Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material II


Modul B Metal Hardening
Oleh:
Nama : Wira Perdana Damanik
NIM : 13714047
Kelompok :1
Anggota (NIM) : Al Azhary Putera S (13714002)
Anissa Isnaini (13714004)
Akhyar Hanif (13714046)
Fakhri Arsyi Hawari (13714051)
Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2016
Tanggal Presentasi : 18 Oktober 2016
Nama Asisten (NIM) : I Wayan Prastik Widitama (13712024)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Material logam merupakan material yang paling banyak digunakan oleh


industri, konstruksi, dan kehidupan sehari-hari. Kegunaan material logam
sangatlah luas, sehingga dibutuhkan karakteristik yang beragam pula.Salah satu
karakteristik yang paling berpengaruh terahadap aplikasi dari material logam ini
adalah sifat mekaniknya.Seiring dengan perkembangan zaman, manusia telah
mampu merekayasa sifat dari material agar sesuai dengan aplikasi yang diinginkan.
Proses rekayasa ini dilakukan salah satunya ialah dengan cara memberi perlakuan
kepada material tersebut agar sifatnya berubah.

Metal hardening merupakan salah satu metode mengubah sifat mekanik


material logam terkait kekuatan dan kekerasan material tersebut dengan cara
memberi sebuah perlakuan. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa teknik material,
praktikan diharapkan mampu melakukan dan menganalisa hasil proses metal
hardening. Pada modul ini a kan dilakukan 3 percobaan yaitu pengerasan baja
karbon, precipitation hardening Al-Cu, dan rekristalisasi.

1.2 Tujuan Praktikum


1. Menentukan Perbandingan kekerasan baja karbon saat sebelum dan sesudah
diberi perlakuan panas
2. Menentukan perbandingan kekerasan aluminum-tembaga saat sebelum dan
sesudah diberi perlakuan panas
3. Menentukan perbandingan kekerasan tembaga saat sebelum dan sesudah diberi
perlakuan panas
BAB II
TEORI DASAR
Sifat suatu material dapat ditentukan dari strukturnya, dan dengan mengubah
struktur material kita juga dapat mengubah sifat dari material tersebut. Diagram fasa
adalah diagram yang mengambarkan fasa paduan yang terbentuk pada temperatur dan
komposisi paduan tertentu. Salah satu contoh diagram fasa yang paling umum dipakai
dalam industri adalah diagram fasa Fe-C seperti dibawah ini:

Gambar 2.1 Diagram Fasa Fe-C

Didapat beberapa informasi dari diagram diatas, yaitu :


1. Diagram fasa Fe-C terdiri dari fasa liquid, austenit, ferit, cementit, dan ledeburit
2. Terjadi reaksi fasa eutektoid, peritektik, dan eutektik
Fasa fasa yang ada pada diagram fasa Fe-C, yaitu :
1. Ferit, merupakan paduan Fe dan C yang memiliki komposisi 0 0.025% berat
karbon. Ferit berada dibawah temperatur 912oC. Ferit memiliki struktur kristal
BCC, bersifat ulet karena memiliki kandungan karbon yang rendah, dan
magnetik.
2. Austenit, merupakan paduan Fe dan C yang memiliki komposisi 0 1.7% berat
karbon. Austenit berada pada temperatur antara 727 1493oC. Austenit
memiliki struktur kristal FCC. Austenit memiliki kekerasan yang lebih tinggi
dibanding Ferit akibat kandungan karbon yang lebih banyak, dan nonmagnetik.
3. Perlit merupakan campuran dari dua fasa, yaitu Ferit dan Cementit. Perlit
memiliki morfologi yang berlapis lapis antara Ferit dan Cementit. Perlit
berada dibawah temperatur eutektik (727oC). Ada dua jenis perlit, perlit kasar
dan perlit halus. Perlit kasar dihasilkan dekat di bawah temperatur eutectoid,
pada saat ini laju difusi sanagat tinggi sehingga atom atom karbon berdifusi
dalam lintasan yang panjang membentuk lapisan tebal hitam. Perlit halus
dihasilkan ketika temperatur turun, laju difusi melambat sehingga terbentuk
struktur dengan lapisan tipis.

Gambar 2.2 Pertumbuhan Perlit


(a) (b)
Gambar 2.3 (a) Perlit kasar, (b) Perlit halus

4. Martensit, dihasilkan melalui transformasi fasa austenit dengan laju


pendinginan yang cepat. Memiliki struktur kristal BCT (body Centered
Tetragonal). Martensit bersifat sangat keras, hal ini diakibatkan atom karbon
menyisip pada sel satuan BCT.

Gambar 2.4 - Martensit


Gambar 2.5 Struktur kristal BCT (Body Centered Tetragonal)

5. Bainit, dihasilkan melalui transformasi fasa austenit dengan laju pendinginan


yang lebih lambat untuk membuat martensit tetapi terlalu cepat untuk membuat
perlit. Bainit bersifat lebih keras dan kuat dibanding perlit.

Gambar 2.6 - Bainit


Di Dunia industri, logam merupakan material yang paling umum digunakan,
akan tetapi seiring perkembangan zaman, diperlukan performa material yang terus
meningkat dan sesuai dengan aplikasi yang diinginkan. Salah satu cara meningkatkan
mengubah sifat dari suatu material yang sudah ada yaitu dengan memberi suatu
perlakuan kepada material tersebut.
Heat treatment adalah suatu proses untuk mengubah struktur mikro dari suatu
logam dengan cara pemanasan dan pendinginan yang diatur lajunya. Dengan
mengubah struktur mikro dari material, tentu sifatnya juga akan berubah sehingga bisa
direkayasa agar memiliki sifat seperti yang industri butuhkan. Heat treatment memiliki
dua objektif, yaitu :
1. Softening (pelunakan), usaha untuk menurunkan sifat mekanik material
agar menjadi lebih lunak dengan cara pemanasan dalam tungku dan
pendinginan yang lambat.
2. Hardening (pengerasan), usaha untuk meningkatkan sifat mekanik material
dengan cara pemanasan dan pendinginan yang cepat.

Salah satu metode heat treatment adalah annealing. Annealing merupakan


proses pemanasan logam dan penginan yang lambat. Terdapat dua jenis annealing,
yaitu :
1. Full annealing, logam dipanaskan hingga 40oC diatas Tkritis dan didiamkan
untuk beberapa waktu, lalu didinginkan dengan sangat lambat (furnace
cooling). Tujuannya adalah untuk melunakkan logam, meningkatkan
keuletan, dan melepaskan internal stress.
2. Process annealing, logam dipanaskan hingga dekat dibawah Tkritis dan
didinginan secara lambat. Tujuannya adalah untuk melunakkan sebagian
dari logam dan melepaskan internal stress.

Pada annealing terdapat tiga tahapan yaitu recovery, recrystallization, dan grain
growth. Recovery adalah tahap pelepasan internal stress akibat perlakuan sebelumnya
pada logam. Recrystallization merupakan tahap pembentukan butir baru yang bebas
tegangan, equiaksial, dan minimum dislokasi. Grain growth adalah tahap pertumbuhan
butir baru yang terbentuk pada tahap recrystallization.

Gambar 2.7 Tahapan pada annealing

Selain Annealing terdapat normalizing, normalizing adalah pemanasan logam


hingga 40oC diatas Tkritis dan pendinginan di udara. Tujuannya adalah menaikkan
kekerasan logam, dan meminimalisir segregasi ketika logam melalui proses casting
atau forging.
Quenching, merupakan proses heat treatment dengan pendinginan yang cepat.
Tujuan dari quenching adalah untuk meningkatkan kekerasan dari suatu logam,
quenching juga bertujuan untuk menghasilkan fasa martensit dari austenit.

Gambar 2.8 - Perbandingan kekerasan dari metode metode heat treatment

Dapat dilihat dari gambar 2.8 bahwa logam yang telah diquenched memiliki
harga kekerasan yang lebih tinggi dibanding ketika dianneal.
Precipitation hardening adalah metode pengerasan logam dengan membentuk
fasa kedua yang berukuran kecil (biasa disebut presipitat) yang menyebar merata untuk
menghambat pergerakan dislokasi. Beberapa paduan logam dapat ditingkatkan
kekerasannya dengan menggunakan metode precipitation hardening seperti paduan Al-
Cu. Berikut adalah diagram fasa Al-Cu:

Gambar 2.9 Diagram fasa Al Cu


Precipitation hardening pada Al-Cu terjadi dengan melalui beberapa
tahap sebagai berikut:

Gambar 2.11 Proses Precipitation Hardening

Pada metode precipitation hardening terdapat tiga tahapan, yaitu:

1. Solution treatment
Pada tahapan ini paduan logam dipanaskan hingga membentuk satu fasa
yaitu alfa. Pada tahapan ini presipitat belum muncul, masih ikut larut dalam
paduan. Tahapan ini bertujuan untuk menimalisir segregasi yang terjadi
pada paduan.
2. Quenching
Pendinginan cepat dari logam yang sudah dipanaskan hingga homogen.
Pada tahapan ini akan terbentuk larutan jenuh (super saturated solution).
Akibat pendinginan cepat, difusi belum sempat untuk berjalan sehingga
belum bisa terjadi pengintian.
3. Aging
Pemanasan logam dibawah temperatur eutektik. Pada tahapan ini akan
terjadi difusi yang terbatas sehingga akan membentuk presipitat. Pada
tahapan ini juga presipitat akan disebar merata pada logam paduan.
Terdapat dua tipe aging, Natural aging ketika aging dilakukan pada
temperatur kamar dan artificial aging ketika aging dilakukan ketika
diperlukan pemanasan.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1. Pengerasan Baja Karbon

Mulai

Diberikan 2 spesimen, baja karbon rendah dan baja


karbon tinggi

Kekerasan awal kedua


spesimen diukur

Spesimen dipanaskan pada temperatur


austenisasinya selama 30 menit

Spesimen diquenching dengan media air

Kekerasan akhir kedua spesimen diukur

Selesai
2. Precipitation Hardening pada Paduan Al Cu

Mulai

Diberikan 4 spesimen paduan Al Cu yang sudah


dipanaskan hingga 550oC selama 12 jam dan diquench

Kekerasan awal keempat


spesimen diukur

Spesimen dipanaskan pada temperatur 200oC


selama masing masing 10, 30, 60, 120 menit

Spesimen diquenching dengan media air

Kekerasan akhir kedua spesimen diukur

Selesai
3. Rekristalisasi

Mulai

Diberikan spesimen Cu yang sudah dipanaskan pada 800oC


lalu sudah didinginkan dan dirol dengan reduksi 50%

Spesimen dipotong menjadi 6


bagian dan diberi nomor

Kekerasan awal
spesimen diukur

Spesimen 1 dipanaskan pada 800oC selama 120 menit. Spesimen 2 sampai 5 dipanaskan
pada 400oC masing masing selama 10, 15, 30, 45, dan 60 menit. Spesimen 6 dipanaskan
pada 100oC selama 90 menit.

Spesimen didinginkan pada temperatur ruang


Kekerasan akhir kedua spesimen diukur

Selesai
DATA PERCOBAAN

1.1 Data Percobaan

Baja Karbon

Indentor : Intan (HRA)

Beban : 60 kg

Baja Karbon Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


Low Carbon
(Persegi) 800 30 47 63
High Carbon
(Tabung) 800 30 69 77

Aluminum-Tembaga

Indentor : Bola Baja (HRE)

Beban : 100 kg

Al-Cu Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


1 200 10 92 99
2 200 30 92 98
3 200 60 92 106
4 200 120 92 103
Tembaga

Indentor : Bola Baja

Beban : 100 kg (HRE)

Tembaga Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal (HRE) Hakhir (HRH)


1 800 120 97 77
2 400 10 97 75
3 400 15 97 79
4 400 45 97 76
5 400 60 97 77
6 100 90 97 12

1.2 Pengolahan Data

Baja Karbon

Kekerasan rata-rata awal pada baja low carbon adalah sebesar 47 HRA

Kekerasan rata-rata akhir pada baja low carbon adalah sebesar 63 HRA

Kekerasan rata-rata awal pada baja high carbon adalah sebesar 69 HRA

Kekerasan rata-rata akhir pada baja high carbon adalah sebesar 77 HRA

Aluminum-Tembaga (Al-Cu)

Pada logam aluminum-tembaga terjadi proses precipitation hardening atau


biasa disebut age hardening. Berikut kurva kekerasan terhadap waktu pada logam
aluminum-tembaga ketika terjadi age hardening,
120

100

80

60

40

20

0
0 20 40 60 80 100 120 140

Gambar 3.1 Kurva Kekerasan Terhadap Waktu

Tembaga

Dari data yang diperoleh pada tabel di atas kita dapat mengkonversi nilai
95.7
kekerasan awalnya dari HRE ke HRH menggunakan perbandingan Hawal = .
67.5

Akan didapat hasil pengkonversiannya sebagai berikut,

Tembaga Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal (HRH) Hakhir (HRH)


1 800 120 138 77
2 400 60 138 75
3 400 15 138 79
4 400 45 138 76
5 400 10 138 77
6 100 90 138 12
BAB IV

ANALISIS DATA

Dari semua hasil pengujian, diperoleh data kekerasan awal dan akhir dari baja
karbon rendah dan tinggi, aluminum-tembaga, dan tembaga. Untuk baja karbon rendah
peningkatan kekerasan. Dari kekerasan rata-rata awal sebesar 47 HRA menjadi 63
HRA pada kekerasan rata-rata akhirnya. Dan untuk baja karbon tinggi juga terjadi
peningkatan kekerasan. Dari kekerasan rata-rata awal sebesar 69 HRA menjadi 77
HRA pada kekerasan rata-rata akhirnya. Untuk perbandingan perubahan kekerasan
pada baja karbon rendah dan baja karbon tinggi adalah sebesar 16 : 8. Perbandingan
perubahan kekerasan pada high carbon steel lebih rendah daripada pada low carbon
steel. Secara teori perubahan kekerasan harusnya lebih tinggi untuk high carbon steel,
dikarenakan pada high carbon steel terkandung lebih banyak karbon, yang berakibat
pada berubahnya fasa baja karbon tinggi menjadi martensite saat setelah di quenching.

Baja Karbon Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


Low Carbon
(Persegi) 800 30 47 63
High Carbon
(Tabung) 800 30 69 77

Untuk spesimen aluminum-tembaga sebelumnya telah diberi perlakuan panas


hingga temperature 500oC. Kemudian saat pengujian spesimen dipanaskan lagi hingga
temperature 200oC pada waktu tertentu. Setelah itu spesimen di quenching. Untuk
spesimen nomor 1 sampai 4 peningkatan kekerasan yang terjadi wajar-wajar saja,
bertambah keras. Pada spesimen nomor 1 peningkatan kekerasan yang terjadi sebesar
7 HRA, pada spesimen nomor 2 peningkatan kekerasan yang terjadi sebesar 6 HRA,
pada spesimen nomor 3 peningkatan kekerasan yang terjadi sebesar 14 HRA dan pada
spesimen nomor 4 peningkatan kekerasan yang terjadi sebesar 11 HRA. Dengan
demikian perbandingan peningkatan kekerasan pada logam Al-Cu dari spesimen
nomor 1 sampai dengan 4 adalah sebesar 7; 6; 14; 11

Al-Cu Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


1 200 10 92 99
2 200 30 92 98
3 200 60 92 106
4 200 120 92 103

Pada spesimen tembaga, kekerasan justru berkurang secara signifikan setelah


diberi heat treatment. Hal ini bisa jadi dikarenakan ketidak akuratan pengukuran.
Contohnya pada saat akan melakukan pengukuran kekerasan, permukaan specimen
yang akan dikukur tidak rata yang menyebabkan perolehan data yang kurang baik.

Tembaga Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal (HRH) Hakhir (HRH)


1 800 120 138 77
2 400 60 138 75
3 400 15 138 79
4 400 45 138 76
5 400 10 138 77
6 100 90 138 12
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Perbandingan kekerasan baja karbon saat sebelum dan sesudah diberi perlakuan
panas

Baja Karbon

Indentor : Intan (HRA)

Beban : 60 kg

Baja Karbon Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


Low Carbon
(Persegi) 800 30 47 63
High Carbon
(Tabung) 800 30 69 77

Kekerasan rata-rata awal pada baja low carbon adalah sebesar 47 HRA

Kekerasan rata-rata akhir pada baja low carbon adalah sebesar 63 HRA

Kekerasan rata-rata awal pada baja high carbon adalah sebesar 69 HRA

Kekerasan rata-rata akhir pada baja high carbon adalah sebesar 77 HRA

Perbandingan perubahan kekerasan pada baja karbon rendah dan baja karbon tinggi
adalah sebesar 16:8
2. Perbandingan kekerasan aluminum-tembaga saat sebelum dan sesudah diberi
perlakuan panas

Aluminum-Tembaga

Indentor : Bola Baja (HRE)

Beban : 100 kg

Al-Cu Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal Hakhir


1 200 10 92 99
2 200 30 92 98
3 200 60 92 106
4 200 120 92 103

Pada spesimen Al-Cu 1 perubahan kekerasan sebesar 7 HRA

Pada spesimen Al-Cu 2 perubahan kekerasan sebesar 6 HRA

Pada spesimen Al-Cu 3 perubahan kekerasan sebesar 14 HRA

Pada spesimen Al-Cu 4 perubahan kekerasan sebesar 11 HRA

3.Perbandingan kekerasan tembaga saat sebelum dan sesudah diberi perlakuan panas

Tembaga

Indentor : Bola Baja

Beban : 100 kg (HRE) ; 60 kg (HRH)

Tembaga Temperatur (oC) Waktu (Menit) Hawal (HRE) Hakhir (HRH)


1 800 120 138 77
2 400 60 138 75
3 400 15 138 79
4 400 45 138 76
5 400 10 138 77
6 100 90 138 12

5.2 Saran

- Untuk percobaan pada modul ini kedepannya spesimen yang akan diuji dipotong dan
digerinda terlebih dahulu, supaya menghemat waktu percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

- Callister, Wlliam D. Materials Science and Engineering : An Introduction. 7th


edition. John Wiley & Sons, Inc. 2007
- Abbaschian, Reza. Robert E. Reed-Hill, :Physical Metallurgy Principles, 3rd
edition, PWS-Kent Publishing Company, Boston USA, 1991
- Krauss, George, Principles of heat treatment of steel, American Society for
Metals, Ohio, 1980.
- Dieter, G.E. Mechanical metallurgy : SI Metric Edition. McGraw-Hill Book
Co. 1988
LAMPIRAN

Tugas Setelah Praktikum

Pertanyaan

1. Mengapa baja dengan kadar karbon lebih tinggi memiliki kekerasan yang lebih
tinggi daripada baja karbon dengan karbon rendah setelah proses quenching?
2. Apakah pengaruh proses quenching dengan kekuatan dan kekerasan baja?
3. Jelaskan mekanisme terbentuknya martensit dan mengapa martensit memiliki
kekerasan yang tinggi pada baja?
4. Kapan terbentuknya austensit sisa pada proses quenching dan apa pengaruhnya
terhadap kekerasan?
5. Jelaskan cara yang dilakukan untuk mengurangi keberadaan austenite sisa!
6. Buat analisis pengaruh waktu aging terhadap kekerasan!
7. Mengapa presipitasi meningkatkan kekerasan/kekuatan?
8. Apa yang dimaksud dengan natural aging, artificial aging, dan over aging?
9. Jelaskan apa yang dimaksud dengan GP zone!
10. Apakah semua material logam dapat dikeraskan dengan precipitation
hardening?
11. Jelaskan perubahan susunan atom yang terjadi pada paduan Al-Cu dari sebelum
sampai sesudah dilakukan precipitation hardening!
12. Mengapa temperature yang digunakan untuk solution treatment adalah 550oC
dan untuk aging 220oC? Apakah bisa dilakukan pada temperatur yang lain?
13. Buatlah analisis antara temperatur pemanasan pada T=800oC, 400oC dan 100oC
terhadap kekerasan material! Adakah hubungannya dengan sruktur mikronya?
Jelaskan!
14. Temperature rekristralisasi dipakai sebagai batas antara cold working dan hot
working. Jelaskan mengapa pemberian deformasi pada hot working tidak
meningkatkan kekerasan?
15. Jelaskan pengaruh cold work terhadap temperature rekristalisasi material!
16. Jelaskan apa yang dimaksud dengan cold working dan hot working! Apa
masing-masing kelebihan dan kekurangannya dan berikan contohnya!
17. Jelaskan pengaruh recovery, recrystallization dan grain growth terhadap sifat
mekanik material!

Jawab

1. Karena baja karbon tinggi memiliki fasa martensit yang lebih tinggi
dibandingkan baja karbon rendah
2. Pengaruhnya adalah untuk menghasilkan fasa martensit dari perubahan fasa
austenite, hal inilah yang akan menentukan kekuatan dan kekerasan material
3. Pada saat quenching, fasa austenite pada baja tidak berdifusi. Hal ini
menyebabkan perubahan struktur kristal pada baja yang semula FCC menjadi
BCT. Karena tidak berdifusi juga menyebabkan terjadinya deformasi antar
atom, hal ini yang menyebabkan kekerasannya meningkat
4. Austenite sisa terbentuk karena banyaknya kandungan karbon pada baja dan
apabila saat quenching temperaturnya tidak di bawah 0oC. Hal tersebut
memengaruhi kemampuan mekanik material tersebut, menjadi tidak optimal
5. Ada dua cara, pertama dengan cara sub-zero treatment, yaitu martensit
didinginkan secara lanjut. Kemudian cara lain adalah dengan cara tempering
martensite, yaitu martensite dipanaskan kembali pada temperature eutectoid
6. Pengaruh waktu aging terhadap kekerasan terletak pada lama atau tidaknya
waktu aging, hal itu berpengaruh pada proses pembentukan presipitatnya.
Semakin cepat keluar presipitatnya, semakin cepat pula peningkatan
kekerasannya
7. Karena presipitat akan menghambat proses dislokasi pada logam
8. Natural aging adalah proses aging pada temperature ruang. Artificial aging
adalah proses aging menggunakan panas di bawah temperature
kesetimbangannya dan proses aging-nya tidak terlalu lama. Over aging adalah
proses aging yang menyebabkan kekerasan material menurun karena proses
yang dilakukan terlalu lama
9. GP zone adalah suatu daerah dimana terbentuk cluster partikel presipitat
dimana cluster tersebut masih koheren dengan atom-atom solvent
10. Tidak. Karena precipitation hardening hanya dapat terjadi jika kedua logam
dapat larut
11. Kemungkinan perubahan susunan atom yang terjadi akibat adanya GP zone
dimana presipitat akan koheren dengan solvent-nya
12. Solution treatment dilakukan pada temperature 550oC agar fasa pada logam
menjadi homogen. Aging dilakukan pada temperature 200oC agar terbentuk
presipitat pada logam tersebut. Bisa saja dilakukan pada temperature lain
selama solution treatment-nya dilakukan pada temperature alpha dan
temperature aging-nya dibawah temperature kesetimbangan
13. Pada saat T=800oC butir berada pada fase grain growth, pada fase ini butir
mengalami pembesaran. Pada saat T=400oC terjadi proses rekritalisasi dimana
butir-butir membentuk butiran baru. Pada saat T=100oC terjadi proses recovery,
pada saat ini butir mengalami pengurangan internal stress dan terjadi dislokasi
konfigurasi pada butir
14. Karena proses hot working dilakukan pada temperature di atas temperature
rekristalisasi. Kemudian pemberian deformasi pada hot working mendekati titik
lelehnya sehingga logam akan mudah dibentuk dan kekerasannya menurun
15. Pengaruhnya adalah semakin banyak clod working, maka temperature
rekristalisasi suatu material akan semakin menurun
16. Cold working adalah proses pembentukan logam atau pemberian deformasi
pada keadaan dibawah temperature rekristalisasinya. Kelebihannya adalah
penghematan dana dan waktu karena tidak membutuhkan proses pemanasan
terlebih dahulu. Kekurangannya adalah sulit membentuknya. Hot working
adalah proses pembentukan logam atau pemberian deformasi pada keadaan
diatas temperature rekristalisasinya. Kelebihannya adalah memberikan
tambahan pada sifat keuletan dan logam mudah dibentuk. Kekurangannya
adalah membutuhkan waktu dan biaya tambahan, juga adanya kemungkinan
reaksi antara logam dengan benda luar
17. Pengaruh recovery terhadap sifat mekanik material adalah mengurangi internal
stress. Pengaruh recrystallization terhadap sifat mekanik material adalah
menambah kekuatan logam. Pengaruh grain growth terhadap sifat mekanik
material adalah menambah keuletan logam.

Tugas Tambahan
1. Kenapa harus dilakukan agitasi pada saat quenching?
2. Bagaimana diagram CCT kalau ingin ada bainit, perlit, martensit?