Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fenomena perilaku cheating telah banyak terjadi pada lembaga

pendidikan. Adanya fenomena tentang perilaku cheating dalam ujian nasional

seperti yang diuraikan di atas berbanding terbalik dengan tujuan dari Undang

Undang Sistem Pendidikan Nasional. Aktivitas cheating merupakan salah satu

bentuk ketidakjujuran dalam pendidikan yang bertentangan dengan tujuan dari

pendidikan nasional, yang bukan sekedar membentuk peserta didik yang pintar

dan memperoleh nilai tinggi di setiap mata pelajaran. Namun, seperti dalam

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 bahwa pendidikan bertujuan

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab.

Berkaitan dengan masalah perilaku cheating, diketahui bahwa di kelas

VIII SMP Negeri 1 Bendo Kabupaten Magetan telah berkembang perilaku

cheating pada siswa. Dari hasil teknik diagnosis dengan cara menyebar angket

pretest pada 18 Februari 2017 diketahui bahwa terdapat 12 siswa yang

memiliki perilaku cheating dengan kriteria tinggi.

1
2

Menurut Anderman dan Murdock (dalam Hartanto, 2012) cheating atau

menyontek adalah Memberikan, mengambil, atau menerima informasi,

menggunakan materi yang dilarang atau membuat catatan, dan memanfaatkan

kelemahan seseorang, prosedur, atau proses untuk mendapatkan keuntungan

dalam tugas akademik. Perilaku cheating yang dilakukan siswa dapat

diindikasikan dari beberapa perilaku yang ditunjukkan siswa, seperti melihat

jawaban teman lain atau meminta jawaban kepada teman ketika ujian sedang

berlangsung, mempersiapkan catatan, serta melihat atau menyalin jawaban

teman ketika ujian. Selain itu, perilaku cheating pada siswa juga dapat

diketahui dalam bentuk membuka buku ketika ujian, memanfaatkan

kelengahan guru dalam menyontek, mengijinkan teman melihat jawabannya,

atau memberi jawaban tes pada teman ketika ujian.

Perilaku cheating pada siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa hal.

Menurut Hartanto (2012) penyebab individu melakukan perilaku cheating,

antara lain: adanya tekanan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, keinginan

untuk menghindari kegagalan, adanya persepsi bahwa sekolah melakukan hal

yang tidak adil, kurangnya waktu untuk menyelesaikan tugas sekolah, serta

tidak adanya sikap yang menentang perilaku menyontek di sekolah. Ketakutan

akan kegagalan dan keinginan untuk mendapatkan nilai yang baik menjadi

alasan bagi sebagian siswa mengambil jalan pintas, salah satunya adalah

dengan menyontek. Hal ini seperti terungkap pada hasil wawancara dengan

siswa di kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo yang terindikasi melakukan cheating.

Menurut salah seorang siswa, perilaku cheating yang dilakukannya adalah agar
3

nilai yang diperoleh mencapai KKM, sehingga tidak perlu mengikuti ujian

perbaikan nilai. Pada siswa yang lain, bahwa dirinya merasa tidak yakin

terhadap kemampuan dirinya. Siswa lebih mempercayai kemampuan temannya

yang belum tentu lebih baik daripada dirinya sendiri. Siswa merasa kesulitan

saat mengerjakan soal ulangan karena tidak percaya dirinya mampu

mengerjakan soal tersebut. Pada akhirnya, hal yang dilakukan mereka adalah

meminta jawaban temannya atau menyontek.

Berkaitan dengan adanya perilaku cheating, jika perilaku ini dibiarkan

maka tujuan pendidikan nasional dikhawatirkan tidak akan tercapai. Untuk itu,

diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi perilaku cheating tersebut. Salah

satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kepercayaan

diri.

Berdasarkan temuan awal di atas, diketahui bahwa perilaku cheating

yang dilakukan siswa di kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo didorong oleh adanya

ketakutan akan kegagalan dan kurangnya kepercayaan diri pada siswa untuk

mampu menegrjakan ujian dengan mandiri. Berkaitan dengan adanya

ketakutan akan kegagalan dan kurangnya kepercayaan diri pada siswa tersebut,

maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi rasa takut siswa akan

kegagalan dan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa saat mengerjakan

tes atau soal ujian melalui peningkatan locus of control pada diri siswa. Salah

satunya upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penerapan konseling

kelompok teknik cognitive restructuring. Menurut Cormier dan Cormier

(dalam Nursalim, 2013) strategi cognitive restructuring membantu konseli


4

untuk menetapkan hubungan antara persepsi dan kognisinya dengan emosi dan

perilakunya, dan untuk mengidentifikasi persepsi atau kognisi yang salah atau

merusak diri, dan mengganti persepsi atau kognisi tersebut dengan persepsi

yang lebih meningkatkan diri. Tujuan dari teknik cognitive restructuring

adalah untuk membantu konseli memecahkan masalahnya yang bersumber

pada adanya kognisi negatif konseli. Model ini menggunakan asumsi bahwa

berbagai gangguan atau problem perilaku dan emosi dibentuk oleh keyakinan,

sikap, dan persepsi klien yang tidak tepat. Salah satunya adalah pada perilaku

cheating yang dilakukan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo Kabupaten

Magetan yang disebabkan karena kekurangyakinan siswa terhadap kemampuan

dirinya.

Hasil penelitian yang dilakukan Musslifah (2012) menunjukkan perilaku

menyontek dipengaruhi oleh kecenderungan locus of control siswa. Pada siswa

yang memiliki kecenderungan internal locus of control maka semakin jarang

melakukan perilaku menyontek, sebaliknya siswa yang memiliki external locus

of control, maka akan semakin sering melakukan perilaku menyontek.

Penerapan teknik cognitive restructuring dapat diselenggarakan

menggunakan layanan konseling kelompok dengan pertimbangan adanya

dinamika kelompok untuk menangani dan mereduksi perilaku cheating siswa

dengan mendiskusikan permasalahan anggotanya dengan berbagai pendekatan.

Konseling kelompok berfokus pada pembahasan masalah pribadi individu

peserta kegiatan layanan. Hal ini sesuai pendapat Sukardi (2008) yang

menyebutkan bahwa layanan konseling kelompok merupakan layanan


5

bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh

kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang

dialaminya melalui dinamika kelompok.

Berkaitan dengan adanya permasalahan tentang perilaku cheating pada

siswa serta potensi layanan konseling kelompok teknik cognitive restructuring,

tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Penerapan

Konseling Kelompok Teknik Cognitive Restructuring dalam Mereduksi

Perilaku Cheating Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo Kabupaten Magetan

Tahun Pelajaran 2016/2017.

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti membatasi

masalah-masalah sebagai berikut:

1. Masalah pada penelitian ini terbatas pada penerapan konseling kelompok

teknik cognitive restructuring untuk mereduksi perilaku cheating pada

siswa.

2. Variabel penelitian terbatas pada variabel bebas dan variabel terikat.

a. Variabel bebas dalam penelitian ini konseling kelompok teknik cognitive

restructuring.

b. Variabel terikat yaitu perilaku cheating.

3. Subyek penelitian terbatas pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo

Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2016/2017 yang terindikasi melakukan

perilaku cheating.
6

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan penelitian dan batasan

masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Apakah konseling kelompok teknik cognitive restructuring dapat mereduksi

perilaku cheating pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo Kabupaten

Magetan tahun pelajaran 2016/2017?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui apakah konseling kelompok teknik cognitive restructuring

dapat mereduksi perilaku cheating pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo

Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2016/2017.

E. Kegunaan Penelitian

Pada penelitian ini, diharapkan bahwa hasil yang dicapai dapat berguna

bagi pihak-pihak sebagai berikut:

1. Sekolah

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang cara-

cara yang dapat ditempuh dalam mengurangi perilaku cheating pada siswa.

2. Guru/konselor sekolah

Guru/konselor sekolah dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai data

yang berharga, khususnya dalam rangka penyusunan program layanan

bimbingan dan konseling di sekolah dengan menerapkan konseling


7

kelompok teknik cognitive restructuring dalam upaya mengatasi perilaku

menyontek atau cheating pada siswa.

3. Siswa

Siswa dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk diterapkan dalam setiap

aktivitas belajar siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga

siswa dapat mengubah tingkah lakunya, khususnya dalam hal perilaku

menyontek.

4. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk peningkatan kualitas sumber

daya manusia dan cara-cara menekan tingkat kecenderungan siswa

menyontek pada saat ujian, sehingga berguna bagi peningkatan kualitas

pembelajaran di sekolah.

F. Definisi Operasional Variabel

Pada penelitian ini perlu dilakukan penjelasan definisi operasional pada

masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Konseling kelompok teknik cognitive restructuring

Konseling kelompok teknik cognitive restructuring didefinisikan sebagai

suatu upaya pemberian bantuan pada siswa yang dilakukan

pembimbing/konselor dalam situasi kelompok melalui pendekatan terapi

kognitif dengan melibatkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Prosedur

konseling kelompok teknik cognitive restructuring adalah sebagai berikut:

rasional (tujuan dan tinjauan singkat prosedur), identifikasi pikiran konseli

dalam situasi problem, pengenalan dan latihan coping thought (CT), pindah
8

dari pikiran-pikiran negatif ke coping thought (CT), pengenalan dan latihan

penguat positif, serta tugas rumah dan tindak lanjut.

2. Perilaku cheating

Perilaku cheating dalam penelitian ini didefinisikan perilaku yang dilakukan

siswa untuk mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan teman melalui cara-

cara yang tidak baik dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang benar

dalam ujian, dengan indikator-indikator sebagai berikut: social active

(melihat jawaban teman lain atau meminta jawaban kepada teman ketika

ujian sedang berlangsung), individualistic-opportunistic (menggunakan alat

yang dilarang, mempersiapkan catatan, serta melihat atau menyalin jawaban

teman ketika ujian), individual planned (mengganti jawaban ketika guru

keluar kelas, membuka buku ketika ujian, memanfaatkan kelengahan guru

dalam menyontek), dan social passive (mengijinkan orang lain melihat

jawabannya, membiarkan orang lain menyalin pekerjaan, dan memberi

jawaban tes pada teman ketika ujian).