Anda di halaman 1dari 10

PENERAPAN CSR DALAM PERUSAHAAN

Oleh

Fitria Ningrum Sayekti

Abstrak
Sumber daya alam Indonesia yang melimpah dikelola oleh perusahaan
dalam maupun luar negeri. Pengelolaan sumber daya alam meliputi bahan
tambang, pertanian dan perkebunan. Perusahaan yang bergerak di bidang industri
sumber daya alam digolongkan ke dalam perusahaan berskala besar dengan modal
yang tidak sedikit. Perusahaan berskala besar mempunyai wilayah industri luas
dengan ribuan tenaga kerja. Keuntungan yang diperoleh perusahaan sangat besar
tetapi juga beresiko terhadap kerusakan lingkungan.
Pemerintah telah menyusun undang-undang untuk mengurangi dampak
yang ditimbulkan dari kegiatan eksploitasi. Perusahaan industri ikut andil dalam
pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayah sekitar industri.
Pertanggungjawaban sosial perusahaan menjadi penting untuk dilaporkan kepada
seluruh pihak. CSR (Corporate social responsibility) merupakan wujud
kepedulian perusahaan terhadap kerusakan lingkungan maupun dampak yang
terjadi akibat kegiatan eksploitasi sumber daya alam.
Perusahaan di Indonesia belum sepenuhnya melaporkan kegiatan CSR yang
telah dilaksanakan. Belum ada aturan baku dalam penyusunan pelaporan CSR di
Indonesia. Hal ini menimbulkan perbedaan pelaporan CSR pada setiap
perusahaan. Pelaporan CSR merupakan wujud tanggung jawab perusahaan
terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kata Kunci: Penerapan, CSR, Perusahaan

I. Pendahuluan
Indonesia kaya sumber daya alam yang melimpah dari wilayah Sabang
hingga Merauke. Jenis sumber daya alam pun beragam, mulai dari bahan
pertambangan, bahan pertanian dan perkebunan. Hal ini menyebabkan banyak
investor dalam negeri maupun investor asing yang menanamkan modalnya untuk
mendirikan perusahaan di Indonesia. Tujuannya untuk memperoleh keuntungan
dari pemanfaatan sumber daya alam Indonesia.
Prinsip utama perusahaan, yaitu memperoleh keuntungan maksimal dengan
mengoptimalisasikan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan
perusahaan. Optimalisasi penggunaan sumber daya ini, tidak didukung dengan
memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Perusahaan yang
mengelola sumber daya alam sebagai komoditas utama, umumnya tidak
menghitung persentase kerusakkan lingkungan yang ditimbulkan.
Eksploitasi sumber daya alam yang dilaksanakan perusahaan, menggunakan
cara-cara sederhana sehingga meminimalisir biaya ekspoitasi tetapi beresiko
tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat. Banyak kasus pencemaran
lingkungan akibat dari proses eksploitasi yang tidak tepat, contohnya Lumpur

1
Lapindo di wilayah Sidoarjo Jawa Timur. Biaya eksploitasi yang tidak sebanding
dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar kerugian masyarakat,
menyewa tenaga ahli untuk menghentikan semburan lumpur yang tidak berhenti,
dan biaya lain yang harus dikeluarkan untuk rekonstruksi lahan. Biaya-biaya
pasca bencana ini mungkin dapat dihindari, apabila perusahaan telah
menggunakan metode yang tepat untuk proses eksploitasi dengan tetap
mengutamakan keselamatan dan pelestarian lingkungan.
Pelaksanaan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan umumnya
tercantum dalam program kerja perusahaan. Istilah yang digunakan dalam
program ini beragam, secara umum disebut dengan CSR (Corporate social
responsibility). Pada awalnya program ini bersifat sukarela, seiring berkembang
pesatnya dunia usaha tetapi tidak diikuti dengan tingkat kesejahteraan masyarakat,
maka program ini menjadi wajib bagi setiap perusahaan.
Persaingan pelaku usaha tidak hanya menggunakan media iklan atau harga
yang kompetitif, tetapi juga bersaing dalam memperoleh citra di masyarakat. CSR
merupakan cara yang ditempuh perusahaan untuk memperoleh penilaian positif
dari konsumen. Oleh karena itu, pelaksanaan CSR juga bukan hanya untuk
memenuhi kewajiban perusahaan tetapi menjadi unsur persaingan dalam dunia
usaha.

II. Corporate Social Responsibility (CSR)


Pertanggungjawaban sosial perusahaan atau corporate social responsibility
adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan
perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya
dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum
(Darwin, 2004 dalam Anggraini, 2006). Pengertian lain dari CSR menurut Mc
William dan Segel (2001) adalah serangkaian tindakan perusahaan yang muncul
untuk meningkatkan produk sosialnya, memperluas jangkauannya melebihi
kepentingan ekonomi eksplisit perusahaan, dengan pertimbangan tindakan
semacam ini tidak diisyaratkan oleh peraturan hukum.
Rumusan definisi di atas menunjukkan kepada masyarakat bahwa
setidaknya ada tiga hal pokok yang membentuk pemahaman atau konsep
mengenai CSR, yaitu:
1. Perusahaan tidaklah berdiri sendiri dan terisolasi, perusahaan atau perseroan
tidak dapat menyatakan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab
terhadap keadaan ekonomi, lingkungan maupun sosialnya;
2. Keberadaan dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan atau korporasi
sangatlah ditentukan oleh seluruh stakeholders-nya dan bukan hanya
shareholders-nya;
3. Melaksanakan CSR berarti juga melaksanakan tugas dan kegiatan sehari-hari
perusahaan, sebagai wadah untuk memperoleh keuntungan melalui usaha yang
dikelola.
Konsep CSR bukan merupakan hal baru dari kegiatan yang dilaksanakan
perusahaan. Berawal dari buku yang ditulis Howard R Bowen yang berjudul
Social Responsibilitity of the Businessman pada tahun 1953. Ide dasar CSR yang

2
dikemukakan Bowen mengacu pada kewajiban pelaku bisnis untuk menjalankan
usahanya sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat di
tempat perusahaannya beroperasi. Ia menggunakan istilah sejalan dalam konteks
itu untuk meyakinkan dunia usaha tentang perlunya mereka memiliki visi yang
melampaui kinerja finansial perusahaan. Ia mengemukakan prinsip-prinsip
tanggung jawab sosial perusahaan. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya
mendapat pengakuan publik dan akademisi sehingga Howard R. Bowen
dinobatkan sebagai Bapak CSR.
Terobosan lain dalam konteks CSR ini diterapkan oleh John Elkington
melalui konsep 3P (Profit, People, dan Planet) yang dituangkan dalam bukunya
Cannibals with forks, The tripple Bottom Line of Twentieth Century Business
yang diliris pada tahun 1997. Ia berpendapat bahwa jika perusahaan ingin
mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka perusahaan tersebut harus
memperhatikan 3P. Selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus
memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people)
dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet).
Konsep CSR semakin berkembang bergema setelah diselenggarakan World
Summit on Sustainable Development (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg, Afrika
Selatan.
Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-
an. Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (Corporate
Social Activity) atau aktivitas sosial perusahaan. Walaupun tidak menamainya
sebagai CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang
merepresentasikan bentuk peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap
aspek sosial dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan di tahun
2003, Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang aktif dalam
mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai
perusahaan nasional.
Perkembangan CSR di Indonesia semakin berkembang dengan dikeluarkannya
Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Disebutkan
bahwa PT yang menjalankan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan
sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan
(Pasal 74 ayat 1). UU PT tidak menyebutkan secara rinci berapa besaran biaya
yang harus dikeluarkan perusahaan untuk CSR serta sanksi bagi yang melanggar.
Pada ayat 2, 3 dan 4 hanya disebutkan bahwa CSR dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
Peraturan lain yang menyentuh CSR adalah UU No.25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa Setiap penanam modal
berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Meskipun UU
ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha
perseorangan yang mengabaikan CSR (Pasal 34), UU ini baru mampu
menjangkau investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal CSR bagi
perusahaan nasional. Pasal 3 ayat 1 poin h bahwa perusahaan yang akan
menanamkan modalnya di Indonesia harus berpijak pada asas berwawasan
lingkungan. Pasal 15 poin b bahwa korporasi baik Asing maupun Domestik pada

3
saat menempatkan modalnya di Indonesia berkewajiban untuk melaksanakan
tanggung jawab sosial perusahaan.
Aturan pemerintah mengenai kewajiban perusahaan untuk melaksanakan
tanggung jawab sosial, tidak diikuti dengan aturan yang mengatur tata cara
pelaksanaan CSR. Hal ini menimbulkan perbedaan dari tiap perusahaan dalam
penerapannya. Beberapa perusahaan melaksanakan program yang secara
substansial memiliki kemiripan dengan CSR, sekalipun tidak mempergunakan
nama CSR. Nama program tersebut, antara lain: Pemberian/Amal Perusahaan
(Corporate Giving/Charity), Kedermawanan Perusahaan (Corporate
Philanthropy), Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community/Public
Relations), dan Pengembangan Masyarakat (Community Development).
Jenis penerapan CSR di setiap perusahaan sangat beragam, meliputi:
1. Pengembangan sosial (Social Development)
Perusahaan memiliki kepedulian terhadap pengembangan masyarakat
sekitarnya.
2. Konsumen
Perusahaan menghasilkan produk yang tidak menimbulkan kerugian bagi
konsumen
3. Fair Operating Practice
Perusahan telah melaksanakan prinsip-prisip berusaha yang fair dan tidak
melakukan pola-pola berusaha yang curang, seperti monopoli, oligopoli, dan
sebagainya.
4. Lingkungan
Perusahaan dalam beroperasinya tidak melakukan pencemaran lingkungan.
5. Ketenagakerjaan
Perusahaan tidak mempekerjakan anak dibawah umur.
6. Hak Asasi Manusia
Perusahaan memberikan hak untuk berorganisasi pada karyawannya, hak untuk
beribadah, dan sebagainya.
7. Organizational Governance
Perusahaan pada saat beroperasi tidak melakukan KKN dengan pemerintah.
Pelaksanaan CSR dalam bidang lingkungan yang dapat diterapkan
perusahaan sebagai berikut:
1. Produksi bersih (Cleaner Production)
2. Kantor ramah lingkungan (Eco Office)
3. Konservasi energi dan sumber daya alam
4. Pengelolaan sampah melalui 3R
5. Energi terbarukan (Renewable energy)
6. Adaptasi perubahan iklim
7. Pendidikan lingkungan hidup.
Peraturan pemerintah untuk menerapkan CSR tidak hanya memberikan
dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat tetapi juga bagi perusahaan.
Besarnya dana CSR yang dikeluarkan perusahaan Menurut A.B. Susanto (2009)
akan memberikan manfaat, sebagai berikut:
1. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan
mendapatkan dukungan luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari

4
berbagai aktivitas yang dijalankanya. CSR akan mendongkrak citra
perusahaan, yang dalam rentang waktu panjang akan meningkatkan reputasi
perusahaan.
2. Mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima
perusahaan.
3. CSR dapat berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan
meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis.
4. Karyawan akan merasa bangga bekerja pada perusahaan yang memiliki
reputasi baik, yang secara konsisten melakukan upaya-upaya untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan
sekitarnya. Kebanggaan ini pada akhirnya akan menghasilkan loyalitas
karyawan.
5. Pelaksanaan CSR secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan memilki
kepedulian terhadap pihak-pihak yang selama ini berkontribusi terhadap
lancarnya berbagai aktivitas serta kemajuan yang diraih. Hal ini mengakibatkan
para stakeholders senang dan merasa nyaman dalam menjalankan hubungan
dengan perusahaan.
6. Konsumen akan lebih menyukai produk-produk yang dihasilkan oleh
perusahaan yang konsisten menjalankan tanggung jawab sosialnya sehingga
memiliki reputasi yang baik.
7. Meningkatnya penjualan seperti yang terungkap dalam riset Roper Search
Worldwide.
8. Insentif-insentif lainnya seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan khusus
lainnya.
Empat manfaat utama yang akan berpengaruh langsung terhadap
perusahaan, yaitu:
1. Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan
perusahaan mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas.
2. Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal).
3. Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human
resources) yang berkualitas.
4. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal
yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan
manajemen risiko (risk management).
Manfaat yang ditimbulkan dalam pengelolaan CSR dapat diwujudkan dalam
pelaporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Pelaporan yang
disajikan tidak dapat menunjukkan standar pengukuran tingkat keberhasilan yang
dicapai. Oleh karena itu, diperlukan berbagai pendekatan untuk menjadikannya
kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Triple Bottom Line atau
Sustainability Reporting. Penyusunan laporan berkelanjutan (sustainability
reporting) pada perusahaan mengacu kepada kegiatan CSR yang telah
dilaksanakan perusahaan selama periode tertentu dan memuat persentase dana
yang dikeluarkan perusahaan untuk membiayai kegiatan lingkungan. Dari sisi
ekonomi, penggunaan sumber daya alam dapat dihitung dengan akuntansi sumber
daya alam, sedangkan pengeluaran dan penghematan biaya lingkungan dapat
dihitung dengan menggunakan akuntansi lingkungan.

5
III. Penerapan CSR dalam Perusahaan
Perusahaan di Indonesia telah mengembangkan Corporate social
responsibility yang umum disebut CSR. Pelaksanaan CSR oleh perusahaan swasta
di Indonesia masih berdasarkan kedermawanan (philanthropy) atau sukarela
(voluntary). Oleh karena itu, bentuknya menjadi sangat beragam dan tidak
menyeluruh. Penerapan pada perusahaan di Indonesia masih terbatas pada
pengambilan keputusan yang dikaitkan dengan nilai nilai etika, memenuhi
kaidah kaidah dan keputusan hukum dan menghargai manusia, masyarakat dan
lingkungan.
Definisi perusahaan menurut pendapat Kansil (2001:2) adalah setiap bentuk
badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus
menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara
indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Pendapat lain
dikemukakan Swastha dan Sukotjo (2002:12), definisi perusahaan adalah suatu
organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber
ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan.
Berdasarkan pengertian perusahaan di atas, tergambar tujuan dari pendirian
perusahaan diantara lain:
1. Tujuan pelayanan primer, yaitu pembuatan barang/jasa yang dijual
untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
2. Tujuan pelayanan kolateral individu maupun sosial, yaitu nilai-nilai yang ingin
dicapai kelompok individu dan lebih luas lagi untuk kesejahteraan masyarakat.
3. Tujuan Pelayanan Sekunder, merupakan nilai-nilai yang diperlukan oleh
perusahaan untuk mencapai tujuan primer.
Tujuan perusahaan secara umum, yaitu mencapai keuntungan maksimal,
mempertahankan kelangsungan hidup, dan mengejar pertumbuhan ekonomi serta
membuka lapangan kerja.
Fungsi penting perusahaan dalam kegiatan ekonomi adalah sebagai
berikut:
a. Menghasilkan barang dan jasa
Kebutuhan yang harus dipenuhi mendorong perusahaan menciptakan barang
dan jasa pemuas kebutuhan. Barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan akan
disalurkan kepada pelaku ekonomi yang lain.
b. Sebagai pengguna faktor produksi
Bagaimana perusahaan dapat menghasilkan barang dan jasa?. Perusahaan
harus mengolah faktor produksi menjadi barang dan jasa. Faktor produksi tersebut
berupa tenaga kerja, sumber daya alam, dan modal.
c. Membayar pajak kepada pemerintah
Perusahaan juga merupakan bagian dari masyarakat umum. Dengan
demikian, perusahaan ikut memanfaatkan fasilitas umum yang disediakan oleh
pemerintah.
d. Sebagai agen pembangunan
Kegiatan ekonomi yang dilakukan perusahaan ternyata membawa pengaruh
yang besar terhadap pembangunan ekonomi. Dari kegiatannya perusahaan telah

6
membantu pemerintah dalam hal menyediakan lapangan kerja, meningkatkan
kesejahteraan karyawan, dan membangun berbagai fasilitas ekonomi.
Jenis perusahaan di Indonesia beragama, pengelompokkan perusahaan
berdasarkan lapangan usahanya, yaitu:
- Perusahaan ekstraktif
- Perusahaan agraris
- Perusahaan industri
- Perusahaan perdagangan
- Perusahaan jasa
Berdasarkan kepemilikan, perusahaan digolongkan ke dalam perusahaan
negara dan perusahaan swasta. Dalam pendirian perusahaan, memiliki beberapa
unsur, diantara lain:
- Badan usaha
- Kegiatan dalam bidang perekonomian
- Terus menerus
- Bersifat tetap
- Terang-terangan
- Keuntungan dan atau laba
- Pembukuan
Perusahaan harus memiliki tujuan dan fungsi perusahaan. Sumber daya
manusia menjadi faktor pendukung. Pengelolaan manajemen sumber daya alam
disusun dalam struktur organisasi perusahaan. Struktur organisasi perusahaan
merupakan sebuah hierarki yang ada dan berlaku pada perusahaan. Di dalam
struktur ini, terdapat penggambaran yang jelas mengenai berbagai macam
tingkatan posisi yang ada di perusahaan tersebut. Meski demikian, penggambaran
struktur organisasi perusahaan ini tidak bisa diberlakukan secara mutlak untuk
semua perusahaan. Setiap perusahaan memiliki hak untuk menyusun struktur
organisasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Manajemen perusahan yang baik, akan melaporkan kegiatan pertanggung
jawaban sosial kepada seluruh pihak yang terkait. Biaya-biaya yang dikeluarkan
akan diperhitungkan secara cermat berdasarkan kebijakan perusahaan yang
berlaku. Peran akuntansi sosial dan lingkungan, yaitu membantu pihak
manajemen untuk memperhitungkan biaya-biaya lingkungan yang harus
dikeluarkan.
Pengertian lengkap mengenai Akuntansi sosial dan lingkungan menurut
Djogo (2002), Akuntansi lingkungan (Environmental Accounting) adalah istilah
yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental cost) ke
dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan
adalah dampak (impact) baik moneter maupun non moneter yang harus dipikul
sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Akuntansi lingkungan mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek
penting dari kegiatan sosial ekonomi perusahaan dalam rangka memelihara
kualitas lingkungan hidup sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (haniffa,
2002). Sehingga perusahaan harus mengelola sumber daya dengan memperhatikan
dampaknya terhadap masyarakat.

7
Empat macam biaya lingkungan yang timbul dari dampak pencemaran
terhadap lingkungan yang ditanggung oleh masyarakat:
a. Damage Cost, yaitu biaya akibat dampak langsung dan tak langsung dari
limbah, misalnya meningkatnya berbagai macam penyakit dan terganggunya
reproduksi makhluk hidup.
b. Avoidance Cost, biaya ekonomi dan sosial dalam kaitannya dengan berbagai
upaya untuk menghindari dampak pencemaran yang terjadi. Misalnya, biaya
untuk penyaring udara.
c. Abatement Cost, yaitu biaya sumber daya yang digunakan untuk melakukan
penelitian, perencanaan, pengelolaan dan pemantuan pencemaran.
Tingkatan biaya lingkungan dalam melakukan analisa full costing terdiri
atas empat macam, yaitu:
a. Usual cost and operating cost adalah cost yang berkaitan langsung dengan
produk, termasuk biaya pembuatan, peralatan, material, pelatihan, tenaga kerja
dan energi.
b. Hidden regulatory cost
Merupakan biaya yang berkaitan dengan ketaatan terhadap peraturan
pemerintah seperti biaya pengujian, monitoring, dan inspeksi.
c. Contingent liability cost
Biaya yang berkaitan dengan kemungkinan kewajiban perusahaan di masa
yang akan datang seperti kerusakan dan biaya perbaikan di masa yang akan
datang.
d. Less tangible cost
Dengan mengurangi atau mengeliminasi pencemaran dan merespon permintaan
konsumen atas produk yang ramah lingkungan, suatu perusahaan dapat
merealisasikan cost saving (less tangible cost) berupa naiknya revenue atau
menurunnya expense.
Dampak pencemaran lingkungan yang utama bagi perusahaan adalah
sebagai berikut:
1. Merosotnya faktor kemanusiaan dalam produksi
2. Pencemaran udara dan air
3. Berkurangnya dan rusaknya sumber-sumber hewani
4. Berkurangnya sumber-sumber energi sebelum waktunya
5. Perubahan teknologi
6. Erosi, berkurangnya kesuburan tanah dan gundulnya hutan.
Pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan akan mendapat
sanksi yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan,
yaitu:
1. Sanksi administratif teguran tertulis, sanksi yang diterapkan kepada
penanggung jawab usaha dan kegiatan dalam hal penanggung jawab usaha,
yang telah melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan dan
persyaratan yang ditentukan dalam izin lingkungan. Namun pelanggaran
tersebut secara teknis masih dapat dilakukan perbaikan dan belum
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

8
2. Sanksi administratif paksaan pemerintah adalah sanksi administratif yang
berupa tindakan nyata untuk menghentikan pelanggaran dan/atau memulihkan
dalam keadaan semula.
UUPPLH Pasal 25 berbunyi:
(1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan
pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk
mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran, serta menanggulangi
akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran, melakukan tindakan
penyelamatan, penanggulangan, dan/atau pemulihan atas beban biaya
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan, kecuali ditentukan lain
berdasarkan Undang-undang.
(2) Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat diserahkan
kepada Bupati/ Walikotamadya/ Kepala Daerah Tingkat II dengan
Peraturan Daerah Tingkat I.
(3) Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan
kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
(4) Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2), didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang.
(5) Tindakan penyelamatan, penanggulangan dan/atau pemulihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran
sejumlah uang tertentu.
3. Sanksi administratif pembekuan izin lingkungan, sanksi yang berupa tindakan
hukum untuk tidak memberlakukan sementara izin lingkungan yang berakibat
pada berhentinya suatu usaha dan/atau kegiatan.
4. Sanksi administratif pencabutan izin, berupa tindakan hukum yang tidak
memberlakukan secara tetap izin lingkungan, sehingga usaha dan/atau kegiatan
berhenti secara permanen.
Kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan dalam
masalah lingkungan hidup berdasarkan PSAK, sebagai berikut:
1. Penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
2. Upaya pencegahan pencemaran sungai dari hasil kegiatan usaha.
3. Pengaturan bentuk lahan (landscaping), misalnya pengaturan saluran
pembuangan akhir.
4. Pencegahan pencemaran akibat debu, antara lain: penyemprotan air di lokasi
jalan produksi dan tempat lain yang dapat menimbulkan debu.
5. Pemantauan kualitas air saluran pemukiman di sekitar lokasi industri.
6. Pemantauan kualitas udara di lokasi industri dan pemukiman karyawan, serta
penduduk sekitarnya
7. Pemantauan keberhasilan dari usaha pengendalian dan pengelolaan lingkungan
yang dilakukan.

9
IV. Penutup
Pembahasan yang disampaikan tentang penerapan CSR dalam perusahaan
dalam makalah ini sangatlah terbatas. Pengkajian didasarkan pada pandangan dan
pendapat para ahli tentang CSR dan penerapan CSR dalam perusahaan. Sudah
tentu banyak sekali kekurangan. Namun dari uraian yang terbatas ini, penulis
dapat mengambil kesimpulan:
1. Kerusakan lingkungan akibat proses industri perusahaan perlu segera
ditanggulangi.
2. Pemerintah Indonesia belum membuat tata cara yang sistematis dalam
pelaporan CSR perusahaan.
3. Perbedaan istilah yang digunakan perusahaan dalam pelaporan
pertanggungjawaban sosial perusahaan
4. Biaya-biaya lingkungan harus diperhitungkan dalam pembuatan laporan
CSR
5. Pelaporan CSR harus transparan dan dilaksanakan secara konsisten oleh
perusahaan.
6. Sanksi yang tegas akan diberlakukan bagi perusahaan yang terbukti
melakukan pencemaran lingkungan.
7. Manfaat CSR dapat meningkatkan citra perusahaan dan membantu
masyarakat umum.
8. Perlu adanya kerja sama seluruh pihak untuk mengawasi pelaksanaan
tanggung jawab sosial perusahaan.

Daftar Pustaka

A. B. Susanto. 2009. Leadpreneurship. Jakarta: Erlangga.


Anggraini, Fr. R. R. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan
Keuangan Tahunan. Simposium Nasional Akuntansi IX. Padang. 23-26
Agustus.
Anonim. 2011. Google.Search.co.id, Akuntansi Lingkungan (diakses Desember
2012)
Haniffa, R., (2002), Social Reporting Disclosure-An Islamic Perspective,
Indonesian Management & Accounting Research Vol.1 No.2, pp.128-146
Kansil. 2001. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: PT
Balai Pustaka
McWilliams, A. dan D. Siegel. 2001. Corporate Social Responsibility: A Theory
of the Firm Perspective. Academy of Management Review, 26(1): 117127.
Swastha dan Sukotjo. 2002. Pengantar Bisnis Modern. Edisi Keenam,Yogyakarta:
Liberty. Chase, Jacobs and Aquilano
Toni Djogo. Akuntansi Lingkungan. 2006
______. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40, Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas.

10