Anda di halaman 1dari 2

Menyeimbangkan Hidup

Rabu, 30 Maret 2011, 19:29 WIB


muslimvoices.org

Ilustrasi

Berita Terkait
Menyeimbangkan Hidup
Mata Gelap karena Dunia
Tiga Keutamaan Ibu
Perumpamaan Amal
Mengubah Nasib
Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq

Dikisahkan oleh Ibnu Saad bahwa suatu hari istri Utsman bin Madzun datang kepada istri Rasulullah dengan
keadaan yang sangat memprihatinkan. Istri Rasulullah pun berkata kepadanya, Kenapa kamu terlihat seperti ini,
bukankah tidak ada orang Quraisy yang lebih kaya daripada suamimu? Istri Utsman bin Madzun menjawab,
Saat ini keadaan itu sudah tak tersisa lagi! Ketika malam hari dia (Utsman bin Madzun) menghabiskannya
dengan shalat malam, sedangkan siangnya dia selalu berpuasa.

Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW masuk ke rumah. Istri Utsman pun menceritakan keadaan ini kepada
beliau. Rasulullah kemudian menemui Utsman bin Madzun lalu bertanya, Wahai Ustman bin Madzun, tidakkah
kamu menjadikanku sebagai contoh?

Ada apa wahai Rasulullah, sehingga engkau berkata demikian? ujar Utsman balik bertanya.

Apakah kamu selalu puasa pada siang hari dan menghabiskan malammu dengan shalat malam? Rasul kembali
bertanya.

Iya, saya sungguh melakukannya, wahai Rasulullah, jawab Utsman.

Jangan kamu lakukan itu, sabda Nabi kepadanya. Sesungguhnya matamu memilki hak atasmu, tubuhmu
memiliki hak atasmu dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka shalatlah dan tidurlah. Dan puasalah lalu
berbukalah. (HR Bukhari).

Riwayat di atas adalah salah satu keistimewaan ajaran Islam yang menganjurkan kepada Kaum Muslim untuk
selalu hidup seimbang. Seimbang antara ibadah dan bekerja, seimbang antara ruh dan raga, seimbang antara
akal dan hati, dan lain sebagainya. Islam melarang umatnya untuk berlebihan dalam membatasi gerak hidup
(tafrith) sehingga mengharamkan kenikmatan-kenikmtan yang Allah halalkan.

Atau sebaliknya, terlalu longgar (ifrath) seakan-akan semua hukum adalah halal, sehingga berlaku sekehendak
hatinya dan membolehkan segala cara.
Islam adalah agama fitrah, dan fitrah manusia selalu menginginkan keseimbangan. Dengan keseimbanganlah
alam alam raya ini selalu berjalan teratur. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang?.. (Al-Mulk [67]: 3). Keseimbangan inilah yang menjadi ruh dan inti ajaran Islam.

Dalam Surah Al-Jumuah ayat 9-10 Allah menggambarkan bagaimana seharusnya seorang Muslim
menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Orang-orang Mukmin, dalam ayat tersbut, adalah mereka
yang ketika telah tiba saatnya untuk beribadah, akan bergegas mengingat Allah dengan meninggalkan jual beli
dan segala rutinitas dunia. Namun setelah usai menjalankan ibadah, mereka kembali menyebar ke penjuru bumi
untuk mencari karunia dan rizki-Nya dengan tidak lupa untuk selalu berdzikir kepada-Nya. Mereka bersungguh-
sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, namun tidak pernah melupakan kehidupan dunia yang
saat ini mereka jalani. Kepala mereka menengadahkan ke langit, namun kaki mereka tetap berpijak di bumi.

Dengan itulah Allah menjamin keberuntungan bagi mereka. Beruntung dalam hidup di dunia dengan
mendapatkan karunia dan limpahan rizki-Nya dan kelak di akhirat mendapatkan ganjaran nikmatnya syurga.
Wallau ala wa alam.

*) Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ulumul Quran Universitas al-Azhar Kairo.