Anda di halaman 1dari 25

PEMBIAYAAN DAN PRODUKTIVITAS DALAM PENDIDIKAN TINGGI

Teori, Bukti, dan Implikasi Kebijakan

Oleh: Darrell R. Lewis dan Halil Dundar

Permasalahan pembiayaan pendidikan di perguruan tinggi telah mendapat


banyak perhatian dalam teori dan penelitian pendidikan tinggi selama tiga dekade
terakhir. Sejak awal 1970-an, banyak penelitian (misalnya, Witmer, 1972; Allen
dan Brinkman, 1984; Brinkman dan Leslie, 1987; Tsang, 1989; Schapiro, 1993;
Brinkman, 1990; St John, 1994; Olson, 1996) telah memberikan tinjauan tentang
materi ini. Kebanyakan studi yang meneliti tentang biaya institusi dengan
menganalisa efisiensi internal sudah menggunakan berbagai kerangka kerja dan
metode yang baik. Studi-studi ini menguji sejumlah besar konsep (misalnya,
biaya per-unit, pengeluaran berdasarkan fungsi, struktur biaya, skala dan cakupan
ekonomi) agar dapat lebih memahami penggunaan sumber daya di pendidikan
tinggi untuk menghasilkan suatu output yang ditargetkan. Sebagian besar
penelitian tersebut juga telah mengkaji biaya instruksional. Biasanya, mereka
tertarik dengan pertanyaan seperti berikut: Berapa besar biaya untuk mengajari
setiap siswa? Adakah pengaruh-pengaruh lain yang signifikan dalam pembiayaan
pendidikan siswa di suatu lembaga? Berapa besar biaya yang dihabiskan oleh
bagian struktur fungsional (misalnya, untuk penelitian, administrasi, bagian
pelayanan, dan berbagai bentuk infrastruktur)? Apakah ada perubahan yang
signifikan dari waktu ke waktu yang sesuai dengan biaya yang sudah dikeluarkan
(analisis tren). Apakah skala pembiayaan dapat lebih ekonomis?
Beberapa kekhawatiran kritis mengenai berbagai permasalahan pada
pendidikan tinggi mendorong adanya banyak penelitian mengenai pembiayaan
dan produktivitas kelembagaan: misalnya penurunan kualitas, kekhawatiran
tentang ketidak efisiennya kelembagaan dan menurunnya produktivitas, serta
kekhawatiran tentang meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan. Hal yang juga
mendapatkan sorotan lebih adalah mengenai alokasi sumber daya publik dalam
pelaksanaan pendidikan tinggi yang menjadi topik penting dalam debat
publik. Perkembangan inilah yang akhirnya memicu adanya peningkatan minat

1
dalam meneliti permasalahan kinerja dan produktivitas institusi pendidikan tinggi
untuk meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi internal.
Tujuan pembahasan ini adalah untuk meneliti dan mengkaji teori
pembiayaan dan produktivitas di perguruan tinggi. Pembahsan ini akan mengkaji
beberapa pertanyaan berikut: (1) seberapa besar rata-rata pembiayaan dari suatu
output yang berbeda? (2) Apakah ada skala ekonomis dari produknya? (3)
Apakah ada keuntungan ekonomis antara berbagai tingkatan output pendidikan
tinggi (misalnya, sarjana, master, dan doktor, dan peneliti) melalui karya-karya
mereka? (4) Apakah jenis produksi berpengaruh terhadap biaya dan
efisiensi? Jika demikian, apakah unit akademik bervariasi menurut skala
ekonomi, cakupan, dan biaya marjinal mereka? (5) Berapakah tingkat optimum
dari output? (6) Bagaimana kualitas suatu bagian dan produk mempengaruhi
biayanya?
Bab ini terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama memberikan gambaran
umum tentang biaya pendidikan tinggi, dan menyajikan ringkasan beberapa
konsep dan pendekatan terkait biaya lembaga tersebut. Bagian kedua menyajikan
aplikasi pembiayaan institusi pendidikan tinggi dengan fokus khusus pada sifat
multiproduk mereka. Bagian ketiga menyajikan landasan konseptual untuk
memeriksa konsep biaya multiproduct ini. Bagian keempat mengulas temuan dari
studi empiris yang telah meneliti permasalahan pembiayaan pendidikan
tinggi. Perhatian khusus diberikan pada perkiraan dan analisis skala
ekonomiisnya. Bagian terakhir memberikan rekomendasi kebijakan mengenai
administrasi kelembagaan pembuat kebijakan publik serta menyarankan arah
untuk penelitian ke depan.

ANALISIS BIAYA DI PERGURUAN TINGGI

Pada bagian ini kami memberikan gambaran tentang biaya pendidikan tinggi,
mengidentifikasi metode untuk menganalisis biaya ini, dan mendiskusikan secara
prospektif penggunaan studi biaya tersebut.

Deskripsi Biaya
Apa itu biaya pendidikan tinggi? Adams, Hankins, dan Schroder (1978)
berpendapat bahwa definisi biaya akan bervariasi sesuai perspektif dan tujuan
seseorang. Sedikitnya, para ahli mendefinisikan biaya pendidikan tinggi ke
dalam tiga perspektif, yakni: Akuntansi keuangan (masalah pelaporan), biaya
rekening ( masalah manajerial), dan akuntansi ekonomi (masalah teoritis dan
analitis). Mereka berpendapat bahwa "akuntansi keuangan" berkaitan dengan
pencatatan, klasifikasi, ikhtisar, dan analisis data keuangan. Biaya didefinisikan
sebagai jumlah atau ekuivalen yang dibayar atau dibebankan untuk sesuatu yang
bernilai" (hal 13). Mereka mengemukakan bahwa "akuntansi biaya" berkaitan
dengan mengumpulkan, mengklasifikasi, meringkas, menafsirkan, dan
melaporkan biaya pribadi, kompensasi, barang dan jasa, dan biaya lainnya
. Proses akuntansi biaya dirancang untuk menetapkan atau mengalokasikan biaya
ke keluaran tertentu dalam periode tertentu. Biaya yang didapat mungkin
merupakan biaya aktual atau mungkin biaya lainnya. Selain itu, definisi biaya
ekonomi dapat dilihat dari perspektif makro (yaitu masyarakat), mikro (yaitu
kelembagaan), atau individu (yaitu siswa). Definisi makro tentang biaya biasanya
mencangkup masyarakat secara keseluruhan dan semua biaya yang dikeluarkan
untuk pendidikan tinggi untuk menghasilkan semua produk dan
keluaran. Biasanya, hal ini mencakup belanja institusional, biaya individu, dan
biaya sosial lainnya. Ini termasuk semua biaya kuliah dan biaya, serta
pengeluaran dalam menghadiri kuliah (buku, transportasi, dll. (Adams, Hankins,
dan Schro der, 1978, hal.13).
Bab ini akan berfokus pada biaya institusional. Biaya perguruan tinggi dan
universitas mencakup semua pembayaran yang diperlukan untuk memperoleh
sumber daya yang dibutuhkan dalam proses mengoperasikan institusi
tersebut. Dalam memeriksa biaya institusi pendidikan tinggi, sebagian besar
fokus kami adalah pada penggunaan sumber daya kelembagaan yang digunalanm
untuk memproduksi suatu output yang telah ditargetkan.
Data keuangan untuk memeriksa biaya pendidikan tinggi biasanya berasal
dari catatan keuangan sebuah institusi. Jadi, relatif mudah untuk memperkirakan
total pengeluaran tahunan untuk pengoperasian perguruan tinggi.Secara
tradisional, fokusnya adalah pada pengeluaran institusional untuk pengajaran,
walaupun kadang-kadang pengeluaran untuk penelitian departemen dan
pengeluaran penelitian yang disponsori harus dilaporkan secara

3
terpisah. Perhatian sangat terbatas terjadi pada pembiayaan penelitian dan
pelayanan publik karena sebagian besar disebabkan oleh kesulitan dalam
mengukur output yang berkaitan dengan fungsi-fungsi ini. Hal ini mendorong
sebagian besar penelitian untuk memeriksa pengeluaran instruksional dari
perspektif akuntansi keuangan, khususnya berkaitan dengan biaya tercatat. Hal
inilah yang menyebabkan sebagian besar studi yang memeriksa biaya
institusional kurang memperdulikan hal-hal seperti biaya pajak, biaya kuliah dan
fasilitas perguruan tinggi lainnya isepertu untuk buku dan biaya hidup siswa
(Adams, Hankins, dan Schroder, 1978; Bowen, 1981).
Biaya juga dapat diidentifikasi sesuai tujuannya. Adams, Hankins, dan
Schroeder (1978) mengidentifikasi jenis tujuan biaya sebagai berikut:
a) Kategori input khusus: tujuan biaya yang digunakan oleh pendidikan
tinggi untuk fakultas / staf (misalnya, upah, tunjangan, transportasi, bahan
bakar), pendaftaran siswa, perpustakaan, laboratorium, komputer, dan
sumber daya lainnya yang digunakan untuk pengajaran / pembelajaran,
penelitian, dan layanan pendidikan.
b) Kategori output khusus: Beberapa tujuan yang lebih spesifik mencakup
jam siswa, jumlah siswa, jumlah lulusan, dan jumlah publikasi
penelitian. Tujuan pembiayaan dalam kategori ini sering dilakukan secara
bersama-sama sehingga sulit untuk menentukan jumlah sumber daya
yang telah dikeluarkan.
c) Kategori biaya berdasarkan aktivitas: Biaya juga dapat diklasifikasikan
menurut aktivitas atau fungsinya seperti, instruksi langsung, penelitian,
administrasi, layanan mahasiswa, dan pemeliharaan bangunan.
d) Kategori biaya berbasis unit: Biaya dapat diklasifikasikan menurut unit
organisasi (misalnya pada tiap departemen, perguruan tinggi, ataupun
keseluruhan institusi).
e) Biaya berdasarkan pada pengalokasiannya: Biaya yang juga dapat
didefinisikan dalam hal -yaitu pengalokasiannya, sebagian langsung, tidak
langsung, dan penuh. Biaya langsung dapat digambarkan sebagai biaya
yang mudah dialihkan ke unit organisasi tertentu (atau tujuan biaya
lainnya); Biaya tidak langsung adalah biaya satu unit organisasi ke unit
organisasi lain karena adanya hubungan pendukung; Biaya penuh adalah
jumlah biaya langsung unit organisasi ditambah dengan biaya yang
dialokasikan dari unit yang mendukungnya.
f) Biaya berdasarkan perubahan tingkat aktivitas: Biaya dapat didefinisikan
sesuai dengan perubahan tingkat aktivitas - yaitu, tetap atau berubah-
ubah. Biaya tetap adalah biaya sumber daya yang tidak berbeda dengan
tingkat aktivitas (volume output) dari kategori biaya yang harus
dipenuhi . Biaya variabel adalah biaya sumber daya yang berbeda-beda
tergantung dari tingkat aktivitas (misalnya jumlah siswa) dari kategori
biaya yang dipertimbangkan. Biaya juga dapat berkaitandengan hubungan
biaya dengan tingkat aktivitas dari tujuan biaya tersebut-yaitu; total, rata-
rata atau marjinal. Total biaya adalah biaya yang merupakan jumlah
semua biaya yang terkait dengan tujuan tertentu. Biaya rata-rata dihitung
dengan membagi total biaya sesuai dengan tujuan biaya dengan jumlah
unit yang terkait dengan tujuan biaya. Biaya marjinal adalah biaya yang
terkait dengan perubahan (kenaikan atau penurunan) tertentu dari tujuan
biaya.
g) Biaya berdasarkan dampak fiskal: Biaya juga dapat diperiksa dengan
menghitung dampaknya pada periode fiskal.
Pembahasan pada bagian ini menjelaskan tentang pelaksanaan pembiayaan
perguruan tinggi dimana kami memeriksa pengeluaran institusional yang
dikeluarkan untuk pengajaran dan penelitian. Pengeluaran instruksional
mencakup pengeluaran langsung dalam proses pelaksanaanya dan pengeluaran
tidak langsung untuk mengenai layanan siswa. Demikian pula, mengenai
penelitian yang disponsori maupun penelitian pribadi. Meskipun biaya
instruksional terkait erat dengan dukungan luar, proses pengajaran, bantuan
keuangan siswa dan kapitalisasi fasilitas, tujuan kami adalah untuk fokus pada
pengeluaran institusional tahunan karena berhubungan langsung dengan
pengajaran dan penelitian. Selain itu, fokus pembahsan ini juga membandingkan
biaya intern dan antar institusi, serta mengidentifikasi beberapa masalah yang
berkaitan dengan pengembangan efisiensi internal yang lebih baik.

5
Faktor Penentu Biaya Pendidikan Tinggi
Selama setengah abad terakhir ini sejumlah besar penelitian yang meneliti biaya
pendidikan tinggi telah menemukan perbedaan substansial dalam biaya per unit
antar institusi. Apalagi, sejak awal tahun 1980an, ada kekhawatiran tentang
meningkatnya biaya pendidikan tinggi. Dalam subbagian ini, kami merangkum
faktor-faktor utama yang kemungkinan dapat menentukan perbedaan biaya di
antara institusi pendidikan tinggi dan aspek-aspek yang berkontribusi terhadap
biaya pendidikan tinggi.
Dalam jangka panjang, total biaya dapat ditentukan oleh keputusan
masyarakat dan politik yang mencerminkan pengaruh masyarakat yang
mengendalikan aliran dana pendidikan tinggi. Tiga keputusan terkait dibuat oleh
masyarakat yakni: Jumlah yang harus dikeluarkan untuk pendidikan tinggi,
jumlah unit layanan yang akan diberikan, dan tingkat kualitasnya. Sebagian besar
perbedaan yang ditemukan dalam total biaya pendidikan tinggi antar negara dapat
dikaitkan dengan atribut biaya yang didorong oleh nilai tersebut. Namun, dalam
jangka pendek, penggunaan dan penyebaran sumber daya di dalam institusi
menjadi sangat penting dalam penentuan pembiayaan.
Faktor terpenting lainnya menjelaskan perbedaan biaya antar unit adalah
lamanya program akademik, jenis program akademik, dan jenis
keluaran. Meningkatnya tingkat kompensasi personil dan biaya yang dikenakan
secara sosial juga telah dianggap sebagai penentu penting biaya pendidikan
tinggi. Selain itu, upaya kelembagaan untuk meningkatkan kualitas layanan dan
output mereka (misalnya, dengan menurunkan rasio fakultas kepada siswa, atau
dengan memperbaiki materi, fasilitas dan peralatan) cenderung meningkatkan
biaya.

Kegunaan dari Studi Pembiayaan di Perguruan Tinggi


Studi pembiayaan dengan perhatian khusus terhadap biaya unit dan fungsi
telah mendapat banyak perhatian dari para pembuat kebijakan dan administrator
institusional selama tiga puluh tahun terakhir. Pertanyaan yang sering muncul
misalnya berapa pengeluaran institusi pendidikan tinggi untuk mendidik siswa,
menghasilkan produk penelitian, dan melayani masyarakat? Mengapa ada
perbedaan? Berapa harganya? Bagaimana kita bisa menghabiskan sumber daya
untuk meningkatkan efisiensi dalam sistem? Bisakah kita menghasilkan output
tingkat yang sama dengan lebih ekonomis? Atau haruskah kita menghasilkan
lebih banyak output dengan tingkat uang yang sama? Hal inilah yang merupakan
beberapa pertanyaan mengenai efisiensi dan produktivitas internal yang dihadapi
oleh pengurus lembaga dan administrator. Ada pula beberapa literatur yang
meneliti masalah biaya dan produktivitas di perguruan tinggi yang justru
menemukan ketidakefisienan dalam sistem.
Tujuan studi biaya di pendidikan tinggi adalah untuk menyediakan data
dan informasi yang diperlukan bagi pembuat kebijakan dan administrator
kelembagaan untuk membuat keputusan yang lebih tepat dan rasional.Proses yang
mendasar dalam semua biaya dan studi efisiensi internal adalah untuk mengukur
biaya tertentu dan kemudian membandingkan biaya ini dengan yang lainnya.

Metode Analisis Pembiayaan


Meskipun sudah merupakan kepentingan substansial untuk mengkaji
pembiayaan pendidikan tinggi, pertanyaan yang sering muncul
adalah bagaimana biaya tersebut dapat dianalisis bukan bagaimana biaya tersebut
diidentifikasi dan diukur. Seringkali munculnya masalah pengukuran biaya dan
upaya untuk menganalisis biaya pendidikan tinggi tersebut seringkali berujung
pada kegagalan karena masalah pengukuran output dan produksi yang
bersamaan.Selain itu, hasil penelitian seringkali berbeda karena aspek waktu,
dimana data dapat dipresentasikan dari waktu ke waktu.
Ada beberapa metode utama dalam analisis pembiayaan pendidikan. Bentuk
pertama adalah "analisis komposisi". Jenis analisis ini memecah biaya ke bagian
komponennya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai
keseluruhan biaya total. Rincian ini dapat ditunjukkan dalam bentuk dolar atau
sebagai persentase dari keseluruhan biaya (misalnya, pengeluaran berdasarkan
fungsi). Sebagai contoh, Bowen (1981) menemukan bahwa pengeluaran untuk
administrasi dan penelitian meningkat lebih dari pengeluaran untuk pengajaran
antara tahun 1930 dan 1980. Dia juga menemukan bahwa pengeluaran beasiswa
dan kerjasama juga meningkat pesat selama periode ini. Jenis analisis ini berguna
untuk meneliti kecenderungan dalam alokasi sumber daya di antara berbagai

7
fungsi pendidikan tinggi; Namun, hal itu terjadi ketika ada sejumlah besar
produksi gabungan yang terjadi. Kedua, pengeluaran institusional secara
keseluruhan dapat diperiksa sebagai "perbandingan dari waktu ke waktu" (yaitu,
apakah ada kenaikan atau penurunan keseluruhan biaya pendidikan tinggi dari
waktu ke waktu).
Metode ketiga adalah analisis relasional. yakni hubungan fungsional antara
biaya dan variabel independen. Bentuk analisis ini disebut "trend
analysis. ". Bentuk lain dari analisis relasional adalah untuk menunjukkan variasi
biaya dengan perubahan jumlah operasi. Masalah utama dengan jenis analisis ini
adalah pada pengukuran output.
Ada berbagai cara untuk memeriksa hubungan antara biaya dan hasil yang
dicapai. Mungkin yang paling umum dalam pendidikan tinggi adalah analisis
biaya satuan yang menunjukkan biaya per unit dari sesuatu. Di sini, biaya
menunjukkan total biaya untuk menghasilkan output tertentu. Biasanya, biaya
per unit dihitung hanya dengan menambahkan total belanja institusional untuk
semua tujuan dan dibagi dengan jumlah siswa. Ini disebut biaya per siswa atau
biaya per jam kredit siswa. Cara yang umum untuk memeriksa hubungan antara
biaya dan hasil di pendidikan tinggi adalah memperkirakan fungsi biaya dan
menghitung biaya rata-rata dan biaya marjinal. Meskipun telah banyak digunakan
di bidang pendidikan tinggi, studi biaya per unit telah dikritik karena kesulitan
mereka dalam mengidentifikasi semua keluaran pendidikan tinggi dan
multiproduk pendidikan tinggi. Oleh karena itu, semakin banyak penelitian yang
menggunakan model ekonometrik untuk memperkirakan biaya dari data aktual
dan kemudian menentukan adanya skala dan lingkup ekonomi. Bentuk kedua
adalah dengan perbandingan langsung, seperti perbandingan biaya aktual dengan
biaya yang dianggarkan; (Adams, Hankins, dan Schroeder, 1978, hlm. 24).
Memperkirakan biaya instruksional sangat sulit karena penggunaan sumber
daya dalam produksi bersamaan. Secara tradisional, kebanyakan studi
pembiayaan per unit mencakup semua pengeluaran untuk instruksi dan
penelitian. Bowen (1981), misalnya, menemukan bahwa hanya sepertiga dari
semua pengeluaran institusional yang dikeluarkan langsung untuk instruksi dan
penelitian. Namun, jika layanan siswa, beasiswa, operasi dan pemeliharaan
lembaga disertakan, maka persentase yang dapat dialokasikan untuk pembelajaran
siswa hampir 60 persen dari total pengeluaran.

Fungsi Pembiayaan di Perguruan Tinggi


Fungsi pembiayaan telah menjadi topik penting dalam banyak studi empiris di
bidang ekonomi sejak pergantian abad ini. Jenis penelitian ini telah memberikan
informasi penting di banyak sektor ekonomi tentang pengambilan keputusan
sehubungan dengan alokasi sumber daya dan peningkatanefisiensi. Meski
diperkirakan fungsi biaya yang lebih tinggi, namun kekhawatiran ini memicu
adanya peningkatan Efisiensi selama tahun 1970an dan 1980an sehingga
menghasilkan banyak penelitian sejenis.
Pada umumnya, ada satu masalah utama di hampir semua penelitian awal
ini. Sebagian besar penelitian hanya menduga bahwa produksi dapat ditandai
dengan hasil yang serupa atau homogen. Memang, perhatian masih terbatas pada
sifat multiproduct pendidikan tinggi bukan karena kurangnya minat para ekonom
atau analis pendidikan tinggi dalam fungsi biaya multiproduk. Sebaliknya, seperti
yang Maynard (1971) sampaikan lebih dari dua dekade yang lalu, banyak
masalah metodologi dan data menjadi hambatan penting untuk penelitian lebih
lanjut di industri dan bisnis, dan juga di organisasi nirlaba seperti pendidikan
tinggi. Kurangnya model ekonometrik yang tepat untuk menjelaskan sifat
perusahaan multiproduct adalah masalah utama yang mencegah analisis dari
semua perusahaan multiproduk, termasuk di pendidikan tinggi (Friedlaender et
al., 1983).
Selama satu dekade terakhir, curahan studi empiris menggunakan konsep
biaya multiproduct telah memberikan wawasan ke dalam perilaku biaya dan
teknologi dari perusahaan multiproduk dalam berbagai industri, termasuk
perbankan, transportasi, telekomunikasi, minyak bumi, dan rumah sakit. Dua
studi terbaru tentang sifat multiproduct biaya pendidikan tinggi oleh Cohn
dkk. (1989) dan de Groot et al. (1991) menggunakan lembaga sebagai unit
analisis untuk fungsi biaya mereka. Di sisi lain, studi biaya sebelumnya dalam
pendidikan tinggi menemukan bahwa biaya berbeda di departemen akademik.
Carlson (1972), misalnya, melaporkan bahwa ada variasi yang ekstrim pada
umumnya pengeluaran pendidikan per siswa bahkan dalam kelompok yang relatif

9
homogen. Dengan demikian, masalah yang paling penting tampaknya adalah
bahwa teknologi produksi yang berbeda dapat menimbulkan masalah dalam
menganalisis fungsi biaya departemen. Misalnya, hasil mungkin menyesatkan
jika fungsi biaya tunggal diperkirakan untuk departemen kimia dan bahasa
Inggris karena mereka memiliki fungsi produksi yang cukup berbeda. Karena
menggabungkan output institusional seringkali menghasilkan kesimpulan yang
tidak dapat dipercaya mengenai biaya output dan dan ruang lingkup pendidikan
tinggi, Tierney (1980) merekomendasikan bahwa analisis yang terpisah harus
dilakukan untuk setiap departemen akademik.
Baru-baru ini, dengan mengadopsi metodologi serupa, Nelson
dan Heverth (1992) meneliti biaya marjinal output pengajaran dan adanya skala
ekonomi dan ruang lingkup pendidikan tinggi memanfaatkan data dari universitas
riset tunggal. Namun, penelitian ini memiliki generalisasi terbatas karena hanya
mewakili perilaku biaya di satu universitas. Untuk mengatasi keterbatasan ini,
data dari departemen dalam kelompok institusi yang homogen harus digunakan.
Literatur mengenai fungsi biaya dalam pendidikan tinggi selama dua dekade
terakhir telah menghasilkan wawasan substansial mengenai skala ekonomi dan
biaya pengajaran. Meskipun beberapa studi sebelumnya (Butter,
1967; Sengupta,1975; Southwick, 1969; Carl putra, 1972; Verry dan Davies,
1976; Verry dan Layard, 1975; Bear, 1974; Brinkman, 1981; James, 1978)
mengakui fakta bahwa institusi pendidikan tinggi, khususnya universitas, adalah
perusahaan multiproduk, ada bukti beragam mengenai adanya ekonomi skala dan
sedikit bukti mengenai keberadaan ekonomi ruang lingkup. Brinkman (1990)
menggarisbawahi pentingnya bukti semacam itu sebelum mencapai kesimpulan
definitif karena sampai saat ini hanya beberapa studi yang menganalisis biaya
pendidikan tinggi dengan menggunakan teknik fungsi biaya multiproduk.
Kurangnya studi yang menggunakan teknik baru ini menghadirkan beberapa
hambatan dalam memahami struktur biaya institusi pendidikan tinggi. Meskipun
ada banyak bukti mengenai skala ekonomi, , batasan utama kebanyakan studi
awal adalah bahwa mereka hanya menggunakan biaya output tunggal. . James
(1978) juga berpendapat bahwa "kegagalan dalam penelitian sebelumnya untuk
menyesuaikan alokasi substansial untuk penelitian dan pelatihan pascasarjana
misalnya dengan biaya sarjana yang dilebih-lebihkan, tingkat pengembalian
sosial ke sarjana dan perkiraan pertumbuhan produktivitas telah berkurang "(hal
184). Meskipun memiliki banyak literatur tentang skala ekonomi dan pengakuan
terhadap sifat multiproduk institusi pendidikan tinggi, hampir semua penelitian
tidak mengikuti analisis skala dan lingkup ekonomi yang ketat.

PELAKSANAAN PEMBIAYAAN INSTITUSI DI PERGURUAN TINGGI

Meski sejumlah penelitian telah meneliti hubungan antara biaya dan


out menempatkan, itu sulit untuk menggeneralisasi dari temuan studi ini karena
hasil yang beragam mereka. Meskipun ada sedikit perdebatan tentang pertanyaan
dari banyaknya output dalam pendidikan tinggi, telah terjadi kontroversi terus,
apakah atau tidak lembaga pendidikan tinggi dapat dianalisis sebagai organisasi
industri sehubungan dengan struktur biaya dan keberadaan ekonomi skala dan
lingkup dalam operasi mereka (Cohn dan Geske , 1991).
Argumen berakar pada ketersediaan terbatas dan bermasalah dari data
mengenai output pendidikan tinggi. Hopkins (1990), misalnya, berpendapat
bahwa tidak ada rea anak untuk percaya bahwa perusahaan pendidikan telah
beroperasi di [paling] kemungkinan produksi mereka efisien; dan ada banyak
alasan untuk percaya bahwa ia memiliki tidak. Ini berarti bahwa, bahkan jika
kami mampu menentukan bentuk fungsional benar dan lengkap, kita masih akan
mampu untuk memperkirakan koefisien sejati model dari setiap set ada
data(hlm. 13). Sifat dari proses produksi dan output dari lembaga pendidikan
tinggi, khususnya lembaga penelitian, membatasi penelitian terapan yang
mencoba untuk menganalisis keberadaan skala dan lingkup ekonomi dan untuk
memperkirakan biaya output dalam pendidikan tinggi. Meskipun demikian,
sebagai Dolan dan rekan-rekannya (1993) berpendapat,dalam kasus fungsi
produksi untuk pendidikan tinggi sejumlah proxy untuk pengajaran dan penelitian
output dapat dimanfaatkan untuk memeriksa struktur biaya. Subbagian berikut
menyajikan kerangka teoritis untuk biaya perilaku lembaga pendidikan tinggi,
dengan fokus khusus pada menjelaskan sifatmultiproduction lembaga pendidikan

11
tinggi; mereka membahas biaya dan sumber-sumber ekonomi multiproduct yang
lebih tinggi edu kation

Isu dan Keterbatasan Analisis Biaya di Perguruan Tinggi


Terlepas dari meningkatnya jumlah studi empiris memperkirakan fungsi biaya
pendidikan tinggi, sejumlah kelemahan metodologis masih ada di lapangan.
Ketidakjelasan definisi Pembiayaan. Dalam banyak kasus, definisi biaya tidak
jelas. Ada banyak jenis biaya dan dapat juga diperkirakan dalam banyak cara
(Brinkman dan Leslie, 1986; Halstead, 1991). Misalnya, Adams, Hankins, dan
Schroeder (1978) memberikan daftar definisi yang berbeda dari biaya pendidikan
tinggi. Biaya dapat dihitung sebagai input atau output, sejarah atau proyeksi,
langsung atau tidak langsung, total, rata-rata, atau marginal, tetap atau variabel
dan sebagainya. Karena studi fungsi biaya berurusan dengan estimasi hubungan
antara biaya dan output, biaya langsung yang paling sering digunakan adalah
yang segera terkait dengan tujuan biaya atau biaya penuh, dan jumlah biaya
langsung dan tidak langsung.. Dengan demikian, beberapa biaya seperti
pendapatan yang hilang selalu dikecualikan karena biasanya di luar lingkup
ini jenis penelitian.
Selain itu, fungsi produksi pendidikan tinggi masih sebagian besar merupakan
kotak hitam. Hal ini tidak secara eksplisit diketahui yang input dan jenis
teknologi yang diperlukan untuk memproduksi output yang optimal dalam
rangka untuk memperoleh fungsi biaya (Brinkman dan Leslie, 1986; Gilmore,
1990; Hop kins, 1990). Mengingat kesulitan dalam menangani biaya, pendekatan
umum telah menggunakan teknik statistik untuk menemukan bentuk fungsional
yang sesuai (Cohn dan Geske , 1990; Brinkman, 1990). Oleh karena itu, definisi
dan pilihan fungsi biaya memainkan peran penting dalam memberikan informasi
yang lebih handal terhadap struktur biaya lembaga pendidikan tinggi.
Masalah keempat adalah berkaitan dengan fakta bahwa sebagian besar
lembaga pendidikan tinggi sebagai organisasi non-profit mungkin tidak bekerja
untuk meminimalkan biayanya, tidak hanya mengenai kuantitas output, tetapi
juga kualitas output yang diinginkan (James, 1978; James dan Rose-Ackerman,
1986; Bowen, 1981). Mereka sering berargumen bahwa, daripada meminimalkan
biaya, institusi pendidikan tinggi menghabiskan seluruh pendapatan yang tersedia
demi meningkatkan kualitas dan nama baik (Bowen, 1981; Galvin, 1981).
Perguruan tinggi dan universitas telah memiliki inisiatif-inisiatif untuk
mengurangi biaya dalam pencarian keuntungan karena keuntungan bukanlah
tujuan mereka. Mereka tidak dipaksa oleh pesaing untuk mengurangi biaya
mereka untuk bertahan hidup. Hal ini juga disupport dari pendanaan oleh
pemerintah dan terlindungi dari persaingan dengan lokasi geografis dan
diversifikasi layanan. Hal ini juga karena lembaga hanya mengetahui sedikit
tentang hubungan antara pengeluaran mereka dan hasil pendidikannya.
Untuk mengendalikan biaya, metode pendanaan banyak telah dilaksanakan.
Beberapa negara telah mencoba untuk mengatur kegiatan pendidikan dan
pengeluaran secara lebih terinci. Namun, kontrol keuangan terlalu terperinci
membawa efisiensi palsu dan mengancam otonomi kelembagaan dalam
keputusan akademik. Untuk jumlah kecil anggaran tersebut masih cukup aman.
Namun untuk efisiensi yang jauh lebih besar menjadi tidak masuk akal.
Perbedaan kualitas output dapat menghasilkan estimasi bias dari biaya
pendidikan yang lebih tinggi. Namun, qual itas dari pendidikan atau penelitian
tidak dapat dengan mudah diukur. Kualitas lingkungan pendidikan bagi siswa
yang membutuhkan guru, fasilitas, peralatan, program, layanan dan campuran
sumber daya pendidikan jelas mempengaruhi kualitas output pengajarannya
(Gilmore, 1990). Banyak studi tedahulu telah dikritik karena kurangnya
perhatian terhadap masalah kualitas. Kualitas pengajaran seharusnya menjadi
perhatian khusus.
Pelayanan publik sering diabaikan. Pelayanan publik sering dilihat sebagai
salah satu dari tiga fungsi utama dan output dari lembaga pendidikan tinggi, dan
10-20 persen dari total anggaran sering dihabiskan. Meski begitu, tak satu pun
dari studi ditinjau pernah digunakan ukuran atau bahkan perkiraan untuk output
pelayanan publik. Pelayanan publik merupakan segmen sangat penting dari riset
publik. Meskipun demikian, semua studi fungsi biaya yang ada dalam pendidikan
tinggi dikecualikan pelayanan publik karena tidak ada cara yang jelas untuk
mengukur output. Perlu diingat bahwa kegagalan untuk memperhitungkan
perbedaan dalam pelayanan publik di seluruh departemen dan lembaga akan
menjadidiragukan dalam perkiraan biaya yang bias.

13
Meskipun telah diakui bahwa masih ada sejumlah permasalahanyang belum
terselesaikan baik dalam toori dan data sampai pada masalah dalam
mendefinisikan pengukuran output dan struktur biaya yang efisien dari lembaga
pendidikan tinggi, kami juga sependapat dengan peneliti lain yang telah
menyarankan bahwa setiap pemahaman akan sempurna dan maju dimulai dengan
langkah-langkah kecil ( Verry , 1987; Dolan et al., 1993). Untungnya, perkiraan
terbaru dari fungsi produksi serta fungsi biaya kini sudah relatif lebih perhatian
dengan data outputs dan input (Massy, 1990).
Model yang digunakan dalam studi biaya pendidikan tinggi hampir semua
tidak mengontrol perbedaan faktor harga. Ada juga pendapat bahwa tidak adanya
seragam dalam menetapkan harga untuk input dan output pendidikan
tinggi membuat sulit untuk menangkap perbedaan biaya karena efek harga input
dan output (Hopkins, 1990). Di sisi lain, pertimbangan utama untuk produksi di
universitas adalah dosen dan staf administrasi. Karena pasar tenaga kerja nasional
untuk fakultas dan administrator di riset publik atas hubungan sangat kompetitif,
upah sangat berhubungan dengan rata-rata produktifitas. Oleh karena itu,
langkah-langkah harga hampir selalu diabaikan dalam fungsi biaya pendidikan
tinggi dimana diasumsikan bahwa upah diambil dari perbedaan
produktivitas. Harga barang yang dibeli dan pelayanan kerja hampir tidak pernah
dimasukkan dalam pembiayaan karena kecilnya ukuran biaya nonlabor sebagai
bagian dari biaya variabel utama.

IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN KEBUTUHAN PENELITIAN MASA


DEPAN

Ada banyak debat publik tentang peningkatan biaya, penurunan produktivitas,


dan kualitas pendidikan tinggi (Buckles, 1978; Bowen, 1981; Getz dan Siegfried,
1991). Memang, meningkatnya biaya pendidikan tinggi telah menjadi pusat
banyak kritik. Akuntabilitas dan efisiensi telah menjadi pusat banyak usaha
reformasi. Biaya pendidikan tinggi dapat dijelaskan lebih baik melalui
pemanfaatan konsep biaya multiproduct. model biaya yang memperkirakan biaya
total sebagai fungsi dari output utama dari pendidikan tinggi dengan memberikan
tindakan yang lebih handal dan akurat mengenai biaya. Pengecualian dari hasil
penelitian tersebut telah sering mengakibatkan terlalu tinggi biaya output
mengajar.
Massy dan Wilger (1992) baru-baru ini menyatakan bahwa perubahan dalam
campuran output organisasi pendidikan tinggi telah mempengaruhi biaya
sehingga menjadi meningkat. Mereka berpendapat bahwa banyak perguruan
tinggi dan universitas, khususnya lembaga penelitian, telah kehilangan misi-misi
penting dari sarjana atau siswa sebagai anggota fakultas yang menghabiskan
lebih banyak waktu jauh dari kelas penelitian dan kegiatan professional
lainnya(hal. 367) dan perilaku ini telah memberikan kontribusi pada
meningkatkan biaya. James (1978) juga telah mengajukan bukti fakultas yang
menghabiskan lebih banyak waktu pada penelitian. Ia melaporkan, misalnya,
bahwa dalam 1953-1954 fakultas menghabiskan rata-rata 12 persen dari waktu
mereka pada penelitian pada1975-1976, angka ini sekitar 29 persen (p. 164).
Jelas, beberapa bagian dari penelitian dosen dapat dibayar dari proyek-proyek
yang didanai oleh pihak eksternal dan karena itu tidak boleh dianggap sebagai
penelitian kelembagaan dan departemen. Namun, seperti James (1978) amati,
jenis efek ini mungkin kecil karena hanya 7 persen dari seluruh posisi
fakultas dalam pengaturan penelitian terorganisir dan sebagian besar penelitian
terkonsentrasi di beberapa lembaga dan bidang.
Meningkatkan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan penelitian di perguruan
tinggi dianggap salah satu alasan yang paling penting dalam peningkatan biaya
pendidikan tinggi selama dua dekade terakhir. Massy dan Wilger (1992)
menjenlaskan tentang penyebab kenaikan biaya pendidikan tinggi dan
menciptakan istilah output yang merayap untuk menjelaskan eskalasi biaya.
Dengan keluaran yang merayap kami maksudkan pada perubahan yang lambat
yang diamati di banyak perguruan tinggi dan universitas .... Tidak lama lagi
anggota fakultas mencurahkan sebagian besar waktu mereka untuk mengajar dan
kegiatan terkait seperti akademik dan mentoring. Sebaliknya, fokus utama dari
upaya fakultas adalah penelitian, sarjana , dan kegiatan profesional lainnya(hlm.
367). Mereka juga mencatat bahwa fenomena ini terjadi paling dramatis di
penelitian universitas elit.

15
Implikasi Kebijakan
Studi Pembiayaan pendidikan memiliki peranan penting dalam
mengalokasikan sumber daya pada pembaga pendidikan tinggi. Studi pembiayaan
pada masa lalu, terutama studi multiproduct, memang menunjukkan adanya
perbedaan pada biaya pendidikan tinggi dengan jenis output dan bidang disiplin,
tingkat instruksi, dan sumber daya internal yang dikelola. Skala, ruang lingkup
output dan jumlah lembaga semua dapat diatasi melalui penggunaan biaya yang
tepat ( Johnes , 1997).
Temuan dari studi ditinjau dalam bab ini memungkinkan kita untuk menguji
secara empiris argumen tentang output merayap. Dalam bab ini pentingnya
hasil penelitian dalam menentukan struktur biaya departemen diperiksa di
beberapa bidang. Menemukan kami ings mengindikasikan, misalnya, bahwa hasil
penelitian di departemen teknik memiliki tinggi biaya est dikawinkan biaya
marjinal penelitian yang jauh lebih rendah daripada banyak perkiraan
sebelumnya. Perbedaan ini dapat disebabkan sebagian besar unit pengukuran.
Sementara beberapa lembaga biaya produk
Sehubungan dengan biaya berbagai jenis output instruksional, biaya fungsi
departemen mengungkapkan bahwa jenjang sarjana memiliki biaya terendah di
antara semua tingkat pendidikan. Meskipun kebanyakan biaya studi sebelumnya
telah menyarankan bahwa biaya pendidikan pascasarjana secara konsisten lebih
mahal dari pendidikan sarjana, temuan dari dua studi pada tingkat pendidikan
memberikan beberapa bukti bahwa biaya pendidikan pascasarjana lebih tinggi
dari biaya sarjanatidak berlaku untuk setiap bidang atau departemen. Meskipun
ditemukan ada perbedaan biaya dengan tingkat pendidikan, temuan ini tidak
menyarankan pendidikan lanjutan secara inheren lebih mahal daripada pendidikan
sarjana di setiap disiplin atau departemen.
Temuan ini memberikan implikasi yang sangat penting dalam kebijakan
penelitian universitas. Biaya pendidikan yang rendah tingkat doktor
dibandingkan dengan pendidikan tingkat master dalam ilmu-ilmu sosial dan fisik
mendukung gagasan yang sering berpendapat bahwa siswa doktoral tidak hanya
output tetapi juga input untuk mengajar di tingkat lain dan penelitian. Hasil
empiris yang menunjukkan bahwa produksi penelitian di sebagian besar
departemen di universitas riset menghabiskan sejumlah besar total biaya perlu
ditafsirkan dengan hati-hati. Karena hanya menggunakan data cross-sectional
yang digunakan dalam semua studi, maka terlalu dini untuk menyarankan bahwa
meningkatnya biaya pendidikan tinggi yang sebagian besar disebabkan oleh
pergeseran dalam gabungan output dari kegiatan mengajar dan penelitian. Yang
penting dari temuan tersebut adalah bahwa fokus pada biaya instruksional di
universitas riset dilakukan tanpa meninggalkan harga output penelitian tentang
pembiayaan pendidikan fan kegiatan lain di tingkat departemen.
Kekhawatiran tentang peningkatan efisiensi juga harus diangkat sebagai isu
penting dalam perdebatan kebijakan. Dalam hal ini, memeriksa skala ekonomi
dan ekonomi lingkup harus disoroti pada upaya untuk meningkatkan efisiensi
internal pendidikan tinggi. Bukti empiris tidak menunjukkan bahwa di beberapa
bidang ini adanya dikungan dan faktor pelengkap mungkin tidak ada, seperti yang
ditemukan dalam satu studi untuk ilmu-ilmu sosial. Namun, melengkapi biaya
yang ditemukan antara produksi mengajar tingkat doktor dan produksi hasil
penelitian baik dalam ilmu fisika dan teknik, menunjukkan bahwa pembiayaan
dalam ilmu-ilmu mahasiswa doktoral digunakan lebih sebagai input penelitian
sementara pembiayaan dalam ilmu sosial mungkin lebih digunakan dalam
mengajar.
Perlu ditekankan bahwa perkiraan biaya fungsi pendidikan tinggi hanya
terbatas karena jumlah data dan masalah metodologis. Pelaporan kami studi
dalam bab ini adalah kelanjutan dari ulasan biaya lain yang telah muncul dalam
beberapa tahun terakhir. Seperti dalam kebanyakan semua studi di pendidikan
tinggi, jumlah dan pengukuran output sering dibatasi oleh data. Dengan demikian,
hasil dalam bab ini harus lebih mendidik daripada hanya sebatas mendefiniskan.

Rekomendasi Kebijakan tertentu


Perhatian utama kami dalam bab ini adalah untuk menguji apakah ada skala
ekonomi dan ruang lingkup di pendidikan tinggi dan, jika ada, sampai sejauh
mana. Hasil yang disajikan dalam bab ini memiliki sejumlah implikasi praktis
penting bagi para pembuat kebijakan. Pertama, tinjauan literatur kami
menunjukkan adanya kedua skala ekonomi dan ruang lingkup yang sebagian
besar bidang beasiswa di Amerika, Inggris Raya, Australia, dan pendidikan tinggi

17
Turki. banyak Institusi akan menikmati keuntungan biaya dengan ekspansi output
mereka karena kehadiran ray-skala ekonomi. Sementara semua departemen
beroperasi pada rentang output yang lebih kecil dari sampel keluaran yang berarti
mereka akan menikmati penghematan biaya karena peningkatan output. Jelas
bahwa setiap upaya untuk memperluas tingkat produksi untuk meningkatkan
penghematan biaya dalam pendidikan tinggi melalui skala ekonomi perlu
diperiksa dengan teliti dan diberikan perhatian khusus kepada kualitas.
Kedua, bukti empiris yang ditemukan dalam ulasan ini menunjukkan bahwa
ada keuntungan biaya yang terkait dengan produksi bersama yakni pada
pengajaran dan penelitian. Keuntungan ini timbul dari pemanfaatan bersama
fakultas, administrator, staf pendukung, peralatan dan jasa untuk produksi
bersama antara pengajaran dan penelitian.
Ketiga, temuan ini menunjukkan bahwabanyak studi pembiayaan akan
menghasilkan pembiayaan yang nampak melebih-lebihkan pengeluaran dari
biaya output lainnya. Studi yang berfokus pada biaya instruksional pendidikan
tinggi harus teliti dan hati-hati dalam setiap kebijakan yang dirancang untuk
kebijakan pembiayaan. Salah satu implikasi dari temuan yang berhubungan
dengan biaya adalah bahwa disiplin keilmuan memiliki peranan pada struktur
biaya dalam riset, dengan variasi yang relatif tinggi dalam biaya rata-rata dan
marginal. Misalnya, pendidikan sarjana umumnya memiliki rata-rata terendah dan
biaya marjinal dalam ilmu sosial, sedangkan ilmu fisika memiliki biaya rata-rata
tertinggi. Sementara ilmu-ilmu sosial memiliki biaya tambahan dan marjinal rata-
rata terendah, dan ilmu-ilmu fisik biasanya memiliki biaya marjinal
tertinggi. Adanya variasi biaya tinggi di seluruh departemen juga mendukung
kebijakan pendidikan terkait pembiayaan.

Implikasi untuk Kebutuhan Penelitian Masa Depan


Literatur tentang fungsi biaya dalam pendidikan tinggi selama dua dekade
terakhir telah memberikan wawasan substansial mengenai skala ekonomi dan
biaya instruksi. Hasil yang kurang jelas muncul bukan karena kurangnya minat
oleh para ekonom atau analis kebijakan, melainkan karena kurangnya
appropri metodologi dalam menganalisis keluaran multiproduct.
Kurangnya penelitian yang menggunakan teknik-teknik baru menempatkan
beberapa kendala dalam memahami struktur biaya lembaga pendidikan tinggi.
Meskipun banyak bukti mengenai skala ekonomi, mereka terbatas untuk fungsi
biaya single-output. Dalam kasus sifat multiproduct pendidikan tinggi, hasil
kebanyakan studi fungsi tunggal atau gabungan harus dibaca dengan hati-hati.
Meskipun banyak dari studi awal sudah berusaha untuk memperkirakan skala
ekonomi, skala ekonomi khusus produk juga telah diperkirakan dalam beberapa
studi terbaru..
Ketertarikan para ahli pada biaya pendidikan tinggi melalui pemanfaatan
fungsi biaya multiproduct telah sangat meningkat selama beberapa tahun terakhir.
Pemahaman kita tentang biaya lembaga pendidikan tinggi tergantung pada studi
fungsi biaya empiris tersebut. Namun demikian, seperti dapat dilihat dari tinjauan
literatur penelitian ini, kami masih pada tahap awal dari pemahaman kita tentang
pembiayaan pendidikan tinggi dalam hal skala ekonomi dan ruang lingkup. Kita
perlu memiliki dari penelitian yang lebih meneliti biaya pendidikan tinggi dengan
memanfaatkan data dari sampel, periode waktu, dan negara-negara yang
berbeda. Selain itu, jenis tambahan biaya multiproduct fungsi dari jenis yang
diidentifikasi dalam bab ini perlu diperiksa lebih lanjut.
Yang paling penting, studi masa depan akan perlu memberikan perhatian
khusus dan lebih berhati-hati dengan masalah pengukuran kualitas yang mungkin
timbul dari perubahan jumlah pendaftaran. Kebanyakan penelitian biaya
multiproduct hanya meneliti struktur biaya. Konsep sekarang masih terbatas pada
studi yang meneliti pendidikan tinggi di Amerika, dengan hanya beberapa studi
yang berasal dari universitas-universitas Inggris dan Australia dan satu dari Turki.
Perluasan pendidikan tinggi di seluruh dunia selama tiga dekade terakhir adalah
salah satu perkembangan yang paling penting dari abad kedua puluh. Dalam hal
ini tidak berarti bahwa tidak ada studi perbandingan biaya dalam pendidikan
tinggi di luar Amerika Serikat dan Inggris. Sebagai contoh, beberapa studi Bank
Dunia telah meneliti struktur biaya pendidikan tinggi ( Psacharopoulos ,
1980; Bellew dan DeStefano , 1991; Tan dan Mingat , 1992). Namun, seperti
dalam kasus studi sebelumnya dalam pendidikan tinggi Amerika, mereka semua
hanya menganalisa output yang sama dan dengan demikian telah membatasi

19
temuan. Sedikit yang diketahui tentang dampak penelitian pembiayaan
pendidikan tinggi di sebagian besar negara berkembang dan maju lainnya di
seluruh dunia. Studi pemanfaatan biaya dan output pada beberapa negara akan
sangat membantu bagi pemahaman kita tentang perbandingan
pembiayaan pendidikan tinggi dan secara empiris memperkirakan biaya
pendidikan tinggi yang sebenarnya.
ANALISIS BACAAN
Oleh: USWATUN HASANAH

Artikel ini mendiskusikan secara jelas mengenai teori dan praktek dari
peningkatan biaya, penurunan produktivitas, dan kualitas pendidikan
tinggi. Sebagian besar konsep pembiayaan pendidikan digabungkan dengan
konsep pasar sehingga dari pengertian dan klasifikasinya terlihat pada sisi
komersilnya pendidikan. Selain itu, pembahasan juga mengungkap menurunnya
minat para akademisi dalam melaksanakan penelitian dan hanya memfokuskan
pada penataan kondisi keuangan.
Pembahasan tersebut sebenarnya cukup relevan dan dapat dipakai dalam
pelaksanaan dan penyusunan kebijakan penelitian universitas di
indonesia. Kekhawatiran tentang peningkatan efisiensi keuangan menjadi fokus
penting yang akan menentukan produktifitas. Namun, dikarenakan data-data yang
menjadi dasar penyusunan teori cukup lama, maka menjadi kurang tepat sasaran.
Masih kurangnya model yang menggunakan teknik-teknik baru dalam memahami
struktur biaya lembaga pendidikan tinggi.
Menurut saya, perguruan Tinggi sebagai salah satu lembaga yang
melakukan kegiatan pendidikan merupakan proses produksi yang menghasilkan
lulusan yang bermutu sehingga diperlukan pengelolaan pembiayaan agar mutu
dari lulusan dapat bersaing di dunia kerja. Pengelolaan dana atau biaya pendidikan
pada perguruan tinggi harus mampu meningkatkan mutu lulusan dan mampu
bersaing dengan perguruan tinggi lainnya dengan berdasarkan prinsip keadilan,
efisiensi, transparansi dan akuntabilitas public.

Pendidikan dapat dipandang sebagai konsumsi jika pendidikan benefit-nya


dapat dinikmati langsung pada saat dikonsumsi, dan pendidikan sebagai investasi
tentu benefit-nya dapat dirasakan setelah beberapa waktu kemudian. Dalam
menyelenggarakan pendidikan memerlukan biaya. Biaya dipergunakan untuk
menyediakan gedung sekolah atau kampus dan fasilitas lainnya, untuk membayar
guru atau dosen, menyediakan kurikulum dan pelayanan lainnya. Salah satunya
adalah perguruan tinggi merupakan salah satu jenjang pendidikan yang
menyelenggarakan proses pendidikan diantaranya untuk menghasilkan sumber

21
daya yang memiliki kompetensi dalam bidang manajemen. Karena dalam
penyelenggaraan pendidikannya tidak terlepas dari penggunaan dana atau biaya
sehingga lembaga pendidikan harus memprioritaskan perhatian dalam
pengelolaan biaya ini, sehingga biaya yang dimiliki berdasarkan penerimaan dapat
dialokasikan dengan sebaik-baiknya.

Tujuan pembiayaan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa biaya


pendidikan merupakan sebuah investasi yaitu tindakan untuk memperoleh nilai
asset yang dikuasai. Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat sentral dan
strategis dalam pembangunan suatu bangsa karena disebabkan oleh dua hal yaitu
pertama, lulusan perguruan tinggi akan memposisikan diri atau diposisikan
masyarakat sebagai calon pemimpin, baik diperusahaan, masyarakat atau di
instansi pemerintah; kedua, produk jasa pemikiran perguruan tinggi dianggap
berperan dalam menentukan konsep pembangunan bangsa.

Biaya biasanya muncul dalam bentuk pengeluaran uang yaitu pembayaran


untuk mendapatkan barang dan jasa. Demikian juga halnya dalam biaya di
perguruan tinggi salah satunya pada jenjang diploma biasanya berupa bayaran
uang untuk memperoleh sumber-sumber yang dibutuhkan untuk opersionalisasi
penyelenggaraan institusi PT. Pengertian ini meliputi pembayaran uang tunai
untuk membayar gaji personel, pembelian barang dan jasa, bantuan finansial
mahasiswa, dan akuisisi atau pemanfaatan seluruh gedung dan perlengkapan
lembaga (plan and equipment).

Pembiayaan pendidikan pada pendidikan tinggi dapat dibedakan atas biaya


investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi satuan pendidikan
dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan
sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya personal dimaksud pada di
atas meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk
bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya
operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi:

Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang


melekat pada gaji,
Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa
telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur,
transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

Biaya diperguruan tinggi (PT), biasanya berupa pembayaran dalam


bentuk uang untuk mengoperasikan lembaga tersebut, termasuk adanya biaya
upah dan gaji pegawai, pembelian barang dan jasa, alat peraga bagi mahasiswa,
pemeliharaan peralatan dan sebagainya. Pengaturan biaya pendidikan di
perguruan tinggi (PT) salah satunya adalah perguruan tinggi berkaitan dengan
insentif dan tingkah laku kelembagaan PT untuk menghasilkan banyaknya
kegiatan dari tahun ke tahun.

Setiap perguruan tinggi perlu menyusun Rencana Anggaran Perbelanjaan


Biaya Perguruan Tinggi (RAPBPT). Dalam menyusun rencana anggaran
perbelanjaan maka harus diketahui lebih dahulu budget yang tersedia. Budget
(rencana) adalah (1) rencana operasional keuangan mencakup estimasi tentang
pengeluaran untuk suatu periode/kurun waktu; (2) rencana sistematis untuk
efisiensi pemanfaatan tenaga, industry (sumber) dan (3) rencana keuangan yang
diprioritaskan pada pola pengawasan operasional pada masa datang suatu
lembaga. Aspek fungsional budget menggambarkan kegunaan atau manfaat dari
budget adalah : (1) berpengaruh terhadap motivasi; (2) memungkinkan adanya
koordinasi kerja; (3) dapat digunakan untuk kegiatan koreksi/bila terjadi
penyimpangan; (4) meningkatkan alokasi sumber; (5) meningkatkan komunikasi;
dan (6) sebagai alat evaluasi atau pengawasan.

Ada 2 faktor yang mempengaruhi anggaran yang dinamis yaitu anggaran


operasional dan strategi anggaran. Anggaran operasional adalah anggaran yang
berhubungan dengan meramalkan pengeluaran penyelenggaraan program
pendidikan baik yang berhubungan dengan manajemen perguruan tinggi maupun
manajemen pembelajaran. Anggaran strategi memiliki suatu kekuatan inisiatif
untuk mengatasi kesenjangan antara keinginan berperilaku kurang baik dan
kemauan keras untuk mencapai kesenjangan antara keinginan berperilaku kurang
baik dan kemauan keras mencapai sesuatu melalui peningkatan yang

23
berkesinambungan. Strategi ini dimulai dengan menyusun suatu formulasi
program yang dapat dikerjakan, kemudian dapat diukur tingkat pencapaian
maupun kualitas cari capaian tersebut. Agar keberlanjutan dapat terjamin,
senantiasa dilakukan evaluasi, diambil tindakan selanjutnya dan tidak mengulangi
kesalahan.

Pengelolaan dana bukan hanya sekedar mengarah pada penyelenggaraan


pendidikan yang efektif dan efisien, tetapi juga dengan dana tersebut perguruan
tinggi harus mampu meningkatkan mutu lulusannya dan mampu bersaing dengan
perguruan tinggi yang lainnya. Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip
keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Keadilan maksudnya
bahwa dana yang disediakan oleh pemerintah untuk keperluan pendidikan berasal
dari masyarakat dan kekayaan negara. Oleh karena itu harus dapat digunakan
untuk kepentingan masyarakat untuk memperoleh pendidikan secara adil. Andil
dalam hal ini ialah diusahakan semua anggota masyarakat mendapat kesempatan
memperoleh pendidikan yang sama, baik bagi mereka yang cacat (tuna), tidak
mampu, maupun yang kaya.

Efisiensi maksudnya harus dilaksanakan di semua instansi, termasuk


dalam bidang pendidikan, Terutama dalam penyelenggaraan pendidikan itu sangat
terbatas. Efisiensi selalu membandingkan dua hal, yaitu masukkan dengan
keluaran. Dlam hal ini biaya pendidikan dapat mengukur efisiensi dengan
membandngkan cost dengan outcome. Keterbukaan dalam pengelolaan
pendidikan maksudnya tidak harus semua terbuka tetapi ada beberapa hal yang
hanya diketahui oleh beberapa pimpinan saja dengan tujuan untuk menghindarkan
kecurigaan. Dalam rangka keterbukaan, program-program yang dilaksanakan oleh
perguruan tinggi perlu diinformasikan kepada stakeholders,dari mana dana yang
diperoleh untuk melaksanakan program tersebut, seberapa besarnya dan sasaran
yang ingin dicapainya. Melalui keterbukaan ini diharapkan mereka merasa
memiliki dank arena itu mereka ikut bertanggungjawab dan memiliki komitmen
menyelesaikan program program yang telah diurusnya.

Akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan maksudnya bahwa sebagian


dana opersional dalam penyelenggaraan perguruan tinggi diperoleh dari
masyarakat, sehingga penggunaan dana itu perlu dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat. Penyelenggaraan perguruan tinggi adalah usaha yang terkait dengan
kepercayaan, Karen itu kepercayaan harus dipertanggungjawabkan.
Pertanggungjwaban ini meliputi pertanggungjawaban fisik dan non fisik. Fisik
meliputi bangunan apa saja yang dimiliki, peralatan apa saja yang telah dipunyai
untuk melaksanakan proses belajar mengajar, baik untuk mahasiswa maupun
sivitas akademika yang lain. Non fisik meliputi pengetahuan, keterampilan, dan
ilmu apa saja yang telah diperoleh lulusannya, serta hasil yang didikan lainnya
berupa moral, nilai-nilai, budaya, sikap emosi, motivasi dan watak lulusan Hasil
ini dapat dilihat setelah mahasiswa lulus dan terjun ke masyarakat sebagai
outcome.

Untuk menunjukkan akuntabilitas, perguruan tinggi baik itu negeri


maupun swasta perlu membuat laporan berkala tentang penyelenggaraan serta
penggunaan dana yang diperolehnya. Laporan ini sebagai bentuk
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran kepada pemberi anggaran baik itu
pemerintah maupun masyarakat, dan dalam hal PTS kepada Yayasan
Penyelenggara pendidikan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat yang
memberikan dana pendidikan.

25