Anda di halaman 1dari 6

BAB III PEMBAHASAN

Kinetika reaksi adalah suatu ilmu yang mempelajari kecepatan reaksi kimia
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Laju reaksi didefinisikan sebagai
perubahan mol reaktan ataupun produk per satuan waktu. Suatu reaksi dapat terjadi
apabila partikel-partikel reaktan saling bertabrakan (saling kontak). Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi laju reaksi, yaitu diantaranya :
1. Suhu : semakin tinggi suhu maka energi kinetik rata-rata partikel
semakin meningkat. Energi kinetik yang meningkat menyebabkan laju
partikel meningkat yang kemudian menyebabkan kontak antar partikel
reaktan menjadi semakin sering terjadi. Oleh sebab itu laju reaksi akan
semakin meningkat.
2. Fasa reaktan : reaktan yang berbentuk gas dan cair lebih cepat
bereaksi apabila dibandingkan dengan fasa padat, karena luas bidang
kontak antar partikel pada fasa cair dan gas lebih besar bila
dibandingkan dengan fasa padat.
3. Keberadaan katalis : katalis akan memberikan jalur alternatif untuk
reaksi dapat berlangsung dimana energi aktivasi yang diperlukan lebih
rendah daripada energi aktivasi tanpa pemberian katalis
4. Konsentrasi reaktan : semakin besar konsentrasi reaktan, maka
semakin besar pula kemungkinan partikel untuk saling kontak yang
kemudian akan menyebabkan laju reaksi meningkat.
5. Pelarut : pelarut dengan viskositas tinggi (kental) akan menyebabkan
partikel reaktan sulit untuk bergerak, sehingga kemungkinan terjadi
tabrakan antar partikel semakin rendah. Pada pelarut berviskositas
rendah (encer), partikel dapat bergerak lebih bebas sehingga
kemungkinan terjadi tabrakan antar partikel akan semakin tinggi yang
kemudian laju reaksi akan semakin cepat.
Pada percobaan kali ini akan ditentukan nilai energi aktivasi dan konstanta
laju reaksi dari reaksi antara Na2S2O3 dan H2O2. Kedua reaktan yang digunakan
tidak diketahui konsentrasinya sehingga diperlukan proses standarisasi.
A. Pembuatan larutan standar primer K2Cr2O7 dan standarisasi Na2s2o3
Larutan standar primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat langsung
diketahui melalui proses penimbangan dan pelarutan dalam sejumlah pelarut.
Biasanya larutan primer digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan lain
(larutan standar sekunder). Kriteria suatu larutan standar primer adalah senyawa
yang dilarutkan mudah diperoleh dalam keadaan murni, tidak bersifat higroskopis,
tidak mudah teroksidasi, stabil di temperatur ruang, kadar pengotor sangat rendah,
dan memiliki berat molekul tinggi agar dampak error saat penimbangan dapat
diminimalisir. Sementara larutan sekunder memiliki karakteristik mudah teroksidasi,
kemurnian rendah, berat molekul relatif rendah, dan higroskopik. Pada percobaan
kali ini, larutan standar primer yang digunakan adalah K2Cr2O7, sementara larutan
sekundernya adalah Na2S2O3. Pembuatan larutan standar primer K2Cr2O7,
dilakukan dengan cara melarutkan sejumlah K2Cr2O7 ke dalam erlenmeyer, lalu
ditambah dengan 2 ml H2SO4 3 M (asam sulfat), 2 gram KI, dan Na2CO3. Larutan
tersebut kemudian ditutup cling wrap, agar I2 yang dihasilkan tidak menguap.
Pembuatan larutan standar sekunder dilakukan dengan melarutkan sejumlah
Na2S2O3.5H2O ke dalam aquades yang telah didihkan lalu dibiarkan hingga suhu
ruang. Larutan tersebut kemudian ditambahkan Na2CO3. Setelah dihomegenkan,
larutan tersebut dimasukkan ke dalam buret. Setelah itu dilakukan titrasi dengan
bantuan indikator amilum.
Di dalam erlenmeyer berlangsung reaksi redoks:
Cr2O72- + 14 H+ + 6I- 2Cr3+ + 7h2o + 3I2
Setelah ditambah dengan h2so4, larutan dalam erlenmeyer berubah menjadi
jingga transparan menjadi jingga kecoklatan gelap pekat. Warna jingga kecoklatan
pekat berasal dari I2. H2SO4 mempercepat reaksi sehingga I2 yang dihasilkan lebih
cepat, yang ditandai dengan perubahan warna akhir larutan. Penambahan H2SO4
juga bertujuan agar reaksi berlangsung pada suasana asam. Reaksi Na2S2O3
sangat dipengaruhi oleh pH. Pada pH yang berbeda Na2S2O3 akan menghasilkan
produk yang berbeda pula.
Kondisi asam/netral
I2 + 2 S2O32- S4O62- + 2I
Kondisi sangat asam
S2O32- + H+ HSO3- + S
Kondisi basa
10 OH + S2O32- 2 SO42- + 5 H2O + 8 e
Pada kondisi sangat asam, H2S2O3 akan tereduksi menjadi sulfur,
sulfur ini akan menyebabkan larutan menjadi keruh sehingga tidak
memungkinkan dilakukan standarisasi pada kondisi sangat asam. Ion iod
termasuk senyawa yang tidak stabil. Pada pH sangat asam, ion iod akan
mengalami reduksi oleh oksigen pada udara yang menghasilkan iodine yang
bersifat kurang larut dalam air dan volatil.
O2 + 4I- + 4H+ 2I2 + 2H2O
Sementara pada suasana basa (pH > 8), iod akan bereaksi dengan ion
hidroksida seperti yang ditunjukkan pada persamaan reaksi berikut:
3I2 + 6OH- IO3 + 5I. + 3H2O
Selain itu juga amilum akan terhidrolisis pada suasana asam yang
pekat. Karena permasalahan tersebut, standarisasi Na2S2O3 dilakukan pada
kondisi netral sedikit asam bukan pada kondisi basa maupun asam pekat.
Tujuan penambahan KI adalah agar K2Cr2O7 dan Na2S2O3 tidak langsung
bereaksi, melainkan bereaksi dengan ion iod (titrasi iodometri). Metode
iodometri ini digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu oksidator secara
tidak langsung yang melibatkan iodine sebagai intermediatenya. Dengan
keberadaan iodine, ion tiosulfat akan tereduksi secara kuantitatif menjadi ion
tetrationat. Natrium tiosulfat rentan tereduksi oleh mikroorganisme, dengan
pemanasan pelarut (aquades), diharapkan mikroba-mikroba penyebab
reduksi na2s2o3 dapat mati. Tujuan penambahan Na2CO3 adalah untuk
mencegah Na2S2O3 terdekomposisi. Na2CO3 bersifat basa yang akan
mencegah suasana reaksi menjadi terlalu asam yang apabilla dibiarkan.
Na2S2O3 dapat terdekomposisi dan ion iod akan tereduksi oleh udara
menjadi iodine. Selain itu juga na2co3 berfungsi untuk mencegah
dekomposisi na2s2o3 oleh bakteri.
Reaksi total yang terjadi pada standarisasi Na2S2O3 adalah:
Reduksi Cr2O72- + 14 H+ + 6e- 2Cr3+ + 7h2o
Oksidasi 2I- I2 + 2e-
Total : Cr2O72- + 14 H+ + 6I- 2Cr3+ + 7h2o + 3I2
Reduksi I2 + 2e 2I--
Oksidasi 2 S2O32- S4O62-
Total : I2 + 2 S2O32- S4O62- + 2I
Proses titrasi perlu ditambahkan indikator untuk memudahkan dalam
penentuan titik akhir titrasi. Pada awal titrasi, larutan berwarna jingga coklat
pekat menandakan kadar iodine tinggi, setelah dilakukan penambahan
na2s2o3, larutan berkurang kepekatannya yang menandakan kadar iodine
berkurang. Lalu ditambahkan beberapa tetes amilum. Amilum bersama iodine
akan membentuk kompleks berwarna biru gelap. Pada tengah titrasi kadar
iodine cukup rendah, yang menyebabkan proses pengikatan iodine oleh
amilum berlangsung cepat dan reversibel. Sementara apabila amilum
ditambahkan pada awal titrasi dimana kadar iodine cukup tinggi, amilum akan
mengikat iodine relatif kuat yang menyebabkan proses pelepasan iodine
berlangsung lambat. Hal ini akan menyebabkan penentuan titik akhir titrasi
menjadi lebih sulit. Titrasi dilanjutkan hingga larutan pada erlenmeyer
berubah warna menjadi hijau transparan. Hal ini menandakan semua iodine
pada erlenmeyer telah terkonversi menjadi ion iod. Warna hijau transparan ini
berasal dari ion Cr3+. Melalui standarisasi Na2S2O3 ini, diperoleh volume
rata2 Na2S2O3 sebesar 28,2 ml dengan molaritas Na2S2O3 sebesar
0,106383 dan dengan kemurnian Na2S2O3 yang diperoleh sebesar 67,234%.
B. Standarisasi larutan Kmno4
Pada standarisasi KMnO4, digunakan H2C2O4 sebagai larutan
standar primer. Kmno4 termasuk larutan standar sekunder karena
kemurniannya yang rendah. Sejumlah H2C2O4 dilarutkan dengan
menggunakan aquades di dalam erlenmeyer lalu ditambah H2SO4 3M serta
dipanaskan hingga 80-90oC. Larutan H2C2O4 tersebut berada pada
erlenmeyer, sementara larutan KMnO4 berada di buret. Tujuan penambahan
asam sulfat adalah agar reaksi berlangsung pada suasana asam. Reaksi
dengan KMnO4 dipengaruhi oleh pH. Pada suasana asam, reaksi yang
berlangsung adalah
5e- +MnO4- + 8H+ Mn2+ + 4H2O
Pada suasana basa, reaksi yang berlangsung adalah
4 MnO4- + 2 H2O MnO2+ 3O2 +4 OH-
Pada suasana basa, MnO4 akan terkonversi menjadi endapan coklat
MnO2 yang akan mengganggu proses titrasi. Pada proses standarisasi yang
melibatkan asam oksalat (H2C2O4) diperlukan pemanasan karena diperlukan
energi yang cukup besar untuk pemutusan ikatan rangkap pada asam
oksalat. Bila tidak dipanaskan, reaksi ini akan berlangsung dengan lambat.
Reaksi total pada standarisasi kmno4:
Reduksi 5e- +MnO4- + 8H+ Mn2+ + 4H2O
Oksidasi C2O42- 2CO2 + 2e-
Total 16H+ + 2MnO4- + 5C2O42- 2Mn2+ + 8 H2O + 10CO2
Pada titrasi kali ini tidak diperlukan penambahan indikator, karena
KmnO4 bertindak sebagai indikator yang menandakan titik akhir titrasi.
Larutan Kmno4 berwarna ungu gelap. Sementara larutan h2c2o4 tidak
berwarna. Ketika larutan KMnO4 ditambahkan ke dalam erlenmeyer tampak
warna ungu gelap hilang seketika, hal ini dikarenkan KMnO4 langsung
terkonversi menjadi Mn2+ yang tidak berwarna. Titrasi dilangsungkan hingga
larutan di dalam erlenmeyer berubah menjadi sedikit merah muda transparan.
Warna merah muda ini menandakan seluruh ion oksalat (C2O42-) telah habis
bereaksi, warna merah muda berasal dari MnO4- berlebih. Berdasarkan hasil
standarisasi KmnO4, diperoleh volume rata2 KmnO4 sebesar 23,65 ml,
dengan molaritas Kmno4 sebesar 0,02114 M.
C. Standarisasi larutan H2O2
Larutan Kmno4 digunakan untuk menstandarisasi larutan H2O2.
Larutan H2O2 termasuk larutan standar sekunder, karena sangat reaktif dan
memiliki berat molekul yang relatif rendah. Larutan Kmno4 yang telah
diketahui molaritasnya melalui proses standarisasi akan menstandarisasi
H2O2. H2O2 yang sebelumnya telah diencerkan ditambahkan dengan h2so4
kemudian dititrasi dengan menggunalan Kmno4. Tujuan pengenceran ini
adalah untuk mempercepat proses standarisasi, H2O2 encer tentu
memerlukan volume Kmno4 yang jauh lebih sedikit daripada H2O2 pekat
untuk mencapai titik akhir titrasi. Reaksi total yang berlangsung adalah
Reduksi : 5e- + MnO4- + 8H+ Mn2+ + 4H2O
Oksidasi H2O2 O2 + 2H+ + 2e
Total 5H2O2 + 2MnO4- + 6H+ 5O2 + 2Mn2+ + 8H2O
Penambahan H2So4 bertujuan agar reaksi belangsung pada suasana
asam. Seperti yang dijelaskan pada subbab B, reaksi Kmno4 bergantung
pada suasana pH reaksi. Titrasi berlangsung hingga larutan berubah warna
dar tidak berwarna menjadi merah muda transparan. Berdasarkan hasil titrasi,
diperoleh volume rata2 28,45 ml, dan molaritas H2O2 encer sebesar 0,06014.
Melalui perhitungan, diperoleh nilai H2O2 pekat sebesar 15,0358 M.
D. Kalibrasi Termometer
Kalibrasi termometer dilakukan bertujuan untuk mengetahui rentang
kerja termometer yang digunakan. Kalibrasi ini penting dilakukan karena
peforma termometer akan berubah seiring dengan berjalannya waktu.
Termometer yang digunakan pada percobaan kali ini adalah termometer
digital, karena pembacaan suhu cepat dan akurat yang akan memudahkan
praktikan dalam melaksanakan percobaan. Kalbrasi termometer dapat
dilakukan dengan cara mengukur suhu es mencair dan air mendidih. Suhu
yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan suhu es mencair dan air
mendidih pada tekanan ruang (695 mmHg). Melalui perbandingan tersebut,
diperoleh suatu persamaan T koreksi yang akan digunakan pada penentuan
kapasitas kalor, penentuan konstanta laju reaksi, dan energi aktivasi.
Persamaan T koreksi yang diperoleh : T=1.0313 T - 2.5783
E. Penentuan densitas air panas dan dingin
Penentuan densitas air panas dan dingin dapat ditentukan dengan
menggunakan piknometer. Piknometer kosong ditimbang, lalu dimasukkan air
panas/dingin kemudian ditimbang. Dengan volume piknometer sebesar 25 ml,
dapat ditentukan densitas air dingin dan air panas. Densitas air panas yang
diperoleh sebesar 0.9388 g/mL, sementara densitas air dingin sebesar 1.0088
g/mL.
F. Penentuan kapasitas kalor reaktor, (m.Cp) sistem, dan delta Hr reaksi
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan
suhu sistem sebanyak 1 o C. Pada percobaan kali ini, reaktor diasumsikan beroperasi
secara adiabatik, dimana tidak ada kalor yang masuk maupun keluar reaktor.
Walaupun pasti ada kalor yang lepas ke lingkungan selama proses percobaan
berlangsung. Pada percobaan kali ini reaksi yang akan diamati adalah reaksi antara
Na2s2o3 dengan h2o2. Reaksi itu termasuk reaksi eksoterm, dimana sistem akan
melepas panas (kalor) ke lingkungan (dalam hal ini reaktor). Penentuan kapasitas
kalor reaktor dapat ditentukan melalui prinsip asas Black, dimana kalor yang diterima
sama dengan kalor yang dilepaskan. Pada percobaan kali ini nilai kapasitas kalor
reaktor ditentukan melalui 2 tahap yaitu dengan cara memasukkan air dingin ke
dalam reaktor, lalu dimasukkan air panas dan dengan memasukkan air panas ke
dalam reaktor, lalu dimasukkan air dingin. Nilai k (kapasitas kalor reaktor) yang
diperoleh kemudian di rata2, untuk memperoleh hasil yang lebih akurat. Namun
pada percobaan kali ini, terdapat salah satu k yang bernilai minus, untuk itu
diambillah k yang bernilai positif karena pada umumnya k bernilai positif.
Berdasarkan perhitungan, nilai k untuk volume total cairan 250, 350, dan 450 ml
secara berurutan adalah 338,092; 548,2741; dan 724,8717. Kecenderungan data
tersebut sesuai dengan teori, dimana semakin besar volume campuran cairan, maka
semakin besar pula kalor yang diserap reaktor yang kemudian nilai kapasitas kalor
meningkat. Demikian pula, sama hal nya dengan (mCp) sistem, semakin besar
volume campuran semakin besar nilai (mCp) sistem.
Delta Hr reaksi dapat ditentukan melalui penurunan rumus neraca energi
pada reaktor batch dengan melibatkan reaksi kimia. Melalui persamaan tersebut
dapat diketahui nilai delta Hr.

G. Penentuan Ea, Ao dan laju reaksi


Pada percobaan kali ini, penentuan Energi aktivasi (Ea), frequency factor (Ao), dan
laju reaksi dilakukan dengan pengukuran temperatur. Suatu campuran dengan volume
dan konsentrasi tertentu dimasukkan ke dalam reaktor dengan magnetic stirrer didalamnya.
Diatur rpm sesuai penugasan kemudian diukur temperaturnya setiap 3 detik dalam 1 menit
pertama, lalu diukur setiap 5 detik. Setelah suhu konstan, ditambahkan katalis ammonium
molybdat, diukur duhunya tiap 5 detik sekali. Laju reaksi akan cepat di awal sehingga suhu
harus dicatat tiap 3 detik. Semakin lama reaksi akan melambat sehingga suhu cukup dcatat
tiap 5 detik. Ketika suhu konstan, menandakan reaksi berjalan lambat atau reaktan telah
habis bereaksi. Untuk mempercepat reaksi, ditambah katalis agar reaktan terkonversi
seoenuhnya menjadi produk. Energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan oleh
suatu sistem agar dapat reaksi dapat berlangsung. Reaksi antara Na2S2O3 dan H2O2
merupakan reaksi orde 1, maka laju reaksinya dapat dinyatakan dalam hubungan Arrhenius,
seperti pada persamaan berikut ini
Frequency factor menunjukkan frekuensi tumbukkan antar molekul-molekul reaktan.
Frequency factor merupakan fungsi dari temperatur, karena nilainya tergantung pada
banyak tumbukkan antar partikel reaktan, seperti yang telah dibahas pada subbab A,
dimana suhu sangat mempengaruhi banyak tumbukan antar partikel. Namun pada rentang
suhu yang kecil, nilai dari frequency factor dapat dianggap konstan. Nilai Ea dan Ao dapat
dihitung melalui penurunan rumus berikut ini
Apabila nilai Ea, Ao, dan delta Hr telah diketahui, maka persamaan laju reaksi antara
Na2S2O3 dan H2O2 dapat ditentukan

H. Variasi percobaan
Variasi volume total
Berikut adalah tabel pembanding untuk variasi volume total untuk metode numerik

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai delta Hr, mCp sistem naik seiring
dengan meningkatnya volume total cairan. Semantara nilai Ea, Ao, dan r turun seiring
dengan meningkatnya volume total cairan.

Berikut adalah tabel pembanding untuk variasi volume total untuk metode numerik

Variasi konsentrasi

Variasi nilai beta

Variasi RPM