Anda di halaman 1dari 2

Petiklah Hikmah di Setiap Kejadian

Senin, 21 Maret 2011, 08:04 WIB


flickr

ilustrasi

Berita Terkait
Hikmah: Membaca Bencana
Hikmah: Pemimpin yang Mendengar
Kehidupan Akhirat
Hikmah: Memaknai Syukur Nikmat
Hikmah: Ujian Itu Mendewasakan
Oleh: Liah siti syaifah *)

Andaikata mereka belas kasihan, dan kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami, benar-benar mereka
akan terus menerus terombang ambing dala kekafiran mereka. (QS Al-muminun: 75)

Sebaik-baik manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang sempurna tidak akan bernilai bila tanpa ketakwaan
kepada Allah SWT. Senantiasa beribadah, karena rasa takwanya kepada Allah SWT. Ketakwaan manusia
kepada Allah SWT menjadi bekal dalam menghadapi lika-liku kehidupan di dunia. Hal ini dapat dipahami bahwa
ketakwaan selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT juga sebagai jalan untuk mendapatkan kehidupan
yang maslahat dunia dan akhirat.

Ketika kita hidup dalam kondisi baik, ketakwaanpun akan baik juga. Namun seiring dengan berjalannya waktu,
zaman yang semakin maju yang dipenuhi dengan prilaku amoral, Allah akan menguji ketakwaan seseorang
dengan suatu musibah atau dengan suatu nikmat yang sangat melimpah, sehingga kadangkala kita terlelap
dalam kekafiran. Namun daripada itu, sebagai eksistensi keberadaan manusia di dunia ini, ketika ditimpa cobaan
yang sangat berat, kita harus tetap mensyukuri apa yang ada.

Meskipun kehidupan dipenuhi oleh warna-warni, tapi hendaknya kita menjadi orang yang memetik hikmah dari
perbedaan tersebut. Musibah maupun nikmat tidak akan memberikan rasa beda di kala kita sudah mafhum
terhadap kebijaksanaan Illahi karena tidak selamanya kenikmatan memberikan kebahagiaan ( bisa saja itu
adalah sebuah ujian). Begitu pula sebaliknya, tidak selamanya musibah memberikan kesengsaraan jika kita
mampu memetik hikmah yang terkandung didalamnya.

Kebaikan, kejahatan, nikmat , derita karunia, ujian, semuanya sama. Bukan hanya semua itu adalah hukum alam
di mana manusia hidup di dalamnya, tapi juga kemaslahatan untuk manusia sendiri. Perbandingan yang tepat
mungkin bisa dilihat dari sikap tegas dan lembut dari orang tua. Manakah di antara keduanya yang lebih
maslahat bagi pendidikan anaknya? Jika hanya kelembutan yang diberikan, maka orang tua dianggap tidak
memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Demikian pula apabila seseorang merasakan terus nikmat
tanpa penderitaan, haruskah manusia menganggap buruk musibah kejahatan, penderitaan dari Tuhannya?

Jika kita telah mengetahui bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang mulia yang diciptakan-Nya,
maka masihkah kita mengkontropersikan keMaha Adilannya? Sedangkan Dia Maha bijaksana. Wallahu alam.
*) Penulis adalah mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta