Anda di halaman 1dari 6

Masalah Kesehatan di Indonesia makin Pelik

Masalah kesehatan di Indonesia bakal mengalami beban ganda. Pasalnya, penyebab kematian
telah bergeser dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular. Ini terjadi lantaran
meningkatnya berbagai kasus penyakit degeneratif terutama di wilayah perkotaan. Di sisi lain,
kejadian kasus penyakit menular belum berhasil dituntaskan dan bahkan bisa dikatakan masih
tinggi tingkatannya.

Telah terjadi pergeseran trend penyebab kematian untuk semua umur. Yakni dari penyakit
menular ke tidak menular, beber Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) Depkes dr. Triono Sundoro di sela acara Simposium Nasional IV hasil Riset
Kesehatan Dasar (Rinkesdas) di Jakarta, Selasa. Dikutip dari hasil penelitian Rinkesdas pada
Agustus 2007 hingga September 2008, penyebab kematian perinatal (0 hingga 7 hari) yang
terbanyak dipicu oleh ganguan pernapasan (35,9%). Lalu disusul oleh kelahiran prematur
(32,3%). Sedangkan untuk usia 7-28 hari, penyebab kematian terbanyak adalah infeksi bakteri
(sepsis), 20,5% dan kelainan pada janin, 18,1%. Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah
diare (31,4%) dan pneumonia (23,8%). Sedangkan untuk kematian pada balita paling banyak
disebabkan oleh sakit diare. Di atas usia 5 tahun, penyulut kematian terbanyak kembali diambil
oleh penyakit degeneratif yakni stroke. Fenomena ini terjadi di pedesaan maupun di perkotaan,
imbuhnya.

Patut dicatat, dari Riskesdas bisa disimpulkan pengidap penyakit degeneratif tidak hanya
menyasar pada kalangan berduit di perkotaan saja. Stroke, hipertensi, obesitas dan penyakit
degeneratif lainya ternyata tidak berhubungan dengan tingkat pendapatan dan sosial ekonomi. Di
samping itu, mulai banyak ditemui penyakit degeneratif pada usia muda 15-17 tahun (8,3%)

Tercatat pada usia di atas 5 tahun, baik di wilayah kota dan desa, lima besar penyebab kematian
masih dipegang oleh penyakit degeneratif. Yakni, stroke, diabetes melitus, hipertensi, TB dan
penyakit jantung untuk wilayah perkotaan. Sementara di desa adalah, stroke, TB, hipertensi,
penyakit saluran anfas bawah dan tumor ganas. Pada paparan Menteri Kesehatan Siti Fadilah
Supari, jelas tergambar sejumlah penyakit menular penyebab kematian juga masih sangat
menonjol. Pada kelompok usia 5-14 tahun di perkotaan tercatat, demam berdarah dengeu, tifoid
dan meningitis menjadi penyebab kematian utama. Sedang di desa bagi kelompok usia ini, diare,
pneumonia dan malaria masih belum bisa tuntas diberantas dan kembali menjadi penyebab
kematian utama. Pada kelompok usia 15-44, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama
kematian di perkotaan (13,4%). Namun penyebab kematian ke-dua masih diduduki penyakit
menular TB. Sedangkan di pedesaan, penyakit hati (9,9%) jadi penyebab kematian utama disusul
dnegan kecelakaan lalulintas. (Tlc/OL-02)

Sumber : Media Indonesia Online -- Selasa, 02 Desember 2008 -- Humaniora - Kesehatan

MASALAH KESEHATAN DI INDONESIA


Dr. Suparyanto, M.Kes

Masalah Kesehatan di Indonesia


1. Derajat Kesehatan
2. Kerjasama Lintas Sektoral
3. Kebijakan Pembangunan Kesehatan
4. Sistem Pembiayaan Pembangunan Kesehatan
5. Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan
6. Mutu Sarana Kesehatan
7. Tenaga Kesehatan
8. Perbekalan Kesehatan

Derajat Kesehatan

Morbiditas beberapa penyakit menular cenderung meningkat, seperti malaria, demam berdarah
dan HIV/AIDS.
Makin terbukanya Indonesia terhadap dunia luar dan kemudahan transportasi potensi import
penyakit menular yang dewasa ini belum terdapat di Indonesia.

Penyakit degeneratif, penyakit tidak menular, dan kecelakaan lalu lintas juga cenderung
meningkat.
Masalah kebutaan juga menunjukkan peningkatan secara cukup bermakna.
Masalah diatas akan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang
yang memerlukan langkah-langkah penanganan yang optimal.

Kerjasama Lintas Sektor

Masalah kesehatan adalah merupakan masalah nasional perlu kerjasama lintas sektor
Isu utamanya adalah bagaimana upaya untuk meningkatkan kerjasama lintas sektor yang lebih
efektif (selama ini cenderung, kurang koordinasi dan kerjasama)

Pembangunan kesehatan yang dijalankan selama in hasilnya belum optimal karena kurangnya
dukungan lintas sektor.
Beberapa program sektoral masih ada yang tidak atau kurang berwawasan kesehatan sehingga
memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat.
Sebagian dari masalah kesehatan adalah akibat dari beberapa faktor, terutama lingkungan dan
perilaku, berkaitan erat dengan berbagai kebijaksanaan maupun pelaksanaan program di sektor luar
kesehatan.

Untuk itu diperlukan pendekatan lintas sektor yang sangat baik, agar sektor terkait dapat selalu
memperhitungkan dampak programnya terhadap kesehatan masyarakat.
Demikian pula peningkatan upaya dan manajemen pelayanan kesehatan tidak dapat terlepas
dari peran sektor-sektor yang membidangi pembiayaan, pemerintahan dan pembangunan daerah,
ketenagaan, pendidikan, perdagangan, dan sosial budaya.

Subsidi pemerintah hanya 30 persen dari total biaya kesehatan, sedangkan 70 persen biaya
kesehatan masih merupakan tanggung jawab masyarakat, dan didominasi oleh sistem pembayaran tunai
secara individual.
Dampak dari keadaan tersebut diatas adalah kesulitan dalam menerapkan kebijakan kendali
biaya dan juga memberatkan pemakai jasa pelayanan.
Padahal biaya kesehatan cenderung akan semakin meningkat dan menjadi tidak terjangkau
apabila pola pembiayaan seperti diuraikan diatas masih terus berlangsung.
Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan

Pola penentuan kebijakan dan pola pembiayaan yang telah diterapkan selama ini berpengaruh
sangat kuat terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Mutu pelayanan kesehatan yang baik dan sesuai dengan standar yang berlaku sulit diperoleh,
terutama bagi masyarakat miskin dan masyarakat yang berada di daerah terpencil.

Penyelenggaran pembangunan kesehatan masih belum ditopang oleh pemanfaatan kemajuan


ilmu dan teknologi yang tepat guna.
Penyelenggara pembangunan kesehatan masih belum sepenuhnya menerapkan etika dan moral
yang tinggi.
Dampak dari kondisi tersebut adalah penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Indonesia
yang belum sepenuhnya dilaksanakan secara profesional.

Mutu Sarana Kesehatan

Sekalipun jumlah dan penyebaran sarana kesehatan dinilai telah memadai, namun jika ditinjau
dari aspek mutu, pelayanan masih dibawah standar.
Beberapa sarana kesehatan lainnya, seperti rumah sakit belum memenuhi standar minimal.
Dalam keadaan seperti ini, mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan menjadi masih jauh
dari yang diharapkan.

Iklim yang kondusif bagi peningkatan peran serta swasta baik dari dalam negeri maupun luar
negeri dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan belum tercipta secara optimal.
Birokrasi dalam segi perijinan dan peraturan yang harus ditempuh seakan-akan menghambat
partisipasi sektor swasta dalam pembangunan kesehatan.

Tenaga Kesehatan

Masalah tenaga kesehatan Indonesia:


Penyebaran yang belum merata,
Mutu pendidikan yang belum memadai,
Komposisi tenaga kesehatan yang timpang karena masih sangat didominasi oleh tenaga medis
serta
Kinerja dan produktivitas yang rendah.

Koordinasi lintas sektor khususnya dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal
peningkatan jumlah lulusan 4 dokter spesialis dasar yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit kabupaten
untuk meningkatkan mutu pelayanannya masih kurang.
Disamping itu, diperlukan juga tinjauan dan penataan ulang sistem pendidikan tenaga kesehatan
lainnya baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta.

Isu pengembangan tenaga kesehatan adalah pendayagunaan tenaga, dimana distribusi tenaga
yang tidak merata menjadi masalah utama.
Pengembangan karier tenaga sangat perlu dikembangkan, yang meliputi tenaga sektor publik
dan tenaga kesehatan sektor swasta.
Semua upaya diatas memerlukan dukungan sistem informasi tenaga yang menyeluruh, terpadu
dan berdaya guna.

Perbekalan Kesehatan

Sebagian besar bahan baku obat untuk keperluan industri farmasi dan alat kesehatan yang
berteknologi maju masih tergantung dari impor yang menyebabkan harganya meningkat karena
depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Aksesibilitas masyarakat yang membutuhkan, diupayakan dengan pola penyediaan obat dalam
dua jalur yaitu jalur pelayanan sektor publik dan sektor swasta.
Di sektor publik pengelolaan obat yang efisien, pengadaan, perencanaan terpadu di Dati II dan
distribusi obat langsung di GFK merupakan hal yang mutlak.

Kemampuan analisis kebutuhan obat esensial yang menggunakan pendekatan bottom up


planning sesuai dengan pola penyakit merupakan masalah utama.
Disamping itu terdapat pula masalah kompleksitas koordinasi.
Masalah lain adalah yang menyangkut pemeliharaan perbekalan kesehatan, disamping
standarisasi dan kaliberasi alat-alat yang digunakan.

Perubahan demi perubahan dari kebijakan pemerintah dalam menangani kesehatan orang miskin,
ternyata pemenuhan kebutuhan orang miskin terhadap pelayanan kesehatan tidak berubah, tetap
saja orang miskin mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan kesehatan, atau banyak
pihak yang mengkhawatirkan dampak perubahan kebijakan ini terhadap pelayanan kesehatan
untuk orang miskin.
Mahalnya biaya periksa ke dokter, belum lagi biaya obatnya. Pasti akan membengkak ketika ada
berita mereka harus dirawat inap atau dioperasi. Ketika radiologi, tes-tes laboratorium
pendukung juga melambung harganya, bahkan askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin)
terakhir kemarin sudah dibatasi. Askeskin hanya bisa diberlakukan di beberapa rumah sakit, dan
hanya untuk penyakit-penyakit tertentu saja. Biaya yang dikeluarkan tentu akan luar biasa.

Tingkat kesehatan masyarakat yang tidak merata dan sangat rendah khususnya di kantong-
kantong pedesaan yang disebabkan oleh banyak faktor seperti lingkungan yang kumuh, tenaga
medis yang masih belum cukup dan kurang berpengalaman, mengakibatkan mereka sangat
rentan terjangkit wabah. Kasus yang melanda kabupaten paling timur Bali, Karangasem april
lalu, adalah salah satu yang perlu mendapat perhatian semua pihak.
Perintah telah memberikan kebijakan kebijakan untuk masalah kesehatan di Indonesia, seperti
jamkesnas, posyandu, puskesmas keliling, ASKES, dan masih banyak lagi . Walaupun kebijakan
pemerintah tersebut belum mampu menyelesaikan masalah dengan baik.

- Kebijakan BLU (Badan Layanan Umum) menyakitkan Masyarakat Miskin


Kebijakan Badan Layanan Umum yang diberlakukan pemerintah pada rumah sakit yang dimiliki
pemerintah merupakan kebijakan yang mungkin masih belum bisa diterima semua pihak,
termasuk masyarakat miskin. Seperti contoh yang terjadi di RS Dr Soetomo Surabaya. Sebelum
BLU maka biaya ambulans bagi masyarakat miskin gratis, namun sekarang mereka harus
membayar. BLU mengijinkan rumah sakit tersebut untuk mencari modal sendiri. Jadi suasana
komersil sangat kental disana. Jika para pahlawan melihat yang terjadi di Indonesia sekarang ini
pasti mereka menangis. Karena sektor pendidikan dan kesehatan dari dulu adalah sektor sosial,
bukan sektor komersial dan pemerintah wajib menjaminnya tanpa mengharapkan laba. Akan
tetapi setelah hampir 63 tahun merdeka, ternyata Indonesia menodai perjuangan para
pahlawannya dengan mengucilkan masyarakat miskin dalam hal kesehatannya.

- Ubah Budaya Konsumerisme Masyarakat


Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit ini, masyarakat sudah seharusnya menyikapi dengan
tepat. Sikap cerdas yang harus dilakukan ialah berpola pikir dan berpola tindak ekonomis.
Strategi yang paling sederhana adalah melakukan penghematan di segala bidang, termasuk di
bidang kehidupan masyarakat. Pada masa sekarang ini, perlu adanya pembangunan budaya
termasuk didalamnya budaya kesederhanaan. Termasuk juga kesederhanaan dalam bidang
kesehatan.
Biaya jasa dokter, khususnya dokter spesialis, masih belum terjangkau sebagian masyarakat.
Belum lagi harga obat yang cukup mahal dan semakin lama pasti semakin menggila. Ditambah
lagi beban biaya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan patologis, dan
pemeriksaan penunjang lainnya yang akan semakin tidak terjangkau. Biaya akan semakin
melangit bila pasien divonis rawat inap atau operasi.
Solusi terbaik dalam menyikapi permasalahan itu membangun budaya mawas diri serta
berpikiran jernih dan positif serta selalu dalam kesederhanaan. Sederhana bukanlah hidup dalam
kekurangan atau ketidakpunyaan. Akan tetapi sederhana adalah selalu hidup dan memenuhi
kehidupan secukupnya, tidak berlebihan.
- Terus Kembangkan Budaya Perekonomian Mandiri Masyarakat
Tampak fenomena yang menarik di dunia masyarakat. Yaitu dalam hal penghimpunan dana
mandiri demi membantu saudara-saudara mereka yang kurang mampu. LSM banyak
berkembang seperti LMI, Rumah Zakat Indonesia, Dompet Dhuafa, dll. Meskipun seharusnya itu
merupakan ktanggung jawab pemerintah untuk menanggung nasib rakyatnya, akan tetapi hal itu
sangat bermanfaat positif. Banyak pihak yang telah merasakan keberadaan dari lembaga-
lembaga tersebut. Dan akhirnya semoga Indonesia semakin lebih baik, dan tetap berpihak kepada
rakyat. Yang perlu diingat bahwa sektor pendidikan dan kesehatan merupakan sektor sosial,
bukan komersial. Jadi janganlah bebankan masyarakat untuk pemenuhan dua sektor kebutuhan
tersebut.
- Upaya Proaktif Pemerintah
Dibutuhkan upaya pemerintah untuk terus membenahi instansi-instansi kesehatan agar rakyat
miskin mendapatkan haknya dalam hal kesehatan sebagaimana mestinya. pengawasan dana dari
pemerintah sehingga dana kesehatan tersebut dapat langsung di nikmati oleh masyarakat yang
membutuhkan. Semua itu dilakukan untuk memperkecil praktek oknum-oknum yang
memanfaatkan situasi.

B. Masalah apa yang belum bisa diselesaikan