Anda di halaman 1dari 6

Perbandingan Periodisasi Menurut Para Ahli

Periodisasi adalah pembagian kronologi perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa
dekade-dekade. Secara umum periode perkembangan sastra Indonesia terbagi atas sastra
Indonesia lama (klasik) adalah karya sastra yang berkembang sebelum ada pengaruh dari
kebudayaan luar, khususnya kebudayaan barat. Sastra Indonesia lama diperkirakan lahir pada
tahun 1500 sampai abad ke-19. Adapaun sastra Indonesia modern karya sastra yang
berkembang setelah ada pengaruh kebudayaan Barat pada awal abad ke-20.

Beberapa kritikus satra telah mencoba membagi periodisasi (pembabakan) sastra Indonesia, di
antaranya:

1. Perodisasi Sastra menurut Buyung Saleh


Periodisasi sastra menurut Buyung Saleh adalah jangka yang panjang atau pendek
dalam perkembangan sastra yang menunjukkan ciri khas karya sastra. Periodisasi
sastra Indonesia pada umumnya terbagi menjadi:
a. Kesusastraan Lama
Karya sastra pada kesusastraan lama masih berkisar pada cerita yang
disampaikan dari mulut ke mulut (lisan). Hasil karya sastranya berupa dongeng,
mantra, dan hikayat. Cerita pada masa ini bersifat istana sentries (mengisahkan
kehidupan raja-raja).

b. Kesusastraan Peralihan
Kesusastraan peralihan dipelopori oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Karya
masa peralihan telah meninggalkan kebiasaan lama yang bersifat istana sentries
menjadi karya yang lebih realistis. Hasil karya sastra yang terkenal, yaitu Hikayat
Abdullah.

c. Kesusastraan Baru
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pustaka berdiri pada tahun 1920 oleh penerbit Balai Pustaka.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari
bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak
menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis
(liar). Karya sastra dan penulis angkatan ini, yaitu Azab dan Sengsara karya
Merari Seregar (1920), Siti Nurbaya karya Marah Rusli (1920), dan Salah
Asuhan karya Abdul Muis (1928).
Angkatan Pujangga Baru
Pujangga Baru adalah sebuah nama majalah yang dipimpin oleh Sutan Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Sastra Pujangga Baru cenderung
kearah nasionalis, tetapi termasuk juga sastra idealistik dan romantik. Karya
sastra dan penulis angkatan ini, yaitu Layar Terkembang karya Sutan Takdir
Alisjahbana (1936), Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka (1938), dan
Belenggu karya Armijn Pane (1940).
Angkatan 1945
Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga
baru yang romantik idealistik. Karya sastra pada angkatan ini banyak
bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi
Chairil Anwar. Sastrawan angkatan 45 memiliki konsep seni yang diberi judul
Surat Kepercayaan Gelanggang. Konsep ini menyatakan bahwa para
sastrawan angkatan 45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan
hati nurani. Karya Sastra angkatan ini, yaitu puisi berjudul Kerikil Tajam karya
Chairil Anwar (1949), Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949), dan Dari
Ave Maria Ke Jalan Lain Menuju Roma karya Idrus (1948).
Angkatan 1966
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan
Mochtar Lubis. Menurut HB. Jassin karya sastra angkatan ini mempunyai
konsepsi Pancasila, menggemakan protes sosial, politik, dan membawa
kesadaran nurani manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan
perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan serta kesadaran akan moral
dan agama. Karya sastra angkatan ini, yaitu puisi berjudul Malu Calzoum
Bachri, dan Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono.

2. Periodisasi sastra menurut H.B.Jassin, 1953 (via notosusanto,1963:199-200)


Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari
awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. Selain berdasarkan tahun
kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial,
serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek
karya kreatifnya. Pada masa itu sastrad ipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha dan
kebudayaan Islam di Indonesia.
a. Sastra Melayu Lama
Ciri-ciri sastra melayu lama adalah masih menggunakan bahasa Melayu, cerita
seputar istana sentris dan hal-hal tahayul, penggarang anonin, dan masih sangat
terikat dengan aturan-aturan dan adat-istiadat daerah setempat. Karya sastra
yang muncul pada masa ini misalnya adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat
Mahabarata, Hikayat Seribu Satu Malam, Cerita-cerita Panji, Tajussalatin,
Bustanus Salatin.

b. Sastra Indonesia Modern


Karya sastra Indonesia modern ini muncul pada awal abad ke-20. Dipelopori oleh
gerakan nasionalis dari pejuang bangsa Indonesia. Sastra Indonesia modern ini
dibagi lagi menjadi 4, yaitu:
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan balai pustaka merupakan titik tolak kesusastraan di Indonesia.
Dilatarbelakangi oleh munculnya penerbit Balai Pustaka pada tahun 1917 yang
didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ciri-cirinya adalah:
1) Menggunakan bahasa Indonesia tapi masih terpengaruh bahasa
Melayu.
2) Cerita mengusung adat-istiadat dan kawin paksa
3) Dipengaruhi tradisi lokal dan daerah setempat Seputar romantisme
4) Unsur nasionalisme belum jelas
5) Bersifat didaktis (harus memberikan pendidikan budi pekerti)
6) Pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda
7) Bahasa percakapan dimasukkan di antara baca tulisan. Puisinya terdiri
atas syair dan pantun
Angkatan balai pustaka terkenal dengan sensornya yang ketat sehingga banyak
karya sastra yang tidak diterbitkan bahkan ditarik dari pasar, seperti Salah
Asuhan dan Belenggu. Contoh karya sastra pada zaman ini adalah Azab dan
Sengsara (Merari Siregar), Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Muda Teruna (M.
Kasim), Salah Pilih (Nur St. Iskandar), Dua Sejoli (M. Jassin, dkk.)
Angkatan Pujangga Baru (33)
Munculnya angkatan pujangga baru dilatarbelakangi oleh majalah sastra
Pujangga Baru (Juli 1933), selain itu juga sebagai reaksi dari ketatnya sensor
di balai pustaka. Angkatan pujangga baru menginginkan nasionalisme lebih
dikobarkan agar bisa menjadi penyemangat rakyat dalam perjuangan
kemerdekaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik
dan elitis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.Ciri-ciri angkatan pujangga
baru adalah:
1) Masalah yang diangkat ialah kehidupan modern
2) Nafas nasionalisme sudah jelas
3) Bahasa yang digunakan adalah kata-kata pujangga atau kata-kata
indah dan cenderung romantic
4) Kesamaan dengan angkatan 20 tendesius, didaktis
5) Angkatan ini telah bebas menentukan nasibnya sendiri
Tokoh-tokoh terkenal pada masa pujangga baru seperti Sutan Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah, Armyn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, J.E.
Tatengkeng, Rustam Effendi, dan Hamka.
Angkatan 45
Angkatan 45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin dan serba
keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan peperangan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga dilatarbelakangi
oleh munculnya respons terhadap Angkatan Pujangga Baru yang cenderung
romantik. Ciri-ciri karya sastra angkatan 45 adalah:
1) Terbuka
2) Pengaruh unsur sastra asing lebih luas
3) Corak isi lebih realis, naturalis
4) Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis
5) Penghematan kata dalam karya
6) Ekspresif
7) Sinisme dan sarkasme
8) Karangan prosa berkurang, puisi berkembang
Sastrawan yang terkenal pada masa ini adalah Chairil Anwar, Idrus, Achdiat
Kartamihardja, dan Aoh Kartahadimaja. Karya sastra yang lahir pada angkatan
45 seperti Deru Campur Debu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Atheis,
Zahra, dll.
Angkatan 66
Lahirnya Angkatan 66 adalah aksi yang dilancarkan para pemuda dan seniman
pada tahun 1966 yang memprotes kesewenang-wenangan penguasa, dan
terbitnya majalah sastra Horison. Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan 66
adalah:
1) Bercorak perjuangan anti tirani proses politik, anti kezaliman dan
kebatilan
2) Bercorak membela keadilan
3) Mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan
4) Berontak
5) Pembelaan terhadap Pancasila
6) Protes sosial dan politik
Contoh karya sastra pada Angkatan 66 adalah Pabrik, Telegram, Stasiun,
Ziarah, Kering, dll. Banyak peranan periodisasi sastra di Indonesia, seperti
sebagai tolakan berkembangnya sastra di Indonesia. Sastra di zaman
perjuangan juga digunakan sebagai media pembangkit nasionalisme dan
pengobar semangat.

3. Periodisasi sastra menurut Nugroho Notosusanto


Nugroho Notosusanto tidak memberikan ciri-ciri intrinsik karya sastra Indonesia yang
ada dalam tiap-tiap periode, ia rupanya mengikuti H.B. Jassin dan Boejoeng Saleh.
Hanya mengenai angkatan 50 dikatakan olehnya (1963: 208) bahwa para sastrawan
periode 50 jangkauan orientasinya meliputi seluruh dunia, tak hanya Belanda dan
Eropa Barat. Penyair dan penulis cerkan berguru kepada sastrawan Indonesia sendiri,
mereka berguru puisi pada Chairil Anwar dan Sitor Situmorang, pengarang prosa
berguru kepada Pramoedya Ananta oer atau Idrus. Unsur-unsur persajakan dari bahasa-
bahsa daerah semakin digali hingga makin kayalah bahasa Indonesia. Tradisi Indonesia
menjadi titik tolak. Sifat nasional periode 50 juga dicerminkan oleh tersebarnya
pusat-pusat kegiatan ke seluruh wilayah tanah air.
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
Sastra indonesia modern terbagi 3 ankatan
Angkatan 20
Karakteristik angkatan 20, prosesnya menggambarkan:
1) Pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda
2) Soal kawin paksa, pra maduan dan lain-lain
3) Kebangsaan belu maju kedepan, masih kedaerahan
Angkatan 33 atau punjaga baru
1) Angkatan ini telah bebas menentuka nasibnya sediri
2) Persoalannya ialah mengahadapi masyarakat kota dengan masalah-
masalah kota selain itu juga bagaimana menggunakan kebebasan dan
bagaimana fungsi kebebasan tehadap masyarakat
3) Pentingnya adalah persoalan kebangunan kebangsaan, jadi hasil karaya
mereka bercorak kebangsaan dalam segala keragamannya yang menjadi
pengikat mereka adalah cirri-ciri nasional
Kelainan dengan sastra melayu lama
1) bahasa percakapan dimasukan diantranya baca tulis
2) ada terdapat analisis jiwa
3) cerita beramain pada jaman sekarang
4) kebangsawanan pikiran kontra kebangsawanan darah
5) pandangan hidup baru kontra moral lama puisinya sebagian besar
terdiri atas syair dan pantun
6) bersifat didaktis

4. Periodisasi Sastra Ajip Rosidi


a. Masa kelahiran dan masa penjadian
Periode awal hingga 1933
Periode 1933-1942
Periode 1942-1945
b. Masa perkembangannya (1945 hingga sekarang)
Periode 1945-1953
Periode 1953-1961
Periode 1961 sampai sekarang (1969)
Ajip Rosidi juga tidak menguraikan ciri-ciri intrinsik karya sastra Indonesia yang ada
dalam tiap-tiap periodenya. Perlu ditegaskan bahwa sesungguhnya periode-periode
sastra ittu tidak tersusun mutlak seperti balok-balok batu yang dideretkan, yaitu
periode satu digantikan dengan periode yang lain dengan batas tegas, melainkan
periode-periode ini saling bertumpang-tindih. Sebelum sebuah periode atau angkatan
lenyap sama sekali, sudah timbul benih-benih angkatan baru. Hal ini disebabkan oleh
situasi dan kondisi tertentu yang istimewa dan biasanya didukung oleh generasi sastra
baru yang mulai menampakkan diri. Sebelum angakatan baru tersebut terintegrasi,
maka angkatan lama masih mempunyai kekuatan, bahkan juga sesudah angkatan baru
terintegrasi. Dengan demikian, angkatan lama dan angkatan yang baru lahir itu hidup
berdampingan. Namun masing-masing menunjukkan ciri-ciri sastra yang berbeda !
Berdasarkan ketidakmutlakan itu, maka gambaran sesungguhnya periode-periode
sejarah sastra Indonesia bertumpang tindih sebagai berikut:
1. Periode Balai Pustaka: 1920-1940;
2. Periode Pujangga Baru: 1930-1945;
3. Periode Angkatan 45: 1940-1955;
4. Periode Angkatan 1950-1970; dan
5. Periode Angkatan 70: 1965-sekarang (1984)
Dalam periodesasi itu kelihatan adanya tahun-tahun yang bulat. Hal ini untuk
mempermudah pengingatandan pemahaman dalam studi (sastra). Lagi pula lahirnya,
tersebarnya dan terintegrasinya suatu periode sastra atau angkatan sastra, pada
umumnya kurang jelas batas-batas waktunya. Jadi, tahun-tahun bulat itu sebagai
ancar-ancar timbulnya, tersebarnya, terintegrasinya dan lenyapnya suatu periode atau
angkatan sastra
Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang
ditandai dengan ciri-ciri tertentu Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri
tertentu yang berbeda dengan periode yang lain, misalnya pada angkatan 45
1. Terbuka
2. Pengaruh unsur sastra asing lebih luas
3. Corak isi lebih realis, naturalis
4. Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis
5. Penghematan kata dalam karya
6. Ekspresif
7. Sinisme dan sarkasme
8. Karangan prosa berkurang, puisi berkembang

Dari ikhtisar 4 macam periodisasi di atas, nyatalah bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan
yang prinsipil antara periodisasi yang satu dengan yang lain. Kesemuanya mulai
perkembangannya sastara Indonesia moderen sejak tahu 20-an. Kesemuanya menempatakan
tahun 30, tahun 45, dan tahun66 sebagai tonggak-tonggak penting dalam perkembangan
sastra. Perbedaanya hanya berkisar pada masa dan istilah dan masalah peranan tahun 1942
dan tahu 1950 di dalam perkembangan sastra Indonesia