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa zat gas (CO2)
2. Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)
3. Penguapan air (transpirasi)
4. Pernafasan (respirasi)

Bagian-bagian daun

Daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian berikut:

1. Upih daun atau pelepah daun (vagina)


2. Tangkai daun (petiolus)
3. Helaian daun (lamina)
Daun lengkap dapat kita jumpai pada beberapa macam tumbuhan, misalnya : pohon
pisang (Musa paradisiacal L), pohon pinang (Areca cathecu L.), bambu (Bambusa sp.),
dll. Mengenai susunan daun yang tidak lengkap ada beberapa kemungkinan

a. Hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja ; lazimnya lalu disebut daun
bertangkai, misalnya : nangka (Artocarpus integra Mer.), mangga (Mangifera
indica L.), dll.
b. Daun terdiri atas upih dan helaian, daun yang demikian ini disebut daun berupih
atau daun berpelepah seperti laazim kita dapati pada tumbuhan yang tergolong
suku rumput, misalnya: padi (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.), dll.
c. Daun hanya terdiri atas helaian saja, tanpa upih dan tangkai, sehingga helaian
langsung melekat atau duduk pada batang. Daun seperti ini dapat kita lihat pada
biduri (Calotropis gigantean R. Br.).
d. Daun hanya terdiri atas tangkai saja, dan dalam hal ini tangkai tadi biasanya lalu
menjadi pppih sehingga menyerupai helaian daun, jadi merupakan suatu helaian
daun semu atau palsu, dinamakan (filodia, seperti terdapat pada berbagai jenis
pohon Acacia yang berasal dari Australia, misalnya : Acacia auriculiformis A.
Cunn.

Selainbagian-bagian tersebut diatas dan kemungkinan lengkap atau tidaknya bagian-


bagian tadi, daun pada suatu tumbuhan seringkali mempuyai alat-alat tambahan atau
pelengkao antara lain berupa:

1. Daun penumpu (stipula), yang biasanya berupa dua helai lembaran serupa daun
yang kecil, yang terdapat dekat dengan pangkal tangkai daun dan umumnya
berguna untuk melindungi kuncup yang masih muda. Menurut letaknya daun
penumpu dapat dibedakan menjadi:
a. Daun penumpu yang bebas terdapat di kanan kiri pangkal tangkai daun, disebut: daun
penumpu bebas (stipuloe liberae) terdapat misalnya pada kacang tanah (Arachis
hypogaea L.).
b. daun penumpu yang melekat pada kanan kiri pangkal tangkai daun (stipulae odnatoe)
pada mawar (Rose sp).
c. Daun penumpu yang berlekatan menjadi satu dan mengambil tempat di dalam ketiak
daun (stipula axillaris atau stipula intrapetiolaris).
d. Daun penumpu yang berlekatan menjadi satu mengambil tempat berhadapan
dengantangkai daun dan biasanya agak lebarhinggamelingkari batang (stipula petiole
opposite atau stipula antidroma).
e. Daun penumpu yang berlekatan dan mengambil tempat di antara dua tangkai daun
sepertii seringkali terjadi pada tumbuhan yang pada satu buku-buku batang
mempunyai dua daun yang duduk berhadapan, misalnya pada pohon mengkudu
(Morinda citrifolia L.).
2. Selaput bumbung (ocrea atau ochrea). Alaiini berupa selaput tipis yang
menyelugungi pangkal suatu ruas batang, jadi terdapat di atas suatu tangkai daun.
3. Liah-lidah (ligula), suatu selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas antara
upih dan helaian daun pada rumput (Graminae).

Upih daun atau pelepah daun (vagina)

Upih daun selain merupakan bagian daun yang melekat atau memeluk batang, juga
dapat mempunyai fungsi lain:

a. Sebagai pelindung kuncup yang masih muda, seperti dapat dilihat pada tanaman tebu
(Saccharum officinarum L.).
b. Memberi kekuatan pada tanaman.

Tangkai daun

Tangkai daun merupakan bagian daunyang mendukung helaiannya dan bertugas


untuk menempatkan helaian daun tadi pada posisi sedemikian rupa, hingga dapat
memperoleh cahaya matahari yang sebanyak-banyaknya. Umumnya tangkai daun berbentuk
silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya. Jika dilihat pada
penampang melintangnya dapat kita jumpai kemungkinan-kemungkinan berikut:

- Bulat dan berongga, misalnya tangkai daun papaya (Carica papaya L).
- Pipih dan tepinya melebar (bersayap), misalnya pada jeruk (Citrus sp)
- Bersegi
- Setengah lingkaran dan seringkali sisi atasnya beralur dangkal atau beralur dalam
seperti pada tangkai daun pisang.
Walauppun tangkai daun seperti telah disebutkan di atas biasanya menebal pada
pangkalnya, ada pula tangkai daun yang menebakpada pangkal dan ujungnnya, misalnya
pada daun pohon kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.).

Helain daun (lamina)

Tumbuhan yang demikian banyak macam dan ragamnya itu mempunyai daun yang
helainnya berbeda-beda pula, baik mengenai bentuk,ukuran, maupun warnannya. Sering
orang membandingkan bentuk helaian daun untuk memperoleh kepastian mengenai jenis
tumbuhan yang dihadapi untuk dikenal. Suatu tanaman yang memperlihatkan sifat
heterofili, kalau masing-masing terdapat pada cabang yang berlainan.. kalau pada satu
cabang terdapat kedua macam bentuk daun tadi, sifatnya disebut anisofili. Dalam praktek
biasanya kedua istilah itu disamakan saja.

Sifat-sifat daun yang perlu mendapat perhatian kita ialah:

a. Bangunnya (sesungguhnya bangun helainnya (circumscription)


b. Ujungnya (apex)
c. Pangkalnya (basis)
d. Susunan tulang-tulangnya (nervatio atau venation)
e. Tepinya (margo)
f. Daging daunnya (intervenium
g. dan sifat-sifat lain lagi, misalnya : keadaan permukaan atas maupun bawahnya
(gundul,berambut, atau lainnya), warna, dan lain-lain.

bagian yang terlebar berada di tengah-tengah helaian daun

jika demikian keadaannya, maka akan kita jumpai kemungkinan bangun seperti
berikut:

a. bulat atau bundar(orbicularis), jika panjang : lebar = 1 : 1. Bangun daun yang


demikian dapat kita jumpai pada Victoria regia, teratai besar (Nelumbium nelumbo
Druce), dan lain-lain.
b. Bangun perisai (peltatus). Daun yang biasanya bangun bulat, mempunyai tangkai
daun yang tidak tertanam pada pangkal daun, melainkan pada bagian tengah helaian
daun, misalnya pada teratai besar tersebut di atas, pada daun jarak, dan lain-lain.
dalam hal yang sedemikian itu daun dikatakan mempunyai bangun perisai,
c. Jorong (ovalis atau ellipticus), yaitu jika perbandingan panjang : lebar = 1 - 2 : 1,
seperti dapat dilihat pada daun nagka (Artocarpus integra Merr.) dan nyamplung
(Calophyllum inophyllum L.),
d. Memanjang (oblongus), yaitu jika panjang : lebar = 2 - 3 : 1, misalnya daun
srikaya (Annona squamosa L.) dan sirsat (Annona muricata L.);
e. Bangun lanset (lanceolatus), jika panjang : lebar = 3-5 :1, misalnya daun kamboja
(Plumeria acuminate Ait), oleander (Nerium oleander L.).

ujung daun (Apex Folii)

ujung daun dapat pula memperlihatkan bentuk yang beraneka rurpa. Bentuk-
bentuk ujung daun yaitu yang sering kita jumpai ialah:

a. runcing (acutus), jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit
menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut
lancip (lebih kecil dari 900). Sebagai contoh ujung daun oleander (Nerium
oleander L.),
b. meruncing (acuminatus), seperti pada ujung yang runcing, tetapi titik pertemuan
kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun Nampak
sempit panjang dan runcing, misalnya ujung daun sirsat (Annona muricata L.),
c. tumpul (obtusus) tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat
menuju ke suatu titik pertemuan,hinggaterbentuk sudut yang tumpul (lebih besar
dari 900), sering kita jumpai pada daun bangun bulat telur terbalik atau bangun
sudip, misalnya ujung daun sawo kecik (Manilkara kauki Dub),
d. membulat (rotundatus), seperti pada ujung yang tumpul, tetapi tidak terbentuk
sudut sama sekali, hingga ujung daun merupakan semacam suatu busur, terdapat
pada daun yang bulat atau jorong, atau pada daun bangun ginjal, misalnya ujung
daun kaki kuda (Centella asiatica Urb), ujung daun terataibesar (Nelumbium
nelumbo Druce)
e. rompang (truncatus), ujung daun tampak sebagai garis yang rata, misalnya ujung
anak daun semanggi (Marsilea crenata Presl.), daun jambu monyet (Anacardium
occidentale L.),
f. terbelah (retusus), ujung daun justru memperlihatkan suatu lekukan, kadang-
kadang amat jelas, misalnya ujung daun sidaguri (Sida retusa L.), kadang-kadang
terbelahnya ujung hanya akan kelihatan jelas jika diadakan pemeriksaan yang
teliti, seperti misalnya ujung daun bayam (Amaranthus hybridus L.),
g. berduri (mucronatus), yaitu jika ujung daun ditutup dengan suatu bagian yang
runcing keras, merupakan suatu duri, misalnya ujung daun nenas sebrang (Agave
sp.).

pangkal daun (Basis Folii)

apa yang telah diuraikan mengenai ujung daun pada umumnya dapat pula
diberlakukan untuk pangkal daun. Selain dari itu ada pula kalanya, bahwa kedua tepi daun di
kanan kiri pangkal dapat brtemu dan berlekatan satu sama lain, oleh sebab itu pangkal daun
dibedakan dalam:

1. yang tepi daunnya di bagian itu tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu
tulang/ujung tangkai daun. Dalam keadaan demikian pangkal daun dapat:
a. runcing (acutus), biasanya terdapat pada daun bangun mmanjang, lanset, belah
ketupat, dan lain-lain.
b. meruncing (acuminatus), biasanya pada daun bulat telur sungsang atau daun bangun
sudip.
c. Tumpul (obtusus), pada daun-daun bangun bulat telur, jorong.
d. Membulat (rotundatus), pada daun-daun bangun bulat, jorong, dan bulat telur.
e. Rompang atau rata (truncatus), pada daun-daun bangun segitiga, delta, tombak.
f. Berlekuk (emarginatus), pada daun-daun bangun jantung, ginjal, anak panah.
2. Yang tepi daunnya dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain :
a. Pertemuan tepi daun pada pangkal terjadi pada sisi yang sama terhadap batang sesuai
dengan letak daun pada batang tadi, seperti lazim dapat kita lihat pada daun-daun
bangun persegi,
b. Pertemuan tepi daun daun trjadi pada sisi seberang batang yang berlawanan atau
berhadapan dengan letak daunnya. Dalam hal ini tampaknya seperti pangkal daun
tertembus oleh batanya (perfoliatus).
Jika ditinjau bentuknya pangkal daun seperti trsbut di atas ini biasanya adalah
membulat.

Susunan tulang-tulang daun (Nervatio atau Venatio)

Tulang-tulang daun adalah bagian daun yang berguna untuk:


a. Member kekuatan pada daun
b. Di samping sebagai penguat, tulang-tulang daun itu sesungguhnya adalah berkas-
berkas pembuluh yang berfungsi sebagai jalan untuk pengangkutan zat-zat, yaitu:
- Jalan pengangkutan zat-zat yang diambil tumbuhan dari tanah, ialah air beserta
garam-garam yang terlarut di dalamnya.
- Jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari tempat pembuatannya, yaitu dari daun
ke bagian-bagian lain yang memerlukan zat-zat itu.

Tulang-tulang daun menurut besar kecilnya dibedakan dalam 3 macam, yaitu:

a. Ibu tulang (costa), ialah tulang yang biasanya terbesar, merupakan terusan tangkai
daun, dan terdapat di tengah-tengah membujur dan membelah daun.
b. Tulang-tulang cabang (nervus latralis), yakni tulang-tulang yang lebih kecil daripada
ibu tulang dan berpangkal pada ibu tulang tadi atau cabang-cabang tulang-tulang ini.
c. Urat-urat daun (vena), sesungguhnya adalah tulang-tulang cabang pula, ttapi yang
kecil atau lembut dan satu sama lain besrta tulang-tulang yang lebih besar membentuk
susunan seperti jala,kisi, atau lainnya.

Berdasarkan susunan tulangnnya kita membedakan daun menjadi 4 golongan, yaitu:

1. Daun-daun yang bertulang menyirip (penninervis). Daun dengan susunan yang


demikian ini umum kita dapati pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae), misalnya
daun mangga (Mangifera indica L.),
2. Daun-daun yang bertulang menjari (palminervis), yaitu kalau dadri ujung tangkai
daun keluar beberapa tulang yang memencar memperlihatkan susunan seperti jari-jari
pada tangan. Misalnya pada papaya (Carica papaya L.), jarak (Ricinus communis L.),
kapas (Gossypium sp,), dan lain-lain.
3. Daun-daun yang bertulang melengkung (cervinervis). Misalnya genjer (Limnocharis
flava Buch.), gadung (Dioscorea hispida Dennst.), dan lain-lain.
4. Daun-daun yang bertulang sejajar atau bertulang lurus (rectinervis). Misalnya
semua jenis rumput (Gramineae), teki-tekian (Cypraceae), dan lain-lain.

Tepi daun (Margo Folii)

Dalam garis besarnya tepi daun dapat dibedakan dalam dua macam:

1. Yang rata (integer), misalnya daun nangka (Artocarpus intgra Merr.),


2. Yang bertoreh (divisus)

Tepi daun dengan toreh yang merdeka

a. Bergerigi (serratus), yaitu jika sinus dan angulus sama lancipnya, misalnya daun
lantana (Lantana Camara L.)
b. Bergerigi ganda atau rangkap (biserratus), yaitu tepi daun seperti di atas, tetapi
angulusnya cukup besar, dan tepinya bergerigi lagi,
c. Bergerigi (dentatus), jika sinus tumpul sedang angulusnya lancip misalnya daun
beluntas (Pluchea indica Less.)
d. Beringgit (creanatus), kebalikannya bergigi, jadi sinusnya tajam dan angulusnya yang
tumpul misalnya daun cocor bebek (Kalanchoe pinata Pers.),
e. Berombak ( repandus), jika sinus dan angulus sama-sama tumpul, misalnya daun air
mata pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.).

Tepi daun dengan toreh-toreh yang mempengaruhi bentuknya

Berdasarkan dalamnya toreh-toreh itu, tepi daun dapat dibedakan dalam yang:

a. Berlekuk (lobatus), yaitu jika dalamnya toreh kurang dari pada setengah panjangnya
tulang-tulang yang terdapat di kanan kirinya,
b. Bercangap (fissus), jika dalamnya toreh kurang lebih sampai tengah-tengah panjang
tulang-tulang daun di kanan kirinya,
c. Berbagi (partitus), jika dalamnya toreh melibihi setengah panjangnya tulang-tulang
daun di kanan kirinya.

Daging daun (intervenium)

Tebal atau tipisnya helaian daun, pada hakikatnya juga bergantung pada tebal tipisnya
daging daunnya. Bertalian dengan sifat ini dibedakan daun yang:
a. Tipis seperti selaput (membranaceus), misalnya daun paku selaput (Hymenophyllum
australe Willd.),
b. Seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), tipis tetapi cukup tegar, misalnya daun
pisang (Musa paradisiacal L.),
c. Tipis lunak (herbaceus), misalnya daun selada air (Nasturtium officinale R. Br.),
d. Seperti perkamen (perkamenteus), tipis tetapi cukup kaku, misalnya daun kelapa
(cocus nucifera L.),
e. Seperti kulit / belulang (coriaceus), yaitu jika helaian daun tebal dan kaku, misalnya
daun nyamplung (Calophyllum inophyllum L.),
f. Berdaging (carnosus), yaitu jika tebal dan berair misalnya daun lidah buaya (Aloe
sp.).

Warna daun

Walaupun umum telah maklum bahwa daun itu biasanya berwarna hijau, tetapi tak
jarang pula kita jumpai daun yang warananya tidak hiajau, lagipula warna hiiau pun dapat
memperlihatkan banyak fariasi atau nuansa. Sebagai contoh dapat a.l. disebut daun yang
berwarna:

- Merah, misalnya daun bunga buntut bajing (Acalypha wilkesiana M. Arg.),


- Hijau bercampur atau tertutup warna merah, misalnya bermacam-macam daun puring
(codiaeum variegatum BI.),
- Hijau tua, misalnya daun nyamplung (Colophyllum inophyllum L.),
- Hijau kekuningan, misalnya daun tanaman guni (Corchorus capsularis L.).

Permukaan daun

a. Licin (laevis), dalam hal ini permukaan daun dapat kelihatan:


- Mengkilat (nitidus), sisi atas daun kopi (coffea robusta Lindl.), beringin (ficus
benjamina L.),
- Suram (opacus), misalnya daun ketela rambat (Ipomoea batata Poir.),
- Berselaput lilin (pruinosus), misalnya sisi bawah daun pisang (Musa Paradisiaca L.),
daun tasbih (canna hybrid Hort.),
b. Gundul (glaber), misalnya daun jambu air (Eugenia aquea Burm.),
c. Kasap (scaber), misalnya daun jati (Tectona grandis L.),
d. Berkerut (rugosus), misalnya daun jarum (Stachytarpheta jamaicensis Vahl.), jambu
biji (Psidium guajava L.),
e. Berbingkul-bingkul (bullatus), seperti berkerut tepai kerutannya lebih besar,
misalnya daun air mata pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.),
f. Berbulu (pilosus), jika bulu halus dan jarang-jarang, misalnya daun tembakau
(Nicotiana tabacum G. Don.),
g. Berbulu halus dan rapat (villosus), berbulu sedemikian rupa, sehingga jika diraba
trasa seperti laken atau beludru,
h. Berbulu kasar (hispidus), jika rambut kaku dan jika diraba trasa kasar, misalnya
daun gadung (Dioscorea hispida Dennest.),
i. Bersisik (Lepidus), seperti misalnya sisi bawah daun durian (Durio zibethinus
Murr.).

Daun majemuk (folium compositum)

Suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari suatu daun tunggal, yang torehnya
sedemikian dalamnya, sehingga bagian daun diantara toreh-toreh itu terpisah satu sama lain,
dan masing-masing merupakan suatu helaian kecil yang tersendiri.

Pada suatu daun majemuk dapat kita bedakan bagian-bagian berikut:

a. Ibu tangkai daun (potiolus communis), yaitu bagian daun majemuk yaitu bagian
daun majemuk yang menjadi tmpat duduknya helaian-helaian daunnya, yang disini
masing-masing dinamakan anak daun (foliolum).
b. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang mendukung
anak daun.
c. Anak daun (foliolum). Bagian ini sesungguhnya adalah bagian-bagian helaian daun
yang karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-pisah.
d. Upih daun (vagina), yaitu bagian dibawah ibu tangkai yang lebar dan biasanya
memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang (Areca catechu L.).

Daun majemuk menyirip (pinnatus)

Yang dinamakan daun majemuk menyirip ialah daun majemuk yang anak daunnya
terdapat di kanan kiri ibu tangkai daun, jadi tersusun seperti sirip pada ikan. Daun majemuk
menyirip dapat dibdakan dalam beberapa macam:
a. Daun majemuk menyirip beranak daun satu (unifolialatus). Daun yang demikian
ini biasanya kita dapati pada berbagai jenis pohon jeruk, a.l. jeruk besar (Citrus
maxima Merr.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Sw.), dan lain-lain.
b. Daun majemuk menyirip genap (abrupt pinnatus). Daun majemuk menyirip genap,
tetapi jumlah anak daunnya gasal dapat kita jumpai misalnya pada pohon leci (Litchi
chinensis Sonn.) dan kepulasan (Nepphelium mutabile B.).
c. Daun majemuk menyirip gasal (Imparipinnatus), juga disini yang menjadi pedoman
ialah ada atau tidaknya satu anak daun yang menutup ujung ibu tangkainya. Ditinjau
dari jumlah anak daunnya akan kita dapati bilangan yang benar-benar gasal jika anak
daun berpasangan sdang di ujung ibu tangkai terdapat anak daun yang tersendiri
(biasanya anak daun ini lebih besar dari pada yang lainnya), seperti dapat dilihat pada
daun pacar cina (Aglaia odorata Lour.) dan mawar (Rosa sp.).

Daun majemuk menjari (Palmatus atau Digitatus)

Berdasarkan jumlah anak daunnya, daun majemuk menjari dapat dibedakan sebagai
berikut :

a. Beranak daun dua (bifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat dua anak daun,
misalnya daun nam-nam (Cynometra cauliflora L.),
b. Beranak daun tiga (trifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat tiga anak daun,
misalnya pada pohon para (Havea brasiliensis Muell.),
c. Beranak daun lima (quinquefoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat lima anak
daun, misalnya daun maman (Gynandropsis pentaphylla D.C.),
d. Beranak daun tujuh (septemfoliolatus), jika ada tujuh anak daun pada ujung ibu
tangkainya, misalnya daun randu (Ceiba pentandra Gaertn.).

Daun majemuk bangun kaki (pedatus)

Daun ini mempunyai susunan seperti daun majemuk campuran adalah suatu daun
majemuk menjari, tetapi dua anak daun yang paling pinggir tidak duduk pada ibu tangkai,
melainkan pada tangkai anak daun yang disampingnya seperti terdapat pada Arisaema
filiforme (Areceae).

Daun majemuk campuran (digitatopinnatus)


Yang dimaksud dengan daun majemuk campuran adalah suatu daun majemuk ganda
yang mempunyai cabang-cabang ibu tangkai memencar seperti jari dan terdapat pada ujung
ibu tangkai daun, tetapi pada cabang-cabang ibu tangkai ini terdapat anak-anak daun yang
tersusun menyirip. Jadi daun majemuk campuran adalah campuran susunan yang menjaridan
menyirip, misalnya daun sikejut (Mimosa pudica L.).

Spirostik dan parastik

Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas, dapat
mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pngaruh macam-macam faktor. Prubahan
yang sangat karaktristik ialah perubahan ortostik menjadi garis spiral yang tampak melingkar
batang pula. Dalam keadaan yang demikian spiral genetik sukar untuk ditentukan, dan
tampaknya letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral
tadi, yang disini lalu diberi nama yang lain pula, yaitu : spirostik. Suatu spirostik terjadi
biasanya karna pertumbuhan batang tidak lurus melainkan memutar. Akibatnya
ortostiknyapun ikut memutar dan berubah menjadi spirostik tadi. Tumbuhan yang
memperlihatkan sifat demikian ini misalnya :

- Pacing (Costus speciosus Smith), yang mempunyai satu spirostik, hingga daun-
daunnya tersusun seperti anak tangga pada tangga yang melingkar,
- Bupleurum falcatum, yang mempunyai dua spirostik,
- Pandan (pandanus tectorius Sol.) yang memperlihatkan tiga spirostik.

Selanjutnya pada tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat satu sama lain. misalnya
pada kelapa (Elais guineensis Jacg.), daun-daunnya seakan-akan duduk menurut garis-garis
spiral ke kiri atau ke kanan. Pada pohon ini ortostik dan spiral genetiknya amat sukar untuk
ditentukan. Garis-garis spiral dengan aarah putaran melingkar batang ke kiri dan ke kanan itu
menghubungkan daun-daun yang menurut arah ke samping (mendatar, horizontal)
mempunyai jarak terdekat. Dapat dimengerti bahwa stiap daun mempunyai tetangga yang
terdekat satu di sebelah kiri dan satu lagi di sebelah kanannya. Dari itu pula tampaknya lalu
ada dua spiral ke kiri dan ke kanan. Garis-garis spiral inilah yang disebut : parastik. Juga
garis-garis spiral yang tampak pada buah nenas yang menunjukkan aturan letak mata-mata
pada buah nenas tadi adalah parastik-parastik.

batang (caulis)
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang penting. Pada umumnya batang menpunyai
sifat-sifat berikut :

a. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk
lain. Akan tetapi selalu bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang
diabgi menjadi dua bagian yang setangkup.
b. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku, dan pada buku-
buku inilah terdapat daun.
c. Tumbuhnya biasanya ke atas, menuju cahaya atau matahari (bersiat fototrop atau
heliotrop)
d. Selalu bertambah panjang di ujungnya.
e. Mengadakan percabangan, dan selama hidupnya tumbuhan tidak digugurkan, kecuali
kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.
f. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya
rumput dan waktu batang masih muda.

Sebagai bagian tubuh tumbuhan, batang mempunyai tugas untuk :


a. Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah. Yaitu : daun, bunga,
dan buah.
b. Dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi, dan menempatkan bagian-
bagian tumbuhan di dalam ruang sedemikian rupa, hingga dari segi kepentingan
tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan.
c. Jalan pengangktan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan
pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah.
d. Menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan
e.
2.3.7 Rimpang (rhizoma)
Rimpang sesungguhnya adalah batang bseserta daunnya yang terdapat di dalam
tanah, bercabang-cabang dan tumbuh mendatar, dan dari ujungnya dapat tumbuh
mendatar, dan dari ujungnya dapat tumbuh tunas yang muncul di atas tanah dan
dapat merupakan suatu tumbuhan baru. Rimpang di samping merupakan alat
perkembangbiakan juga merupakan tempat penimbunan zat-zat makanan
cadangan, terdapat pada tasbih (Canna edulis) dan kerut (Maranta arundinace L.)
Bahwasanya alat ini adalah penjelmaan batang dan bukan akar, dapat dilihat
dari tanda-tanda berikut :
- Beruas-beruas, berbuku-buku, akar tidak pernah besifat demikian,
- Berdaun, tetapi daunnya telah menjelma menjadi sisik-sisik,
- Mempunyai kuncup-kuncup
- Tumbuhnya tidak ke pusat bumi atau air, malahan kadang-kadang lalu ke atas,
muncul di atas tanah.

2.3.8 umbi (tuber)

Umbi biasanya merupakan suatu badan yang membengkak, bangun bulat, seperti
kerucut atau tidak beraturan, merupakan tempat penimbunan makanan pula seperti
rimpang, dapat merupakan penjelmaan batang, dapaat pula merupakan penjelmaan
akar.

Oleh sebab itu umbi dibedakan dalam :

- Umbi batang (tuber caulogenum), kalau umbi itu merupakan penjelmaan


batang,
- Umbi akar (tuber rhizogenum), kalau merupakan metamorphosis akar.

Umbi batang umumnya tidak mempunyai sisa-sisa daun atau penjelmaannya, oleh
sebab itu seirngkali permukaannya tampak licin, buku-buku batang dan ruas-
ruasnya tidak jelas. Karena tidak adanya sisa daun seringkali dinamakan umbi
telanjang (tuber nudus), seperti terdapat dalam kentang (solanum tuberosum L.)
dan ketela rambat (ipomea batatas)

Bahwasanya umbi batang adalah penjelmaan batang masih terlihat dari


terdapatnya kuncup-kuncup (mata) pada umbi ini, yang jika waktunya telah tiba
dapat lau bertunas dan menghasilkan tumbuhan baru.
Pada beberapa jenis tumbuhan dapat kita jumpai umbi yang letaknya di bagian
yang ada di atas tanah, yaitu pada batang yang biasanya di tempat itu terdapat
bunga atau di ketiak daun. Umbi ini pada hakekatnya merupakan umbi batang
pula, karena padanya terdapat pula kuncup yang dapat tumbuh menjadi tunas.
Umbi yang demikian ini dinamakan : katak atau katibung (tuber accessorium atau
tuber caulinare), terdapat anatara lain pada ubi (dioscorea alata L), gembili
(dioscorea aculeate L)

Umbi akar adalah umbi yang merupakan penjelmaan akar, dan karena akar tidak
pernah mempunyai daun, umbi yang berasal dari akar, pada dasarnya selalu akan
merupakan umbi yang telanjang.

Melihat akar yang mana yang mengalami metamorphosis menjadi umbi itu, maka
umbi akar dapat merupakan penjelamaan :

- Akar tunggang, misalnya umbi akar pada lobak (raphanus sativus L),
bangkuwang (pachyrrhizus erosus)
- Akar serabut, misalnya umbi akar pada ubi kayu (manihot utilissima), dahlia
(dahlia variabilis)

Umbi akar tak mungkin dijadikan alat perkembangbiakan seperti umbi batang.
Kalau dari umbi dahlia dapat tumbuh tumbuhan itu hanya mungkin jika umbi ini
disertai sebagian pangkal batang, dan dari pangkal batang inilah tumbuh tunas
yang menjadi tumbuhan baru, dan bukan dari umbinya sendiri.

2.3.9 umbi lapis (bulbus)

Umbi lapis jika ditinjau asalnya adalah penjelmaan batang beserta daunnya. Umbi
ini dinamakan umbi lapis, karena memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis,
yaitu yang terdiri atas daun-daun yang telah menjadi tebal, lunak, dan bedaging.
Merupakan bagian umbi yang menyimpan zat makanan cadangan, sedang
batangnya sendiri hanya merupakan bagian yang kecil pada bagian bawah untuk
lapis itu.

Pada umbi lapis dapat dibedakan bagian-bagian berikut :


- Subang atau cakram (discus). Bagian inilah yang merupakan batang yang
sesungguhnya, tetapi hanya kecil dengan ruas yang amat pendek, mempunyai
bentuk seperti cakram, padanya terdapat pula kuncup-kuncup.
- Sisik-sisik (tunica atau squama), yaitu bagian yang merupakan penjelmaan
daun-daunnya, yang menjadi tebal, lunak, dan berdaging, yang seperti telah
disebutkan, merupakan bagian tempat untuk menyimpn zat makanan
cadangan.
- Kuncup-kuncupnya (gemmae), yang dapat dibedakan lagi dalam :
Kuncup pokok (gemma bulbi), yang sesungguhnya adalah kuncup
ujung, terdapat pada bagian atas cakram yang tumbuh ke atas
mendukung daun-daun biasa, serta bunga.
Kuncup samping, yang biasanya tumbuh merupakan umbi lapis kecil-
kecil, berkelompok di sekitar umbi induknya.

Umbi lapis menurut sifat sisik-sisiknya dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu :

- Yang berlapis (bulbus squamosus), jika daunnya merupakan bagian yang


lebar, dan yang lebih luar menyelubungi bagian yang lebih dalam, hingga jika
umbi diiris membujur akan tampak jelas susunannya yang berlapis-lapis,
misalnya umbi lapis bawang merah (allium cepa L)
- Yang bersisik (bulbus squamos), jika metamorphosis daun-daunnyatidak
merupakan bagian yang lebar yang dapat merupakan selubung seluruh umbi,
melainkan tersusun seperti genting, misalnya umbi lapis pada lilia (lilium
andidum L)

Telah dikemukakan, bahwa umbi pada umumnya adalah alat tempat


penimbunanzat-zat makanan cadangan. Oleh sebab itu jika mulai tumbuh tunas
yang baru, timbunan makanan akan berkurang dan akhirnya umbi akan berkeriput
sama sekali. Keadaan demikian nyata sekali kelihatan pada ubi yang kasip
pemanen umbinya, sehingga penanam ubi (dioscorea alta L), hanya menemukan
umbi yang telah berkerinyut tanpa isi lagi.

2.3.5 buah (fructus)

Pada pembentukan buah, ada kalahnya bagian bunga selain bakal buah ikut
tumbuh dan merupakan suatu bagian buah, sedang umumnya segera setelah terjadi
penyerbukan dan pembuahan bagian-bagian bunga selain bakal buah segera
menjadi layu dan gugur.

Bagian-bagian bunga yang kadang-kadang tidak gugur, melainkan ikut tumbuh


dan tinggal pada buah, biasanya tidak mengubah bentuk dan sifat buah itu sendiri,
jadi tidak merupakan satu bagian buah yang penting, misalnya:

a. Daun-daun pelindung. Pada jagung daun-daun pelindung bunga betina tidak


gugur, dan kita kenal kemudian sebagai pembungkus tongkol jagung (klobot)
b. Daun-daun kelopak. Pada terong dan jambu, masih dapat kita lihat kelopak
yang ikut merupakan bagian buah
c. Tangkai kepala putik. Juga bagian ini sering tinggal pada buah misalnya pada
jagung, Yang kita kenal sebagai rambut jangun
d. Kepala putik. Buah yang masih mendukung kepala putik ialah buah manggis

Ikhtisar tetang buah


a. Buah semu atau buah tertutup, yaitu jika buah itu terbentuk dari bakal buah
beserta bagian-bagian lain pada bunga itu
b. Buah sungguh atau buah telanjang, yang melulu terjadi dari bakal buah, bagian
ini tidak merupakan bagian buah yang berarti

Penggolongam buah semu

a. Buah semu tunggal, yaitu buah yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal
buah.
b. Buah semu ganda, ialah jika pada satu bunga terdapat lebih dari satu bakal buah
yang bebas satu sama lain.
c. Buah semu majemuk, ialah buah semu yang terjadi dari bunga majemuk, tetapi
seluruhnya dari luar tampak seperti satu buah saja.

Penggolongan buah sungguh (buah sejati)

a. Buah sejati tunggal, ialah buah sejati yang terjadi dari satu bunga dengan satu
bakal buah saja.
b. Buah sejati ganda, yang terjadi dari satu bunga dengan beberapa buah yang bebas
dari satu sama lain.
c. Buah sejati majemuk,yaitu buah yang berasal dari suatu bunga majemuk, yang
masing-masing bunganya mendukung sat bakal buah

2.3.6 biji (semen)

Biji merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena biji mengandung calon
tumbuhan baru (tembanga). Dengan di hasilkannya biji, tumbuhan dapat
mempertahankan jenisnya, dan dapat juga terpencar kelain tempat.

Semula biji itu duduk pada suatu tangkai yang keluar dari papan biji atau tembuni
(placenta). Tangkai pendukung biji itu di sebut tali pusar (vuniculus). Bagian biji
tempat pelekatan tali pusar dinamakan ousar biji (hilus). Jika biji sudah masak
biasanya tali pusarnya putus, sehingga biji terlepas dari tembuninya.

Pada biji adakalanya tali pusar ikut tumbuh, berubah sifatnya menjadi salut atau
selapu biji ( arillus).

Pada biji umumnya dapat kita bedakan bagian-bagian berikut

a. Kulit biji (spermodemirmis)


Kulit biji berasal dari selaput bakal biji ( integumentum). Oleh sebab itu biasanya
kulit biji dari tumbuhan biji tertutup (angiospermae)
b. Tali pusar (vuniculus)

Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan tembuni, jadi
meruoakan tangkainya biji. Jika biji masak, biasanya biji terlepas dari tali pusarnya,
dan pada biji hanya tampak bekasnya.

c. Inti biji (nucleus seminis)


Inti biji ialah semua bagian biji yang terdapat di dalam kulitnya, oleh sebab itu
inti biji juga dapat di namakan isi biji. Inti biji terdiri atas:
-lemabag (embrio), yang merupakan calon individu baru
-putih lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan untuk masa
permulaan kehidupan tumbuhan baru (kecambah), sebelum dapat mencari
makanan sendiri.

1. Pembuatan herbarium
a. Pembuatan sasak
1. Pengambilan bambu. Bambu yang diambil adalah bambu yang kering dan brwarna
keclokatan.
2. Pemotongan bambu dengan ukuran panjang 60 cm dan lebar 2 cm. dalam satu sasak
terdapat 16 potong bamboo. 8 potong ke samping dan 8 potong ke bawah. Sehingga
dalam sepasang sasak terdapat 32 potong bamboo.
3. Dibuat kerangka sasak berbentuk persegi dan diikat di setiap sudutnya. Dilebihkan
sekitar 2 cm dari ikatan untuk memudahkan saat pengepakan.
4. Ikat kuat semua sudut bamboo dengan menggunakan tali.
5. Dilakukan hal yang sama pada sasak lainnya.
b. Pembuatan herbarium
1. Pengambilan spsimen yang akan dijadikan herba. Pengambilan dilakukan pada pukul
09.00-11.00 , karena pada waktu itu tumbuhan mengalami fotosintetis.
2. Pencucian spesimen dengan menggunakan air yang mengalir untuk membersihan
kotoran yang menempel pada specimen. Pada saat pencucian tanaman, juga dilakukan
sortasi basah untuk menyeleksi bagian tanaman yangtidak layak digunakan.
3. Pengeringan spesimen dengan cara diangin-anginkan.
4. Pengolesan spesimen dengan alcohol, sekaligus dilakukan sortasi kering. Seperti
halnya sortasi basah, saat sortasi kering juga dilakukan penyeleksian kembali pada
tanaman yang tidak layak digunakan.
5. Pengaturan alas. Alas dari spesimen terbuat dari kardus. Diambil kardus yang
besarnya sama dengan sasak, dan dibuat dua buah. Setelah itu, kardus dilapisi dengan
Koran.
6. Pengaturan spesimen pada alas. Tumbuhan diatur secara berpasangan dengan
menampakkan bagian depan dan belakang tumbuhan. Pada lapisan pertama adalah
daun. Lapisan kedua batang dan akar. Selanjutnya lapisan terakhir adalah tumbuhan
herba.
7. Pengepakan. Setelah semua spesimen tertata rapi di alas. pres lapisan paling atas
dengan kardus selanjutnya sasak. Ikat setiap ujung dari sasak dengan kuat. Untuk
memperkuat pengepakan, lilit sasak menggunakan solasi ban pada stiap sisinya.
8. Penyimpanan herbarium. tempat yang baik bagi penyimpanan herbarium adalah pada
suhu kamar dan di tempat yang kering. Contohnya, disimpan di bawah tempat tidur.
145-146

Kelamin bunga

Berdasarkan alat-alat kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga, orang


membedakan:

a. Bunga banci atau berkelamin dua (hermaphrodites), yaitu bunga, yang padanya
terdapat benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat kelamin betina). Bunga
ini seringkali dinamakan pula bunga sempurna atau buga lengkap, karena biasanya
pun jelas mempunyai hiasan bunga yang terdiri atas kelopak dan mahkota, misalnya
bunga terung (Solanum melongena L.).
b. Bunga berkelamin tunggal (unisxualis), jika pada bunga hanya terdapat salah satu
dari kedua macam alat kelaminnya. Berdasarkan alat kelamin yang ada padanya dapat
dibedakan lagi dalam:
1. Bunga jantan (flos masculus), jika pada bunga hanya trdapat benang sari tanpa putik,
misalnya bunga jagung yang terddapat di bagian atas tumbuhan.
2. Bunga betina (flos femineus), yaitu bunga yang tidak mempunyai benang sari,
melainkan hanya putik saja, misalnya bunga jagung yang tersusun dalam tongkolnya.
c. bunga mandul atau tidak brkelamin, jika pada bungatidak terdapat baik benang sari
maupun putik, misalnya bunga pinggir (bunga pita) pada bunga matahari (Helianthus
annuus L.)

Bertalian dengan kelamin bunga yang terdapat pada suatu tumbuhan, orang membedakan
tumbuhan yang:

a. berumah satu (monoecus), yaitu tumbuhan yang mmpunyai bunga jantan dan bunga
betina pada satu individu (satu batang tumbuhan), misalnya jagung (Zea mays L.),
mentimun (Cucumis sativus L.), jarak (Ricinus communis L.),
b. berumah dua (diocus), jika bunga jantan dan bunga betina terpisah tmpatnya,
artinya ada individu yang hanya mendukung bunga jantan saja, dan ada individu yang
hanya mendukung bunga betina saja, misalnya salak (Zalacca edulis Reinw.),
c. poligam (polygamus), jika pada suatu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina,
dan bunga banci brsama-sama, misalnya pada papaya (Carica papaya L.)

159-160

Kelopak (Calyx)

Daun-daun hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar, biasanya berwarna hijau,
lebih kecil dan lebih kasar daripada hiasan bunga yang sebelah dalam. Bagian ini disebut
kelopak (calyx).

Kelopak itu berguna sebagai pelindung bunga, trutama waktu bunga masih kuncup
(sebelum mekar). Jika bunga sudah mengadakan persarian dan pembuahan, biasanyaklopak
lalu runtuh, jarang sekali tetap sampai berbentuk buah. Kelopak yang tetap dan akhirnya ikut
merupakan bagian buah misalnya pada ciplukan (Physalis minima L.), terong (Solanum
melongenae L.).

Kelopak tersusun atas bagian-bagiannya yang dinamakan daun kelopak (sepala). Pada
bunga daun-daun kelopak mempunyai sifat yang berbeda-beda.

a. Berlekatan (gamosepalus). Pada kelopak biasanya yang berlekatan hanya bagian


bawah daun-daun klopaknya saja, bagian atasnya yang berupa pancung-pancungnya
tetap bebas.

Menurut banyak sedikitnya bagian yang berlekatan (atau panjang pendeknyapancung-


pancung-pancung di bagian atas kelopak), dibedakan 3 macam klopak, yaitu kelopak yang:

1. Berbagi (partitus), jika hanya bagian kecil daun-daun saja yang berlekatan, pancung-
pancungnya panjang, lebih dari separoh panjang kelopak.
2. Bercangap (fissus), jika bagian yang berlekatan kira-kira meliputi separoh
panjangnya kelopak, jadi pancung-pancungnya kira-kira juga separohnya.
3. Berlekuk (lobatus), jika bagian yang berlekatan melebihi separoh panjang kelopak,
jadi pancung-pancungnya pendek saja.
164

Tajuk bunga atau mahkota bunga (Corolla)

Tajuk bunga atau mahkota bunga merupakan hiasan bunga yang terdapat di sebelah
dalam kelopak, umumnya lebih besar, dengan warna yang indah, menarik, dngan bentuk
susunan yang bagus, tidak jarang pula mempunyai bau yang harum atau sedap (tatapi banyak
pula yang sama sekali tidak berbau atau malahan mempunyai bau yang busuk seperti
bangkai), dan dianggapnya bahwa warna yang indah atau baunya tadilah yang menyebabkan
serangga tertarik pada bunga (juga binatang-binatang lain, misalnya: burungdan kelelawar)
yang seringkali datang mengunjungi bunga untuk mencari makanan. Tumbuhan memang
memerlukan adanya kunjungan binatang-binatang tadi, karena mereka dapat menjadi
perantara brlangsungnya penyerbukan.

171-176

Benang sari (Stamen)

Benang sari bagi tumbuhanmerupakan alat kelamin jantan. Seperti halnya dengan
bagian-bagian bunga yang diuraikan dahulu. Benang sari pun merupakan suatu
metamorphosis daun yang bentuk dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat kelamin
jantan.

Pada benang sari dapat dibedakan 3 bagian berikut:

1. Tangkai sari (filamentum), yaitu bagian yang berbentuk benang dengan penampang
melintang yang umumnya berbentuk bulat.
2. Kepala sari (anthera), yaitu bagian benang sari yang terdapat pada ujung tangkai sari.
Bagian ini di dalamnya biasanya mempunyai 2 ruang sari (theca), masing-masing
ruang sari smula terdiri atas dua ruangan kecil (loculus atau loculumentum).
3. Penghubung ruang sari (connctivum). Bagian ini merupakan lanjutan tangkai sari
yang menjadi penghubung kedua bagian kepala sari (ruang sari) yang terdapat di
kanan kiri penghubung ini.

Tangkai sari (Filamentum)

Tangkai sari biasanya duduk terpisah-pisah diatas dasar bunga, akan tetapi tidak
jarang pula terdapat tangkai sari yang berlekatan satu sama lain. cara perlekatannya dan
panjangnya bagian tangkai sari yang berlekatan amat bermacam-macam, ada yang berlekatan
pada pangkalnya saja, ada yang lebih panjang bagiannya yang berlekatan, bahkan mungkin
perlekatannya hampir meliputi seluruh panjang tangkai sari.

Melihat jumlah berkas yang merupakan perlekatan benang-benang sari tadi, dapat
dibedakan:

a. Benang sari berberkas satu atau beanng sari bertukal satu (monadelphus), yaitu jika
semua tangkai sari pada satu bunga berlekatan menjadi satu merupakan suatu berkas
yang tengahnya berongga dan hanya bagian ujung tangkai sari yang mendukung
kepala sari saja yang masih bebas satu sama lain. seperti dapat kita lihat pada bunga
kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.).
b. Benang sari berberkas dua atau benang sari bertukal dua (diadelphus), jika benang
sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang berlekatan dalam masing-
masing kelomppok.
c. Benang sari berberkas banyak atau benang sari bertukal banyak, yaitu jika dalam
suatu bunga yang mempunyai banyak benang sari, tangkai sarinya trsusun menjadi
beberapa klompok atau berkas, seperti misalnya pada bunga kapok (Ciba pentandra
Gaertn.) yang dalam satu bunga terdapat 5 berkas benang sari dengan tangkai-
tangkainya yang berlekatan di dalam masing-masing berkas.

Kepala sari (Anthera)

Kepala sari (anthera) adalah bagian benang sari yang terdapat pada ujung tangkai
sari, merupakan suatu badan yang bentuknya bermacam-macam; bulat, jorong, bulat telur,
bangun kerinjal, dan lain-lain. di dalamnya terdapat 2 ruang sari (theca), tetapi dapat pula
hanya satu atau lebih dari 2 ruang. Satu ruang sari biasanya trdiri atas dua kantong sari
(loculumentum), tetapi sekat yang memisahkan kedua kantong sari itu dapat hilang sehingga
kedua kantong sari itu akhirnya menjadi satu ruang saja. Ruang sari merupakan tempat
terbentuknya serbuk sari atau tepung sari (pollen).