Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material II


Modul E Proses Pengerjaan Permukaan (Surface Treatment)
Oleh:

Nama : Wira Perdana Damanik


NIM : 13714047
Kelompok : 01
Anggota (NIM) : Al Azhary Putera (13714002)

Annisa Isnaini (13714004)

Akhyar Hanif (13714046)

Fakhri Arsyi Hawari (13714051)

Tanggal Praktikum : Selasa, 15 November 2016


Tanggal Penyerahan Laporan : Selasa , 22 November 2016
Nama Asistem (NIM) : Silvia Maratus S (13712007)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu jenis material logam yang sering digunakan ialah alumunium.
Alumunium banyak dijumpai dalam industri otomotif dan industri pesawat terbang
karena sifat fisik alumunium diantaranya memiliki berat jenis yang ringan,
kemudahan dalam fabrikasi, dan memiliki durabilitasnya yang tinggi.

Seiring dengan perkembangan zaman, perngembangan peralatan dari


alumunium semakin meluas dengan melakukan rekayasa terhadap sifat-sifat
alumunium itu sendiri, dimana salah satu rekayasanya yaitu dengan teknik
anodisasi. Teknik anodisasi biasa dilakukan pada alumunium karena sifat
alumunium yang dapat membentuk lapisan oksida yang stabil pada permukaannya.
Akibat proses anodisasi menimbulkan efek pada berbagai sifat mekanik alumunium
diantaranya kekerasannya menjadi meningkat, fatique strength menjadi turun, dan
permukaannya menjadi tahan aus.

Teknik anodisasi selain digunakan untuk mengoksidasi alumunium juga


digunakan untuk proses dyeing atau proses pewarnaan untuk meningkatkan nilai
estetika dari alumunium itu sendiri.

1.2 Tujuan Praktikum

1. Menentukan warna hasil proses anodisasi pada pelat aluminium

2. Menentukan perubahan ketebalan logam setelah di anodisasi


BAB II

TEORI DASAR

1. Prinsip Proses Anodisasi

Anodisasi adalah proses pembentukan lapisan oksida pada material dengan


menggunakan prinsip elektrokimia. Pada proses anodisasi, permukaan material
teroksidasi dengan cara material yang akan dioksidasi diletakkan pada anoda. Agar
pada katoda tidak ikut bereaksi selama reaksi berlangsung digunakan elektroda
inert seperti karbon, platina, dan emas.

Proses anodisasi ada 2 macam, yaitu anodisasi untuk keperluan pewarnaan


atau pembentukan pori dan anodisasi keras (hard anodizing) dengan kekerasan
awal dari alumunium sekitar 40 VHN menjadi 5 atau 10 x lebih tinggi.

Gambar 1.1 Prinsip anodisasi

Prinsip anodisasi yaitu anoda dihubungkan dengan kutub positif power


supply dan katoda dihubungkan dengan kutub negative power supply. Arus listrik
dibawa oleh elektron dari anoda ke katoda melalui power supply. Sedangkan pada
larutan elektrolit, arus listrik dibawa oleh ion.
2. Proses Anodisasi Pada Alumunium

Proses anodisasi pada alumunium dilakukan melalui beberapa tahap sebagai


berikut:

1. Rinsing

Gambar 1.2 Proses rinsing

Pada proses rinsing sampel plat alumunium dicuci dengan detergen dan air.
Rinsing bertujuan untuk membersihkan permukaan spesimen dari pengotor seperti
minyak atau lemak. Rinsing dapat dilakukan dengan menggunakan air biasa yang
ditambah sabun atau detergen agar bisa lebih mudah mengikat pengotor.

2. Etching

Etching bertujuan untuk menghilangkan lapisan oksida yang terdapat pada


permukaan spesimen alumunium. Etching dapat dilakukan dengan mencelupkan
alumunium kedalam larutam asam atau basa selama beberapa menit.

3. Anodisasi

Pada proses anodisasi, lapisan oksida akan terbentuk pada permukaan


alumunium. Lapisan oksida ini memiliki struktur pori yang berbentuk segienam di
bagian atasnya. Proses ini dilakukan dengan menjepitkan spesimen ke anoda dan
karbon ke katoda, dimana pada anoda dan katoda tersebut dialiri tegangan dari
power supply. Lalu di celupkan ke larutan elektrolit sehingga muncul lapisan oksida
dengan ketebalan yang diinginkan.
Gambar 1.3 Struktur pori lapisan oksida alumunium

Dari gambar diatas terlihat struktur dasar dari lapisan alumunium oxide
yang berupa sel-sel hexagonal yang terdiri dari sebuah pori di tengah.

4. Dyeing

Dyeing merupakan proses pewarnaan pada alumunium. Pada proses ini


spesimen dicelupkan kedalam larutan pewarna selama beberapa menit. Zat pewarna
ini nantinya akan masuk ke dalam pori pada lapisan oksida dan mengendap di dasar
pori tersebut. Intensitas warna bergantung pada ion logam yang menempel di dasar
pori dan packing density.

5. Sealing

Sealing bertujuan untuk menyegel atau menutup pori sehingga pewarna


tidak bisa keluar lagi. Proses ini dilakukan dengan menyelupkan spesimen kedalam
air pada temperatur 80 .
Gambar 1.4 Proses sealing pada alumuium oxide

3. Reaksi Selama Proses Anodisasi

Berikut ini rekasi-reaksi selama proses anodisasi:

1. Reaksi pada lapisan logam/oxide:

2Al + 3O2 Al2O3 + 6e

2. Reaksi pada lapisan oxide/elektrolit:

2Al3+ + 3H2O Al2O3 + 6H +

3. Total reaksi yang terjadi pada anoda:

2Al 2Al3+ + 6e

4. Reaksi pada katoda (Hydrogen evolution):

6H + + 6e 3H2

5. Reaksi total yang terjadi selama anodisasi:

2Al + 3H2O Al2O3 + 3H2


6. Reaksi yang terjadi selama proses sealing:

Al2O3 + 3H2O 2AlOOH*H2O

Gambar 1.5 Skema ilustrasi transfer ion pada proses anodisasi Al

4. Parameter yang Mempengaruhi Proses Anodisasi

Tedapat beberapa parameter yang mempengaruhi proses anodisasi, antara


lain:

1. Jenis logam: tiap jenis logam memiliki sifat dan lapisan oksida yang berbeda-
beda yang mempengaruhi hasil anodisasi.

2. Voltase: semakin tinggi tegangan/voltase maka lapisan oksida akan mudah


terbentuk.

3. Konsentrasi: Lapisan oksida akan mudah terbentuk jika pH larutannya semakin


rendah.

4. Temperatur: semakin tinggi temperatur, lapisan oksida yang terbentuk akan


lembut dan porous.

5. Waktu pengerjaan: semakin lama waktu pengerjaan, maka lapisan oksida yang
terbentuk akan semakin banyak.
5. Perbedaan antara Anodisasi dengan Electroplating

Selain proses anodisasi , terdapat metoda lain untuk melapisi logam yaitu
electroplating. Perbedaannya dengan anodisasi ialah pada electroplating, anodanya
berupa logam pelapis dan katodanya berupa spesimen, dan terjadi
electrodeposition. Elektrodeposition berhubungan dengan pergerakan logam
pelapis ke katoda sehingga logam pelapis di anoda berkurang.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Menyiapkan spesimen Alumunium dan


peralatan yang akan digunakan

Mencuci spesimen dengan


detergen

Melakukan proses pengetsaan spesimen


dengan larutan etsa NaOH selama 5 menit

Melakukan proses anodisasi pada setengah bagian


spesimen dengan tegangan 13 V dan arus 1 A

Merendam setengah bagian spesimen yang telah


teranodisasi di larutan pewarna pada T=100C
o
C
Merendam setengah bagian spesimen yang telah teranodisasi dalam air
T=100C

Mengolah data dan analisis dari hasil percobaan


BAB IV

DATA PERCOBAAN

Data dan Pengolahan

arus :1 A
tegngan :13 V
waktu etsa : 5 menit
waktu anodizing : 45 menit
waktu dying : 10 menit
waktu sealing : 10 menit
Tebal awal specimen 1 :1.03 mm ; 1.03 mm ; 1,06 mm
Tebal awal rata rata spesimen 1 :1.04 mm
Tebal spesimen setelah etsa :1;05 mm ; 1,00 mm ; 1,01 mm
Tebal rata-rata setelah etsa :1,02 mm
Tebal spesimen setelah anodizing :0.98 mm ; 0.99 mm ; 0.96 mm
Tebal rata-rata setelah anodizing :0.9767 mm
Tebal akhir spesimen 1 :1;01 mm ; 1,01 mm ; 0.99 mm
Tebal akhir rata rata spesimen 1 :1,003 mm
waktu anodisasi spesimen 1 :90 menit
Temperatur dying dan sealing : 80oC
BAB V

ANALISIS DATA

Praktikum kali ini dilakukan terhadap spesimen alumunium yang tidak


diketahui paduannya maupun kode materialnya. Spesimen kami pertama-tama
dicuci dengan sabun cuci, kemudian dietsa dengan larutan NaOH 10% dan
kemudian dianodisasi, diwarnai, dan ditutup porinya. Urutan proses yang dilakukan
sudah sesuai dengan prosedur yang tertulis di modul.

Sebelum dilakukan anodisasi, dilakukan pengukuran terhadap ketebalan


awal spesimen yaitu 1,04mm. Setelah anodisasi, dilakukan lagi pengukuran
terhadap ketebalan akhirnya dan mendapatkan hasil 1,003 mm. Dari hasil tersebut
diperoleh data yang kurang sesuai. Harusnya ketika benda selesai diaodisasi maka
akan terjadi penambahan tebal pada benda. Hal ini bias saja dikarenakan
pengukuran yang idak teliti oleh praktikan. Baik itu pengukuran ketebalan awal
maupun pada saat pengukuran ketebalan akhir.

Setelah dilakukan anodisasi, dilakukan proses dyeing atau pemberian warna


pada spesimen. Berikut hasilnya:
Diperoleh hasil bahwa terjadi perubahan warna pada benda. Benda yang awalnya
tidak berwarna menajdi hijau. Yang artinya proses pewarnaan telah berhasil.
Namun tidak keseluruhan benda yang mengalami perubahan warna. Ada sedikit
bagian yang tidak mengalami perubahan warna sama sekali seperti yang terlihat
pada gambar. Hal ini dikarenakan memang tidak semua bagian pelat yang
diwarnai hanya sebgian saja. Karenanya hanya bagian yang diwarnai lah yang
mengalami perubahan warna

Pada proses anodisasi, voltase dan arus tidak teratur dengan baik,
dikarenakan selama proses berjalan, voltase dan arus berfluktuasi. Selama voltase
dan arus berfluktuasi, kontrol hanya dilakukan di awal saja, sedangkan setelah itu
tidak diatur lagi. Hal ini mempengaruhi terbentuknya lapisan oksida. Dengan
tidak diketahuinya dengan pasti arus yang mengalir, maka akan sulit diterka
tebalnya lapisan oksida yang akan terbentuk, dikarenakan arus juga akan
mempengaruhi banyak/tebalnya lapisan oksida yang terbentuk.
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Terbentuk warna hijau yang dihasilkan pada bagian anodisasi

2. Perubahan tebal rata rata spesimen :0,037 mm

6.2 Saran
1. Perlu adanya pengukuran sifat mekanik (khususnya kekerasan) pada awal
dan akhir percobaan untuk mengetahui pengaruh anodisasi sehingga
praktikum tidak hanya berfokus pada aspek dekorasi

2. Akan lebih mudah jika dari pelat yang sama, dipotong terlebih dahulu agar
lebih mudah membedakan daerah yang dianodisasi dan daerah yang tidak
dianodisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Callister, William D. Materials and Science Engineering An


Introduction 7th Edition. John Wiley & Sons, Inc. 2011
Dieter, G.E. Mechanical Metallurgy SI Metric Edition. McGraw-Hill
Book Co.1998
Hibbeler, R.C. Mechanics of Materials 8th Ed. Pearson Prentice Hall.
2011
LAMPIRAN

A. Tugas Setelah Praktikum

Pertanyaan:

1. Apakah semua material dapat dilakukan proses anodisasi? Jelaskan apa saja
aplikasi dari proses anodisasi!
2. Apakah perbedaan dari surface treatment dengan surface hardening?
3. Jelaskan kelebihan aluminium yang telah dianodizing dibandigkan dengan
stainless steel!

Jawab:

1. Tidak semua material dapat dilakukan proses anodisasi. Aplikasi dari


proses anodisasi adalah proses anodisasi pada produk-produk seperti
smartphone dan juga produk-produk seperti furniture (gagang pintu, dll).
2. Surface treatment merupakan proses perlakuan untuk mengubah sifat logam
secara umum, sesuai dengan tujuannya, sedangkan surface hardening adalah
proses pengerasan permukaan benda kerja, tetapi membiarkan bagian dalam
benda kerja tetap lunak.
3. Aluminium yang telah dianodizing tidak perlu takut terhadap korosi,
sedangkan stainless steel walaupun sulit terkorosi tetap lebih rentan korosi
jika dibandingkan dengan aluminium yang sudah dianodisasi
permukaannya. Lapisan oksida yang terjadi pada aluminium juga membuat
kekerasan permukaannya naik, sedangkan pada oksida baja mempunyai
kekerasan yang lebih rendah.