Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTROPI PROSTAT BENIGNA (BPH)

Disusun Oleh :
SUHARTINI
G5A206020

PROGRAM NERS
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN (LJ)
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2007
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTROPI PROSTAT BENIGNA (BPH)

A. PENGERTIAN
Hipertropi Prostat Benigna (BPH): bertambahnya sel hiperplasma dari kelenjar
periurotral yang akan mendesak kelenjar prostat, sehingga mengakibatkan
kelenjar protat menjadi gepeng dan akan membentuk kapsul prostat.

B. ETIOLOGI
Penyebab hipertropi prostat secara pasti belum di ketahui namun beberapa ahli
berpendapat bahwa hipertensi pada prostat dikaitkan dengan proses penuaan dan
perubahan hormonal (hormon androgen).

C. INSIDEN
Pria usia di atas 50 tahun (50%) dan > 70 tahun (75%).
D. PATHWAYS
Faktor Risiko

Proses penuaan
Ketidakseimbangan produksi
testoteron dan ekstrogen / ekstrogen.

Perubahan keseimbangan testoferon

Produksi testoteron menurun, konversi


testoteron menjadi ekstrogen pada jaringan
adipose dan pirefer

Benigna Prostat Hipertropi (BPH) frekuensi,


nekruria, urgensia, disuria, straning

Kompensasi pada uretra Power kateter Retensi belum teratasi

Peningkatan retensi Pemasangan


pada leher visica dan Prostactomi eystotomi
daerah VU

Turp. Retensi belum Retensi


Suprapubik teratasi teratasi
Penebalan otot detrusda
(fase konpensasi)

Retropubik Trauma Integritas


Perineal insisi kulit
Detruson lelah
Retropubic
radical

Retensi urine Pendarahan Nyeri

Three way
kateter Mobilsiasi
Disfungsi sel Refensi urine
kronis
Peningkatan
Kemih atas kerentanan Risiko kekurangan
Hidrorefrosis terhadap volume cairan
sekunder

Gagal ginjal
Perubahan Resiko
eliminasi urine infeksi
E. PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian data dasar :
1. Sirkulasi
Peninggian tekanan darah.
2. Eliminasi
Gejala :
Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine; duduk untuk berkemih, ragu-
ragu saat mengawali berkemih, frekuensi, berkemih tidak lampias, nokturia,
disuria, hematuria, konstipasi.
Tanda :
Masa padat di bawah dinding abdomen bawah, kandung kemih, nyeri tekan
kandung kemih, hernia inguinalis hemoroid.
3. Makanan / Cairan
Gejala :
Mual muntah, anoreksia.
Tanda :
Penurunan BB.
4. Nyeri / Kenyamanan
Gejala :
Nyeri suprapubik, panggul / punggung tajam, kuat (prostates), nyeri
punggung bawah.

F. DATA PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Urinalis
Warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang (berdarah), pH 7 atau lebih
(infeksi), bakteria, sop, SDM.
2. Kultur Urine
Staphilokokus, proteus, kiebsiela, psedumonas, E.coli.
3. Bun / Kreatin
Bila ada kerusakan ginjal.
4. Asam fosfat serum (antigen khusus prostatik)
Meningkat karena pertumbuhan seluler.
5. IVP dengan film paska berkemih
Pelambatan pengosongan kandung kemih, membedakan derajat obstruksi
kandung kemih dan adanya pembesaran prostat devertikuli kandung kemih
dan penebalan abnormal otot kandung kemih.
6. Sistogram
Mengukur tekanan dan volume dalam kandung kemih untuk mengidentifikasi
disfungsi yang tidak berhubungan dengan BPH.
7. Sistouretroskopi
Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan perubahan dinding
kandung kemih.
8. Sistometri
Mengevaluasi fungsi otot detrusor dan tonusnya.
9. Ultrason Transpektal
Mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine, melokalisasi lesi yang tidak
berhubungan dengan BPH.

G. PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Menghilangkan retensi urin akut
2. Meningkatkan kenyamanan
3. Mencegah komplikasi
4. Membantu pasien untuk menerima masalah psikososial
5. Memberikan informasi tentang penyakit / prognosis dan kebutuhan
pengobatan

H. TUJUAN PEMULANGAN
1. Pola berkemih normal
2. Nyeri hilang
3. Komplikasi dapat secara nyata
4. Menerima situasi secara nyata
5. Proses penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan di pahami
I. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Gangguan eliminasi urine : retensio urin berhubungan dengan obstruksi
mekanik ; pembesaran prostat, dekompensasi otot deurusor /
ketidakmampuan kemih untuk berkontraksi secara adekuat
Kriteria hasil :
Berkemih lancar dan dalam jumlah yang cukup, kandung kemih tidak teraba,
residu kurang 50 ml, tidak ada tetesan saat selesai berkemih
Intervensi :
a. Dorong klien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba terasa
Rasional :
Meminimalkan retensi urine dan distensi kandung kemih.
b. Tanyakan pada klien tentang inkontinensia siresa
Rasional :
Tekan uretral yang tinggi menghambat pengosongan V.U/menghambat
berkemih sampai tekanan abdominal meningkat cukup untuk
mengeluarkan urine secara tidak sadar.
c. Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatannya
Rasional :
Untuk evaluasi obstruksi dan pilihan intervensi.
d. Awasi dan catat waktu serta jumlah tiap berkemih, perhatikan penurunan
haluran urin dan perubahan berat jenis urine.
Rasional :
Membantu berfungsinya ginjal.
e. Perkusi / palpasi suprapubik
Rasional :
Distensi VU dapat dirasakan.
f. Berikan rendam duduk sesuai indikasi
Rasional :
Meningkatkan relaksasi otot, menurunkan oedema dan meningkatkan
upaya berkemih.
g. Kolaborasi : antiseptik, AB dan antagonis alfa adrenergik
h. Kateterisasi dan irigasi secara optimal
i. Bantu untuk drainase urine : sistosomi
j. Siapkan untuk pembedahan

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi


kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria, terapi radiasi.
Kriteria hasil :
Melaporkan nyeri hilang, tampak rileks dan mampu istirahat / tidur.
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri
b. Pantau dan optimalkan fiksasi kateter
c. Perhatikan tirah baring selama fase nyeri akut
d. Lakukan tindakan distraksi dan relaksasi
e. Lakukan redam duduk dengan air hangat
f. Optimalkan drainase urine melalui keterisasi
g. Kolaborasi alalgetik narkotik antipasmodik dan atau AB.

3. Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruks duresis


dari drainase cepat kandung kemih, pembatasan intake secara berlebih karena
takut.
Tujuan :
Tidak menjadi masalah aktual.
Kriteria hasil :
Status hidrasi adekuat; tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler
baik dan memberikan mukosa lembab.
Intervensi :
a. Observasi haluaran cairan / urine
b. Dorong peningkatan pemasukan oral sesuai kemampuan klien
c. Awasi tekanan darah dan nadi
d. Tingaktkan tirah baring dengan kepala tinggi
e. Awasi elektrolite ; natrium
f. Berikan cairan

4. Kecamatan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, kemungkinan


prosedur pemberian malignasi.
Kriteria hasil :
Klien tampak rileks, menunjukkan rentangan tepat tentang perasaan dan
penurunan rasa akut dan melaporkan kecemasan menurun / hilang.
Intervensi ;
a. Ciptakan hubungan saling percaya
b. Optimalkan pengetahuan klien secara tepat
c. Jaga drivasi klien
d. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi salah


interprestasi / keterbatasan kognitif
Kriteria hasil :
Menyatakan pemahaman proses penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berpartisipasi dalam program pengobatan
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan klien
b. Diskusi
c. Beri pendidikan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA

Long C. Barbara. Keperawatan Medical Bedah. Volume 3. Bandung : Yayasan IAPK


Pajajaran. 1995. EGC.

M. Tucher, Martim. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan Diagnosis dan


Evaluasi. Edisi V, Volume 3. Jakarta. EGC. 1993.

Wim De, Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Alih Bahasa R. Sjamshuhidayat. Penerbit
Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Susane, C. Smeltzer. Keperawatan Medical Bedah (Brunner dan Suddart. Edisi VIII.
Volume 2, Jakarta. EGC. 2002.

Doenges E, Marilinn, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta. EGC. 2000.