Anda di halaman 1dari 4

Nama Kelompok:

1. Ananda Kurniasari (D74214027)

2. Nadia Zulfi (D94214105)

1. Keterkaitan materi matematika dengan ajaran islam


Keterkaitan materi matematika tentang operasi penjumlahan dan pengurangan
aljabar dengan ajaran islam ini terletak pada soal yang tertera pada Lembar Kerja
Siswa (LKS) yang dikaitkan dengan masalah dikehidupan sehari-hari yang bernuansa
islam.
Contoh:
Masalah muamalah (jual-beli) dimana subjek atau variabel yang digunakan bernuansa
islam, misal variabel yang digunakan adalah mukenah, sarung, kerudung,
peci, sorban dll.
2. Keterkaitan materi matematika dengan tokoh islam
Keterkaitan materi matematika tentang operasi penjumlahan dan pengurangan
aljabar dengan tokoh islam adalah Al-Khawarizmi. Sebab para sajarawan meyakini
bahwa karya al-Khawarizmi merupakan buku pertama dalam sejarah di mana istilah
aljabar muncul dalam konteks disiplin ilmu. Kondisi ini dipertegas dalam pembukuan,
formulasi dan kosakata yang secara teknis merupakan suatu kosakata baru.
Ilmu pengetahian aljabar sendiri sebenarnya merupakan penyempurnaan terhadap
pengetahuan yang telah dicapai oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Kedua bangsa
tersebut telah memiliki catatan-catatan yang berhubungan dengan masalah aritmatika,
aljabar dan geometri pada permulaan 2000 SM. Dalam buku Arithmetica of
Diophantus terdapat beberapa catatan tentang persamaan kuadrat. Meskipun demikian
persamaan yang ada belum terbentuk secara sistematis, tetapi terbentuk secara tidak
sengaja melalui penyempurnaan kasus-kasus yang muncul. Karena itu, sebelum masa
al-Khawarizmi, aljabar belum merupakan suatu objek yang secara serius dan
sistematis dipelajari [2]. Muammad bin Ms al-Khawrizm (Arab:
)adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang
berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwrizm (sekarang Khiva,
Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja
sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad. Buku pertamanya, al-Jabar, adalah
buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat.
Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar.
3. Keterkaitan materi matematika dan nilai-nilai akhlak
Shodaqoh dalam operasi pengurangan Rasulullah SAW bersabda bahwa
tangan di ataslebih baik daripada tangan di bawah. Memberi dalam islam seringkali
identik dengan kata shodaqoh, meskipun tidak sepenuhnya sama. Memberi tidak
selamanya merupakan shodaqoh, tetapi shodaqoh pasti memberi.
Fakta menunjukkan bahwa operasi pengurangan lebih sulit daripada
penjumlahan, misalnya untuk mengerjakan soal-soal berikut:
a. 102 89 =

Ketika pembelajaran dikelas guru biasanya mengajarkan pengurangan


bersusun dan menggunakan istilah pinjam atau hutang. Tanpa disadari hal ini
mengajari siswa untuk berhutang dan meminjam. Guru tidak mengajari anak
untuk memberi atau bersedekah. Padahal dengan cara memberi atau shodaqoh,
pengerjaan operasi pengurangan akan lebih mudah.

4. Keterkaitan materi matematika dengan ayat-ayat Al-Quran

Di dalam Al-Quran terdapat kata yang sama dengan arti kata penjumlahan,
pengurangan, perkalian maupun pembagian. Seperti dalam beberapa ayat berikut.
Penjumlahan

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan
tambahannya[686]. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula)
kehinaan[687]. Mereka Itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya (Yunus :
26).
Keterangan :
[686] Yang dimaksud dengan tambahannya ialah kenikmatan melihat Allah.
[687] Maksudnya: muka mereka berseri-seri dan tidak ada sedikitpun tanda
kesusahan.

Pengurangan
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia
menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang
perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan
sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur
panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab
(Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah (Fathir :
11).

5. Keterkaitan materi matematika dan tarikh islam lainnya

Asal mula Aljabar dapat ditelusuri berasal dari Babilonia Kuno yang
mengembangkan system matematika yang cukup rumit, dengan hal ini mereka
mampu menghitung dalam cara yang mirip dengan aljabar sekarang ini. Dengan
menggunakan sistem ini, mereka mampu mengaplikasikan rumus dan menghitung
solusi untuk nilai yang tak diketahui untuk kelas masalah yang biasanya dipecahkan
dengan menggunakan persamaan Linier, persamaan Kuadrat dan Persamaan Linier
tak tentu. Sebaliknya, bangsa Mesir dan kebanyakan bangsa India, Yunani, serta Cina
dalam melenium pertama belum masehi, biasanya masih menggunakan metode
geometri untuk memecahkan persamaan seperti ini, misalnya seperti yang disebutkan
dalam the Rhind Mathematical Papyrus, Sulba Sutras, Eucilids Elements dan
The Nine Chapters on the Mathematical Art. Hasil bangsa Yunani dalam Geometri,
yang tertulis dalam kitab elemen, menyediakan kerangka berpikir untuk
menggeneralisasi formula metematika di luar solusi khusus dari suatu permasalahan
tertentu ke dalam sistem yang lebih umum untuk menyatakan dan memecahkan
persamaan, yaitu kerangka berpikir logika Deduksi.

Seperti telah disinggung di atas istilah aljabar berasal dari kata Arab al-jabr
yang berasal dari kitab Al-Kitab aj-jabr wa al-Muqabala (yang berarti The
Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing) Yang ditulis oleh
matematikawan Persia Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi. Kata Al-Jabr sendiri
sebenarnya berarti penggabungan (reunion). Matematikawan Yunani di zaman
Hllenisme, Diophantus, secara tradisional dikenal sebagai Bapak Aljabr, walaupun
sampai sekarang masih diperdebatkan, tetapi ilmuwan yang bernama R Rashed dan
Angela Armstrong dalam karyanya bertajuk The Development of Arabic
Mathematics, menegaskan bahwa Aljabar karya Al-Khawarizmi memiliki perbedaan
yang signifikan dibanding karya Diophantus, yang kerap disebut-sebut sebagai
penemu Aljabar. Dalam pandangan ilmuwan itu, karya Khawarizmi jauh lebih baik di
banding karya Diophantus.
Al-Khawarizmi yang pertama kali memperkenalkan aljabar dalam suatu bentuk
dasar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan konsep aljabar
Diophantus lebih cenderung menggunakan aljabar sebagai alat bantu untuk aplikasi
teori bilangan.

Para sajarawan meyakini bahwa karya al-Khawarizmi merupakan buku pertama


dalam sejarah di mana istilah aljabar muncul dalam konteks disiplin ilmu. Kondisi ini
dipertegas dalam pembukuan, formulasi dan kosakata yang secara teknis merupakan
suatu kosakata baru. Ilmu pengetahian aljabar sendiri sebenarnya merupakan
penyempurnaan terhadap pengetahuan yang telah dicapai oleh bangsa Mesir dan
Babylonia. Kedua bangsa tersebut telah memiliki catatan-catatan yang berhubungan
dengan masalah aritmatika, aljabar dan geometri pada permulaan 2000 SM. Dalam
buku Arithmetica of Diophantus terdapat beberapa catatan tentang persamaan kuadrat.
Meskipun demikian persamaan yang ada belum terbentuk secara sistematis, tetapi
terbentuk secara tidak sengaja melalui penyempurnaan kasus-kasus yang muncul.
Karena itu, sebelum masa al-Khawarizmi, aljabar belum merupakan suatu objek yang
secara serius dan sistematis dipelajari.