Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puja dan puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat Imam
dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW , kepada seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti jejak dan langkahnya.

Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan YME atas rahmatnya sehinnga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini berjudul Masalah Kesehatan Lingkungan Di
Indonesia. Yang membahas tentang upaya penanggulangan Masalah kesehatan lingkungan .

Besar harapan kami, Makalah kami dapat dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya
kepada kepada para pembaca dan pendengar dalam rangka mengetahui Masalah kesehatan
lingkungan di Indonesia.

Akhir kata, kami sangat menyadari Bahwa dalam makalah ini masih terdapat
kekurangan an kelemahannya. Oleh karena itu, dengan sangat senang hati kami memohon kritik
dan saran kepada pembaca, demi untuk kesempurnaan makalah kami berikutnya.

Wllabul Musta`an, Wassalam.

Gowa 2010

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . i

DAFTAR ISI..ii

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar belakang .. 1

b. Rumusan masalah .... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Kebijakan pemerintah terhadap masalah kesehatan 3

a. Kebijakan BLU (Badan Layanan Umum) menyakitkan Masyarakat Miskin... 3

b. Ubah Budaya Konsumerisme Masyarakat. 4

c. Terus Kembangkan Budaya Perekonomian Mandiri Masyarakat. 4

d. Upaya Proaktif Pemerintah 5

B. Masalah apa yang belum bisa terselesaikan. 5

BAB III PENUTUP

A. kesimpulan .... 6
DAFTAR PUSTAKA .
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masalah kesehatan di Indonesia bakal mengalami beban ganda. Pasalnya, penyebab
kematian telah bergeser dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular. Ini terjadi lantaran
meningkatnya berbagai kasus penyakit degeneratif terutama di wilayah perkotaan. Di sisi lain,
kejadian kasus penyakit menular belum berhasil dituntaskan dan bahkan bisa dikatakan masih
tinggi tingkatannya.

Telah terjadi pergeseran trend penyebab kematian untuk semua umur. Yakni dari
penyakit menular ke tidak menular, beber Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan (Balitbangkes) Depkes dr. Triono Sundoro di sela acara Simposium Nasional IV hasil
Riset Kesehatan Dasar (Rinkesdas) di Jakarta, Selasa. Dikutip dari hasil penelitian Rinkesdas
pada Agustus 2007 hingga September 2008, penyebab kematian perinatal (0 hingga 7 hari) yang
terbanyak dipicu oleh ganguan pernapasan (35,9%). Lalu disusul oleh kelahiran prematur
(32,3%). Sedangkan untuk usia 7-28 hari, penyebab kematian terbanyak adalah infeksi bakteri
(sepsis), 20,5% dan kelainan pada janin, 18,1%. Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah
diare (31,4%) dan pneumonia (23,8%). Sedangkan untuk kematian pada balita paling banyak
disebabkan oleh sakit diare. Di atas usia 5 tahun, penyulut kematian terbanyak kembali diambil
oleh penyakit degeneratif yakni stroke. Fenomena ini terjadi di pedesaan maupun di perkotaan,
imbuhnya.

Patut dicatat, dari Riskesdas bisa disimpulkan pengidap penyakit degeneratif tidak hanya
menyasar pada kalangan berduit di perkotaan saja. Stroke, hipertensi, obesitas dan penyakit
degeneratif lainya ternyata tidak berhubungan dengan tingkat pendapatan dan sosial ekonomi. Di
samping itu, mulai banyak ditemui penyakit degeneratif pada usia muda 15-17 tahun (8,3%)

Tercatat pada usia di atas 5 tahun, baik di wilayah kota dan desa, lima besar penyebab
kematian masih dipegang oleh penyakit degeneratif. Yakni, stroke, diabetes melitus, hipertensi,
TB dan penyakit jantung untuk wilayah perkotaan. Sementara di desa adalah, stroke, TB,
hipertensi, penyakit saluran anfas bawah dan tumor ganas. Pada paparan Menteri Kesehatan Siti
Fadilah Supari, jelas tergambar sejumlah penyakit menular penyebab kematian juga masih sangat
menonjol. Pada kelompok usia 5-14 tahun di perkotaan tercatat, demam berdarah dengeu, tifoid
dan meningitis menjadi penyebab kematian utama. Sedang di desa bagi kelompok usia ini, diare,
pneumonia dan malaria masih belum bisa tuntas diberantas dan kembali menjadi penyebab
kematian utama. Pada kelompok usia 15-44, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama
kematian di perkotaan (13,4%). Namun penyebab kematian ke-dua masih diduduki penyakit
menular TB. Sedangkan di pedesaan, penyakit hati (9,9%) jadi penyebab kematian utama disusul
dengan kecelakaan lalulintas.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumuan yang akan di bahas dalam runang lingkup yang kami buat yaitu :

1. Kebijakan pemerintah terhadap masalah kesehatan di Indonesia


2. Upaya pemerintah dalam mengtasi berbagi masalah di indoesia
3. Masalah kesehatan di Indonesia yang belum dapat terselesaikan dan penanggulangannya
yang belum dapat dilakukan dengan baik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kebijakan umum pemerintah terhadap masalah kesehatan


Perubahan demi perubahan dari kebijakan pemerintah dalam menangani kesehatan orang
miskin, ternyata pemenuhan kebutuhan orang miskin terhadap pelayanan kesehatan tidak
berubah, tetap saja orang miskin mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan kesehatan,
atau banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak perubahan kebijakan ini terhadap pelayanan
kesehatan untuk orang miskin.

Mahalnya biaya periksa ke dokter, belum lagi biaya obatnya. Pasti akan membengkak
ketika ada berita mereka harus dirawat inap atau dioperasi. Ketika radiologi, tes-tes laboratorium
pendukung juga melambung harganya, bahkan askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin)
terakhir kemarin sudah dibatasi. Askeskin hanya bisa diberlakukan di beberapa rumah sakit, dan
hanya untuk penyakit-penyakit tertentu saja. Biaya yang dikeluarkan tentu akan luar biasa.

Tingkat kesehatan masyarakat yang tidak merata dan sangat rendah khususnya di
kantong-kantong pedesaan yang disebabkan oleh banyak faktor seperti lingkungan yang kumuh,
tenaga medis yang masih belum cukup dan kurang berpengalaman, mengakibatkan mereka
sangat rentan terjangkit wabah. Kasus yang melanda kabupaten paling timur Bali, Karangasem
april lalu, adalah salah satu yang perlu mendapat perhatian semua pihak.
Perintah telah memberikan kebijakan kebijakan untuk masalah kesehatan di Indonesia, seperti
jamkesnas, posyandu, puskesmas keliling, ASKES, dan masih banyak lagi . Walaupun kebijakan
pemerintah tersebut belum mampu menyelesaikan masalah dengan baik.

a. Kebijakan BLU (Badan Layanan Umum) menyakitkan Masyarakat Miskin

Kebijakan Badan Layanan Umum yang diberlakukan pemerintah pada rumah sakit yang
dimiliki pemerintah merupakan kebijakan yang mungkin masih belum bisa diterima semua
pihak, termasuk masyarakat miskin. Seperti contoh yang terjadi di RS Dr Soetomo Surabaya.
Sebelum BLU maka biaya ambulans bagi masyarakat miskin gratis, namun sekarang mereka
harus membayar. BLU mengijinkan rumah sakit tersebut untuk mencari modal sendiri. Jadi
suasana komersil sangat kental disana. Jika para pahlawan melihat yang terjadi di Indonesia
sekarang ini pasti mereka menangis. Karena sektor pendidikan dan kesehatan dari dulu adalah
sektor sosial, bukan sektor komersial dan pemerintah wajib menjaminnya tanpa mengharapkan
laba. Akan tetapi setelah hampir 63 tahun merdeka, ternyata Indonesia menodai perjuangan para
pahlawannya dengan mengucilkan masyarakat miskin dalam hal kesehatannya.

b. Ubah Budaya Konsumerisme Masyarakat

Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit ini, masyarakat sudah seharusnya menyikapi
dengan tepat. Sikap cerdas yang harus dilakukan ialah berpola pikir dan berpola tindak
ekonomis. Strategi yang paling sederhana adalah melakukan penghematan di segala bidang,
termasuk di bidang kehidupan masyarakat. Pada masa sekarang ini, perlu adanya pembangunan
budaya termasuk didalamnya budaya kesederhanaan. Termasuk juga kesederhanaan dalam
bidang kesehatan.

Biaya jasa dokter, khususnya dokter spesialis, masih belum terjangkau sebagian
masyarakat. Belum lagi harga obat yang cukup mahal dan semakin lama pasti semakin menggila.
Ditambah lagi beban biaya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan
patologis, dan pemeriksaan penunjang lainnya yang akan semakin tidak terjangkau. Biaya akan
semakin melangit bila pasien divonis rawat inap atau operasi.

Solusi terbaik dalam menyikapi permasalahan itu membangun budaya mawas diri serta
berpikiran jernih dan positif serta selalu dalam kesederhanaan. Sederhana bukanlah hidup dalam
kekurangan atau ketidakpunyaan. Akan tetapi sederhana adalah selalu hidup dan memenuhi
kehidupan secukupnya, tidak berlebihan.
c. Terus Kembangkan Budaya Perekonomian Mandiri Masyarakat

Tampak fenomena yang menarik di dunia masyarakat. Yaitu dalam hal penghimpunan
dana mandiri demi membantu saudara-saudara mereka yang kurang mampu. LSM banyak
berkembang seperti LMI, Rumah Zakat Indonesia, Dompet Dhuafa, dll. Meskipun seharusnya itu
merupakan ktanggung jawab pemerintah untuk menanggung nasib rakyatnya, akan tetapi hal itu
sangat bermanfaat positif. Banyak pihak yang telah merasakan keberadaan dari lembaga-
lembaga tersebut. Dan akhirnya semoga Indonesia semakin lebih baik, dan tetap berpihak kepada
rakyat. Yang perlu diingat bahwa sektor pendidikan dan kesehatan merupakan sektor sosial,
bukan komersial. Jadi janganlah bebankan masyarakat untuk pemenuhan dua sektor kebutuhan
tersebut.

d. Upaya Proaktif Pemerintah

Dibutuhkan upaya pemerintah untuk terus membenahi instansi-instansi kesehatan agar


rakyat miskin mendapatkan haknya dalam hal kesehatan sebagaimana mestinya. pengawasan
dana dari pemerintah sehingga dana kesehatan tersebut dapat langsung di nikmati oleh
masyarakat yang membutuhkan. Semua itu dilakukan untuk memperkecil praktek oknum-oknum
yang memanfaatkan situasi.

B. Masalah apa yang belum bisa diselesaikan


Menurut kami masalah yang belum bisa di selesaikan adalah maslah seks bebas, memang
dalam lingkup indonesia terdapat banyak masalah yang sangat kompleks dan belum tuntas
sampai sekarang, tetapi kami mengangkat masalah seks bebas ini karena seks bebas berhubungan
dengan para pemuda yang notabennya para pelajar, sebagai penerus bangsa seharusnya para
pemuda sekarang di didik dan di beri pengarahan secara serius tetang apa itu seks bebas, budaya
barat yang menghalalkan seks bebas mulai merambat dan menulari para pemuda indonesia.

berbagai masalah pun bermunculan dari seks bebas, baik dalam proses perkembangan
Negara Indonesia, karena yang di kena adalah para penerus bangsa, beberapa penelitian telah
memastikan sebagian besar pelajar Indonesia telah melakukan seks bebas, baik itu dari sekolah
dasar sampai perguruan tinggi, dan sebagian besarnya mengidap penyakit HIV/AIDS karena seks
bebas. Menjadi PR bagi pemerintah yang terus berkesinambungan dalam dunia Politik dan tidak
pernah memikirkan maslah kesehatan yang memprihatinkan bagi masyarakat Indonesia, buat apa
Negara ini maju, jika mayarakatnya di penuhi dengan orang-orang yang berpenyakitan.
BAB III

PENUTUP

A. kesimpulan
Masalah kesehatan di Indonesia bakal mengalami beban ganda. Pasalnya, penyebab
kematian telah bergeser dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular. Ini terjadi lantaran
meningkatnya berbagai kasus penyakit degeneratif terutama di wilayah perkotaan. Di sisi lain,
kejadian kasus penyakit menular belum berhasil dituntaskan dan bahkan bisa dikatakan masih
tinggi tingkatannya.

Perubahan demi perubahan dari kebijakan pemerintah dalam menangani kesehatan orang
miskin, ternyata pemenuhan kebutuhan orang miskin terhadap pelayanan kesehatan tidak
berubah, tetap saja orang miskin mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan kesehatan,
atau banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak perubahan kebijakan ini terhadap pelayanan
kesehatan untuk orang miskin.
DAFTAR PUSTAKA

Sumber : Media Indonesia Online -- Selasa, 02 Desember 2008 -- Humaniora - Kesehatan

MASALAH KESEHATAN DI INDONESIA


DI SUSUN OLEH :
M.SYAMSUL BACHRI

MUCHLIS MUBARAQ H

NURHAYATI

MUH. TASLIM NUR

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2010