Anda di halaman 1dari 14

Praktikum ke-4 Hari/Tanggal: Rabu/24 Februari 2016

MK. Teknologi Industri Dosen: Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si
Tumbuhan Laut

ANALISIS RUMPUT LAUT KERING

Asisten :
Marsella Muhammad Reyhan
Ianaegea Hans R Nur Aidha T
Melda Nuryanti Daryl Torres NDN
Nue Enggar W Ramahtika Lestari
Elis Irma R Timbul Maruli P
Restu Apandi Fauziah D

Disusun oleh :
Annisa Rahma Fatmala C34130030
Kelompok 6

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pangan menurut Sulistyowati (2003) merupakan kebutuhan dasar manusia


di samping sandang, perumahan, dan pendidikan. Pengembangan bahan pangan
bergizi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam laut yang
pemanfaatannya belum optimal. Sumber daya alam laut merupakan sumber
pangan yang sangat potensial. Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya ini
sangat didukung oleh kondisi perairan Indonesia, karena kurang lebih 70%
wilayah Indonesia terdiri atas lautan, yang pantainya kaya akan berbagai jenis
sumber daya hayati. Indonesia memiliki panjang pantai kurang lebih 81.000 km
dengan luas perairan pantai sekitar 6.846.000 km2, sehingga indonesia memiliki
potensi yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan lautnya,
termasuk rumput laut.
Rumput laut merupakan salah satu sumber devisa negara dan sumber
pendapatan bagi masyarakat pesisir. Indonesia mampu mengekspor rumput laut
dalam jumlah besar, dan sebagian dari rumput laut tersebut berbentuk rumput laut
kering. Produksi salah satu rumput laut, yaitu Eucheuma lebih dari 38.000 ton per
tahun, dan ekspor rumput laut dari Sulawesi Selatan dapat menembus angka 21
negara di seluruh benua di dunia dengan jumlah 12.900 ton senilai US$4,8 juta
(Anggadiredja et al. 2006).
Rumput laut kering menurut Djaeni et al. (2012) merupakan produk antara
dari berbagai jenis produk komersial yang beredar di masyarakat luas. Rumput
laut kering merupakan bahan baku yang masih perlu diolah lebih lanjut dalam
pemanfaatannya. Rumput laut kering biasanya dimanfaatkan sebagai bahan
makanan, minuman dan obat-obatan. Selain itu rumput laut kering dapat
menghasilkan beberapa hasil olahan seperti agar-agar, alginat dan karaginan.
Agar-agar, alginat, maupun karaginan merupakan senyawa yang cukup penting
dalam industri. Eucheuma cotonii merupakan salah satu rumput laut penghasil
karagenan, yang berupa polisakarida. Sargasum merupakan salah satu rumput laut
penghasil alginat, mengandung asam dan garam algin.
Rumput laut memiliki prospek yang baik untuk kedepannya. Rumput laut
kering pun memiliki prospek yang baik jika dilihat pada segi ekonomi. Rumput
laut kering ini perlu dilakukan penanganan yang baik agar menghasilkan rumput
laut kering yang baik, oleh karena itu perlu diketahui cara untuk menguji rumput
laut kering dari beberapa spesies rumput laut.

Tujuan

Praktikum analisis rumput laut kering ini bertujuan agar mahasiswa


mampu menguasai dan mengatahui cara untuk menguji rumput laut kering dari
beberapa spesies rumput laut.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi dan Klasifikasi Sargassum sp.


Sargassum sp. adalah genus dari alga cokelat, rumput laut dalam ordo
Fucales. Spesies ini terdistribusi di seluruh iklim dan lautan tropis dunia, di mana
spesies ini umumnya menghuni perairan dangkal dan terumbu karang. Klasifikasi
rumput laut jenis Sargassum sp. menurut Anggadiredja et al. (2006) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Rhodophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Family : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Spesies : Sargassum sp.

Spesies dari genus ganggang ini dapat tumbuh dengan panjang beberapa
meter, umumnya berwarna coklat, warna hijau, atau gelap dan terdiri atas
holdfast, sebuah stipe, dan frond. Rumput laut jenis ini memiliki tekstur yang
lengket serta kasar dengan tubuh yang kuat namun fleksibel, sehingga mampu
membantu untuk menahan arus air yang kuat. Sargassum sp. memiliki thallus
berbentuk silindris atau gepeng, banyak percabangan yang menyerupai pepohonan
di darat, bentuk daun melebar, lonjong atau seperti pedang, memiliki gelembung
udara (bladder) yang umumnya soliter (Guiry 2008).
Sargassum merupakan alga coklat yang terdiri dari kurang lebih 400 jenis
di dunia. Jenis-jenis Sargassum sp. yang dikenal di Indonesia ada sekitar 12
spesies, yaitu : Sargassum duplicatum, S. histrix, S. echinocarpum, S. gracilimun,
S. obtusifolium, S. binderi, S. policystum, S. crassifolium, S. microphylum, S.
aquofilum, S. vulgare, dan S. polyceratium (Guiry 2008). Bentuk Sargassum sp.
dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Rumput laut Sargassum sp.


Sumber :
http://oceanexplorer.noaa.gov/explorations/04etta/logs/aug25/media/sargassum.ht
ml

Alginat telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang industry, seperti


industri makanan, minuman, industri kosmetik, industri farmasi, dan industri
tekstil. Alginat dalam industri makanan lebih banyak digunakan untuk
memperbaiki tekstur, karena alginate bersifat sebagai stabilizer, emusifier, dan
thickening. Alginate juga memiliki konsistensi yang stabil, dapat dijadikan
sebagai filling untuk pie, dan pembuatan jelly. Alginat pada industri kosmetik
dimanfaatkan sebagai bahan dasar emulsi pada sediaan moisturising, karena sifat
alginat yang banyak menyerap air (Guiry 2008).

Deskripsi dan Klasifikasi Gelidium sp.


Rumput laut jenis Gelidium sp. merupakan salah satu contoh Rhodophyta.
Warna merah pada rumput laut ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin. Sebagian
besar rumput laut merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian
kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras yang cukup banyak
oksigen, selain itu pula rumput laut jenis ini dapat ditemukan di air payau
(Setyawan 2000). Klasifikasi rumput laut Gelidium sp. menurut (Phillips dan
Williams 2002) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Archaeplastida
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodopyceae
Ordo : Gelidiales
Famili : Gelidiaceae
Genus : Gelidium
Spesies : Gelidium sp.

Gelidium sp. memiliki panjang kurang lebih 20 cm dan lebar 1,5 mm.
Thallusnya berwarna merah, coklat, hijau-coklat atau pirang. Organ reproduksinya
berukuran makroskopis. Gelidium sp. termasuk dalam kingdom Archaeplastida,
karena semua anggota takson berasal dari peristiwa endosimbiotik. Endosimbiotik
merupakan evolusi sel melalui tahapan penggabungan sel sederhana atau bagian
sel yang bekerja sama untuk membentuk sel baru (Setyawan 2000). Bentuk
Gelidium sp. dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Rumput laut Gelidium sp.


Sumber : e-journal.uajy.ac.id

Berbagai jenis Gelidium sp. di Indonesia dan negara lain dimanfaatkan


sebagai bahan baku pabrik agar-agar dalam negeri dan sebagai komoditas ekspor.
Kandungan agar-agarnya berkisar antara 12-48%, tergantung jenisnya. Gelidium
sp. secara umum mengandung 14-20 gram air, 0,4 gram lemak, 16,1-22,5 gram
protein, 10,5-13,5 gram serat, dan 3,5-8,5 gram mineral (100 gram). Gelidium sp.
tumbuh baik pada suhu 300C dan kadar salinitas 35 permil (Setyawan 2000).

Deskripsi dan Klasifikasi Gracilaria sp.


Rumput laut Gracilaria merupakan salah satu jenis alga merah yang
banyak mengandung gel, dimana gel ini memiliki kemampuan mengikat air yang
cukup tinggi. Jenis rumput laut ini memiliki nilai ekonomis tinggi dan termasuk
golongan agarophyte. Klasifikasi Gracilaria sp. Menurut Rachmat (1999) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Rhodophyta
Kelas : Florideophyceae
Ordo : Gracilariales
Family : Gracilariaceae
Genus : Gracilaria

Ciri-ciri khusus dari Gracilaria adalah thalus berbentuk silindris dan


permukaannya licin. Thalus tersusun oleh jaringan yang kuat, bercabang-cabang
dengan panjang kurang lebih 250 mm, garis tengah cabang antara 0,5-2,0 mm.
Percabangan alternat yaitu posisi tegak percabangan berbeda tingginya,
bersebelahan atau pada jarak tertentu berbeda satu dengan yang lain, terkadang
hampir dichotomous dengan pertulangan lateral yang memanjang menyerupai
rumput. Bentuk cabang silindris dan meruncing di ujung cabang. Rumput laut
Gracilaria dapat dimanfaatkan sebagai penghasil agar. Agar merupakan suatu
polisakarida yang bersifat hidrofilik yang dihasilkan dari proses ektraksi dari
rumput laut kelas Rhodopyceae terutama genus Gracilaria, Gelidium,
Pterocladia, Acanthopheltis dan Ceramium (Istini et al. 2001). Berikut merupakan
penampakan Gracillaria sp. yang dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Rumput laut Gracillaria sp.
Sumber : http://live-plants.com/gracilaria.htm

Mutu Rumput Laut Kering


Rumput laut yang dihasilkan di indonesia harus memenuhi standar yang
diterapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam SNI 2690:2015 agar dapat
memenuhi standar kualitas untuk menjamin mutu dan keamanan pangan. SNI
tersebut mengatur standar teknis produksi rumput laut, meliputi kegiatan
praproduksi (lokasi dan kondisi budidaya, suhu, salinitas dan pH, konstruksi
(bentuk, ukuran dan kriteria), jumlah pelampung, bibit (umur, bobot, bentuk,
warna) dan peralatan serta proses produksi (pengikatan, penanaman,
pemeliharaan, pemanenan dan monitoring) (BSN 2015). Syarat mutu yang
dipersyaratkan sesuai Standar Nasional Indonesia No. 2690:2015 dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1 Syarat mutu rumput laut
Persyaratan
Carragenopyte Agaro-phyte Alginophyte
Parameter Uji Satuan
Eucheuma Eucheuma Gelidium Gracilaria Sargassum
cottonii spinosum spp spp spp
Sensori Min. 7 (skor 1-9)**
Kimia
Kadar air Maks. 30 Maks. 30 Maks. 12 Maks. 12 Maks. 15
%
Clean Anhydrous Min. 50 Min. 50 Min. 40 Min. 40 Min. 50
%
Weed (CAW)
Cemaran
logam* mg/kg
Maks. 1
Arsen (As) mg/kg
Maks. 0.1
Kadmium (Cd) mg/kg
Maks. 0.5
Merkuri (Hg) mg/kg
Maks. 40
Timah (Sn) mg/kg
Maks 0.3
Timbal (Pb) mg/kg
Cemaran fisik*
Impurities kasar % Maks. 3
CATATAN * Bila diperlukan
** Untuk setiap parameter sensori
METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum analisis rumput laut kering dilakukan pada hari Rabu, 24


Februari 2016. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Preservasi dan
Pengolahan Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Insititut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan praktikum analisis rumput laut kering ini adalah
neraca analitik, petridish, kaca arloji, pinset, tanur, oven, cawan porselen, labu
ukur, gelas piala, buret, pipet, dan erlenmeyer. Bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah rumput laut Sargassum sp., Gelidium sp. dan Gracilaria sp.,
HCl, larutan perak nitrat AgNO3 0.1 N (17 gram AgNO3 dilarutkan dalam 1000
mL air suling), indikator kalium kromat K2CrO4 5% (5 gram K2CrO4 dilarutkan
dalam 1000 mL air suling), magnesium oksida (MgO) atau natrium bikarbonat
(NaHCO3), asam nitrat (1:1) larutkan satu bagian asam sitrat pekat ke dalam satu
bagian air suling.

Prosedur Kerja

Uji Organoleptik
Bahan yang telah disiapkan yaitu rumput laut jenis Sargassum sp.,
Gelidium sp. dan Gracilaria sp. diuji organoleptik menggunakan parameter warna
dan bau. Prosedur kerja uji organoleptik dapat dilihat pada Gambar 4.

Rumput laut kering

Pengujian organoleptik
(parameter warna dan bau)

Data

Keterangan : : awal dan akhir proses


: proses
Gambar 4 Diagram alir proses pengujian organoleptik

Uji benda asing


Sampel rumput laut kering ditimbang sebanyak 100 gram, kemudian
dipisahkan dari bahan-bahan pengotornya, dan bahan pengotor tersebut
ditimbang, kemudian dilakukan penghitungan persentase benda asing yang
terdapat pada sampe. Diagram alir pengujian benda asing dapat dilihat pada
Gambar 5.
Rumput laut

Pemisahan benda asing

Penimbangan benda asing

Data

Keterangan : : awal dan akhir proses


: proses
Gambar 5 Diagram alir proses pengujian benda asing

Uji kadar air


Cawan porselen dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam,
kemudian cawan diletakkan ke dalam desikator (kurang lebih 15 menit) dan
didinginkan, setelah itu dilakukan penimbangan. Sampel ditimbang sebanyak 2
gram kemudian diletakkan ke dalam cawan. Sampel dikeringkan dalam oven
pada suhu 105oC selama 5 jam, lalu cawan diletakkan di dalam desikator dan
didinginkan, kemudian ditimbang dan dilakukan perhitungan kadar air. Diagram
alir pengujian kadar air dapat dilihat pada Gambar 6.

Cawan porselen

Oven 105oC selama 1 jam

Desikator 15 menit, tiimbang

Sampel 2 gram ke cawan

Oven 105oC selama 1 jam

Desikator 15 menit, tiimbang

Data
Keterangan : : awal dan akhir proses
: proses
Gambar 6 Diagram alir proses pengujian kadar air

Uji kadar abu


Cawan porselen dioven pada suhu 105oC selama 1 jam, kemudian cawan
diletakkan di dalam desikator selama 15 menit dan didinginkan. Sampel
ditimbang sebanyak 3 gram kemudian diletakkan ke dalam cawan, setelah itu
dipijarkan diatas bunsen hingga tidak berasap, lalu dimasukkan ke dalam tanur
pengabuan pada suhu 600oC selama 6 jam, kemudian dimasukkan ke dalam
desikator dan timbang hingga didapatkan berat yang konstan, dan dilakukan
penghitungan kadar abu. Diagram alir pengujian kadar abu dapat dilihat pada
Gambar 7.

Cawan porselen

Oven 105oC selama 1 jam

Desikator 15 menit, tiimbang

Sampel 2 gram ke cawan

Pijarkan hingga tak beruap

Tanur 600 oC selama 6 jam

Desikator 15 menit, tiimbang

Data

Keterangan : : awal dan akhir proses


: proses
Gambar 7 Diagram alir proses pengujian kadar abu

Uji kadar garam


Sampel ditimbang sebanyak 5 gram dalam gelas piala 400 mL, kemudian
air suling sebanyak 200 mL ditambahkan dan diaduk, lalu larutan disaring
menggunakan kertas saring, setelah itu dicuci dengan air suling sampai air
sulingan bebas klorida, lalu air saringan dan cucian ditampung ke dalam labu ukur
500 mL kemudian diencerkan sampai tanda batas. Setelah itu sebanyak 2 mL
larutan dipipet ke dalam Erlenmeyer 250 mL lalu diasamkan dengan beberapa
tetes asam nitrat (1:1) sampai larutan bereaksi asam terhadap indikator merah
metal, kemudian dinetralkan dengan MgO atau NaHCO3, lalu diencerkan dengan
air suling 100 mL. Selanjutnya dititrasi dengan larutan AgNO3 0,1 N sampai
larutan berwarna merah bata, lalu hitung kadar garam. Diagram alir pengujian
kadar garam dapat dilihat pada Gambar 8.

Sampel 5 gram

Penambahan 200 mL air suling


dan diaduk

Penyaringan dengan kertas saring

Pencucian kertas dengan air suling sampai air suling


bebas klorida

Penampungan air saringan dan cucian


dalam labu ukur 500 mL

Pengenceran hingga tanda tera

Pemipetan 2 mL ke dalam Erlenmeyer 250 mL

Pengasaman dengan beberapa tetes asam nitrat


(1:1), hingga bereaksi asam terhadap indikator
merah metal

Penetralan dengan MgO atau NaHCO3

Pengenceran dengan air suling sampai 100 mL

Titrasi dengan AgNO3 0.1 N sampai berwarna


merah bata

Keterangan : : awal dan akhir proses


: proses
Data
Gambar 8 Diagram alir proses pengujian kadar garam

Clean Anhydrous Weed (CAW)


Clean Anhydrous Weed (CAW) merupakan gambaran secara
keseluruhan mengenai kualitas kebersihan dan kekeringan atau seringkali disebut
indikator visual. CAW dapat diperoleh dari 100 dikurangi kadar air dan benda
asing.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Rumput laut kering yang dipreparasi dengan menghilangkan kotorannya


dilakukan beberapa uji. Pengujian tersebut terdiri atas uji organoleptik, uji kadar
air, uji kadar abu, uji kadar garam, uji benda asing, dan uji CAW. Hasil dari uji-uji
tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil analisis rumput laut kering
Spesies
Sargassum sp. Gelidium sp Glacilaria sp.
Parameter uji
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 1 Ulangan 2
Bau Spesifik Spesifik Spesifik Spesifik Spesifik Spesifik
Kuning Kuning Hijau muda
Warna Hijau Kecoklatan hijau
kecoklatan kecoklatan pucat
Kadar Air (%) 22,92 21,79 20,73 3,71 25,04 23,75
Kadar Abu (%) 18,89 16,89 20,43 15,41 33,40 32,98
Kadar Garam (%) 16,38 11,81 10,59 8,19 31,59 38,93
Benda Asing (g) 8 19 12 15 12 16
CAW (%) 69.08 59,21 67,27 81,29 62,96 60,25
Hasil pengujian mutu rumput laut kering pada Tabel 2 menunjukkan
perbedaan untuk ketiga jenis rumput laut, yaitu Sargassum sp., Gelidium sp., dan
Gracilaria sp. Hasil pada rumput laut Sargassum sp. memiliki bau spesifik jenis,
warna kuning kecoklatan, kadar air 22.92% dan 21.79%, kadar abu 18.89% dan
16.89%, kadar abu 16.39% dan 11.81%, kadar garam 16.38% dan 11.81%, benda
asing 8 gram dan 19 gram, CAW 69.08% dan 59.21%. Hasil pada rumput laut
Gelidium sp. Memiliki bau spesifik jenis, warna hijau dan kecoklatan, kadar air
20.73% dan 3.71%%, kadar abu 20.43% dan 15.41%, kadar garam 10.59% dan
8.19%, benda asing 12 gram dan 15 gram, dan CAW 67.27% dan 81.29%,
sedangkan hasil pada rumput laut Gracilaria sp. memiliki bau spesifik jenis,
warna hijau pucat muda dan hijau, kadar air 25.04% dan 23.75%, kadar abu
33.40% dan 32.98%, kadar garam 31.59% dan 38.93%, benda asing 12 gram dan
16 gram, dan CAW 62.96% dan 60.25%.

Pembahasan

Rumput laut kering yang dikeringkan dengan proses yang berbeda dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan yang berbeda pula, seperti rumput laut kering
asin cocok untuk dimanfaatkan karagenannya, rumput laut kering tawar dapat
dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, dan rumput laut kering alkali dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Rumput laut yang berasal dari laut
masih mengandung komponen pengotor dan air dalam jumlah yang besar pada
saat dipanen. Keberadaan komponen pengotor dan air ini dapat mempengaruhi
mutu rumput laut, sehingga perlu dilakukan pembersihan, pengeringan, dan
pengujian terhadap mutu rumput laut kering. Rumput laut kering yang baik dapat
diperoleh jika dilakukan proses-proses tersebut, sehingga rumput laut kering dapat
digunakan sebagai bahan baku penghasil karaginan, alginat, dan agar- agar dalam
jumlah yang besar (Wisnu dan Diana 2009).
Kualitas dari rumput laut kering yang dihasilkan dapat dilihat dari
beberapa parameter, seperti bau, warna, benda asing yang terdapat pada rumput
laut, serta dengan melakukan uji terhadap kadar air, kadar abu, kadar garam, dan
CAW. Hasil pengujian secara organoleptik terhadap parameter bau rumput laut
yang dilakukan dalam praktikum menunjukkan hasil bahwa semua rumput laut
yang diuji memiliki bau spesifik jenis. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rumput
laut yang diuji belum mengalami kemunduran mutu. Kemunduran mutu rumput
laut dicirikan dengan timbulnya bau ammonia. Bau ammonia tersebut dapat
disebabkan oleh tidak bersihnya lingkungan tempat rumput laut itu dibudidayakan
dan disebabkan juga oleh tumbuh dan berkembangnya mikroba pada rumput laut
tersebut sehingga rumput laut tercium bau amis dan asam. Faktor lain yang dapat
berpengaruh terhadap timbulnya bau yang tidak enak pada rumput laut adalah
karena terjadinya proses fermentasi selama penyimpanan yang disebabkan
pengeringan yang tidak sempurna (Wadli 2005).
Kadar air tertinggi adalah pada rumput laut Gracilaria sp. yaitu 24.4% dan
yang terendah adalah rumput laut Gelidium sp. yaitu 12.22%. Kadar air pada
rumput laut kering Gracilaria sp. menurut SNI adalah maksimal 12% (BSN
2015). Hal ini tidak sesuai dengan hasil praktikum yang dilakukan, karena hasil
yang didapat melebihi nilai standar. Kadar air merupakan faktor yang secara
langsung mempengaruhi mutu rumput laut sebagai bahan baku ditinjau dari segi
kimia maupun fisika, terutama selama penyimpanan. Pada kondisi kadar air yang
tinggi, maka semakin lama penyimpanan menunjukkan kecenderungan penurunan
yang tajam, baik rendemen maupun kekuatan gel (Aggadiredja et al. 2006).
Rumput laut kering hasil pengamatan jenis Sargassum sp. memiliki warna
kuning kecoklatan, sedangkan Gelidium sp. dan Gracilaria sp. memiliki warna
hijau. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh dari
pengeringan dan pencucian. Warna dari setiap jenis rumput laut berbeda-beda
tergantung pada pigmen yang dikandungnya. Rumput laut merah memiliki
kandungan pigmen phycoerithrin yang jika dijemur dengan matahari akan
berubah menjadi merah-ungu kemudian menjadi putih karena kehilangan
pigmennya (Wadli 2005).
Benda asing pada rumput laut dapat berupa garam, pasir, karang, kayu,
batu, dan jenis pengotor-pengotor lainnya. Analisis kadar benda asing pada
rumput laut bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak bahan pengotor yang
terdapat pada rumput laut tersebut, karena bahan pengotor atau benda asing dapat
mempengaruhi mutu rumput laut, yaitu semakin tinggi jumlah benda asing yang
terkandung pada rumput laut maka semakin rendah mutunya. Syarat mutu rumput
laut kering berdasarkan SNI (2690:2015) yaitu kandungan benda asing minimal 3
% (BSN 2015).
Mutu rumput laut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya faktor
lingkungan seperti salinitas, suhu, pH, keadaan ombak dan lain-lain. Faktor
lingkungan yang dimaksud adalah kondisi oseanografi dan meteorologi
perairan. Rumput laut kering yang memiliki kadar air yang tinggi akan lebih
mudah rusak jika dibandingkan dengan rumput laut berkadar air rendah. Rumput
laut bersifat higrokopis sehingga penyimpanan di tempat yang lembab akan
menyebabkan kerusakan terjadi lebih cepat (Aggadiredja et al. 2006)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Mutu rumput laut kering dapat diketahui dengan melakukan berbagai uji,
seperti uji organoleptik, uji benda asing, uji kadar air, uji kadar abu, uji kadar
garam, dan CAW. Hasil analisis rumput laut kering ini menunjukkan bahwa semua
jenis rumput laut yang diamati, yaitu Sargassum sp., Gracilaria sp., dan Gelidium
sp. memiliki karakteristik bau yang spesifik jenis, serta memiliki warna yang
berbeda, yaitu Sargassum sp. memiliki warna kuning kecoklatan, sedangkan
Gelidium sp. dan Gracilaria sp. memiliki warna hijau. Mutu rumput laut yang
diuji organoleptik memiliki mutu yang cukup baik, sedangkan pada pengujian
kadar air, kadar abu, kadar garam, dan benda asing didapatkan mutu yang kurang
baik, hal ini disebabkan hasil uji memiliki nilai diatas ambang batas yang
ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI).

Saran

Praktikum analisis mutu rumput laut kering sebaiknya menggunakan jenis


rumput laut yang lebih bervariasi. Penanganan pasca panen, seperti pengeringan
dan pencucian sebaiknya dilakukan oleh praktikan. Pengeringan rumput laut
sebaiknya dilakukan dengan cara lain untuk dijadikan sebagai perbandingan,
misalnya pengeringan menggunakan matahari dan pengeringan menggunakan
oven.

DAFTAR PUSTAKA

Anggadiredja JT, Purwanto H, Istini S. 2006. Rumput Laut. Jakarta (ID) :Panebar
Swadaya.
[BSN] Badan Standardisasdi Nasional. 2015. Rumput Laut Kering SNI
2690:2015. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional.Djaeni M,
Prasetyaningrum A, Mahayana A. 2012. Pengeringan karaginan dari rumput
laut Eucheuma cottonii pada spray dryer menggunakan udara yang
didehumidifikasi dengan zeolit alam tinjauan: kualitas produk dan efisiensi
energi. Momentum. 8 : 28-34.
Guiry. 2008. Sargassum muticum Wireweed. http://www.seaweed.ie/sargassum/
[internet] [Februari 26 2016].
Istini S, Silva A, Achmad Z. 2001. Proses Pemurnian Agar dari Gracilaria
Teknologi Indonesia. Jakarta (ID) : Humas-BPPT/ANY.
Phillips G, Williams PA. 2000. Agar. England : Woodhead Publishing Limited.
Rachmat R. 1999. Potensi algae coklat di indonesia dan prospek pemanfaatannya.
http://lipi.go.id [internet] [Februari 26 2016].
Setyawan AD. 2000. Petunjuk Praktikum Taksonomi Tumbuhan I (Cryptogamae).
Surakarta (ID): Universitas Negeri Sebelas Maret.
Sulistyowati H. 2003. Struktur komunitas seaweed (rumput laut) di pantai pasir
putih kabupaten situbondo. Jurnal Ilmu Dasar. 4 (1): 58-61.
Wadli. 2005. Kajian pengeringan rumput laut menggunakan alat pengering efek
rumah kaca. [tesis]. Bogor (ID) : Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Wisnu AR, Diana R. 2009. Analisa komposisi nutrisi rumput laut (Eucheuma
cottonii) di pulau karimunjawa dengan proses pengeringan berbeda.
www.bi.go.id/sipuk/lm/ind/rumput_laut/produksi.htm [internet] [Februari 26
2016].

LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumentasi praktikum

Rumput laut kering Gracilaria sp. Pengotor rumput laut


kering Gracilaria sp.

Lampiran 2 Contoh perhitungan ulangan 2 Gelidium sp.

Kadar Abu
Diketahui : sampel (2,0206 g) , cawan (22,1730 g), berat setelah tanur (22,4843 g)
Berat abu = setelah ditanur (g) cawan (g)
Berat abu = 22,4843 22,1730
= 0,3113
Kadar abu =

Kadar abu =

= 15,41%

Kadar Air
Diketahui : sampel awal (2,0200 g) , sampel setelah dikeringkan (1,9449 g)
Kehilanagn berat (g) = sampel sampel setelah dikeringkan (g)
= 2,0200 1,9449
= 0,0751 g

Kadar air =

Kadar air =

= 3,71 %

Kadar Garam

Kadar NaCl (adbb) =

Kadar Nacl (adbk) = kadar NaCl (adbb) % x

Benda Asing

Impurity =

= 15 %

CAW
CAW = 100 Kadar air Impurity (benda asing)
= 100 3,71 % - 15 %
= 81,29 %